بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Pengkhianatan Syiah Terhadap Masjidil Aqsha

Ketika Islam mengalami kemunduran dan pelemahan akibat terror Syiah, sebenarnya begitu pula keadaannya pada agama Nasrani. Mereka juga mengalami sejumlah masalah yang sama. Yakni para raja mereka yang lebih memikirkan kekuasaannya sendiri ketimbang menghadang musuh musuh Nasrani. Apalagi ditambah masalah gereja barat dan timur yang kemudian memunculkan skisma Timur-Barat. Dan memasuki tahun 1000 M, Romawi Timur mengalami kemunduran yang signifikan, yang kemudian sulit bagi mereka untuk meraih kembali satu persatu wilayah kekuasaan yang lepas. Romawi Barat memang sudah tenggelam pada 476 M, tetapi kedudukan Paus Roma dalam hirarki keagamaan mereka, kelak yang akan menyebabkan timbulnya Perang Salib.
Tetapi, di Asia Kecil-lah bencana terbesar terjadi. Yakni ketika Turki Seljuq melancarkan eksplorasi pertama mereka melintasi perbatasan Romawi Timur ke Armenia pada tahun 1065 dan 1067. Yakni pada perang Manzikert, di dekat Kerajaan Armenia. Kita lanjutkan pada penjelasan tentang Turki Seljuk.
Baghdad memang masih dibawah cengkraman dinasti Syiah Buwaihidah [kekuasaan mereka berakhir pada tahun 1055 M], namun perlawanan umat Islam dan para ulamanya terus terjadi meski sifatnya kecil. Dan ketika Khalifah Abbasiyah dipegang oleh Al Qadir Billah [Ahmad bin Ishaq bin al Muqtadir, berkuasa 991 sampai 1031 M] para ulama melakukan perlawanan terhadap Syiah. Imam Ibnu Katsir menulis bahwa pada bulan Rabi’ul Akhir tahun 1012 M/ 402 H, para imam di Baghdad menulis makalah yang berisi tentang penghinaan dan pembeberan aib dalam nasab para Khalifah Mesir yang mengaku berasal dari kalangan Fathimiyyu. Tentu saja kenyataannya tidak. Mereka menisbatkan diri kepada Dishan bin Sa’id Al Kharmi dan bersaksi bahwa hakimnya bernama Ubaidillah dan bergelar Al Mahdi. Padahal, mereka adalah para saudara tiri Khawarij. Mereka yang muncul di Mesir dan para pendahulunya adalah orang orang kafir, fasik, penjahat, ingkar, dan atheis. Mereka ingkar terhadap kebenaran Islam dan yakin pada kepercayaan paganisme dan Majusi.
Empat tahun kemudian terjadi beberapa insiden aneh di Iraq dan di Madinah [1016 M/ 407 H]. Yakni terbakarnya tempat kesyahidan Al Husain bin Ali di Karbala. Terbakar pula masjid agung Samirra. Di Madinah, Ar Ruknu Al Yamani di Masjidil Haram mengalami kerusakan. Dan tembok yang terletak di dekat makam Rasulullah ﷺ runtuh. Kemudian kubah besar di BaitulMaqdis runtuh. Ibnu Katsir mencatatnya sebagai kejadian kejadian yang aneh dan menakjubkan.
Setahun setelah itu, pada 1017 M/ 408 H terjadi pertikaian besar antara kaum muslimin dengan kaum Syiah Rawafidh di Baghdad. Dari kedua belah pihak sangat banyak yang terbunuh.
Runtuhnya Dinasti Buwihiyah Pada 1055 M
Setelah selama 84 tahun Islam dikepung oleh Daulah Syiah [Qaramithah, Buwaihidah dan Fathimiyah] di Mesir, Syam dan Baghdad, akhirnya titik terang mulai muncul pada tahun 1055 M. Pada tahun itulah Daulah Buwaihidah mengalami keruntuhan. Meskipun sebab keruntuhannya bukanlah karena diperangi umat Islam, tetapi lebih karena persoalan intern mereka. Tetapi setidaknya runtuhnya Buwaihidah memberi sedikit ‘nafas’ bagi ulama dan penguasa penguasa Islam saat itu. Persoalan utama yang menjadi penyebab runtuhnya dinasti Buwaihiyah adalah merosotnya loyalitas kekeluargaan. Perlu diingat kembali bahwa dinasti Buwaihiyah dalam melaksanakan dan menjaga kekuasaan merupakan hasil timbal balik hubungan kekeluargaan. Namun, ketika loyalitas kekeluargaan merosot, dan satu saudara siap berperang melawan saudara yang lain maka kesatuan kekuatan dinasti pun terpecah belah.
Peperangan yang terjadi antara Baha’, Syaraf, dan saudara ketiga mereka, Shamsham al Daulah, juga pertikaian antara anggota anggota keluarga kerajaan untuk menentukan penerus mereka, dan fakta bahwa Buwaihi merupakan penganut Syiah sehingga sangat dibenci oleh masyarakat Baghdad yang mayoritas adalah Islam. Berbagai hal tersebut menjadi factor faktor penting bagi keruntuhan dinasti Buwaihi. Pada tahun 1055 M, raja Saljuk Thugril Beg [Thagharlabak] memasuki Baghdad, dan mengakhiri riwayat kekuasaan Buwaihi. Dan raja terakhir dari dinasti ini di Irak, al Malik al Rahim (1048-1055 M), mengakhiri hidupnya dalam tawanan Thughril.
Meski Buwaihidah sudah runtuh di Baghdad, namun pengaruh Syiah telah terlanjur menghujam pada sekelompok penduduk Baghdad. Kelak kita akan lihat, hancurnya kota Baghdad di tangan Tartar Mongol adalah karena pengkhianatan 2 orang petinggi Abbasiyah yang beragama Syiah. Dan setelah itu pun, penyerangan terhadap Baghdad masih terus berlangsung. Pada era Al Qa’im Biamrillah [Abdullah bin al Qadir, berkuasa 1031 – 1075] kota Baghdad sekali lagi diserang oleh pasukan Syiah pimpinan Arsalan al Basasiri pada bulan Dzulqa’dah tahun 1058 M/ 450 H. Mereka datang dengan membawa panji panji Mesir berwarna putih. Penduduk Karkh yang beraliran Syiah segera menemui pasukan tersebut. Kemudian, orang orang Syiah di sana melakukan penjarahan secara massal. Mereka menjarah rumah rumah kaum muslimin yang ada di kota Basrah. Bahkan menjarah seluruh isi rumah dari Hakim Agung yang bernama Abdullah al Damighani, lalu menjual hasil jarahan tersebut kepada para pedagang.
Lebih dari itu, orang orang Syiah menangkap seorang menteri yang bernama Ibnu Maslamah. Mereka mengaraknya, mencacinya, bahkan mengaitkan besi di mulutnya dan menariknya ke atas tiang kayu. Lalu mereka memukulinya sampai senja hari hingga beliau meninggal saat itu.
