Usamah bin Zaid bin Haritsah adalah cucu angkat Nabi Muhammad dari anak angkat beliau Zaid bin Tsabit.  Usamah terkenal keberanian dan kehebatannya di medan perang.  Ial-lah jendral termuda sekaligus jendral terakhir yang dipilih Rasulullah untuk memimpin perang.  Saat itu ia masih berusia sekitar 17 tahun !

Namun kecerdasan dan keberaniannya membuat sang kakek tak ragu memilihnya.  Usamah persis seperti ayahnya, Zaid bin Haritsah.  Zaid dikenal keberanian, kecerdikan dan keperkasaannya sehingga membuat Zaid menjadi salah satu panglima kesayangan Rasulullah.  Aisyah berkata, “Rasulullah tidak pernah mengutus pasukannya, kecuali mengangkat Zaid sebagai pemimpinnya”.

Sungguh Usamah adalah cucu yang amat dibanggakan Rasulullah.

Demikian sayangnya Rasul saw kepadanya sehingga Usamah diberi lagab, Al Hibb wa Ibnil Hibb ‘Kesayangan (dari) Anak Kesayangan’ dan Hibb Rasulillah, Jantung Hati Rasulullah karena Rasul saw mencintainya sebagaimana mencintai cucunya, Hasan bin Ali bin Abi Thalib.

 


Nasab Usamah bin Zaid

Ayahnya adalah Zaid bin Haritsah.  Anak angkat Rasulullah

Ibunya adalah Ummu Aiman, pengasuh sekaligus ibu bagi Nabi Muhammad.

Menurut catatan sejarah, ia anak satu satunya dari pernikahan orangtuanya.

 


Tahun kelahiran Usamah bin Zaid

Usamah lahir tahun 616 Masehi atau  7 tahun sebelum hijrah di Mekkah.  Usamah lebih muda 2 tahun dibanding Aisyah.

Usamah ikut merasakan langsung didikan neneknya Khadijah, namun hanya 3 tahun pertama dalam hidupnya.  Karena tahun 619, ketika Usamah berusia 3 tahun, Khadijah wafat.

 


Tahun Wafatnya Usamah bin Zaid

Usamah bin Zaid wafat tahun 53 H / 673 M pada masa pemerintahan khalifah Mu’awiyah.

 


Kisah Usamah Bin Zaid

Usamah lahir pada saat kondisi dakwah yang begitu sulit saat itu dan membuat Rasullulah saw senantiasa bersabar. Ketika berita kelahiran Usamah sampai, wajah Rasulullah saw langsung berseri.

Usamah bin Zaid adalah anak dari seorang sahabat dan merupakan anak angkat Rasulullah saw (sebelum Islam masuk dan menghapus hukum anak angkat), yaitu Zaid bin Haritsah dan Ummu Aiman pengasuh Rasulullah saw ketika kecil.

Dalam suatu riwayat Rasulullah saw berkata: “Ummu Aiman adalah ibuku satu – satunya sesudah ibunda yang mulia wafat, dan satu satunya keluargaku yang masih ada”. Riwayat lain bahkan mengatakan Ummu Aiman juga pemah menyusui anak Rasullulah saw.

Adapun Zaid bin Haritsah adalah sahabat kesayangan Rasullulah saw dan anak angkat, yang menyebabkan Zaid sempat dipanggil dengan nama Zaid bin Muhammad, tetapi kemudian dihapus oleh hukum Islam. Dimana nama anak harus dinasabkan kepada orang tua kandungnya.

Demikian sayangnya Rasul saw kepadanya sehingga Usamah diberi lagab, Al Hibb wa Ibnil Hibb ‘Kesayangan (dari) Anak Kesayangan’ dan Hibb Rasulillah, Jantung Hati Rasulullah karena Rasul saw mencintainya sebagaimana mencintai cucunya, Hasan bin Ali bin Abi Thalib.

Usamah tumbuh sebagai pribadi yang besar; cerdik dan pintar, berani luar biasa, bijaksana, pandai meletakkan sesuatu pada tempatnya, tahu menjaga kehormatan, senantiasa menjauhkan diri dari perbuatan tercela, pengasih dan (sebaliknya) dikasihi banyak orang, taqwa, wara’ (berhati-hati), dan mencintai Allah SWT.

 

Usamah Dalam Perang Uhud

Waktu terjadi Perang Uhud pada tahun 625 M, Usamah bin Zaid yang baru berusia 9 tahun datang ke hadapan Rasulullah saw. beserta serombongan anak-anak sebayanya, putra-putra para sahabat. Mereka ingin turut jihad fi sabilillah. Sebagian mereka diterima Rasulullah dan sebagian lagi ditolak karena usianya masih sangat muda. Usamah bin Zaid teramasuk kelompok anak-anak yang tidak diterima. Karena itu, Usama pulang sambil menangis. Dia sangat sedih karena tidak diperkenankan turut berperang di bawah bendera Rasulullah.

 

Usamah Dalam Perang Khandaq

Dalam Perang Khandaq tahun 627 Masehi, Usamah bin Zaid datang pula bersama kawan-kawan remaja, putra para sahabat. Usamah saat itu berusia 11 tahun, dan ia berdiri tegap di hadapan Rasulullah supaya kelihatan lebih tinggi, agar beliau memperkenankannya turut berperang. Rasulullah kasihan melihat Usamah yang keras hati ingin turut berperang. Karena itu, beliau mengizinkannya, Usamah pergi berperang menyandang pedang, jihad fi sabilillah. Ketika itu dia baru berusia lima belas tahun.

 

Usamah Dalam Perang Hunain

Ketika terjadi Perang Hunain pada thaun 630 M , tentara muslimin terdesak sehingga barisannya menjadi kacau balau. Tetapi, Usamah bin Zaid tetap bertahan bersama-sama dengan ‘Abbas (paman Rasulullah),  Sufyan bin Harits (anak paman Usamah), dan enam orang lainnya dari para sahabat yang mulia.

Dengah kelompok kecil ini, Rasulullah berhasil mengembalikan kekalahan para sahabatnya menjadi kemenangan. Beliau berhasil menyelematkan kaum muslimin yang lari dari kejaran kaum musyrikin.

 

Usamah Dalam Perang Mu’tah

Dalam Perang Mu’tah pada tahun 629 M, Usamah turut berperang di bawah komando ayahnya, Zaid bin Haritsah. Ketika itu umurnya kira-kira 13 tahun. Usamah menyaksikan dengan mata kepala sendiri tatkala ayahnya tewas di medan tempur sebagai syuhada. Tetapi, Usamah tidak takut dan tidak pula mundur. Bahkan, dia terus bertempur dengan gigih di bawah komando Ja’far bin Abi Thalib hingga Ja’far syahid di hadapan matanya pula.

Usamah menyerbu di bawah komando Abdullah bin Rawahah hingga pahlawan ini gugur pula menyusul kedua sahabatnya yang telah syahid. Kemudian, komando dipegang oleh Khalid bin Walid. Usamah bertempur di bawah komando Khalid. Dengan jumlah tentara yang tinggal sedikit, kaum muslimin akhirnya melepaskan diri dari cengkeraman tentara Rum.

Seusai peperangan, Usamah kembali ke Madinah dengan menyerahkan kematian ayahnya kepada Allah SWT. Jasad ayahnya ditinggalkan di bumi Syam (Syiria) dengan mengenang segala kebaikan almarhum.
Jenderal Termuda

 

Menjadi Jendral Termuda

Dengan semua kelebihan Usamah, Rasul saw menugaskannya sebagai Jendral Pasukan Kaum Muslimin yang akan berhadapan dengan Pasukan Romawi.

Riwayat menyatakan usia Usamah saat itu baru 17 tahun. Dalam pasukannya, terdapat nama- nama sahabat besar, Abu Bakar Shidiq, Urnar bin Khatab, Sa’ad bin Abi Waqqas. Abu Ubaidah bin Jarrah, dan para sahabat senior lainya.

Pengangkatan ini sempat menimbulkan desas desus yang menyebabkan kegusaran Rasulullah saw. Beliau lalu pergi ke mesjid Nabawi dan berkata: “Jika kalian mencemoohkan kepernimpinannya, maka kalian dulu juga mencemoohkan kepemimpinan ayahnya. Demi Allah. dia layak untuk jabatan pimpinan. Dan dia adalah orang yang paling aku cintai sesudah ayahnya”.

Usamah kemudian berangkat sebagai jendral dan saat itu Rasul saw telah wafat. Meski demikian sebagian sahabat Anshar sempat meminta Usamah diganti karena faktor usia, tetapi Khalifah Islam pertama saat itu, Abu Bakar Shidiq tetap berpegang teguh pada keputusan Rasulullah saw. Bahkan Urnar bin Khatab selaku utusan para sahabat mendapatkan kemarahan Abu Bakar Shidiq atas usulan tersebut.

 

Kemenangan Usamah

Usamah dan pasukannya terus bergerak dengan cepat meninggalkan Madinah. Setelah melewati beberapa daearah yang masih tetap memeluk Islam, akhirnya mereka tiba di Wadilqura. Usamah mengutus seorang mata-mata dari suku Hani Adzrah bernama Huraits.

Ia maju meninggalkan pasukan hingga tiba di Ubna, tempat yang mereka tuju. Setelah berhasil mendapatkan berita tentang keadaan daerah itu, dengan cepat ia kembali menemui Usamah. Huraits menyampaikan informasi bahwa penduduk Ubna belum mengetahui kedatangan mereka dan tidak bersiap-siap. Ia mengusulkan agar pasukan secepatnya bergerak untuk melancarkan serangan sebelum mereka mempersiapkan diri. Usamah setuju. Dengan cepat mereka bergerak. Seperti yang direncanakan, pasukan Usamah berhasil mengalahkan lawannya.

Hanya selama empat puluh hari, kemudian mereka kembali ke Madinah dengan sejumlah harta rampasan perang yang besar, dan tanpa jatuh korban seorang pun.

Perkataan Rasulullah saw terbukti, ditangan Usamah pasukan Islam mampu mengalahkan pasukan Romawi. Bahkan pasukan Usamah membawa kemenangan yang gemilang melebihi perkiraan semua orang.

Sampai para sahabat berkata: “belum pernah terjadi suatu pasukan bertempur kembali dari medan tempur dengan selamat dan utuh (tanpa satu korban pun)”.

Setelah menjalani hidupnya bersama para sahabat, Usamah bin Zaid wafat tahun 53 H / 673 M pada masa pemerintahan khalifah Mu’awiyah.