بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Begitu Mesir dikuasai Fatimiyah, segera ajaran Syiah menjadi agama resmi Mesir. Syiah Fatimiyah kemudian membangun sebuah ibukota baru bagi Daulah Syiah. Kota itu bernama al Manshurah, tetapi akhirnya diganti menjadi al Qahirah [Sang Penunduk]. (al Khithtath, 1/273).

Selanjutnya, mereka juga membangun masjid baru yang berfungsi sebagai pusat penyiaran ajaran Syiah, yakni Masjid al Azhar. [Tetapi kelak, masjid ini justru menjadi pusat syiar Islam terbesar dan terpenting di dunia]. Juga membangun istana tempat tinggal khalifah yang lokasinya kini berada di lokasi Masjid Husain dan Khan al Khalili. [Tarikh Daulah Al Fathimiyah, hal 531]
Jatuhnya Ikhshidiyah, tidak serta merta membuat wilayah kekuasaan khsyidiyah juga jatuh begitu saja kepada Daulah Fatimiyah. Ikhshidiyah yang menguasai Mesir, Baitul Maqdis, Syam dan Tanah Hijaz, hanya menyerah di Mesir. Tetapi di Baitul Maqdis, Syam dan Hijaz mereka masih memiliki kekuatan. Itulah sebabnya Daulah Fatimiyah hanya bisa mengalahkan Ikhshidiyah di Baitul Maqdis, dan beberapa tempat di Syam. Tetapi tidak di Hijaz.
Dan bagaimana dengan kehidupan Islam di Mesir dengan Syiah sebagai penguasa? Seperti pada negeri lainnya yang mereka kuasai, di Mesir pun orang orang Syiah melakukan intimidasi terhadap orang orang Islam. Para ulama Islam mereka paksa menyebutkan nama nama kahlifah Fatimiyah dalam setiap khutbah Jumat.
Di Mesir, Fatimiyah mulai melakukan perubahan sistem negara sesuai dengan ajaran Syiah. Pengadilan dan fatwa harus menganut ajaran Syiah serta menentang segala hal yang bertentangan dengan ajaran Syiah. (al-Khithath, 4/136). Saat itu qadhi agung dijabat oleh hakim Sunni, Qadhi Abu Thahur ad-Duhli, yang ditunjuk oleh Baghdad. Namun setelah Abu Thahur sakit dan meninggal, maka jabatan qadhi agung hanya boleh dipegang kalangan Syiah. (Hushn al-Muhadharah, 2/11). Di awal masuknya Fatimiyah ke Mesir, lafaz azan shalat untuk masjidmasjid resmi sudah diubah. Jika sebelumnya dikumandangkan “hayya ‘alal-falah”, maka kemudian diganti dengan “hayya ‘ala khairil-amal” sesuai dengan ajaran Syiah. Fathimiyah juga menggugurkan shalat tarawih karena menurut ajaran Syiah tidak ada shalat jamaah kecuali shalat lima waktu. (al-Khithath, 4/156, 157)
Hari raya Ghadir Khum dirayakan pertama kali di Mesir pada tahun 362 H. Ini diyakini oleh para penganut Syiah sebagai hari dimana Rasulullah SAW mewasiatkan kekhalifahan kepada Sahabat Ali bin Abi Thalib RA. Perayaan ini pun sempat membuat para penganut Sunni marah. (al Khithath, 3/232). Mereka juga bersikap ghuluw (berlebihan) para da`i terhadap Ubaidillah al Mahdi (yang dianggap Nabi, bahkan Tuhan), berlaku dzalim terhadap orang Sunni, mengeksekusi setiap yang bersebrangan dengan pendapatnya, guru guru Sunni dilarang mengajar, mencurigai dan melarang berbagai bentuk perkumpulan, melenyapkan karangan Ahlus Sunnah, membekukan beberapa syari`at, dan tindakan anarkis lainnya (baca: Shalahuddin al Ayyubi wa Juhūduhu fi al-Qadhā `alā al-Daulah al-Fāthimiyah wa Tahrīru Baiti al-Maqdis, karya Syeikh Muhammad Shallābi).
