بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Zaid bin Tsabit.adalah salah seorang  sahabat Nabi  yang dikenal sebagai  ‘sekretaris’ Rasulullah ﷺ .  Ia-lah penulis wahyu paling diandalkan oleh Rasulullah ﷺ  dan ia juga yang  menulis seluruh surat surat kenegaraan.

Dan pada periode Mekkah, tidak begitu jelas siapa saja sahabat yang telah mencatat wahyu wahyu Allah Ta’ala.  Namun salah satu diantaranya adalah Abdullah bin Sa’d bin ‘Abi as Sarh ‘

Sedang pada periode Madinah, sejarah mencatat sedikitnya 60 sahabat yang mencatat wahyu wahyu Allah Ta’ala dari kalangan Anshar maupun Muhajirin.  Diantaranya adalah  Mu’adz bin Jabal, Ubay bin Ka’ab, Zaid bin Tsabit & Abu Zaid.

Zaid bin Tsabit menjadi satu satunya sahabat Rasulullah ﷺ yang memilik peran vital dalam hal pembukuan Al Quran.  Al Quran yang dipegang oleh umat Islam sekarang ini, adalah hasil jerih payah [salah satunya] Zaid yang menuliskan dan mengumpulkannya.

Zaid juga diangkat sebagai Panglima Perang Tabuk, pada saat itu usianya baru 19 tahun.  Zaid termasuk Panglima Perang Muda, disamping Usamah bin Zaid bin Haritsah [ cucu angkat Rasulullah ].

Kemampuan Berbahasa Yang Luarbiasa

Selain berani dan tangkas, Zaid juga ahli dalam ilmu Faraidh dan amat menonjol dalam  berbahasa.  Ia mampu menguasai bahasa Ibrani dan Suryani dalam waktu 32 hari !

Zaid bin Tsaabit radhiallahu ‘anhu berkata :

أَمَرَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَتَعَلَّمْتُ لَهُ كِتَابَ يَهُودَ، وَقَالَ: «إِنِّي وَاللَّهِ مَا آمَنُ يَهُودَ عَلَى كِتَابِي» فَتَعَلَّمْتُهُ، فَلَمْ يَمُرَّ بِي إِلَّا نِصْفُ شَهْرٍ حَتَّى حَذَقْتُهُ، فَكُنْتُ أَكْتُبُ لَهُ إِذَا كَتَبَ وَأَقْرَأُ لَهُ، إِذَا كُتِبَ إِلَيْهِ

Rasulullah ﷺ memerintahkan aku, lalu aku mempelajari kitab kaum yahudi untuk beliau. Beliau ﷺ berkata, “Sungguh aku –demi Allah– tidak merasa aman dengan orang-orang yahudi atas tulisan tulisanku”. Maka akupun mempelajari bahasa yahudi, dan tidak sampai setengah bulan maka aku telah menguasai bahasa tersebut. Maka akupun menulis untuk Nabi jika beliau menulis, dan aku membacakan untuk beliau jika ada tulisan dikirim kepada beliau” (HR Abu Dawud no 3645 dan dinyatakan oleh Syaikh Al- Albani sebagai Hasan Shahih)

Sabda Nabi ﷺ “Sungguh aku –demi Allah– tidak merasa aman dengan orang-orang yahudi atas tulisan-tulisanku”, menunjukkan beliau tidak mengerti bahasa Yahudi, sehingga beliau khawatir kalau orang yahudi yang menuliskan untuk beliau atau membacakan tulisan yahudi untuk beliau maka ia tidak amanah dan melakukan perubahan. Maka Nabipun menyuruh Zaid bin Tsabit untuk belajar bahasa Yahudi sehingga jika Nabi hendak menulis surat dengan bahasa Yahudi maka Zaidlah yang menuliskannya, demikian juga jika ada surat datang dalam bahasa yahudi maka Zaidlah yang membacakannya.

 

Khalifah ‘Bayangan’

Zaid bin Tsabit juga bisa dikatakan sebagai Khalifah Bayangan.  Karena ia selalu dilibatkan dalam 3 ke-khalifahan [ Abu Bakar, Umar dan Utsman ].  Bahkan pada masa Umar dan Utsman, Zaid ditunjuk sebagai Khalifah Pengganti saat keduanya pergi haji.