Ibnu Maslamah berkata menjelang wafatnya, ‘Segala puji bagi Allah yang menghidupkanku dalam keadaan bahagia dan mematikan aku sebagai syahid’.
Pertolongan Allah Dimulai Di Manzikert
Kini tinggal 2 Daulah Syiah yang masih bertahan. Yakni Syiah Qaramithah di Bahrain dan Syiah Fatimiyah di Mesir. Dan sekali lagi, pertolongan Allah terhadap umat Muslim datang dengan meletusnya perang di Manzikert pada tahun 1071 M.
Adalah bangsa Turki Seljuk yang ditunjuk Allah untuk menjadi penumpas kekuasaan Syiah di Timur Tengah. Dan penumpasan ini bermula dengan berkobarnya perang di Manzikert* pada 26 Agustus 1071 M. [Manzikert adalah perang Antara Turki Seljuk melawan Romawi Timur [Byzantium]. Wilayah Manzikert terletak di sebelah utara Danau Van, Kerajaan Armenia] Perang Manzikert menjadi salah satu perang besar yang dicatat dalam sejarah dunia. Karena siapapun pemenangnya, dia akan mendapatkan banyak wilayah di Syam. Dan hadiah paling besar adalah Damaskus. Benteng Syam!
Saat itu Kaisar Romawi Timur adalah Romanos [atau Romanus] IV Diogenes. Ibnu Katsir dalam Kitabnya menyebutnya sebagai Armanus. Romanus berambisi untuk mengembalikan kejayaan Romawi Timur yang sudah nyaris padam waktu itu. Dan salah satu cara mewujudkannya, ia harus mampu menghentikan lajunya kekuasaan Turki Seljuk. Pada saat yang bersamaan, Turki Seljuk justru sedang gencar gencarnya meluaskan wilayah kekuasaan. Sehingga pertemuan dua kekuatan itu terjadilah di Manzikert. Kerajaan Seljuk pada saat itu dipimpin oleh Al Qaim Biamrillah Abu Jafar Abdullah bin Qadir dengan Sultannya Alib Arsalan [455-465 H/ 1063-1072 M] yang gagah berani. Romanus menyiapkan tentaranya dengan kekuatan penuh, serta meminta bantuan kepada sekutu sekutu Romawi Timur, seperti Ghuz, al-Akraj, al-Hajr, Perancis, dan Armenia.
Ibnu Katsir rahimatulah menulisnya dalam Kitabnya Bidayah wan Nihaya : Raja Romawi, Armanus[Romanos IV], datang dengan pasukannya yang bagaikan gunung-gunung di Romawi, Karj, dan Eropa karena jumlahnya yang demikian besar. Bergabung bersamanya 35.000 pimpinan Romawi, dan bersama setiap pimpinan kurang lebih 500 hingga 2.000 pasukan berkuda. Pasukan yang berasal dari sebelah Utara laut Kaspia yang bergabung dengannya berjumlah 35.000 personil, mereka membawa 100.000 pasukan perintis, pasukan penggali, dan ketepel raksasa. Di antara ketepel yang mereka bawa memerlukan 1.200 orang untuk menariknya.
Begitulah, Sultan Arsalan harus menghadapi jumlah pasukan yang belum pernah ia dengar sebelum [bahkan sesudah]. Padahal, ia tidak punya kekuatan besar kecuali 20.000 personel. Sultan Arsalan kemudian meminta pertimbangan kepada para panglima dan ulama. Salah seorang ulama, Abu Nashr Muahammad bin Abdul Malik Al Bukhari mengusulkan waktu perang ditentukan pada hari Jum’at setelah matahari tergelincir ketika para khatib mengajak berjihad di atas mimbar dan berdoa kepada Allah untuk kemenangan kaum Muslimin. Sultan Alib Arsalan puas terhadap gagasan para ulama yang bertaqwa tersebut. Ia bertekad menghadapi pasukan lawan pada waktu yang ditentukan. Seraya ia berdoa kepada Allah untuk kemenangan kuam Muslimin. Pertempuran itu akhirnya meletus dasyat pada Jumat tanggal 25 Dzulqa’idah. Dan atas pertolongan Allah, Turki Seljuk mampu mengalahkan Romawi Timur! Mereka berhasil membunuh tentara lawan dan saking banyaknya hingga tidak bisa dihitung dangan jari. Raja Armanus sendiri tertawan oleh kaum Muslimin. Ia didatangkan dalam keadaan hina dan ditempatkan di depan Sultan. Armanus menebus dirinya dengan uang sebesar satu juta setengah dinar.
Armanus berdiri di depan sultan dan memberi minum air kepada sultan sebagai tanda hormat. Kendati kekalahan menimpa raja Romawi, kemenangan yang tak terduga berpihak kepada kaum Muslimin dan raja Romawi yang kalah menyembunyikan kedengkian dan kebencian terhadap Islam serta berkeinginan menghancurkan Islam. Sultan Alib Arsalan yang menang tetap menerapkan akhlak yang mulia dan bersikap lemah lembut kepada Armanus dan memberikan sepuluh ribu dinar untuk bekal Armanus diperjalanannya serta mengirimkan bersamanya beberapa Batrix.
Sultan Alib berjalan dengannya hingga 4 mil dan menyiapkan pasukan tentara yang mengawalnya hingga ia tiba di negerinya.[ Muhammad Sayid Al-Wakil. Wajah Dunia Islam Dari Bani Umayyah Hingga Imperealisme Modern. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar. 2005. hal, 159-164.] Kerajaan Seljuk. Pemimpinnya, Alp Arselan (455-465 H/1063-1072 M) berhasil mengalahkan Kaisar Roma, Dimonos (Romanus IV/Armanus), tahun 463 H/1070 M. Akibatnya sebagian besar wilayah Kekaisaran Roma takluk di bawah pengaruh Islam Seljuk.
Markham, seorang penulis Barat menulis dalam bukunya The Battle of Manzikert : Romanos, sang penguasa saat di tangkap Sultan Alp Arslan. Tetapi Alp Arslan memperlakukannya dengan hormat, dan tidak mengenakan syarat syarat keras pada Romawi Timur.
Ketika Romawi Timur/ Bizantium berhasil dihancurkan Turki Seljuk di Manzikert, gemparlah dunia barat & timur. Pertempuran ini seakan memberi pesan akan detik detik kejatuhan Imperium yang pernah begitu digdaya di seluruh dunia. Dan sebagai seorang yang sedang sekarat, Romawi Timur akan melakukan apa saja untuk mempertahankan kekuasaan mereka. Maka, dibuatah pesan terselubung dari Kaisar kepada para kesatria Barat untuk datang membantu mereka atas nama iman Kristen. Akhirnya para patriarkh Konstantinopel meneruskan pesan itu kepada saingan beratnya di Barat, yakni Sri Paus, memperingatkan bahwa jika Konstantinopel jatuh, maka pengikut Muhammad akan membanjiri kota suci Roma. Tetapi Paus Aleksander II [1061 – 21 April 1073] hanya menyambutnya dengan dingin.