Benih Benih Perang Salib Mulai Tertanam
Jatuhnya Mesir ke tangan Fatimiyah, membuat Ikhshidiyah bagai kehilangan kedua kakinya. Jadi ketika Fatimiyah menyerang Al Quds, tak ada perlawanan berarti yang diberikan Ikhshidiyah, sehingga Al Quds jatuh dengan mudah. Tetapi kapan persisnya Fatimiyah mulai memerintah di Al Quds, tidak ada catatan sejarah yang pasti. Kita ambil saja kesimpulan bahwa Fatimiyah menguasai Al Quds pada sekitar tahun 972 M [tahun berikutnya setelah Fatimiyah menjatuhkan Ikhshidiyah].
Setelah menaklukkan Al Quds, pada 381 H/ 991 M Abu Tamim [pemimpin Fatimiyah saat itu] langsung menuju Aleppo [Halaba], dan berhasil merebut Homz dan Syaizar dari tangan Ikhshidiyah. Tetapi mereka tidak bisa melaju ke Hijaz. Emir Hijaz masih terlalu kuat untuk ditaklukkan Syiah Fatimiyah. Sehingga tanah Hijaz tetapi dipegang oleh Khilafah Abbasiyah.
Pada masa kekuasaan Abu Tamim, ia menjalankan pemerintahan Mesir dan Al Quds dengan baik. Artinya pembangunan fisik dilakukan dimana mana. Sejalan dengan itu, syiar Syiah juga terus digaungkan dan disemarakkan.
Khalifah Syiah selanjutnya, Abu Mansur Nizar al ‘Aziz billah [975 M-996 M] bahkan berhasil membawa Syiah Fatimiyah pada puncak kejayaannya. Ia berhasil menempatkan Fatimiyah sebagai lawan tangguh bagi Kekhalifahan Islam Abbasiyah di Baghdad. Meski tetap tak mampu mengalahkan Abbasiyah, sama seperti Qaramithah dan Buwaihidah. Masalah baru timbul setelah Abu Tamim meninggal dan digantikan oleh Abu ‘Ali al Masur Al Hakim bi Amrullah [996 M-1021 M]
Ketika diangkat menjadi khalifah Abu ‘Ali yang biasa disebut Al Hakim, baru berumur 11 tahun [Iapun mati muda pada usia 25 tahun]. Menilik dari usianya yang masih amat muda, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa [minimal di awal] pemerintahannya, Al Hakim lebih banyak menjalankan pemerintahan atas dasar saran dari para wazir atau kerabatnya. Dan para wasir itu saling sikut untuk mendapatkan kepercayaan Al Hakim. Tindakan pembunuhan atas wazir banyak terjadi pada masa Al Hakim. Melihat besarnya kekuasaan wazir, mereka kemudian mendapat julukan kebangsawanan Al Malik. Para Al Malik ini menjadikan pemerintahan Al Hakim berjalan dengan tangan besi. Masanya dipenuhi dengan tindak kekerasan dan kekejaman. Di Mesir, ia menyiksa orang orang selain dari Syiah Ismailiyah termasuk juga orang orang Yahudi dan Kristen.
Salah satu ‘kebijakannya yang amat buruk’ adalah ketika ia meng’impor’ budak budak dari Sicasse, Turki dan Negro [suku Berber] untuk dijadikan tentara. Seperti yang juga dilakukan Abbasiyah. Tetapi Syiah Fatimiyah kemudian tidak mampu mengontrol tentara tentara ini. Yang kelak, mereka menjadi sumber konflik yang berujung pada penggulingan kekuasaan Syiah Fatimiyah.
