بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Ketika disebut Piagam Jakarta, berapa persenkah masyarakat Indonesia, atau katakanlah umat Islam, yang paham ?  Besar dugaan, ditahun 2017 ini mereka yang paham tentang Piagam Jakarta, paling berkisar 30 – 40 persen.  Asumsinya, Piagam Jakarta terjadi 72 tahun yang lalu. Itu artinya generasi yang mengalami langsung, tokoh tokoh yang terlibat, sekarng ini pasti sudah sangat sepuh.  Minimal sudah berusia 85 tahun.  Sedang generasi berikutnya, sudah tidak telrlalu familiar dengan peristiwa Piagam Jakarta.

Padahal, inilah salah satu moment paling bersejarah dalam pergerakan Islam di tanah air. Inila sebuah peristiwa penelikungan luar biasa, ketika umat Islam ‘dkadali’ oleh kaum sekuler nasionalis.  Sehingga tersingkir dari panggung yang sejatinya berdiri tegak karena darah para syuhada.

Akankah sejarah penelikungan itu, berhenti pada lembar lembar sejarah usang ?  Akankah kita lupakan begitu saja pengkhianatan kaum sekuler nasionalis ?  Sejarah memang ada dibelakang, tetapi dicatatnya sejarah, adalah untuk dijadikan pelajaran kedepannya.  Jadi amat penting bagi umat untuk mempelajari sejarah dari sumber yang benar dan tepat, agar kita bisa memetik pelajaran, sebagai bekal langkah di masa depan.

Adalah kerja luarbiasa dari Muhammadiyah Multimedia Kine Klub (MMKK) yang telah menyelesaikan film doku-drama mengenai Ki Bagus Hadikusumo yang berjudul “Toedjoeh Kata”.

Peluncuran film ini pun telah berlangsung di Auditorium IFI-LIP, Jalan Sagan, Yogyakarta, hari Rabu (17/05/2017)

Toedjoeh Kata

Film ini terbilang doku-drama pertama dalam sejarah Indonesia yang mengungkap peristiwa di balik pengubahan Piagam Jakarta. Doku-drama yang menyoroti pencoretan 7 kata di Piagam Jakarta ini lebih dari sekadar merangkai kronologi yang dialami Ki Bagus dan Kasman Singodimejo pada peristiwa itu. Secara menyeluruh, “Toedjoeh Kata” juga merangkum testimoni dari keluarga Ki Bagus dengan disertai analisa historis dari Dr. Tiar Anwar Bachtiar selaku sejarawan INSISTS sekaligus pembina komunitas Jejak Islam untuk Bangsa (JIB). Keberhasilan film ini mendaulat beliau sebagai narasumber juga tidak terlepas dari jasa komunitas Teras Dakwah yang menghadirkan kajian JIB di Jogja. Setelah pemutaran di Jogja, rencananya film “Toedjoeh Kata” akan diputar pula di kota lain melalui kerjasama dengan JIB.

Film “Toedjoeh Kata” memberi ilustrasi bagi tragedi yang dialami umat Islam di Gedung Cuo Sangi In, Jakarta, pada permulaan sidang PPKI, 18 Agustus 1945.

Adegan monumental dalam film ini adalah saat sosok Kasman –akibat siasat para tokoh sekuler (nasionalis)– dengan bahasa Jawa kromo membujuk Ki Bagus sebagai tokoh Islam untuk merelakan pencoretan 7 kata di Piagam Jakarta yakni, “kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya”.

Dengan gambaran suasana hening usai Ki Bagus shalat istikharah, adegan ini menjadi sangat tragis karena sampai 30 tahun kemudian airmata Kasman selalu menetes setiap mengingat kesalahannya merelakan 7 kata itu terhapus dan membujuk Ki Bagus.

Terungkapnya fakta sejarah ini mematahkan mitos ‘gentlemen agreement’ yang selama ini diyakini oleh kalangan awam bahwa seolah-olah para ulama dulu dengan sukarela meniadakan kewajiban syariat Islam. Padahal para tokoh Islam kala itu sesungguhnya sangat kecewa terhadap penghapusan 7 kata ini.

Pemaparan dari Dr. Tiar Anwar Bachtiar sepanjang film turut memperkuat narasi yang disajikan secara berkelanjutan melalui rangkaian adegan di Gedung Cuo Sangi In sekitar 7 dekade lalu.

Kajian narasumber dan adegan perdebatan saling melengkapi dalam mengungkap bahwa pencoretan syariat Islam hanyalah bersifat sementara.

Tetapi janji mengembalikan 7 kata itu ternyata tidak pernah ditunaikan oleh golongan nasionalis. Bahkan kemudian Soekarno secara otoriter justru menelikung aspirasi umat Islam melalui Dekrit Presiden 5 Juli 1959 yang kemudian disusul dengan pembubaran Masyumi selaku partai paling lantang dalam berjuang untuk menjadikan Islam sebagai dasar negara.

Seusai pemutaran film “Toedjoeh Kata”, 2 sesi diskusi diadakan antara sutradara dengan penonton. Pada kedua sesi ini sutradara film, Bayu Seto, sempat mendapat sejumlah pertanyaan cukup kritis dari para penonton.

Diantaranya penonton yang bertanya dari mahasiswa UGM mengenai riset, referensi, dan narasumber terkait sejarah konstitusi yang diungkap film ini. Kemudian ada pula mahasiswa dari kampus Sanata Dharma yang mempertanyakan tujuan pembuatan film dan kecenderungan ke golongan tertentu. Kemudian penanya dari UMS yang ingin mengetahui relevansi antara tema film yang diangkat dengan kasus penodaan agama yang telah menimbulkan kegaduhan di Indonesia belakangan ini.

Menanggapi para penanya ini, Bayu Seto selaku sutradara memberikan penjelasan cukup gamblang. Diantaranya soal proses riset yang bukan tanpa kendala tetapi sanggup dijalani dengan ketekunan menggali referensi literatur secara mendalam. Bayu juga tidak memungkiri bahwa tema yang diangkat memiliki relevansi dengan krisis pluralitas yang terjadi saat ini.

Di kesempatan itu Bayu juga ungkapkan bahwa kurangnya upaya penokohan pejuang Islam selama ini menjadi motivasinya mengangkat sosok Ki Bagus ke dalan film. Poin penting yang disampaikan Bayu ini bisa digarisbawahi sebagai kepedulian dan keberpihakan generasi muslim di era milllenial untuk melestarikan keteladanan para ulama pendahulu yang berjuang dari era kolonial. Kesadaran mahasiswa akan pentingnya sejarah ini layak diapresiasi.

Dari rangkaian diskusi ini dapat terlihat bahwa sebagian penonton ternyata cukup terkejut dengan narasi historiografi yang telah tersaji melalui film ini, karena memang tidak pernah mereka ketahui sebelumnya dalam pelajaran sejarah di sekolah atau kuliah. Disinilah film ini mampu memberi kontribusi guna membuka wawasan generasi muda untuk menyadari pentingnya mengungkap fakta sejarah yang selama ini tersembunyi, sehingga refleksi masa silam bisa menjadi proyeksi masa kini dan masa depan.*

Kiriman : Dimas Widiarto [Jogjakarta] [hidayatullah.com]

Wallahu a’lam bil showab

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ ♥ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ♥ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ ♥ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ♥ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

..