بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Al Quds Jatuh Ketangan Tentara Salib

Setelah 462 tahun dalam naungan Islam, akhirnya Al Quds jatuh ketangan Tentara Salib pada 7 Juni 1099.
Kota dimana terdapat Masjidil Aqsha yang suci, yang direbut oleh Umar bin Khattab pada 637 M, akhirnya harus takluk tahun 1099. Ini adalah salah satu hari yang menyedihkan bagi umat Islam. Peristiwa menjadi pelajaran penting bagi umat, bahwa tanpa persatuan yang kokoh, kita hanya akan jadi pecundang. Lihatlah, persatuan umat Kristen itu mampu mengalahkan kita, karena kekuatan umat Islam tidak bersatu untuk melawan Kristen.
Pada 7 Juli 1099 [beberapa hari menjelang Ramadhan], tibalah Tentara Salib di Baitul Maqdis. Dengan jumlah sekitar 40.000 tentara, 20.000 diantaranya merupakan pasukan paling setia telah berdiri diluar gerbang Yerussalem. Tentara Turki Seljuk sendiri diperkirakan berjumlah 1000 orang. Sebuah jumlah yang sangat tidak imbang.
Ibnu Katsir menilai jumlah Tentara Salib itu mencapai satu juta orang!

Tentara Salib berbaris rapat mengelilingi kota, sambil terus meniup terompet perang mereka. Mereka berdoa dan melakukan upacara keagamaan dengan berjalan mengelilingi Al Quds tanpa mengenakan alas kaki, hanya mengenakan baju perang. Ditambah persediaan air yang terbatas. Sementara kaum Muslimin memperhatikan dari atas tembok kota.

Pengepungan itu berlangsung selama satu bulan. Mereka terkendala dengan dinding kota yang terkunci dengan tembok begitu perkasa dan tinggi. Akhirnya mereka mulai membangun tiga menara pengepungan besar. Ibnu Katsir bahkan menulis dikitabnya, bahwa mereka mempergunakan lebih dari 40 manjaniq (ketapel pelontar ukuran besar) untuk menghancurkan tembok-tembok pertahanan Baitul Maqdis. Sementara sejumlah uskup memberikan motivasi kepada tentara-tentara salibis untuk gigih dalam berperang. Dengan penuh keangkuhan, mereka maju mengatas-namakan perang suci membela agama.
Pada 13 Juli menjelang malam, pasukan Kristen itu mulai berjuang menembus tembok Al Quds. Pada 14 Juli, pasukan Godfrey menjadi pertama menembus pertahanan dan akhirnya Gerbang Santo Stefanus dibuka. Pada 15 juli 1099 M, para penyerbu menggempur kota, membantai semua penduduk tanpa membeda-bedakan usia dan jenis kelamin. Sehingga tumpukan kepala, tangan dan kaki bisa disaksikan di seluruh jalanan dan alun-alun kota.

Membantai Saracen

Begitu Tentara Salib memasuki kota, tujuan utama mereka adalah mencari Saracen. Saracen adalah sebutan yang digunakan oleh orang Kristen Eropa terutama pada Abad Pertengahan untuk merujuk kepada orang yang memeluk Islam. Pernyataan ini dengan jujur menegaskan begitu kejamnya pasukan Perang Salib selain tehadap kaum Muslim. Tentara Salib bukan hanya melakukan pembantaian. Mereka mengamuk secara menakutkan, bahkan membakar orang orang muslim. Bukan hanya muslim, Tentara Salib juga membantai Yahudi.

