بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Teror & Pengkhianatan Syiah Terhadap Dua Masjid Suci

Oleh : Ika Rais, Mantan Jurnalis, Pemerhati Sejarah Baitul Maqdis. Tulisan ini adalah bagian dari sebuah tulisan yang berjudul : Mozaik Sejarah Baitul Maqdis, Mulai dari Nabi Adam Hingga Sekarang

Imam Malik, guru Imam Syafi’i berkata tentang Syiah, “Jangan kamu berbincang dengan mereka, dan jangan pula meriwayatkan hadits dari mereka, karena sungguh mereka itu selalu berdusta.” (Lihat Minhajus Sunnah)

Pengkhianatan dan kekejian Syiah senantiasa berulang dari masa ke masa. Sejak awal dibuatnya ajaran Syiah oleh Abdullah bin Saba, seorang Yahudi, Syiah selalu saja tak henti hentinya berbuat kekejian terhadap umat Islam. Dan bila dihitung secara keseluruhaan, jumlahnya akan sangat banyak. Sebanyak kata cacian dan hujatan yang keluar dari mulut mereka terhadap para sahabat Rasulullah ﷺ. Tetapi ironisnya, sedikit dari kita yang mengetahui tentang fakta fakta itu. Bisa jadi karena fakta itu tertutupi, tetapi mungkin saja kita sendiri yang malas menggali fakta dan data dari sumber sumber Islam. Padahal penting bagi kita untuk paham sejarah kelam mereka. Dengan begitu, kita tidak akan mudah diperdaya oleh mulut Syiah yang memang selalu memutarbalikkan fakta dan berdusta.
Mengingat begitu panjangnya sejarah terror dan pengkhianatan Syiah, maka kita akan batasi hanya tentang terror dan pengkhianatan Syiah terhadap dua masjid suci Islam. Yakni Masjidil Haram dan Masjidil Aqsha. Karena sikap Syiah terhdap dua masjid itu, menjadi titik sikap yang jelas untuk menentukan, apakah mereka memang muslim sejati, seperti yang selalu mereka gembar gemborkan. Atau itu semakin membuktikan bahwa mereka memang kaum binaan Yahudi yang selalu bernafsu untuk menghabisi umat Islam?
Dan untuk mendapatkan data dan fakta tentang ini, tidak ada jalan lain bagi kita, kecuali menggalinya dari kitab kitab yang ditulis oleh ulama ulama terdahulu. Karena percayalah, kita tidak akan pernah mendapatkan data kekejian Syiah terhadap dua masjid suci, kecuali itu tercantum pada kitab para ulama terdahlulu. Tidak akan pernah. Bisa jadi ada yang diungkap ke permukaan oleh penulis Barat, tetapi data itu kebanyakan bias atau malah bertolak belakang. Dan bila terjadi perbedaan, maka tidak ada jalan lain bagi kita, kecuali satu. Yakni hanya mengambil data dan fakta dari kitab ulama terdahulu. Karena, untuk apa kita mengambil sumber dari penulis yang menolak percaya pada Allah dan RasulNya? Jauh lebih baik, lebih aman dan lebih benar jika kita mengutipnya dari kitab sejarah yang ditulis ulama ulama.
Dan dari sekian banyak kitab sejarah, kita akan mengambil kitab Bidayah wan Nihayah sebagai referensi dan sumber utama. Kitab ini, ditulis oleh Ibnu Katsir. Nama asli Ibnu Katsir adalah Ismail bin Katsir (Arab: إسماعيل بن كثير‎). Ia mendapat gelar : Ismail bin Umar Al Quraisyi bin Katsir Al Bashri Ad Dimasyqi, Imaduddin Abu Al Fida Al Hafizh Al Muhaddits Asy Syafi’i. Ia adalah seorang pemikir dan ulama yang lahir pada tahun 1301 M di Busra, Suriah dan wafat pada tahun 1372 M di Damaskus, Suriah.
Jadi, ia bukan Cuma ulama, tetapi ia juga saksi hidup dari peristiwa peristiwa yang terjadi antara tahun 1301 hingga 1372 M. Dan segala sesuatu yang terjadi pada tahun tahun yang berdekatan dengan tahun kehidupannya.
Teror dan pengkhianatan Syiah segera menjadi meningkat begitu Syiah mampu memiliki daulahnya sendiri. Kekejian yang mereka lakukan semakin berani dan terorganisir. Pebantaian demi pembantain terus mereka lakukan terhadap umat Islam begitu dasyat dan melinukan hati. Dan daulah Syiah yang akan kita kaji kali ini hanya daulah yang berdiri paling awal saja.

Dan ada 3 daulah Syiah awal yang pernah berkuasa di dunia, yang sekarang ini nyaris dilupakan umat Islam. Padahal mengetahui pengkhianatan dan kekejaman Syiah pada 3 daulah ini, akan lebih memberikan pemahaman pada kita, bahwa memang sejarah Syiah adalah sejarah pembantaian umat Islam. Dan bahwa dimanapun Syiah bercokol, maka tujuan utama mereka hanyalah satu. Yakni, menjadikan wilayah itu sebagai wilayah Syiah. Dan bila kita membaca secara jeli fakta fakta kekejian dan pengkhianatan Syiah, maka akan kita dapati bahwa tujuan utama mereka, sejatinya adalah bukan hanya menjadikan suatu wilayah Islam menjadi wilayah Syiah, tetapi adalah untuk menghancurkan Masjidil Haram dan Masjidil Aqsha dan menggantikannya dengan tanah suci Karbala. Kita akan bahas lebih detail lagi seluruh data dan fakta yang menunjukkn kekejian mereka itu. Akan kita kupas satu demi satu sejarah kekejian dan pengkhianatan Syiah terhadap dua masjid suci Islam, yakni Masjidil Haram dan Masjidil Aqsha.
Tetapi sebelumnya, kita akan bahas lebih dulu tentang 3 daulah Syiah yang paling awal berdiri di muka bumi. Yang pertama adalah Qaramithah yang berpusat di Bahrain pada 891 M 278 H hingga 1077 M [berkuasa selama 186 tahun]. *Bahrain sekarang menjadi Negara kecil di Teluk Persia dan berbentuk monarki. Dua decade kemudian, berdirilah Daulah Fatimiyah di Ifriqiyah [Tunisia] pada 910 M hingga 1171 M [berkuasa selama 261 tahun] Dan dua decade kemudian berkuasalah Dinasti Buwaihidah pada pemerintahan Khilafah Abbasiyah di Baghdad pada 934 M hingga 1055 M [berkuasa selama 121 tahun].

Dua daulah yakni Qaramithah dan Fatimiyah adalah penganut Syiah Ismailiyah, sedangkan dinasti Buwaihidah menganut Syiah Itsna Asyariyah [Rafidhah] .
Ibn Khaldun dalam muqaddimah hlm. 247 berpendapat bahwa mereka disebut golongan al Isma’illiyah karena dihubungkan dengan pendapat yang mengakui imamah Ismail. Mereka juga disebut golongan al Bathiniyyah, dihubungkan kepada anggapan tentang adanya Imam Yang Tersembunyi. Mereka juga disebut golongan al Mulhidah, karena sebagian pendapat mereka mengandung unsure ateisme. Mereka memiliki perkataan-perkataan Lama dan Perkataan-perkataan Baru, yang disebarluaskan oleh Hasan ibn Muhammad al-Shabah pada akhir abad kelima.

Syiah Ismailiyah adalah sekte Syiah yang meyakini bahwa Ismail bin Ja’far adalah imam ketujuh, adapun mayoritas Syiah (Syiah Itsna Asyriyah) meyakini bahwa Musah bin Ja’fa-lah imam ketujuh setelah Ja’far ash-Shadiq. Perbedaan dalam permasalahan pokok ini kemudian berkembang ke berbagai prinsip ajaran yang lain yang semakin membedakan ajaran Syiah Ismailiyah dengan Syiah arus utama, Syiah Itsna Asyriyah, sehingga ajaran ini menjadi sekte tersendiri. Ismailiyah [dan juga seluruh sekte Syiah] memiliki keyakinan yang menyimpang jauh dari ajaran dan akidah Islam. Sebagaimana sekte Syiah lainnya, Syiah Ismailiyah juga meyakini bahwa para imam terjaga dari perbuatan dosa, mereka adalah sosok yang sempurna, dan tidak ada celah sama sekali. Para imam juga dianggap memiliki kemampuan-kemampuan rububiyah, pendek kata, para imam merupakan perwujudan Tuhan di muka bumi. Tentu saja pandangan Ismailiyah ini bertentangan dengan nilai-nilai tauhid yang diajarkan Islam. Mereka mengultuskan para imam mereka sebagaimana Nasrani mengultuskan Nabi Isa ‘alaihissalam. Itu baru satu, kalau mau dijabarkan lebih panjang lagi, maka akan kita dapatkan bahwa ajaran Syiah ini persis agama Yahudi. Karena telah menambah nambahi, mengurangi ngurangi sesuka hawa nafsu mereka saja. Dan persis Yahudi juga, orang orang Syiah selalu membuat keributan, pertentangan bahkan tidak segan segan melakukan pengkhianatan, pembunuhan dan pembantaian terhadap agama ‘induk’ mereka, yakni Islam.