Zaid bin Tsabit termasuk group sahabat junior dari golongan Anshar.   Karena ia seusia cucu Rasulullah yang pertama, Ali bin Abi Al Ash [ anak Zaynab dan Abi Al Ash ]

Itu berarti  Zaid 10 tahun lebih muda dari pada Ali ibn Abi Thalib. Namun Zaid lebih tua setahun dari Aisyah.  Dan lebih tua 3 tahun dari  Usamah bin Zaid bin Haritsah.

Pada tahun kelahiran Zaid, saat itu diperkirakan adalah tahun dimana Umar Bin Khattab masuk Islam.

Zaid bin Tsabit dilahirkan 10 tahun sebelum hijrah.  Yakni tahun  613 Masehi  atau 10 BH atau pada Tahun 3 Bi’tsah.

Orang tuanya, yang berasal dari kabilah Bani an Najjar, adalah termasuk kelompok awal penduduk Madinah yang menerima Islam. Di bawah bimbingan dan pendidikan orang tuanya, Zaid tumbuh menjadi seorang pemuda cilik yang cerdas dan berwawasan luas. Ia mempunyai daya tangkap dan daya ingat yang melebihi rekan rekan seusianya saat itu.

 

Nasab Zaid bin Tsabit

Nama lengkapnya adalah Zaid bin Tsabit bin Adh-Dhahak bin Zaid Ludzan bin Amru, dia masuk islam ketika umur 11 tahun ketika perang Badar terjadi.

Siapa ayah dan ibu Zaid, sampai kini penulis belum menemukan buku sejarah yang menuliskannya.  Begitu pula anak anaknya.  Hanya satu anak  Zaid yang tercatat dalam sejarah adalah :

Kharijah bin Zaid, yang kemudian menjadi seorang tabi’in besar dan salah satu di antara tujuh ulama fiqih Madinah pada masanya.

Zaid bin Tsabit merupakan keturunan Bani Khazraj, yang mulai tinggal bersama Muhammad ketika ia hijrah ke Madinah.

 

Tahun Kelahiran Zaid bin Tsabit

Zaid dilahirkan 10 tahun sebelum hijrah.  Yakni tahun  613 Masehi  atau 10 BH [ before Hijrah ] atau pada Tahun 3 Bi’tsah.

 

Tahun Wafatnya Zaid bin Tsabit

Zaid bin Tsabit  wafat di Madinah pada usia 56 tahun.  Ia wafat pada Tahun   669 M atau 46 H.  Satu tahun setelah wafatnya Hafshah binti Umar.  Zaid wafat pada masa kekhalifahan Muawiyah.

Dalam riwayat lain ia wafat tahun 51 H atau 52 H.  Ketika Zaid bin Tsabit wafat maka Abu Hurairah berkata, ”Telah wafat orang terbaik dari umat ini semoga Allah menjadikan Ibnu abbas sebagai penggantinya”.

 

Pujian Rasulullah Untuk Zaid bin Tsabit

Zaid bin Tsabit adalah seorang ulama yang kedudukannya sama dengan para ulama dari kalangan sahabat lainnya.

Rasulullah ﷺ bersabda, ”Umatku yang paling menguasai ilmu Faraidh adalah Zaid bin Tsabit”.

Riwayat lain yang senada terdapat dalam riwayat Imam an Nasa’i dan Ibnu Majah, dimana nabi bersabda, ”Umatku yang paling penyayang adalah Abu Bakar, yang paling kuat kesaksiannya dihadapan Allah adalah Umar, yang paling diakui perasaan malunya adalah Utsman dan yang paling menguasai faraidh adalah Zaid bin Tsabit.”.

 

Perjalanan Hidup Zaid bin Tsabit

Ketika Rasulullah ﷺ dan Abu Bakar melakukan hijrah ke Madinah, di Madinah sudah berkumpul orang orang yang menantikan kedatangan mereka berdua.

Zaid bin Tsabit, yang saat itu baru berusia 10 tahun,  termasuk mereka yang sebentar-bentar pergi ke tepi kota melihat kalau-kalau Sang Junjungan tercinta telah datang. Betapa berbunganya hati kaum muslimin Madinah melihat Rasulullah ﷺ memasuki batas kota. Mereka menyambut dengan rasa syukur, dan menawarkan rumah-rumah mereka kepada RasuluLlah. Berlainan dengan yang lain, pemuka Bani Najjar tidak menawarkan rumah-rumah mereka, tapi menawarkan pemuda anggota kabilah mereka: Zaid bin Tsabit kepada Rasulullah ﷺ, untuk diterima sebagai asisten beliau di bidang kesekretariatan mengingat kecerdasannya yang luar biasa dalam bidang ini.