Ketika Mesir secara umum tidak bisa dikendalikan atas berbagai kejahatan yang tejadi, maka itu pulah yang terjadi di Al Quds. Disana pemerintahan Syiah Fatimiyah betul betul buruk. Tidak ada control yang jelas dan tegas karena para wazir hanya sibuk memperkaya diri sendiri ditambah khalifah yang tidak punya wawasan kepemimpinan yang tegas, membuat hukum di Al Quds berjalan dengan semena mena. Al Quds jelas berbeda 180 derajat dengan Mesir. Di Mesir, bolehlah Syiah Fatimiyah melakukan syiar syiah dengan masiv dan memaksa. Karena pusat pemerintahan mereka memang di Mesir. Seluruh perangkat hokum dan kekuasaan mereka kuasai penuh. Dan yang jelas, yang akan menerima akibatnya adalah umat Islam, yang kita sudah paham bagaimana buruknya Syiah. Kita juga paham, bahwa Syiah bukan Islam. Tetapi ketika itu dilakukan di Al Quds, yang notabene warganya plural, ada komunitas Yahudi, Nasrani dan Islam. Maka hasilnya menjadi sangat buruk. Mereka yang non Islam, akan menduga bahwa Fatimiyah itu Islam. Mereka tidak paham sama sekali, bahwa Syiah itu bukan Islam. Jadi ketika Syiah yang melakukan keburukan itu, Islam-lah yang menanggu akibatnya. Kalaupun ada Yahudi atau Nasrani yang paham bahwa Syiah itu bukan Islam, mereka juga akan menyikapinya sama seperti dengan sikap mereka yang tidak paham.
Tidak jelas siapa yang memerintahkan hal ini [apakah dari keinginan Al Hakim sendiri atau ada Al Malik yang membisiki], tetapi sejarah mencatat bahwa tahun 1009 M, Syiah Fatimiyah menghancurkan beberapa gereja kristen, termasuk Gereja Makam Suci [yang di dalamnya terdapat makam Yesus]. Maklumat penghancuran Kuburan Suci ini ditandatangani oleh sekretarisnya yang beragama Kristen, Ibn Abdun. [History of The Arabs, Hal: 792].
Tentu saja perlakuan buruk itu diterima dengan perasaan marah dan terhina oleh Dzimmi [non muslim : Kristen dan Yahudi]. Tetapi posisi mereka amat lemah di Al Quds, sehingga mereka tidak bisa berbuat apa apa kecuali menelannya dengan pahit.
Kabar tentang reputasi buruk seorang penguasa Islam tertentu—yakni khalifah keenam Dinasti Fatimiyah, al Hakim, juga sampai ke Eropa (Hillenbrand, 2006:21). Ia melakukan penyiksaan terhadap umat Kristen yang tinggal di wilayah kerajaannya, yang membentang hingga Suriah dan Palestina, mencapai puncaknya dengan penghancuran Gereja Makam Suci di Yerusalem pada 1009-1010 M. Tindakan ini dianggap sebagai faktor pendorong meningkatnya keinginan kaum Kristen Eropa untuk melancarkan Perang Salib Pertama dan menyelamatkan apa yang mereka anggap sebagai tempat-tempat suci umat Kristen yang sedang berada dalam bahaya.
Ratusan tahun sejak Al Quds ditaklukkan Islam pada 637 M [oleh Khulafaur Rasyidin Umar bin Khattab] selama itu pula kehidupan umat beragama di Al Quds berjalan dengan baik dan damai. Baik Islam, Kristen dan Yahudi, kesemuanya diberikan aturan yang adil, tidak ada hak yang tecederai. Yahudi yahudi itu bebas melakukan ibadah di Tembok Ratapan dan sinagog mereka. Begitu pula umat Kristiani bebas ibadah di gereja suci mereka. Dan semua itu berjalan selama 335 tahun!
