بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Zubair bin Awwam bin Khuwailid adalah sahabat Nabi ,  ia adalah sepupu Nabi dan juga keponakan Khadijah dan termasuk satu dari 10 sahabat yang dijamin masuk surga, juga termasuk  As Sabiqunal Awwalun.  Ia  ikut dalam hijrah pertama  dan hijrah kedua,   Zubair juga salah seorang dari enam ahli syura, yang memusyawarahkan pengganti khalifah Umar bin Khattab, ini merupakan pengakuan terhadap keilmuan dan kematangan  Zubair.

Ketika peristiwa hijrah ke Madinah, Rasulullah mempersaurakan Zubair dengan Thalhah

Diantara sekian banyak para sahabat, hanya Zubair yang dinyatakan sebagai Hawari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dari Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda di hari Perang Ahzab [ Khandaq ], “Siapa yang akan memerangi Bani Quraidhah?” Zubair menjawab, “Saya (ya Rasulullah)” Beliau kembali bertanya, “Siapa yang akan memerangi Bani Quraidhah?” Zubair kembali merespon, “Saya” Lalu Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya setiap nabi memiliki hawari (teman-teman setia), dan hawariku adalah Zubair.”

Keberanian, ketangguhan dan kecerdasan Zubair dalam berperang, membuatnya Rasulullah ﷺ memilihnya menjadi salah satu pengawal Rasulullah dalam perang perang Islam, terutama dalam perang Khandaq. Sebuah ‘jabatan’ keren yang seluruh sahabat bermimpi menjadi pengawal Rasulullah dalam perang.  Sebuah jabatan yang bukan main main, karena didalamnya terkandung amanah yang amat berat.  Ditangan para pengawal, para bodygourd inilah, keselamatan Rasulullah ‘dipertaruhkan’.

Hingga turunlah Surat Al Maa’idah [5] ayat 67 :

يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ وَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ وَاللَّهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ إِنَّ اللَّهَ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ

Hai Rasul, sampaikanlah apa yang di turunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.

Sesudah Rasulullah ﷺ menerima ayat tersebut dari Allah, segera ayat tersebut disampaikan pula kepada para sahabat. Dengan adanya ayat : ‘Allah memelihara kamu dari gangguan’.

Diawal penyebaran Islam, ketika jumlah pengikut kaum muslim masih sedikit, Zubair telah dengan gagah berani membela Rasulullah ketika beliau diganggu oleh kafir Quraisy.  Padahal waktu itu usianya masih remaja [ Zubair pertama kali memeluk Islam pada usia sekitar 15 tahun ] Jadi, Zubair lah orang pertama yang menghunus pedang di jalan Allah.

DIkisahkan pada awal masa Islam ketika jumlah kaum muslimin sedikit sekali hingga mereka selalu bersembunyi di rumah Al Arqam, tiba tiba terdengar berita bahwa Rasulullah terbunuh.

Seketika itu juga, Zubair langsung menghunus pedangnya dan berjalan jalan di kota Mekah laksana badai, Padahal ia masih remaja. Langkah pertama, ia meneliti berita tersebut dengan tekad seandainya berita itu benar, niscaya pedangnya akan akan menbas semua pundak orang Quraisy, hingga ia dapat mengalahkannya atau mereka menewaskannya.

Di dataran tinggi Mekah, Rasulullah menjumpainya dan menanyakan kepadanya apa tujuannya berada di tempat tersebut. Az Zubair menyampaikan berita yang ada.  Rasulullah mendoakan kebaikan untuknya dan keampuhan bagi pedangnya.

 

Orang Islam Pertama Yang Menghunus Pedang

Dari Aurah bin Zubair dan Ibnu al-Musayyib keduanya berkata, “Laki-laki pertama yang menghunuskan pedangnya di jalan Allah adalah Zubair.” Peristiwa tersebut terjadi saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diganggu, lalu ia menghunuskan pedangnya kepada orang-orang yang mengganggu Nabi.

