Hal hal yang membatalkan puasa :

  • Masuknya benda (seperti nasi, air, asap rokok dan sebagainya) ke dalam lambung*  lewat lubang yang ada di tubuh [ mulut atau lubang lainnya ] dengan disengaja.
  • Jima’ atau bersetubuh
  • Muntah dengan disengaja,
  • Keluar mani (istimna’ ) dengan disengaja,
  • Haid (datang bulan) dan Nifas (melahirkan anak),[6]
  • Hilang akal (gila atau pingsan),
  • Murtad (keluar dari agama Islam).

*  masuknya sesuatu ke lambung. Jika masih berada di dalam mulut, seperti berkumur misalnya, tidak membatalkan puasa. Dalam ilmu biologi, indra pengecap itu lidah yang berada di dalam mulut. Jadi mencicipi makanan  dan tidak ditelan [ langsung berkumur kumur ] tidak batal.

Dari kesemua pembatal saum ada pengecualiannya, yaitu makan, minum dan bersetubuhnya orang yang sedang bersaum tidak akan batal ketika seseorang itu lupa bahwa ia sedang bersaum.

 


Makan dan Minum Dengan Sengaja

Allah Subhanahu wata’ala berfirman dalam Al Quran surat Al Baqarah ayat 187 ”
Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dan benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai [ datangnya ] malam.”
Difahami bahwa puasa itu [ mencegah ] dari makan dan minum, jika makan dan minum berarti telah berbuka, kemudian dikhususkan kalau sengaja, karena jika orang yang puasa melakukannya karena lupa, salah atau dipaksa, maka tidak membatalkan puasanya. Masalah ini berdasarkan dalil-dalil:
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Jika lupa hingga makan dan minum, hendaklah menyempurnakan puasanya, karena sesung- guhnya Allah yang memberinya makan dan minum.”

HR. Bukhari (4/135) dan Muslim (1155)
Allah meletakkan (tidak menghukum) umatku karena salah atau lupa dan karena dipaksa.”

HR. Thahawi dalam Syarhu Ma’anil Atsar (2/56), Al Hakim (2/198)

 


Muntah Dengan Sengaja 

Karena barangsiapa yang muntah karena terpaksa [ harus muntah ], itu  tidak membatalkan puasanya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Barangsiapa yang terpaksa muntah, maka tidak wajib baginya untuk meng-qadha puasanya, dan barangsiapa muntah dengan sengaja, maka wajib baginya meng- qadha puasanya.”

HR. Abu Dawud (3/310), Tirmidzi (3/79), Ibnu Majah (1/536)

 


Haidh dan Nifas 

Jika seorang wanita haidh atau nifas, pada satu bagian siang, baik di awal ataupun di akhirnya, maka mereka harus berbuka dan meng-qadha kalau puasa tidak mencukupinya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Bukankah jika haidh dia tidak shalat dan puasa?” Kami katakan, “Ya.” Beliau berkata, “Itulah (bukti) kurang agamanya.”

HR. Muslim (79) dan (80) dari Ibnu Umar dan Abu Hurairah

Perintah mengqadha puasa terdapat dalam riwayat Mu’adzah, dia berkata:

“Aku pernah bertanya kepada ‘Aisyah, “Mengapa orang haidh mengqadha puasa tetapi tidak mengqadha sholat?” ‘Aisyah berkata, “Apakah engkau wanita Haruri” ( Haruri nisbat kepada Harura’ (yaitu) negeri yang jaraknya 2 mil dari Kufah). Aku menjawab, “Aku bukan Haruri, tetapi hanya (sekedar) bertanya.” ‘Aisyah berkata, “Kamipun haidh ketika puasa, tetapi kami hanya diperintahkan untuk meng-qadha puasa, tidak diperintahkan untuk meng-qadha shalat.”

HR. Bukhari (4/429) dan Muslim (335)

 


Suntikan Yang Mengandung Makanan

Yaitu menyalurkan zat makanan ke perut dengan maksud memberi makanan bagi orang yang sakit. Suntikan seperti ini membatalkan puasa, karena memasukkan makanan kepada orang yang puasa. Adapun jika suntikan tersebut tidak sampai kepada perut tetapi hanya ke darah, maka inipun juga membatalkan puasa, karena cairan tersebut kedudukannya menggantikan kedudukan makanan dan minuman.

Kebanyakan orang yang pingsan dalam jangka waktu yang lama diberikan makanan dengan cara seperti ini, seperti jauluz dan salayin, demikian pula yang dipakai oleh sebagian orang yang sakit asma, inipun membatalkan puasa.

Tapi kebalikannya, bila suntikan itu berisi obat, maka tidaklah batal puasanya. Hanya saja dilihat kondisi fisik seseorang, bila sakitnya membuat ia tidak kuat puasa, sebaiknya puasanya dibatalkan. Di qadha puasanya dilain waktu atau bayar fidyah.

 


Jima’

Imam Syaukani berkata (Dararul Mudhiyah 2/22): “Jima’ dengan sengaja, tidak ada ikhtilaf (perbedaan pendapat) padanya bahwa hal tersebut membatalkan puasa, adapun jika jima’ tersebut terjadi karena lupa, maka sebagian ahli ilmu menganggapnya sama dengan orang yang makan dan minum dengan tidak sengaja.”
Ibnul Qayyim berkata (Zaadul Ma’ad 2/66), “Al Quran menunjukkan bahwa jima’ membatalkan puasa seperti halnya makan dan minum, tidak ada perbedaan pendapat akan hal ini.”
Dalilnya adalah firman Allah dalam Al Quran surat Al Baqarah ayat 187 :

 أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَائِكُمْ هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ عَلِمَ اللَّهُ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَخْتَانُونَ أَنْفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنْكُمْ فَالآنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الأبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الأسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ وَلا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلا تَقْرَبُوهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ

Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan Puasa bercampur dengan istri-istri kamu; mereka itu adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri`tikaf dalam mesjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayatayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa.

“Sekarang pergaulilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah untuk kalian.” (Al Baqarah : 187)

Diizinkan bergaul (dengan istrinya) di malam hari, (maka bisa) difahami dari sini bahwa puasa itu dari makan, minum dan jima’. Barangsiapa yang merusak puasanya dengan jima’ harus meng-qadha dan membayar kafarat, dalilnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, (dia berkata):
“Pernah datang seseorang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian berkata, “Ya Rasulullah, binasalah aku!” Rasulullah bertanya, “Apakah yang membuatmu binasa?” Orang itu menjawab, “Aku menjima’i istriku di bulan Ramadhan.” Rasulullah bersabda, “Apakah kamu mampu memerdekakan seorang budak?” Orang itu menjawab, “Tidak.” Rasulullah bersabda, “Apakah engkau mampu memberi makan enam puluh orang miskin?” Orang itu menjawab, “Tidak.” Rasulullah bersabda, “Duduklah.” Diapun duduk. Kemudian ada yang mengirim satu wadah kurma kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Rasulullah bersabda, “Bersedekahlah.” Orang itu berkata “Tidak ada di antara dua kampung ini keluarga yang lebih miskin dari kami.” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pun tertawa hingga terlihat gigi serinya, lalu beliau bersabda, “Ambilah, berilah makanan keluargamu.”

Hadits shahih dengan berbagai lafadz yang berbeda dari Bukhari (11/516), Muslim (1111), Tirmidzi (724), Baghawi (6/288), Abu Dawud (2390)