Kebanyakan sejarawan memandang Qaramithah hanyalah sebagai sempalan kecil atau gerombolan criminal Syiah yang tidak teroganisir dan tidak memiliki basis wilayah. Itulah sebabnya jika disebut daulah Syiah yang pertama berdiri di muka bumi, sering ditulis adalah Daulah Fatimiyah. Tetapi kenyataannya, Qaramithah lebih dari sekedar gerombolan criminal yang sering membantai dan menjarah, tetapi ini adalah sebuah pasukan bersenjata yang memiliki garis komando jelas dan tujuan perjuangan yang jelas. Mereka juga mempunyai wilayah kekuasaan dan sejumlah pemimpin. Banyak fakta yang menjelaskan bahwa terjadi begitu banyak pembantaian dan penjarahan pada kafilah haji di Syam dan Arabia Timur yang dilakukan oleh Qaramithah. Bahkan Qaramithah juga menyerbu Mekah, melakukan pembantain pada jamaah haji, mencongkel Hajar Aswad dan membawanya ke Bahrain. Dan penyerbuan ke Mekah itu tidak hanya dilakukan sekali, tetapi berkali kali. Meskipun kemudian mereka selalu gagal menduduki kota Mekah. [Itu terjadi tentu karena ketentuan Allah Ta’ala. Karena bila berdasarkan hitung matematis, seharusnya penyerbuan Qaramithah berhasil dengan gemilang, mengingat Dinasti Abbasiyah saat itu sudah lemah, tidak berdaya dan penguasa pusat di Baghdad, cenderung membiarkan saja pemerintahan Hijaz berjalan tanpa ada control dari mereka]

Qaramithah lebih dari sekedar gerombolan, tetapi pantas disebut daulah. Karena mereka memiliki wilayah kekuasaan sebagai basis pertahanan, yakni Bahrain. Mereka juga memiliki sejumlah pemimpin, yakni :
• Abu Sa’id Jannabi (894-914)
• Abu Tahir Al-Jannabi (914-944)
Ahmad Abu Tahir (944-970) [4]
• Abul Kassim Sa’id (970-972)
• Abu Yaqub Yousuf (972-977)
• Descendants of Abu Yaqub Yousuf ruled till 1077

Tetapi bisa jadi karena daerah kekuasaan mereka hanya meliputi Jazirah Arabia Timur dan mereka tidak pernah terlibat dengan satupun kerajaan di dunia [kecuali Abbasiyah tentu saja], maka keberadaan mereka sering dipandang hanya sebagai gerombolan criminal Syiah saja. Jika dilihat dari wilayah kekuasaan mereka yakni daerah Ahsa’, Hajar, Qathif, Bahrain dan Oman, kita bisa paham bahwa memang pada akhirnya Qaramithah ini seakan ‘hilang’ dan tenggelam diantara sekian banyak kerajaan yang ada di Timur Tengah. Meski kita juga tahu bahwa Qaramithah kadang muncul di Syam [terutama ketika mereka sedang melakukan aksi keji membantai kafilah Haji] tetapi [anehnya], Qaramithah tidak pernah terlibat dalam pertempuran atau perselisihan dengan Romawi Timur yang Kristen atau dengan orang orang Yahudi. Mungkin itu sebabnya banyak sejarawan mengambil kesimpulan bahwa Qaramithah hanyalah gerombolan dan bukan pasukan bersenjata, sehingga tidak layak disebut Daulah. Padahal kenyataanya, Qaramithah memiliki sedikitnya 6 pemimpin dan mereka mampu bertahan di Bahrain selama 186 tahun. Bahkan lebih lama dari dinasti Buwaihidah yang Cuma 121 tahun. Meskipun tidak selama dinasti Fatimiyah yang mampu bertahan selama 261 tahun.

Berbeda dengan Qaramithah, Fatimiyah dan Buwaihidah justru banyak terlibat dalam percaturan perebutan kekuasaan di Timur Tengah. Dua daulah Syiah itu bahu membahu baik secara terang terangan maupun rahasia dengan Kerajaan Salib atau daulah lainnya yang memusuhi Islam. Peran mereka, meski hanya ‘membantu’, tetapi bantuan itu justru menjadi factor penentu kemenangan musuh Islam. Akan kita bahas nanti secara lebih mendalam lagi.
Ada satu pemahaman keliru umat Islam yang cukup fatal akibatnya dalam melihat sejarah daulah Syiah. Pada hampir seluruh buku atau tulisan tentang sejarah daulah Syiah, cakupan wilayah kekuasaan ke 3 daulah itu sering ditulis hingga mencapai Hijaz! Dan fakta ini termaktub pada buku buku dari penulis Barat, Syiah dan [yang menyedihkan] juga dikutip oleh penulis muslim. Sungguh, ini sebuah kekeliruan yang fatal akibatnya. Karena hanya akan meneguhkan ‘kedustaan’ Syiah bahwa mereka bukanlah sekte yang keji sebagaimana kenyataannya.
Anda yang belum paham, tentu bingung bagaimana memahami semua apa yang saya tulis diatas. Baiklah, akan kita bahas kaitannya Antara wilayah kekuasaan Syiah dengan asumsi bahwa Syiah bukanlah sekte yang keji.
Sumber sumber Syiah dan barat sering menulis bahwa wilayah kekuasaan Daulah Fatimiyah adalah Mesir [sebagai pusat kekuasaan yang mencakup Afrika Utara], Sisilia, pesisir Laut Merah Afrika, Palestina, Suriah, Yaman, dan Hijaz. Farhad Daftary dalam bukunya The Isma’ilis: Their History and Doctrines, 1992:155, menulis bahwa wilayah kekuasaan Daulah Fatimiyah pada masa pemerintahan Khalifah Al Aziz sangat luas, termasuk membentang dari pesisir Lautan Atlantik hingga Laut Merah, bahkan menyeberang ke Sisilia sampai Italia bagian selatan (Farhad Daftary, The Isma’ilis: Their History and Doctrines, 1992:155). Philip K Hitti dalam buku ‘legendarisnya’ History of the Arabs, menulis bahwa pada pucak kejayaannya Fatimiyah menguasai wilayah yang amat luas. Yakni mencakup Antara Laut Atlantik hingga Laut Merah, Yaman, Mekah, Damaskus, Mosul. Situs Wikipedia yang sering menjadi rujukan masyarakat, bahkan menulis : Pada masa Fatimiyah, Mesir menjadi pusat kekuasaan yang mencakup Afrika Utara, Sisilia, pesisir Laut Merah Afrika, Palestina, Suriah, Yaman, dan Hijaz. Pada masa Fatimiyah, Mesir berkembang menjadi pusat perdagangan luas di Laut Tengah dan Samudera Hindia, yang menentukan jalannya ekonomi Mesir selama Abad Pertengahan Akhir yang saat itu dialami Eropa.
Penulis muslimpun seringkali terjebak dalam menulis cakupan wilayah kekuasaan daulah Syiah itu. Misalnya Alwi Alatas, dalam bukunya Nuruddin Zanki & Perang Salib, menulis bahwa wilayah kekuasaan Fatimiyah adalah Syiria, Palestina dan Jazirah Arab.

Dengan ditulisnya wilayah kekuasaan Daulah Fatimiyah yang mencapai tanah Hijaz bahkan Yaman, patutlah kita tampik mentah mentah. Jika ditulis Jazirah Arab, itu masih bisa dipahami kebenarannya, karena Daulah Qaramitha juga pernah menguasai Jazirah Arab, meski hanya diujung timur. Tetapi bila disebut menguasai Hijaz atau bahkan ditulis secara spesifik, Mekah, maka itu adalah hanya dusta belaka. Karena faktanya, tidak ada satupun daulah Syiah, [baik Qaramithah, Fatimiyah maupun Dinasti Buwaihidah] yang mampu menduduki Hijaz. Tidak.

Bukankah berkali kali orang orang Syiah Qaramithah menyerbu Mekah, melakukan pembantaian dan penjarahan, namun mereka selalu kembali pulang ke Bahrain? Lagi pula, mau ditinjau dari sudut manapun, tidak akan mungkin dan [insyaAllah] tidak akan pernah orang orang Syiah menguasai Jazirah Arabia apalagi Hijaz. Dan bila Syiah pernah menguasai Jazirah Arabia, hingga ke Yaman, mengapa tidak ada jejak sejarahnya? Itu sesuatu hal yang amat mustahil. Karena bukanlah Syiah bila mereka tidak meninggalkan jejak ke-syiah-annya. Dan kita tidak pernah menemukan bukti bukti sejarah yang menyebut bahwa Syiah pernah berkuasa di Jazirah Arabia, bahkan Hijaz. Dan jika tidak pernah berkuasa di Hijaz, bagaiman mungkin kekuasaan Syiah Fatimiyah bisa sampai ke Yaman, seperti yang ditulis banyak penulis Syiah dan Barat.
Jazirah Arabia adalah sebutan untuk Negara Saudi Arabia sejak dahulu hingga datangnya seorang laki laki Arab bernama Saud yang kemudian membangun kerajaannya di Jazirah Arabia lalu menyebut daerah itu sebagai Saud[i] Arabia. Sedang Hijaz adalah sebutan untuk wilayah yang lebih spesifik dari Jazirah Arabia, yang didalamnya ada Mekah, Madinah dan Jeddah

Karena kita betul betul harus pahami, bahwa begitu Mekah dikuasai Syiah, maka yang terjadi adalah : mereka akan menghancurkan kuburan Abu Bakar, Umar dan Aisyah! Mereka juga akan membakar Kabah, dan menutup wilayah haram itu dan menggantikannya dengan Karbala di Iraq. Itu yang pasti terjadi. Pasti. Karena begitulah kayakinan mereka terhadap para sahabat dan bagaimana mereka mengkultuskan Karbala sebagai tanah suci. Tapi, bukankah kita semua tahu, bahwa kuburan para sahabat, tidak pernah sekalipun terusik? Begitu juga kuburan Ummul Mukminin Aisyah. Semua makam itu masih terjaga dan terawat dengan baik di Madinah. Dan Kabah, juga tak kurang sesuatupun. Yang hanya ‘sempat’ mereka lakukan adalah mencongkel Hajar Aswad, dan membawanya pulang ke Bahrain [Hajar] pada 928 M!