Begitu Al Quds ditundukkah, Tentara Salib langsung menjadikannya ibukota Kerajaan Tentara Salib. Sejarawan orientalis barat umumnya menyatakan kalau kota yang telah kosong ini kemudian diisi oleh penduduk dari berbagai kota di kawasan Eropa seperti orang Yunani, Bulgaria, Hungaria, Georgia, Armenia, dan lain-lain yang beragama Kristen. Hal ini bertujuan untuk menghalangi kembalinya umat Islam dan Yahudi yang masih hidup. Artinya, Muslim dan Yahudi dilarang tinggal di Al Quds. Orang-orang Kristen juga berdatangan dari kawasan Trans Yordania. Akibatnya, pada 1099, populasi Yerusalem telah naik kembali ke sekitar 30.000 orang. Kerajaan Yerusalem kemudian didirikan pada 22 Juli 1099 dan dideklarasikan di Gereja Makam Suci Yerusalem.
Kerajaan Yerusalem ini terus bertahan selama 200 tahun menandai kekuasaan Kristen atas Al Quds. Dimulai dengan pengangkatan Baldwin I sebagai Raja Kerajaan Yerusalem pertama, dan 88 tahun kemudian [tahun 1187] Salahuddin merebut Al Quds dari tangan Raja Baldwin V.

Tetapi kerajaan ini tetap bertahan dan mundur menjadi jalur kecil sepanjang pantai laut tengah, didominasi oleh beberapa kota. Pada periode ini, kadang-kadang kerajaan ini merujuk kepada ‘Kerajaan Akko’, kerajaan ini didominasi oleh Dinasti Lusignan dari Kerajaan Siprus. Kerajaan ini juga didominasi oleh Venisia dan Genoa. Sementara itu, teritori Muslim lainnya dipersatukan oleh Dinasti Ayyubiyyah dan nantinya oleh Dinasti Mamluk di Mesir. Sultan Mamluk Khalil dan Baibars menguasai kembali seluruh benteng Tentara Salib dan menghancurkan kerajaan Yerusalem ini tahun 1291 untuk selama lamanya.

Albert Aix yang ikut dalam penaklukan Ma’ara, dan kemudian dinarasikan Tamin Ansary, mengisahkan : “Pasukan kami bukan hanya tidak segan segan memakan bangkai orang Turki dan Saracen, mereka juga memakan anjing.” (Tamim Ansary, 2009). Tumpukan kepala, tangan, dan kaki di sepanjang jalan. Mereka menumpahkan darah ‘orang kafir’ (istilah mereka kepada umat Islam) hingga darah umat Islam kala itu digambarkan sampai selutut. David M. Crowe dalam bukunya ‘War Crimes, Genocide, and Justice : A Global History’ menggambarkan, setelah pertempuran Antiokhia, Tentara Salib membunuh semua orang di kota itu dan menjual perempuan dan anak anak [baik Muslim maupun Yahudi] dalam perbudakan. Menurut catatan, Tentara Salib membantai lebih dari 70 000 Muslim dan Yahudi di kota itu dalam jangka hanya dua hari. Awalnya orang Yahudi mencari aman dengan mengungsi ke sinagoge utama mereka yang besar, tetapi ketika kumpul di sana untuk berdoa dan keselamatan, Tentara Salib justru menutup semua pintu dan jendela, lalu membakar bangunan itu menghanguskan hampir seluruh warga Yahudi Yerussalem dalam sekali sambar. Penduduk asli yang Kristen pun tidak benasib begitu baik. Ini karena tak satu pun dari mereka sebagai jemaat Gereja Katolik Roma, melainkan berasal dari gereja Timur seperti Yunani, Armenia, Koptik, atau Nestorian. Tentara SalibFranka memandang mereka sebagai sempalan dan ahli bid’ah akidah juga ibadah, dan sebagaimana mereka pandang, bid’ah kadang lebih buruk daripada kafir. Akhirnya, Franka menyita harta milik penganut Kristen Timur ini lalu mengirim mereka ke pengasingan.

Fulk of Chartes, salah satu saksi sejarah dan penulis kisah Perang Salib I menjelaskan, “Banyak yang melarikan diri ke atap Kuil Sulaiman, dan mereka dipanah hingga jatuh ke tanah dan mati. Di tempat ini hampir sepuluh ribu orang yang terbunuh. Sungguh, jika kalian berada di sana kalian akan melihat kaki-kaki kami berwarna (merah) hingga ke lutut disebabkan darah korban. Tapi seperti apa lagi saya akan menjelaskannya? Tak satu pun dari mereka yang dibiarkan hidup; tak satu pun perempuan dan anak-anak yang disisakan….”

