بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Akhir tahun ke 7 Bit’sah –  616 M,  7 tahun sebelum Hijrah

Berbagai cara yang dilakukan kaum Quraisy untuk menahan gerak dakwah Rasulullah ﷺ bagai membentur tembok besar : Selalu gagal. Alih-alih berhasil, mereka justru mendapat ancaman dari pendukung Rasulullah ﷺ, di antaranya Abu Thalib. Hal ini membuat Quraisy bertambah marah dan mereka pun mengumumkan peperangan.

Upaya teror, ancaman dan siksaan kaum Quraisy yang diarahkan kepada kaum Muslimin tidak mampu membendung perkembangan Islam. Makar mereka yang kotor dan keji ini tidak membuahkan hasil. Ternyata, justru kian banyak yang menerima seruan Islam, sehingga jumlah kaum Muslimin pun semakin bertambah. Seiring dengan perjalanan waktu, semakin lama banyak manusia yang menerima dakwah Rasulullah ﷺ . Cara-cara kaum Quraisy yang pernah mereka lakukan untuk memerangi dan menghambat kaum Muslimin tidak mendapatkan hasil apapun, terutama setelah Hamzah bin Abdul  Muthalib dan Umar bin Khaththab Radhiyallahu anhuma masuk Islam.

Menyadari keadaan seperti ini, kaum Quraisy tetap memiliki tekad yang kuat untuk menghambat dakwah Islam, risalah yang dibawa Rasulullah ﷺ . Mereka pun memutuskan metode baru yang lebih keras lagi, yaitu melakukan embargo yang dampaknya lebih luas dan dirasakan lebih menyeluruh di kalangan kaum Muslimin dan orang-orang yang melindungnya.

Suatu pertemuan digelar di kediaman Bani Kinanah, di lembah al Mahshib. Hampir seluruh pembesar Quraisy hadir. Agenda pertemuan adalah rencana pemboikotan terhadap Nabi saw dan para pengikutnya. Mereka sepakat untuk mengembargo umat Islam secara ekonomi dan sosial.

Dalam urusan ekonomi, kaum Quraisy tidak akan berjual-beli dengan kaum Muslim. Secara sosial, Quraisy tidak akan menikahi Bani Hasyim dan Bani al-Muthallib, tidak berkumpul dan tidak berbaur, serta tidak berbicara dengan kaum Muslim.

 

Ibnu Ishaq, Musa bin Ishaq, ‘Urwah bin Zubair, Ibnu Sa’ad dan ulama-ulama lain penyusun kitab al-Maghâzi mengisahkan, saat kaum Quraisy melihat para sahabat Rasulullah ﷺ telah mendapatkan daerah aman, Umar dan Hamzah juga telah menyambut seruan Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam , serta Islam telah tersebar di seluruh kabilah Arab, maka kaum Quraisy melakukan kesepakatan di antara mereka untuk membunuh Muhammad.

Kesepakatan ini terdengar oleh Abu Thalib. Sehingga paman Rasulullah ﷺ ini pun segera mengumpulkan Bani Hâsyim dan Bani Muthalib agar memasukkan Rasulullah ﷺ ke pemukiman Bani Hasyim dan Bani Muthalib, serta melindunginya dari orang orang yang hendak membunuhnya.

Bani Hasyim dan Bani Muthalib yang sudah masuk Islam maupun yang masih dalam kekufuran, dengan suka cita menyambut ajakan Abu Thalib ini, kecuali Abu Lahab yang lebih memilih berada di pihak Quraisy. Mereka menerima ajakan ini, tidak lain karena fanatisme golongan atau kesukuan. Sifat yang sangat kuat melekat pada masa jahiliyah.

Begitu melihat Bani Hasyim dan Bani Muthalib menyatukan sikap dengan seruan Abu Thalib, maka kaum Quraisy pun bermusyawarah menentukan sikap atas Bani Hasyim dan Bani Muthalib.

Ditulislah kesepakatan di antara mereka untuk melakukan embargo, di antaranya tidak bergaul dengan Bani Hasyim dan Bani Muthalib dan tidak menikahi mereka ( dalam kitab Fathul-Bari, 7/242, no. 1590 disebutkan : mereka tidak melakukan akad jual-beli dengan Bani Hasyim dan Bani Muthalib ), sampai Bani Hasyim dan Bani Muthalib menyerahkan Rasulullah ﷺ.