Dan bukankah Ibnu Katsir telah menyampaikan data yang begitu konkret dan jelas, bahwa Syiah TIDAK PERNAH berkuasa di Jazirah Arabia, apalagi Hijaz. Beliau menulis bahwa pada tahun 1017 M/ 408 H, Al Hakim Biamrillah [penguasa Syiah Fatimiyah saat itu pernah mencoba memindahkan makam Nabi Sallallahu ‘Alaihi Wasallam dari kota Madinah ke Mesir sebanyak 2 kali, tetapi alhamdulillah digagalkan oleh masyarakat Madinah! Dari data Ibnu Katsir ini tak perlu diragukan lagi bahwa jelas Syiah tidak pernah berkuasa di Madinah dan Mekah. Karena jika ia berkuasa di Madinah, maka usaha pemindahan itu akan berhasil dilakukan dan secara terang terangan. Bukannya dengan menyuruh seorang utusan untuk tinggal didekat mesjid lalu membuat lubang bawah tanah yang menuju makam Rasululllah!

Jika kekeliruan fatal ini tidak segera kita koreksi dengan tegas, maka ini bisa menjadi salah satu hujjah bagi orang orang Syiah laknatullah, dengan mengatakan bahwa mereka adalah kaum yang menjunjung dan menghormati kota Mekah dan Madinah. Terbukti bahwa mereka pernah berkuasa dan bahkan ikut memajukan kota suci itu pada era Daulah Syiah Fatimiyah!
Pun ketika ditulis kekuasaan Syiah Fatimiyah membentang dari Samudra Atlantik hingga Laut Merah. Itu sebuah hiperbola yang keterlaluan. Karena kenyataannya, kekuasaan paling jauh yang bisa dijangkau Fatimiyah adalah Beirut. Dan setelah Turki Seljuk membebaskan Baitul Maqdis dari cengkraman Syiah pada tahun 1071 M, maka sejak itu, Fatimiyah mundur kembali ke Mesir. Dan sejak itu pula, tidak pernah lagi Fatimiyah mampu melebarkan sayapnya ke Syam. Satu sentipun, tidak akan berani Syiah Fatimiyah melangkah keluar dari Mesir. Karena ada 2 kekuatan yang siap mengakuisisi Mesir, bila Syiah Fatimiyah berani meninggalkan Mesir. Yakni Dinasti Zanki dan Kerajaan Salib Yerusalem. Jadi, batas akhir mimpi Syiah menguasai Syam, hanyalah di Masjidil Aqsha. Setelah dipaksa keluar oleh Turki Seljuk, Syiah Fatimiyah hanya bertahan saja di Mesir hingga kelak, mereka juga dipaksa keluar oleh Sholahuddin.
Bagaimana dengan dinasti Buwaihidah? Bukankah mereka ‘berkuasa’ atas Khilafah Abbasiyah, yang notabene adalah juga penguasa Hijaz? Dan itu juga berarti bahwa Syiah Buwaidah juga berkuasa di HIjaz? Disinilah terjadi rancunya fakta sejarah. Kita sering tidak bisa membedakan Antara kekuasaan emir atau pejabat, dengan kekuasaan seorang Khalifah.

Dinasti Buwaihidah ‘hanyalah’ pejabat pejabat yang mendapat posisi amat tinggi dan diberi kepercayaan penuh oleh Khalifah Abbasiyah untuk menjalankan pemerintahan di Baghdad. Meskipun kemudian dinasti Buwaihiyah ini pada puncak kejayaannya menguasai Iraq, Iran dan Mesopotamia. Tetapi tetap tangan tangan keji mereka tidak sampai ke Mekah atau Madinah. Tidak. Dan daerah kekuasaan Abbasiyah lainnya misalnya di Mesir, Syams [Aleppo, Halaba, Tripoli, Beirut, Damaskus dst] dan Hijaz, masing masing memiliki amirnya sendiri sendiri. Dan tentu saja para amir itu menolak campur tangan dinasti Buwaihiyah dalam urusan pemerintahan maupun keagamaan. Lagipula tentu kita harus ingat, bahwa jika orang orang Syiah itu memiliki kekuasaan di Mekah dan Madinah, maka sekarang ini kita akan saksikan bekas bekas kerusakan di Masjid Nabawi dan Masjidil Haram.

Lalu, bagaimana kita bisa memastikan sumber sejarah yang tepat dan benar? Jawabannya hanya satu. Sebaiknya kita merujuk dan mengutip hanya dari kitab kitab yang ditulis ulama ulama Islam terdahulu. [Tentu saja kita boleh membaca kitab dari penulis Syiah dan Barat, tapi sifatnya tidak lebih sebagai daftar pustaka saja. Dan bukan sebagai rujukan atau referensi]. Salah satu sumber rujukan yang insyaAllah bisa kita jadikan pegangan adalah kitab sejarah yang ditulis Ibnu Katsir dalam Al Bidayah wan Nihayah. Dalam kitab tersebut, Ibnu Katsir menulis bahwa wilayah kekuasaan Daulah Fathimiyah adalah Syam, Mesir, Nablus, Asqalan, Beirut, Sis, dan sekitarnya.
Ibnu Katsir memang tidak secara spesifik menulis Baitul Maqdis, tetapi dengan ditulisnya Syam dan Nablus, itu juga menyiratkan bahwa daulah Syiah itu pernah berkuasa di Baitul Maqdis. Dan dari data yang diungkap Ibnu Katsir, kita bisa lihat sendiri bahwa kekuasaan Syiah Fatimiyah paling jauh hanya sampai di Beirut. Dan tidak pernah mencapai Jazirah Arabia atau bahkan Hijaz. Dan selayaknya, kita lebih percaya pada kitab kitab yang ditulis oleh ulama Islam ketimbang dari kitab kitab Syiah dan Barat.

***

Ketiga daulah Syiah itu, Qaramithah, Fatimiyah dan Buwaihidah berkuasa pada era yang bersamaan. Yakni pada era Khilafah Abbasiyah. Tetapi kita harus menghitung waktu kemunculan Daulah Fatimiyah pada tahun 971, dan bukan 910. Karena pada tahun 971 M itulah Fatimiyah berhasil menumbangkan Ikhshidiyah di Mesir dan memindahkan ibukota mereka dari Tunisia ke Mesir. Nah, sejak berkuasa di Mesir itulah Daulah Fatimiyah menjadi semakin kokoh dan terus berusaha menumbangkan Kekhalifahan Abbasiyah dan menggantinya dengan Daulah Syiah Fatimiyah. Jadi jika dihitung irisan waktu diantara ketiganya, adalah antara tahun 971 M hingga 1055 M. Sehingga praktis pada waktu itu, selama 84 tahun, Islam betul betul dikepung oleh 3 kekuatan Syiah. Mungkin ini yang disebut blessing in disguise. Dengan dipindahkannya pusat pemerintahan dari Madinah ke Damaskus, lalu Baghdad, ini membuat Madinah [dan juga Mekah] tetap suci dari tangan tangan nista orang orang kafir. Jika ibukota pemerintahan tetap di Madinah, kita tidak tahu apa yang akan terjadi pada makam Rasulullah dan para Khulafaur Rasyidin lainnya.
Dan dalam rentang waktu 971 M – 1055 M, Khilafah Abbasiyah betul betul sedang dalam kemerosotan yang tajam. Sehingga tidak mengherankan jika jabatan Khilafah hanya sekedar stempel, namun kekuasaan sesungguhnya berada pada emir emir di daerah.

Para khalifah yang berkuasa pada rentang waktu itu yakni : Al Muthi’ [946 – 974 M], Ath Tha’I [974 – 991 M], Al Qadir [991 – 1031 M] dan Al Qa’im [1031 – 1075 M].

Bahkan pada kurun waktu 935 hingga 969 M, wilayah kekuasaan Abbasiyah praktis hanya meliputi Irak, Iran dan Mesopotamia [atau katakanlah seluas wilayah kekuasaan Buwaihiyah. Karena wilayah lainnya seperti Mesir, Syam [termasuk Al Quds] dan Tanah Hijaz, telah menjadi kekuasaan Ikhshidiyah. [yang memberontak terhadap Abbasiyah].

Madinah dan Mekah, seharusnya menjadi kota Suci orang orang Syiah

Madinah dan Mekah seharusnya menjadi kota suci orang orang Syiah. Bukan hanya Karbala, Qum dan Najaf. Mengapa? Karena 11 dari 12 imam Syiah, lahir di Madinah. Hanya imam terakhir saja, yakni imam Mahdi yang lahir di kota Sammara Iraq. Dan 11 dari 12 imam Syiah itu juga mencintai Mekah, sama seperti Rasulullah yang mencintai kota Mekah melebih kecintaannya pada kota kota lainnya. Dan itu saja sudah lebih dari cukup bagi mereka untuk mengagungkan dan menjaga kehormatan Mekah dan Madinah. Tetapi yang mereka lakukan justru melakukan teror, pembantaian dan penjarahan terhadap kafilah haji dan bahkan menyerbu kota Mekah itu sendiri.
Kekejian dan pengkhianatan terhadap Masjidil Haram segera dilakukan oleh Syiah begitu kaum ini menguasai Bahrain dan mendirikan Daulah Syiah Qaramithah pada 891 M/ 278 H. Inilah daulah Syiah yang pertama yang berdiri di muka bumi. Setelah mereka terus menerus gagal ‘mengkudeta’ Khilafah Abbasiyah, yang memang dikuasai Syiah Itsna Asyariyah [Rafidhah] , orang orang Syiah Ismailiyah berhasil mendirikan daulah yang berpusat di Bahrain. Ketika mereka sudah memiliki kekuatan dan berhasil mendirikan daulah Bahrain, mereka melakukan perampasan, pembunuhan dan pemerkosaan, kekejaman yang bisa jadi melebihi kekejaman yang dilakukan oleh bangsa Tartar atau kaum Nasrani sekalipun. Kekejamaan Syiah rasanya hanya bisa disetarakan dengan kekejaman Israel laknatullah. Di antara tokoh mereka yang menimpakan fitnah besar terhadap kaum Muslimin adalah Abu Thahir Sulaiman bin Hasan al Janabi. Daulah ini berkuasa selama kurang lebih 188 tahun. Menguasai daerah Ahsa’, Hajar, Qathif, Bahrain, Oman, dan Syam.