Jatuhnya Rum di Manzikert, membuat Syiah Fatimiyah dan Qaramithah marah luar biasa. Karena itu artinya Daulah Islamiyah akan semakin sulit untuk mereka tumpas. Setelah selama abad abad, orang orang Syiah selalu gagal menjatuhkan Abbasiyah secara total, lalu kini telah muncul kekuatan Islam lainnya. Yakni Turki Seljuk. Impian untuk menghancurkan Islam, akan selama lamanya menjadi mimpi. Karena kita lihat saja, Manzikert bukan hanya menjatuhkan Rum. Tetapi juga menjatuhkan Syiah. Dan tidak aneh, jika dua kekuatan itu kelak akan saling bekerjasama menghancurkan Islam.
Al Quds Direbut Kekaisaran Seljuk
Setelah hampir satu abad Syiah Fatimiyah menguasai Al Quds, dan membawa banyak kekacauan disana, kini tibalah hari pembebasan Al Quds. Dan kita sudah bisa menebak, bahwa sang pembebas Al Quds itu adalah Turki Seljuk. Yang telah menggemparkan Barat dan Timur ketika mereka menundukkan Romawi Timur dan sekutunya di Manzikert. Setelah menguasai hampir seluruh wilayah Syam, sekarang tiba saatnya Turki Seljuk menyelamatkan Al Quds dari kerusakan lebih parah yang ditimbulkan Syiah. Dibawah komando Atsiq bin Uway, Kekaisaran Islam Turki Seljuk merebut Al Quds dari tangan Daulah Syiah Fatimiyah pada 1073 M. Tetapi kemudian Atsıq terbunuh, lalu Pangeran Seljuk Tutush I memberikan Yerusalem kepada Artuk Bey, seorang komandan Seljuk lainnya. Setelah meninggalnya Artuk pada tahun 1091 kedua putranya, Sokmen dan Ilghazi, memerintah kota ini.
Dikuasainya Al Quds oleh Kekaisaran Islam Seljuk, membawa warna baru dalam suasana kerohania-an Al Quds. Orang orang Turki Seljuk yang belum terlalu lama memeluk Islam, rupanya menerapakan aturan baru bagi peziaran non muslim. Semua itu demi keteraturan dan keadilan semua pihak. Karena Al Quds adalah tanah suci bagi 3 agama besar, yakni Islam, Kristen dan Yahudi. Sayangnya aturan baru itu dinilai kaku oleh peziarah non muslim. Dan sayangnya lagi, ini membawa ‘masalah lain’ yang cukup rumit, pelik dan berbiaya amat mahal yang akhirnya menyeret seluruh kekuatan Islam dan Kristen.
Masalah lain, Seljuk yang berasal dari bangsa Turki ini dan belum lama memeluk Islam, sehingga mereka seringkali to the point dalam menerapkan aturan bermasyarakat terhadap penziarah non muslim. Mereka bahkan disebut memperlakukan para peziarah secara tidak sopan dan terus-menerus mengganggu dan menghalangi para hujjaj Kristen itu. , walaupun tidak disiksa, seperti dipukuli dan dibunuh, namun pelecehan dan penghinaan kadang lebih menyesakkan. [Ilham Kadir, https://www.hidayatullah.com/kajian/sejarah/read/2015/09/09/77726/tragikomedi-perang-salib-dan-penghianatan-assassin-1.html]
Sekembalinya ke kampung halaman mereka di Barat, para peziarah menceritakan keadaan dan pengalaman mereka. Mengeluh tentang penghinaan yang ditumpahkan pada mereka oleh “orang kafir” di tanah suci. Keluhan ini akhirnya sampai ke telinga Paus Urbanus II di Roma. Yang kelihatannya memanfaatkan momentum itu untuk menggabungkan Ambisi pribadi Sri Paus. Sri Paus berambisi menggabungkan Gereja Timur kedalam kekuasaannya. Merasa posisinya agak kuat, maka obsesinya meningkat, yaitu menjadikan dunia Kristen seluruhnya menjadi satu negara religius yang dipimpin oleh Sri Paus dan mengusir kaum Muslimin dari Baitul Maqdis.
Setelah Al Quds dibebaskan dari cengkraman Syiah Fatimiyah pada 1073 M, daulah Syiah lainnya, yakni Qaramithah diketahui juga berakhir empat tahun setelahnya, yakni pada 1077 M. Ketika keturunan dari pemimpin terakhir Qaramithah Abu Yaqub Yousuf berakhir pada 1077 M. Itu artinya, hanya tinggal Daulah Fatimiyah di Mesir yang masih bertahan. Dan masa kekuasaan Fatimiyah kelak akan berakhir 94 tahun kemudian atau pada tahun 1171!
Meski sudah mundur dari Al Quds dan beberapa wilayah di Syam, tetapi Syiah Itsna Asyariyah [Rafidhah] yang dianut Daulah Fatimiyah masih terus berusaha menggoyang Kekhalifahan Abbasiyah. Pada 1085 M/ 478 H Syiah Rafidhah melakukan penyerangan terhadap kaum muslimin di Baghdad. Terjadilah peperangan dengan jumlah korban yang sangat banyak dari kedua belah pihak.
Padahal, pada tahun itu terjadi wabah demam di mana-mana, kematian binatang-binatang ternak secara mendadak, serta wabah tha’un (sejenis penyakit pes) yang menyerang secara luas di Irak, Mekkah, Madinah, dan Syam.
Tahun 1088 M/ 481 H Syiah Itsna Asyariyah [Rafidhah] kembali melakukan penyerangan terhadap kaum muslimin di Baghdad dan mengakitakan jumlah korban yang cukup banyak dari kedua belah pihak.
Tahun 1089 M/ 482 H dan 1093 M/ 486 H Penduduk Karkh yang beraliran Syiah Itsna Asyariyah [Rafidhah] menyerang umat Islam hingga terjadi peperangan yang berkepanjangan. Peristiwa tersebut menelan korban sebanyak 200 jiwa dari kedua belah pihak.
Ibnu Al Jauzi menukil di dalam kitabnya Al Muntadzim, ia berkata, “Warga A Karkh mencela para sahabat dan para istri Rasulullah ﷺ, yang akhirnya menjadi menjadi mencela Rasulullah ﷺ. Hal ini diceritakan agar semua orang mengetahui hal hal yang tersembunyi di dalam lingkungan Rawafidh yang berupa kotoran dan kemarahan kepada Islam dan para pemeluknya serta permusuhan yang terpendam di dalam hati mereka terhadap Allah, Rasul, dan syariatNya.