Malaikat Jibril juga pernah tampil dengan fisik Zubair bin Awwam di Perang Badar.

Dari Urwah bin Zubair, “Zubair mengenakan mantel kuning (di hari itu), lalu Jibril turun dengan menyerupai Zubair. Di Perang Badar, Rasulullah menempatkan Zubair di sayap kanan pasukan, lalu ada sosok Zubair dekat dengan Rasulullah, beliau berkata kepadanya, “Perangilah mereka wahai Zubair!” Lalu orang itu menjawab, “Aku bukan Zubair.” Akhirnya Rasulullah mengetahui bahwa itu adalah malaikat yang Allah turunkan dengan sosok Zubair, untuk membantu kaum muslimin di Perang Badar.

 

 


Nasab Zubair bin Awwam bin Khuwailid

 

Nama lengkapnya adalah Zubair bin Awwam bin Khuwailid bin Asad bin Abdul Uzza bin Qushay bin Kilab al-Qurasyi al Asadi.

Dia berasal dari Bani Asad dari Quraisy

Kunyahnya adalah Abu Abdullah

 

Keturunan Yang Penuh Berkah

  1. Ayahnya adalah Al Awwam.  Dia terbunuh dalam perang fijar beberapa masa sebelum kedatangan Islam. Dan dia adalah saudara dari penghulu para wanita, Khadijah binti Khuwailid.
  2. Ibunya adalah Shafiyyah

 Shafiyyah adalah bibi Rasulullah.  Sehingga Zubair adalah sepupu Rasulullah dari garis ibu.

Ibunya adlaah seorang shahabiyah yang terkenal. Termasuk di antara shahabiyah yang paling dahulu hijrah. Dia adalah mujadidah pemberani, dan termasuk wanita yang paling dihormati.

Dia menyaksikan terbunuhnya saudaranya Hamzah singa Allah pada perang Uhud, dan ia mampu bersabar dengan penuh keimanan. Ia hidup setelah wafatnya Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam, ketika hatinya hancur oleh kepergian beliau, dan mengubahnya dalam sebuah syair yang penuh kesedihan.

*Dan Rasulullah juga ipar baginya jika dilihat dari sisi ummul mukminin Aisyah yang merupakan saudari dari Asma istri Zubair.

*Sedang dari sisi Khadijah,  Zubair merupakan keponakan , karena ayah Zubair adalah Awwam bin Khuwailid, saudara Khadijah.

*Abdul Muththalib adalah juga kakek Zubair dari garis ibu.

3. Saudara saudara Zubair

  • As Saib bin Awwam : Seorang shahabat, ikut dalam perang Uhud, Khandaq, dan beberapa peristiwa lainnya. Mendapatkan syahid dalam perang Yamamah, dan tidak mempunyai keturunan. Radhiyallahu Anhu.
  • Abdurrahman bin Awwam : Masuk Islam pada tahun penaklukkan kota Mekah, dan kemudian mendampingi Nabi Shallallahualaihi wa Sallam. Pada masa jahiliyah ia bernama Abdul Ka’bah, maka Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam menamakannya Abdurrahman. Ia mendapatkan syahid pada perang Yarmuk.
  • Usud,
  • Ashram,
  • Ubaidillah,
  • Malik, dan
  • Ya’la putra-putra Awwam. Dan tidak ada riwayat yang berbicara tentang mereka.

4. Saudari saudari Zubair

  • Ummu Habib binti Awwam: Seorang Shahabiyah, istri dari Khalid bin Hizam, saudara dari Hakim bin Hizam.
  • Zainab binti Awwam : Seorang shahabiyah, istri dari Hakim bin Hizam.
  • Hindun binti Awwam