Ibnu Katsir dalam kitabnya Bidayah wan Nihayah menulis tentang Qaramithah ini :
Pada tahun ini golongan Qaramithah bangkit. Mereka adalah kelompok atheis yang anti Tuhan dan berkeyakinan akan kenabian Yurdasyta dan Mazdak. Keduanya membolehkan hal hal yang haram. Mereka juga dikenal sebagai kelompok Ismailiyah. Juga dikenal dengan nama kelompok kebatinan, karena mereka terang-terangan menolak dan menyembunyikan kekafiran mutlak. Mereka juga dikenal dengan sebutan A Kharmiyah dan A Babukiyah karena dinisbatkan kepada Babuk Al Kharmi.

Ibnu A Jauzi berkata, “Di dalam Babukiyah terdapat kelompok yang dikatakan bahwa mereka selalu berkumpul rutin setahun sekali pada malam hari bersama istri istri mereka. Kemudian mereka memadamkan lampu lampu, sehingga barangsiapa mendapatkan seorang perempuan, maka dia halal baginya untuk disetubuhi. Mereka berkata, “Ini perburuan yang mubah.” Semoga Alah melaknat mereka.

Kemunculan Qaramithah ini menimbulkan kerugian yang besar pada Kekhalifahan Abbasiyah. Hingga pada tahun 900 M, Khalifah Al Mu’tadhid menyiapkan pasukan yang dipimpin oleh Al Abbas bin Amru Ghanawi, yang sekaligus dia kukuhkan menjadi Gubernur Yamamah dan Bahrain untuk melakukan serangan terhadap Abu Sa’id Jannabi. Mereka bertemu di sana. Tetapi Al Abbas dengan pasukan berkekuatan 10.000 personil tidak mampu menumpas Qaramithah. Abu Sa’id Jannabi menawan mereka semua lalu kemudian membantainya. Abu Sa’id lalu melepaskan Al Abbas dan berkata, “Kembalilah kepada sahabat-sahabatmu dan sampaikan kepada mereka tentang hal hal yang engkau lihat”.
Sejak itu Qaramithah semakin menjadi jadi kebengisannya dan mereka meraja lela di tiap jengkal daerah kekuasaan kaum muslimin. Khalifah berikutnya, yakni Khalifah ke 18 Abu Muhammad Ali bin Al Mu’tadhid al Muktafi, terus melakukan perang terhadap Qaramithah. Tetapi sama seperti pendahulunya, Al Mu’tadhid, Al Muktafi juga tidak berdaya atas kebengisan Qaramithah.

Ibnu Katsir mencatat bahwa pada tahun 902 M/ 289 H Qaramithah membuat kerusakan di sebagian besar daerah Kufah, dan sebagian pekerja berhasil membunuh sebagian dari mereka lalu mengirim kepala kepala mereka kepada Al Mu’tadhid. Disebutkan bahwa di antara mereka adalah Abu A Fawaris. Ia dibunuh lalu disalib di Baghdad.
Pada tahun itu juga, Yahya bin Zakrawaih mengaku sebagai keturunan Ali bin Abu Thalib. Tentu saja ia berdusta dalam hal ini. Ia juga mengaku kepada kaum Qaramithah bahwa dirinya telah mengikuti mereka. Dengan perintahnya ikut pula 100.000 orang yang disebut sebagai Fathimiyyun [kelompok pengikut Fathimah, bukan orang orang dari Daulah Fatimiyah]. Tetapi dalam perang kali ini, kelihatannya Abbasiyah sudah lebih siap dibanding perang sebelumnya. Jadi meskipun sang Khalifah Al Mu’tadhid wafat, pada tahun 904 M/ 291 H,pasukan Abbasiyah mampu memenangkan peperangan. Dan pimpinannya, Al Husain bin Zakrawaih, yang dijuluki Dzu Asy Syamah, tertawan. Dia saudara kandung Yahya bin Zakrawaih. Ia mendapat hukum cambuk sebanyak 200 kali. Setelah itu kedua tangan dan kakinya dipotong, sedangkan tubuhnya disetrika, kemudian dibakar.
Tetapi meski kalah, pamor Qaramithah tetap ‘berkibar’ dengan semakin banyaknya suku Badui dan para bajingan yang bergabung dengan Qaramithah. Dan Al Husain bin Zakrawaih tetap menebarkan teror dan kekejian terhadap umat Islam, terutama mereka yang hendak pergi haji. Mereka terus membuat berbagai kerusakan di muka bumi. Mereka juga memasuki negeri Hit dan membunuh semua warganya kecuali sedikit saja dari mereka. Kekejian mereka terus berlanjut, dan pada 907 M/ 294 H di bulan Muharram, dipimpin Zakrawaih menghadang kepulangan jamaah haji dari negri Khurasan dan menyerang mereka. Terjadilah peperangan besar kala itu. Di saat mendapat perlawanan sengit, Syiah Qaramithah pura pura berdamai dan bertanya, “Apakah ada wakil sultan di antara kalian?” Jamaah haji itu menjawab, “Tidak ada seorang pun (yang kalian cari) di tengah tengah kami.” Qaramithah lalu berujar, “Maka kami tidak bermaksud menyerang kalian (salah sasaran).” Peperangan pun berhenti. Sesaat kemudian, ketika jamaah haji merasa aman dan melanjutkan perjalanannya, maka para pengikut Syiah kembali menyerang mereka. Banyak jamaah haji yang terbunuh disana. Adapun mereka yang melarikan diri, diumumkan akan diberi jaminan keamanan oleh Syiah. Ketika sisa jamaah haji tadi kembali, maka pasukan Syiah berkhianat dan membunuh mereka.

Perempuan perempuan Syiah pun tidak kalah sadisnya. Paska perang, mereka mengelilingi tumpukan jenazah dengan membawa geriba air. Mereka menawarkan air tersebut di tengah-tengah korban perang. Apabila ada yang menyahut, maka langsung dibunuh. Jumlah jamaah haji yang terbunuh saat itu mencapai 20.000 jiwa, ditambah dengan harta yang dirampas mencapai dua juta dinar. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.
Tahun berikutnya, tahun 908 M, menjadi awal tahun kegelapan bagi kaum muslim ketika Syiah Fatimiyah berhasil mendirikan Daulah di Tunisia [Ifriqiyah].

Tetapi bencana baru benar benar tiba ketika tahun 971 M, mereka berhasil menumpas Ikhshidiyah di Mesir. Pemimpin mereka saat itu adalah Abu Tamim Ma’ad al Mu’izz li-Dinillah. Dan ketika Abu Tamim Ma’ad al Mu’izz li-Dinillah menjatuhkan Ikhshidiyah, itu tidak serta merta membuat seluruh kekuasaan Ikhshidiyah jatuh ketangan Fatimiyah. Al Quds, Syam dan Tanah Hijaz, masih dikuasai oleh Ikhshidiyah. Tetapi tentu saja jatuhnya Mesir ke tangan Fatimiyah, itu membuat Ikhshidiyah bagai kehilangan kedua kakinya. Jadi ketika Fatimiyah menyerang Al Quds, tak ada perlawanan berarti yang diberikan Ikhshidiyah, sehingga Al Quds jatuh dengan mudah. Tetapi kapan persisnya Fatimiyah mulai memerintah di Al Quds, tidak ada catatan sejarah yang pasti. Kita ambil kesimpulan saja bahwa Fatimiyah menguasai Al Quds pada sekitar tahun 972 M [satu tahun setelah mereka menguasai Mesir].
Setelah berdiri Daulah Syiah Fatimiyah Syiah di Ifriqiyah, gaungnya menggema kemana mana. Dan itu bagai memberi energy untuk Syiah Qaramithah di ujung Arabia Timur. Akibatnya pengkhianatan Syiah terhadap Islam semakin kuat dan kejam. Seakan mereka mendapat legitimasi untuk melakukan berbagai perbuatan keji itu. Mereka terus membunuh kaum muslimin, merampok harta bendanya, dan berbagai kejahatan lainya. Ditambah dengan lemahnya Khilafah Abbasiyah, dan semakin ‘terlupakannya’ tanah Hijaz dari prioritas Abbasiyah, situasi ini dimanfaatkan dengan baik oleh Abu Thahir Sulaiman bin Abu Sa’id Al Jannabi. Dia seperti kesetanan menebarkan berbagai kerusakan, tetapi tentu saja kekejian itu hanya dilakukan di wilayah wilayah Islam. Sementara wilayah wilayah yang dikuasai Kristen, tidak disentuh sama sekali.

Sementara itu kekejaman Syiah Qaramithah terus berlanjut. Pada tahun 923 M/ 311 H, saat itu pemimpinnya adalah anak dari Abu Sa’id Jannabi yang masih amat muda, masih berusia sekitar 16 tahun. Ia bernama Abu Thahir Sulaiman bin Abu Sa’id Jannabi. Abu Thahir dan pasukannya kemudian memasuki kota Bashrah pada malam hari dan membunuh warganya yang mereka temui. Kedatangan yang amat tiba tiba itu membuat penduduk Bashrah terpaksa melarikan diri dan bahkan banyak yang menceburkan diri ke sungai. Yang tentu saja mengakibatkan mereka hanyut terbawa arus sungai malam hari yang deras. Ibnu Katsir menulis bahwa Abu Thahir setelah membantai penduduk Bashrah, ia tinggal di sana selama 17 hari lalu menawan siapa saja para wanita dan keturunannya yang mengundang hasrat mereka. Mereka juga merampas harta warga Baghdad yang mereka pilih. Setelah puas menjarah, Qaramithah itupun pulang ke Hajar [Salah satu wilayah kekuasaan Qaramithah selain Bahrain]. Pertolongan Khalifah Al Muqtadir datang terlambat, tetapi pasukan muslim terus mengejar hingga ke Hajar, Arabia Timur. Disana, pasukan Abbasiyah tidak menemukan apa apa kecuali negeri yang telah porak poranda. Setelah puas menjarah kota Bashrah, tahun berikutnya 924 M, Abu Thahir Sulaiman bin Abu Sa’id A Jannabi —semoga Allah melaknatnya dan melaknat ayahnya— bersama 800 orang prajurit Qaramithah melakukan penghadangan terhadap rombongan orang orang dari Iraq yang selesai menunaikan ibadah haji ketika mereka pulang dari Baitullah pada bulan Muharram. Abu Thahir Sulaiman sekali lagi merampok dan membunuhnya. Para jamaah haji tentu saja berusaha untuk melawan demi mempertahankan harta, jiwa dan istri-istri mereka, maka Abu Thahir dan para pengikutnya membantai mereka dalam jumlah yang besar, hanya Allah yang mengetahui jumlah orang-orang yang terbunuh. Kemudian orang-orang syiah qoromithah menawan kaum wanita dan anak-anak (kaum muslimin) yang mereka senangi serta merampok harta bendanya. Harta benda yang mereka rampok senilai satu juta dinar berikut perhiasan-perhiasan serta barang dagangan. Setelah puas, orang-orang Syiah Qaramithah meninggalkan begitu saja (tawanan) yang tersisa di tengah-tengah padang pasir tanpa persediaan air, tanpa makanan dan tanpa kendaraan tunggangan. [Al Bidayah wa nihayah jilid 6 hal 160] [Tarikh Akhbar Qaramithah hlm. 38] Semoga Alah menghancurkan dirinya.