Dimulainya Perang Salib

Jatuhnya Romawi Barat membuat Paus Roma hanya menjadi sebuah institusi keagamaan. Dan banyak kaisar yang mundur atau bergabung ke Romawi Timur di Konstantinopel, hal itu membuat Paus menjadi kesepian. Ia yang selama ini ikut memegang kendali kekuasaan, kini harus tenang menghadapi nasib yang menempatkan mereka [hanya] sebagai pelayan Tuhan. Namun sebagai orang yang kesepian, tentu Paus sesekali digoda bayangan untuk kembali menjadi bagian dari kekuasaan dunia. Seperti dulu. Dan tampaknya, bayangan itu mendapatkan kesempatan untuk menjadi kenyataan ketika tahun 1077 Raja Heinrich III mati dan digantikan Heinrich IV. Saat itu Paus melihat pengaruh Raja baru itu tidak sekuat ayahnya.

Akhirnya Paus melakukan aksi ‘pemberontakan’. Ia bersikeras dipilih dan bahwa para pendeta dan uskup hanya melayani Paus dan tidak dapat dipilih oleh Kaisar.
Heinrich IV ingin memilih uskupnya sendiri untuk membantunya memerintah kekaisarannya, namun Paus ingin para uskup hanya melayani gereja. Akibatnya Paus mengucilkan Heinrich IV. Supaya dapat kembali ke Gereja, Heinrich terpaksa melakukan penebusan kepada Paus, dengan cara berlutut bertelanjang kaki di tanah bersalju Canossa, Italia utara pada 1077 M.

Ketika Manzikert jatuh ke tangan muslim dan menimbulkan gempa yang cukup besar, membuat Kaisar Romawi Timur putus asa sampai bersedia meminta bantuan Paus, musuh bebuyutannya. Saat itu Paus merasa saatnya telah tiba untuk kembali ke gelanggang kekuasaan. Tetapi ia sadar, untuk menggalang kekuatan Kristen, isu itu saja belum cukup. Ia perlu isu lain yang harus langsung berkenaan dengan sensitivitas keagamaan. Ia perlu ‘cerita surgawi’. Maka ketika 1073 cerita tentang pelecehan kaum Kristen di Al Quds, sampai ketelinga Paus Urbanus II, ia pun teringat pada sebuah catatan kecil pada tahun 970-an ketika kaum Kristen dipaksa memakai jubah hitam dan menunggang keledai pada masa Syiah Fatimiyah. Semua itu rasanya sudah cukup untuk memuluskan aksi. Ia merasa, saatnya telah tiba! Crusades!