Lalu kemudian Al Quds dikuasai Syiah dan mulailah satu demi satu masalah terjadi dan menimbulkan masalah serius dengan implikasi yang mengerikan. Aturan hidup beragama yang semula adil dan tepat bagi pemeluk agama Islam, Kristen dan Yahudi, diubah oleh Syiah dengan menerapkan aturan yang ketat kepada non muslim. Semua itu membangkitkan kembali rasa tidak suka dan benci orang orang Kristen [dan Yahudi tentu1] kepada Islam. Mereka yang sudah merasa damai dengan Islam, akhirnya ingat kembali bahwa mereka selalu membenci orang orang Islam. Mereka juga ingat kembali bagaimana wilayah Kristen satu persatu jatuh ke tangan Islam. Dari sini kita paham, kemarahan dan kebencian itu kelak terakumulasi pada pembentukan Tentara Salib.[History of the Arabs (terj); Philip K. Hitti; Serambi; Jakarta; 2006; cet.II; 792]
Tidak cukup hanya merusak Gereja Makam Suci, Al Hakim [atau para wazirnya] memaksa umat Kristen dan Yahudi memakai jubah hitam, dan mereka hanya diperbolehkan menunggangi keledai. Setiap orang kristen diharuskan menunjukkan salib yang dikalungkan dilehernya, sedangkan orang Yahudi diharuskan memasang semacam tenggala berlonceng. Dan banyak orang orang Yahudi dan Nasrani yang dibunuh dan aturan aturan tidak ditegakan dengan konsisten. Pemerintahan Syiah juga dengan mudah membunuh orang yang tidak disukainya, bahkan pernah membakar sebuah desa tanpa alasan yang jelas. Dan ingat, orang Islam adalah orang yang tidak mereka sukai [bahkan mereka benci!], jadi, pada era itu, bukan hanya Yahudi dan Nasrani, orang Syiah Fatimiyahpun membunuhi orang Islam!
Sebagai Muslim, kita tidak aneh dengan kelakuan keji orang orang Syiah itu. Lebih dari itupun kita tidak aneh. Bukankah sejak 891 M, ketika Syiah Qaramithah berkuasa di Bahrain, mereka terus melakukan serangkaian pembantaian terhadap umat Islam, dan jutaan muslim terbunuh dalam kurun waktu kekuasaan Qaramithah ? Dan kita tidak akan lupa ketika pada 928 M Syiah Syiah itu tega menyerang Mekah saat musim haji, melakukan pebantaian, mencongkel Hajar Aswad dan membawanya kabur ke Hajar. Begitulah prilaku keji Syiah.
Al Hakim tidak hanya membakar Al Quds, tetapi ia juga memercikkan api di Aleppo [Syam]. Di Syam, Al Hakim juga tidak mampu menjalankan pemerintahan dengan baik, sehingga tampaknya menimbulkan insiden tidak menyenangkan bagi Romawi Timur [Byzantium] di Aleppo. Romawi Timur saat itu Kaisarnya bernama Basileios II [dinasti Makedonia, 976 M – 1025 M]. Insiden ini menyeret Syiah Fatimiyah untuk bersitegang pertama kali dengan Romawi Timur. Tapi Al Hakim segera menyadari bahwa ia tidak akan mungkin menang melawan Basileios II. Meski memiliki jumlah angkatan perang yang mumpuni, tetapi tidak ada panglima perang yang bisa diandalkan. Apalagi dirinya sendiri tidak punya pengalaman apapun dalam masalah militer. Sementara warisan wilayah kekuasaan yang harus ia jaga, amat lumayan luas untuk ukuran Al Hakim.
Romawi Timur sendiri, dibawah Basileios II, saat itu sedang mencapai puncak kejayaannya. Basilieios II dikenal sebagai Pembunuh Bulgar karena mampu mengalahkan Bulgaria, musuh utama Eropa. Pada kematiannya, Kekaisaran Romawi Timur membentang dari Italia Selatan ke Kaukasus dan dari Danube ke perbatasan Palestina.