Sukses di Bashrah, Abu Thahir kini maju ke Kufah pada bulan Syawwal tahun 927 M/ 315 H. Kali ini mereka dihadapi langsung oleh pasukan Khalifah yang berjumlah 6.000 tentara. Dan sekali lagi, Abu Thahir mampu menggulung pasukan Abbasiyah, ia memenangkan peperangan dan berhasil membunuh mayoritas pasukan Kufah.
Dari Kufah, Abu Thahir Sulaiman melaju ke Ar Rahbah yang merupakan milik Raja Malik bin Thug pada 928 M/ 316 H. Disana, ia menebarkan berbagai kerusakan. Ia memasukinya secara paksa lalu membunuh warganya hingga jumlah yang sangat besar. Ia juga menetapkan suatu penghasilan yang harus dibawa ke Hajar setiap tahun sebesar dua dinar untuk setiap kepala. Ia membuat kerusakan di bagian bagian A Maushil, Sinjar, dan di rumah rumah.
Ia juga melakukan pengepungan terhadap Ar Rahbah yang merupakan milik raja Malik bin Thug. Ia memasukinya secara paksa lalu membunuh warganya hingga jumlah yang sangat besar. Ia juga menetapkan suatu penghasilan yang harus dibawa ke Hajar setiap tahun sebesar 2 dinar untuk setiap kepala. Ia membuat kerusakan di bagian bagian Al Maushil, Sinja dan rumah rumah. . Ia adalah pemimpin Syiah Qaramitah di Bahrain. [Bahrain sekarang menjadi Negara kecil di Teluk Persia dan berbentuk monarki] Satu sekte yang mengikut pada sekte Isma’illiyah.
Tahun 928 M/ 316 H, Abu Thahir Sulaiman telah berumur 22 tahun dan ia merasa siap untuk menyerbu dan menjarah kota Mekah. Maka bersama 700 tentara Qaramithah, Abu Thahir mendatangi Mekah saat musim haji. Mekah yang sedang focus melakukan kegiatan haji, tentu tidak siap dengan serangan mendadak itu. Akibatnya, Abu Thahir dengan mudah membantai jamaah haji yang sedang menunaikan manasiknya.
Dalam beberapa riwayat, disebutlah pimpinan Qaramithah saat penyerbuan ke Mekah itu adalah Mahdi Abdullah bin Maimun A Qaddah.

Mereka juga membunuh orang orang di jalan jalan kota Mekah dan sekitarnya. Jumlah korbannya mencapai tiga puluh ribu jiwa. Lalu membuang mayat mayatnya ke sumur Zamzam, kita bisa bayangkan pengurus Kabah butuh berapa bulan untuk membersihkan sumur Zam Zam dari anyir darah para jamaah haji. Bahkan Abu Thahir merampas kelambu Kabah dan membagi bagikannya kepada pasukannya. Ia menjarah rumah rumah penduduk Mekah. Tidak puas, ia juga mencungkil Hajar Aswad dari tempatnya dan ia bawa ke Hajar (kota penting Qaramithah, sedang ibukota daulah mereka di Bahrain). Tarikh Akbar Qaramithah hlm. 54
Imam Ibnu Katsir rahimahullah merekam kekejaman yang dilakukan oleh Abu Thahir al Janabi al Bathini ini dan menulisnya dalam Bidayah wa Nihayah : Ia menjarah harta penduduk Mekah dan menghalalkan darah mereka. Ia membunuhi manusia di rumah-rumah mereka hingga yang berada di jalan jalan. Bahkan menjagal banyak jamaah haji di Masjdil Haram dan di dalam Kabah. Lalu pemimpin mereka, yakni Abu Thahir –semoga Allah Azza wa Jalla melaknatnya- duduk di pintu Kabah, sementara orang-orang disembelih di hadapannya dan pedang pedang berkelebatan membantai orang-orang di Masjidil Haram pada bulan haram (suci) di hari Tarwiyah yang merupakan hari yang mulia. Sementara Abu Thahir ini berseru, ‘Aku adalah Allah, Allah adalah aku. Aku menciptakan makhluk dan akulah yang mematikan mereka’.
Orang-orang pun berlarian menyelamatkan diri dari kekejaman Abu Thahir ini. Di antara mereka bahkan ada yang bergantung pada kelambu Kabah. Namun itu tidak menyelamatkan jiwa mereka sedikit pun. Mereka tetap ditebas habis dalam keadaan seperti itu. Mereka dibunuhi meskipun mereka sedang bertawaf…’
Beliau melanjutkan, ‘Setelah pasukan Qaramithah ini melakukan aksi brutal mereka itu –semoga Allah melaknat mereka- dan perbuatan keji mereka terhadap para jamaah haji, Abu Thahir ini menyuruh pasukannya agar melemparkan mayat mayat yang tewas ke sumur Zamzam. Dan sebagian lain dikubur di tempat tempat mereka di tanah haram bahkan di dalam Masjidil Haram. Lalu kubah sumur Zamzam pun dirobohkan. Kemudian Abu Thahir memerintahkan agar mencopot pintu Kabah, melepaskan kelambunya, untuk ia koyak-koyak dan bagikan kepada pasukannya’.

Sementara itu, Abu Thahir duduk di depan Kabah dan berseru, “Aku adalah Allah, demi Allah, aku menciptakan seluruh makhluk dan yang mematikan mereka.” Abu Thahir segera memerintahkan pasukannya untuk mengambil pintu Kabah, dan menyobek nyobek tirai Kabah.

Dalam riwayat lain disebut : Salah seorang tentaranya memanjat Kabah untuk mengambil talangnya, namun tewas terjatuh. Ia juga memerintahkan salah satu tentaranya untuk mengambil Hajar Aswad. Tentara tersebut mencongkelnya dan dengan angkuhnya berseru : “Mana burung yang berbondong-bondong itu? Mana pula batu dari neraka Sijjil (yang menimpa pasukan Raja Abrahah yang hendak menghancurkan Kabah menjelang masa kelahiran Nabi)?” Setelah berlalu enam hari, mereka pulang membawa Hajar Aswad.
Riwayat lainnya disebutkan Abu Thahir saat itu berteriak dengan angkuhnya : Di mana burung-burung Ababil Engkau? Di mana batu Sijjil [batu dari tanah yang terbakar] Engkau?” Merujuk kepada peristiwa serangan bergajah yang dipimpin oleh raja Abrahah sebelum kedatangan agama Islam.” –

“Ibnu Kathir dalam kitabnya berkata : Orang yang menyerang dan merampas Hajar Aswad itu adalah orang kuffar atau kafir”. Dan dia (Abu Thahir) telah melakukan ilhad (kekufuran) di Masjidil Haram, yang tidak pernah dilakukan oleh orang sebelumnya dan orang sesudahnya.” (al-Bidayah wan Nihayah, 11:190-192). Bekdash yang merupakan seorang sejarawan kontemporer yang tinggal di Madinah menulis dalam bukunya : ‘Pada hari Senin, tanggal 8 Zhu Al Hijah, umat terkejut karena serangan musuh Allah Abu Taher, orang kulit hitam yang memimpin 900 orang-orangnya. Mereka masuk ke Masjid suci Mekkah dan membantai peziarah dan menggunakan tubuh mereka untuk menghalangi Sumur Zamzam. Tiga puluh ribu orang lagi terbunuh di sekitar pinggiran kota dan di jalan-jalan di Mekah. Kemudian Abu Taher mendekati batu Hitam dan memukulnya dengan sebuah palu dan membawanya keluar dari Kabah pada tanggal 14 Zu Al Hijah dan membawanya kembali ke kotanya Hajar di Bahrain. Dia bertujuan untuk membangun kampung halamannya sebagai pusat ziarah menggantikan Mekkah. Tapi sungguh, dia telah gagal dan kalah seperti Abraha dulu’.

