<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Muhammad SAW, Nabi Muhammad SAW, Cerita Nabi Muhammad, Riwayat Nabi Muhammad, Rasulullah Muhammad SAW,  Dakwah Nabi Muhammad &#187; Sejarah</title>
	<atom:link href="http://nabimuhammad.info/tag/sejarah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://nabimuhammad.info</link>
	<description>Nur Muhammad, Muhammad, Nabi Muhammad SAW, Riwayat Nabi Muhammad, Sejarah Muhammad SAW,  Cerita Nabi Muhammad, Surat Muhammad, Maulid Nabi Muhammad, kisah Muhammad, Habib Muhammad, Kelahiran Nabi Muhammad, Cerita Nabi Muhammad, Hadist Nabi Muhammad, Foto Muhammad, Pidato nabi Muhammad</description>
	<lastBuildDate>Tue, 22 May 2012 13:38:54 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
		<item>
		<title>Makkah, Kota Spritiual Untuk Kaum Kaya [?]</title>
		<link>http://nabimuhammad.info/2011/09/makkah-kota-spritiual-untuk-kaum-kaya/</link>
		<comments>http://nabimuhammad.info/2011/09/makkah-kota-spritiual-untuk-kaum-kaya/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Sep 2011 01:59:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[News]]></category>
		<category><![CDATA[benteng ajyad]]></category>
		<category><![CDATA[Kota Spritiual Untuk Kaum Kaya]]></category>
		<category><![CDATA[Makkah]]></category>
		<category><![CDATA[Nabi Muhammad]]></category>
		<category><![CDATA[Rasulullah]]></category>
		<category><![CDATA[rumah nabi]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[usmaniyah]]></category>
		<category><![CDATA[[ Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wassalam ]]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nabimuhammad.info/?p=6819</guid>
		<description><![CDATA[nabimuhammad.info _ Makkah. Dalam 10 tahun ini, Makkah mengalami transformasi yang luar biasa; lokasi Masjidil Haram ditata ulang, dan bermunculan gedung-gedung pencakar langit dan hotel berbintang berkelas internasional. Dalam sebuah tulisan feature, harian The Independent mengupas sisi dalam Kota Suci. &#8220;Meski Nabi Muhammad datang untuk menekankan kesetaraan, Makkah berubah menjadi taman bermain bagi kaum kaya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://nabimuhammad.info/wp-content/uploads/2011/09/makkah.jpg"><img src="http://nabimuhammad.info/wp-content/uploads/2011/09/makkah.jpg" alt="makkah Makkah, Kota Spritiual Untuk Kaum Kaya [?]" title="makkah" width="450" height="328" class="alignnone size-full wp-image-6820" /></a><strong>nabimuhammad.info _ </strong>Makkah.  Dalam 10 tahun ini, Makkah mengalami transformasi yang luar biasa; lokasi Masjidil Haram ditata ulang, dan bermunculan gedung-gedung pencakar langit dan hotel berbintang berkelas internasional.</p>
<p>Dalam sebuah tulisan feature, harian The Independent mengupas sisi dalam Kota Suci. &#8220;Meski Nabi Muhammad datang untuk menekankan kesetaraan, Makkah berubah menjadi taman bermain bagi kaum kaya dimana kapitalisme secara kasat mata mengaburkan nilai spiritualitas kota,&#8221; tulis mereka, mengutip kata-kata seorang kritikus.</p>
<p>Harian ini menyoroti, betapa demi membangun kota yang kini &#8216;serupa Las Vegas&#8217;, banyak bangunan bersejarah yang dikorbankan. &#8220;Tak ada yang memperjuangkan aksi vandalisme budaya ini,&#8221; kata  Dr Irfan al-Alawi, direktur eksekutif The Islamic Heritage Research Foundation. &#8220;Kami sudah kehilangan 400-500 situs bersejarah. Saya harap belum terlambat untuk menyelamatkan yang tersisa.&#8221;</p>
<p>Sami Angawi, pakar arsitektur Islam Arab saudi, sama-sama prihatin. &#8220;Ini adalah kontradiksi mutlak untuk sifat Makkah dan kesucian rumah Allah,&#8221; katanya kepada kantor berita Reuters awal tahun ini. &#8220;Kedua kota [Makkah dan Madinah] secara historis hampir punah. Anda tidak menemukan apa-apa kecuali gedung pencakar langit.&#8221;</p>
<p>Kekhawatiran dr Alawi yang paling mendesak adalah ekspansi yang direncanakan senilai miliaran dolar AS dari Masjidil Haram, situs paling suci dalam Islam dimana Kabah berada. Konstruksi resmi dimulai awal bulan ini. Menteri Kehakiman, Mohammed al-Eissa, berseru bahwa proyek ini akan menghormati &#8220;kesucian dan kemuliaan dari Masjid Suci, dan demi kepentingan jamaah.&#8221;</p>
<p>Area perluasan sekitar 400 ribu meter persegi tengah dibangun untuk mampu meningkatkan daya tampung  1,2 juta jamaah lagi tiap Musim Haji tiba. Pembangunan ini, menurut The Islamic Heritage Research Foundation, bukan tanpa risiko. Lembaga ini menyusun daftar situs sejarah yang terancam diratakan dengan tanah akibat pembangunan ini, termasuk bangunan sisa-sisa peninggalan era Usmaniyah dan Abbasiyah. Termasuk dalam bangunan yang terancam dihancurkan adalah rumah di mana Nabi Muhammad dilahirkan dan rumah pamannya, Hamzah, tumbuh.</p>
<p>Argumen yang selalu dikemukakan, tulis The Independent, adalah bahwa Makkah dan Madinah sangat membutuhkan pembangunan infrastruktur. Dua belas juta peziarah mengunjungi kedua kota ini setiap tahun dengan jumlah yang diperkirakan meningkat menjadi 17 juta pada tahun 2025.</p>
<p>Tetapi para kritikus khawatir bahwa keinginan untuk memperluas situs ziarah telah memungkinkan pihak berwenang untuk menginjak-injak warisan budaya di daerah itu. Lembaga yang dipimpin Alawi mencatat setidaknya 95 persen bangunan bersejarah yang berusia ratusan tahun telah dibongkar dalam dua dekade terakhir saja.</p>
<p>Kehancuran telah disokong oleh paham Wahabisme.Dengan alasan takut menjadi ajang sirik, bangunan bersejarah diratakan.</p>
<p>Sedikit catatan dari The Independent: Untuk membangun kota pencakar langit di Makkah, sebuah gunung didinamit dan diratakan, menghancurkan Benteng Ajyad di era usmaniyah yang berdiri di atasnya. Lalu, rumah Khadijah istri pertama Nabi telah berubah menjadi blok toilet masjidil Haram, sedang rumah tempat lahirnya bahkan diratakan begitu saja.</p>
<p>Alawi berharap masyarakat internasional &#8216;terbangun dari tidurnya&#8217; dan melihat apa yang terjadi terhadap warisan sejarah Islam di Makkah. &#8220;Kami tidak akan mengizinkan seseorang pun untuk menghancurkan Piramida, jadi mengapa kita membiarkan sejarah Islam lenyap?&#8221; katanya. ~~</p>
<p>[ Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wassalam ]</p>
<h4  class="related_post_title">Related Post</h4><ul class="related_post"><li><a href="http://nabimuhammad.info/2012/05/6679/" title="Tanda Akhir Jaman"><img src="Array" alt=" Makkah, Kota Spritiual Untuk Kaum Kaya [?]"  title="Makkah, Kota Spritiual Untuk Kaum Kaya [?]" /></a>May 18, 2012 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2012/05/6679/" title="Tanda Akhir Jaman">Tanda Akhir Jaman</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2012/05/boleh-jadi-kiamat-sudah-dekat/" title="Boleh Jadi Kiamat Sudah Dekat"><img src="Array" alt=" Makkah, Kota Spritiual Untuk Kaum Kaya [?]"  title="Makkah, Kota Spritiual Untuk Kaum Kaya [?]" /></a>May 17, 2012 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2012/05/boleh-jadi-kiamat-sudah-dekat/" title="Boleh Jadi Kiamat Sudah Dekat">Boleh Jadi Kiamat Sudah Dekat</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2012/01/mutawatir/" title="Mutawatir"><img src="Array" alt=" Makkah, Kota Spritiual Untuk Kaum Kaya [?]"  title="Makkah, Kota Spritiual Untuk Kaum Kaya [?]" /></a>January 6, 2012 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2012/01/mutawatir/" title="Mutawatir">Mutawatir</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2012/01/cara-turunnya-wahyu-kepada-nabi-muhammad/" title="Cara Turunnya Wahyu Kepada Nabi Muhammad"><img src="Array" alt=" Makkah, Kota Spritiual Untuk Kaum Kaya [?]"  title="Makkah, Kota Spritiual Untuk Kaum Kaya [?]" /></a>January 2, 2012 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2012/01/cara-turunnya-wahyu-kepada-nabi-muhammad/" title="Cara Turunnya Wahyu Kepada Nabi Muhammad">Cara Turunnya Wahyu Kepada Nabi Muhammad</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2012/01/hukum-menggambar-dalam-islam/" title="Hukum Menggambar Dalam Islam"><img src="Array" alt=" Makkah, Kota Spritiual Untuk Kaum Kaya [?]"  title="Makkah, Kota Spritiual Untuk Kaum Kaya [?]" /></a>January 2, 2012 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2012/01/hukum-menggambar-dalam-islam/" title="Hukum Menggambar Dalam Islam">Hukum Menggambar Dalam Islam</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2012/01/hukum-membuat-patung-dalam-islam/" title="Hukum Membuat Patung Dalam Islam"><img src="Array" alt=" Makkah, Kota Spritiual Untuk Kaum Kaya [?]"  title="Makkah, Kota Spritiual Untuk Kaum Kaya [?]" /></a>January 2, 2012 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2012/01/hukum-membuat-patung-dalam-islam/" title="Hukum Membuat Patung Dalam Islam">Hukum Membuat Patung Dalam Islam</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/harits-bin-abdul-muthalib/" title="Harits "><img src="Array" alt=" Makkah, Kota Spritiual Untuk Kaum Kaya [?]"  title="Makkah, Kota Spritiual Untuk Kaum Kaya [?]" /></a>December 30, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/harits-bin-abdul-muthalib/" title="Harits ">Harits </a> (1)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/hati-hati-terhadap-jargon-pendidikan-karakter/" title="Hati Hati Terhadap Jargon Pendidikan Karakter"><img src="Array" alt=" Makkah, Kota Spritiual Untuk Kaum Kaya [?]"  title="Makkah, Kota Spritiual Untuk Kaum Kaya [?]" /></a>December 20, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/hati-hati-terhadap-jargon-pendidikan-karakter/" title="Hati Hati Terhadap Jargon Pendidikan Karakter">Hati Hati Terhadap Jargon Pendidikan Karakter</a> (0)</li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nabimuhammad.info/2011/09/makkah-kota-spritiual-untuk-kaum-kaya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jejak Yahudi Di Madinah: Tinjauan Sejarah Hubungan Islam dan Yahudi di Madinah</title>
		<link>http://nabimuhammad.info/2011/07/jejak-yahudi-di-madinah-tinjauan-sejarah-hubungan-islam-dan-yahudi-di-madinah/</link>
		<comments>http://nabimuhammad.info/2011/07/jejak-yahudi-di-madinah-tinjauan-sejarah-hubungan-islam-dan-yahudi-di-madinah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 21 Jul 2011 09:11:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Saqafah Islamiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Ahli Kitab]]></category>
		<category><![CDATA[Al Quran]]></category>