Bukan Cuma Yahudi yang bersembunyi di sinagog yang dibantai, umat Islam yang berlindung didalam masjid Al Aqsha pun dibantai tanpa ampun. Ibn al-Athir dalam kitab Tarikh-nya menulis, “Di Masjid al Aqsha orang-orang Franka membunuh lebih dari tujuh puluh ribu orang, sebagian besar dari mereka adalah para imam, ulama, orang-orang shaleh dan para sufi serta kaum Muslimin yang meninggalkan negeri tempat tinggal mereka dan datang untuk menjalani kehidupan yang shaleh pada bulan Agustus/ Ramadhan ini.”

Gesta Francorum menyatakan “(Orang-orang kita) membunuh dan menyembelih bahkan di Bait Salomo (Masjid Al Aqsha), pembantaian begitu besar sampai orang-orang kita mengarungi darah setinggi mata kaki.” Fulcher, pendeta yang turut serta dalam Perang Salib pertama, menyatakan, “Di Bait (Suci) 10.000 orang terbunuh. Memang, jika Anda di sana, Anda akan melihat kaki Anda diwarnai darah dari orang-orang yang terbunuh sampai mata kaki. Tapi apa lagi yang harus saya hubungkan? Tak satupun dari mereka dibiarkan hidup, baik wanita maupun anak-anak tidak diampuni.”[Fulcher of Chartres, “The Siege of the City of Jerusalem”, Gesta Francorum Jerusalem Expugnantium.]
“… tak ada usia ataupun jenis kelamin yang selamat dari amukan mereka,” kata Edward Gibbon dalam History of the Decline And Fall of the Roman Empire. “Mereka melakukan pembantaian selama tiga hari tanpa memilah atau memilih (siapa yang layak dibunuh dan siapa yang tidak)…. Setelah tujuh puluh ribu Muslim dibunuh, dan orang-orang Yahudi yang tak berbahaya dibakar di dalam sinagog mereka, mereka masih memiliki sisa tawanan yang sangat banyak….”. Sementara itu Joseph Francois Michaud, seorang Sejarawan Prancis, menulis dalam bukunya yang dikenal sebagai Michaud’s History of the Crusade, “Tak satu pun air mata kaum perempuan maupun jeritan tangis anak-anak, bahkan tak juga pemandangan atas tempat di mana Yesus telah memaafkan orang-orang yang mengeksekusinya (dahulu), mampu melembutkan hati para penakluk yang sedang marah ini.”
Setelah melakukan semua kekejian itu, Tentara Salib kemudian melangkahkan kaki mereka memasuki Gereja Suci mereka. Fulk of Chartes berkata dengan getir : “Setelah itu, semuanya, para pendeta dan orang-orang biasa, pergi ke Gereja Makam Tuhan (the Sepulcher of the Lord) dan kuilnya yang suci, sambil menyanyikan kidung (gereja) yang kesembilan.”