5. Istri istri Zubair

  • Asma binti Abu Bakar At-Taimiyah, Putri dari Ash-Shiddiq, [ jadi Zubair adalah menantu Abu Bakar.] saudari dari Ash-Shiddiq yang suci ummul mukminin Aisyah, Dzatun Nithaqain, seorang shahabiyah mulia yang terkenal. Dia mempunyai umur yang panjang, dan merupakan kaum Muhajirin yang terkait wafat.
  • Atikah Binti Zaid Al Adawiyah, Seorang shahabiyah yang mulia, saudari dari Sa’id bin Zaid, satu di antara sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga. Menikah dengan tiga orang shahabat, satu demi satu, dan semuanya meninggalkannya dalam keadaan syahid. Orang-orang Madinah sering berkata, “Siapa yang menginginkan syahid, maka hendaklah ia menikahi Atikah bin Zaid. Pertama dia dinikahi oleh Abdullah bin Abu Bakar, dan ia syahid. Kemudian dinikahi oleh Umar bin Khaththab, ia pun syahid. Dan kemudian dinikahi oleh Zubair, dan ia pun syahid”. Dan ia pun berduka dan meratapi bertiga, semoga Allah meridhai mereka semua.
  • Ummu Khalid Amah binti Khalid bin Sa’id bin Al-Ash Al-Umawiyah, Termasuk golongan shahabiyah yang masih muda, dia adalah putri dari seorang shahabat besar Khalid bin Sa’id. Dilahirkan di Habasyah, dan kemudian datang ke Madinah bersama ayahnya dan orang-orang yang berhijrah ke Habasyah lainnya pada saat penaklukan Khaibar. Lalu di membai’at Nabi Shallallahualaihi wa Sallam, dan banyak belajar langsung dari beliau. Dia mempunyai banyak riwayat di dalam kitab-kitab hadits.
  • Ummul Kultsum binti Uqbah bin Abi Mu’ith Al-Umawiyah, Seorang shahabiyah, masuk Islam, berbai’at dan berhijrah. Dinikahi oleh Zaid bin Haritsah yang kemudian menemui syahid pada perang Mut’ah. Kemudian dinikahi oleh Zubair, namun kemudian diceraikan. Lalu dinikahi oleh Abdurrahman bin Auf dan wafat meninggalkannya. Kemudian dinikahi oleh Amru bin Al-Ash, dan meninggal sebagai istrinya.
  • Tumadhir binti Al-Ashbagh Al-Kalbiyah, Seorang shahabiyah, pernah dinikahi oleh Abdurrahman bin Auf, namun hanya bertahan selama tujuh sebelum kemudian diceraikannya.
    Istri-istrinya yang lain, Ar-Rahab bin Anif Al-Kalbiyah, Zainab binti Murtsad, dan Al-Halal binti Qais bin Naufal.
    Empat istri yang dalam ikatan pernikahan dengannya saat wafat Asma binti Abu Bakar, Atikah binti Zaid, Ummu Khalid binti Khalid bin Sa’id, dan Ar-Rabab binti Anif.

 

6. Anak-Anaknya

Zubair memiliki 20 anak, sebelas laki-laki, dan dua diantaranya meninggal saat masih kecil, dan Sembilan perempuan.

Dia menamai anak-anaknya dengan nama para syuhada dari kalangan shahabat dan nama nama anak perempuannya dari nama para ummahatul mukminin.

Ibnu Sa’ad meriwayatkan dari Urwah bin Zubair, ia berkata, “Zubair bin Awwam berkata, “Thalhah bin Ubaidillah menamai anak-anak laki-lakinya dengan nama-nama Nabi, padahal dia tahu bahwa tiada Nabi setelah Muhammad. Maka aku menamai anak-anakku dengan nama para syuhada dengan harapan mereka pun menjadi syahid.” Maka ia menamai

  • Abdullah dari nama Abdullah bin Jahsy,
  • Al Mundzir dari Al-Mundzir bin Amru,
  • Urwah dari Urwah bin Mas’ud,
  • Hamzah dari Hamzah bin Abdul Muththalib,
  • Ja’far dari Ja’far bin Abi THalib,
  • Mush’ab dari Mus’ab bin Umar,
  • Ubaidah dari Ubaidah bin Al-Harits,
  • Khalid dari Khalid bin Sa’ad,
  • Amru dari Amru bin Sa’id bin Al-Ash, ia (maksudnya Amru bin Sa’id bin Al-Ash) syahid pada perang Yarmuk.”