Paus Urbanus II menjawab rintihan Kaisar Alexius I Komnenus [Kaisar Romawi Timur/ Byzantium saat itu] dengan mengadakan pertemuan di Clermont pada 18 Nopember 1096. Paus Urbanus II menyerukan kepada segenap pemeluk agama nasrani untuk mengangkat senjata, berperang melawan kaum Musim ditanah suci Palestina. Ia mendorong untuk memerangi Kerajaan Islam dan merebut Tanah Suci. Paus juga mengimbau umat Nasrani seperti bangsawan Prancis, Jerman, dan Italia untuk memberi bantuan militer dan uang kepada Romawi Timur. Ia juga menambahkan dengan cerita penghinaan yang diterima para peziarah di Tanah Suci dan menyerukan orang beriman untuk membantu saudara-saudara mereka mengusir orang Muslim dari Yerussalem.

Mereka lupa, 4 abad Al Quds dalam lindungan kaum Muslim, tak pernah sekalipun ada cerita orang orang nasrani dan Yahudi diganggu, bahkan mereka ikut dimuliakan. Dan orang Kristen Yerusalem, yang telah tinggal disana secara turun temurun, pasti paham. Bahwa hanya muslim yang mampu memuliakan semua pemeluk agama di Al Quds. Bukankah sejarah perang Antara Kristen Vs Yahudi, yang sudah menimbulkan korban jiwa tak terhitung, sejarah itu masih belum mereka lupakan? Dan sekarang, mereka kembali ingin menumpahkan darah di Al Quds? Tindakan Kristen Eropa itu pada akhirnya hanya bisa disesali oleh Kristen Yerusalem sendiri. Dan kisah Perang Salib, menjadi cerita memalukan bagi orang orang Kristen secara keseluruhan.]

Sebagai penutup, tidak lupa Paus Urbanus juga mengingatkan, bahwa tanah Yerusalem adalah tanah suci yang bisa menghapus dosa dosa mereka, meskipun setinggi gunung. Karena, di sanalah Tuhan mereka dilahirkan dan mati disalib.

Mengiringi seruan Paus Urbanus II, persiapan segera dilakukan baik di timur maupun di Barat. Kaisar Bizantium yaitu Alexius II Comnenus, yang merasa yakin akan kedatangan tentara salib segera menyiapkan pasukan bantuan. Di Barat para panglima perang segera menyusun pasukan mereka, orang-orang yang akan ikut perang segera mengumpulkan uang dan perbekalannya. Dan untuk lebih memecut semangat ‘jihad’ mereka, Paus Urban menyarankan mereka untuk mengenakan Salib berbentuk kotak merah sebagai lambang ‘jihad’. Ekspedisi ini kemudian disebut Croisade dari croix bahasa Prancis untuk Salib. Dari sini sejarawan menyebutnya Crusades atau Perang Salib. [Tamim Ansary, 2009]. Dengan wewenang yang ada padanya, Paus memutuskan bahwa siapa pun yang berangkat ke Al Quds untuk membunuh kaum kafir [Muslim] akan menerima pengampunan atas dosa dosanya. “Pergilan ke Timur anak muda, kata Paus. Tunjukkan diri kalian yang sejati sebagai mesin pembunuh mengagumkan yang untuk itulah kalian telah dilatih masyarakat kalian, penuhi sakumu dengan emas tanpa rasa bersalah, rebutlan tanah yang jadi hak kalian sejak lahir, dan sebagai akibat dari itu semua, masuklah ke surga setelah kalian mati!” Begitu kata Paus. Tentara ‘Salib’ itu pun berduyung duyung datang ke Timur, berziarah dan untuk merebut Al Quds, serta merampas hak orang Islam yang dinilai kafir itu.
Inilah perang agama yang kelak akan berlangsung selama 2 abad lebih, yang sebetulnya hanya kelanjutan dari perang Islam Vs Romawi yang lalu. Hanya saja, kali ini orang orang Kristen itu tidak memakai jubah Romawi, tetapi memakai jubah Tentara Salib. Tetapi aura yang mereka bawa tidaklah berbeda, sama saja.

Pengkhianatan Syiah Fatimiyah Terhadap Masjidil Aqsha

Kabar tentang berdirinya pasukan Tentara Salib menyebar ke seantero dunia Barat dan Timur. Umat Islam yang saat itu terpecah menjadi berapa kekuatan, menjadi tidak solid dan focus dalam menghadapi Tentara Salib. Khilafah Abbasiyah di Baghdad yang saat itu adalah Al Muqtadi [1075M-1094M] tidak berdaya apa apa. Kekhalifahan Umayyah di Cordoba kelihatannya juga pasif. Hanya Turki Seljuk yang saat itu menguasai Al Quds dan Syams, yang dipaksa siap untuk menghadapi Tentara Salib. Ditengah situasi serba tertekan itu, ada hal penting yang luput dari pengamatan kita semua.

Yakni kemarahan kaum Syiah Fatimiyah karena wilayahnya direbut oleh Khilafah Islam [Tuki Seljuk]! Kini praktis kekuasaan mereka hanya tinggal di Mesir. Satu senti saja kakinya keluar dari Mesir, maka ia rentan dibunuh musuh musuhnya. Tetapi ia juga ngeri dengan semangat ‘jihad’ kaum Kristen. Para wazir Fatimiyah amat paham, mereka tak punya kekuatan apapun untuk menghadapi Romawi TImur. Bukankah Syiah Fatimiyah juga sudah melakukan kesepakatan dengan Romawi Timur untuk mengamankan wilayahnya di Syam [temasuk Mesir]. Mengapa tidak bersepakat juga dengan Tentara Salib, agar Mesir bisa aman dan damai tidak diganggu Tentara Salib? Ya, itu ide yang baik. Mengapa tidak?