Tentara Salib telah mencapai tujuan mereka, dan Al Quds berada di tangan orang Kristen. Dan semua itu mereka tebus dengan darah orang Muslim, Yahudi dan Kristen yang tidak sealiran dengan mereka. Kota Lod [yang kelak akan menjadi kota suci agama Yahudi] direbut Tentara Salib dan namanya diganti lagi menjadi St Jorge de Lidde. Namun, kota tersebut direbut kembali oleh Salahuddin pada 1101. Penjelajah Yahudi Benjamin Tudela mengatakan, saat Salahuddin menaklukkan Lod, ada sekitar 1.170 keluarga Yahudi tinggal di sana.
Sebuah Ucapah Selamat dari Syiah untuk Tentara Salib!
Ketika umat Muslim dibantai, harta mereka dijarah habis dan ketika Tentara Salib berpesta-pora dari satu negeri ke negeri lainnya, menebar teror dan muslihat, saat itulah Wazir Daulah Fathimiyah, Afdhal, mengirim surat pada kaisar Bizantium dan mengucapkan Selamat atas kesuksesan pasukan Salib dan berharap mereka bisa terus beraliansi untuk menjadikan Tentara Salib jauh lebih berhasil.
Berdirinya 4 Negara Tentara Salib Kerajaan Katolik Yerusalem
Pesta pora itu mereka tutup dengan memilih Godfrey sebagai penguasa Yerussalem, lalu mereka mendirikan Kerajaan Salib III, yakni Kerajaan Yerusalem dengan Godfrey sebagai rajanya. Godfrey merupakan seorang pemimpin yang jujur dan petarung yang gigih. Setelah menjadi raja ia diberi gelar Baron dan Penjaga Makam Suci [Gereja Makam Suci].
Kemenangan awal Perang Salib menghasilkan pendirian 4 Negara Tentara Salib yang pertama di kawasan timur Laut Tengah, yakni Edessa, Antiokhia, Yerusalem dan Tripoli. *Tripoli baru berdiri pada tahun 1109M.
Terpilihnya Godfrey sebagai penguasa di Yerussalem, telah menyebabkan Raymond dari Saint Gilles Frustasi. Karena alasan itu, Raymond of Saint Gilles kemudian meninggalkan Yerussalem. Pada tahun 1102 M, ia berhasil menguasai Tortosa yang dilanjutkan dengan menyerang Tripoli. Tetapi sebelum berhasil menyerang Tripoli, ia terlebih dahulu meninggal pada tahun 1105 M. Tripoli baru dapat dikuasai pada tahun 1109 M dan menjadi Kerajaan Salib IV [Ajat Suderajat. Perang salib dan kebangkitan kembali ekonomi Eropa. Yogyakarta: Leutika. 2009. hal, 68]
Nasib Masjidil Aqsha
Begitu Kerajaan Yerusalem resmi didirikan, orang orang Kristen itu tentu butuh bangunan besar dan indah untuk dijadikan istana. Dan mereka tidak bisa [atau mungkin tidak mau] menggunakan gereja, meski gereja mereka besar, megah dan indah. Sebagai gantinya, mereka memilih Masjid Qibli, masjid yang dibangun Umar bin Khattab, untuk digunakan sebagai Istana Kerajaan Yerusalem. Dan namanya diganti menjadi Templum Solomonis atau Kuil Sulaiman [Salomo]. Sedang Dome of The Rock atau Kubah Shakhrah malah diubah menjadi gereja dengan nama Templum Domini [Kuil atau Bait Tuhan].
Tetapi perang Salib tidak berhenti sampai disitu, seruan Paus Urbanus dari seluruh kalangan masyarakat Eropa Barat untuk merebut lebih banyak lagi daerah daerah lain, menjadi bukti, bahwa Yerusalem hanya menjadi batu loncatan mereka saja. Karena tujuan utama mereka bukanlah menaklukan Yerusalem, dimana ada Gereja Makam Kudus disitu. Tidak, tujuan Tentara Salib adalah jauh lebih besar dari itu. Mereka ingin menghabisi Islam sampai ke akar akarnya. Mereka tidak suka bila Islam tumbuh besar. Mereka begitu membenci Islam. Itulah sebabnya, setelah Al Quds jatuh. Mereka tetap tak merasa puas. Mereka ingin lebih banyak lagi menguasai wilayah muslim.
Dan berbondong bondonglah para sukarelawan menawarkan diri menjadi Tentara Salib. Mereka mengikrarkan kaul di muka umum dan menerima indulgensi paripurna dari Gereja. Sebagian berharap akan diangkat beramai ramai ke surga dari Yerusalem [Al Quds] atau mendapatkan ampunan Allah atas segala dosanya. Sebagian yang lain ikut serta demi menunaikan kewajiban feodal, untuk mendapatkan kemuliaan dan kehormatan, atau untuk mendapatkan keuntungan ekonomi dan politik.
Assassin
Sebagian besar dari kita, tidak pernah mendengar nama Assassin. Bisa jadi karena memang nama ini identic dengan kerahasiaan. Dalam perang Salib, perannya cukup signifikan untuk menggembosi dan menghabisi umat Islam. Sebenarnya, mereka sudah bergerak jauh sebelum Perang Salib meletus. Pertanyaannya, siapakah Assassin dan dengan siapakah dia bersekutu ?

Siapakah Assassin?