Aku (penulis) berpendapat bahwa penamaan dengan nama nama para Nabi adalah disukai, bahkan Rasulullah Shallallahualaihi wa Sallam, menamakan putranya dengan nama Abul Anbiya’ (bapak para Nabi): Ibrahim Alaihi Salam.

Dan dalam Ash Shahihain dari Nabi Shallallahualaihi wa Sallam, bahwasanya beliau bersabda, “Namailah anak-anak kalian dengan namaku.”

Dan dalam kitab yang sama, Abu Musa al Asy’ari berkata, “Aku dikaruniai seorang anak laki laki, maka aku membawanya kepada Nabi Shallallahualaihi wa Sallam, dan beliau menamainya dengan Ibrahim, dan mengolesi mulutnya dengan kunyahan kurma.”

Nama anak anaknya yang laki-laki : Abdullah, yang merupakan seorang shahabat yang alim, Urwah yang merupakan seorang hafizh dan ahli fikih, Al Mundzir, Khalid, Amru, Mush’ab, Hamzah, Ubaidah, Ja’far, serta Al-Muhajir dan Ashim yang keduanya meninggal saat kecil.

Nama anak-anak perempuannya :

7 . Sebagian Cucu cucunya

  • Amir bin Abdullah bin Zubair : Seorang perawi hadits, ahli ibadah yang utama, dan riwayat-riwayatnya banyak terdapat di dalam Al-Kutub As-Sittah
  • Ubadah bin Abdullah bin Zubair : Di antara anak-anak Abdullah yang terbesar, dan yang seusia dengan pamannya Urwah. Dia adalah seorang perawi hadits yang utama, dan para imam yang enam meriwayatkan darinya di dalam kitab-kitab mereka.
  • Abdullah bin Urwah bin Zubair : Merupakan salah seorang tokoh dari kelaur Zubair, disamakan dengan Abdullah bin Zubair dalam hal ketajaman lisan dan kekuatannya. Dan Abdullah bin Zubair sendiri pernah mengatakan kepada Urwah, “Engkau telah melahirkan anakku!”, maksudnya adalah bahwa Abdullah bin Urwah mirip dengannya. Ketika penduduk Madinah ditimpa oleh kekeringan selama tujuh tahun, Abdullah bin Urwah dengan hartanya yang di Furu (salah satu diantara lembah yang terdapat Hizaj, terletak 150 Km dari selatan Madinah, terkenal dengan banyaknya kebun kurma dan mata air) membawa orang ketempat penyimpanan kurmanya dua kali dalam sehari, pada siang hari untuk makan siang, dan malam untuk makan malam. Ini terus berlangsung hingga orang tetap bertahan hidup. Haditshadits darinya diriwayatkan oleh As-Sittah (enam perawi hadits) kecuali Abu Dawud.
  • Utsman bin Urwah bin Zubair : Seorang orator, ulama, dan cukup berada. Ia adalah salah satu tokoh dan pemuka dari Quraisy. Hadits-haditsnya diriwayatkan oleh Jama’ah, kecuali At-Tirmidzi.
  • Muhammad bin Urwah bin Zubair : Dia adalah anak kesayangan Urwah, mempunyai wajah yang sangat tampan, bahkan ketampanannya menjadi contoh dalam pepatah. At-Tirmidzi meriwayatkan hadits darinya.
  • Yahya bin Urwah bin Zubair : Salah satu di antara putra Urwah yang paling terhormat. Pemberani dan sangat tegar. Amirul mukminin Abdul Malik bin Marwan sangat menghormati dan memuliakannya. Haditshadits darinya diriwayatkan oleh Al-Bukhari, Muslim, dan Abu Dawud.
    Muhammad bin Ja’far bin Zubair : Satu di antara ahli fikih dan qari (ahli bacaan Al-Qur’an) yang dimiliki penduduk Madinah. Haditshadits darinya dapat ditemukan di Al-Kutub As-Sittah.
  • Fathimah binti Al-Mundzir bin Zubair : Seorang ahli agama sekaligus periwayat hadits. Haditshadits darinya diriwayatkan oleh para penulis dari Al-Kutub As-Sittah.
  • Ummu Amru binti Abdullah: Dia Meriwayatkan dari ayahnya, dan haditshadits darinya terdapat dalam kitab As-Sunan Al-Kubra karangan An-Nasa’i

