Ummu Aiman adalah pengasuh dan ibu kedua  Rasulullah sejak beliau masih kecil.  Ia juga salah seorang sahabat Rasulullah dan termasuk 10 orang pertama yang memeluk Islam. [ As Sabiqun Al Awwalun ].  Ummu Aiman bahkan termasuk menantu Rasulullah, karena ia menikah dengan Zaid bin Haritsah, anak angkat Rasulullah.

Ummu Aimanlah yang dahulu menemani Rasulllah ketika Aminah, ibu Rasulullah wafat di Abwa, daerah antara Yastrib dan Mekah.   Dengan kesabarannya, Ummu Aiman mengasuh dan mengurusi semua kebutuhan Rasulullah.

Dialah ibu kedua Rasulullah. Ia mengikuti seluruh peristiwa besar Rasulullah.  Ummu Aiman ikut dalam hijrah kaum muslim yang pertama ke Habasyah.  Kebetulan ia senidri  keturunan Habasyah.

Abu Nu’aim berkata :  Ummu Aiman adalah wanita yang ikut dalam peristiwa hijrah, memapu menempuh jarak yang jauh dengan berjalan kaki, rajin berpuasa, tahan terhadap lapar, dan mudah menangis [ karena takut kepada Allah ].  Dia akan mendapatkan minuman dari surga yang dapat mengobati semua kepedihan yang pernah ia rasakan.

 


Nasab Ummu Aiman

Nama aslinya adalah Barakah binti Tsa’labah bin Amru bin Hishan bin Malik bin Salmah bin Amru bin Nu’man Al-Habasyiyah.

Ummu Aiman adalah kunyahnya karena anak pertamanya bernama Aiman.  Ia menikah dengan Ubaid bin Harits Al Khazraji.

Ia wanita keturunan Habasyah. Ummu Aiman adalah budak yang diwarisi Rasulullah dari ayahnya, Abdullah  Kemudian Rasulullah memerdekakannya ketika beliau menikah dengan Khadijah.

Setelah menikah dengan Ubaid, Ummu Aiman dipinang Zaid bin Haritsah. Kemudian lahirlah Usamah bin Zaid.

 


Tahun Kelahiran Ummu Aiman

?

 


Tahun Wafatnya Ummu Aiman

Ummu Aiman wafat tatkala perang Hunain tahun 630 M atau 8 H.  Ia mati syahid.

 

 


Kisah Ummu Aiman

 

Ia Ibuku

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewarisi wanita ini dari ayah beliau, Abdullah.  Dan Ummu Aiman senantiasa mengasuh Rasulullah hingga dewasa. Tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menikah dengan Khadijah binti Khuwalid, beliau memerdekakan Ummu Aiman.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memuliakan Ummu Aiman, beliau sering mengunjunginya dan memanggilnya dengan kata, “Wahai Ibu, ….”

Beliau bersabda :

هَذِهِ بَقِيَةُ أَهْلِ بَيْتِى,وَيَقُوْلُ أّيْضًا:أُمُّ أّيْمنٍ أُمِّي بَعْدَ أُمِّي

“Beliau (Ummu Aiman) termasuk ahli baitku.”

Beliau juga bersabda, “Ummu Aiman adalah ibuku setelah ibuku.”

Ummu Aiman senantiasa berkhidmat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan lemah lembut terhadap beliau.

Setelah datangnya masa kenabian, beliau bersabda,

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَتَزَوَّجَ امْرَ أَةً مِنْ أَهْلِ الْحَنَّةِ فَلْيَتَزَوًجْ أُمً أَيْمَنٍ

“Barang siapa yang ingin menikah dengan wanita ahli surga maka hendaklah menikahi Ummu Aiman.”

Akhirnya, Zaid bin Haritsah menikahinya pada malam ketika ia diutus oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dengannya, akhirnya Ummu Aiman melahirkan Usamah bin Zaid, buah hati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

 

Merawat Muhammad sejak kecil

Ummu Aiman mengenal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sejak beliau kecil sampai diutus menjadi seorang nabi. Dia menemani Aminah binti Wahab, ibunda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, berangkat ke Madinah bersama putra kesayangannya untuk mengunjungi Bani Najjar yang merupakan keluarga Abdul Muthalib

Di dalam perjalanan pulang kembali ke Mekkah, Aminah menderita sakit di perjalanan. Akhirnya beliau wafat di  Al  Abwa . Al Abwa ini adalah nama sebuah desa yang terletak antara Madinah dan Juhfah, kira-kira sejauh 23 mil disebelah selatan kota Madinah) dan dengan jarak perjalanan sepanjang 6 mil dari gunung Waddan.  Karena itulah, Ummu Aiman menjadi satu-satunya pendamping Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam – yang saat itu masih anak-anak – menuju kota Mekkah.

Sang kakek, Abdul Muthalib, menjadi pengasuh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia mencintai sang cucu sepenuh hati. Adapun Ummu Aiman, ia tetap berada di sisi Rasulullah, mengurusnya dengan penuh cinta kasih, menjaganya dengan seluruh kemampuan diri, seakan ia menjadi penganti sang ibu yang telah pergi, sebagaimana Abdul Muthalib hadir sebagai kakek sekaligus “bapaknya”. Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam kecil pun tumbuh di antara orang-orang yang selalu mencurahkan kehangatan cinta dan kelembutan kasih sayang.

Wujud rasa sayang Abdul Muthalib kepada sang cucu membuatnya sangat banyak berwasiat kepada Ummu Aiman. Di salah satu wasiatnya ia berkata, “Wahai Barakah, janganlah engkau melalaikan anakku. Aku mendapatkannya bersama anak-anak kecil dekat dengan pohon bidara. Ketahuilah bahwa orang-orang dari Ahlul Kitab menyangka bahwa anakku ini akan menjadi nabi umat ini.”

Ketika Abdul Muthalib meninggal dunia, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam merasakan kesedihan yang sangat. Ummu Aiman menceritakan kejadian itu; ia berkata, “Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hari itu menangis di belakang tempat tidur Abdul Muthalib.” (Ath-Thabaqatul Kubra, 8:224)

 

 

Hijrah ke Habasyah

Ketika Rasulullah mengizinkan kaum muslimin untuk berhijrah, Ummu Aiman termasuk wanita yang berhijrah angkatan pertama.  Ia hijrah ke Habasyah, asal kota tempat leluhurnya. Ya, Ummu Aiman wanita keturunan Habasyah.

Ummu Aiman berhijrah di jalan Allah dengan berjalan dan tanpa membawa bekal. Pada saat hari sangat panas, sementara ia sedang melakukan puasa, ia sangat kehausan, tiba-tiba ada ember di atasnya yang menjulur dari langit dengan tali berwarna putih. Lalu, Ummu Aiman meminum air yang di dalamnya hingga kenyang.

Ummu Aiman berkata, “Saya tidak pernah lagi merasakan haus sesudah itu. Sungguh, saya biasa menghadapi rasa haus dengan puasa di siang hari, namun kemudian aku tidak merasakan haus lagi setelah minum air tersebut. Meskipun aku puasa pada siang hari yang panas, aku tetap tidak merasakan haus.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersikap lemah lembut kepadanya dan terkadang mengajaknya bercanda karena ia seperti ibunya sendiri. Telah diriwayatkan bahwa suatu ketika ia berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, bawalah (ajaklah) aku ….” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Aku akan membawamu di atas anak unta.” Ummu Aiman berkata, “Anak unta tidak akan mampu membawaku. Lagi pula, aku tidak menyukainya.” Nabi bersabda, “Aku tidak akan membawamu kecuali dengan anak unta.”

Ini adalah canda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Ummu Aiman. Hanya saja, sekali pun beliau bercanda namun tidak mengatakan kecuali yang benar, sebab setiap unta adalah anak unta.

 

Suara Ummu Aiman Cadel sehingga Ia Kesulitan dalam mengucap makhraj dengan benar

Ummu Aiman adalah seseorang yang dihormati oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hal itu tidak menghalangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menegurnya saat ia salah. Ummu Aiman terkadang salah dalam mengucapkan kata. Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkannya atau memerintahkannya untuk banyak diam.

Diriwayatkan suatu ketika, Ummu Aiman masuk ke dalam rumah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengucakan salam :

سلام لا عليكم

“Salamun la alaikum [ keselamatan dan kesejahteraan tidaklah untukmu  ].  Padahal yang dimaksud adalah “assalamu ’alaikum“.

Karenanya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan rukhshah  [ keringanan ] kepada beliau untuk hanya mengucapkan :

“السلام”

Ath-Thabaqatul Kubra, 8:224 ]

Serta dari Abu Huwairits, bahwasanya Ummu Aiman menyeru kaum muslimin  saat perang Hunain,

سبت الله أقدامكم

“Sabbatallahu aqdamakum  [ semoga Allah mengistirahatkan kaki kalian ]”  Padahal seharusnya :

ثبت الله أقدامكم

“Tsabbatallahu aqdamakum [semoga Allah mengokohkan kaki kalian ]”.

Karenanya, Nabi bersabda,

أُسْكُبِى يَا أُمَّ أَيْمَنٍ فَإِ نَّكِ عُسَرَاءُاللِّسَانِ

“Diamlah, wahai Ummu Aiman, karena Anda adalah seseorang yang cadel lisannya.”

Kecadelan Ummu Aiman membuatnya sulit mengucapkan makhraj (huruf) dengan benar. [ Ath-Thabaqatul Kubra, 8:225 ].

 

 

Turut berjihad di barisan kaum muslimin

Ummu Aiman memiliki sifat-sifat yang terpuji, ditambah lagi pada usianya sudah tua, beliau tidak mau tinggal diam, beliau ingin menyertai para pahlawan Islam dalam menghancurkan musuh-musuh Allah subhanahu wa ta’ala untuk meninggikan kalimat-Nya.

Dan beliau sangat senang untuk turut serta berjihad bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Pada perang Uhud, Ummu Aiman berangkat bersama para wanita. Peran yang ia utamakan adalah mengobati orang-orang yang terluka dan memperhatikan mereka, serta memberi minum para mujahidin yang kehausan.

Pada perang Khaibar, Ummu Aiman bersama dua puluh orang wanita berangkat menuju medan perang bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan pasukan kaum muslimin. Adapun anaknya, Aiman, tidak ikut dalam perang ini karena kudanya sakit. Meski memiliki alasan, ibunya menyifatinya sebagai pengecut.

Pada perang Mu’tah, suaminya [ Zaid bin Haritsah radhiyallahu ‘anhu ] wafat sebagai syuhada. Ummu Aiman menerima berita tersebut dengan sabar dan mengharap pahala dari Allah. Pada perang Hunain, anaknya (Aiman) juga mati sebagai syuhada. Kembali beliau bersabar dan mengharap pahala dari Allah dengan kematian anaknya. Beliau hanya mengharapkan keridhaan Allah dan keridhaan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.

 

Jika Nabi Senang, Ummu Aiman Turut Senang, Jika Rasul Sedih, Ummu Aiman Ikut Sedih

Ummu Aiman senang dengan semua yang menyenangkan hati Rasulullah.  Dia juga sedih ketika melihat nabi bersedih.  Ummu Aiman mengurusi seluruh kebutuhan Rasul tanpa Rasul pernah memintanya.

Ketika peristiwa hijrah, beberapa waktu setelah Abu Bakar dan Nabi tiba dengan selamat di Yastrib, Nabi segera mengutus Zaid bin Haritshah.  Nabi menugaskan Zaid untuk menjemput sisa keluarga Nabi yang masih tertahan di Mekah.  Dan inilah rombongan terakhir yang hijrah ke Yastrib.

Rombongan itu adalah ummul mukminin Saudah [ istri ke dua Nabi ], Ummu Kulstum dan Fathimah.  Zaid juga menjemput Ummu Aiman dan anak mereka Usamah bin Zaid.  Dalam rombongan ini juga ikut Thalhah bin Ubaidillah dan Abu Rafi.

Dalam hijrah rombongan terakhir ini, Ummu Aiman bersama Saudah mengurus semua keperluan rombongan. Ummu Aiman ingin memastikan Ummu Kulstum dan Fathimah berada dalam kondisi baik baik saja selama perjalanan MekahMadinah ini.  Kasih sayang Ummu Aiman  kepada Nabi, diwujudkan dengan mengurus sebaik baiknya keluarga Nabi.

Ketika Ali dan Fathimah menikah, Rasulullah terlihat amat bahagia. Ummu AIman juga turut berbahagia. Ia bersama Asma binti Umais mempersiapkan semua yang dibutuhkan Fathimah.

 

 

Ketika Nabi Wafat

Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, Abu Bakar berkata kepada Umar, “Pergilah bersama kami menemui Ummu Aiman, kita akan mengunjunginya sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengunjunginya.”

Tatkala mereka sampai di rumah Ummu Aiman, ternyata ia sedang menangis, keduanya berkata, “Apa yang membuat Anda menangis? Bukankah apa yang di sisi Allah lebih baik bagi Rasul-Nya?”

Ummu Aiman menjawab, “Bukanlah saya menangis karena tidak tahu bahwa apa yang di sisi Allah lebih baik bagi Rasul-Nya, hanya saja saya menangis karena telah terputusnya wahyu dari langit.”

Hal itu membuat Abu Bakar dan Umar menangis, sehingga keduanya menangis bersama Ummu Aiman.

Pada saat terbunuhnya Umar bin Khattab, Ummu Aiman menangis sambil berkata, “Pada hari ini, Islam menjadi lemah”. Riwayat Ibnu Sa’d

 

Ummu AIman Wafat

Ummu Aiman diberi umur yang panjang.  Dua suaminya, Ubaid bin Harits Al Khazraji dan  Zaid bin Haritsah telah wafat, namun Ummu Aiman masih hidup terus. Ia mengikuti penuh masa pemerintatahn khalifah Abu Bakar dan Umar bin Khattab.

Ummu AIman wafat pada masa kekhalifahan Utsman bin Affan, tepatnya dua puluh hari setelah terbunuhnya Umar.

Semoga Allah merahmati Ummu Aiman, pengasuh pemimpin anak Adam. Beliau adalah seorang wanita yang rajin puasa dan tahan lapar, berhijrah dengan berjalan, diberi minum yang tidak diketahui asal-usulnya, minuman dari langit sebagai penyembuh bagi beliau.

Sumber: Mereka adalah Para Shahabiyah, Mahmud Mahdi Al-Istanbuli dan Musthafa Abu An-Nashir Asy-Syalabi, Pustaka At-Tibyan, Cetakan ke-10, 2009.