Lalu, melajulah kurir utusan Syiah Fatimiyah ke Roma. Dalam Kitab Bidayah wal Nihayah, Ibnu Katsir menulis bahwa daulah Fathimiyyah mengirim menteri yang bernama Badrul Jamali sebagai duta kepada panglima Perang Salib I pada 490 H/ 1097 M. Menyampaikan kesiapan untuk membantu Tentara Salib dalam rangka menyerang kaum muslimin di wilayah Syam yang dikuasai Daulah Salajiqah [Turki Seljuk]. Di Roma Badrul dan Tentara Salib mencapai kesepakatan, bahwa Syiah Fatimiyah akan membantu Tentara Salib di Syam sehingga mereka bisa mulus sampai di Baitul Maqdis.

Setelah itu bakal ada pembagian wilayah. Daerah Syam sebelah utara akan dikuasai bangsa Eropa, sedangkan bagian selatan Syam akan dikuasai oleh Syiah.

[cat. wilayah Syam sebelah utara, adalah meliputi Homs, Aleppo dan seterusnya hingga Asqalan & Yerusalem. Sedang Syam sebelah selatan mulai dari Asqalan, Gurun Sinai hingga Mesir] Itu artinya ajakan kerjasama itu adalah dalam rangka mengamankan Mesir sebagai wilayah Syiah, supaya tidak diganggu Tentara Salib. Dengan cara ‘menjual’ Syams [termasuk Al Quds!]. Wilayah Syam sebelumnya memang direbut Syiah Fatimiyah dari tangan Ikhshidiyah yang kemudian direbut lagi oleh Turki Seljuk. Tetapi pertanyaannya, mengapa tidak bersekutu dengan Islam jika tujuan utamanya hanya untuk mengamankan Mesir? Tentu saja karena Syiah lebih suka bersekutu dengan Iblis ketimbang Islam. Mereka rela menjual Al Quds kepada Kristen, ketimbang Mesir yang jauh lebih luas dan kaya. Lagipula bersekutu dengan Romawi Timur, Syiah sekaligus bisa menghancurkan Islam. Sambil menyelam, minum air dan buang air sekalian!]
Paus dan Tentara Salib awalnya keberatan dengan perjanjian bilateral tersebut. Karena [meskipun] tujuan utama bangsa Eropa adalah ingin menguasai Baitul Maqdis, tetapi Mesir merupakan wilayah penting dan strategis untuk dikesampingkan begitu saja. Dan bukan tidak mungkin setelah Al Quds, mereka juga akan menyerang Mesir. Tetapi pepatah mengatakan : kerjakan dulu satu satu. Dan itulah yang mereka lakukan. Soal Mesir. Itu bisa diurus belakangan. Yang penting Al Quds ditaklukkan terlebih dulu. Maka akhinya palu pun diketok. Karena bagaimanapun juga, lebih baik mereka dibantu Syiah ketimbang menghadapi pasukan Islam sendirian. Lagi pula, bukankah Kaisar Basil II dulu juga sudah melakukan kerjasama dengan Syiah Fatimiyah? Meskipun sebab perang Salib itu adalah Syiah juga, tetapi demi membantai Islam, tak mengapa bekerja sama dengan Syiah Fatimiyah. Begitulah, koneksi Antara Kristen dan Syiah, memang tak perlu dipahami dengan akal. Cukup diketahui untuk dijadikan pelajaran. Bahwa pengkhianat akan cocok dengan pengkhianat lainnya. Kebatilan hanya akan bersekutu dengan kebatilan.
***
Qilij Arslan [wakil pemerintahan Turki Seljuk] Sultan Tuki Seljuk di Nicea, suatu hari di tahun 1096 M mendapat info tentang mulai datangnya serombongan tentara [bayaran] dari Balkan, yang kemudian mereka sebut Franka. [Franka atau Frankia atau Francia adalah wilayah di Eropa Daratan Barat yang pada abad ke-3 hingga ke-10 dihuni dan diperintah oleh koalisi puak-puak Germanik yang dinamai sebagai orang Franka. Orang Arab menyebutnya Fanka untuk membedakannya dengan orang orang Ruum/ Rom [Romawi]]

Arslan mendapat laporan cukup detail bahwa, para Franka ini berpakaian aneh [walaupun ada yang berpakaian seperti tentara]. Dan hampir semuanya mengenakan Salib berbentuk sepetak kain merah yang dijahitkan di pakaian mereka. Konyolnya, tentara Salib itu terang terangan mengatakan bahwa kedatangan mereka adalah untuk menaklukkan Yerussalem. Menghadpi ini, Arslan segera membentuk pasukan perang dan menyergap mereka sebelum mereka memasuki gerbang Al Quds. Dan dalam sekali sapu, tentara Salib itu mampu dikalahkan Arslan. Kemenangan mudah ini tidak membuat Arslan mengendurkan kewaspadaannya. Sebagai prajurit, ia paham, bahwa tentara Salib yang dihancurkannya hanyalah rekrutan dari semua golongan lapisan masyarakat : petani, tukang, pedagang, buruh kasar, yang notabene mereka tak paham cara berperang. Mereka bukan tentara profesional. Mayoritas adalah para pemuda yang putus asa, tidak tahu mau kerja apa, karena lahan pertanian telah direbut golongan bangsawan penindas.