Gubernur Mekah dengan dikawal pasukannya segera menemui pasukan Syiah tersebut di tengah jalan. Berharap agar mereka mau mengembalikan Hajar Aswad dengan imbalan harta yang banyak. Namun Abu Thahir tidak menggubrisnya. Terjadilah peperangan setelah itu. Pasukan Qaramithah menang dan membunuh mayoritas yang ada di sana. Lalu melanjutkan perjalanan pulang ke Hajar dengan membawa harta rampasan milik jamaah haji. Setelahnya, dibuatlah maklumat menantang umat Islam bila ingin mengambil Hajar Aswad tersebut, bisa dengan tebusan uang yang sangat banyak atau dengan perang. Hajar Aswad pun berada di tangan mereka selama 22 tahun. Mereka lalu mengembalikannya pada tahun 339 H/ 950 M, setelah ditebus dengan uang sebanyak 30.000 dinar oleh Al Muthi’ Lillahi [Khalifah Dauliyah Abbasiyah saat itu yang bergelar Abu al Qasim dengan nama aslinya al Fadhl bin al Muqtadir bin al Mu’tadhidal Muthi’ Lillah]
Dalam salah satu riwayat, disebutkan Abu Thahir saat itu berteriak dengan angkuhnya : Di mana burung-burung Ababil Engkau? Di mana batu Sijjil [batu dari tanah yang terbakar] Engkau?” Merujuk kepada peristiwa serangan bergajah yang dipimpin oleh raja Abrahah sebelum kedatangan agama Islam.” – Dipetik dari Indahnya Islam.
“Ibnu Kathir dalam kitabnya berkata : Orang yang menyerang dan merampas Hajar Aswad itu adalah orang kuffar atau kafir”. Dan dia (Abu Thahir) telah melakukan ilhad (kekufuran) di Masjidil Haram, yang tidak pernah dilakukan oleh orang sebelumnya dan orang sesudahnya.” (al-Bidayah wan Nihayah, 11:190-192). Bekdash yang merupakan seorang sejarawan kontemporer yang tinggal di Madinah menulis dalam bukunya : ‘Pada hari Senin, tanggal 8 Zhu Al Hijah, umat terkejut karena serangan musuh Allah Abu Taher, orang kulit hitam yang memimpin 900 orang-orangnya. Mereka masuk ke Masjid suci Mekkah dan membantai peziarah dan menggunakan tubuh mereka untuk menghalangi Sumur Zamzam. Tiga puluh ribu orang lagi terbunuh di sekitar pinggiran kota dan di jalan-jalan di Mekah. Kemudian Abu Taher mendekati batu Hitam dan memukulnya dengan sebuah palu dan membawanya keluar dari Kabah pada tanggal 14 Zu Al Hijah dan membawanya kembali ke kotanya Hajar di Bahrain. Dia bertujuan untuk membangun kampung halamannya sebagai pusat ziarah menggantikan Mekkah. Tapi sungguh, dia telah gagal dan kalah seperti Abraha dulu’.
Puas melakukan pembantaian, Abu Thahir dan tentaranya mengangkut Hajar Aswad keluar dari Mekah dan dibawa ke Hajar di Arabia Timur [dekat Bahrain]. Pada saat itulah, ketika Hajar Aswad ada dalam genggaman, terbersit dalam pikiran Syiah laknatulllah itu, bahwa ia ingin membuat tempat serupa untuk menggantikan Kabah di Mekah. Bukankah Hajar Aswad ada dalam genggamannya? Dalam pikiran Abu Tahir. Kabah tanpa Hajar Aswad, ibarat raja tanpa mahkota. Tetapi dia lupa, mahkota tidak ada artinya tanpa singgasana. Dan singgasana itu ada di Kabah. Apa Abu Tahir mau mengangkut Kabah juga ke Bahrain, lalu membuat tanah haji di sana? Jika itu juga dilakukan, apa serta merta umat Islam akan datang ke Bahrain dan beribadah haji disana? Ooo, begitu picik logika berpikir oran orang Syiah itu. Tetapi, itulah yang dilakukan Abu Thahir. Ia membuat Kabah baru di Bahrain. Tetapi tentu saja orang yang datang berhaji di Bahrain, hanyalah orang orang Syiah Isma’illiyah. Bahkan sekte syiah lainnya tidak sudi datang ke Bahrain. Karena mereka menganggap Karbala adalah tanah suci mereka. Mengapa Abu Thahir tidak membebaskan saja Karbala untuk mereka?

Khalifah Abbasiyah menawari Abu Thahir 50.000 dinar agar Hajar Aswad dikembalikan. Tetapi Abu Thair menolak. Dan selama 22 tahun, Kabah tanpa Hajar Aswad. Dan para peziarah itu merasa ada yang kurang tanpa Hajar Aswad. Namun tahun 950 Abu Tahir mati. Dan pemimpin Qaramitah berikutnya, tak sanggup mengurusi Hajar Aswad. Akhirnya Hajar Aswad dikembalikan ke Mekah, setelah ditebus dengan uang sebanyak 30.000 dinar oleh al-Muthi’ Lillah, seorang khalifah Daulah Abbasiyyah saat itu.

Qaramithah akhirnya menjadi momok yang menakutkan bagi siapa saja kaum muslimin yang ingin melakukan perjalanan haji ke Mekah. Mereka semua dihantui ketakuatan yang sangat akan kekejian Syiah Qaramithah. Tetapi selalu ada saja mereka yang berteguh hati tetap melakukan perjalanan haji, meski taruhannya adalah nyawa.
Tiga tahun setelah penyerbuan dan pembantaian di Mekah, yakni tahun 931 M/ 319 H, Mu’nis Al Khadim [Panglima tentara Abbasiyah pada masa pemerintahan al Muqtadir] berangkat menunaikan ibadah haji dengan pengawalan pasukan yang sangat besar. Sang panglima merasa khawatir dengan serangan Syiah Qaramithah. [Sekarang kita bayangkan saja, seorang panglima perang saja khawatir terhadap Qaramithah, apalagi rakyat biasa!]. Di tengah perjalanan, Mu’nis mendengar berita bahwa Syiah Qaramithah berada di depan mereka. Saat itu tidak ada jalan lain kecuali jalan yang akan mereka tempuh itu, dan dijalan itu sudah menghadang Syiah Qaramithah. Mu’nis tahu, ada jalan lain sebenarnya, tetapi jalan itu adalah jalan yang penuh ‘misteri’ yang tak seorang waraspun mau melintasinya. Tetapi Mu’nis tak punya pilihan lain kecuali berbelok dari jalan yang biasa dilalui. Ia pun menempuh jalan setapak di lembah yang penuh ‘misteri’. Mereka berjalan terus selama beberapa hari tanpa istirahat. Mereka sangat kelelahan. Dan dalam perjalanan itulah disebutkan mereka menyaksikan berbagai keanehan dan keajaiban. Mereka menyaksikan tulang yang luar biasa besarnya. Juga menyaksikan orang yang berubah bentuk menjadi batu. Sebagian dari mereka menyaksikan wanita yang berdiri di atas tungku dan berubah menjadi batu, demikian pula tungkunya.

Setelah huru hara tahun 928 M, yang berujung pembantaian penduduk Mekah oleh Qaramithah, tahun tahun berikutnya masih saja sering terjadi pembantaian demi pembantaian. Wilayah Syam menjadi sangat tidak aman bagi para kafila haji untuk melintas. Pun mereka yang berhaji, selalu dihantui dengan tragedy pebantaian itu. Kekhalifahan Abbasiyah bisa dibilang tidak mampu berbuat apa apa terhadap kekacauan yang ditimbulkan Syiah Qaramithah. Tetapi peristiwa yang terjadi di tahun tahun berikutnya di Baghdad, sungguh membuat umat kehilangan kepercayaan terhadap dinasti Abbasiyah. Karena dengan begitu banyaknya pebantaian yang dilakukan Syiah Qaramithah terhadap umat Islam, tetapi itu semua tidak membuat para Khalifa Abbasiyah bersikap tegas terhadap Syiah, yang terjadi malah sering kali mereka ‘bermain mata’ dengan para pemimpin pemimpin Syiah, hanya semata mata demi melanggengkan kekuasaan mereka. Mereka lupa betapa kejamnya Syiah membantai umat, betapa bencinya Syiah kepada Islam dan betapa bernafsunya Syiah untuk menghancurkan pelaksanaan ibadah Haji. Pengkhianatan dan kekejian Syiah Qaramithah terhadap Masjidil Haram, seharusnya cukup menjadi alasan bagi para Khalifah Abbasiyah untuk sungguh sungguh memberantas Syiah dari Hijaz, Iraq, Iran, Mesir, Syam dan diseluruh wilayah kekuasaan mereka.

Bukannya malah ‘bermain mata’, ikut melakukan pengkhianatan terhadap Masjidil Haram. Dan dari sekian pengkhianatan yang dilakukan para khalifah Abbasiyah, satu yang terbesar yang kelak menjadi bibit hancurnya kota Baghdad ditangan tentara Tartar Mongol, terjadi pada tahun 945 M
Ketika itu pusat pemerintahan di Baghdad sedang dilanda kekisruhan politik, akibat perebutan jabatan Amir al Umara antara wazir dan pemimpin militer. Para pemimpin militer meminta bantuan kepada Ahmad Ibn Buwaih yang berkedudukan di Ahwaz, sebuah kota di Iran. Permintaan itu dikabulkan. Ahmad dan pasukannya tiba di Baghdad pada tanggal Jumadil-ula 334 H/945 M. Ia disambut baik oleh Khalifah Al Muthi’ Lillahi [bergelar Abu al Qasim dengan nama aslinya al-Fadhl bin al-Muqtadir bin al-Mu’tadhid] dan langsung diangkat menjadi Amirul-Umara, penguasa politik Negara. Oleh Khalifah Al Muthi’ Ahmad diberi gelar Mu’izz al Daulah. Saudaranya, Ali Ibn Buwaih, yang memerintah di bagian selatan Persia dengan pusatnya di Syiraz diberikan gelar Imad al Daulah, dan Hasan Ibn Buwaih yang memerintah di bagian utara, Isfahan dan Rayy, dianugerahi gelar Rukn al Daulah. Sejak itu, sebagaimana terhadap para pemimpin militer Turki sebelumnya, para khalifah tunduk kepada Bani Buwaih.
Sejarah dinasti Buwaih dimulai dari tiga bersaudara keturunan Abu Syuja’ Buwaih, seorang berkebangsaan Persia dari Daylam, pesisir Laut Kaspia. Abu Syuja’ mengaku sebagai keturunan raja raja Sasaniyah kuno. Dia adalah pemimpin sebuah gerombolan yang suka berperang, yang sebagian besar terdiri atas orang orang dataran tinggi Daylami. Pada awal abad ke-10, ketiga anak Abu Syuja’: Ali (Imad al-Daulah), Hasan (Rukn al-Daulah), dan Ahmad (Mu’izz al-Daulah) merupakan pendiri dinasti Buwaihiyah. Kemunculan mereka di sejarah dinasti Abbasiyah bermula dari kedudukan panglima perang yang diraih Ali dan Ahmad dalam pasukan Makan ibn Kali dari dinasti Samaniyah, tetapi mereka berpidah ke kubu Mardawij ibn Ziyar pendiri dari dinasti Ziyariyyah untuk memerangi Samaniyah.
Ketika Mardawij terbunuh pada Januari 935 M, Ali yang tertua dari tiga bersaudara Buwaih, telah menjadi penguasa Isfahan, dan tak berselang lama ia menjadi menguasai seluruh Faris, Hasan telah menguasai daerah Jibal, dan Ahmad menguasai Karman dan Khuzistan. Syiraz kemudian dipilih sebagai ibukota dinasti baru ini. Seperti kebanyakan orang-orang Daylam lainnya, dinasti Buwaihiyah adalah penganut Syi’ah Itsna Asyariyyah yang moderat. Peringatan-peringatan tradisional Syi’ah dibawa ke dalam wilayah wilayah mereka, dan selama masa mereka terjadi sistematisasi dan intelektualisasi teologi Syi’ah. Pada tahun 945, kemajuan besar terjadi dalam dinasti Buwaih, tepatnya ketika Ahmad memasuki kota Baghdad.