 

Pada Keturunan yang penuh berkah ini masih terdapat banyak keunggulan lainnya. Mush’ab Az-Zubairi menyebutkan dalam Nasab Quraisy, dan juga Ibnu Hazm dalam kitabnya Jamharatu Ansabil Arab, keturunan Zubair dari anak-anaknya (Abdullah, Al-Mundzir, Urwah, dan Mush’ab) dengan jumlah yang sangat banyak. Di antara Mereka terdapat banyak tokoh-tokoh dalam masyarakatnya, orang-orang dengan kedudukan yang tinggi dan ulama-ulama besar dari ahli hadits, dan fikih. Juga banyak di antara mereka yang cerdas, fasih, dikenal dengan syair-syair dan kemampuan retorika yang tingi. Dan dikenal kebaikan dan kemurahan hati mereka. Dan mereka adalah orang-orang yang mempunyai kemampuan dalam memimpin, dan selalu dilibatkan dalam syura.

Semoga Allah merahmati semuanya, dan semoga Allah senantiasa meridhai pembela Nabi Shallallahualaihi wa Sallam.

Anak anak Zubair :

  1. Abdullah bin Zubair,
  2. Urwah bin Zubair dan
  3. Ursa ibn Zubair.

 

Saudara saudara Zubair satu kakek, Khuwailid bin Asad  yakni  :

  1. Awwam bin Khuwailid
    1. Zubair bin Awwam,
    2. As Saaib
    3. Abdul Ka’bah.
  2. Halah binti Khuwailid
    1. Abi Al Ash bin Rubai Laqit,
    2. Kinanah bin Rubai Laqit,
    3. Ammar bin Rubai Laqit
  3. Khadijah binti Khuwailid
    1. Halah bin Abu Halah bin Malik
    2. Hindun bin Abu Halah bin Malik
    3. Zainab binti Abu Halah bin Malik
    4. Abdullah bin Atiq bin Abid
    5. Jariyah bin Atiq bin Abid
    6. Hindun binti Atiq bin Abid
    7. Qasim bin Muhammad
    8. Zainab binti Muhammad
    9. Ruqayyah binti Muhammad
    10. Ummu Kultsum binti Muhammad
    11. Fatimah binti Muhammad
    12. Abdullah binti Muhammad
  4. Hizam bin Khuwailid
    1. Hakim bin Hizam bin Khuwailid
  5. Nawfal bin Khuwailid
    1. Al Aswad bin Nawfal 

 


Tahun Kelahiran Zubair bin Awwam

Zubair lahir 595 M atau 15 Before Bi’tsah atau  28 Before Hijriah. Pada tahun inilah Rasulullah menikah dengan Khadijah.  Jadi usia Zubair terpaut 25 tahun dengan Rasulullah.

 


Tahun Wafatnya Zubair bin Awam

Zubair wafat pada tahun 36 Hijriah atau atau Nopember 656 Masehi.

Ia dibunuh oleh seorang yang bernama Amr bin Jurmuz. Kabar wafatnya Zubair membawa duka yang mendalam bagi amirul mukminin Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu.

Saat itu Ali  mengatakan, “Nerakalah bagi pembunuh putra Shafiyyah ini.” Saat pedang Zubair dibawakan ke hadapannya, Ali pun menciumi pedang tersebut sambil berurai air mata, lalu berucap “Demi Allah, pedang yang membuat pemilikinya mulia (dengan berjihad) dan dekat dengan Rasulullah (sebagai hawari pen.).