Jadi tidak mengherankan bila Khalifah Syiah yang muda belia itu memilih untuk ‘berdekat dekatan’ dengan kerajaan Kristen Romawi Timur. Lagipula buat Syiah, apapun bersedia mereka lakukan sepanjang mereka bisa mempertahankan kekuasaan. Bahkan bersekutu dengan Iblispun mereka tidak akan keberatan. Apalagi cuma musuh utama Islam saat itu, yakni Romawi Timu. Bagi Barat, inilah kontak penuh damai dan persahabatan pertama yang terjalin Antara Kristen dan Islam. Tetapi tentu kita menolak pernyataan itu. Karena kita tahu, Syiah bukanlah Islam, dan tak berhak menyebut diri Islam. Dan buah dari hubungan dekat ini adalah Al Hakim berhasil mengadakan perjanjian damai dengan Romawi Timur selama sepuluh tahun.[ Ensiklopedi Tematis Dunia Islam; Taufik Abdullah dkk (ed); Ichtiar Baru van Hoeve; Jakarta; Jilid 2; 135.] Kedepan, kita akan sama sama tahu bahwa pesekutuan itu kerap terjadi jika Syiah sudah merasa terdesak dan nyaris kehilangan Mesir. Sebagai bentuk proteksi, Syiah akan bersekutu dengan Romawi Timur.
Segera setelah Al Hakim berdamai dengan Basileios II, maka perlakuan buruk terhadap dzimmi [peziarah non muslim] berhenti. Kita tahu bahwa perusakan gereja, atau memaksa umat Kristen dan Yahudi memakai jubah hitam dan seterusnya, menjadi hilang sama sekali. Dan kehidupan di Al Quds, segera menjadi nomal. Tetapi kita juga tahu, Paus di Roma, mencatat semua itu dengan baik dan rapi. Untuk sewaktu waktu catatan itu akan dibuka kembali kelak.
Al Hakim kemudian memilih mengikuti perkembangan ekstrem ajaran Ismailiyah, dan menyatakan dirinya sebagai penjelmaan Tuhan. [Keyakinannya ini kemudian diterima dan diakui oleh sekte Drusiyah (Druze)] Ia meninggalkan istana dan berkelana hingga akhirnya terbunuh di Mukatam pada 13 Pebruari 1021 dalam usia 25 tahun. Kemungkinan ia dibunuh oleh persekongkolan yang dipimpin adik perempuannya, Sitt al Muluk, yang telah diperlakukan tidak hormat olehnya.[History of the Arabs (terj); Philip K. Hitti; Serambi; Jakarta; 2006; cet.II; 793]
Ibnu Katsir menulis bahwa di tengah tengah kekuasaannya, yakni pada tahun 1017 M/ 408 H. Al Hakim Biamrillah yang mengklaim bahwa dirinya adalah Tuhan. Lalu berbuat kehinaan ketika dia berniat memindahkan makam Rasulullah ﷺ dari kota Madinah ke Mesir sebanyak 2 kali. Yang pertama adalah ketika dia disuruh oleh beberapa orang zindik untuk memindahkan jasad Rasulullah ﷺ ke Mesir. Lalu Al Hakim membangun bangunan yang megah sebagai makam baru Rasulullah ﷺ. Lalu ia menyuruh Abul Fatuh untuk membongkar makam Rasulullah ﷺ. Untunglah masyarakat mengetahuinya dan mereka memberontak, dan gagallah usaha itu. Tetapi Al Kamil tidak putus asa. Ia mencoba lagi untuk kali kedua. Kali ini ia mengutus beberapa orang untuk membongkar makam Nabi. Utusan ini tinggal didekat mesjid lalu kemudian dia membuat lubang bawah tanah yang menuju makam Rasulullah ﷺ. Namun makar menjijikkan inipun ketahuan dan utusan tersebut dibunuh.