Betapa girangnya hati sang pemuda cilik ini, dapat membantu dan selalu berdekatan dengan Utusan Allah yang ia cintai. Rasulullah ﷺ pun gembira dan menerima tawaran pemuka Bani Najjar. Rasulullah ﷺ sangat mencintai sahabat ciliknya yang ketika itu baru berusia 10 tahun.

Kekuatan daya ingat Zaid bin Tsabit telah membuatnya diangkat penulis wahyu dan suratsurat Nabi Muhammad SAW semasa hidupnya, dan menjadikannya tokoh yang terkemuka di antara para sahabat lainnya.  Meskipun usianya masih amat muda waktu itu.

Zaid bin Tsabit tidak mengecewakan Rasulullah, dalam waktu sangat singkat [ hanya beberapa bulan ] dia dapat menuliskan dan menghafal 17 surat Al Quran.

Disamping tugasnya sebagai sekretaris untuk menuliskan dan menghafal wahyu yang baru diterima Rasulullah, Zaid pun mendapat assignment dari Rasulullah untuk mempelajari bahasa Ibrani dan Suryani, dua bahasa yang sering dipergunakan musuh Islam pada waktu itu. Kedua bahasa ini dikuasai oleh Zaid dalam waktu sangat singkat, 32 hari !
Diriwayatkan oleh Zaid bin Tsabit bahwa :

Rasulullah SAW berkata kepadanya “Aku berkirim surat kepada orang, dan aku khawatir, mereka akan menambah atau mengurangi surat-suratku itu, maka pelajarilah bahasa Suryani”, kemudian aku mempelajarinya selama 17 hari, dan bahasa Ibrani selama 15 hari.

 


Diangkat Menjadi Komandan Perang Tabuk

Nabi menyerahkan bendera Bani Malik bin an-Najjar kepada Umarah sebagai komandan perang Tabuk, lalu Nabi mengambilnya dan diserahkan kepada Zaid bin Tsabit. Ketika beliau memintanya, maka Imarah bertanya, ”Ya Rasulullah, apakah engkau akan menyerahkan sesuatu yang engkau berikan kepadaku?

Beliau menjawab,” Tidak, tetapi al Quran harus didahulukan, dan Zaid bin Tsabit lebih banyak menguasai bacaan Al Quran daripadamu”.

Selain perang Tabuk, Zaid bin Tsabit turut serta bersama Rasulullah dalam perperangan Khandaq dan peperangan-peperangan lainnya.

 


Menjadi Amir [ Gubernur ]

 

Zaid bin Tsabit diangkat menjadi bendahara pada zaman pemerintahan Khalifah Abu Bakar dan Khalifah Umar.

Saat Umar menjadi Khalifah dia diangkat sebagai amir/ gubernur  Madinah sebanyak 3 kali di ibukota atau di wilayah pusat kekuasaan.

Ketika pemerintahan Khalifah Utsman, Zaid bin Tsabit diangkat menjadi pengurus Baitul Maal. Umar dan Utsman juga mengangkat Zaid bin Tsabit sebagai pemegang jabatan khalifah sementara ketika mereka menunaikan ibadah haji.

 


Mengumpulkan Al Quran

 

Sebenarnya cukup banyak sahabat yang diserahi Nabi SAW untuk menghafal dan menuliskan wahyu yang turun secara bertahap, terkadang juga berkaitan dengan suatu peristiwa atau sebagai jawaban dan solusi atas suatu masalah.

Tetapi beberapa orang saja yang dianggap sebagai “pemimpin-pemimpin” dalam bidang ini, mereka itu adalah Ali bin Abi Thalib, Abdullah bin Mas’ud, Abdullah bin Abbas, Ubay bin Ka’ab dan Zaid bin Tsabit sendiri.

Tiga yang pertama adalah dari sahabat Muhajirin dan dua yang terakhir dari sahabat Anshar.
Ketika pecah pertempuran Yamamah [ perang melawan Mussailamah si nabi palsu ]   pada masa Khalifah Abu Bakar, banyak sekali sahabat yang ahli baca (Qary) dan ahli hafal (Huffadz) yang gugur menemui syahidnya.  Diperkirakan ada sekitar 70 hafidz Quran yang syahid.

Hal ini  membuat Umar bin Khattab cemas.  Segera saja menghadap Abu Bakar dan mengusulkan agar segera menghimpun Al Quran dari catatan catatan dan hafalan hafalan para sahabat yang masih hidup.

