Ummu Kultsum  adalah anak kelima Nabi Muhammad.  Ia merupakan puteri ketiga  Rasulullah.  Ia satu diantara 7 anak anak Rasulullah.

Nama lengkapnya adalah Ummu Kultsum binti Muhammad binti Abdullah. Nasabnya adalah anak Muhammad dan Khadijah.

 


Nasab Ummu Kultsum

Ayahnya adalah Muhammad bin Abdullah

Ibunya adalah Khadijah binti Khuwailid

Suami Ummu Kultsum :

Sama seperti RuqayyahUmmu Kultsum juga  menikah hingga dua kali.  Suami suami Ummu Kultsum :

  1. Utaibah bin Abi Lahab : tidak memiliki anak
  2. Ustman bin Affan : juga tidak memiliki anak

 


Tahun Lahirnya Ummu Kultsum

 

Ummu Kultsum  lahir pada tahun 603 M, setahun setelah kelahiran kakaknya Ruqayyah.  Saat itu usia Rasulullah sekitar 33 tahun. dan telah 8 tahun menikah dengan Khadijah.

Jadi Ummu Kultsum lahir  7 tahun sebelum tahun bi’tsah [ tahun dimanaMuhammad diangkat menjadi Nabi dan Rasul ]

 


Tahun Wafatnya Ummu Kultsum

Ummu Kultsum wafat pada tahun 631 M atau 9 H.  Satu tahun setelah wafatnya sang kakak Zaynab.

Sama seperti peristiwa  kakaknya, Zaynab, beberapa bulan setelah Ummu Kultsum wafat, sang adik Fathimah melahirkan anak perempuan.  Dan untuk mengenang Ummu Kultsum, Rasulullah memberi nama cucunya itu dengan nama yang sama,  Ummu Kultsum.

 


Kisah Ummu Kultsum

 

Ummu Kultsum dipersuntingkan oleh pamannya sendiri yakni Utaibah bin Abi Lahab  sekitar tahun 610 M [ merupakan tahun Bi’tsah atau tahun dimana Muhammad diangkat menjadi Rasul ].

Dan kakaknya Ruqayyah disunting oleh Utbah bin Abu Lahab

Utbah dan Utaibah adalah sepupu  Rasulullah, anak dari salah satu paman  Rasulullah yang bernama Abu Lahab.

Namun,  pernikahan itu tak berjalan lama. Berawal dengan diangkatnya Muhammad sebagai Rasul, menyusul kemudian turun Surat Al Lahab yang berisi cercaan terhadap Abu Lahab, maka Abu Lahab dan istrinya, Ummu Jamil, menjadi berang. Dia berkata kepada dua putranya, Utbah dan Utaibah yang menyunting putri-putri Rasulullah , “Haram jika kalian berdua tidak menceraikan kedua putri Muhammad!”

Kembalilah dua putri yang mulia ini dalam keteduhan naungan ayah bundanya, sebelum sempat memiliki anak dari suami suaminya. Bahkan dengan itulah Allah selamatkan mereka berdua dari musuh-musuh-Nya. Ruqayyah dan Ummu Kultsum pun berislam bersama ibunda dan saudari-saudarinya.

LIhat kisah lengkapnya di Kisah Abu Lahab

Namun, pernikahan itu tak berjalan lama. Berawal dengan diangkatnya Muhammad sebagai nabi, menyusul kemudian turun Surat Al Lahab yang berisi cercaan terhadap Abu Lahab, maka Abu Lahab dan istrinya, Ummu Jamil, menjadi berang. Dia berkata kepada dua putranya, ‘Utbah dan ‘Utaibah yang menyunting putri-putri Rasulullah : “kepalaku dan kepala kalian haram bersentuhan jika kalian berdua tidak mentalak kedua putri Muhammad.” Keduanya pun menjatuhkan talak kepada istri masing-masing.
“Sebelum mentalak putri Muhammad, saya akan melukai dan menyakiti perasaannya terlebih dahulu.” Tegas Utaibah.
“Di saat mengadakan perjalanan niaga ke Syam, ia menghampiri Muhammad dan berkata,

“Wahai Muhammad, saya mengingkari ﴿

وَالنَّجْمِ إِذَا هَوَىٰ ﴾ dan ﴿ ثُمَّ دَنَا فَتَدَلَّىٰ ﴾ .

” Tegasnya.

.xxxxxxxx
Setelah itu, ia meludah di depan Rasulullah Saw dan mentalak anaknya, Ummu Kaltsum.
Seperti apa perasaan Rasulullah Saw saat itu? Kita saja yang mendengarkan ini, hati seperti hancur berkeping, perasaan seperti ditikam berkali-kali. Rasulullah Saw yang telah rida melepas kedua buah hatinya untuk dipinang oleh kedua anak Abu Lahab, kini dicela dan diperlakukan dengan begitu bengis oleh menantunya sendiri. Sungguh menyakitkan.
Karena itulah, Rasulullah Saw pun marah dan mendoakan kebinasaannya, “ya Allah, kirimlah salah satu anjing dari anjing-anjing-Mu (tentara Allah) untuk menghabisinya.” Ia pun dihabisi oleh Singa.
Doa ini sampai di telinga Abu Lahab. Dengan cepatnya ia berkata kepada konvoi yang menyertai anaknya di perjalanan panjang tersebut, “Muhammad itu mendoakan kehancuran anakku, saya takut dan merisaukan keselamatan dirinya dari doa tersebut. Berjanjilah kalian kepadaku untuk melindungi Utaibah dalam keadaan apa pun.”
Setelah mereka tiba di Sarqa, tempat yang masyhur di Yordania, mereka pun letih dan sepakat untuk istirahat. Seperti yang dipesankan Abu Lahab, Utaibah berada di tengah, dikelinlingi oleh mereka. Sementara tidur lelap di tengah malam, seekor singa mendekati kerumunan itu. Sebagian dari mereka terbangun dan memberikan perlawanan, namun tetap saja tidak berhasil mengusirnya, hingga ia mendekati kepala Utaibah. Yakin akan kematiannya, ia pun berkata, “Sesungguhnya Muhammad telah membunuhku, sementara dia di Mekah, dan saya di Syam.”
Kepala Utaibah terpisah dari tubuhnya oleh terkaman singa yang tidak mengenal iba dari seorang manusia bejat yang kehilangan nilai-nilai insani.
Subhanallah, singa ini tahu misi sucinya. Dia tidak menerkam atau melukai siapapun dari mereka. Dia hanya mengincar targetnya yang ditakdirkan. Singa ini salah satu ayat dari kebesaran Allah SWT dan keagungan Nabi-Nya Saw, nabi akhir zaman yang mendapatkan perlindungan dan pertolongan dari Allah sendiri, Jibril, orang-orang beriman dan seluruh Malaikat seperti yang direkod Q.S. At-Tahrim (66):4

***

Maka kembalilah dua putri yang mulia ini dalam keteduhan naungan ayah bundanya. Bahkan dengan itulah Allah selamatkan mereka berdua dari musuh-musuh-Nya. Ruqayyah dan Ummu Kultsum pun berislam bersama ibunda dan saudari-saudarinya.

Sepeninggal Ruqayyah, Umar bin Al Khaththab  menawarkan kepada ‘Utsman bin ‘Affan  untuk menikah dengan putrinya, Hafshah bintu Umar  yang kehilangan suaminya di medan Badar. Namun saat itu Utsman dengan halus menolak. Datanglah Umar bin Al Khaththab ke hadapan Rasulullah  mengadukan kekecewaannya.
Ternyata Allah I memilihkan yang lebih baik dari itu semua. Rasulullah  meminang Hafshah untuk dirinya, dan menikahkan Utsman bin ‘Affan  dengan putrinya, Ummu Kultsum. Tercatat peristiwa ini pada bulan Rabi’ul Awwal tahun ketiga setelah hijrah.
Enam tahun berlalu. Ikatan kasih itu harus kembali terurai. Ummu Kultsum  kembali ke hadapan Rabb-nya pada tahun kesembilan setelah hijrah, tanpa meninggalkan seorang putra pun bagi suaminya. Jasadnya dimandikan oleh Asma’ bintu ‘Umais dan Shafiyah bintu ‘Abdil Muththalib. Tampak Rasulullah r menshalati jenazah putrinya. Setelah itu, beliau duduk di sisi kubur putrinya. Sembari kedua mata beliau berlinang air mata, beliau bertanya, “Adakah seseorang yang tidak mendatangi istrinya semalam?” Abu Thalhah menjawab, “Saya.” Kata beliau, “Turunlah!”
Jasad Ummu Kultsum x dibawa turun dalam tanah pekuburannya oleh ‘Ali bin Abi Thalib, Al-Fadhl bin Al-‘Abbas, Usamah bin Zaid serta Abu Thalhah Al-Anshari g. Ruqayyah dan Ummu Kultsum, dua putri Rasulullah r, semoga Allah meridhainya….

Pada saat itu putri Rasulullah tinggal Zainab dan Fathimah.
Wallahu ta’ala a’lamu bish-shawab.