Segera setelah gelombang pertama Tentara Salib mengalami kekalahan, pada 1097, gelombang kedua yang terdiri dari 4.000 tentara dan 25 ribu infanteri, mulai bergerak ke timur.
Karena begitu banyak kaum Kristen yang ingin berperang, akhirnya Paus Urbanus II menentukan titik keberangkatan dari Konstantinopel. Dan dia membaginya dalam 4 gelombang. Pertama, pasukan Hugh dari Vermandois, berangkat dengan pasukan yang kecil, karena kapalnya mengalami kecelakaan ketika menyebrangi laut Adriatik dari Bari ke Dyrhacium. Godfrey of Buillon, pangeran dari Lorranie bekerjasama dengan saudaranya Eustace dan Baldwin. Mereka mengambil rute jalan darat, melewati Hungaria sampai tiba pertama di Konstantinopel pada akhir Desember 1096 M. Kedua, pasukan yang dipimpin oleh Bohemond dari Otranto, seorang Norman dari Italia Selatan, anak dari Robert Guiscard. Bohemond sampai di Konstantinopel pada tangggal 9 april 1097 M. Ketiga, pasukan yang dipimpin oleh Raymond of Saint-Gilles seorang pangeran dari Toulouse. Pasukan Raymond ini merupakan tentara salib paling besar. Raymond dan pasukannya sampai di Konstantinopel pada 27 april 1097 M. Keempat, pasukan yang berada di bawah pimpinan Robert dari Flanders.

Sebenarnya ada gelombang kelima, yang tidak akan berkumpul di Konstantinopel tetapi langsung menunggu Tentara Salib di Asia Kecil. Dan gelombang kelima itu tidak perlu diumumkan, tetapi semua tentara sudah memahaminya dengan baik. Yakni Syiah Fatimiyah. Sesuai dengan perjanjian Antara Syiah Fatimiyah dan Tentara Salib, Syiah bakal menunggu di Asia Kecil [Syam] dan siap membantu untuk membantai umat Islam dalam rangka memuluskan jalan Tentara Salib tiba di Al Quds. Dan merampasnya dari tangan Khalifah Islam Turki Seljuk!
Kekuatan besar dari empat pasukan inti perang salib pertama telah berkumpul di Konstantinopel antara bulan Desember 1096 sampai Mei 1097 M. Jumlah mereka diperkirakan 30.000 orang. Tentara Kristen ini kemudian menyeberang ke Asia Kecil. Dan mereka jelas bukanlah rakyat biasa yang kemudian dipersenjatai. Tetapi mereka benar benar kesatria pemanah yang dipimpin oleh komandan militer tangguh dan berpengalaman tempur dari negeri-negeri yang menjadikan perang sebagai olah raga di Eropa. Mereka kemudian melalui perjalanan panjang dan sulit, melalui Syam [Asia kecil]. Di Asia kecil yang merupakan daerah kekuasaan kesultanan Saljuk Rum, terjadi sebuah pertempuran yang besar. Tentara Syiah Fatimiyah dan Salib menyerbu ibukota Seljuk Rum, Nicea. Kedua pasukan saling berhadapan selama satu bulan. Namun kemenangan ada ditangan Tentara Salib. Dalam perang satu bulan ini, Tentara Salib dan Syiah Fatimiyah berhasil menguasai ibu kota Nicea. Dan melajulah mereka ke Dorylaeum. Di Dorylaem pun Seljuk tidak mampu menahan serangan Tentara Salib.

Setelah kemenangan di Nicea dan Dorylaem, pasukan perang salib meninggalkan Asia kecil menuju negeri Palestina. Sementara pasukan Syiah Fatimiya membereskan kekacauan di Nicea dan Mereka berencana untuk mengamankan rute ziarah Kristen Eropa ke tanah suci Yerussalem. Dan akhirnya tibalah mereka di kota Eski-Syahr [tempat pertamakali Tentara Salib gelombang pertama mengalami kekalahan].

Sultan Qilij Arslan kemudian memindahkan pusat pemerintahan dari Niceae ke Konya. Kemudian Arslan menyambut mereka dengan serangan besar. Awalnya Qilij mampu memorak porandakan pasukan Salib. Bangsa Kristen Frankaa dibuat ketakutan serta putus harapan oleh Muslim Turki. Namun, secara mendadak satu detasemen lain Tentara Salib tiba di Eski-Syahr dan membangkitkan kembali semangat tempur mereka. [Bisa jadi itu adalah pasukan Syiah Fatimiyah yang dating membantu]. Situasi pertempuran pun berubah, Tentara Salib telah bangkit dan mengimbangi serangan muslim Turki Seljuk. Secara mendadak, mereka mampu mencerai beraikan garis pertahanan, bahkan menghancurkan muslim Turki di kota Eski-Syahr. Sultan Qilij Arsenal pun terpaksa harus kembali mengakui keunggulan Tentara Salib.
Begitulah, dengan dibantu Syiah, Tentara Salib sukses menaklukkan seluruh daerah pantai hingga Baitul Maqdis [Ibnu katsir]. Daerah kekuasaan kaum muslim saat itu hanya Halaba [Aleppo] Hamat, Hamsh, dan Damaskus dengan sebagian pegawainya.

Setelah kemenangan di Nicea dan Eski-Syahr, Tentara Salib dibagi menjadi dua detasemen. Baldwin dan Tancred memimpin satu detasemen bergerak ke barat melalui Sicilia, sementara Bohemond dan Raymond beserta satu detasemen lain lebih memilih bergerak menuju Palestina.
Setelah menyebrang gunung Taurus, satu detasemen Tentara Salib dibawah pimpinan Baldwin berjalan memutar kedaerah Timur yang dihuni oleh umat Kristen Armenia. Tentara Salib mampu merebut kota Edessa karena mereka memanfaatkan penduduk kota itu yang mayoritas penduduknya orang-orang Armenia, sedangkan kaum muslimin merupakan penduduk minoritas.

