Wajib adalah salah satu hukum syara’ yang artinya sebuah tuntutan yang pasti  [ thalab jazm ] untuk mengerjakan suatu perbuatan, Jadi sifatnya mutlak.   Wajib juga bisa disebut fardlu.  Arti keduanya sinonim. 

Wajib sifatnya mutlak.  karena :

  • apabila dikerjakan mendapatkan pahala,
  • sedangkan bila ditinggalkan maka berdosa (mendapatkan siksa).
  • Contohnya, shalat fardlu, bila mengerjakannya maka mendapatkan pahala, bila ditinggalkan akan diadzab di neraka, demikian juga dengan kewajiban-kewajiban yang lainnya.

Wajib terbagi menjadi dua yakni :

  • Wajib ‘Ainiy : kewajiban bagi setiap individu.
  • Wajib Kifayah : kewajiban yang apabila sudah ada yang mengerjakannya maka yang lainnya gugur (tidak mendapatkan dosa), contohnya seperti shalat jenazah, tajhiz jenazah (mengurus jenazah), menjawab salam dan sebagainya.

Istilah Wajib juga ada yang mensinonimkan dengan Lazim. Sebagian ulama ada yang membedakan antara Fardlu dan Wajib hanya pada beberapa permasalahan di di Bab Haji.

Ada juga yang membedakan antara Fardlu dan Wajib, seperti Hanafiyah. Menurut mereka, Fardlu adalah sesuatu yang telah ditetapkan dengan dalil syar’i (maqthu’ bih) dan tidak ada keraguan didalamnya, seperti shalat 5 waktu, zakat, puasa, haji.  iman kepada Allah.

  • Hukum Fardlu adalah lazim (wajib) baik secara keyakinan maupun perbuatan
    • sehingga apabila mengingkari (secara keyakinan) pada salah satu kefardluan itu maka kafir,
    • namun bila meninggalkan saja (tidak mengerjakannya, seperti shalat 5 waktu dan semacamnya) maka fasiq.
  • Sedangkan Wajib adalah
    • kewajiban yang ghairul fardl (selain fardlu), sesuatu yang ditetapkan dengan dalil namun masih ada kemungkinan ketidak pastian (hasil ijtihad), hukumnya lazim secara perbuatan saja, tidak secara keyakinan.
    • Apabila mengingkarinya, tidak sampai kafir namun terjatuh dalam syubhat.
    • Sedangkan bila meninggalkannya maka berdosa dengan dosa yang kadarnya lebih sedikit daripada meninggalkan perbuatan yang sifatnya Fardlu,
    • sebab kalau meninggalkan yang bersifat Fardlu maka disiksa dineraka, sedangkan meninggalkan yang sifatnya Wajib, tidak disiksa di neraka, namun ia terhalang dari syafa’at Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alayhi wa Sallam.

Jumhur ulama tidak membedakan antara Fardlu dan Wajib, bahkan ada yang menyatakan bahwa pembedaan seperti itu tidak tepat dan tidak berarti apa-apa.