Pada masa pemerintahan Bani Syiah Buwaih ini, para khalifah Abbasiyah benar-benar tinggal namanya saja. Pelaksanaan pemerintahan sepenuhnya berada di tangan amir amir Bani Buwaih. Keadaan khalifah lebih buruk daripada masa sebelumnya, karena mereka bersedia bekerjasama dengan para pengkhianat Masjidil Haram. Selama masa kekuasaan Bani Buwaih inilah frekuensi kerusuhan antara Islam dan Syiah, meningkat tajam.
Setelah Baghdad dikuasai, Bani Buwaih memindahkan markas kekuasaan dari Syiraz ke Baghdad. Mereka membangun gedung tersendiri di tengah kota dengan nama Dar al Mamlakah. Meskipun demikian, kendali politik yang sebenarnya masih berada di Syiraz, tempat Ali Ibn Buwaih (saudara tertua) bertahta. Dengan kekuatan militer Bani Buwaih, beberapa dinasti kecil yang sebelumnya memerdekakan diri dari Baghdad, seperti Bani Hamdan di wilayah Syria dan Irak, Dinasti Samaniyah, dan Ikhsyidiyah, dapat dikendalikan kembali dari Baghdad.
Berkuasanya dinasti Buwaihiyah di Baghdad, memberi konsekuensi yang amat mengerikan pada pondasi keimanan umat Islam saat itu. Karena begitu Buwaihiyah memiliki power, saat itulah mereka menyebarluaskan ajaran Syiah keseluruh pelosok Iraq. Dan ajaran Syiah, perlahan tapi pasti mulai ‘berkembang sempurna’ menjadi ajaran Syiah seperti yang kita kenal sekarang ini. Mereka terus menerus menyebarkan keyakinan dusta bahwa pada hari Ghadir Khum 18 Dzul Hijjaah, Rasulullah mengangkat Ali sebagai washi [orang yang diserahi wasiat] dan khalifah sepeninggal Rasulullah. Mereka menjadikan hari itu sebagai hari Raya besar Rafidhah. Tradisi ini kemudian diikuti oleh penguasa penguasa Syiah lainnya. Dari keyakinan dusta inilah terus berkembang pada mengkafirkan Abu Bakar, Umar, Utsman, Aisyah dan pada sahabat lainnya karena dianggap murtad mengingkari wasiat Rasulullah. Mereka menuduh Abu Bakar, Umar dan Utsman merebut kekhalifahan Ali.

Pada titik ini, kita semua tentu merasa bersyukur bahwa ibukota pemerintahan Khilafah Islamiyah telah dipindah dari Madinah ke Damaskus, lalu Baghdad. Bila tidak, kita tidak bisa membayangkan kerusakan iman yang akan menimpa penduduk Madinah dan Mekah, bila Syiah berkuasa satu hari saja di sana.
Saat itu kaum Syiah di Baghdad, dengan dukungan Ahmad, yang bergelar Mu’izz al Daulah mewajibkan masjid masjid untuk melaknat Mu’awiyah dan tiga Khalifah Rasyidin [Abu Bakar, Umar dan Utsman] [ Al Kamil, 8/542]. Tahun 352 H, Mu’izzud Daulah menyuruh kaum muslimin untuk menutup took took mereka, mengosongkan pasar, meliburkan jual beli dan menyuruh mereka untuk meratap. Para wanita disuruh keluar rumah tanpa pnutup kepala dan wajah dicoreng coreng, lalu berkeliling kota sambil meratap dan menampar nampar pipi atas kematian Husain bin Ali. Kaum muslimin di Baghdadpu melakukannya. Mereka tak mampu mencegah karena banyaknya jumlah kaum Syiah dan kekuasaan Abbasiyah di Baghdad kala itu berada di tangan kaum Buwaihiyah.
Diantara sekian banyak penderitaan umat akibat pengkhianatan dan kekejian Syiah, hadir juga sebuah kabar yang sedikit membawa kelegaan dan kegembiraan. Saat itu ketika tahun 950 M terbetik kabar Abu Thahir Sulaiman, pemimpin Qaramithah mati, dan Hajar Aswad dikembalikan ke Mekah setelah 22 tahun berada di Hajar, Bahrain.
Sekarang kita lanjut lagi mengupas data dan fakta kekejian Syiah. Kini kita tiba pada tahun 959 M/ 348 H. Dimana pada tahun ini kembali terjadi pertikaian antara kelompok Syiah Rafidhah dengan umat Islam, sehingga banyak orang yang terbunuh.

Sampai sampai Al Imam Adz Dzahabi berkata : ‘Sungguh telah terlantar urusan agama Islam dengan berdirinya Daulah Bani Buwaihi dan Bani Ubaid yang bermazhab Syiah ini. Mereka meninggalkan jihad dan mendukung kaum Nasani Romawi, serta merampas kota Madain’.
Orang orang Syiah terus bercokol di Baghdad menggerogoti kekhalifahan Abbasiyah dan bernafsu untuk menghancurkannya. Itulah sebabnya pada 656 H/ 1258 M, dua orang Syiah yang saat itu menjadi salah satu pejabat berkuasa di Baghdad, berkhianat kepada Khalifah Musta’shim Billah dengan cara memberi jalan masuk bagi tentara Tartar Mongol untuk masuk ke Baghdad sehingga menyebabkan Baghdad hancur binasa. Pengkhianatan itu dimotori oleh 2 orang Rafidhah yakni Muhamad bin Al Alqami dan Nashiruddin ath Thusi.
Syiah Mengincar Syam
Masih amat panjang daftar kekejian Syiah yang ditulis para ulama, tetapi sebelum kita lanjutkan, ada baiknya kita ulas sedikit tentang Syam agar semakin mudah kita memahami data dan fakta setelah ini.
Hampir semua muslim memahami betapa pentingnya Syam. Kedudukan dan kemuliaan wilayah Syam tercantum dalam banyak hadis Rasulullah ﷺ. Orang Syiah juga tentu paham pentingnya Syam dalam penegakkan kemuliaan Islam. Apalagi bila dikaitkan dengan peristiwa akhir jaman. Maka tidaklah heran, selain Hijaz, maka Syam adalah target mereka selanjutnya.

Dengan naiknya dinasti Syiah Buwaihidah di Baghdad, maka semakin terbukalah jalan bagi Syiah untuk menyebarkan ajaran batil mereka. Dan jalan untuk menguasai Syam, kini terbuka lebar. Aleppo [Halaba], Homs, Tripoli, Edessa/ Ar Raha Damaskus dst menjadi wilayah sasaran Syiah. Banyak dinasti dinasti penguasa Syiah yang segera terjun langsung ke Syam untuk melakukan penaklukkan. Setelah hampir setengah abad Syiah Qaramithah melakukan terror dan pembantaian terhadap wilayah muslim, kini saatnya Syiah menganeksasi Syam untuk di syiah-kan. Salah satu dinasti Syiah yang langsung meluncur ke Halaba adalah Dinasti Hamdani.

Dinasti Hamdan (Bahasa Arab: حمدانيون‎ Ḥamdānyūn) adalah sebuah dinasti Syiah yang sudah sejak 890 eksis di Baghdad. Kini mereka ingin mencoba peruntungannya dengan terjun ke Syam. Mereka berasal daripada puak purba Kristian iaitu Bani Taghlib dari Arabia Timur. Selama kekacauan di Samarra, mereka bergerak untuk menguasai kota Mosul, dan beberapa pembesar Taghlib berhasil menjadi gubernur kota itu secara bergantian. Dari Mosul, dinasti Hamdani melebarkan pengaruh ke Aleppo [Halaba]. Di Aleppo keturunan Hamdani berhasil menjadi emir. Dengan menguasai Aleppo, Hamdani leluasa menyebarkan paham Syiah. Kelak, meski Aleppo berhasil dikuasai Turki Seljuk yang muslim, tetapi benih benih Syiah sudah terlanjur melekat di sana. Salah satu pemimpin Aleppo sekitar tahun 1100 M, Ridwan, malah secara terang terangan menyatakan dirinya seorang Syiah. Dan Ridwan berkali kali melakukan pengkhianatan terhadap Islam dengan bersekutu dengan Tentara Salib jelang Perang Salib ke II. [Alwi Alatas, Nuruddin Zanki & Perang Salib]

Di Syam, dinasti Syiah Hamdani berhasil menjadi atabeg/ gubernur di Halaba [Aleppo]. ) Mereka adalah Syarif Sa’d Ad Daulah dan Sa’id Ad Daulah. Sa’id Ad Daulah inilah yang diceritakan oleh Imam Ibnu Katsir sebagai berikut :
Kemudian memasuki tahun 962 M/ 351 H, pada tahun ini tentara Rum menyerang Kota Halaba. Penyerangan itu dipimpin langsung oleh Damastaq Raja Rum [Romanos II Porphyrogennetos][semoga Allah melaknatnya] dengan mengerahkan 200.000 bala tentara. [Sementara Khalifah Al Muthi’ Lillahi/Abu Al Qasim, seperti biasa tidak mampu berbuat apa apa]. Menghadapi serangan itu, atabeg Saifud Daulah bin Hamdan [Sa’id Ad Daulah] beserta pasukannya berusaha memberi perlawanan. Akan tetapi mereka tidak mampu membendung laju tentara Rum dikarenakan besarnya jumlah tentara Rum, sehingga tentara Saifud Daulah banyak yang terbunuh. Adapun Saifud Daulah merupakan pemimpin yang pengecut dan kurang bersabar dalam menghadapi musuh sehingga dia melarikan diri bersama dengan sejumlah kecil dari pasukannya. Maka tentara Rum mengepung benteng kota Halaba. Namun penduduk negeri itu berusaha mempertahankan benteng dengan heroik dan mereka berhasil membunuh tentara Rum dalam jumlah yang besar. Tentara Rum betul betul menemui kesulitan yang sangat untuk menguasai benteng.

Di tengah tengah bahaya yang mengancam itu, konyolnya, tiba tiba saja kaum muslimin dikejutkan oleh sebuah berita, bahwasanya satuan pengaman pemerintah/ polisi dan pasukan khusus pemerintah [yang saat itu didominasi orang orang Syiah] melakukan keonaran di dalam kota. Orang orang Syiah itu mendobrak rumah rumah penduduk dan menjarah harta benda yang ada didalamnya. Sehingga tidak ada jalan lain bagi kaum muslimin kecuali kembali ke rumah-rumah mereka dan meninggalkan benteng pertahanan. Mereka berjibaku untuk memerangi Syiah pembuat onar. Akibatnya mudah ditebak, tentara Rum berhasil dengan mudah menerobos benteng kota dan membunuh kaum muslimin dalam jumlah yang besar, merampas harta benda mereka serta menawan anak-anak dan kaum wanita.
Tentara Rum pun merobohkan masjid masjid dan membakarnya serta menghancurkan segala sesuatu yang bisa mereka hancurkan. Mereka tinggal di Kota Halaba selama 9 hari sambil melakukan perusakan yang luar biasa. Dan semua ini bisa dilakukan tentara Rum karena pengkhianatan Saifud Daulah bin Hamdan dan antek anteknya orang orang Syiah sendiri. Mereka adalah Syiah Rafidhah yang mencintai Syiah dan membenci Islam. Itulah sebabnya terkumpullah bagi penduduk Halb berbagai macam musibah.
Sungguh pasti orang-orang seperti itu tidak ditolong oleh Allah begitu pula Saifud Daulah bin Hamdan, penguasa Halb, menganut aqidah syiah dan cenderung kepada Rofidhoh, sungguh pasti Allah tidak akan menolong orang-orang seperti mereka, bahkan justru memberikan kemenangan kepada kaum kafir.

Dan oleh karena itu pula tatkala kaum Syiah Fathimiyah berhasil menguasai Mesir dan Syam, maka orang-orang kafir Eropa berhasil menguasai seluruh pesisir Syam dan seluruh negeri Syam, bahkan menguasai Baitul Maqdis.
Dan tidak tersisa bagi kaum muslimin, selain kota Halaba, Homs, Hawah dan Damsyiq serta sebagian daerah pegunungan. Sedangkan seluruh daerah pesisir dan daerah lainnya berhasil dikuasai oleh orang orang kafir Eropa. Lonceng lonceng Nasrani serta aturan aturan Injil membahana di ketinggian benteng. Sementara syiar syiar Islam tampak redup di masjid masjid atau di tempat tempat mulia lainnya. Kaum muslimin di bawah kepemimpinan mereka berada dalam pengepungan hebat dan kesempitan menjalankan agama, para penduduk kota kota Islam senantiasa di dalam bayang-bayang ketakutan yang sangat dari keganasan tentara Eropa baik di waktu siang dan malam. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun.

Semua ini merupakan sebagian hukuman Allah dikarenakan oleh kemaksiatan kemaksiatan dan dosa dosa serta merajalelanya celaan celaan terhadap para sahabat Nabi yang merupakan manusia terbaik setelah para Nabi.
Malapetaka Terus Berlanjut

Ibnu Katsir melanjutkan penuturan Beliau, pada tahun 963 M/ 352 H di kota Baghdad kalangan awam Rafidhah menuliskan di pintu pintu masjid laknat terhadap sahabat Muawiyah bin Sufyan serta Abu Bakr, Umar dan Utsman serta melaknat sahabat Marwan bin Hakam, semoga Alloh meridhai para sahabat dan melaknat orang-orang yang melaknat para sahabat. Kemudian sampai berita kepada penguasa Baghdad Muizzud Daulah bahwasanya ahlus sunnah telah menghapus tulisan tersebut, maka kemudian Ahmad [Mu’izz al Daulah atau Muizzud Daulah] memerintahkan untuk membuat tulisan pengganti yang berbunyi semoga Allah melaknat orang orang yang mendzalimi keluarga Muhammad baik orang-orang yang telah berlalu atau orang-orang yang akan datang dan secara mencolok melaknat Muawiyah bin Abi Sufyan.

Mu’izzu al Daulah bin Buwaihi juga mengeluarkan perintah untuk menutup pasar-pasar. Agar semua orang mengenakan pakaian dari bulu dan agar para wanita keluar rumah dengan wajah terbuka dan mengurai rambutnya, baik di pasar-pasar dengan memukuli wajahnya sendiri seraya menangisi A Husain bin Ali. Para penduduk terpaksa melakukan apa yang diperintahkan Mu’izzu al Daulah. Karena jumlah golongan Syiah sangat banyak di Iraq [terutama di Baghdad] dan sang Khalifah berpihak kepada mereka.
Setelah Aleppo, Kini Malapetaka Berlanjut Ke Antiokhia pada tahun 970 M/ 359 H.

Halaba bukan satu satunya wilayah dimana Syiah menancap cukup kuat. Selain Halaba, daerah Syam yang di’jarah’ Syiah adalah Antiokhia. Kelak, Antiokhia akan selalu bernasib kelam akibat pengkhianatan yang dilakukan penguasanya sendiri. Begitulah bila sang penguasa adalah seorang Syiah, karena karakter dasar Syiah memang adalah khianat, jauh dari sifat amanah.
Ibnu Katsir bercerita, memasuki tahun 970 M/ 359 H, Kaisar Romawi Timur, Nikephoros II Phokas mengerahkan ribuan tentara Rum untuk menyerang kota Antiokhia atau Inthoqiyyah. [Antiokhia adalah kota tua di pesisir Syam, seperti halnyaTripoli, Haifa, Jaffa, Ar Ruha [Edessa]. Tetapi letak Antiokhio lebih agak ke dalam, tepatnya di sisi timur sungai Orontes. Kota ini merupakan pusat agama Kristen pada abad abad pertama Masehi dan disebut dalam Perjanjian Baru di Alkitab Kristen. Di kota inilah murid murid Yesus Kristus untuk pertama kalinya disebut dengan istilah Kristen [artinya Kristus kecil atau golongan Kristus] menurut catatan kitab Kisah Para Rasul 11.[Kisah Para Rasul 11:26]. Lepas era Rasulullah, agama Islam mulai masuk dan dianut sebagian besar penduduk Antiokhia. Sekarang kota ini menjadi kota modern dan bagian dari Turki dan disebut Antakya]
Tentara Rum itu membunuhi penduduknya termasuk para kakek dan nenek serta menawan anak-anak kecil sekitar 10.000 jiwa. Nikephoros II Phokas menyerang Antiokhia setelah sebelumnya ia mendapat lampu hijau dari Raja Armenia, Naqfur [Ashot III], agar membebaskan Antiokhia dan menjadikannya wilayah Kristen kembali. Menurut Ibnu Katsir, raja/ penguasa Antiokhia adalah seorang penganut Syiah Rafidhah. Dan orang orang Syiah itu berhasil menguasai negeri negeri muslimin dan menampakkan kerusakan kerusakan di dalamnya. Semoga Allah memburukkan mereka semua. (Al Bidayah wa Nihayah hal 284 juz 6)
Tahun 971 M adalah tahun penting bagi Daulah Fatimiyah di Ifriqiyah [Tunisia]. Karena ditahun inilah mereka mampu menumbangkan Ikhshidiyah dan merebut Mesir.

Begitu Syiah Fatimiyah berkuasa di Mesir, maka Islam praktis dikepung oleh 3 kekuatan Syiah. Satu di Jazirah Arabia Timur [Qaramithah], Dinasti Buwaihidah di Baghdad dan Fatimiyah di Mesir. Diatas sudah kita singgung soal irisan waktu diantara ketiga daulah Syiah itu, yakni antara tahun 971 M hingga 1055 M. Sehingga praktis pada waktu itu, selama 84 tahun, Islam betul betul dikelilingi oleh 3 kekuatan Syiah yang masing masing siap berkhianat terhadap Islam demi menjaga eksistensi ajaran mereka.

Dan dalam rentang waktu 971 M – 1055 M, Khilafah Abbasiyah berada dalaam titik kemerosotan yang tajam. Sehingga tidak mengherankan jika jabatan Khilafah hanya sekedar stempel, namun kekuasaan sesungguhnya berada pada emir emir di daerah. Ketiga kekuataan Syiah itu masing masing terus melakukan terror dan pembantaian terhadap umat Islam.

 

Wallahu a’lam bishowab

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ ♥ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ♥ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ ♥ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ♥ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

Teror & PengkhianatanSyiahTerhadap DuaMasjid Suci [1]
Teror & PengkhianatanSyiah Terhadap DuaMasjid Suci [2]
Teror & PengkhianatanSyiah Terhadap DuaMasjid Suci [3]
Teror & PengkhianatanSyiah Terhadap DuaMasjid Suci [4]