Assassin yang lebih populer di Barat adalah salah satu cabang dari Syiah Ismailiyah. Mereka mendirikan beberapa pemukiman di Suriah, Iran, Iraq, dan Libanon. Mereka mengirim orang yang berdedikasi untuk membunuh para pemimpin musuh dan menghancukan takhtanya. Tentu saja sangat keliru jika menyederhanakan Assassin hanya sekadar ‘Pembunuh Bayaran’ seperti dimaknai dalam kamus Barat.
Mereka lebih pada kelompok teroris, mafia dan bandit dengan jumlah pasukan memadai, terorganisir dengan rapi, terlatih dengan apik, memiliki kemampuan membunuh siapa dan apa pun yang dapat dilihat mata kepala. Disebut teroris karena kerjaan mereka selalu menebarkan teror di seluruh penjuru negeri, sebagai mafia, mereka sangat oportunis, dapat bersekutu atau bekerja dengan siapa pun yang penting menguntungkan, termasuk jin dan iblis. Dan sebagai bandit karena tidak ada hukum yang ia taati kecuali hukum sesuai dengan kepentingan, dan jika menguntungkan mereka.

Assassin, lebih didorong oleh ideologi Syiahnya, yang memandang, bahwa umat Islam mana pun, selain dari sekte mereka sesat dan harus ditumpas. Maka, kolaborasi dengan para Kesatria Salib adalah sebuah kesempurnaan untuk menghancurkan umat. Assassin [dari dalam] sementara kelompok Salibis Franka [dari luar].
Tidak ada yang tahu secara pasti, kapan Assassin ini muncul, namun menurut Dr Syamsuddin Arif, yang pakar dalam segala aspek terkait Ibnu Sina [980-1037 M] menyebut bahwa Ayah Ibn Sina yang menjabat sebagai gubernur Bukhara di bawah Khalifah Al-Amir Nur bin Mansur, kerap menyetor upeti sebagai ‘jatah preman’ pada kawanan Assassin. Lalu di sinilah muncul persepsi liar dari kalangan Syiah bahwa Ibnu Sina adalah penganut Syiah. Padahal tidak ada bukti dalam bentuk apa pun, jika ia menganut aliran menyesatkan tersebut, andai itu benar, maka pasti dapat dilacak dalam karya tulisnya yang mencapai 450 buah. Hanya saja, didapati beberapa pandangannya dalam ranah akidah dipandang menyimpang, namun tidak mengeluarkan dirinya dari Ahlus Sunnah apalagi sebagai Muslim. Dalam situasi yang kacau balau di negeri-negeri Muslim. Seruan jihad di kumandangkan beberapa ulama dan pemimpin Islam. Tapi, sebagian besar umat melihat bahwa jihad adalah hal aneh, kata itu hanya ada dalam kitab dan diktat, bukan dalam realisasi dengan mengangkat senjata atau dalam arti qital. Perang, saat itu bagi umat Islam semacam perpecahan dan kekacauan yang terus terawat. Selama abad pertama invasi Tentara SalibFranka, setiap kali kaum Muslim mulai bergerak ke aras persatuan, Assassin membunuh para tokoh kunci, yang memantik gejolak baru.

Misalnya, 1094, Aq Sunqur al Hajib, ayahnya Imad ad Din Atabeg Zengi, dibunuh oleh kelompok Hashasin saat sedang menunaikan salat di Mesjid Jami’ Mosul pada tahun 1094. Menurut sejarawan Ibnu Atsir, Aq Sunqur al Hajib adalah seorang gubernur yang sangat baik, menjaga salat tepat pada waktunya dan selalu melakukan salat tahajud di malam hari. Zanki kemudian diasuh oleh Karbuqa, gubernur Mosul. Pada tahun 1113 M, Gubernur Mosul mengadakan konferensi para pemimpin Muslim, untuk mengatur serangan bersatu melawan Franka. Akan tetapi, tepat sebelum pertemuan dimulai, seorang pengemis mendekati gubernur dalam perjalanan ke masjid, pura-pura meminta sedekah, lalu tiba-tiba ia menikamkan sebilah pisau di dadanya dan, rencana serangan itu pun pupus. Sebelas tahun kemudian, 1124, agen Assassin membunuh ulama paling berpengaruh kedua yang menyerukan jihad. Tahun berikutnya, sekelompok yang diduga sufi menyerang dan membunuh seorang khatib yang selalu menyulutkan api jihad. Tahun 1126, Assassin kembali membunuh Al-Borski, raja tangguh Aleppo dan Mosul yang, dengan menyatukan kedua kota besar itu, dapat membentuk benih sebuah negara Muslim bersatu di Suriah. Baroski bahkan telah berjaga-jaga dengan mengenakan baju besi di bawah pakaiannya, karena ia tahu, Assassin mengintai. Tetapi saat beberapa sufi gadungan menyerangnya, salah satu dari mereka berteriak, “Sasar Kepalanya!” Rupanya, ,mereka tahu tentang baju besinya. Akhirnya, Baroski pun tewas. Putra Baroski naik tahta, seperti ayahnya, ia kembali menyerukan persatuan untuk melawan Pasukan Salib, namun, Assassin kembali membunuhnya. Lalu empat bersaudara mengklaim, dan perebutan tahta kembali membenamkan Suriah dalam kubang perang antara sesama saudara.