 

Pemboikotan Total

Kaum musyrikin berkumpul untuk menetapkan cara efektif menghentikan Islam dan Nabinya. Pertemuan itu menghasilkan kesepakatan untuk menulis selembar kesepakatan pemutusan hubungan total dengan Bani Hasyim dan Bani Abdil-Muththalib.

Pengumuman itu berisi :

  1. Barang siapa yang setuju dengan agama Muhammad, berbelas kasihan kepada salah seorang pengikutnya yang masuk Islam, atau memberi tempat singgah pada salah seorang dari mereka, maka ia dianggap sebagai kelompoknya dan diputuskan hubungan dengannya.
  2. Tidak boleh menikah dengannya atau menikahkan dari mereka.
  3. Tidak boleh berjual beli dengan mereka.

Pernyataan embargo itu mereka dokumentasikan di atas sebuah shahifah (lembaran) yang berisi perjanjian dan sumpah yang digantungkan di dinding Kabah.

Berikut isinya :
“Bahwa mereka selamanya tidak akan menerima perdamaian dari Bani Hasyim dan tidak akan berbelas kasihan terhadap mereka, kecuali bila mereka menyerahkan Muhammad untuk dibunuh.”

Diriwayatkan, yang menulis penyataan itu ialah Manshur bin ‘Ikrimah yang didoakan Rasulullah
agar celaka sehingga sebagian jemarinya lumpuh. Ada juga yang mengatakan bahwa penulisnya ialah Nadhr bin Harits, ada yang mengatakan Thalhah bin Abu Thalhah, dan ada pula yang mengatakan Bagiid bin ‘Amir bin Hasyim bin Abdud-Daar. Pendapat terakhir inilah yang menjadi pendapat Ibnul-Qayyim dalam Zadul-Ma’ad (3/30).

Tiga Tahun di Perkampungan Abu Thalib

Mengenai permulaan embargo ini, ada yang mengatakan dimulai bulan Muharram tahun ketujuh kenabian. Mereka tinggal disana selama dua tahun, dan ada yang mengatakan tiga tahun

Selama embargo yang berlangsung tiga tahun itu, kegiatan dakwah cukup terganggu. Meski demikian, hal itu menambah keteguhan hati umat Islam dalam memegang risalah. Mereka terus berjuang menyebarkan Islam kepada seluruh manusia.

Pemboikotan membuat kaum Muslim menderita luar biasa. Selama masa itu, Rasulullah ﷺ dan Khadijah berusaha keras melindungi kaum Muslim. Seluruh harta benda Khadijah habis digunakan untuk membantu kaum Muslim yang kelaparan. Sementara itu, Bani Hasyim dan Bani al Muthallib tetap membela Rasulullah ﷺ.

Di masa itu pula, kaum Muslim memutuskan untuk berkumpul di perkampungan Abu Thalib pada bulan Muharram tahun ke-7 dari masa kenabian, agar dapat saling menolong. Selama ini kerabat Rasulullah ﷺ dan kaum Muslim tinggal berpencar di negeri Makkah. Mereka tak berkumpul di satu tempat. Hal ini tentu amat menyulitkan dalam menghadapi boikot kaum musyrik.

Pcmboikotan semakin diperketat sehingga persediaan makanan pun habis. Sementara kaum musyrik tidak membiarkan makanan apa pun masuk ke perkampungan Abu Thalib. Situasi tersebut membuat kaum Muslim kian terjepit.

Masa masa Penuh Penderitaan

Kondisi kaum Muslim mengenaskan. Mereka terpaksa memakan dedaunan dan kulit-kulit. Mulut mereka berbusa dan anak-anak mereka merintih kelaparan.

Sa’ad bin Abi Waqqash menuturkan penderitaan yang mereka alami. “Pada suatu malam, aku pergi kencing. Tiba-tiba aku mendengar suara gemercik air kencingku sepertinya banyak, sehingga aku gembira. Setelah selesai, aku baru sadar bahwa yang gemercik itu adalah suara kulit yang aku biarkan terpanggang di atas api supaya kering dan dapat aku makan. Ternyata kulit itu menjadi sangat kering, sehingga terpaksa aku memakannya dengan merendamnya dalam air terlebih dahulu.”