Setelah jasad Zubair dimakamkan, Ali mengucapkan kalimat perpisahan kepada Zubair :

“Sungguh aku berharap bahwa aku, Thalhah, Zubair, dan Utsman termasuk orang-orang yang difirmankan Allah dalam Al Quran surat Al Hijr ayat 47 :

وَنَزَعْنَا مَا فِي صُدُورِهِمْ مِنْ غِلٍّ إِخْوَانًا عَلَى سُرُرٍ مُتَقَابِلِينَ

“Dan Kami lenyapkan segala rasa dendam yang berada dalam hati mereka, sedang mereka merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan.”

 

Ali menatap kubur Thalhah dan Zubair sambil mengatakan, “Sungguh kedua telingaku ini mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Thalhah dan Zubair berjalan di surga.”

Semoga Allah senantiasa meridhai dan merahmatimu wahai hawari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan menempatkanmu di dalam surga yang penuh dengan kenikmatan. Amin..

 

Keturunannya Yang Penuh Berkah

Allah memuliakan Zubair dengan akar keturunan yang mulia. Semua itu ditambah dengan ketinggian pribadi dan akhlaknya. Kalaulah kebanggaan seorang manusia terletak pada amalnya, dan nilai seseorang dilihat dari agama dan ketakwaannya, maka kalau itu semua ditambahkan dengan akar keturunan dan nasab yang baik, maka ia bagaikan cahaya di atas cahaya. “Manusia itu (bagaikan) barang tambang, orang-orang terbaik pada masa jahiliyah adalah orang-orang yang terbaik di dalam Islam jika mereka memahami [ penggalan dari hadits yang diriwayatkan Ahmad, Al Bukhari, dan Muslim dari Abu Hurairah ].

Adapun keutamaan-keutamaan yang dimiliki Zubair, juga berbagai kiprah dan kontribusinya yang terpuji telah mengisi seluruh kisi kehidupannya. Ini jelas terlihat dalam berbagai sikap dan peran mengagumkan yang ia mainkan dalam banyak situasi dan kondisi. Sejak ia masih berusia remaja, ketika ia mengulurkan tangan memegang tangan kanan Nabi Shallallahualaihi wa Sallam menyatakan keislamannya dan berjanji untuk membelanya, hingga akhirnya ia kembali kepada Tuhannya sebagai seorang syahid dengan penuh kebahagiaan.

Adapun akar keturunan baik yang dimilikinya, juga kemuliaan keluarga besarnya adalah tambahan nikmat yang dikaruniakan Allah kepadanya.

Zubair dan Islam

Zubair masuk Islam setelah diajak oleh Abu Bakar.  Zubair masuk Islam di Mekah saat berusia 15 tahun melalui perantara Abu Bakar ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhu.

Tentu saja keislamannya menimbulkan kemarahan orang orang kafir Quraisy, terutama dari kalangan keluarganya. Pamannya [ diperkirakan Nawfal bin Khuwaylid ] menggulung badannya dengan tikar, lalu dipanaskan dengan api agar ia kembali ke agama nenek moyangnya. Namun dengan keyakinan yang kuat ia katakan, “Aku tidak akan kembali kepada kekufuran selama-lamanya”.

Menyebut nama Zubair, akan tersebut pula nama Thalhah bin Ubaidillah.  Ketika Rasulullah mempersaudarakan para sahabatnya di Mekah sebelum berhijrah, beliau telah mempersaudarakan antara Thalhah dan Zubair.

Sudah sejak lama Rasulullah memperbincangkan mereka berdua secara bersamaan, misalnya sabda beliau : “Thalhah dan Zubair adalah tetanggaku di surga

Mereka berdua memang berhimpun

Wallahu a’lam bishowab

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ ♥ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ♥ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ ♥ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ♥ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

..