Sejak awal Perang Salib, pembunuhan demi pembunuhan terhadap tokoh-tokoh kunci berpengaruh kerap terjadi, walaupun beberapa peristiwa tidak terbukti sebagai perbuatan Assassin, tetapi masyarakat sudah mampu menduga. Itu adalah ‘kerjaan’ Assassin. Bakan boleh dibilang, Assassin ini ibarat Qaramithah hanya dalam versi sunyi dan personal.
Pada tahun 1101 M/ 494 H pasukan Syiah menyerang daerah Isfahan [sekarang Iran] dan sekitarnya. Mereka membunuh umat Islam di sana, menjarah rumah rumah yang ada, dan mengumumkan akan membunuh orang orang yang dianggap terhormat.

Terjadilah pertumpahan darah di daerah tersebut. Sebelumnya, mereka juga merebut benteng dalam jumlah banyak. Hal ini mengakibatkan kelemahan di tubuh kaum muslimin, hingga pasukan Salib mudah menguasai wilayah wilayah Islam.

Di tahun 1103 M/ 496 H Abu A Mudzaffar A Khujandi, seorang penasihat di Ar Rayy dan seorang pakar fikih sekaligus seorang guru, dihabisi oleh seseorang dari golongan Rafidha / Itsna Asyariyah dalam suatu pertikaian. Dia orang alim yang sangat utama.

Ibnu Katsir menulis bahwa satu tahun setelah Al Quds direbut Tentara Salib [tahun 1100 M], Tentara Salib kemudian menyerbu Damaskus bersama 3.000 orang prajurit. Kamasytikin Atabik berhadapan dengannya dengan para tentaranya dari Damaskus. Bangsa Frankas [Tentara Salib] berhasil dikalahkan dan ia berhasil membunuh pengikutnya yang berjumlah sangat banyak. Bahkan tidak ada orang dari mereka yang selamat selain tiga ribu orang, dan lebih dari tiga ribu orang terluka. Mereka dikejar terus hingga ke Malta, sehingga wilayah itu berhasil dikuasainya dan rajanya ditawan. Al Hamdulillah.

Dua tahun setelah jatuhnya Al Quds ke tangan Tentara Salib, pengkhianatan Syiah terhadap Baitul Maqdis masih terus berjalan. Sepanjang Syiah Fatimiyah masih berkuasa di Mesir, mereka akan tetap mengkhianati Islam dalam Perang Salib ini. Ibnu Katsir menulis bahwa tahun 1101 M/ 494 H pasukan Syiah menyerang daerah Isfahan [Iran] dan sekitarnya. Pada saat itu Syiah Fatimiyah dipegang oleh Al Amir. Mereka membunuh umat Islam di sana, menjarah rumah rumah yang ada, dan mengumumkan akan membunuh orang orang yang dianggap terhormat.
Terjadilah pertumpahan darah di daerah tersebut. Sebelumnya, mereka juga merebut benteng dalam jumlah banyak. Hal ini mengakibatkan kelemahan di tubuh kaum muslimin, hingga kemudian pasukan salib menjdi mudah menguasai wilayah wilayah Islam.

Tidak hanya Syiah Fatimiyah yang terus bersekutu dengan Tentara Salib, kelompok Syiah Assasin pun tak henti melakukan terror. Pada 1107 M/ 500 H seorang menteri bernama Fakhrul Malik terbunuh di Naisabur pada bulan Dzulhijjah. Ketika beliau keluar dari rumahnya sore hari dalam keadaan berpuasa, lalu bertemu dengan seseorang yang mau melaporkan pengaduan dengan membawa berkas. Beliau pun mendekat dan membacanya. Di kala beliau membaca dengan seksama, pemuda yang kelak diketahui sebagai pengikut Syiah itu, langsung menikamnya dengan belati hingga meninggal pada usia 66 tahun. Pemuda tersebut akhirnya ditangkap dan dibawa ke hadapan Sultan. Diapun mengakui perbuatannya. Bahkan berdusta bahwa dirinya disuruh oleh para sahabat Menteri. Akhirnya, pemuda itu dan para sahabat Menteri dijatuhi hukuman mati.

Tahun 1110 M/ 505 H Maudud bin Zanki, Atabeg di Mosul [Iraq] menyerbu Tentara Salib yang ada di Asia Kecil [Syam]. Penyerbuan Zanki ini diluar perhitungan Tentara Salib yang merasa kuat di Asia Kecil. Tetapi ternyata kaum muslimin meraih kemenangan, membunuh banyak Tentara Salibis, dan berhasil merebut benteng dalam jumlah yang banyak dari tangan bangsa Eropa. Setelah itu Maudud menarik kembali pasukannya

Lalu pasukan Islam kembali ke Mosul. Sebelumnya mereka singgah di Damaskus untuk shalat di masjid jami’. Kemudian datanglah seorang pengikut Syiah Ismailiyyah yang menyamar sebagai pengemis. Pengemis gadungan tersebut meminta sesuatu kepada Maudud. Ketika beliau mendekat hendak memberi, pengikut Syiah itu langsung menikam tepat di hatinya hingga meninggal dunia. Sebagian sejarawan menyebut Syiah itu adalah anggota Assassin. Dan sebagian lagi menduga dalam pembunuhan itu ada campur tangan Thaghatkin.

Kemudian diceritakan oleh Ibnu Katsir bahwa pada 1111 M/ 505 H, Al Amir Maudud memasuki masjid Jami di Damaskus untuk melaksanakan shalat. Tiba tiba ia didatangi oleh seseorang dari Syiah Assassin [kebatinan] dengan pakaian ala seorang pengemis dan meminta sesuatu kepadanya. Ketika ia telah berada dekat dengan A Amir, ia menusuk tepat di bagian hati sang amir, sehingga ia wafat, beberapa jam setelah kejadian itu. Semoga laknat Alah atas orang orang Syiah itu.

****

Kisah kekejian dan pengkhianatan Syiah masih amat panjang dan beragam. Karena sampai tulisan ini dibuat pun, kekejian dan pengkhianatan Syiah tidak pernah putus putus. Tetapi fakta dan data yang tersaji diatas, cukuplah bagi kita untuk memahami bahwa musuh kita bukan hanya Israel dan Nasrani. Tetapi juga Syiah yang terus menerus menimbulkan bencana dan kengerian akibat kebrutalan mereka dalam menghabisi umat Islam. Cukuplah data dari Ibnu Katsir yang ditulis lebih dari 7 abad yang lalu, menjadi pengingat dan teruslah kita waspada akan Syiah. Karena seperti apa yang dikatakan Imam Malik : Jangan kamu berbincang dengan mereka, dan jangan pula meriwayatkan hadits dari mereka, karena sungguh mereka itu selalu berdusta. [Lihat Minhajus Sunnah]

Wallahu a’lam bishowab

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ ♥ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ♥ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ ♥ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ♥ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

Teror & PengkhianatanSyiah Terhadap DuaMasjid Suci [1]
Teror & PengkhianatanSyiah Terhadap DuaMasjid Suci [2]
Teror & PengkhianatanSyiah Terhadap DuaMasjid Suci [3]
Teror & PengkhianatanSyiah Terhadap DuaMasjid Suci [4]