Makanan memang tidak ada yang sampai ke tangan kaum Muslim, kecuali secara sembunyi-sembunyi. Keluar rumah untuk membeli makanan pun mereka takut, kecuali pada al-Asyhur al-Hurum (bulan-bulan yang diharamkan berperang). Mereka membelinya dari rombongan yang datang dari luar Makkah. Akan tetapi, penduduk Makkah menaikkan harga barang-barang beberapa kali lipat agar mereka tidak mampu membelinya.

Di tengah situasi yang kritis itu, ada sebagian orang kafir yang menyelundupkan makanan. Salah satunya Umar al Amiri yang meletakkan makanan di atas unta, lalu memukul unta itu sehingga makanan bisa sampai ke Bani Hâsyim. Namun, itu tak berlangsung lama karena kaum Quraisy akhirnya mengetahui hal tersebut.

Para pembesar Quraisy marah. Mereka lalu menginterogasi Umar.

“Apakah engkau telah ikut agama Muhammad?”

“Tidak,” jawab ‘Umar.

“Mengapa engkau melakukan hal tersebut?” tanya Quraisy lagi.

“Untuk menyambung silaturahim,” jawab ‘Umar.

Mendengar jawaban itu, Quraisy menghardik, “Jangan sampai engkau mengulanginya lagi.”

Setelah tiga hari berlalu, ‘Umar mengulangi perbuatannya dan Quraisy memergokinya lagi. Kemudian ‘Umar dituntut untuk bersumpah agar tidak melakukannya lagi. Namun, ‘Umar kembali melakukan hal yang sama. Akhirnya Quraisy mcmukulinya. Akan tetapi, ‘Umar tetap mengulangi perbuatannya. Quraisy lalu memukulinya. Beruntung Abü Sufyân datang. Ia memerintahkan kaum Quraisy untuk membebaskan ‘Umar.

“Biarkanlah laki-laki yang ingin menyambung silaturahim. Janganlah kalian merusak seluruh akhlak baik kita.”

Di lain kesempatan, Hakim bin Hizâm pernah membawa gandum untuk diberikan kepada bibinya, Khadijah. Suatu saat, perbuatannya diketahui Abu Jahal. Hakim dihadang dan diinterogasi oleh Abñ Jahal. Untung saja, ada Abü al-Bukhturi yang menengahi dan membiarkannya lolos membawa gandum tersebut.
Di lain pihak, Abu Thâlib merasa khawatir atas keselamatan kemenakannya itu. Ia lalu memerintahkan Nabi saw untuk berbaring di tempat tidurnya agar memudahkan Abu Thâlib mengetahui jika ada yang hendak membunuh Muhammad. Dan ketika orang-orang telah benar-benar tertidur, Ia memerintahkan salah satu dari putra-putra, saudara-saudara, atau kemenakan-kemenakannya untuk tidur di tempat tidur Rasulullah saw. Sementara, Rasulullah saw diperintahkan untuk tidur di pembaringan mereka.

Saat embargo itu, Rasulullah saw dan kaum Muslim diperbolehkan menunaikan ibadah haji. Ini dilakukan agar boikot yang dilakukan Quraisy tidak diketahui oleh suku-suku yang lain.

Rayap Membatalkan Piagam Boikot

Kondisi kaum Muslim kian memprihatinkan. Embargo telah berlangsung sekitar tiga tahun. Namun, mereka tetap tegar. Tidak satu pun yang tergoda dengan bujuk rayu kaum Quraisy.

Sebaliknya, keteguhan kaum Muslim membuat kaum Quraisy hilang kesabaran. Perpecahan mulai terjadi di antara mereka. Sebagian kaum Quraisy berusaha membatalkan piagam pemboikotan yang di antaranya dilakukan oleh Hisyâm bin ‘Amru dari Bani Amir bin Luai.

Suatu malam, Hisyam secara diam-diam melakukan kontak dengan Bani Hâsyim dan menyuplai bahan makanan. Ia menemui Zuhair bin Abi Umayyah al-Makhzumi (ibunya bernama ‘Atikah binti ‘Abdul Muthallib).

“Wahai Zuhair, apakah engkau tega dapat menikmati makan dan minum, sementara saudara-saudara dari pihak ibumu kondisi mereka seperti yang engkau ketahui saat ini?” tanya Hisyâm.

“Apa yang dapat aku perbuat bila hanya seorang diri? Sungguh, demi Allah andaikata ada seorang lagi bersamaku, niscaya aku robek lembaran piagam tersebut,” jawab Zuhair.

“Engkau sudah mendapatkannya!” kata Hisyam.

“Siapa dia?” Zuhair bertanya penuh kei ngintahuan.

“Aku,” jawab Hisyâm.

“Kalau begitu, carikan untuk kita orang ketiga!” usul Zuhair.

Lalu Hisyâm pergi menuju kediaman al Muth’im bin ‘Adl. Saat keduanya bertemu, Hisyâm menyinggung silaturahim antara Bani Hâsyim dan Bani al Muthallib, dua orang putra ‘Abdu Manaf dan mencela persetujuannya atas tindakan zalim kaum Quraisy. Mendengar penjelasan Hisyâm, al Muth’im langsung bereaksi.

“Celakalah engkau! Apa yang dapat aku lakukan padahal aku hanya seorang diri?” kata al Muth’im.

“Engkau sudah mendapatkan orang kedua.”

“Siapa dia?”

“Aku,” jawab Hisyâm.

“Kalau begitu, carikan orang ketiga!” pinta al-Muth’im.

“Sudah aku dapatkan orangnya,” jawab Hisyâm.

“Siapa dia?” tanya al-Muth’im.

“Zuhair bin Abi Umayyah,” kata Hisyâm.

“Kalau begitu, carikan orang keempat!” mohon al-Muth’im lagi.

Lalu Hisyâm pergi menemui Abu al Bukhturi bin Hisyâm. Setelah bertemu, Hisyâm berbicara persis dengan apa yang telah dikatakannya kepada al-Muth’im.

“Apakah ada orang yang membantu kita dalam hal ini?” tanya al Bukhturi.

“Ya, ada,” jawab Hisyam.

“Siapa dia?” tanya al Bukhturi.

“Zuhair bin Abi Umayyah dan al Muth’im bin Adi. Aku juga akan bersamamu,” jelas Hisyam.

“Kalau begitu, carikan lagi bagi kita orang kelima!” mohon al Bukhturi.

Kemudian Hisyâm menemui Zam’ah bin al-Aswad bin al-Muthallib bin Asad. Dia berbincang dengan Zam’ah tentang kekerabatan yang ada di antara mereka dan hak-hak mereka.

Zam’ah bertanya kepadanya, “Apakah ada orang yang mendukung rencanamu ini?”

“Ya” jawab Hisyâm.

Lalu Hisyâm menyebutkan nama-nama orang yang ikut serta. Setelah terkumpul lima orang, mereka bertemu pada malam hari di pintu Hujün. Mereka berjanji akan melakukan pembatalan terhadap isi piagam pemboikotan.

“Akulah orang pertama yang akan berbicara,” ujar Zuhair penuh semangat. Rencana pun disusun dengan rapi.

Di pagi hari, mereka pergi ke tempat perkumpulan kaum Quraisy. Zuhair datang dengan mengenakan pakaian kebesaran lalu mengelilingi Ka’bah tujuh kali. Setelah itu, ia membalikkan badan dan menghadapkan wajahnya ke kerumunan kaum Quraisy.

“Wahai penduduk Makkah! Apakah kamu tega bisa menikmati makanan dan memakai pakaian, sementara Bani Hâsyim binasa. Tidak ada yang sudi menjual kepada mereka dan tidak ada yang membeli dari mereka?” Zuhair membuka pembicaraan. Orang-orang Quraisy menyimak penuh perhatian.

“Demi Allah, aku tidak akan duduk hingga lembaran piagam yang telah memutuskan silaturahim dan zalim ini dirobek!” kata Zuhair sambil mengarahkan tangannya untuk mengambil lembaran piagam yang tergantung di Ka’bah.

Abu Jahal yang berada di pojok masjid terkejut dengan keberanian Zuhair. Ia langsung bangkit dari duduknya dan bergegas mendekati Zuhair.

“Demi Allah! Engkau telah berbohong! Jangan lakukan itu!” teriak Abü Jahal panik.

Namun, Zam’ah bin al-Aswad segera membalas ocehan Abu Jahal.

“Demi Allah! Justru engkaulah yang paling pembohong! Kami tidak pernah rela menulisnya waktu itu.”

“Benar apa yang dikatakan Zam’ah. Kami tidak pernah rela terhadap apa yang telah ditulis dan tidak pernah menyetujuinya,” al-Bukhturi menambahkan.

Al-Muth’im tak mau ketinggalan. “Mereka berdua ini memang benar dan sungguh orang yang mengatakan selain itulah yang berbohong. Kami berlepas diri kepada Allah dari piagam tersebut dan apa yang ditulis di dalamnya,” tegas al-Muth’im. Sementara itu, Hisyâm bin ‘Amru menjadi orang terakhir yang semakin memperjelas ketidaksetujuan mereka terhadap piagam pemboikotan tersebut.Abu Jahal berang melihat hal itu.

“Urusan ini telah diputuskan di tempat selain ini pada malam dimusyawarahkannya saat itu,” kata Abu Jahal dengan sorot mata tajam.

Saat ketegangan memuncak, datanglah Abü Thâlib. Paman Nabi saw itu sengaja pergi ke Masjid al-Harâm karena ia telah diberitahu oleh Rasulullah saw tentang piagam yang telah robek dimakan oleh rayap.

“Paman, lembaran piagam itu telah rnusnah karena Allah telah mengirimkan rayap-rayap untuk memakannya, kecuali tulisan yang ada nama Allah,” ujar Rasulullah saw kepada Abu Thâlib.

Abu Thâlib memberitahukan hal tersebut kepada kaum Quraisy.

“Wahai Quraisy, kemenakanku mengatakan piagam itu telah dimakan rayap. Mari kita buktikan kebenaran Muhammad. Jika memang kemenakanku berbohong, kami akan membiarkan kalian untuk menyelesaikan urusan dengannya, demikian pula sebaliknya. Jika dia benar, kalian harus membatalkan embargo,” ujar Abu Thâlib.

“Jika itu yang engkau inginkan, kami setuju. Kalau begitu, engkau telah berlaku adil,” kata orang-orang Quraisy.

Sorot mata orang-orang Quraisy kini tertuju pada piagam yang masih tergantung di Ka’bah. Demikian pula Abu Thalib, Hisyâm, dan rekan-rekan mereka.

Al-Muth’im lalu bergegas menuju lembaran piagam untuk merobeknya. Setelah jaraknya begitu dekat dengan piagam itu, mimik muka al-Muth’im berubah. Ia terkejut bercampur gembira karena melihat rayap-rayap telah memakan piagam kecuali tulisan “bismikallah” (dengan nama-Mu, ya Allah) dan tulisan yang ada nama Allah di dalamnya.

Piagam itu akhirnya tak berlaku lagi. Nabi saw bersama orang-orang yang ada di kediaman Abu Thâlib pun dapat leluasa keluar. Namun, kaum Quraisy tetap pada pendiriannya. Mereka tak mau mengakui kebenaran Nabi saw meski telah melihat tanda-tanda kenabian beliau.

Dan jika mereka (orang-orang musyrik) melihat sesuatu tanda (mujizat,), mereka berpaling dan berkata, “(ini adalah) sihir yang terus-menerus. “(QS. al-Qamar [54]: 2)

Mereka telah berpaling dari tanda ini dan bertambahlah mereka dari kekufuran-kekekufuran yang lain lagi. (HR. Bukhari).

Hadis hadis Tentang Pemboikotan

Perincian peristiwa embargo ini tidak didapatkan dalam haditshadits shahih, tetapi hanya didapatkan dari isyarat-isyarat yang bersifat global. Sebagaimana diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu , ketika hendak berangkat dalam perang Hunain, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَنْزِلُنَا غَدًا إِنْ شَاءَ اللَّهُ بِخَيْفِ بَنِي كِنَانَةَ حَيْثُ تَقَاسَمُوا عَلَى الْكُفْرِ

Insya Allah, rumah k ita besok berada di dataran Bani Kinanah, tempat dimana dulu kaum Quraisy telah saling bersumpah atas kekufuran.

Dalam riwayat lain, Imam al Bukhari membawakan riwayat, ketika Rasulullah ﷺ menuju Mekkah, Rasulullah ﷺ bersabda sebagaimana kemudian Imam al Bukhari membawakan hadits di atas.

Dalam riwayat lainnya :

مِنَ الْغَدِ يَوْمَ النَّحْرِ وَهُوَ بِمِنًى نَحْنُ نَازِلُونَ غَدًا بِخَيْفِ بَنِي كِنَانَةَ حَيْثُ تَقَاسَمُوا عَلَى الْكُفْرِ يَعْنِي ذَلِكَ الْمُحَصَّبَ وَذَلِكَ أَنَّ قُرَيْشًا وَكِنَانَةَ تَحَالَفَتْ عَلَى بَنِي هَاشِمٍ وَبَنِي عَبْدِ الْمُطَّلِبِ أَوْ بَنِي الْمُطَّلِبِ أَنْ لَا يُنَاكِحُوهُمْ وَلَا يُبَايِعُوهُمْ حَتَّى يُسْلِمُوا إِلَيْهِمْ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Sejak besok, yaitu hari Qurban – ketika itu beliau ﷺ sedang berada di Mina- kita akan tinggal di dataran Bani Kinanah, tempat mereka telah saling berjanji atas kekufuran –yang dimaksudkan ialah daerah Muhasshab, karena kaum Quraisy dan Kinanah pernah saling berjanji untuk tidak menikahi dan melakukan akal jual beli dengan Bani Hâsyim dan Muthalib sampai mereka bersedia menyerahkan Nabi ﷺ . Lihat Fathul-Bari, 7/242.

Demikian beberapa riwayat yang mengisyaratkan tentang keberadaan embargo.

Berkaitan dengan embargo kaum Quraisy terhadap kaum Muslimin, Rasulullah ﷺ pernah mendoakan supaya kaum Quraisy tertimpa keburukan, sehingga mereka betul-betul ditimpa musibah kelaparan yang sangat. Lalu Abu Sufyan mendatangi Rasulullah ﷺ , memintanya agar mau mendoakan kebaikan bagi mereka, seraya menyebut-nyebut kekerabatan mereka.

Rasulullah ﷺ membacakan surat Ad Dukhaan [44] ayat 10 – 15 :

فَارْتَقِبْ يَوْمَ تَأْتِي السَّمَاءُ بِدُخَانٍ مُبِينٍ ﴿١٠﴾ يَغْشَى النَّاسَ ۖ هَٰذَا عَذَابٌ أَلِيمٌ ﴿١١﴾ رَبَّنَا اكْشِفْ عَنَّا الْعَذَابَ إِنَّا مُؤْمِنُونَ ﴿١٢﴾ أَنَّىٰ لَهُمُ الذِّكْرَىٰ وَقَدْ جَاءَهُمْ رَسُولٌ مُبِينٌ ﴿١٣﴾ ثُمَّ تَوَلَّوْا عَنْهُ وَقَالُوا مُعَلَّمٌ مَجْنُونٌ ﴿١٤﴾ إِنَّا كَاشِفُو الْعَذَابِ قَلِيلًا ۚ إِنَّكُمْ عَائِدُونَ

Maka tunggulah hari ketika langit membawa kabut yang nyata. Yang meliputi manusia. Inilah adzab yang pedih, (Mereka berdoa) : “Ya Rabb kami, lenyapkanlah dari kami adzab itu. Sesungguhnya kami akan beriman”. Bagaimanakah mereka dapat menerima peringatan, padahal telah datang kepada mereka seorang rasul yang memberi penjelasan, kemudian mereka berpaling daripadanya dan berkata: “Dia adalah seorang yang menerima ajaran (dari orang lain), lagi pula seorang yang gila”. Sesungguhnya (kalau) Kami akan melenyapkan siksaan itu agak sedikit sesungguhnya kamu akan kembali (ingkar).

Kemudian Rasulullah ﷺ berdoa agar penderitaan mereka dihilangkan, dan Allah mengabulkan doa Rasul-Nya. Allah menghilangkan penderitaan kaum Quraisy, namun mereka tetap kembali kepada kekufuran.

Utusan Terakhir Quraisy Menemui Abu Thalib

Setelah pembatalan embargo, Rasulullah saw mulai leluasa melakukan aktivitas seperti biasa. Namun, bukan berarti kaum Quraisy tinggal diam. Mereka tetap gigih melakukan tekanan terhadap kaum Muslim.

Di lain sisi, Abu Thalib masih tegar memberikan perlindungan kepada kemenakannya tercinta. Namun, kini usianya bertambah tua, melebihi 80 tahun. Penderitaan dan peristiwa-penistiwa besar yang datang silih berganti membuat kondisi fisiknya melemah. Tubuhnya semakin rapuh setelah terjadi pengepungan dan pemboikotan terhadap perkampungannya. Persendiannya lemah dan tulang rusuknya patah. Abu Thâlib jatuh sakit.

Kabar ini cepat tersiar di penjuru Makkah. Kaum Quraisy gembira mendengarnya. Pelindung utama Muhammad saw di ambang kematian, pikir mereka. Itu berarti mereka akan lebih leluasa menyiksa Nabi saw.

Namun, sebelum ajal menjemput Abü Thâlib, mereka harus menjenguknya. Mereka tidak mau nama besar Quraisy cacat karena hanya datang ke kediaman Abü Thâlib saat kematiannya. Karena itu, mereka sekali lagi mengadakan perundingan dengan Abu Thalib. Para pemuka Quraisy yang hadir, antara lain, adalah ‘Utbah bin Rabi’ah, Syaibah bin Rabi’ah, Abu Jahal bin Hisyam, Umayyah bin Khalaf, Abu Sufyan bin Harb. Pertemuan itu dilakukan di hadapan para tokoh yang berjumlah sekitar 25 orang.

“Wahai Abu Thalib, sesungguhnya engkau, seperti yang engkau ketahui, adalah bagian dari kami dan saat ini, sebagaimana yang engkau saksikan sendiri, telah terjadi sesuatu pada dirimu. Kami cemas terhadap dirimu padahal engkau juga sudah tahu apa yang terjadi antara kami dan kemenakanmu,” ujar salah satu dari kaum Quraisy mengawali pembicaraan.

Mereka lalu meminta Abu Thalib membujuk kemenakannya untuk menenima tawaran yang mereka ajukan.

“Kami akan menerima yang Muhammad minta. Namun, kemenakanmu juga harus menerima apa yang kami mau,” bujuk mereka. “Kami tidak ingin mencampuri urusan Muhammad, demikian juga dengan kemenakanmu. Desaklah dia agar membiarkan kami menjalankan agama kami seperti halnya kami juga akan membiarkannya menjalankan agamanya,” pinta kaum musyrik Quraisy.

Abu Thalib lalu mengirimkan utusan untuk meminta Rasulullah ﷺ datang. Nabi ﷺ tiba di kediaman pamannya. “Wahai kemenakanku! Mereka itu adalah pemuka-pemuka kaummu. Mereka berkumpul karenamu untuk memberimu sesuatu dan mengambil sesuatu pula darimu.”

Lalu Abu Thalib memberitahukan kepada Rasulullah ﷺ apa yang telah ditawarkan oleh orang-orang Quraisy kepadanya.

Rasulullah saw terdiam sejenak. Setelah itu, beliau mulai berbicara.

“Bagaimana pendapat kalian bila aku katakan kepada kalian satu kalimat yang bila kalian ucapkan, niscaya kalian akan dapat menguasai bangsa Arab dan orang-orang asing akan tunduk kepada kalian?”

Ketika mendengar ini, mereka tercengang dan bingung. Mereka tidak tahu bagaimana caranya menolak satu kalimat itu.

Abu Jahal yang penasaran langsung berujar, “Apa itu? Sungguh aku akan memberikanmu sepuluh kali lipatnya.”

“Kalian katakan, ‘La Ilaha illallâh’ dan kalian ringgalkan sesembahan selain-Nya!” tegas Rasulullah saw.

Orang-orang Quraisy tidak menyetujui permintaan Nabi saw. Mereka justru bertepuk tangan sambil tertawa terbahak-bahak.

“Wahai Muhammad! Apakah kamu hendak membuat tuhan-tuhan yang banyak itu menjadi satu saja? Sungguh aneh polahmu ini.”

Di antara mereka kemudian saling berbicara. Suasana menjadi gaduh.

“Demi Allah! Sesungguhnya orang ini tidak memberikan apa yang kita inginkan. Pergi dan teruslah dalam agama nenek moyang kita hingga Allah memutuskan antara kita dan dirinya,” kata salah seorang Quraisy kepada rekan-rekannya. Peristiwa tersebut membuat Allah menurunkan firman-Nya yakni surat Shaad [38] ayat 1 – 7 :

 ص وَالْقُرْآنِ ذِي الذِّكْرِ 1

Shaad, demi Al Qur’an yang mempunyai keagungan.

