بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Ummu Salamah adalah istri Rasul yang ke enam.  Ummu Salamah  dikenal memiliki kepribadian lengkap: cantik, cerdas, bijaksana, berani dan dikenal sebagai ahli hadits perempuan yang meriwayatkan perkataan dan perbuatan Nabi di samping Aisyah binti Abu Bakar. Ummu Salamah adalah Ummul Mukminin. Ia dan suaminya, Abd-Allah ibn Abd-al-Asad, termasuk Pemeluk Islam pertama atau As-Sabiqun al-Awwalun

.


Nasab Ummu Salamah

Ia adalah anak dari Bani Makhzum, suku Quraisy yang dipanggil Zad ar-Rakib atau Zoodur Rakbi [ yang artinya : bekal rombongan musafir ] karena kebaikannya kepada kabilah yang lewat.  Ia terkenal amat dermawan.  Jika ia berpergian, ia tidak memperbolehkan teman serombongannya membawa perbekalan sendirian, karena ia sendiri yang akan memback up seluruh kebutuhan rombongan.

Dan ia termasuk dari orang yang diincar dan dianiaya oleh Quraisy.

.


Kunyah Ummu Salamah

Ummu Salamah adalah nama kunyah, nama aslinya adalah Hindun binti Abu Umayah Al-Makhzumi.

.


Tahun Kelahiran Ummu Salamah

Ia lahir pada tahun 597  masehi atau 13 BB.  Usianya diperkirakan sama dengan Zainab binti Khuzaimah,  Qasim bin Muhammad dan Ali bin Abu Thalib. Lebih tua sekitar 3 tahun dibanding Zainab binti Muhammad.

Sedang Rasululllah sendiri lahir 570 M

.


Tahun Wafatnya Ummu Salamah

Ummu Salamah wafat pada tahun 61 H atau 680 masehi pada usia 83/84 tahun.  Dengan demikian, maka ia menjadi istri Nabi yang paling akhir wafatnya dan paling panjang usianya.  Ia dimakamkan di Baqi yang berlokasi di sebelah masjid Nabawi, Madinah.

.


Riwayat Pernikahan

Sebelum menikah dengan Nabi, Ummu Salamah menikah dengan sepupunya yang bernama Abdullah bin Abdul Asad Al-Makhzumi. Abu Salamah dan Ummu Salamah adalah pasangan suami istri yang masuk Islam sejak awal kerasulan Nabi. Bersama suaminya ia hijrah ke Habasyah (sekarang Ethiopia), lalu ikut hijrah ke Madinah.

Ia memiliki empat orang anak dari Abdullah yang keseluruhannya lahir di Madinah.

  1. Salama ibn Abd Allah
  2. Umar ibn Abd Allah
  3. Zaynab ibn Abd Allah [ Barra ]
  4. Durra ibn Abd Allah [ Ruqayyah ]

.


Tahun Pernikahan Dengan Rasulullah

Ummu Salamah dinikahkan dengan rasulullah pada bulan Syawal Tahun 4 H dalam usia 29 tahun.

.

NoNama, Lahir Wafat, Nikah, Status, Suami Sebelumnya, Anak Dari Nabi
1Khadijah binti Khuwailid, 555 M/ 55 BB - 619 M/ 4 BH, 595 M, Janda, Atiq bin Abid dan Abu Halah bin Malik, Qasim - Zaynab - Abdullah - Ruqayyah - Ummu Kultsum - Fatimah
2Saudah binti Zam'ah, ? - 54 H, 620/621 M atau 3/2 BH, Janda, Sakran bin Amr bin Abdu Syams, Tidak Ada
3Aisyah binti Abu Bakar, 614 M/ 9 BH - 58 H, 620/621 M atau 3/2 BH Gadis,-Tidak Ada
4Hafshah binti Umar,607 M/ 3 BB - 45 H,3 H, Janda, Khunais bin Hudhafah al Sahmiy,Tidak Ada
5Zainab binti Khuzaimah, 597 M/ 13 BB - 4 H, 3 H, Janda, Ubaidah bin Al Haris bin Al Muthalib,Tidak Ada
6Ummu Salamah, 597 M/ 13 BB - 680 M, 4 H, Janda, Abdullah bin Abdul Asad Al Makhzumi,Tidak Ada
7Juwairiyah Binti Al Harits, 609 M/ 14 BH - 50 H, 5 H, Janda, Musafi’ bin Shafwan,Tidak Ada
8Zainab binti Jahsy,590 M/ 33 BH - 20 H, 5 H, Janda, Zaid bin HaritshahTidak Ada
9Ummu Habibah,592 M/ 31 BH - 44 H, 6 H,Janda,Ubaydullah bin Jahsy,Tidak Ada
10Maymunah binti Harits, 604 M/ 6 BB - 63 H, 6 H, Janda,Ibnu Mas’ud bin Amru bin Ats-Tsaqafi dan Abu Ruham bin Abdul Uzza, Tidak Ada
11Shafiyah binti Huyay,612 M/ 2 B - masa kekhalifahan Mu’awiyah,629 M atau 7 H,Janda,Salam bin Abi Al-Haqiq dan Kinanah bin Rabi' bin Abil Hafiq, Tiidak Ada
12Maria Qibtiyah, ?7 HBudak- Ibrahim