Armenia sekarang terletak antara Turki, Georgia, Azerbaijan dan Iran serta eksklave Nakhichevan. Pada 301 M, Armenia menjadi negara pertama di dunia yang mengakui Agama Kristen sebagai agama resmi suatu Negara. Mayoritas bangsa Armenia termasuk Gereja Apostolik Armenia. Populasi orang Armenia cukup banyak di Al Quds yang menjadikan mereka memiliki wilayah tersendiri di Al Quds. Sekarang ini, disekitar Masjdil Aqsha, ada 3 wilayah kependudukan yang masing masing ditempati komunitas Islam, Yahudi dan Armenia.
Dalam kitabnya, Ibnu Katsir menulis orang Armenia berkali kali melakukan pengkhianatan terhadap Islam.
Atas kemenangannya itu, Baldwin kemudian menjadikan Edessa sebagai Kerajaan Salib I di Timur.[Ajat Suderajat. Perang salib dan kebangkitan kembali ekonomi Eropa. Yogyakarta: Leutika. 2009. hal, 67]
Tentara Salib lain di bawah pimpinan Bohemond dan Raymond kemudian lebih memilih bergerak menuju Palestina. Pasukan ini melakukan tugas untuk membersihkan pasukan muslim Turki di Syria, Libanon, hingga Palestina.
Imam Ibnu Katsir menulis dalam kitabnya : “kemudian bangsa Eropa tiba dan menyerang wilayah Syam. Orang-orang Syiah membantu mereka dengan bala tentara beserta berbagai senjata. Setelah melewati peperangan dahsyat, akhirnya pasukan Salib sampai kepada pengepungan Baitul Maqdis”.

Begitulah, Para tentara Syiah Fatimiyah telah disebar di tanah Syam, untuk turut serta membantu Tentara Salib menghabiskan umat Islam. Sehingga Tentara Salib itu bisa mulus mencapai Baitul Maqdis. Sungguh sebuah persekutuan Iblis!
Sebagai langkah pertama mereka harus menaklukan Antiokia. Saat itu Antiokhia dikuasai oleh Atabeg Turki Seljuk bernama Yaghi Siyan asal Armenia. Bohemond dan Raymond segera menentukan formasi serangan, kemudian memberikan aba-aba bahwa perang dimulai.

Tentara Salib dan Muslim pun tumpah ke medan perang dengan satu tujuan, menentukan siapa yang pantas sebagai pihak pemenang. Tetapi kemudian Yaghi Siyan berkhianat. Orang Armenia itu membuka pintu gerbang jembatan Antioch. Dan jatuhlah Antiokhia oleh Atabegnya sendiri. Tragis.

Pada tahun ini bangsa Frankas menguasai kota Anthakia setelah melakukan pengepungan secara ketat Muwathah, yang di dalamnya sebagian orang yang sangat gigih mempertahankan loteng-loteng. Para pemiliknya melarikan diri, yakni Yaghi Siyyan, di tengah-tengah sekelompok kecil orang. Di tengah jalan ia merasa menyesal yang teramat-sangat atas perbuatannya, maka ia pingsan sehingga terjatuh dari kudanya. Ketika itu para sahabatnya meninggalkan dirinya. Kemnudian datang seorang penggembala kambing dan memotong kepalanya.
Dengan kemenangan ini, berdirilah Kerajaan Salib Antiokhia yang merupakan Kerajaan Salib II setelah Edessa. Kota terbesar di Suriah jatuh ketangan Bohemond, karena pengkhianatan orang Armenia yaitu Firuz yang menyerahkan salah satu benteng kota kepada tentara Salib. Raymond dari Toulouse merupakan pemimpin terkaya di Frankaa. Setelah menduduki Ma’arrat al-Nu’man, tentara Raymon meninggalkan kota pada 13 januari 1099, setelah membunuh sekitar 100.000 penduduknya dan membumihanguskan kota itu. Pangeran Raymon kemudian menduduki benteng Akrad, ia memerintahkan untuk membuat parit diantara Orontes dan laut tengah ( mediterania ).
Di Edessa dan Antiokia, Tentara Salib mulai membuat garis pertahanan Kristen di Timur tengah. Melalui dua kerajaan itu mereka mengadakan perencanaan lebih lanjut, terutama usaha usaha untuk menguasai Palestiana. Setelah merasa cukup istirahat, mereka mengumpulkan kekuatan serta melahirkan optimisme baru. Raymon kemudian bergabung dengan tentara Godfrey dalam barisan menuju Yerussalem yaitu sebuah lokasi paling suci di muka bumi, tempat yesus kristus dikebumikan.

Dalam perjalanan ke selatan, mereka melewati kota Ramalah yang ditinggalkan tanpa penguasa dan kemudian dijadikan daerah kekuasaan bangsa latin yang pertama di Palestina. Tentara Salib terus bergerak ke Yerussalem dengan dipimpin oleh Godfrey.Setelah beristirahat dan melakukan reorganisasi, Tentara Salib berangkat menuju tujuan akhir mereka, Al Quds. Jumlah mereka sekarang berkurang menjadi sekitar 1.200 kavaleri dan 12 ribu tentara.
Seluruh umat Islam, baik Abbasiyah maupun Turki Seljuk yang saat itu menguasai Al Quds, kedatangan Tentara Salib direspon dengan semangat jihad yang membara. Bagi umat Islam, mempertahankan Masjidil Aqsha adalah seperti mempertahankan Kabah. Keduanya adalah tanah suci lambang marwah Agama Islam. Tetapi ada kelompok yang selalu ingin disebut Islam, tetapi malah menyambut Tentara Salib dengan senang. Itulah Daulah Fatimiyah yang Syiah. Kedatangan Tentara Salib yang menguasai negeri negeri Islam, adalah laksana hadiah dan bala bantuan bagi Daulah Syiah Fathimiyah.

 

Wallahu a’lam bishowab

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ ♥ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ♥ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ ♥ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ♥ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

Teror & PengkhianatanSyiah Terhadap DuaMasjid Suci [1]
Teror & PengkhianatanSyiah Terhadap DuaMasjid Suci [2]
Teror & PengkhianatanSyiah Terhadap DuaMasjid Suci [3]
Teror & PengkhianatanSyiah Terhadap DuaMasjid Suci [4]