 بَلِ الَّذِينَ كَفَرُوا فِي عِزَّةٍ وَشِقَاقٍ 2

Sebenarnya orang-orang kafir itu (berada) dalam kesombongan dan permusuhan yang sengit.

 كَمْ أَهْلَكْنَا مِنْ قَبْلِهِمْ مِنْ قَرْنٍ فَنَادَوْا وَلاتَ حِينَ مَنَاصٍ 3

Betapa banyaknya umat sebelum mereka yang telah Kami binasakan, lalu mereka meminta tolong padahal (waktu itu) bukanlah saat untuk lari melepaskan diri.

. وَعَجِبُوا أَنْ جَاءَهُمْ مُنْذِرٌ مِنْهُمْ وَقَالَ الْكَافِرُونَ هَذَا سَاحِرٌ كَذَّابٌ 4

Dan mereka heran karena mereka kedatangan seorang pemberi peringatan (rasul) dari kalangan mereka; dan orang-orang kafir berkata: “Ini adalah seorang ahli sihir yang banyak berdusta”

 أَجَعَلَ الآلِهَةَ إِلَهًا وَاحِدًا إِنَّ هَذَا لَشَيْءٌ عُجَابٌ 5

Mengapa ia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan Yang satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan.

 وَانْطَلَقَ الْمَلأ مِنْهُمْ أَنِ امْشُوا وَاصْبِرُوا عَلَى آلِهَتِكُمْ إِنَّ هَذَا لَشَيْءٌ يُرَادُ 6

Dan pergilah pemimpin-pemimpin mereka (seraya berkata): “Pergilah kamu dan tetaplah (menyembah) tuhan-tuhanmu, sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang dikehendaki.

مَا سَمِعْنَا بِهَذَا فِي الْمِلَّةِ الآخِرَةِ إِنْ هَذَا إِلا اخْتِلاقٌ 7

Kami tidak pernah mendengar hal ini dalam agama yang terakhir; ini (mengesakan Allah), tidak lain hanyalah (dusta) yang diada-adakan,

 (Ibnu Hisyam).

Hikmah Boikot terhadap Kaum Muslim

Peristiwa embargo ekonomi dan pengucilan kerabat kerabat Nabi saw yang dilakukan oleh orang-orang kafir Quraisy waktu musim Haji menarik perhatian seluruh kabilah di Jazirah ‘Arab. Beliau dan kaum Muslim melanjutkan misi dakwahnya ke berbagai kabilah dalam kondisi haus dan lapar.
Peristiwa embargo ekonomi justru membuka mata hati kabilah kabilah ‘Arab untuk mengakui kebenaran. Mereka berpandangan, jika dakwah Nabi saw salah, mana mungkin beliau dan para sahabatnya mau menanggung risiko yang amat berat itu.

Aksi pemboikotan terhadap Rasulullah ﷺ, Bani Hasyim, dan Bani Muthallib, membuat kabilah- kabilah Arab membenci kaum Quraisy. Betapa dahsyatnya aksi pemboikotan itu, sehingga membuat banyak kabilah simpatik terhadap Islam dan gaung Islam pun semakin menyebar ke seluruh tanah Arab. Pengepungan, pemboikotan, dan pengekangan adalah aksi yang melanggar hak-hak asasi manusia.

Di abad modern ini, kehidupan seorang Muslim dan kebebasan beragama yang tumbuh di negara mana pun dijamin oleh penguasa. Banyak juga undang undang yang intinya membebáskan umat beragama menjalankan ibadahnya.
Setiap bangsa di mana pun dan kapan pun yang ingin menerapkan syariah Ilahi pasti akan berhadapan dengan berbagai kemungkinan. Ditekan, dikucilkan, dan diboikot oleh orang-orang yang sesat. Dalam kondisi demikian, para pemimpin Islam hendaknya mempersiapkan diri dan pengikutnya untuk menemukan solusi yang tepat. Hendaknya mereka juga memikirkan, reaksi apakah yang efektif untuk melawan aksi pemboikotan agar umat Islam mampu mempertahankan kebenarannya.

Wallahu a’lam bil showab

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ ♥ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ♥ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ ♥ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ♥ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

..