Setelah Al Hakim terbunuh, ia digantikan oleh anaknya sendiri, Abu’l Hasan ‘Ali Az Zahir li I’zaz Dinillah [996 M – 1021 M]. Ketika diangkat menjadi khalifah ia jauh lebih muda dibanding ayahya dulu. Saat itu ia baru berumur 16 tahun. [Tetapi data ini cukup aneh. Karena jika anaknya mulai memerintah pada usia 16 tahun, itu artinya pada usia 9 tahun Al Hakim sudah punya anak! Tetapi apapun itu, yang jelas pengganti Al Hakim, tidak lebih baik dari Al Hakim sendiri]
Abu’l Hasan ‘Ali atau biasa dipanggil Az Zahir [berkuasa dari 1021 M – 1036 M] mengikuti gaya ayahnya dalam memimpin. Ia tidak melakukan penaklukkan apapun kecuali menjaga wilayah kekuasaan yang ada. Ketika ayahnya Al Hakim pada akhirnya berdamai dengan Romawi Timur, Basileios II, ia pun mengikutinya. Maka, Syiah dan Kisten Romawi Timur semakin dekat dan mesra. Sebagai pengikat hati, Az Zahir mengijinkan pihak Kristen untuk memperbaiki Gereja Makam Kudus yang kemarin sempat di rusak pada era sang ayah. Dan Basileios II, untuk mengikat kaki dan tangan Syiah lebih jauh, Kaisar Romawi Timur yang pada saat itu dipegang oleh kaisar Konstantin VIII, mengijinkan nama Az Zahir ikut disebut pada masjid masjid yang ada dibawah kekuasaan sang Kaisar. Tidak jelas siapa yang meninginginkan dan siapa yang punya ide. Tidak jelas juga apa maksud nama Az Zahir ikut disebut. Apakah artinya semua masjid namanya bakal ditambah dengan Az Zahir atau hanya jadi ungggah unggah [sopan santun] saja? Entahlah. Tetapi yang jelas, Az Zahir mendapat izin untuk memperbaiki masjid yang berada di Konstantinopel. Dan itu jelas sekali artinya, bahwa Syiah sudah mulai masuk dan tersiar di Konstantinopel!
Pada saat itu kita lihat kedua belah pihak mulai saling merapat, tetapi masih dalam posisi saling menjajagi, sampai sejauh mana gencatan damai itu bisa berjalan. Karena pada dasarnya baik Romawi Timur dan Syiah Fatimiyah sama sama menyadari, suatu saat keduanya akan saling berhadapan.
Fatimiyah Berubah Menjadi Bersifat Parlementer
Kemudian Az Zahir mati tahun 1036 M pada usia 30 tahun. Anaknya yang masih berusia 7 tahun menggantikannya menjadi Khalifah Syiah. Abu Tamim Ma’add al-Mustansir bi-llah [1036 M – 1094 M].
Itu artinya sudah 3 kali kepemimpinan, Syiah Fatimiyah selalu dipegang oleh bocah bocah polos yang tak paham apa apa. [Jaih Mubarok, Sejarah Peradapan Islam, (Pustaka Bani Quraisy).106] Tidaklah mengherankan bila para Al Malik itu semakin memiliki posisi penting dalam pemerintahan. Akibatnya system pemerintahan Daulah Fatimiyah berubah menjadi parlementer. Artinya khalifah hanya berfungsi sebagai simbol saja, sementara pemegang kekuasaan pemerintahan adalah para menteri. Oleh karena itulah masa ini disebut ahdu nufuzil wazara [masa pengaruh menteri menteri].[Ensiklopedi Islam; Mukti Ali dkk; Departemen Agama RI; 1988; Jilid 1; 287]
Dan Abu Tamim Ma’ad al Mustanshir [kerap disebut Al Mustanshir] seperti juga ayahnya Az Zahir, memiliki darah Turki yang dominan [bisa jadi karena ibu mereka adalah berbangsa Turki, dan bukan Arab]. Hal ini memunculkan dua kekuatan besar yaitu Turki dan Barbar. Perang saudarapun tidak dapat dielakan. Setelah meminta bantuan Badrul Jamal dari Suriah, khalifah dan orang Turki dapat mengalahkan Barbar, dan berakhirlah kekuasaan orang Barbar di dalam Dinasti Fatimiyah.[Ensiklopedi Islam; Mukti Ali dkk; Departemen Agama RI; 1988; Jilid 1; 287]

Wallahu a’lam bishowab

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ ♥ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ♥ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ ♥ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ♥ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

Teror & PengkhianatanSyiahTerhadap DuaMasjid Suci [1]
Teror & PengkhianatanSyiah Terhadap DuaMasjid Suci [2]
Teror & PengkhianatanSyiah Terhadap DuaMasjid Suci [3]
Teror & PengkhianatanSyiah Terhadap DuaMasjid Suci [4]