بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Muhammad bin Abdul Wahhab adalah ulama besar yang disegani berasal dari negeri Nejd.   Beliau lahir pada tahun 115 H [ abad ke 12 H ] atau 17 M di kota Huraimila, negeri Nejd.  Lingkungan keluarga beliau adalah keluarga ulama, kakek dan bapak beliau merupakan ulama yang terkemuka di negeri Nejd.

Muhammad bin Abdul Wahhab berasal dari kabilah Bani Tamim, yang merupakan  kabilah yang pernah mendapat pujian dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabda beliau :

“Bahwa mereka (yaitu Bani Tamim) adalah umatku yang terkuat dalam menentang Dajjal.” ( HR. Bukhari no. 2405, Muslim no. 2525 )

Muhammad adalah sosok ulama reformis, memiliki ilmu yang dalam, dan pengaruh yang besar. Dan seperti biasa, orang besar memang akan selalu mengundang fitnah dari orang orang disekitar.  Banyak suara sumbang memfitnahnya. Tapi itulah sunnatullah, kebenaran selalu memiliki penentang.

Tulisan ini semoga memberi penjelasan yang tepat buat kita semua, bagaimana seharusnya kita melihat Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan asal mula sebutan istilah wahabi.

 

 

Masa Kecil Muhammad

Ketika berumur sepuluh tahun,  beliau telah hafal al Quran.  Dan ia memulai pertualangan ilmunya dari ayah kandungnya dan pamannya.  Kemudian dengan modal kecerdasan dan ditopang oleh semangat yang tinggi, Muhammad bin Abdul Wahhab mulai berpetualang ke berbagai daerah tetangga untuk menuntut ilmu, seperti daerah Basrah dan Hijaz.  Sebagaimana lazimnya kebiasaan para ulama dahulu yang mana mereka membekali diri mereka dengan ilmu yang matang sebelum turun ke medan dakwah.

Kondisi Masyarakat Arab di Zamannya

Keadaan Jazirah Arab serta negeri sekitarnya, pada masa kelahiran Muhammad bin  Abdul Wahhab cukup mengkhawatirkan.

Dari segi aspek politik Jazirah Arab berada di bawah kekuasaan yang terpecah-pecah, terlebih khusus daerah Nejd, perebutan kekuasaan selalu terjadi di sepanjang waktu, sehingga hal tersebut sangat berdampak negatif untuk kemajuan ekonomi dan pendidikan agama.

Para penguasa hidup dengan memungut upeti dari rakyat jelata, jadi mereka sangat marah bila ada kekuatan atau dakwah yang dapat akan menggoyang kekuasaan mereka, begitu pula dari kalangan para tokoh adat dan agama yang biasa memungut iuran dari pengikut mereka, akan kehilangan objek jika pengikut mereka mengerti tentang aqidah dan agama dengan benar, dari sini mereka sangat hati-hati bila ada seseorang yang mencoba memberi pengertian kepada umat tentang aqidah atau agama yang benar.

Dari segi aspek agama, pada abad (12 H / 17 M) keadaan beragama umat Islam sudah sangat jauh menyimpang dari kemurnian Islam itu sendiri.

Terutama dalam aspek aqidah.  Banyak sekali di sana sini praktek praktek syirik atau bid’ah.  Para ulama yang ada bukan berarti tidak mengingkari hal tersebut, tapi usaha mereka hanya sebatas lingkungan mereka saja.  Dan tidak berpengaruh secara luas atau hilang ditelan oleh arus gelombang yang begitu kuat dari pihak yang menentang yang jumlahnya amat banyak.   Sedang jumlah ulama amat sedikit.

Situasi saat itu mirip dengan situasi di Indonesia sekarang ini.  Terlebih lebih dimana pemerintahan sekarang ini, lebih condong dan membiarkan pada praktek praktek sirik dan murtad, dengan alasan hak asasi atau kebebasan beribadah.

Kelompok kelompok penebar bid’ah dan kesesatan dilindungi oleh rejim di Indonesia.Ditambah pengaruh kuat dari tokoh-tokoh masyarakat yang mendukung praktek praktek syirik dan bid’ah tersebut demi kelanggengan pengaruh mereka atau karena mencari kepentingan duniawi di belakang itu.

Saat itu di Saudi,  pengaruh keagamaan melemah di dalam tubuh kaum muslimin sehingga tersebarlah berbagai bentuk maksiat, khurafat, syirik, bid’ah, dan sebagainya.

Karena ilmu agama mulai minim di kalangan kebanyakan kaum muslimin, sehingga praktek-praktek syirik terjadi di sana sini seperti meminta ke kuburan wali-wali, atau meminta ke batu-batu dan pepohonan dengan memberikan sesajian, atau mempercayai dukun, tukang tenung dan peramal.

Salah satu daerah di Nejd, namanya kampung Jubailiyah di situ terdapat kuburan sahabat Zaid bin Khaththab (saudara Umar bin Khaththab) yang syahid dalam perperangan melawan Musailamah Al Kadzab.  Manusia berbondong bondong ke sana untuk meminta berkah, untuk meminta berbagai hajat.  Begitu pula di kampung ‘Uyainah terdapat pula sebuah pohon yang diagungkan, para manusia juga mencari berkah ke situ, termasuk para kaum wanita yang belum juga mendapatkan pasangan hidup meminta ke sana.

Adapun daerah Hijaz ( Mekkah dan Madinah ) sekalipun tersebarnya ilmu dikarenakan keberadaan dua kota suci yang selalu dikunjungi oleh para ulama dan penuntut ilmu.

Di sini tersebar kebiasaan suka bersumpah dengan selain Allah, menembok serta membangun kubah-kubah di atas kuburan serta berdoa di sana untuk mendapatkan kebaikan atau untuk menolak mara bahaya dsb (lihat pembahasan ini dalam kitab Raudhatul Afkar karangan Ibnu Qhanim).

Bahkan di Madinah, orang orang berbondong bondong datang ke kuburan Rasulullah ﷺ dan meminta doa serta keberkahan.  Padahal hanya Allah ﷻ saja yang berhak untuk dipintai rezeki dan jalan keluar dari masalah.

عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلْ قَبْرِي وَثَنًا يُعْبَدُ اشْتَدَّ غَضَبُ اللَّهِ عَلَى قَوْمٍ اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ

Dari Atha bin Yasar, bahwa Rasulullah ﷺ pernah berdoa : “Ya Allah janganlah Engkau jadikan kuburku sebagai berhala (tuhan yang disembah), besar murka Allah terhadap orang orang yang menjadikan kubur kubur nabi nabi mereka sebagai masjid masjid”. (HR. Malik, di dalam kitab Al-Muwaththa, no: 376).

Bila di Madinah dan Mekah yang notabene banyak ulamanya, masalah akidah masyarakatnya seperti itu, bagaimana dengan daerah yang jauh jauh atau pedalaman?  Tentu akan lebih memprihatinkan lagi dari apa yang terjadi di Jazirah Arab.

Hal ini disebut Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab dalam kitabnya al-Qawa’id Arba’ :

“Sesungguhnya kesyirikan pada zaman kita sekarang melebihi kesyirikan umat yang lalu, kesyirikan umat yang lalu hanya pada waktu senang saja, akan tetapi mereka ikhlas pada saat menghadapi bahaya, sedangkan kesyirikan pada zaman kita senantiasa pada setiap waktu, baik di saat aman apalagi saat mendapat bahaya.”

Dalilnya firman Allah dalam Al Quran surat Al ‘Ankabuut [29] ayat 65 :

فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ

“Maka apabila mereka menaiki kapal, mereka berdoa kepada Allah dengan mengikhlaskan agama padanya, maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke daratan, seketika mereka kembali berbuat syirik.”

Dalam ayat ini Allah terangkan bahwa mereka ketika berada dalam ancaman bencana yaitu tenggelam dalam lautan, mereka berdoa hanya semata kepada Allah dan melupakan berhala atau sesembahan mereka baik dari orang sholeh, batu dan pepohonan, namun saat mereka telah selamat sampai di daratan mereka kembali berbuat syirik. Tetapi pada zaman sekarang orang melakukan syirik dalam setiap saat.

Dalam keadaan seperti di atas Allah membuka sebab untuk kembalinya kaum muslimin kepada Agama yang benar, bersih dari kesyirikan dan bid’ah.

Sebagaimana yang telah disebutkan oleh Rasulullah dalam sabdanya:

« إِنَّ اللهَ يَبْعَثُ لِهَذِهِ الأُمَّةِ عَلَى رَأْسِ كُلِّ مِائَةِ سَنَةٍ مَنْ يُجَدِّدُ لَهَا دِيْنَهَا »

“Sesungguhnya Allah mengutus untuk umat ini pada setiap penghujung seratus tahun orang yang memperbaharui untuk umat ini agamanya.” (HR. Abu Daud no. 4291, Al Hakim no. 8592)

Dan munculnya Muhammad bin Abdul Wahhab, seakan menjawab hadist diatas.  Beliau adalah ulama yang tegas dan istiqomah dalam berdakwah tentang masalah akidah.

Awal Mula Dakwah

Setelah beliau kembali dari pertualangan ilmu,   iapun memulai dakwahnya di Kota Basrah –salah satu kota tempatnya menuntut ilmu-. Di Basrah, ia menyaksikan hal yang sama dengan di Madinah.

Muhammad bin Abdul Wahhab berusaha berdakwah dengan bersandar pada Alquran dan Sunnah Rasulullah ﷺ. Dengan tekat dan semangat. Dengan segala sarana dan metode yang ia mampui. Namun pengagungan kubur di Basrah begitu mengakar. Kebiasaan itu sudah dianggap sebagai kebenaran. Sehingga sulit membiasakan yang benar. Ia pun diusir dari kota itu.

Kemudian beliau mulai berdakwah di kampung kelahiran, Huraimilak, di mana ayah kandung beliau menjadi Qadhi (hakim).

Selain berdakwah, beliau tetap menimba ilmu dari ayah beliau sendiri, setelah ayah beliau meninggal tahun 1153, beliau semakin gencar mendakwahkan tauhid, ternyata kondisi dan situasi di Huraimilak kurang menguntungkan untuk dakwah.

Pada akhirnya, dakwahnya disana juga tidak diterima. Hukum mayoritas kembali diberlakukan. Ia pun minggir dari Huraimila.

Selanjut beliau berpindah ke ‘Uyainah, ternyata penguasa ‘Uyainah saat itu memberikan dukungan dan bantuan untuk dakwah yang beliau bawa.  Namun akhirnya penguasa ‘Uyainah mendapat tekanan dari berbagai pihak, akhirnya beliau berpindah lagi dari ‘Uyainah ke Dir’iyah.

Ternyata masyarakat Dir’iyah telah banyak mendengar tentang dakwah beliau melalui murid murid beliau, termasuk sebagian di antara murid beliau keluarga penguasa Dir’iyah.  Akhirnya timbul inisiatif dari sebagian dari murid beliau untuk memberi tahu pemimpin Dir’yah tentang kedatangan beliau.  Maka dengan rendah hati Muhammad bin Saud sebagai pemimpin Dir’iyah waktu itu mendatangi tempat di mana Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab menumpang, maka di situ terjalinlah perjanjian yang penuh berkah bahwa di antara keduanya berjanji akan bekerja sama dalam menegakkan agama Allah.

Dengan mendengar adanya perjanjian tersebut mulailah musuh musuh Aqidah kebakaran jenggot, sehingga mereka berusaha dengan berbagai dalih untuk menjatuhkan kekuasaan Muhammad bin Saud, dan menyiksa orang-orang yang pro terhadap dakwah tauhid.

Dan  akhirnya penguasa Uyainah tidak kuat dengan tekanan dan dipaksa mengusir sang imam. Atas permintaan penguasa Uyainah, Syaikh Muhammad harus hijrah.

Begitulah, Muhammad kembali harus pergi meninggalkan kota satu demi satu.

Bahaya Syirik

Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah menyebutkan bahwa  luka dan sakit yang paling bahaya yang sedang diderita umat ini adalah penyakit syirik, yakni menyekutukan Allah ﷻ.

Sejak masa menuntut ilmu, ia telah menyaksikan banyak hal. Ia melihat bagaimana masyarakat meminta minta di kubur Rasulullah ﷺ.  Padahal hanya Allah ﷻ saja yang berhak untuk dipintai rezeki dan jalan keluar dari masalah.

عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلْ قَبْرِي وَثَنًا يُعْبَدُ اشْتَدَّ غَضَبُ اللَّهِ عَلَى قَوْمٍ اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ

Dari Atha bin Yasar, bahwa Rasulullah ﷺ pernah berdoa : “Ya Allah janganlah Engkau jadikan kuburku sebagai berhala (tuhan yang disembah), besar murka Allah terhadap orang orang yang menjadikan kubur kubur nabi nabi mereka sebagai masjid masjid”. (HR. Malik, di dalam kitab Al-Muwaththa, no: 376).

Meminta minta di kubur Rasulullah ﷺ marak dilakukan kaum muslimin kala itu. Mereka jadikan kubur Nabi ﷺ sebagai tempat peribadatan. Mereka kira hal itu adalah cara mendekatkan diri kepada Allah ﷻ. Jika ini adalah keadaan di Madinah, lalu bagaimana dengan daerah selainnya? Kesyirikan telah menjadi tradisi dan budaya di Jazirah Arab.

Kesyirikan adalah penyakit berat. Penyakit yang melahirkan penyakit sosial lainnya. Akhlak islami terkikis, solidaritas kemasyarakatan menjadi luntur, dan politik menjadi lemah. Akibat kesyirikan pula, masyarakat sangat jauh dari penerapan hukum Islam. Kabilah-kabilah saling bertikai dan bermusuhan. Yang kuat memakan yang lemah. Dan angka kemiskinan terus bertambah. Begitulah kondisi masyarakat di masa Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah hidup.

Membersihkan Kesyirikan

Apa sesungguhnya yang dilakukan Muhammad di kota Uyainah dan Dir’iyah?

Sejatinya prioritas utama Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah adalah memberantas kesyirikan. Dikota itu Syaikh Muhammad meratakan kuburan yang dipugar tinggi dan besar. Yang penghuni kuburnya, dipintai selain Allah ﷻ.

Di antaranya kubur Zaid bin al-Khattab radhiallahu ‘anhu di Jubailah. Usaha lainnya adalah menebang pohon yang dikeramatkan. Pohon keramat yang diyakini sebagai lantaran jodoh bagi perempuan yang belum menikah dan sebagai ‘pengasih’ anak bagi mereka yang mandul.

Pelajaran bagi kita, kesyirikan adalah keniscayaan. Walaupun zaman sudah modern. Hanya saja model dan sampulnya yang berbeda. Di zaman sekarang, orang meyakini gembok di jembatan untuk melanggengkan hubungan. Melewati pohon alun alun selatan tanda kesuksesan. Lempar koin di kolam akan demikian dan demikian. Dll.

Setelah melakukan pemusnahan tempat kemaksiatan, Muhammad bin Abdul Wahhab membangun program berkelanjutan. Tidak hanya menghilangkan sarana dosa syirik, ia juga melakukan pendekatan persuasif. Yaitu melalui pendidikan dan ta’lim. Agar masyarakat mendapat pemahaman yang benar dan utuh tentang Islam. Kemudian menggantungkan diri hanya kepada Allah ﷻ semata.

Sang reformis juga melakukan pendekatan kepada para tokoh agama. Ia menyurati para ulama dan cendekia di penjuru dunia Islam. Agar tercipta perbaikan menyeluruh demi kepentingan bersama (Abdul Halim al-Jundy dalam Intishar al-Manhaj as-Salafi, Hal: 98).

Banyak yang menuduh Muhammad bin Abdul Wahhab melarang ziarah kubur, padahal yang dia larang adalah meminta minta di kuburan dan mengagungkan penghuninya. Ia juga dituduh berdakwah dengan tangan dan kuasa. Padahal ia juga mengadakan pendidikan kepada masyarakat awam. Dan memuliakan ulama dengan cara surat-menyurat, bukan menggurui.

Alquran dan Sunnah Menata Dunia dan Akhirat

Seruan dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab tidak hanya terbatas pada tauhid dan akidah saja. Tapi ia berusah mendakwahkan agama secara utuh.

Ajaran dan pemikirannya tampak jelas pada risalah risalahnya. Ia berkata, “Kuberitahukan kepada Anda sekalian. Sesungguhnya aku –alhamdulillah– berakidah dan beragama dengan agama Allah di atas madzhab Ahlussunnah wal Jamaah.

Yang sama seperti para imam kaum muslimin. Seperti imam (madzhab) yang empat dan para pengikutnya hingga hari kiamat… …Aku mengajarkan agar menegakkan shalat dan membayar zakat serta hal-hal lain yang telah Allah wajibkan. Aku melarang transaksi riba dan mengonsumsi yang memabukkan. Serta kemungkaran-kemungkaran lainnya (ar-Rasa-il asy-Syakhshiyah Mathbu’ Dhimni Muallafatihi, 6/36).

Dalam tulisannya yang lain, Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah kembali mengungkapkan pemikirannya, “Saya mengajak manusia menegakkan shalat berjamaah dengan tata caya yang sesuai syariat. Mengeluarkan zakat. Berpuasa di bulan Ramadhan. Dan berhaji ke Baitullah al-Haram. Saya juga menyeru kepada yang makruf dan mencegah yang mungkar.

Sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam Al Quran surat Al Hajj [22] ayat 41 :

الَّذِينَ إِنْ مَكَّنَّاهُمْ فِي الْأَرْضِ أَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ وَأَمَرُوا بِالْمَعْرُوفِ وَنَهَوْا عَنِ الْمُنْكَرِ وَلِلَّهِ عَاقِبَةُ الْأُمُورِ

“(yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma´ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.”

Inilah akidah dan agama kami. Barangsiapa yang mengamalkan hal itu, maka mereka saudara kami. Apa yang menjadi hak mereka juga hak kami. Dan kewajiban mereka juga sama dengan kewajiban kami. Kami juga berkeyakinan bahwa umat Muhammad ﷺ yang mengikuti sunnah beliau, tidak akan bersatu dalam kesesatan. Dan akan senantiasa ada, sekelompok dari umat beliau ﷺ, orang-orang yang berpegang teguh pada kebenaran. Mereka mendapat pertolongan. Tidak memudharatkan mereka, orang yang (hendak) merendahkan mereka. Atau orang yang menyelisihi mereka. Hingga datang keputusan Allah, dan mereka tetap dalam kebenaran itu (ar-Rasa-il asy-Syakhshiyah Mathbu’ Dhimni Muallafatihi, 6/115).

Apa yang dinyatakan Muhammad bin Abdul Wahhab di atas, menyanggah tuduhan orang orang yang mengatakan bahwa beliau mengkafirkan kaum muslimin.

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab menyatakan orang yang shalat dan zakat, dll. adalah saudara seiman. Hak dan kewajibannya sama. Orang orang yang membenci dakwahnya terkadang mengutip ucapannya tidak secara utuh. Atau dipahami secara parsial (sebagian). Untuk memuaskan sangka dan mengokohkan kebencian.

Muhammad bin Abdul Wahhab menyerukan agar umat menjadikan Al Quran sebagai kunci kebahagiaan. Ia menyerukan agar umat Islam berhukum dengan Al Quran dan Sunnah Rasulullah ﷺ. Agar umat Islam dapat merasakan kebahagiaan di dunia dan memetik buah pahala di akhirat. “Nasihat dan pengetahuan dariapa yang ada dalam Kitab Allah untuk permasalahan politik. Karena kebanyakan manusia membuangnya”, kata Muhammad bin Abdul Wahhab (ar-Rasa-il asy-Syakhshiyah Mathbu’ Dhimni Muallafatihi, 6/252).

Istilah Wahabi

Istilah wahabi amat populer di Indonesia.  Istilah ini disebarkan oleh kaum sekuler dan munafikun, dan disematkan kepada siapa saja yang berusaha menyadarkan masyarakat akan perbuatan perbuatan bid’ah.  Kaum sekuler liberal munafikun ini berlindung atas nama hak asasi dan kebebasan menafsirkan ayat ayat dan hadis Rasul.  Mereka mencela, menghujat dan memfitnah sesiapa yang berusaha menjelaskan mana ajaran Rasul yang murni, dan mana yang sudah tercemar alias bid’ah.  Sesungguhnya istilah ini disandarkan pada Muhammad bin Abdul Wahhab yang memang seorang ulama besar di Saudi, yang giat menyadarkan umat Islam di sana, akan besarnya bahaya sirik.

Wallahu a’lam bil showab

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ ♥ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ♥ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ ♥ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ♥ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

..