 

*Istilah yang digunakan :

M = Tahun Masehi

H = Tahun Hijirah,

BH = sebelum tahun Hijrah

B = Tahun Kenabian, yakni tahun saat Muhammad diangkat menjadi Rasul yakni tahun 610 M, dengan asumsi Rasul lahir tahun 570 M

BB = sebelum Tahun Kenabian,

.


Kisah Ummu Salamah

Dia seorang istri yang penuh cinta bagi suaminya, Abu Salamah ‘Abdullah bin ‘Abdul Asad bin Hilal bin ‘Abdillah bin ‘Umar bin Makhzum bin Yaqzhah bin Murrah bin Ka’b al-Makhzumi radhiyallahu ‘anhu. Dalam beratnya cobaan dan gangguan, mereka meninggalkan negeri Makkah menuju Habasyah untuk berhijrah, membawa keimanan. Di negeri inilah Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha melahirkan anak-anaknya, Salamah, ‘Umar, Durrah, dan Zainab.

Tatkala terdengar kabar tentang Islamnya penduduk Makkah, mereka pun kembali bersama kaum muslimin yang lain. Namun, ternyata semua itu berita hampa semata, hingga mereka pun harus beranjak hijrah untuk kedua kalinya menuju Madinah. Di sanalah mereka membangun hidup bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Selang beberapa lama di Madinah, seruan perang Badr bergema. Abu Salamah radhiyallahu ‘anhu masuk dalam barisan para sahabat yang terjun dalam kancah pertempuran. Begitu pula ketika perang Uhud berkobar, Abu Salamah radhiyallahu ‘anhu ada di sana, hingga mendapatkan luka-luka.

Tak lama Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha berdampingan dengan kekasihnya, karena Abu Salamah harus kembali ke hadapan Rabb-nya akibat luka-luka yang dideritanya. Ummu Salamah melepas kepergian Abu Salamah pada bulan Jumadits Tsaniyah tahun keempat Hijriyah dengan pilu.

Dia mengatakan, “Siapakah yang lebih baik bagiku daripada Abu Salamah?”
Berulang kali dia berucap demikian. Hingga akhirnya diucapkannya doa yang pernah diajarkan oleh kekasihnya, Abu Salamah, jauh hari sebelum Abu Salamah tiada.

Kala itu, Ummu Salamah berkata kepada suaminya, “Aku telah mendengar bahwa seorang wanita yang suaminya tiada dan suaminya itu termasuk ahli surga, kemudian dia tidak menikah lagi sepeninggalnya, Allah subhanahu wa ta’ala mengumpulkan mereka berdua di surga. Mari kita saling berjanji agar engkau tidak menikah lagi sepeninggalku dan aku tidak akan menikah lagi sepeninggalmu.”

Mendengar perkataan istrinya, Abu Salamah mengatakan, “Apakah engkau mau taat kepadaku?”

Kata Ummu Salamah, “Ya.”

Abu Salamah berkata lagi, “Kalau aku kelak tiada, menikahlah! Ya Allah, berikan pada Ummu Salamah sepeninggalku nanti seseorang yang lebih baik dariku, yang tak akan membuatnya berduka, dan tak akan menyakitinya.”

Saat suaminya wafat, Ummu Salamah mengucapkan doa yang diajarkan Rasulullah pada suaminya. Doa ini diucapkan saat seseorang tertimpa musibah ditinggal wafat oleh orang yang dikasihi. Nabi memerintahkan Abu Salamah untuk membaca istirja’ (innalillahi wainna ilahi rojiun) setelah itu membaca doa berikut: Ya Allah, selamatkan aku dari musibah yang menimpaku dan gantilah demgan yang lebih baik.

Setelah kematian Abdullah ibn Abdul Asad, dia juga dikenal sebagai Ayyin al-Arab [ Baca: ia yang kehilangan suaminya ]

Waktu terus berjalan. Ummu Salamah pun telah melalui masa ‘iddahnya sepeninggal Abu Salamah.

Datang seorang yang paling mulia setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakr ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu untuk meminang Ummu Salamah. Namun, Ummu Salamah menolaknya.

Setelah itu, datang pula ‘Umar ibnul Khaththab radhiyallahu ‘anhu, menawarkan pinangan ke hadapan Ummu Salamah. Kembali Ummu Salamah menyatakan penolakannya.

.


Dipinang Rasululllah

Ternyata Allah subhanahu wa ta’ala hendak menganugerahkan sesuatu yang lebih besar daripada itu semua. Datanglah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, membuka pintu baginya untuk memasuki rumah tangga nubuwwah.

Awalnya Ummu Salamah juga ragu untuk menerima pinangan Nabi, ia berkata, “Wahai Rasulullah, aku memiliki tiga hal. Sebagai wanita aku sangat pencemburu, aku takut ini akan membuatmu marah dan membuat Allah murka padaku. Aku wanita yang sudah sangat dewasa dan sudah memiliki beberapa anak.”

 

Dari balik tabir, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menanggapi, “Adapun masalah umur, sesungguhnya aku lebih tua darimu. Adapun anak-anak, maka Allah subhanahu wa ta’ala akan mencukupinya. Sedangkan kecemburuanmu, maka aku akan berdoa kepada Allah subhanahu wa ta’ala agar Allah subhanahu wa ta’ala menghilangkannya.”

.


Tahun Pernikahan

Tak ada lagi yang memberatkan langkah Ummu Salamah untuk menyambut uluran tangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dan pada bulan Syawal Tahun 4 H dalam usia 29 tahun, Ummu Salamah menikah dengan Nabi dan tinggal di rumah Zainab binti Khuzaimah, salah satu istri Nabi yang sudah wafat.

Berita tentang kecantikan Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha sempat meletupkan kecemburuan ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha. Ketika itu ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha sangat bersedih. Dia menahan diri sampai memiliki kesempatan melihat Ummu Salamah.

Tatkala datang kesempatan itu, ‘Aisyah melihat kecantikan Ummu Salamah berkali lipat daripada gambaran yang sampai padanya. Dia beritahukan hal itu kepada Hafshah radhiyallahu ‘anha.

Hafshah pun menjawab, “Tidak, demi Allah. Itu tidak lain hanya karena kecemburuanmu saja. Dia tidaklah seperti yang kaukatakan, namun dia memang cantik.”

Aisyah pun mengisahkan, “Setelah itu, aku sempat melihatnya lagi dan dia memang seperti yang dikatakan oleh Hafshah.”

.


Kisah Ummu Salamah

Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha memulai rangkaian kehidupannya di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Banyak rentetan peristiwa dilaluinya bersama beliau. Satu dialaminya dalam Perjanjian Hudaibiyah.

Kala itu, pada bulan Dzulqa’dah tahun keenam setelah hijrah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama 1.400 orang muslimin ingin menunaikan umrah di Makkah sembari melihat kembali tanah air mereka yang sekian lama ditinggalkan.

Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha turut menyertai perjalanan beliau ini. Namun, setiba beliau dan para sahabat di Dzul Hulaifah untuk berihram dan memberi tanda hewan sembelihan, kaum musyrikin Quraisy menghalangi kaum muslimin. Dari peristiwa ini tercetuslah perjanjian Hudaibiyah.

Perjanjian itu di antaranya berisi larangan bagi kaum muslimin memasuki Makkah hingga tahun depan. Betapa kecewanya para sahabat saat itu, karena mereka urung memasuki Makkah.
Usai menyelesaikan penulisan perjanjian itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun memerintahkan kepada para sahabat, “Bangkitlah, sembelihlah hewan kalian, kemudian bercukurlah!”

Namun, tak satu pun dari mereka yang bangkit. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengulangi perintahnya hingga ketiga kalinya, namun tetap tak ada satu pun yang beranjak.

Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menemui Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha dan menceritakan apa yang terjadi. Ummu Salamah pun memberikan gagasan kepada beliau, “Wahai Rasulullah, apakah engkau ingin agar mereka melakukannya? Bangkitlah, jangan berbicara kepada siapa pun hingga engkau menyembelih hewan dan memanggil seseorang untuk mencukur rambutmu.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri, kemudian segera melaksanakan usulan Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha. Seketika itu juga, para sahabat yang melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyembelih hewannya dan menyuruh seseorang untuk mencukur rambutnya serta-merta bangkit untuk memotong hewan sembelihan mereka dan saling mencukur rambut, hingga seakan-akan mereka akan saling membunuh karena riuhnya.

Semenjak bersama Abu Salamah radhiyallahu ‘anhu, Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha meraup banyak ilmu. Terlebih lagi setelah berada dalam naungan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di bawah bimbingan nubuwwah, Ummu Salamah mendulang ilmu. Juga dari putri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Fathimah radhiyallahu ‘anha.

Ummu Salamah menyampaikan apa yang ada pada dirinya hingga bertaburanlah riwayat dari dirinya. Tercatat deretan panjang nama-nama ulama besar dari generasi pendahulu yang mengambil ilmu darinya. Dia termasuk fuqaha dari kalangan shahabiyah.

Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha telah melalui rentang panjang masa hidupnya dengan menebarkan banyak faedah. Masa-masa kekhalifahan pun dia saksikan hingga masa pemerintahan Yazid bin Mu’awiyah. Pada masa inilah terjadi pembunuhan cucu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, al-Hasan bin ‘Ali bin Abi Thalib c. Ummu Salamah sangat berduka mendengar berita itu. Dia benar-benar merasakan kepiluan.

Tak lama setelah itu, Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha kembali menghadap Rabb-nya. Tergurat peristiwa itu pada tahun ke-61 setelah hijrah.

.


Keutamaan Ummu Salamah

Ummu Salamah adalah seorang Sahabat , istri Nabi dan sekaligus ulama perempuan ahli hadits di samping Aisyah binti Abu Bakar. Tak kurang dari 378 hadits Nabi berasal dari riwayatnya yang kemudian ditransmisikan pada ulama ahli hadits lain baik dari kalangan Sahabat atau Tabi’in. Ini merupakan salah satu sumbangan besar Ummu Salamah pada Islam. Seperti diketahui hadits merupakan satu dari dua sumber utama syariah Islam di samping Al-Quran. Oleh karena itu, para Sahabat yang sempat mendengar dan mencatat apa saja yang mereka lihat dan alami bersama Nabi memiliki kontribusi besar pada terjaganya kemurnian syariah Islam sampai saat ini.

Ummu Salamah juga dikenal sebagai wanita yang santun tapi cerdas dan berani dalam soal kebenaran. Kecerdasannya itu membuat ia bersikap kritis dalam menyikapi suatu permasalahan yang terjadi. Sehingga ia terkadang menjadi penyebab langsung dari turunnya beberapa ayat Al-Quran. Diriwayatkan dari Mujahid ia berkata: Ummu Salamah bertanya pada Nabi, “Ya Rasulullah, kaum lelaki berperang, sedangkan kami tidak. Dan kami mendapat setengah bagian laki-laki dalam soal warisan.” Maka turunlah ayat An-Nisa’ 4:32 dan Al-Ahzab :35.

Setidaknya ada dua hal yang dapat diteladani dari kehidupan Ummu Salamah.

Pertama, bahwa wanita yang sudah berumah tangga tidak ada alasan untuk tidak terus belajar menuntut ilmu secara formal maupun informal. Baik dengan cara bertanya secara lisan kepada semua orang yang dianggap lebih tahu dan berpengalaman, atau mendengarkan informasi keilmuan dari TV, radio, DVD, dll, atau membaca dari buku, majalah atau internet. Karena, mencari ilmu harus sepanjang masa dan tidak berhenti ketika seseorang wanita sudah menikah . (Lihat, QS An-Nahl :78).

Kedua, bahwa suami selain sebagai imam, ia juga sebagai rekan dan sahabat. Istri tidak salah apabila memprotes atau mengkritik suami apabila perkataan atau tindakannya dirasa kurang tepat. Dan suami harus berbesar hati untuk menerima kritik dari istri tanpa harus merasa dilangkahi. Kehidupan dalam rumah tangga harmonis harus bersifat mutual respect atau saling menghormati dan menghargai.

Wallahu a’lam bishowab

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ ♥ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ♥ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ ♥ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ♥ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

.