Tetapi Abu Bakar berkata tegas, “Mengapa aku harus melakukan sesuatu yang tidak pernah diperbuat Rasulullah SAW (yakni, bid’ah) ?”
“Demi Allah, ini adalah perbuatan yang baik!” Kata Umar, agak sedikit memaksa.
Abu Bakar masih dalam keraguan. Ia shalat istikharah, dan kemudian Allah membukakan hatinya untuk menerima usulan Umar. Abu Bakar dan Umar bermusyawarah, dan mereka memutuskan untuk menyerahkan tugas tersebut kepada Zaid bin Tsabit.

 

 

Diriwayatkan dari hadist Bukhari :

Zaid bin Tsabit berkata” Aku disuruh menghadap Abu Bakar berkenaan dengan pembunuhan yang dilakukan penduduk Yamamah, dan ketika itu dihadapan nya ada Umar bin al Khaththab.

Lalu Abu Bakar berkata, “Jika perang terus berkecamuk banyak memakan korban jiwa kaum muslimin, banyak para penghapal al Quran di negeri ini terbunuh, dimana akhirnya banyak bagian al Quran yang hilang maka agar al Quran dibukukan, aku berpandangan sama dengan Umar, engkau laki laki yang cerdas dan masih muda, maka cari dan kumpulkanlah (Mushaf) al Quran”.

Zaid ditugaskan untuk mengumpulkan dan menuliskan kembali Al Quran dalam satu mushaf Al Quran.

Dalam riwayat yang lain, Abu Bakar berkata :  “Zaid, engkau adalah seorang penulis wahyu kepercayaan RasuluLlah, dan engkau adalah pemuda cerdas yang kami percayai sepenuhnya. Untuk itu aku minta engkau dapat menerima amanah untuk mengumpulkan ayatayat Al-Qur’an dan membukukannya.”

Zaid, yang tak pernah menduga mendapat tugas seperti ini memberikan jawaban yang sangat terkenal dalam memulai tugas beratnya mengumpulkan dan membukukan Al Quran :

Dan reaksinya sama seperti Abu Bakar, ia berkata,

“Demi Allah, mengapa engkau akan lakukan sesuatu yang tidak Rasulullah lakukan? Sungguh ini pekerjaan berat bagiku. Seandainya aku diperintahkan untuk memindahkan sebuah bukit, maka hal itu tidaklah seberat tugas yang kuhadapi kali ini.”

Akhirnya dengan melalui musyawarah yang ketat, Abu Bakar  dan Umar bin Khattab dapat meyakinkan Zaid bin Tsabit dan sahabat yang lain, bahwa langkah pembukuan ini adalah langkah yang baik.  Hal hal yang mendorong segera dibukukannya Al Quran, adalah mengingat banyaknya hafidz Quan yang syahid.

Dalam pertempuran ‘Harb Ridah’ melawan Musailamah Al Kazzab, sebanyak 70 sahabat yang hafal Quran menemui syahid.

Dengan pertimbangan-pertimbangan ini, Zaid bin Tsabit menyetujui tugas ini dan segera membentuk team khusus. Zaid membuat dua butir outline persyaratan pengumpulan ayat ayat. Kemudian Khalifah Abu Bakar menambahkan satu persyaratan lagi. Ketiga persyaratan tersebut adalah :

1. Ayat/surat tersebut harus dihafal paling sedikit 2 orang.
2. Harus ada dalam bentuk tertulisnya (di batu, tulang, kulit dan bentuk “hardcopy” lainnya).
3. Untuk yang tertulis, paling tidak harus ada 2 orang saksi yang melihat saat dituliskannya.

Dengan persyaratan tersebut, dimulailah pekerjaan yang berat ini oleh Zaid bin Tsabit yang membawahi beberapa sahabat lain. Pengumpulan dan pembukuan dapat diselesaikan masih pada masa kekhalifahan Abu Bakar.

 


Ulama

Zaid bin Tsabit telah meriwayatkan 92 hadis, yang lima diantaranya disepakati bersama oleh Iman Bukhari dan Imam Muslim. Bukhari juga meriwayatkan empat hadist yang lainnya bersumberkan dari Zaid bin Tsabit, sementara Muslim meriwayatkan satu hadist lainnya yang bersumberkan dari Zaid bin Tsabit. Zaid bin Tsabit diakui sebagai ulama di Madinah yang keahliannya meliputi bidang fiqih, fatwa dan faraidh (waris).

 

Wallahu a’lam bishowab

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ ♥ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ♥ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ ♥ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ♥ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