		<category><![CDATA[Aus]]></category>
		<category><![CDATA[Bani]]></category>
		<category><![CDATA[Bani 'Auf]]></category>
		<category><![CDATA[Bani Nadhir]]></category>
		<category><![CDATA[Bani Qainuqa']]></category>
		<category><![CDATA[Bani Quraizhah]]></category>
		<category><![CDATA[Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Hubungan]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Jejak]]></category>
		<category><![CDATA[Khaibar]]></category>
		<category><![CDATA[Khazraj]]></category>
		<category><![CDATA[klan]]></category>
		<category><![CDATA[Madinah]]></category>
		<category><![CDATA[Muslim]]></category>
		<category><![CDATA[Nabi]]></category>
		<category><![CDATA[pertanian]]></category>
		<category><![CDATA[Piagam Madinah]]></category>
		<category><![CDATA[Rasulullah]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Tinjauan]]></category>
		<category><![CDATA[Ya'qub]]></category>
		<category><![CDATA[Yahuda]]></category>
		<category><![CDATA[Yahudi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nabimuhammad.info/?p=6670</guid>
		<description><![CDATA[Writen by Asep Sobari (Peneliti INSISTS Jakarta Bidang Sejarah/ Alumnus Universitas Madinah) Seputar Terminologi Yahudi Dan Bani Isra’il Yahudi dan Bani Isra’il merupakan kata yang selalu digunakan pada periode Sirah untuk menyebut para pengikut ajaran Taurat. Meskipun tampak menonjolkan aspek keagamaan, tapi sebenarnya ada perbedaan mendasar antara keduanya. Bahkan, pemaknaan Yahudi sendiri tidak bersifat baku, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://nabimuhammad.info/wp-content/uploads/2011/07/al-quran3.jpg"><img src="http://nabimuhammad.info/wp-content/uploads/2011/07/al-quran3.jpg" alt="al quran3 Jejak Yahudi Di Madinah: Tinjauan Sejarah Hubungan Islam dan Yahudi di Madinah " title="al quran3" width="259" height="195" class="alignnone size-full wp-image-6672" /></a><br />
<em><strong>Writen by Asep Sobari</strong><br />
</em><br />
(Peneliti INSISTS Jakarta Bidang Sejarah/ Alumnus Universitas Madinah)</p>
<p><strong>Seputar Terminologi Yahudi Dan Bani Isra’il</strong></p>
<p>Yahudi dan Bani Isra’il merupakan kata yang selalu digunakan pada periode Sirah untuk  menyebut para pengikut ajaran Taurat. Meskipun tampak menonjolkan aspek keagamaan,  tapi  sebenarnya  ada  perbedaan  mendasar  antara  keduanya.  Bahkan,  pemaknaan  Yahudi sendiri  tidak  bersifat  baku,  melainkan  mengalami  perkembangan  yang  cukup  radikal mengikuti fase­fase sejarah yang dilalui oleh salah satu rumpun bangsa Semit ini.</p>
<p>Pada dasarnya, kata Yahudi merupakan penisbatan yang memiliki sifat hubungan darah, yakni keturunan Yahuda (Yahudza) bin Ya`qub. Dari garis keturunan inilah lahir Dawud as.  dan  Sulaiman  as. yang  merupakan  simbol  kebesaran  bangsa  ini  sepanjang  masa. Kebanggaan Yahudi adalah kata yang dinisbatkan kepada Yahuda, salah seorang putera Nabi Ya`qub as.</p>
<p><strong>Masyarakat Yahudi di Hijaz Sebelum Islam</strong></p>
<p>Tidak banyak sumber sejarah yang menjelaskan asal­usul keberadaan Yahudi di wilayah Hijaz  yang  meliputi  Mekah,  Madinah,  Thaif,  Khaibar,  Fadak,  Taima  dan  sekitarnya. Sumber sejarah yang ada, terbatas pada beberapa catatan sejarawan muslim, yang berarti penulisannya  dilakukan  setelah  kedatangan  Islam.  Sementara  catatan  sejarah  sebelum Islam,  bisa  dikatakan  sangat  langka.  Itupun  terbatas  pada  ungkapan  para  penyair  dalam puisi­puisi  mereka.  Alhasil,  permulaan  kedatangan  masyarakat  Yahudi  ke  Hijaz  tidak dapat dipastikan, karena tidak didukung data dan fakta yang memadai.</p>
<p>Namun  berbagai  indikator  menunjukkan,  keberadaan  masyarakat  Yahudi  di  tanah  Hijaz sudah  berlangsung  sejak  lama.  Kondisi  politik  yang  tidak  di  stabil  di  Palestina  sejak penyerangan  Babilonia  hingga  Romawi,  mendesak  masyarakat  Yahudi  mencari perlindungan  bahkan  pemukiman  baru  di  pelbagai  daerah,  terutama  daerah­daerah  yang memiliki  hubungan  langsung  dengan  Palestina,  seperti  Hijaz.  Selain  faktor  politik  di Palestina,  kesuburan  tanah  di  beberapa  wilayah  Hijaz,  seperti  Yatsrib  (Madinah), Khaibar,  Taima,  Wadi  al­Qura  dan  Fadak,  mendorong  masyarakat  Yahudi  untuk menjadikannya sebagai alternatif pemukiman baru bagi mereka (Jawad Ali : 3675).</p>
<p><strong>a. Aspek Sosial Politik</strong></p>
<p>Di  pemukiman  baru  tersebut,  masyarakat  Yahudi  hidup  berdampingan  dengan  pribumi yang  telah  lebih  dulu  tinggal  di  tempat  itu.  Kondisi  ini  memaksa  mereka  melakukan penyesuaian dengan  budaya dan tradisi  lokal. Meskipun di Madinah,  Khaibar dan  Wadi al­Quran, mereka berhasil mendominasi berbagai aspek kehidupan tapi mereka tetap tidak dapat menghindari tuntutan­tuntutan pragmatis di tempat baru. Cara berpakaian dan nama mengikuti tradisi Arab. Samuel bin Yazid, Zubair bin Batha, Sallam  bin  Misykam, Huyay  bin  Akhthab, adalah nama­nama tokoh Bani Qainuqa` dan Bani  Nadhir.  Komunikasi  sehari­haripun  menggunakan  bahasa  Arab,  meskipun  masih ada  pengaruh  aksen  Ibrani.  Bahkan  sebagian  dari  kalangan  Yahudi  dikenal  pandai berpuisi  dalam  bahasa  Arab,  diantaranya  adalah  Ka`b  bin  Sa`d  al­Qurazhi,  Sarah  al­ Qurazhiyah, Rabi` bin Abi al­Huqaiq dan Ka`b bin Asyraf (Jawad Ali: 3738).</p>
<p>Tidak hanya bahasa dan budaya, pernikahan antara etnik Bani Israil dan Arab juga tidak dapat dihindari. Ka`b bin Asyraf adalah contohnya. Menurut salah satu riwayat, ayahnya adalah  keturunan  Arab  Thai’  sedangkan  ibunya  berdarah  asli  Bani  Israil.  Jawad  Ali memberi  alasan,  perkawinan  silang  antar  etnik  ini  dapat  terjadi  karena  –antara  lain— sejumlah orang Arab memeluk agama Yahudi.</p>
<p>Ketika masyarakat Yahudi tiba di Madinah, sejumlah kabilah Arab kecil telah mendiami kota  tersebut.  Namun  demikian,  klan­klan  besar  Yahudi,  seperti  Bani  Nadhir,  Bani Quraizhah  dan  Bani  Qainuqa`  berhasil  menempati  tempat­tempat  strategis.  Daerah `Awali (Wadi Mudzainib), Wadi Mahzur dan Wadi Buth­han yang merupakan sumber air di Madinah, berhasil dikuasai. Selain tanah, mereka juga menguasai perdagangan. Pasar Bani Qainuqa` menjadi pasar paling ramai dan lengkap, sekaligus jantung perekonomian Madinah.</p>
<blockquote><p>Sejak kedatangan  Aus dan  Khazraj, dua klan  Arab  berasal dari  Azd (Yaman), dominasi Yahudi  di  Madinah  mulai  pudar.  Aus  dan  Khazraj  berhasil  menggeser  posisi  Yahudi meskipun  tidak  dapat  menguasai  daerah­daerah  subur  yang  menjadi  pemukiman  dan kebun mereka.</p></blockquote>
<p>Kehadiran  Aus  dan  Khazraj  yang  mengancam  hegemoni  dan  stabilitas  masyarakat Yahudi  tidak  disikapi  secara  konfrontatif.  Masyarakat  Yahudi  lebih  mengutamakan perlindungan  internal  dengan  membangun  bangunan­bangunan  kokoh  di  daerah pemukimannya dalam bentuk benteng, atham (semi benteng) dan ratij (rumah berdinding tanah liat). As­Samhudi –dalam kitab Wafa’ al­Wafa—menyatakan terdapat lebih dari 59 atham dan ratij milik Yahudi di Madinah.</p>
<p>Di  dalam  batas  lingkungan  eksklusif  itulah,  masyarakat  Yahudi  melakukan  segala aktivitas  yang  terkait  antara  sesama  meraka,  sehingga  kondisinya  mirip  dengan komunitas  Ghetto  yang  identik  dengan  budaya  masyarakat  Yahudi  di  seluruh  penjuru dunia semasa diaspora.</p>
<p>Dalam  berhubungan dengan komunitas  lain di Madinah,  masyarakat Yahudi tampaknya lebih  bersikap  pragmatis.  Perpecahan  di  kalangan  internal  Yahudi  mendorong  mereka untuk  membangun  aliansi  dengan  masyarakat  Arab  guna  memperkuat  posisinya.  Bani Qainuqa`  beraliansi  dengan  Khazraj,  sedangkan  Bani  Nadhir  dan  Bani  Quraizhah beraliansi dengan Aus (al­Syarif: 267).</p>
<p>Perpecahan  internal  Yahudi  bukan  semata­mata  strategi  jitu  mereka  untuk  memecah belah  kekuatan  Aus  dan  Khazraj  yang  menjadi  rival  mereka.  Sekalipun  secara  tidak langsung,  tujuan  tersebut  tercapai.  Pada  kenyataannya,  klan­klan  Yahudi  itu  memang pecah, terutama setelah menapaki puncak kekuasaan di Madinah. Bani Nadhir dan Bani Quraizhah  memandang  status  mereka  lebih  terhormat  daripada  Bani  Qainuqa`.  Kedua klan  Yahudi  tersebut  berasal  dari  garis  keturunan  al­Kahin  (Cohen),  keturunan  Nabi Harun as yang dikenal relijius dan sangat terhormat (Ibn Hisyam: 2/202).</p>
<p><strong>b. Aspek Ekonomi</strong></p>
<p>Sejak  sebelum  kedatangan  Aus  dan  Khazraj  hingga  masa  Islam.  Yahudi  Madinah  tetap menguasai  perekonomian  kota  tersebut.  Bani  Nadhir  dan  Bani  Quraizhah  menguasai tanah­tanah  tersubur, sedangkan  Bani  Qainuqa`  mengusai  pasar  terbesar.  Kemahiran masyarakat  Yahudi  dalam  bercocok  tanam  yang  diwarisi  dari  Palestina  juga  mereka terapkan.  Begitu  juga  kelihaian  membuat  perhiasan,  pakaian,  baju  perang,  senjata,  alat­ alat  pertanian  dan  profesi  lainnya  semakin  mengokohkan  dominasi  mereka  atas perekonomian Madinah.</p>
<p>Perdagangan valuta dan praktik riba juga dikenal luas di Madinah. Dalam hal ini, tokoh­ tokoh  Yahudi  dan  Arab  memainkan  peran  yang  sama.  Bunga  riba  yang  dibebankan kepada  peminjam  kadang­kadang  lebih  besar  dari  jumlah  utang,  sehingga  menciptakan kesenjangan sosial dan memicu banyak konflik (al­Syarif: 301­302).</p>
<p>Hubungan  dagang  para  saudagar  Yahudi  Madinah  dan  Khaibar  terjalin  dengan  baik. Letak  Madinah  sebagai  transit  kafilah­kafilah  dagang  Quraisy  yang  bertolak  menuju pasar­pasar besar di Gaza dan Syam tentu dimanfaatkan dengan baik oleh para pedagang domestik  Madinah.  Begitu  juga  Khaibar  yang  terletak  di  persimpangan  jalan  dagang kafilah­kafilah Ghathafan dan beberapa kabilah Najed lainnya.</p>
<p><strong>Aspek Pendidikan dan Keagamaan</strong></p>
<p>Lingkungan  eksklusif  masyarakat  Yahudi  di  Madinah  menjadi  tempat  ideal  untuk mengembangkan  pendidikan  dan  tradisi  keagamaan.  Lembaga  pendidikan  Yahudi  di Madinah dikenal dengan nama Bait al­Midras yang berasal dari bahasa Ibrani, Midrash, yang  berarti  kajian  dan  penjelasan  teks­teks  keagamaan.  Tampaknya,  Midras  juga berfungsi  sebagai  tempat  ibadah  dan  pertemuan  penting  untuk  membahas  masalah­ masalah agama (Jawad Ali: 4876).</p>
<p>Meskipun  orang­orang  Yahudi  tidak  tertarik  menyebarkan  agama,  tapi  bukan  berarti tidak  ada  orang  Arab  yang  memeluk  Yahudi.  Kondisi  sosial  yang  majemuk,  kebutuhan pragmatis  yang  berkaitan  dengan  ekonomi  dan  keamanan,  serta  faktor­faktor  lainnya, membuat  orang­orang  Yahudi  berkepentingan  dengan  adanya  orang­orang  Arab  yang memeluk  agama  mereka.  Namun  perlu  dicatat,  pilihan  memeluk  agama  Yahudi  ini dilakukan  oleh  individu­individu  dan  tidak  ada  fakta  yang  menyebutkan  perpindahan agama  secara  masif  yang  dilakukan  oleh  satu  kabilah  Arab  secara bersama­sama  (al­ Syarif: 248).</p>
<p><strong>Hubungan Yahudi dengan Masyarakat Muslim</strong></p>
<p><strong>a. Apakah Rasulullah saw. Berhubungan dengan Penganut Yahudi di Mekah?<br />
</strong><br />
Banyak  ayat  Al­Qur’an  yang  menyinggung  Bani  Isra’il  dan  agama  Yahudi.  Kedudukan mereka  sebagai  Ahl  al­Kitab  menjadi  sorotan  tersendiri,  karena  sepatutnya  merekalah orang  yang  lebih  cepat  menerima  ajaran  Al­Qur’an  yang  merupakan  penerus  dan membenarkan ajaran asli Taurat. Persinggungan  wacana  yang  dikembangkan  dalam  Al­Qur’an  mendahului  kontak  fisik antara  Rasulullah  saw.  dan  kaum  muslimin  dengan  masyarakat  Yahudi.  Meskipun  sulit dipungkiri  adanya  sejumlah  saudagar  Yahudi  yang  berdagang  ke  Mekah  dan  tinggal disana  untuk  urusan  berbisnis,  namun  tidak  ada  fakta  yang  menyebutkan  bahwa Rasulullah saw. pernah berhubungan dengan mereka, terlebih lagi dalam masalah agama.</p>
<p>Kabar  tentang  masayarakat  Yahudi  tentu  diketahui,  bahkan  dikuasai  dengan  baik  oleh Rasulullah  saw.  Selain  cepat  atau  lambat,  pasti  akan  berhubungan  dengan  penganut Taurat tersebut, harapan Rasulullah saw. untuk menemukan alternatif pusat dakwah Islam selain  Mekah,  mendesak  beliau  untuk  mengetahui  lebih  detail  kondisi  masyarakat­ masyarakat di sekitarnya, termasuk Madinah.</p>
<blockquote><p>Karena  itu,  saat  menemui  sekelompok  pemuda  Khazraj  di  Mina,  pertanyaan  pertama yang  beliau  sampaikan  adalah,  “Apakah  kalian  orang­orang  yang  beraliansi  dengan Yahudi?”.  (Ibn  Hisyam:  428).  Tampaknya  beliau  sudah  sangat  menguasai  seluk  beluk karakter sosial Madinah, termasuk hubungan Aus dan Khazraj dengan klan­klan Yahudi yang tinggal berdampingan dengan mereka itu.</p></blockquote>
<p><strong>b. Dakwah Rasulullah saw. kepada Masyarakat Yahudi</strong></p>
<p>Hubungan dakwah Rasulullah saw. dengan Yahudi Madinah terjalin sejak dini. Riwayat Bukhari  dan  Ibn  Ishaq  mengisyaratkan  kedatangan  Abdullah  bin  Salam,  seorang  ulama Yahudi  Bani  Qainuqa`,  dan  keputusannya  memeluk  Islam  terjadi  hanya  beberapa  saat setelah beliau menetap di Madinah. Peristiwa ini pula yang memicu undangan Rasulullah saw. kepada masyarakat Yahudi untuk mengajak mereka memeluk Islam dan menjadikan Abdullah bin Salam sebagai bukti pembenarannya (al­Mubarakfuri: 140).</p>
<p><strong>c. Piagam Madinah ; Konsepsi Konstitusi Islam untuk Masyarakat Plural</strong></p>
<p>Kedatangan Rasulullah saw. ke Madinah secara langsung menjadi penguasa baru di kota tersebut,  karena  Aus  dan  Khazraj,  dua  klan  Arab  yang  mendominasi  Madinah,  adalah pihak yang mengundang sekaligus mengangkat beliau sebagai pemimpin. Latar belakang  masyarakat Madinah  yang  sangat majemuk, karena terdiri dari  beberapa etnik  Arab  dan  Yahudi  mendesak  adanya  peraturan  umum  yang  mengatur  kehidupan bersama dengan  baik. Disinilah  letak pentingnya  Piagam Madinah  yang ditetapkan oleh Rasulullah saw. berdasarkan kaedah dan prinsip Islam. Hal ini juga membuktikan, ajaran Islam  dapat  mengatur  kepentingan  bersama  masyarakat  muslim  dan  non  muslim,  tanpa harus menghilangkan karakter khas masing­masing, terutama agama.</p>
<p>Al­ Mubarakfuri  merangkum  beberapa  bagian  pasal  Piagam  Madinah  yang  mengatur hubungan masyarakat Muslim dengan Yahudi seperti berikut,</p>
<p>1.     Yahudi  Bani  `Auf  merupakan  satu  komunitas  bersama  masyarakat  Mu’min.  Orang­orang  Yahudi  berhak  menjalankan  agama  mereka  dan  orang­orang  muslim  berhak menjalankan agama mereka…begitu juga klan ­klan Yahudi lainnya diluar Bani `Auf.</p>
<p>2.     Masyarakat  Yahudi  harus  menanggung  biaya  hidupnya  sendiri  dan  orang­orang muslim juga harus menanggung biaya hidupnya sendiri.</p>
<p>3.     Masyarakat  Yahudi  dan  Muslim  harus  saling  bahu  membahu  melawan  musuh  yang menyerang pihak yang menandatangani Piagam ini.</p>
<p>4.     Mereka  juga  harus  saling  memberi  saran  dan  nasihat  dalam  kebaikan,  tapi  tidak demikian dalam kejahatan.</p>
<p>5.     Siapa pun yang dizalami maka wajib ditolong.</p>
<p>6.     Masyarakat Yahudi dan Mu’min harus bersatu padu ketika diserang musuh.</p>
<p>7.     Jika terjadi perselisihan atau pertikaian antara pihak­pihak yang menyepakati Piagam ini,  sehingga  khawatir  akan  merusak  hubungan,  maka  keputusannya  harus dikembalikan kepada hukum Allah azza wa jalla dan Muhammad, utusan Allah saw.</p>
<p>8.     Siapa  pun  tidak  boleh  memberi  suaka  (perlindungan)  kepada  Quraisy  dan pendukungnya (al­Mubarakfuri: 182).</p>
<p><strong>Pengkhianatan dan Konspirasi Yahudi</strong></p>
<p>Dipandang  dari  sudut  mana  pun,  bagi  masyarakat  Yahudi,  kedatangan  Rasulullah  saw. dan kaum  muslimin ke Madinah tidak  menguntungkan. Keharmonisan Aus dan Khazraj adalah  ancaman  terbesar  sejak  lama,  apalagi  ditambah  pihak  ketiga  yang  menjadi kekuatan  baru  yang  semakin  merekatkan  hubungan  mereka.  Masyarakat  Yahudi  tidak pernah  dapat  menghapus  trauma  kehadiran  pihak  asing  yang  bertentangan  dengan kepentingan mereka. Eksistensi Yahudi di Madinah benar­benar diambang kehancuran.</p>
<p>Terlebih  lagi,  masyarakat  Muhajirin  Mekah  adalah  pedagang­pedagang  handal.  Sejak hari­hari pertama kedatangannya, Abdurrahman bin `Auf telah menunjukkan kepiawaian dalam  meraih  keuntungan  di  pasar  Bani  Qainuqa`  (Bukhari:  no.  1908).  Seiring  dengan perjalanan  waktu,  Usman  bin  `Affan,  Zubair  bin  `Awwam  dan  nama­nama  populer lainnya  dalam  kancah  perdagangan  Arab  masa  itu  menjadi pesaing­pesaing  baru  bagi pedagang Yahudi.</p>
<blockquote><p>Persaingan  di  pasar  diperparah  dengan  kehadiran  aturan­ aturan  baru  dalam  segala transaksi  ekonomi  yang  dibuat  oleh  Rasulullah  saw.  Larangan  menipu,  menimbun, menjual khamr dan praktik riba, adalah diantara yang semakin mengekang sistem  ‘pasar bebas’  yang  berkembang  sebelumnya.  Khamr  (arak)  merupakan  komoditi  yang  sangat potensial  bagi  masyarakat  Yahudi.  Selain  menjajakan  arak  lokal,  mereka  biasa mengimpornya dari Syam.</p></blockquote>
<p>Semua  faktor di atas, selain tentu saja keyakinan  dan  agama,  meningkatkan ketegangan antara Yahudi dan kaum muslimin. Beberapa fakta membuktikan adanya usaha individu ataupun  kolektif  kelompok  Yahudi  untuk  memicu  perselisihan  hingga  perang  besar­ besaran.</p>
<p><strong>a. Benih ­benih Pengkhianatan</strong></p>
<p>Ibn  Ishaq  meriwayatkan,  Syas  bin  Qais,  seorang  sesepuh  Yahudi  melewati  sekelompok pemuda  Aus  dan  Khazraj  yang  sedang  berkumpul.  Mereka  terlibat  perbincangan  yang hangat dan akrab. Pemandangan  ini  membakar  hati Syas,  maka segera  ia suruh seorang pemuda  Yahudi  untuk  ikut  dalam  pembicaraan  tersebut  dengan  mengingatkan  mereka kepada  peristiwa  kelam  di  masa  lalu,  perang  Bu`ats  yang  telah  menelan  korban  tokoh­ tokoh besar Aus dan Khazraj.</p>
<p>Kehangatan segera berubah menjadi ketegangan. Kedua kelompok Anshar tersebut nyaris saja  baku  hantam,  bahkan  terlibat  pertumpahan  darah,  jika  saja  Rasulullah  saw.  tidak segera datang dan melerai. (Ibn Hisyam: 553­554).</p>
<p>Kasus  Ka`b  bin  Asyraf, tokoh terkemuka Bani Nadhir,  merupakan  model paling krusial penaburan benih pengkhiantan dalam skala individu. Kelihaian menggubah puisi, media propaganda  paling  efektif  masa  itu,  menempatkan  Ka`b  dalam  posisi  yang  sangat membahayakan.  Setelah  kemenangan  kaum  muslimin  dalam  perang  Badar,  Ka`b menunjukkan  permusuhannya  secara  terbuka.  Ia  segera  pergi  ke  Mekah  untuk mengucapkan simpati dan  bela  sungkawa atas terbunuhnya pembesar­pembesar Quraisy di  Badar  dalam  rangakaian  puisi  yang  menyayat  hati.  Tidak  cukup  disitu,  ia  juga mengobarkan  semangat  Quraisy  untuk  segera  melupakan  kekalahan  dan  menyiapkan pembalasan yang jauh lebih hebat (al­Shallabi: 2/56­58).</p>
<p><strong>b. Konspirasi Yahudi</strong></p>
<p>Bani  Qainuqa`  adalah  klan  Yahudi  yang  lebih  dulu  menunjukkan  aksi  pengkhianatan kolektif  terhadap  kesepakatan  Piagam  Madinah.  Kemenangan  kaum  muslimin  di  Badar membuka  mata  mereka,  bahwa  kekuatan  dan  dominasi  kaum  muslimin  di  Madinah menjadi  kenyataan.  Bagi  Bani  Qainuqa`,  ketergantungan  ekonomi  kepada  mekanisme pasar yang mereka kuasai tidak lagi menggairahkan seperti dahulu.</p>
<p>Tampaknya  benih  pengkhiantan  kolektif  Bani  Qainuqa`  telah  tercium  oleh  Rasulullah saw.  Menurut  Abu  Dawud,  beberapa  saat  setelah  kembali  dari  Badar,  Rasulullah  saw. mengumpulkan  Bani Qainuqa` di pasar  mereka untuk  memberi peringatan. Namun  juru bicara Bani Qainuqa` malah menjawab, “Hai Muhammad! Jangan pernah merasa bangga hanya  karena  berhasil  membunuh  segelintir  orang­orang  Quraisy  yang  tidak  pandai berperang itu. Seandainya kami yang menjadi lawanmu, engkau baru akan tahu, kamilah tandinganmu yang sebenarnya. Dan, engkau tidak akan banyak berkutik melawan kami”. (al­Mubarakfuri: 226)</p>
<p>Sebatas  perlawanan  verbal,  Rasulullah  saw.  hanya  melihatnya  sebagai  indikator pengkhianatan. Tapi  setelah  terjadi  kasus  pelecehan  wanita  muslim  di  pasar  Bani Qainuqa` yang disusul dengan pembunuhan lelaki muslim yang membelanya, Rasulullah saw. mengepung Bani Qainuqa` lalu mengusir mereka dari Madinah. Pembunuhan  Ka`b  bin  Asyraf  dan  pengusiran  Bani  Qainuqa`  dari  Madinah  cukup meredam  gejolak  pengkhianatan  klan  Yahudi  lainnya.  Tapi  kekalahan  kaum  muslimin dalam  perang  Uhud  dan  tragedi  Bi’r  Ma`unah  menumbuhkan  kepercayaan  diri  Yahudi. Bani  Nadhir,  klan  yang  paling  kuat  saat  itu,  berkhianat.  Diawali  dengan  memberi perlindungan  kepada  Abu  Sufyan  saat  melakukan  oprasi  militer  (Perang  Sawiq)  ke Madinah (Ibn Ishaq: 108).</p>
<p>Pelanggaran  terhadap  salah  satu  pasal  Piagam  Madinah  tersebut  disusul  dengan pelanggaran  lain.  Bani  Nadhir  tidak  bersedia  menanggung  biaya  diyat  (denda pembunuhan)  yang  seharusnya  dipikul  bersama.  Bahkan  lebih  jauh  lagi,  mereka menyusun  rencana  pembunuhan  Nabi  saw.  (al­`Umari:  146).  Rencana  busuk  itupun terbongkar, sehingga Rasulullah saw. segera mengumumkan ultimatum pengusiran Bani</p>
<p><strong>Nadhir dari Madinah.</strong></p>
<p>Mulanya Bani Nadhir berusaha bertahan karena Abdullah bin Ubay, pemimpin kelompok Munafik  menjanjikan  bantuan  (al­Mubarakfuri:  280),  tapi  kemudian  menyerah  dan terpaksa meninggalkan Madinah setelah dikepung selama 15 hari. Pada dasarnya, mereka diusir  ke  Syam,  tapi  sejumlah  tokoh  penting  Bani  Nadhir  seperti  Huyay  bin  Akhthab, Salam bin Abi al­Huqaiq dan Kinanah bin Rabi` memutar haluan menuju Khaibar, koloni Yahudi terkuat di Hijaz. (al­Umari: 149).</p>
<p><strong>c. Kelihaian Lobi Yahudi; Kasus Perang Ahzab</strong></p>
<p>Ahzab  adalah  aliansi  sejumlah  klan  Arab  besar  yang  meliputi  Quraisy,  Ahbasy, Ghathafan  bersama  sekutunya.  Mereka  melakukan  kesepakatan  dengan  Yahudi  untuk menyerang  Madinah.  Perang  Ahzab  yang  mencatat  rekor  fantastik  dalam  sejarah peperangan Arab saat itu, sebenarnya bisa dikatakan sebagai bukti kelihaian lobi Yahudi. Para sejarawan mengungkapkan, provokator perang Ahzab adalah sebuah tim kecil yang dibentuk di  Khaibar dan dipimpin oleh kalangan elit Bani Nadhir,  yaitu Sallam  bin  Abi al­Huqaiq, Huyay bin Akhthab, Kinanah bin Rabi`, Haudzah bin Qais dan Abu `Ammar (al­Shallabi:  2/256).  Pembentukan  tim  ini  tentu  disetujui  oleh  tokoh­tokoh  Yahudi Khaibar sendiri dengan target yang sangat besar, menggalang kekuatan Arab dalam satu pasukan terpadu untuk menyerang Madinah.</p>
<p>Sasaran tim yang paling realistis adalah dua kabilah Arab, Quraisy dan Ghathafan. Selain merupakan  kabilah  besar  dan  memiliki  sekutu  yang  loyal,  keduanya  memiliki kepentingan  langsung  dengan  Madinah.  Menggalang  dukungan  Quraisy  tentu  lebih mudah,  karena  permusuhan  mereka  dengan  Madinah  sudah  cukup  menjadi  pemicu utama. Tapi para provokator ini  menambahkan dukungan  moral  yang tidak kecil,  yakni memberi pengakuan bahwa agama Quraisy  lebih  baik daripada agama Muhammad saw.</p>
<p>Allah swt. mengecam pragmatisme murahan Yahudi ini dalam surah al­Nisa’: 51­52: “Apakah  kamu  tidak  memperhatikan  orang­orang  yang  diberi  bagian  dari  Al  kitab? Mereka  percaya  kepada  jibt  dan  thaghut,  dan  mengatakan  kepada  orang­orang  Kafir (musyrik  Mekah),  bahwa  mereka  itu  lebih  benar  jalannya  dari  orang­orang  yang beriman.  Mereka  itulah  orang  yang  dikutuki  Allah.  Barangsiapa  yang  dikutuki  Allah, niscaya kamu sekali­kali tidak akan memperoleh penolong baginya”.</p>
<p>Sedangkan  untuk  meraih  dukungan  Ghathafan,  tim  Yahudi  melakukan  kontrak kesepakatan  dengan  kabilah  besar  Najed  tersebut  dalam  dua  pasal  yang  saling menguntungkan;  1).  Ghthafan  harus  menghimpun  pasukan  sebanyak  6000  orang;  2). Yahudi  akan  membayar  klan­klan  Ghathafan  yang  bergabung  dalam  pasukan  tersebut dengan seluruh hasil panen kurma Khaibar dalam setahun (al­Shallabi: 2/257).</p>
<p>Lobi Yahudi  ini  berhasil dengan gemilang.  Kabilah­kabilah  Arab  yang telah  melakukan kesepakatan  itu  berdatangan  ke  Madinah  dengan  seluruh  kekuatan  yang  mereka  miliki. Tidak  tanggung­tanggung,  jumlah  mereka  mencapai  10.000  pasukan.  Jumlah  yang disebut  al­Mubarakfuri  sebagai  catatan  rekor  fantastis  dalam  sejarah  kemiliteran  Arab pada masa itu.</p>
<p>Merasa  tidak  cukup  dengan  menggalang  kekuatan  Arab.  Huyay  bin  Akhthab  berusaha keras  membujuk  klan  Yahudi  terakhir  yang  masih  berada  di  Madinah  dan  mentaati kesepakatan  Piagam  Madinah,  Bani  Quraizhah,  untuk  mendukung  logistik  Ahzab  dan menggerogoti  kekuatan  Madinah  dari  dalam.  Lobi  inipun  akhirnya  berhasil.  Quraizhah berkhianat,  sehingga  Madinah  semakin  terjepit  (al­Mubarakfuri: 293).  Namun  dengan strategi  yang  jitu  dan  pertolongan  Allah  swt.,  akhirnya  kaum  muslimin  berhasil  keluar dari medan perang sebagai pemenang.</p>
<p>Dengan  pengkhianatan  Bani  Quraizhah,  habislah  kekuatan  Yahudi  di  Madinah. Rasulullah  saw.  menghukum  meraka  sebagai  pengkhianat  perang,  semua  laki­laki  Bani Quraizhah  yang  terlibat  perang  dipancung,  anak­anak  dan  wanita  ditawan,  dan  harta benda mereka dirampas (al­Mubarakfuri: 301).</p>
<p>Setelah  itu, kekuatan Yahudi  yang signifikan  hanya tersisa di  Khaibar. Di tempat  inilah tersimpan  potensi  ancaman  yang  tidak  dapat  diremehkan.  Selain  menjdai  rahim  yang melahirkan provokasi Ahzab, Khaibar memiliki benteng­benteng yang kuat dan letaknya sangat strategis karena berada di persimpangan jalan yang menghubungkan daerah timur dan selatan Jazirah Arab.</p>
<p>Rasulullah  saw.  harus  konsentrasi  penuh  guna  melumpuhkan  kekuatan  Khaibar. Gencatan  senjata  yang  disepakati  dengan  Quraisy  dalam  Perjanjian  Hudaibiyah  pada tahun  6H  menjadi  momentum  yang  sangat  tepat.  Beberapa  saat  setelah  itu  Rasulullah saw. langsung melancarkan serangan besar­besaran ke Khaibar dan menang. Masyarakat Yahudi Khaibar yang kebanyakannya petani tidak diusir dari daerah tersebut, melainkan diizinkan  tinggal  untuk  mengelola  kebun­kebun  Khaibar  dan  berbagi  hasil  dengan  para pemilik barunya, kaum muslimin.</p>
<p><strong>PENUTUP</strong></p>
<p>Demikianlah  sekelumit  gambaran  kehidupan  masyarakat  Yahudi,  terutama  di  Madinah, dan  persentuhan  mereka  dengan  kaum  muslimin  pada  permulaan  sejarah  Islam. Penyimpangan  dari  ajaran  Taurat  yang  mengkristal  dalam  nilai  dan  sistem  yang mendasari  kehidupan  sosial,  ekonomi  dan  politik,  berakibat  pada  penolakan  mereka terhadap ajaran Islam.</p>
<p>Namun  demikian,  bukan  berarti  seluruh  masyarakat  Yahudi  menolak  Islam.  Sejarah mencatat  bebarapa  individu  Yahudi  memeluk  Islam  saat  itu.  Diantaranya  Abdullah  bin Salam dan keluarganya dari Bani Qainuqa`(Ibn Hisyam: 516) 1 ; Yamin bin `Amr dan Abu Sa`d  bin  Wahb  dari  Bani  Nadhir  (al­`Umari:  149);  dan  `Athiyyah  al­Qurazhi, Abdurrahman  bin  Zubair  bin  Batha,  Rifa`ah  bin  Samuel  dan  beberapa  orang  lagi  dari Bani Quraizhah (al­Mubarakfuri: 302).</p>
<p><em>Rujukan</em></p>
<p>1.     Al­Qur’an al­Karim</p>
<p>2.     Shahih al­Bukhari [al­Maktabah al­Syamilah]</p>
<p>3.     Ibn Hisyam, al­Sirah al­Nabawiyyah [al­Maktabah al­Syamilah]</p>
<p>4.     Ali, Jawad, al­Mufashshal fi Tarikh al­Arab Qabl al­Islam [al­Maktabah al­Syamilah]</p>
<p>5.     Al­Syarif, Ahmad Ibrahim, Makkah wa al­Madinah fi al­Jahiliyyah wa `Ahd al­Rasul saw. [al­Maktabah al­Syamilah]</p>
<p>6.     Al­`Umari,  Akram  Dhiya’,  al­Mujtama`  al­Madani  fi  `Ahd  al­Nubuwwah  [al­</p>
<p>7.     Maktabah al­Syamilah]</p>
<p>8.     Al­Mubarakfuri,  Shafiy  al­Rahman,  al­Rahiq  al­Makhtum,  Dar  al­Salam­Riyadh,</p>
<p>1418H</p>
<p>9.     Al­Shallabi,  Ali  Muhammad,  al­Sirah  al­Nabawiyyah;  `Ardh  Waqa’i`  wa  Tahlil  Ahdats, Dar Ibn Katsir­Beirut, 1425H/2004</p>
<p>Sumber: http://inpasonline.com</p>
<h4  class="related_post_title">Related Post</h4><ul class="related_post"><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/10/palestina-masuk-unesco-marah-besar-ancam-hentikan-donasi/" title="Palestina Masuk UNESCO, Marah Besar AS Ancam Hentikan Donasi"><img src="Array" alt=" Jejak Yahudi Di Madinah: Tinjauan Sejarah Hubungan Islam dan Yahudi di Madinah "  title="Jejak Yahudi Di Madinah: Tinjauan Sejarah Hubungan Islam dan Yahudi di Madinah " /></a>October 10, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/10/palestina-masuk-unesco-marah-besar-ancam-hentikan-donasi/" title="Palestina Masuk UNESCO, Marah Besar AS Ancam Hentikan Donasi">Palestina Masuk UNESCO, Marah Besar AS Ancam Hentikan Donasi</a> (3)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/10/kitab-riyadhush-shalihin/" title="Kitab Riyadhush Shalihin"><img src="Array" alt=" Jejak Yahudi Di Madinah: Tinjauan Sejarah Hubungan Islam dan Yahudi di Madinah "  title="Jejak Yahudi Di Madinah: Tinjauan Sejarah Hubungan Islam dan Yahudi di Madinah " /></a>October 10, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/10/kitab-riyadhush-shalihin/" title="Kitab Riyadhush Shalihin">Kitab Riyadhush Shalihin</a> (1)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/06/kemuliaan-rasulullah-2/" title="Kemuliaan Rasulullah (2)"><img src="Array" alt=" Jejak Yahudi Di Madinah: Tinjauan Sejarah Hubungan Islam dan Yahudi di Madinah "  title="Jejak Yahudi Di Madinah: Tinjauan Sejarah Hubungan Islam dan Yahudi di Madinah " /></a>June 21, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/06/kemuliaan-rasulullah-2/" title="Kemuliaan Rasulullah (2)">Kemuliaan Rasulullah (2)</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2010/04/kewafatan-rasulullah/" title="Wafatnya Rasulullah"><img src="Array" alt=" Jejak Yahudi Di Madinah: Tinjauan Sejarah Hubungan Islam dan Yahudi di Madinah "  title="Jejak Yahudi Di Madinah: Tinjauan Sejarah Hubungan Islam dan Yahudi di Madinah " /></a>April 17, 2010 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2010/04/kewafatan-rasulullah/" title="Wafatnya Rasulullah">Wafatnya Rasulullah</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2012/05/6679/" title="Tanda Akhir Jaman"><img src="Array" alt=" Jejak Yahudi Di Madinah: Tinjauan Sejarah Hubungan Islam dan Yahudi di Madinah "  title="Jejak Yahudi Di Madinah: Tinjauan Sejarah Hubungan Islam dan Yahudi di Madinah " /></a>May 18, 2012 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2012/05/6679/" title="Tanda Akhir Jaman">Tanda Akhir Jaman</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2012/01/penerima-wahyu-tidak-semuanya-adalah-nabi/" title="Penerima Wahyu Tidak Semuanya Adalah Nabi"><img src="Array" alt=" Jejak Yahudi Di Madinah: Tinjauan Sejarah Hubungan Islam dan Yahudi di Madinah "  title="Jejak Yahudi Di Madinah: Tinjauan Sejarah Hubungan Islam dan Yahudi di Madinah " /></a>January 2, 2012 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2012/01/penerima-wahyu-tidak-semuanya-adalah-nabi/" title="Penerima Wahyu Tidak Semuanya Adalah Nabi">Penerima Wahyu Tidak Semuanya Adalah Nabi</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2012/01/hukum-menggambar-dalam-islam/" title="Hukum Menggambar Dalam Islam"><img src="Array" alt=" Jejak Yahudi Di Madinah: Tinjauan Sejarah Hubungan Islam dan Yahudi di Madinah "  title="Jejak Yahudi Di Madinah: Tinjauan Sejarah Hubungan Islam dan Yahudi di Madinah " /></a>January 2, 2012 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2012/01/hukum-menggambar-dalam-islam/" title="Hukum Menggambar Dalam Islam">Hukum Menggambar Dalam Islam</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2012/01/hukum-membuat-patung-dalam-islam/" title="Hukum Membuat Patung Dalam Islam"><img src="Array" alt=" Jejak Yahudi Di Madinah: Tinjauan Sejarah Hubungan Islam dan Yahudi di Madinah "  title="Jejak Yahudi Di Madinah: Tinjauan Sejarah Hubungan Islam dan Yahudi di Madinah " /></a>January 2, 2012 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2012/01/hukum-membuat-patung-dalam-islam/" title="Hukum Membuat Patung Dalam Islam">Hukum Membuat Patung Dalam Islam</a> (0)</li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nabimuhammad.info/2011/07/jejak-yahudi-di-madinah-tinjauan-sejarah-hubungan-islam-dan-yahudi-di-madinah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Asma’ al Syarifah &#8216;Keindahan dan Kemuliaan Nama Muhammad (3/3)</title>
		<link>http://nabimuhammad.info/2010/05/asma%e2%80%99-al-syarifah-keindahan-dan-kemuliaan-nama-muhammad-33/</link>
		<comments>http://nabimuhammad.info/2010/05/asma%e2%80%99-al-syarifah-keindahan-dan-kemuliaan-nama-muhammad-33/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 10 May 2010 08:05:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Asma’ al Syarifah]]></category>
		<category><![CDATA[Abu Thalib]]></category>
		<category><![CDATA[Adam]]></category>
		<category><![CDATA[Ahmad]]></category>
		<category><![CDATA[Al Amin]]></category>
		<category><![CDATA[al mujtaba]]></category>
		<category><![CDATA[al musthafa]]></category>
		<category><![CDATA[Al Quran]]></category>
		<category><![CDATA[Al-Sana’i]]></category>
		<category><![CDATA[Ali]]></category>
		<category><![CDATA[Alif]]></category>
		<category><![CDATA[Annemarie Schimmel]]></category>
		<category><![CDATA[Asma’ al Syarifah 'Keindahan dan Kemuliaan Nama Muhammad']]></category>
		<category><![CDATA[Asma’ al Syarifah ‘Keindahan dan Kemuliaan Nama Muhammad’]]></category>
		<category><![CDATA[asma’ al-syarifah]]></category>
		<category><![CDATA[barakah]]></category>
		<category><![CDATA[Basyir]]></category>
		<category><![CDATA[cintanya]]></category>
		<category><![CDATA[fakta]]></category>
		<category><![CDATA[Fariduddin 'Attar]]></category>
		<category><![CDATA[Fathimah]]></category>
		<category><![CDATA[Ghulam Parvez]]></category>
		<category><![CDATA[hadits Mi’raj]]></category>
		<category><![CDATA[hamada]]></category>
		<category><![CDATA[Hasan]]></category>
		<category><![CDATA[Husain]]></category>
		<category><![CDATA[Ibrahim]]></category>
		<category><![CDATA[indah]]></category>
		<category><![CDATA[Isa]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Jibril]]></category>
		<category><![CDATA[Kitab At-Tawasin]]></category>
		<category><![CDATA[Kitab Injil Yahya]]></category>
		<category><![CDATA[memuji]]></category>
		<category><![CDATA[menyanjung]]></category>
		<category><![CDATA[misterius]]></category>
		<category><![CDATA[Muhammad]]></category>
		<category><![CDATA[Munir]]></category>
		<category><![CDATA[Murtadha]]></category>
		<category><![CDATA[Mushibatnama]]></category>
		<category><![CDATA[Musthafa]]></category>
		<category><![CDATA[Nabi Muhammad]]></category>
		<category><![CDATA[Nabi saw]]></category>
		<category><![CDATA[Nadzir]]></category>
		<category><![CDATA[Panjtan]]></category>
		<category><![CDATA[pemujaan]]></category>
		<category><![CDATA[Penghormatan]]></category>
		<category><![CDATA[penyair kelana Anatolia]]></category>
		<category><![CDATA[Punjabi Sufi Poets]]></category>
		<category><![CDATA[Qum]]></category>
		<category><![CDATA[rahasia]]></category>
		<category><![CDATA[Ramakrisyna]]></category>
		<category><![CDATA[Rumi]]></category>
		<category><![CDATA[Safadi]]></category>
		<category><![CDATA[Sayyid Mahmud Nasiruddin Bukhari]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Siraj ud-daula]]></category>
		<category><![CDATA[Siraj ud-din]]></category>
		<category><![CDATA[Siraj ul-Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Siti Hawa]]></category>
		<category><![CDATA[syahadat]]></category>
		<category><![CDATA[Tasin As-Siraj]]></category>
		<category><![CDATA[Thaha]]></category>
		<category><![CDATA[Thugh]]></category>
		<category><![CDATA[Utusan Allah]]></category>
		<category><![CDATA[Yunus]]></category>
		<category><![CDATA[‘Abdul Qadir Jailani]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nabimuhammad.info/?p=1524</guid>
		<description><![CDATA[*Oleh Annemarie Schimmel (Dan Muhammad Adalah Utusan Allah, Penghormatan terhadap Nabi saw dalam Islam)* Dengan sarana-sarana kabalistik, kita dapati terkandung didalam namanya nama nama dari 313 nabi yang menjadi rasul, plus satu orang yang menjadi orang suci. Dan lebih lebih lagi: ketika Adam diciptakan, dia melihat bahwa nama Muhammad ditulis di mana-mana sejak masa pra-keabadian. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://nabimuhammad.info/wp-content/uploads/2010/05/images6.jpg"><img src="http://nabimuhammad.info/wp-content/uploads/2010/05/images6.jpg" alt="images6 Asma’ al Syarifah Keindahan dan Kemuliaan Nama Muhammad (3/3)" title="images6" width="259" height="194" class="alignnone size-full wp-image-6723" /></a>*Oleh <strong>Annemarie Schimmel</strong><br />
<em>(Dan Muhammad Adalah Utusan Allah, Penghormatan terhadap Nabi saw dalam Islam)</em>*</p>
<p>Dengan sarana-sarana kabalistik, kita dapati terkandung didalam namanya nama nama dari 313 nabi yang menjadi rasul, plus satu orang yang menjadi orang suci.  Dan lebih lebih lagi: ketika Adam diciptakan, dia melihat bahwa nama Muhammad ditulis di mana-mana sejak masa pra-keabadian. Hal ini disebutkan bahkan dalam puisi rakyat, seperti, misalnya, dalam sebuah puisi abad kedelapan belas dari Lembah Indus: </p>
<blockquote><p><em>Di alas Tahta, di puncak puncak<br />
Nama Muhammad ditulis sebagai suatu mantra (rumusan magik);<br />
Di atas pepohonan, di atas daun demi daun,<br />
Nama Muhammad ditulis sebagai suatu mantra.</em></p></blockquote>
<p>Gagasan yang sarna juga terdapat dalam balada balada naratif Mesir: </p>
<blockquote><p><em>Namamu, wahai Nabi, adalah yang dipilih dalam kemuliaan<br />
Sebelum cakrawala, bersama dengan langit tertihggi, dibangun</em>
</p></blockquote>
<p>Di antara para penyair Persia masa awal, Nizami adalah yang paling fasih dalam penjelasannya mengenai nama Ahmad: </p>
<blockquote><p><em><br />
bukankah Ahmad<br />
Lurus bagaikan sebuah alif dalam kesetiaan kepada perjanjian,<br />
Yang pertama dan yang terakhir di antara para nabi?</em></p></blockquote>
<p>Ini adalah suatu permainan kata yang sangat cerdik, sebab kata <em>anbiya’</em>, &#8220;para nabi,&#8221; dimulai dan diakhiri dengan huruf alif, huruf pertama dari Ahmad.  Sehingga peranan ganda Ahmad tampak nyata bahkan dalam fakta gramatikal.</p>
<p>Jelaslah bahwa penyair sufi besar dari Iran, Fariduddin ‘Attar, yang terutama mendorong timbulnya spekulasi-spekulasi lebih jauh mengenai nama nama Muhammad. Dalam karyanya (sekitar 1200) muncul untuk pertama kalinya kiasan kiasan tentang aspek aspek tertentu dari profetologi yang menjadi sangat popular dalam abad abad selanjutnya. Dalam karyanya, <em>Mushibatnama</em>, ‘Attar menyatakan bahwa:</p>
<blockquote><p><em>kedua dunia itu diciptakan dari dua huruf m dari nama Muhammad.<br />
sebab kata alam, &#8220;dunia&#8221;, hanya mempunyai satu m<br />
dan dengan demikian m kedua dari mhmd pasti mengacu kepada dunia kedua, yakni dunia nanti<br />
m yang pertama adalah dunia sekarang<br />
</em></p></blockquote>
<p>Tiga abad sesudahnya, Jami‘ mengambil gagasan ini tetapi menguraikannya, sebagaimana biasa, melalui penalaran yang lebih rumit.  Dengan menganggap nama Nabi adalah Ahmad (yang kepadanya Nizami telah mengacu dengan cara yang sangat terampil dalam puisinya). </p>
<p>Alif huruf pertama dari Ahmad, muncul, katanya, dari <em>&#8220;titik Keesaan&#8221;</em> (sebagaimana dalam kaligrafi.<br />
titik yang pertama adalah pengukur huruf-huruf, dan alif adalah huruf yang menurutnya huruf-huruf lainnya diukur dan dibentuk).<br />
Alif ini berdiri tegak seperti diameter dari sebuah lingkaran (lagi lagi suatu bentuk kaligrafi tradisional), dan dengan demikian membelah lingkaran dari <em>Ipseity</em> Ilahi yang gaib menjadi dua: satu bagian adalah dunia yang tidak tercipta, yaitu dunia <em>Esensi Ilahi</em> yang tidak dapat kita ketahui.<br />
Dan bagian lainnya adalah dunia yang serba mungkin. Nabi, atau Iebih tepatnya &#8211; haqiqah Muhmmadiyyah adalah penghubung antara keduanya.</p>
<p>(Beberapa sufi Naqsyabandi masa selanjutnya bahkan akan membicarakan tentang <em>haqiqah Ahmadiyyah</em> sebagai manifestasi pertama dan terakhir Nabi, yang mengungkapkan kedekatan yang paling mungkin dengan Cinta Kasih yang Murni).</p>
<p>Kembali kepada ‘Attar: dia juga menyinggung tentang suatu riwayat yang akan menjadi sangat penting bagi perkembangan pemikiran Sufi di negeri negeri Islam timur, dan dikaitkan dengan nama Ahmad. .<br />
Ini adalah hadits qudsi, salah satu wahyu Al Quran tambahan dari Tuhan:</p>
<blockquote><p><em> Ana Ahmad bila mim</em>, </p>
<p>&#8220;Akulah Ahmad tanpa m,&#8221; yaitu Ahad, &#8220;Satu&#8221;</p></blockquote>
<p>&#8220;Ahmad adalah utusan dari Ahad,&#8221; seperti berulangkali dikatakan oleh ‘Attar,“ dan dia mengetahuinya ketika:</p>
<blockquote><p><em><br />
pancaran sinar perwujudan itu menjadi jelas,<br />
m dari Ahmad menjadi tak terlihat</em></p></blockquote>
<p>Yaitu hanya Tuhan saja satu satunya yang tinggal.<br />
Jarang sekali ada hadits qudsi lain yang dipakai begitu sering di wilayah wilayah Persia dari dunia Muslim, meskipun tidak terbuktikan dalam kumpulan-kumpulan awal hadis dan baru muncul pada abad kedua belas. </p>
<p>Tampaknya hal itu dapat membuktikan bahwa Ahmad-Muhammad terpisahkan dari Tuhan hanya melalui satu huruf saja, yaitu <strong><em>m</em></strong>. Dalam sistem angka Arab, huruf ini mempunyai nilai 40, angka kesabaran, kematangan, penderitaan, persiapan. (Israel selama empat<br />
puluh tahun berada di gurun pasir,  Yesus melewatkan waktu empat puluh hari di gurun; Muhammad berusia empat puluh tahun ketika panggilan itu datang; masa puasa Masehi adalah empat puluh hari; kaum<br />
sufi mempraktekkan pemencilan diri sepenuhnya selama empat puluh hari, yang dinamakan arba`in atau <em>chilla</em>; adat istiadat ini dan tradisi tradisi lainnya yang serupa merupakan ungkapan-ungkapan dari peranan istimewa angka 40 ini.</p>
<p>Dalam spekulasi spekulasi mistikal Islam, angka 40 lebih jauh menandai empat puluh langkah yang harus dilalui<br />
manusia dalam perjalanannya kembali ke asal usulnya — suatu masalah yang diuraikan oleh ‘Attar dalam karyanya, <em>Mushibatnama</em>, dan selanjutnya oleh banyak sufi dalam tradisi Ibn ‘Arabi. </p>
<p>Huruf <em>m</em> dalam Ahmad menunjuk kepada semua misteri ini; ia merupakan &#8220;sumber dari seluruh ajaran yang sangat didambakan akal,&#8221; seperti dikatakan oleh Jami‘.</p>
<p>Seorang penyair masa selanjutnya di Punjab menamakan <em>m</em> itu &#8220;selendang umat manusia,&#8221; yang dikenakan oleh Tuhan yang Esa ketika Dia menciptakan Muhammad dalam peranannya sebagai teladan.</p>
<p>*Ramakrisyna, Punjabi Sufi Poets; hal. 99. Spekulasi-spekulasi menyangkut huruf <em>m</em> itu dimulai sejak masa Islam awal: sebuah mazhab yang dinamakan Muhammadiyyah atau Mimiyyah menyatakan Muhammad sebagai Tuhan; pemimpin mereka dihukum mati antara tahun 892 dan 902 (Handworterbueh des Islam, s.v. Muhammadiyyah). Pada saat yang sama, usaha-usaha untuk memberikan kepada nama Muhammad suatu penafsiran kanibalistik terdapat dalam karya Hallaj, Kitab At-Tawasin, <em>&#8220;Tasin As-Siraj,&#8221;</em> hal. 14.</p>
<p>Amir Khusrau, dalam aliran pemikiran yang berbeda, mendapati bahwa bentuk melingkar dari <em>m</em> ini mengungkapkannya sebagai &#8220;CIri Kenabian,&#8221; dan sering disebut sebagai &#8220;huruf yang penuh kemungkinan.&#8221;<br />
Maulana Rumi, yang menyanyikan bahwa &#8220;Ahmad adalah selubung&#8221; melalui mana dia ingin mencapai  Ahad, menggeluti misteri hadits qudsi ini dalam renungan-renungan prosanya, <em>Fihi ma Fihi</em>: &#8220;Setiap<br />
penambahan bagi kesempurnaan berarti pengurangan . . .<br />
Ahad itu sempurna, dan Ahmad belum lagi mencapai tahap kesempurnaan, jika huruf <em>m</em> itu dihilangkan ia menjadi benar-benar sempurna.</p>
<p>Tak terbilang,  banyaknya penyair yang telah mengikuti ‘Attar dalam kecintaan mereka kepada hadis <em>Ana Ahmad bila mim</em> ~ para penyair yang, sebagaimana dinyanyikan oleh Muhsin Kakorawi, &#8220;menyimpan nama Ahmad di ujung lidah mereka, rahasia ’tanpa mim’ dalam hati mereka.&#8221; </p>
<p>Pada awal abad keenam belas, penguasa Uzbek, Syaibani menggunakan firman Ilahi ini sebagaimana yang dilakukan oleh para penyair Urdu modern; para penyair rakyat Turki sangat menyukainya sebagaimana para sufi di Punjab atau para penyair istana di Iran. Sufi Sindh, Shah ‘Abdul Latif, rnengutip hadits qudsi, seperti<br />
juga Mirza Ghalib, penyair agung dari Delhi, melakukannya satu abad kemudian.</p>
<p>* Contoh contoh lebih jauh diberikan dalam Schimmel, &#8220;<em>Ghalib’s Qasidah</em> in Praise of the Prophet,&#8221; hal. 209 catatan no. 32: Syabistari, Gussyan-i Raz, menggunakan hadits qudsi seperti juga Naziri, Diwan, hal. 11, ghazal no. 15 (digabung dengan qaba qawsayn). Lihat juga Baloeh, Tih Akharyun, 1: 41. Sebuah puisi pendek berbahasa Urdu dari Decca oleh Qazi Mahmud dari Gogi seeara eerdik bermain-main dengan hadits qudsi ini:</p>
<p>Jika Muhammad menjadi penolong kita,<br />
maka pecahkanlah teka teki kaum monoteis itu, Hai Mahmud: _<br />
Semua kesedihan dan luka kita akan disangkal<br />
jika untuk kita <em>Ahmad </em>menjadi <em>Ahad</em>, &#8220;Yang Esa.&#8221;</p>
<p>Yang menarik, puisi itu semata mata terdiri atas huruf huruf tanpa titik, sebab nama nama sejati Nabi tidak &#8220;dihitamkan&#8221; dengan penggunaan tanda-tanda pengenal (lihat bab 7 dibawah). Seyed, &#8220;Diwan Qazi Mahmud Bahri of G0gi,&#8221; no. 5, stanza 5. Makna penting dari huruf mim dalam kaitan antara Ahmad dan Ahad juga memainkan peranan dalam epik epik ciptaan kaum Muslim Bengali. Lihat Roy, Islamie Syneretistie Tradition, hal. 124:<br />
Satu mim melahirkan tiga nama dalam ketiga dunia itu: &#8220;Nama Ahmad diingat di surga, nama Muhammad di dunia dan Mahmud oleh ular ular di neraka&#8221; Tradisi <em>Ana Ahmad bila mim</em> bahkan terdapat dalam beberapa <em>ginan Ismaili</em>, dengan demikian dalam Bujh Niranjan (informasi diberikan oleh Ali S. Asani)*</p>
<p>Salah saeorang penyair yang paling asyik dalam menggeluti spekulasi-spekulasi mengenai nama Nabi adalah Jami‘, yang memutuskan bahwa<em> m</em> pertama dari Muhammad rnerupakan ikal kecil pertama dari<br />
kata mulk, &#8220;kerajaan&#8221;.  Sementara huruf <em>h</em> dengan nilai angka 8, membuktikan bahwa Nabi membukakan di dalam dunia bersegi enam ini delapan jendela menuju delapan surga, dan lingkaran kaki dari huruf <em>d</em> rnenunjukkanbahwa kepala dari mereka yang benar benar beriman (<em>dinparwaran</em>, yang dimulai dengan huruf <em>d</em>) menyentuh kakinya. </p>
<p>*Jaml‘, &#8220;Yusuf—u-Zulaikha,&#8221; dalam Haft Aurang, hal. 583. Menurut Jili, lantai dari surga ke delapan merupakan atap dari Tahta Ilahi; itu adalah &#8220;tempat terpuji,&#8221; al-maqam al-mahmud, yang dijaniikan kepada Muhammad (surah 17: 79). Lihat Nieholson, Studies in Islamie Mystieism, hal. 136.*</p>
<p>Dia menemukan kofigurasi konfigurasi lainnya lagi dengan huruf-huruf dari nama Nabi: huruf  <em>h</em> di antara kedua <em>m</em> di matanya tampak seperti wajah seorang bidadari (wanita muda dan cantik dari surga, yang dimulai dengan huruf h) dengan dua ikal rambut mereka, dan hurui<em> d</em> dikaitkan dengan dil, &#8220;hati.&#8221;</p>
<p>Bahkan ini belum cukup: dengan tipuan terselubung yang mungkin diwarisi dari Ibn ‘Arabi,  Jami‘ memandang kata pertama dari surah 1, <em>al hamd</em>, dan huruf-huruf awal yang misterius dari surah 2, <em>a-l-m</em>, sebagaisuatu gabungan yang indah sekali: huruf <em>a l</em> dari surah 2 adalah sama dengan huruf-huruf pertama dari<em> al hamd </em>dan menunjuk kepada huruf m, huruf ketiga dari kelompok huruf yang misterius itu, sehingga nama Muhammad itu sendiri muncul dari <em>al hamd</em>. </p>
<p>Dengan demikian, nama Nabi membentuk, bagi mereka yang tahu cara membaca, kata pertama dari Al Quran.<br />
Di lain pihak, <em>a l m</em> dari surah 2:1 sering dianggap menandakan rahasia cinta antara Tuhan (alif) dan Muhammad (mim).  Huruf <em>l,</em> sandi rahasia untuk kekuatan pemersatu dari cinta, juga dapat ditafsirkan sebagai suatu tanda dari jibril, malaikat penyampai wahyu. </p>
<p>*Miskin, &#8220;Ramz Al Mahbub,&#8221; dalam Ladzdzat-i Miskin, 2: 86, menggabungkan alif lam-mim pada awal surah 2 dengan tiga kelompok pencari: alif adalah mereka, tua dan muda yang memuja Tuhan dalam KeesaanNya (wahdaniyyah) menurut sanjak Hafiz:</p>
<p><em>Tiada sesuatu pun dalam lembaran hatiku kecuali alif dari kemuliaan kekasihku —<br />
Apa yang dapat kulakukan? Guruku tidak mengajariku huruf lainnya.</em></p>
<p><em>Lam </em>adalah mereka yang, meskipun menerima <em>wahdaniyyah</em>, yaitu, Keesaan yang mutlak, tetap menerima para nabi pula, &#8220;sebab penerimaan wahdaniyyah tanpa penerimaan kedudukan para nabi tidak akan menuntun pada keselamatan.&#8221;<br />
Tetapi <em>mim</em> adalah &#8220;para kekasih yang menerima Muhammad sebagai kekasih Allah,&#8221;<em> mahbubiyyat&#8217;i khuda</em>. Ahli mistik Naqsyabandi India itu di sini dengan jelas menunjuk pada peringkat tinggi dari mereka yang percaya kepada kedudukan Muhammad yang unik, dan menempatkan mereka lebih tinggi daripada &#8220;orang-orang beriman pada Keesaan Tuhan&#8221; yang sejati, yang merupakan kategori yang juga mencakup kaum non Muslim*</p>
<p>Sifat sifat yang misterius dari huruf <em>m</em> dalam nama Nabi terus mengilhami kaum Muslim, terutama di India.<br />
*Suatu penjelasan modern yang menarik mengenai huruf <em>mim</em> diberikan dalam karya Canteins, <em>La voie des letters</em>, hal. 35 ff., di mana dia menggambarkan <em>m</em> itu, yang dalam bentuknya yang terpisah tampak seperti sebuah lonceng, sebagai &#8220;la chute vers l’abime&#8221;.  Huruf yang dikaitkan dengan wahyu itulah yang mencapai Muhammad &#8220;seperti sebuah lonceng,&#8221; sementara <em>alif</em> yang tegak menunjuk pada mi‘raj nya, jalan ke bawah dari Keesaan Tuhan. Gagasan itu diambil dari Schuon, La Soufisme, hal. 144, di mana kata rasul, &#8220;Utusan,&#8221; dijelaskan sebagai turunnya Tuhan ke dunia pada Malam Kejayaan (laylat ab qadr), yang berhubungan dengan diangkatnya manusia menemui Tuhan pada Malam Perjalanan ke Surga, mi ‘raj.*</p>
<p>Ahmad Sirhindi, tokoh pembaru Naqsyabandi dari India Utara pada awal abad ketujuh belas, mengembangkan suatu teologi reformatif menyeluruh yang didasarkan atas dua huruf <em>m</em> dalam nama Nabi.  Dan meskipun gagasan itu tampaknya agak terlalu dicari cari, orang bahkan masih bisa berspekulasi apakah kepercayaan kepada sifat-sifat mistikal dari huruf <em>m</em> tidak mendorong Busiri untuk memilih <em>m</em> sebagai huruf bersajak dari syairnya yang paling terkenal, Burdah, sebagaimana beberapa lagu pujian Sana‘i yang paling cemerlang untuk Nabi menggunakan sajak yang sama ini.</p>
<p>Bagi kaum sufi, huruf <em>d</em>, yang mengakhiri nama Muhammad, juga mengandung makna. Nilai angkanya adalah 4, dan ia mengisi tempat keempat dalam nama Nabi. Di samping itu, Nabi disebutkan dengan<br />
namanya empat kali dalam Al-Quran.  </p>
<p>Mirza Ghalib, di India pada abad kesembilan belas, membawa jenis permainan teologikal ini lebih jauh lagi: dari <em>Ahmad</em> Orang bisa mencapai <em>Ahad</em>, dan jika orang menghilangkan <em>alif </em>huruf Keesaan Ilahi, huruf <em>h</em> dan <em>d</em> tetap tinggal; semua ini mempunyai nilai angka masing-masing 8 dan 4, jumlahnya 12 dan dengan demikian mengacu kepada dua belas Imam Syi‘ah. Ini menunjukkan bahwa nama Ahmad itu sendiri mengandung suatu ikhtisar dogmatik yang sempurna.</p>
<p>Sekalipun demikian, pola Ghalib agaknya tidak dapat menyamai pola yang diciptakan oleh Ibn ‘Arabi, yang sebagai seorang sufi Sunni yang baik — belum menemukan ajaran-ajaran teologi Syi‘ah Imamiyah dalam nama Nabi, tetapi berhasil mengembangkan suatu pola numerolegik yang semakin canggih:<br />
<em><br />
d (= 4) adalah separuh<br />
dari h (= 8),<br />
sementara m (= 40) adalah sepuluh kali d,<br />
jika kita teruskan, kedua m (= 80) sama dengan sepuluh kali h.</em></p>
<p>Pemuliaan kepada nama Nabi telah mempengaruhi banyak aspek dari kebudayaan Islam. Kekhasan abjad Arab telah memungkinkan para seniman kaligrafi untuk menuliskannya bukan hanya dalam bentuk bentuk kursif yang anggun, tetapi (bahkanjauh lebih sering lagi) dalam bentuk Kufi persegi, sehingga ia dapat dilukiskan pada ubin dan tembok-tembok bata dan dalam sulaman sulaman serta tenunan tenunan (sering bersama dengan tulisan Allah dan, di kalangan Syi‘ah, dengan ‘Ali). </p>
<p>Pola pola melingkar atau berbentuk mawar juga dapat dibentuk dengan mudah dari nama suci itu. Ketika Iqbal pada 1912,  berseru dalam syair Urdunya yang hebat, Jawab-i&#8217; Syikwa:<br />
<em><br />
Sinarilah dunia, yang terlalu lama dalam kegelapan,<br />
Dengan nama Muhammad yang cemerlang,</em></p>
<p>Dia digerakkan oleh perasaan yang sama seperti yang dirasakan oleh raja Qutubsyahi, Muhammad Quli, yang pada sekitar 1600 menyanyi di Deccan:</p>
<p><em>Gerbang dari kedua dunia itu terbuka untuk kehidupan yang bahagia<br />
Bagi setiap orang yang merendahkan hatinya di hadapan nama Nabi! </em></p>
<p>Nama Muhammad Quli sendiri dalam kenyataannya menunjukkan bahwa pada akhir Abad Pertengahan dan sampai hari ini, kaum Muslim tidak hanya menggunakan nama-nama Nabi yang berbeda-beda untuk<br />
anak-anak laki-laki mereka, tetapi juga &#8211; terutama di wilayah wilayah bukan Arab &#8211; membuat nama-nama baru dengan menyebut mereka &#8220;hamba dari&#8221; atau &#8220;budak dari&#8221; Muhammad: </p>
<p>Muhammad Quli, &#8220;hamba dari Muhammad&#8221;<br />
Paighambar Qul: &#8220;budak Nabi;&#8221;<br />
Ghulam Rasul, &#8220;hamba Rasul&#8221;<br />
Ghulam Sarwar: &#8220;hamba sang pemimpin;&#8221;<br />
Al-i Ahmad, &#8220;keluarga Ahmad&#8221;<br />
Yar Muhammad, &#8220;kawan Muhammad;&#8221;<br />
Ghulam Yasin, &#8220;hamba Yasin;&#8221;<br />
dan bahkan ‘Abdun Nabi, &#8220;hamba Nabi,&#8221;<br />
dan ‘Abdur Rasul atau ‘Abdul Muhammad, meskipun penggunaan ‘abd hendaknya dibatasi pada gabungan dengan nama-nama Tuhan.  (0leh sebab itu kita juga mendapati nama ‘Abd Rabb An-Nabi, &#8220;hamba<br />
Tuhan dari Nabi&#8221;).<br />
Bahkan Nur Muhammad, &#8220;Cahaya Muhammad,&#8221; terdapat di Indo-Pakistan. </p>
<p>Di lain pihak, nama nama pria seperti Nabi bakhsy atau Rasulbakhsy di Indo-Pakistan menyatakan bahwa penyandang nama itu dilahirkan sebagai &#8220;hadiah dari Nabi,&#8221; yang kedua orang tuanya memohon pertolongan dari Nabi. Dengan demikian, nama Nabi dapat ditemukan di setiap rumah orang beriman.</p>
<p>Mengingat banyaknya contoh dari nama-nama Nabi yang dipuja puja ini, tampaknya tepatlah jika kita mengakhiri bab ini  -yang dapat diperluas hampir tanpa batas- dengan menuliskan permulaan sebuah <em>na‘t</em> dari versi Dakhni karya Ghawwasi dari kisah Shaif Al-Muluk; ditulis dalam matra &#8220;heroik&#8221; mutaqarib yang sederhana( &#8212;I&#8212;I&#8212;I&#8212;), sajak itu berbunyi:<br />
<em><br />
Wahai Muhammad yang sejati, wahai engkau Mushthafa,<br />
Engkau sesungguhnya Ahmad, engkau Mujtaba;<br />
Engkau Thaha, engkau Yasin, engkau Abtahi,<br />
Engkau ummiy, engkau Makki, engkau rasul sejati!<br />
Engkaulah yang pertama dan terakhir, dan engkaulah sang pangeran,<br />
Engkau lahlr, engkau batin, engkau Nabl yang unik!<br />
Nabl Hasyimi, Quraisyi ltulah engkau —<br />
Apa pun yang kau katakan, Allah menerimanya darimu . . .<br />
Dan engkau adalah tuan yang sejati dari ketiga dunia,<br />
Pusat agama, berkembang pesat melaluimu . . .<br />
Para malalkat semuanya adalah laron, mengelilingl cahayamu,<br />
Orang orang suci adalah debu yang berserakan di seputarmu,<br />
matahari. . . .<br />
</em><br />
Dan baris baris terakhir ini menuntun kita kepada suatu aspek lain dari profetologi Islam: spekulasi tentang nur Muhammad, hakikat Nabi yang bercahaya! ***</p>
<h4  class="related_post_title">Related Post</h4><ul class="related_post"><li><a href="http://nabimuhammad.info/2010/05/asma%e2%80%99-al-syarifah-keindahan-dan-kemuliaan-nama-muhammad-23/" title="Asma’ al Syarifah &#8216;Keindahan dan Kemuliaan Nama Muhammad (2/3)"><img src="Array" alt=" Asma’ al Syarifah Keindahan dan Kemuliaan Nama Muhammad (3/3)"  title="Asma’ al Syarifah Keindahan dan Kemuliaan Nama Muhammad (3/3)" /></a>May 10, 2010 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2010/05/asma%e2%80%99-al-syarifah-keindahan-dan-kemuliaan-nama-muhammad-23/" title="Asma’ al Syarifah &#8216;Keindahan dan Kemuliaan Nama Muhammad (2/3)">Asma’ al Syarifah &#8216;Keindahan dan Kemuliaan Nama Muhammad (2/3)</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2010/05/lebih-jauh-tentang-nama-nabi-muhammad/" title="Asma’ al Syarifah &#8216;Keindahan dan Kemuliaan Nama Muhammad&#8217; (1/3)"><img src="Array" alt=" Asma’ al Syarifah Keindahan dan Kemuliaan Nama Muhammad (3/3)"  title="Asma’ al Syarifah Keindahan dan Kemuliaan Nama Muhammad (3/3)" /></a>May 9, 2010 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2010/05/lebih-jauh-tentang-nama-nabi-muhammad/" title="Asma’ al Syarifah &#8216;Keindahan dan Kemuliaan Nama Muhammad&#8217; (1/3)">Asma’ al Syarifah &#8216;Keindahan dan Kemuliaan Nama Muhammad&#8217; (1/3)</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/nama-nama-mulia-nabi-muhammad-saw/" title="Nama Nama Mulia Nabi Muhammad SAW"><img src="Array" alt=" Asma’ al Syarifah Keindahan dan Kemuliaan Nama Muhammad (3/3)"  title="Asma’ al Syarifah Keindahan dan Kemuliaan Nama Muhammad (3/3)" /></a>December 25, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/nama-nama-mulia-nabi-muhammad-saw/" title="Nama Nama Mulia Nabi Muhammad SAW">Nama Nama Mulia Nabi Muhammad SAW</a> (1)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/10/wajah-nabi-mirip-dengan-wajah-nabi-ibrahim/" title="Wajah Nabi Mirip Dengan Wajah Nabi Ibrahim"><img src="Array" alt=" Asma’ al Syarifah Keindahan dan Kemuliaan Nama Muhammad (3/3)"  title="Asma’ al Syarifah Keindahan dan Kemuliaan Nama Muhammad (3/3)" /></a>October 28, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/10/wajah-nabi-mirip-dengan-wajah-nabi-ibrahim/" title="Wajah Nabi Mirip Dengan Wajah Nabi Ibrahim">Wajah Nabi Mirip Dengan Wajah Nabi Ibrahim</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/10/6936/" title="25 Rasul"><img src="Array" alt=" Asma’ al Syarifah Keindahan dan Kemuliaan Nama Muhammad (3/3)"  title="Asma’ al Syarifah Keindahan dan Kemuliaan Nama Muhammad (3/3)" /></a>October 27, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/10/6936/" title="25 Rasul">25 Rasul</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2010/04/prakata-dasar-dasar-sederhana-dalam-kedua-agama/" title="Prakata: Dasar Dasar Sederhana Dalam Kedua Agama"><img src="Array" alt=" Asma’ al Syarifah Keindahan dan Kemuliaan Nama Muhammad (3/3)"  title="Asma’ al Syarifah Keindahan dan Kemuliaan Nama Muhammad (3/3)" /></a>April 7, 2010 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2010/04/prakata-dasar-dasar-sederhana-dalam-kedua-agama/" title="Prakata: Dasar Dasar Sederhana Dalam Kedua Agama">Prakata: Dasar Dasar Sederhana Dalam Kedua Agama</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2010/02/sejarah-singkat-imam-hambali/" title=" Hambali"><img src="Array" alt=" Asma’ al Syarifah Keindahan dan Kemuliaan Nama Muhammad (3/3)"  title="Asma’ al Syarifah Keindahan dan Kemuliaan Nama Muhammad (3/3)" /></a>February 18, 2010 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2010/02/sejarah-singkat-imam-hambali/" title=" Hambali"> Hambali</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/06/kemuliaan-rasulullah-2/" title="Kemuliaan Rasulullah (2)"><img src="Array" alt=" Asma’ al Syarifah Keindahan dan Kemuliaan Nama Muhammad (3/3)"  title="Asma’ al Syarifah Keindahan dan Kemuliaan Nama Muhammad (3/3)" /></a>June 21, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/06/kemuliaan-rasulullah-2/" title="Kemuliaan Rasulullah (2)">Kemuliaan Rasulullah (2)</a> (0)</li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nabimuhammad.info/2010/05/asma%e2%80%99-al-syarifah-keindahan-dan-kemuliaan-nama-muhammad-33/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Asma’ al Syarifah &#8216;Keindahan dan Kemuliaan Nama Muhammad (2/3)</title>
		<link>http://nabimuhammad.info/2010/05/asma%e2%80%99-al-syarifah-keindahan-dan-kemuliaan-nama-muhammad-23/</link>
		<comments>http://nabimuhammad.info/2010/05/asma%e2%80%99-al-syarifah-keindahan-dan-kemuliaan-nama-muhammad-23/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 10 May 2010 08:05:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Asma’ al Syarifah]]></category>
		<category><![CDATA[Abu Thalib]]></category>
		<category><![CDATA[Adam]]></category>
		<category><![CDATA[Ahmad]]></category>
		<category><![CDATA[Al Amin]]></category>
		<category><![CDATA[al mujtaba]]></category>
		<category><![CDATA[al musthafa]]></category>
		<category><![CDATA[Al Quran]]></category>
		<category><![CDATA[Al-Sana’i]]></category>
		<category><![CDATA[Ali]]></category>
		<category><![CDATA[Annemarie Schimmel]]></category>
		<category><![CDATA[Asma’ al Syarifah ‘Keindahan dan Kemuliaan Nama Muhammad’]]></category>
		<category><![CDATA[asma’ al-syarifah]]></category>
		<category><![CDATA[barakah]]></category>
		<category><![CDATA[Basyir]]></category>
		<category><![CDATA[cintanya]]></category>
		<category><![CDATA[fakta]]></category>
		<category><![CDATA[Fathimah]]></category>
		<category><![CDATA[Ghulam Parvez]]></category>
		<category><![CDATA[hadits Mi’raj]]></category>
		<category><![CDATA[hamada]]></category>
		<category><![CDATA[Hasan]]></category>
		<category><![CDATA[Husain]]></category>
		<category><![CDATA[Ibrahim]]></category>
		<category><![CDATA[indah]]></category>
		<category><![CDATA[Isa]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Jibril]]></category>
		<category><![CDATA[Kitab Injil Yahya]]></category>
		<category><![CDATA[memuji]]></category>
		<category><![CDATA[menyanjung]]></category>
		<category><![CDATA[misterius]]></category>
		<category><![CDATA[Muhammad]]></category>
		<category><![CDATA[Munir]]></category>
		<category><![CDATA[Murtadha]]></category>
		<category><![CDATA[Musthafa]]></category>
		<category><![CDATA[Nabi saw]]></category>
		<category><![CDATA[Nadzir]]></category>
		<category><![CDATA[Panjtan]]></category>
		<category><![CDATA[pemujaan]]></category>
		<category><![CDATA[Penghormatan]]></category>
		<category><![CDATA[penyair kelana Anatolia]]></category>
		<category><![CDATA[Qum]]></category>
		<category><![CDATA[rahasia]]></category>
		<category><![CDATA[Rumi]]></category>
		<category><![CDATA[Safadi]]></category>
		<category><![CDATA[Sayyid Mahmud Nasiruddin Bukhari]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Siraj ud-daula]]></category>
		<category><![CDATA[Siraj ud-din]]></category>
		<category><![CDATA[Siraj ul-Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Siti Hawa]]></category>
		<category><![CDATA[syahadat]]></category>
		<category><![CDATA[Thaha]]></category>
		<category><![CDATA[Thugh]]></category>
		<category><![CDATA[Utusan Allah]]></category>
		<category><![CDATA[Yunus]]></category>
		<category><![CDATA[‘Abdul Qadir Jailani]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nabimuhammad.info/?p=1523</guid>
		<description><![CDATA[*Oleh Annemarie Schimmel (Dan Muhammad Adalah Utusan Allah, Penghormatan terhadap Nabi saw dalam Islam)* nabimuhammad.info _ Suatu sumber yang sangat penting untuk pemuliaan kepada Nabi adalah surah 33:45, di mana Muhammad dijuluki sebagai basyir, &#8220;pembawa berita-berita baik,&#8221; dan nadzir, &#8220;pemberi peringatan.&#8221; Kedua julukan itu seringkali digunakan sebagai nama orang, terutama di anak benua India (Basyir [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://nabimuhammad.info/wp-content/uploads/2010/05/images26.jpg"><img src="http://nabimuhammad.info/wp-content/uploads/2010/05/images26.jpg" alt="images26 Asma’ al Syarifah Keindahan dan Kemuliaan Nama Muhammad (2/3)" title="images26" width="136" height="204" class="alignnone size-full wp-image-6720" /></a>*Oleh <strong>Annemarie Schimmel</strong><br />
<em>(Dan Muhammad Adalah Utusan Allah, Penghormatan terhadap Nabi saw dalam Islam)</em>*</p>
<p><strong>nabimuhammad.info _</strong> Suatu sumber yang sangat penting untuk pemuliaan kepada Nabi adalah surah 33:45, di mana Muhammad dijuluki sebagai <em>basyir,</em> &#8220;pembawa berita-berita baik,&#8221; dan<em> nadzir</em>, &#8220;pemberi peringatan.&#8221; Kedua julukan itu seringkali digunakan sebagai nama orang, terutama di anak benua India (Basyir Ahmad, Nadzir Ahmad, dan semacam itu). </p>
<p>Ayat Al-Quran selanjutnya memuat penggambaran Muhammad sebagai <em>sirajun munir,</em> &#8220;lampu yang bersinar,&#8221; dan ini pun telah mengilhami timbulnya  nama Muslim: <em>Siraj ud-din, Siraj ud-daula, Siraj ul-Islam,</em> yaitu Lampu Agama, Negara, dan Islam.<br />
Munir juga bisa dipakai secara tersendiri atau digabungkan (lagi-lagi di sini dengan Ahmad, seperti Muniruddin Ahmad).<br />
Nabi juga dinamakan <em>al mushthafa</em>, &#8220;yang terpilih&#8221;, dan sedikit agak jarang <em>al mujtaba</em>, &#8220;yang terpanggil&#8221;.  Keduanya telah menjadi nama nama kesayangan di kalangan kaum Muslim. </p>
<p>* Tapisy, Gulzar-i Na‘t, fl. 12b, mengubah partisip <em>mushthafa, murtadha</em>, dan <em>mujtaba</em> menjadi kata-kata benda verbal: Nabi, sebagai Mushthafa, adalah &#8220;pohon cemara di dalam taman<em> ishthifa</em>, pilihan: sebagai Murtadha dia adalah &#8220;tumbuhan <em>boxtree</em> di kebun buah<em> irtidha</em> atau senang.  Dan sebagai Mujtaba, &#8220;akar dari cabang ijtiba, pilihan: dan secara keseluruhan, dia adalah &#8220;sumber dari ranting ranting Panjtan, yaitu Muhammad, Ali, Fathimah, Hasan, dan Husain. (Tapisy adalah seorang penyajr Syi‘ah)*</p>
<p>Sapaan sapaan Ilahi kepada Nabi seperti kata-kata pembuka dari surah 74, <em>Ya ayyuha&#8217;l mudatstsir</em>, &#8220;wahai engkau orang yang berselimut,&#8221; dan surah 73, <em>Ya ayyuha’l muzammil</em>, &#8220;wahai engkau orang yang berselubung&#8221;, digunakan, terutama di India, sebagai nama pria.</p>
<p>*Baljon, Modem Muslim Karan Intemretation, h. 99, menyebutkan cara tokoh modemis Pakistan, Ghulam Parvez, menjelaskan sapaan Ilahi kepada Nabi, <em>Ya mudatstsir! </em> Dia mengambil kata itu dari <em>datstsara, tadtsir</em>, dalam arti khusus &#8220;mengatur sarang&#8221;, yang kemudian dia tafsirkan sebagai &#8220;mengatur rumah agar rapi,&#8221; sehingga mudatstsir berarti, dalam pengertian modern, &#8220;pembaru dunia,&#8221; yang diperintah oleh Allah: <em>Qum</em>, &#8220;Bangkit,&#8221;<br />
Yaitu, dia dipanggil agar mulai menyebarkan revelusi dunia*</p>
<blockquote><p>Pada abad keempat belas, ahli sejarah, Safadi, menyusun sebuah syair yang agak panjang yang di dalamnya dia menyebut satu demi satu nama nama Nabi, dan sejak awal mula kaum Muslim mendapati bahwa Muhammad pun memiliki tidak kurang dari sembilan puluh sembilan nama,<em> asma’ al-syarifah</em>, Nama-nama Mulia, yang setara dengan sembilan puluh sembilan <em>asma’ al-husna</em>, Nama-nama Tuhan yang Paling Indah.</p></blockquote>
<p>*  Fischer, &#8220;Vergottlichung und Tabuisierung der Namen Muhammads&#8221; h.328.  Becker, Islamstudien, 2: 104, membahas tentang kecenderungan bagi &#8220;nama nama Muhammad (dianggap) dalam <em>Dala&#8217;il al-khairat</em> untuk dapat disamakan dengan nama-nama Allah&#8221;, etika Dala’il dan karya-karya yang berkaitan dengan itu digunakan di Afrika Timur*</p>
<p>Setiap kali salah satu dari nama nama ini disebut, selalu diikuti dengan tashliyah, &#8220;Semoga Tuhan memberkahinya dan memberinya kedamaian&#8221;, sebagaimana dalam setiap penyebutan Nabi dalam wacana tulisan atau lisan.<br />
*Karena itu orang mengatakan, ketika memperkenalkan sebuah hadis tanpa menyebutkan nama Muhammad: &#8220;Dia .— semoga Allah memberikan berkah dan kedamaian kepadanya!</p>
<p>— berkata . . . &#8221; Sebuah kutipan Al Quran dimulai dengan &#8220;Dia — Yang MahaAgung (atau Mahatinggi) — berfirman . . . &#8220;*</p>
<p>Di antara kesembilan puluh sembilan nama ini, kita mendapati dua nama yang juga ada di antara Nama nama Ilahi, dan diberikan kepada Nabi, sebagaimana disebutkan dalam hadis, sebagai tanda karunia istimewa dari Allah:<em> al ra’uf</em> , &#8221; an lembut,&#8221; dan<em> al-rahim</em> &#8220;yang pengas1h&#8221;.</p>
<p> Jamil‘ melangkah lebih jauh dengan mengatakan bahwa &#8220;Keindahan Nabi adalah cerminan Nama Terbesar (Tuhan)!&#8221;<br />
* Jami‘, Diwan, h. 73, no. 47, dalam sebuah Salam untuk Nabi. Salam itu menjadi suatu bentuk puisi yang sangat luas digunakan dalam bahasa Persia dari masa sesudahnya dan terutama dalam tradisi-tradisi Urdu. Lihat kumpulan pendek dan modern Siddiqi dan Asi, Muntakhab Salam, dalam bahasa Urdu.*</p>
<p>Banyak copy Al Quran yang dicetak menyebutkan satu demi satu sembilan puluh sembilan Nama Ilahi pada awalnya, dan menuliskan sembilan puluh sembilan nama Nabi pada kedua halaman terakhir.</p>
<p>Seorang sufi Suhrawardi abad ketujuh belas yang berasal dari Ucch (Pakistan) menyusun sebuah karya yang diberi judul <em>Jawahir Al Auliya’ </em>(Permata Orang-orang Sueci), yang memuat satu bab yang menarik<br />
mengenai kebaikan kebaikan dan kekuatan rahmat sembilan puluh sembilan nama Nabi.<br />
Nama-nama ini, atau sebagian dari mereka, juga digunakan dalam azimat azimat. Pengarangnya mengemukakan berbagai hadis yang berkaitan dengan penggunaan nama-nama itu.<br />
*Staples, &#8220;Muhammad, A Talismanie Foree,&#8221; melukiskan sebuah azimat dengan sembilan puluh sembilan nama Nabi (tapi tanpa menyadari bahwa <em>Thaha</em> dan <em>Yasin</em> di sini adalah nama namanya dan bukan,‘seperti perkiraannya, nama nama dari surah 20 dan 36).*</p>
<p>‘Abdul Qadir Jailani diriwayatkan pernah berkata bahwa seseorang yang membaca nama nama itu sekali setiap siang dan setiap malam akan dijaga dari segala jenis penyakit, dan keyakinannya tidak akan pernah diganggu. </p>
<p>Menurut nenek moyang pengarang itu, Makhdum jahaniyan dari Ucch, pembacaan nama nama ini setelah shalat subuh akan mengakibatkan semua dosa, yang besar maupun kecil, yang terlihat maupun tersembunyi, diampuni, dan Sultan Sayyid Mahmud Nasiruddin Bukhari diriwayatkan pernah berkata bahwa barangsiapa membaca nama-nama itu tujuh kali setelah shalat zuhur, tidak akan diserang oleh burung atau binatang. </p>
<p>Seorang tokoh sufi lainnya mengatakan bahwa membaca nama nama itu sebelas kali setelah shalat Maghrib, akan dapat menambah pengetahuan, kehalusan, dan makrifat. Tetapi pahala yang paling besar, yang diberikan kepada seseorang yang membaca sembilan puluh sembilan nama Muhammad dua belas kali setelah shalat ’Isya, dikemukakan kepada <em>Makhdum Jahaniyah</em> oleh Nabi sendiri selama dalam perjalanan sufi itu ke Madinah: Muhammad menjanjikan bahwa dia pasti akan membawa orang itu ke surga, dan tidak akan memasukinya tanpa dia.</p>
<p>Tetapi bahkan sembilan puluh sembilan nama tampaknya tidaklah cukup bagi Nabi. Segera saja dua ratus nama dikemukakan satu demi satu, selanjutnya bahkan seribu nama. Kepercayaan umum bahkan menyatakan bahwa Nabi dipanggil dengan nama tertentu oleh setiap jenis makhluk.<br />
Bagi <em>ikan</em> dia adalah ‘Abdul Quddus, &#8220;Hamba dari Yang Mahasuci;&#8221; bagi <em>burung</em>, ‘Abdul Ghaffar, &#8220;Hamba dari Yang Maha Pengasih;&#8221; bagi <em>binatang-binatang liar</em>, ‘Abdus Salam, &#8220;Hamba dari Pencipta Damai;&#8221; bagi <em>setan</em>, ‘Abdul Qahhar, &#8220;Hamba dari Yang Maha Kuasa;&#8221; dan seterusnya.</p>
<p>*Horten, Die relzgiose Vorstellungswelt des Volkes, h. 15. ‘Abdul Haqq Muhaddits Dihlawi, Madarij Al Nubuwwuh, h. 293-308, mencatat lebih dari empat ratus nama*</p>
<blockquote><p>Para penyair juga tak henti hentinya menemukan nama nama baru bagi Nabi tercinta. Dalam riwayat Umm Ma‘bad, yang dombanya kering diperah susunya oleh Nabi, Muhammad digambarkan sebagai <em>nasim wasim</em>, &#8220;agung dan anggun.&#8221; Kata kata ini digunakan, dalam suatu bentuk yang lebih luas, pada pertengahan abad ketiga belas oleh Sa‘di dalam syairnya yang terkenal pada permulaan karyanya, Bustan,<br />
yang di dalamnya Nabi diberi, antara lain, julukan-julukan:</p></blockquote>
<p><em>wasimun qasimun jasimun nasim</em>: ