Zaid bin Haritsah adalah anak angkat Nabi Muhammad. Awalnya Zaid adalah budak yang dibeli oleh Hakim bin Hizam bin Khuwalid pada sebuah peniagaan, lalu kemudian ditawarkan kepada Khadijah. Oleh Khadijah Zaid dibeli dan dihadiahi kepada suaminya, Muhammad SAW.

Zaid termasuk 10 orang pertama yang memeluk Islam, ia juga masuk jajaran sahabat Nabi yang utama. Pada perang Mu’tah, ia dipilih Rasulullah sebagai panglima. Pada perang inilah ia mati syahid.

Rasulullah amat menyayangi Zaid. Sehingga ia dijuluki Zaid Ibnu Al Hib [ Zaid anak kesayangan Rasulullah ]. Dan kemudian anak Zaid yang bernama Usamah, digelari  pula dengan “Hib Ibnu Hib” [ anak kesayangan dari anak kesayangan Rasulullah ]. Gelar-gelar itu masyhur dalam masyarakat kaum muslimin.

Karena hubungan Zaid dengan Rasulullah amat dekat. Ia bahkan menjadi satu satunya orang yang dipercaya Rasulullah untuk memegang rahasia beliau. Sehingga Zaid dijuluki Sang Pemegang Rahasia Rasulullah.
Bila Rasulullah pergi ke luar kota untuk berperang atau urusan lainnya, maka Zaid akan ditunjuk sebagai walinya di Madinah.
Keberanian, kecerdikan dan keperkasaannya membuat Zaid menjadi salah satu panglima kesayangan Rasulullah.  Aisyah berkata, “Rasulullah tidak pernah mengutus pasukannya, kecuali mengangkat Zaid sebagai pemimpinnya”.

Pada perang Uhud, Zaid menjadi tameng Rasulullah. dan pada perang Mu’tah, Zaid ditunjuk sebagai panglima dan  ia mati syahid dalam peperangan itu.

Kehebatan Zaid rupanya menurun pada anaknya, Usamah bin Zaid yang terpilih sebagai panglima perang termuda yang dipilih Rasulullah !

 


Nasab Zaid bin Haritsah

Ibu Zaid bernama Su’da binti Tsalabah dan ayahnya Harits. Zaid bin Haritsah berasal dari kabilah Kalb yang menghuni sebelah utara jazirah Arab. Keluarga ini hanya keluarga biasa bukan bangsawan.

Zaid dibeli Khadijah pada sekitar tahun 604 M atau 6 tahun sebelum kenabian.
Sosoknya diceritakan berperawakan biasa, agak pendek, kulitnya cokelat kemerah-merahan, dan hidungnya terlalu pesek untuk ukuran hidung orang Arab. Sosoknya diceritakan berperawakan biasa, agak pendek, kulitnya cokelat kemerah-merahan, dan hidungnya terlalu pesek untuk ukuran hidung orang Arab.
Zaid menjadi sahabat serta pelayan yang setia Nabi Muhammad. Ia menikah dengan Ummu Aiman dan memiliki putra yang bernama Usamah bin Zaid bin Haritsah.

 


Tahun Kelahiran Zaid bin Haritsah

 

Tidak ada catatan sejarah yang pasti kapan Zaid dilahirkan. Bila ketika ia diculik pada tahun 604 M dan ia diperkirakan berusia 10 tahun, maka Zaid lahir pada tahun 594 M.

 


Tahun Wafatnya Zaid bin Haritsah

Pada Perang Mu’tah Rasulullah mengangkat Zaid bin Haritsah sebagai panglima, dan ia mati syahid dalam perang tersebut. Perang Mut’ah terjadi pada 8 H atau 629 M. Pada Perang Mu’tah Rasulullah mengangkat Zaid bin Haritsah sebagai panglima, dan ia mati syahid dalam perang tersebut. Perang Mut’ah terjadi pada 8 H atau 629 M.

 


Kisah Zaid bin Haritsah

 

Sudah lama sekali isteri Haritsah, yakni Su’da binti Tsalaba berniat hendak berziarah ke kaum keluarganya di kampung Bani Ma’an. Sudah lama sekali isteri Haritsah, yakni Su’da binti Tsalaba berniat hendak berziarah ke kaum keluarganya di kampung Bani Ma’an.
Ia sudah gelisah dan seakan-akan tak sabar lagi menunggu waktu keberangkatannya. Pada suatu pagi Ia sudah gelisah dan seakan-akan tak sabar lagi menunggu waktu keberangkatannya. Pada suatu pagi
yang cerah, Harits [ ayah Zaid ], mempersiapkan kendaraan dan perbekalan untuk keperluan itu. yang cerah, Harits [ ayah Zaid ], mempersiapkan kendaraan dan perbekalan untuk keperluan itu.
Kelihatan isterinya sedang menggendong anak mereka yang masih kecil, Zaid bin haritsah. Waktu itu usia Zaid diperkirakan sekitar 10 tahun. Kelihatan isterinya sedang menggendong anak mereka yang masih kecil, Zaid bin haritsah. Waktu itu usia Zaid diperkirakan sekitar 10 tahun.
Di waktu ia akan menitipkan isteri dan anaknya kepada rombongan kafilah yang akan berangkat bersama dengan isterinya, dan ia harus menunaikan tugas pekerjaannya, menyelinaplah rasa sedih di hatinya, Perasaan aneh menyeluruh di hatinya, menyuruh agar ia turut serta mendampingi anak dan isterinya. Akhirnya perasaan gundah itu hilang jua. Dan kafilah pun mulai bergerak memulai perjalanannya meninggalkan kampung itu, dan tibalah waktunya bagi Haritsah untuk mengucapkan selamat jalan bagi putera dan isterinya …. Di waktu ia akan menitipkan isteri dan anaknya kepada rombongan kafilah yang akan berangkat bersama dengan isterinya, dan ia harus menunaikan tugas pekerjaannya, menyelinaplah rasa sedih di hatinya, Perasaan aneh menyeluruh di hatinya, menyuruh agar ia turut serta mendampingi anak dan isterinya. Akhirnya perasaan gundah itu hilang jua. Dan kafilah pun mulai bergerak memulai perjalanannya meninggalkan kampung itu, dan tibalah waktunya bagi Haritsah untuk mengucapkan selamat jalan bagi putera dan isterinya ….
. .
Demikianiah, ia melepas isteri dan anaknya dengan air mata berlinang. Lama ia diam terpaku di tempat
berdirinya sampai keduanya lenyap dari pandangan. Haritsah merasakan hatinya tergoncang, seolah-olah
tidak berada di tempatnya yang biasa. Ia hanyut dibawa perasaan seolah-olah ikut berangkat bersama tidak berada di tempatnya yang biasa. Ia hanyut dibawa perasaan seolah-olah ikut berangkat bersama
rombongan kafilah. rombongan kafilah.
Setelah beberapa lama Su’da, isteri Haritsah berdiam bersama kaum keluarganya di kampung Bani Ma’an.
Hingga pada suatu hari, desa itu dikejutkan oleh serangan gerombolan perampok badui yang Hingga pada suatu hari, desa itu dikejutkan oleh serangan gerombolan perampok badui yang menggerayangi desa tersebut. menggerayangi desa tersebut.

Kampung dibuat porak poranda. Karena tak dapat mempertahankan diri, semua milik yang berharga
dikuras habis dan penduduk yang tertawan digiring oleh para perampok itu sebagai tawanan, termasuk
si kecil Zaid bin Haritsah. Dengan perasaan duka kembalilah ibu Zaid kepada suaminya seorang diri. si kecil Zaid bin Haritsah. Dengan perasaan duka kembalilah ibu Zaid kepada suaminya seorang diri.
Demi Haritsah mengetahui kejadian tersebut, ia pun jatuh tak sadarkan diri. Dengan tongkat di pundaknya Demi Haritsah mengetahui kejadian tersebut, ia pun jatuh tak sadarkan diri. Dengan tongkat di pundaknya
ia berjalan mencari anaknya. Kampung demi kampung diselidikinya, padang pasir dijelajahinya. Dia ia berjalan mencari anaknya. Kampung demi kampung diselidikinya, padang pasir dijelajahinya. Dia
bertanya pada kabilah yang lewat, kalau-kalau ada yang tahu tentang anaknya tersayang dan buah hatinya bertanya pada kabilah yang lewat, kalau-kalau ada yang tahu tentang anaknya tersayang dan buah hatinya
“Zaid.” “Zaid.”
Tetapi usaha itu tidak berhasil. Maka bersyairlah ia menghibur diri sambil menuntun untanya, yang Tetapi usaha itu tidak berhasil. Maka bersyairlah ia menghibur diri sambil menuntun untanya, yang
diucapkannya dari lubuk perasaan yang haru: diucapkannya dari lubuk perasaan yang haru:

“Kutangisi Zaid, ku tak tahu apa yang telah terjadi, Dapatkah ia diharapkan hidup, atau telah mati
Demi AIlah ku tak tahu, sungguh aku hanya bertanya. Apakah di lembah ia celaka atau di bukit ia binasa. Demi AIlah ku tak tahu, sungguh aku hanya bertanya. Apakah di lembah ia celaka atau di bukit ia binasa.
Di kala matahari terbit ku terkenang padanya. BiIa surya terbenam ingatan kembali menjelma. Di kala matahari terbit ku terkenang padanya. BiIa surya terbenam ingatan kembali menjelma.
Tiupan angin yang membangkitlkan kerinduan pula, Wahai, alangkah lamanya duka nestapa diriku Tiupan angin yang membangkitlkan kerinduan pula, Wahai, alangkah lamanya duka nestapa diriku
jadi merana”

 

Perbudakan kala itu adalah sesuatu yang lumrah menurut kondisi masyarakat pada zaman itu. Dan itu
tidak hanya terjadi di Jazirah Arab saja tapi bahkan hampir mendunia. Terjadi di Athena Yunani, tidak hanya terjadi di Jazirah Arab saja tapi bahkan hampir mendunia. Terjadi di Athena Yunani,
begitu di kota Roma, dan begitu pula di seantero dunia, dan tidak terkecuali di jazirah Arab sendiri. begitu di kota Roma, dan begitu pula di seantero dunia, dan tidak terkecuali di jazirah Arab sendiri.
Di kala kabilah perampok yang menyerang desa Bani Ma’an berhasil dengan rampokannya, mereka pergi menjualkan barang-barang dan tawanan hasil rampokannya ke pasar Ukadz yang sedang berlangsung waktu itu.

Si kecil Zaid dibeli oleh Hakim bin Hizam bin Khuwailid seharga 400 dirham. Si kecil Zaid dibeli oleh Hakim bin Hizam bin Khuwailid seharga 400 dirham.
Lalu kemudian budak itu ditawarkan kepada bibinya, Khadijah. Khadijah membeli Zaid dan selanjutnya Khadijah memberikan Zaid sebagai pelayan bagi Rasulullah. Rasulullah menerimanya dengan segala senang hati, lalu segera memerdekakannya. Dengan kepribadian beliau yang besar dan jiwanya yang mulia, Zaid diasuh dan dididiknya dengan segala kelembutan dan kasih sayang seperti terhadap anak sendiri. Dan Zaid telah merasakan hal itu sejak awal.

 

Bertemu Kembali Dengan Sanak Keluarga

Pada salah satu musim haji, sekelompok orang-orang dari desa Haritsah berjumpa dengan Zaid di Mekah.
Mereka menyampaikan kerinduan ayah bundanya kepadanya. Zaid balik menyampaikan pesan salam serta rindu dan hormatnya kepada kedua orang tuanya. Ia berpesan kepada para hujjaj atau jamaah haji itu,
agar diberitakan kepada kedua orang tuanya, bahwa ia di sini tinggal bersama seorang ayah yang paling  mulia.
Begitu Haritsah, ayah Zaid mengetahui di mana anaknya berada, segera ia mengatur perjalanan ke Mekah, bersama seorang saudaranya. Di Mekah keduanya langsung menanyakan di mana rumah Muhammad al-Amin (Terpercaya). Setelah berhadapan muka dengan Muhammad saw, Haritsah berkata: Begitu Haritsah, ayah Zaid mengetahui di mana anaknya berada, segera ia mengatur perjalanan ke Mekah, bersama seorang saudaranya. Di Mekah keduanya langsung menanyakan di mana rumah Muhammad al-Amin (Terpercaya). Setelah berhadapan muka dengan Muhammad saw, Haritsah berkata:
“Wahai Ibnu Abdil Mutthalib …, wahai putera dari pemimpin kaumnya! Anda termasuk penduduk “Wahai Ibnu Abdil Mutthalib …, wahai putera dari pemimpin kaumnya! Anda termasuk penduduk Tanah Suci yang biasa membebaskan orang tertindas, yang suka memberi makanan para tawanan ….

Kami datang ini kepada anda hendak meminta anak kami. Sudilah kiranya menyerahkan anak itu kepada
kami dan bermurah hatilah menerima uang tebusannya seberapa adanya ” kami dan bermurah hatilah menerima uang tebusannya seberapa adanya ”
Rasulullah sendiri mengetahui benar bahwa hati Zaid telah lekat dan terpaut kepadanya, tapi dalam
pada itu merasakan pula hak seorang ayah terhadap anaknya.

Maka kata Nabi kepada Haritsah: “Panggillah Zaid itu ke sini, suruh ia memilih sendiri. Seandainya dia memilih Anda, maka akan saya kembalikan kepada Anda tanpa tebusan. Sebaliknya jika ia memilihku, maka demi Allah aku tak hendak menerima tebusan dan tak akan menyerahkan orang yang telah memilihku!” pada itu merasakan pula hak seorang ayah terhadap anaknya.

Mendengar ucapan dari Rasulullah saw yang demikian, wajah Haritsah berseri-seri kegembiraan, karena
tak disangkanya sama sekali kemurahan hati seperti itu, lalu ucapnya: “Benar-benar anda telah
menyadarkan kami dan anda beri pula keinsafan di balik kesadaran itu!”

Kemudian Nabi menyuruh seseorang untuk memanggil Zaid. Setibanya di hadapannya, beliau langsung
bertanya: “Tahukah engkau siapa orang-orang ini?” “Ya, tahu”, jawab Zaid, “Yang ini ayahku sedang
yang seorang lagi adalah pamanku”. yang seorang lagi adalah pamanku”.
Kemudian Nabi mengulangi lagi apa yang telah dikatakannya kepada ayahnya tadi, yaitu tentang
kebebasan memilih orang yang disenanginya. kebebasan memilih orang yang disenanginya.
Tanpa berfikir panjang, Zaid menjawab: “Tak ada orang pilihanku kecuali Anda! Andalah ayah, dan
Andalah pamanku!” Andalah pamanku!”

 

Menjadi Anak Angkat Rasullah

Mendengar itu, kedua mata Rasulullah basah dengan air mata, karena rasa syukur dan haru. Lalu dipegangnya tangan Zaid, dibawanya ke pekarangan Kabah, tempat orang-orang Quraisy sedang
banyak berkumpul. banyak berkumpul.

Di depan orang-orang Quraisy yang sedang berkumpul, Muhammad berseru, “Wahai penduduk Mekah, saksikanlah bahwa mulai saat ini Zaid adalah anakku. Dia akan menjadi ahli warisku dan aku akan menjadi ahli warisnya!”

 

Mendengar itu hati Haritsah seakan-akan berada di awang-awang karena suka citanya, sebab ia
bukan saja telah menemukan kembali anaknya bebas merdeka tanpa tebusan, malah sekarang diangkat bukan saja telah menemukan kembali anaknya bebas merdeka tanpa tebusan, malah sekarang diangkat
anak pula oleh seseorang yang termulia dari suku Quraisy yang terkenal dengan sebutan Ash-Shadiqul Amin, Orang lurus Terpercaya, keturunan Bani Hasyim, tumpuan penduduk kota Mekah seluruhnya.

Maka kembalilah ayah Zaid dan pamannya kepada kaumnya dengan hati tenteram, meninggalkan Maka kembalilah ayah Zaid dan pamannya kepada kaumnya dengan hati tenteram, meninggalkan
anaknya pada seorang pemimpin kota Mekah dalam keadaan aman sentausa, yakni sesudah sekian
lama tidak mengetahui apakah ia celaka terguling di lembah atau binasa terkapar di bukit. lama tidak mengetahui apakah ia celaka terguling di lembah atau binasa terkapar di bukit.
Rasulullah telah mengangkat Zaid sebagai anak angkat. maka menjadi terkenallah ia di seluruh
Mekah dengan nama Zaid bin Muhammad.

Wahai….. apakah yang lebih dapat membuat hati Zaid terpaut kepada Rasulullah ketimbang orang
tua kandungnya daripada setelah melihat akhlaq manusia teragung yang dikirim ditengah manusia-
manusia yang sedang mengalami dekadensi moral. Jiwa kanak-kanaknya yang fitrah dengan mantap manusia yang sedang mengalami dekadensi moral. Jiwa kanak-kanaknya yang fitrah dengan mantap
menjatuhkan pilihan yang selaras dengan kecenderungannya kepada kefitrahan. menjatuhkan pilihan yang selaras dengan kecenderungannya kepada kefitrahan.
Sejak saat itu, Zaid dikenal dengan sebutan Zaid bin Muhammad. Kebahagiaan terpancar dari wajahnya. Adapun Haritsah, dia sama sekali tidak sedih. Meskipun gagal membawa Zaid pulang, dia bahagia melihat putranya diasuh oleh orang paling mulia di negeri Arab.
Setelah Muhammad menjadi rasul, Zaid menjadi orang kedua yang memeluk lslam setelah Khadijah ra. Saat itu usia Zaid masih remaja tanggung. Mungkin sekitar 16 tahun. Sejak itu, Zaid menjadi pendamping Rasul yang sangat setia dan penuh pengabdian.

Saat Rasulullah saw. mencari suaka ke Thaif karena tekanan yang amat kuat dari kaum kafir Quraisy, Zaid adalah pendampingnya. Dia ikut dilempari batu dan kotoran unta bersama Rasulullah, sehingga tubuhnya penuh luka dan kotoran. Semua itu dilakukannya dengan penuh keikhlasan dan cinta, sehingga Rasulullah saw. semakin menyayanginya.

 

Pernikahan Zaid bin Haritsah

Ketika Zaid sudah dewasa, Rasulullah berniat menikahkannya dengan seorang perempuan. Rasulullah lalu memilih Zainab binti Jahsyi, ia adalah sepupu Rasulullah dan termasuk salah seorang bangsawan Quraisy. Kehendak beliau itu ditolak oleh Zainab dan keluarganya. Mereka merasa khawatir martabat mereka turun jika Zainab menikah dengan bekas budak. Namun kemudian, Zainab sendiri memutuskan untuk menikah dengan Zaid meskipun dengan agak terpaksa.
Setelah mereka menikah, ternyata sifat Zainab tidak berubah. Dia tetap sombong dengan kebangsawanannya, dan tidak mau bersikap baik layaknya seorang istri kepada suaminya. Zaid yang merasa tidak nyaman dengan keadaan itu beberapa kali mengadu kepada Rasulullah. Zaid meminta nasihat dan pertimbangan tentang kondisi rumah tangganya yang kurang harmonis itu. Bahkan dia meminta izin untuk menceraikan Zainab.

Tetapi Nabi selalu menasihali Zaid agar bersabar.
“Hendaklah engkau takut kepada Allah, wahai Zaid. Pertahankan istrimu, jangan ceraikan dia.”

Begitu selalu nasihat beliau setiap kali Zaid datang mengadu dan mengeluh tentang keadaan keluarganya. Mendengar nasihat itu, Zaid mencoba bertahan. Namun semakin lama dia semakin tidak tahan hidup bersama Zainab, karena istrinya itu selalu bersikap angkuh kepadanya. Maka setelah tekadnya bulat, Zainab pun diceraikannya. Semua itu terjadi pada masa awal kenabian.

Selang beberapa waktu setelah itu, Rasulullah bersabda,

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَتَزَوَّجَ امْرَ أَةً مِنْ أَهْلِ الْحَنَّةِ فَلْيَتَزَوًجْ أُمً أَيْمَنٍ

“Barang siapa yang ingin menikah dengan wanita ahli surga maka hendaklah menikahi Ummu Aiman.”

Akhirnya, Zaid bin Haritsah menikahinya pada malam ketika ia diutus oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dengannya, akhirnya Ummu Aiman melahirkan Usamah bin Zaid, buah hati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sementara itu Zainab sendiri, setelah menjanda beberapa saat lamanya, dinikahi oleh Rasulullah sendiri. Ia pun menjadi ummul mukminin.

Hal ini menimbulkan berbagai kecaman dan gunjingan dari penduduk Mekah. Mengapa Nabi menikah dengan bekas istri anak angkatnya?
Padahal, dalam tradisi masyarakat Arab, kedudukan anak angkat sama dengan anak kandung. Anak angkat boleh mewarisi ayah angkatnya, demikian juga sebaliknya, ayah angkat boleh mewarisi anak angkatnya. Oleh karena itu, istri yang telah dicerai anak angkat tidak boleh dinikahi oleh ayah angkatnya. Tapi mengapa Rasulullah melanggar tradisi itu?
Allah yang Maha bijaksana rupanya berkehendak menghapus tradisi jahiliah tersebut melalui sunnah Rasulullah. Diturunkan-Nya sebuah ayat sebagai hujjah bagi tindakan Rasulullah itu.
Turunnya ayat 40 surah Al Ahzab yang membatalkan tabanni [ mengangkat anak angkat ], sekaligus penjelasan bahwa anak angkat, secara hukum tidak bisa dianggap sebagai anak kandung.

 

مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا

Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabinabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

Anak angkat tidak bisa saling waris mewarisi dengan bapak angkatnya. Demikian pula, isteri yang telah dicerai halal untuk dinikahi bapak angkatnya.

Kemudian Allah berfirman dalam Al Quran surat Al Ahzab ayat 133

وَإِذْ تَقُولُ لِلَّذِي أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَأَنْعَمْتَ عَلَيْهِ أَمْسِكْ عَلَيْكَ زَوْجَكَ وَاتَّقِ اللَّهَ وَتُخْفِي فِي نَفْسِكَ مَا اللَّهُ مُبْدِيهِ وَتَخْشَى النَّاسَ وَاللَّهُ أَحَقُّ أَنْ تَخْشَاهُ فَلَمَّا قَضَى زَيْدٌ مِنْهَا وَطَرًا زَوَّجْنَاكَهَا لِكَيْ لا يَكُونَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ حَرَجٌ فِي أَزْوَاجِ أَدْعِيَائِهِمْ إِذَا قَضَوْا مِنْهُنَّ وَطَرًا وَكَانَ أَمْرُ اللَّهِ مَفْعُولا 37

Dan (ingatlah), ketika kamu berkata kepada orang yang Allah telah melimpahkan nikmat kepadanya dan kamu (juga) telah memberi nikmat kepadanya: “Tahanlah terus istrimu dan bertakwalah kepada Allah“, sedang kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya, dan kamu takut kepada manusia, sedang Allah-lah yang lebih berhak untuk kamu takuti. Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap istrinya (menceraikannya), Kami kawinkan kamu dengan dia supaya tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk (mengawini) istri-istri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya daripada istrinya. Dan adalah ketetapan Allah itu pasti terjadi.

Wahyu tersebut menegaskan bahwa kedudukan anak angkat tidaklah sama dengan anak kandung. lni berarti, anak angkat boleh menikah dengan bekas istri ayah angkatnya, dan ayah angkat boleh menikah dengan bekas isteri anak angkatnya.
Allah juga menurunkan perintah langsung kepada Rasulullah agar menikahi Zainab, sebagai pelajaran bagi umat manusia tentang hukum menikahi bekas istri anak angkat. Dalam ayat tersebut tercantum langsung nama ‘Zaid’, yang dengan demikian, ia adalah satu-satunya shahabat yang namanya tercantum dalam Al Quran.
Dalam ayat diatas nama Zaid disebut secara langsung, jadi Zaid adalah satu satunya sahabat Nabi yang namanya disebut dalam Al Quran. Pada Perang Mu’tah Rasulullah mengangkat Zaid bin Haritsah sebagai panglima, dan ia mati syahid dalam perang tersebut. Perang Mut’ah terjadi pada 8 H.
Sejak turunnya dua ayat yang menegaskan kedudukan anak angkat tersebut, Zaid kembali dikenal dengan namanya semula, yaitu Zaid bin Haritsah. Masyarakat Mekah tidak lagi menyebutnya Zaid bin Muhammad. Meskipun demikian, hubungan ayah-anak angkat di antara mereka tetap terjalin. Nabi saw. tetap menyayan gi Zaid seperti semula, demikian juga Zaid tetap mencintai beliau seperti sedia kala. Hubungan tersebut kemudian melahirkan kepercayaan Nabi terhadap Zaid, terutama dalam urusan kemiliteran.

 

Menemani Nabi ke Thaif

Ketika Abu Thalib dan Khadijah wafat, tekanan dan siksaan yang dilakukan oleh kaum kafir Quraisy makin meningkat, karena itu beliau berinisiatif untuk menyeru penduduk Thaif untuk memeluk Islam. Kalau berhasil, setidaknya bisa mengurangi dan menghambat tekanan kaum Quraisy, karena Bani Tsaqif yang mendiami kota Thaif adalah kabilah yang cukup kuat. Beliau menempuh jarak sekitar 90 atau 100 km dengan berjalan kaki, hanya berdua dengan Zaid bin Haritsah.
Selama sepuluh hari tinggal di Thaif ternyata tidak ada seorangpun yang menyambut seruan beliau. Bahkan akhirnya mereka mengusir beliau dari Kota Thaif. Tidak cukup itu, mereka mengumpulkan beberapa orang jahat dan para budak mengerumuni beliau, membentuk dua barisan di kanan kiri jalan, dan mereka mencaci maki serta melemparkan batu kepada mereka berdua.
Zaid bin Haritsah mati-matian melindungi Nabi SAW dari serangan lemparan batu tersebut. Tak terkira luka-luka di kepala dan tubuhnya, karena mereka terus melakukan serangan batu tersebut sepanjang 4,5 km (3 mil) perjalanan, sampai Nabi SAW dan Zaid masuk dan berlindung ke dalam kebun milik Utbah bin Rabiah dan Syaibah bin Rabiah, seorang tokoh Quraisy.
Luka mengucur hampir dari seluruh bagian tubuh Zaid, Nabi SAW sendiri juga terluka, bahkan salah urat di atas tumit beliau putus sehingga darah membasahi terompah beliau. Tetapi Zaid justru lebih mengkhawatirkan luka pada kaki Nabi SAW daripada luka-luka yang dialaminya. Persoalan belum selesai sampai di situ, kaum kafir Quraisy dengan pimpinan Abu Jahal ternyata telah bersiap-siap menolak Rasulullah SAW untuk memasuki Makkah, bahkan akan mengusir beliau. Zaid bin Haritsah bertanya, “Bagaimana caranya engkau memasuki Makkah, Ya Rasulullah, padahal mereka telah (berniat) mengusir engkau?”
“Wahai Zaid,” Kata Nabi SAW, “Sesungguhnya Allah akan menciptakan kelonggaran dan jalan keluar dari masalah yang kita hadapi ini. Sungguh Allah pasti akan menolong agama-Nya dan memenangkan Nabi-Nya….! ”
Setelah hijrah ke Madinah, Zaid tidak pernah terlewat berjuang bersama Rasulullah SAW. Perang Badar, Perang Uhud, Perang Khandaq dan lain-lainnya, semua diterjuninya tanpa kenal menyerah. Jika Nabi SAW mengirim suatu pasukan sementara beliau sendiri tidak mengikutinya, pastilah Zaid yang ditunjuk sebagai pemimpinnya. Misalnya perang al Jumuh, at Tharaf, al Ish, al Hismi dan beberapa peperangan lainnya.

 

Menjadi Panglima Perang
Kepercayaan Rasulullah itu tentu saja didukung oleh kepiawaian Zaid baik dalam olah senjata dan ketangkasan berkuda maupun dalam strategi perang. Sejarah mencatat nama Zaid sebagai salah seorang panglima perang yang hebat, sehingga dia menjadi salah satu penglima kepercayaan Rasulullah. Tentang hal ini Aisyah ra. berkata, “Setiap Rasulullah saw. mengirimkan suatu pasukan yang disertai oleh Zaid, pastilah dia yang diangkat menjadi pemimpinnya. Seandainya dia masih hidup sesudah Rasul, tentulah dia akan diangkatnya sebagai khalifah.”
Kepercayaan Rasulullah kepada Zaid ini sangat beralasan mengingat integritas keimanannya yang tidak mungkin diragukan serta karakternya yang pemberani. Semua itu adalah hasil didikan beliau sendiri selama Zaid tinggal bersamanya. Di bawah bimbingan beliaulah, Zaid tumbuh menjadi seorang mukmin yang mencintai Allah dan Rasul-Nya di atas segalanya serta menjadikan surga sebagai pembuluh rindu, sehingga baginya mati dalam berjihad dijalan Allah sebagai syahid adalah sebuah impian.

 

Perang Mu’tah
Tahun kedelapan hijriyah, Allah Yang Maha Tinggi Kebijaksanaan-Nya berkehendak untuk menguji hamba-Nya dengan memisahkan orang yang sayang menyayangi itu.
Rasulullah mengutus Harist bin ‘Umair Al Azdy dengan sepucuk surat dari beliau kepada raja Bushra, mengajaknya masuk Islam. Sampai di Mu’tah, sebelah Timur Yordan, seorang pembesar Bani Ghassan, yaitu Syurahbil bin ‘Amr menangkap Harits, lalu Harits dibunuhnya. Rasulullah sangat marah, karena sesungguhnya seorang utusan tidak boleh dibunuh.
Maka beliau siapkan tiga ribu tentara untuk memerangi Mu’tah. Beliau mengangkat anak kesayangannya Zaid bin Haritsah menjadi komandan pasukan tersebut.
“Kalian harus tunduk kepada Zaid bin Haritsah sebagai panglima. Seandainya Zaid gugur, maka posisi panglima akan dipegang oleh Ja’far bin Abi Thalib. Seandainya Ja’far gugur, maka posisi panglima akan dipegang oleh Abdullah bin Rawahah.”
Demikian pesan Rasulullah sebelum pasukan muslimin berangkat menuju medan perang. Rasulullah telah memperkirakan bahwa peperangan kali ini sangat berbahaya, sehingga beliau merasa perlu menentukan tiga panglima sekaligus untuk memimpin pasukan muslimin secara bergantian jika salah seorang dari mereka gugur.

Pasukan berangkat hingga sampai Ma’an, sebelah timur kota Yordan. Sampai disana ternyata telah menunggu pasukan gabungan Heraklius dari Romawi dan tentara kaum musyrikin Arab. Jumlah pasukan gabungan ini mencapai 200.000 orang.
Kedua pasukan bertemu di Mu’tah. Kaum muslimin berperang mencengangkan tentara Romawi dan menyebabkan mereka ketakutan. Tiga ribu tentara islam menghadapi 200.000 pasukan gabungan.
Zaid bin Haritsah bertempur mempertahankan bendera Rasulullah dengan semangat dan keberanian yang tak ada taranya dalam sejarah kepahlawanan. Sehingga akhirnya tubuhnya remuk terkena seratus anak panah, kemudian dia jatuh terbanting bermadikan darah. Dia syahid menemui Allah sambil mengibarkan bendera Rasulullah, demikian juga dengan Ja’far dan Abdullah.
Berita perang dan tewasnya tiga perwira yang diangkat Rasulullah segera sampai kepada beliau. Beliau sangat sedih menerima berita tersebut. Rasulullah mengunjungi keluarga mereka untuk menghibur. Ketika Rasulullah tiba di rumah Zaid bin Haritsah, anak Zaid yang masih kecil menggapai beliau sambil menangis. Melihat kenyataan seperti itu Rasulullah terharu lalu beliau menangis pula sehingga tangisnya deras kedengaran.

Imam Ibnu Katsir rahimahullah mengungkapkan ketakjubannya terhadap kekuasaan Allah Azza wa Jalla melalui hasil peperangan yang berakhir dengan kemenangan kaum muslimin dengan berkata : “Ini kejadian yang menakjubkan sekali. Dua pasukan bertarung, saling bermusuhan dalam agama. Pihak pertama pasukan yang berjuang dijalan Allah Azza wa Jalla, dengan kekuatan 3000 orang. Dan pihak lainnya, pasukan kafir yang berjumlah 200 ribu pasukan. 100 ribu orang dari Romawi dan 100 ribu orang dari Nashara Arab. Mereka saling bertarung dan menyerang. Meski demikian sengitnya, hanya 12 orang yang terbunuh dari pasukan kaum muslimin.

Padahal, jumlah korban tewas dari kaum musyirikin sangat banyak”.
Allah Azza wa Jalla berfirman dalam Al Quran surat Al Baqarah ayat 249 :

 

فَلَمَّا فَصَلَ طَالُوتُ بِالْجُنُودِ قَالَ إِنَّ اللَّهَ مُبْتَلِيكُمْ بِنَهَرٍ فَمَنْ شَرِبَ مِنْهُ فَلَيْسَ مِنِّي وَمَنْ لَمْ يَطْعَمْهُ فَإِنَّهُ مِنِّي إِلا مَنِ اغْتَرَفَ غُرْفَةً بِيَدِهِ فَشَرِبُوا مِنْهُ إِلا قَلِيلا مِنْهُمْ فَلَمَّا جَاوَزَهُ هُوَ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ قَالُوا لا طَاقَةَ لَنَا الْيَوْمَ بِجَالُوتَ وَجُنُودِهِ قَالَ الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُمْ مُلاقُو اللَّهِ كَمْ مِنْ فِئَةٍ قَلِيلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيرَةً بِإِذْنِ اللَّهِ وَاللَّهُ مَعَ الصَّابِرِينَ

Maka tatkala Thalut keluar membawa tentaranya, ia berkata: “Sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan suatu sungai. Maka siapa di antara kamu meminum airnya, bukanlah ia pengikutku. Dan barang siapa tiada meminumnya, kecuali menceduk seceduk tangan, maka ia adalah pengikutku.” Kemudian mereka meminumnya kecuali beberapa orang di antara mereka. Maka tatkala Thalut dan orang-orang yang beriman bersama dia telah menyeberangi sungai itu, orang-orang yang telah minum berkata: “Tak ada kesanggupan kami pada hari ini untuk melawan Jalut dan tentaranya.”

Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah berkata: “Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar”.

Para ulama sejarah tidak bersepakat pada satu kata mengenai jumlah syuhada Mu’tah. Namun, yang jelas jumlah mereka tidak banyak. Hanya berkisar pada angka belasan, menurut hitungan yang terbanyak. Padahal, peperangan Mu’tah sangat sengit. Ini dapat dibuktikan bahwa Khalid bin Walid rahimahullah menghabiskan 9 pucuk pedang dalam perang tersebut. Hanya satu pedang yang tersisa, hasil buatan Yaman.
Khalid rahimahullah berkata, “Telah patah Sembilan pedang ditanganku, tidak tersisa kecuali pedang buatan Yaman.
Menurut Imam Ibnu Ishaq seorang Imam dalam ilmu sejarah Islam, syuhada perang Mu’tah hanya berjumlah 8 Sahabat saja. Secara terperinci yaitu

  1. Ja’far bin Abi Thalib,
  2. Zaid bin Haritsah al-Kalbi,
  3. Mas’ud bin al-Aswad bin Haritsah bin Nadhlah al-‘Adawi,
  4. Wahb bin Sa’d bin Abi Sarh radhiyallahu ‘anhum.

Sementara dari kalangan kaum anshar,

  1. Abdullah bin Rawahah,
  2. Abbad bin Qais al-Khozarjayyan,
  3. al Harits bin an-Nu’man bin Isaf bin Nadhlah an-Najjari,
  4. Suraqah bin ‘Amr bin Athiyyah bin Khansa al-Mazini radhiyallahu ‘anhum.

Di sisi lain, Imam Ibnu Hisyam rahimahullah dengan berlandaskan keterangan az-Zuhri rahimahullah, menambahkan empat nama dalam deretan Sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang gugur di medan perang Mu’tah. Yakni, Abu Kulaib dan Jabir. Dua orang ini saudara sekandung. Ditambah ‘Amr bin ‘Amir putra Sa’d bin Tsa’labah bi Malik bin Afsha. Mereka juga berasal dari kaum anshar. Dengan ini, jumlah syuhada bertambah menjadi 12 jiwa.

rikin sangat banyak”.
Allah Azza wa Jalla berfirman dalam Al Quran surat Al Baqarah ayat 249 :

فَلَمَّا فَصَلَ طَالُوتُ بِالْجُنُودِ قَالَ إِنَّ اللَّهَ مُبْتَلِيكُمْ بِنَهَرٍ فَمَنْ شَرِبَ مِنْهُ فَلَيْسَ مِنِّي وَمَنْ لَمْ يَطْعَمْهُ فَإِنَّهُ مِنِّي إِلا مَنِ اغْتَرَفَ غُرْفَةً بِيَدِهِ فَشَرِبُوا مِنْهُ إِلا قَلِيلا مِنْهُمْ فَلَمَّا جَاوَزَهُ هُوَ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ قَالُوا لا طَاقَةَ لَنَا الْيَوْمَ بِجَالُوتَ وَجُنُودِهِ قَالَ الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُمْ مُلاقُو اللَّهِ كَمْ مِنْ فِئَةٍ قَلِيلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيرَةً بِإِذْنِ اللَّهِ وَاللَّهُ مَعَ الصَّابِرِينَ

Maka tatkala Thalut keluar membawa tentaranya, ia berkata: “Sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan suatu sungai. Maka siapa di antara kamu meminum airnya, bukanlah ia pengikutku. Dan barang siapa tiada meminumnya, kecuali menceduk seceduk tangan, maka ia adalah pengikutku.” Kemudian mereka meminumnya kecuali beberapa orang di antara mereka. Maka tatkala Thalut dan orang-orang yang beriman bersama dia telah menyeberangi sungai itu, orang-orang yang telah minum berkata: “Tak ada kesanggupan kami pada hari ini untuk melawan Jalut dan tentaranya.”

Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah berkata: “Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar”.

Para ulama sejarah tidak bersepakat pada satu kata mengenai jumlah syuhada Mu’tah. Namun, yang jelas jumlah mereka tidak banyak. Hanya berkisar pada angka belasan, menurut hitungan yang terbanyak. Padahal, peperangan Mu’tah sangat sengit. Ini dapat dibuktikan bahwa Khalid bin Walid rahimahullah menghabiskan 9 pucuk pedang dalam perang tersebut. Hanya satu pedang yang tersisa, hasil buatan Yaman.
Khalid rahimahullah berkata, “Telah patah Sembilan pedang ditanganku, tidak tersisa kecuali pedang buatan Yaman.
Menurut Imam Ibnu Ishaq seorang Imam dalam ilmu sejarah Islam, syuhada perang Mu’tah hanya berjumlah 8 Sahabat saja. Secara terperinci yaitu

  1. Ja’far bin Abi Thalib,
  2. Zaid bin Haritsah al-Kalbi,
  3. Mas’ud bin al-Aswad bin Haritsah bin Nadhlah al-‘Adawi,
  4. Wahb bin Sa’d bin Abi Sarh radhiyallahu ‘anhum.

Sementara dari kalangan kaum anshar,

  1. Abdullah bin Rawahah,
  2. Abbad bin Qais al-Khozarjayyan,
  3. al Harits bin an-Nu’man bin Isaf bin Nadhlah an-Najjari,
  4. Suraqah bin ‘Amr bin Athiyyah bin Khansa al-Mazini radhiyallahu ‘anhum.

Di sisi lain, Imam Ibnu Hisyam rahimahullah dengan berlandaskan keterangan az-Zuhri rahimahullah, menambahkan empat nama dalam deretan Sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang gugur di medan perang Mu’tah. Yakni, Abu Kulaib dan Jabir. Dua orang ini saudara sekandung. Ditambah ‘Amr bin ‘Amir putra Sa’d bin Tsa’labah bi Malik bin Afsha. Mereka juga berasal dari kaum anshar. Dengan ini, jumlah syuhada bertambah menjadi 12 jiwa.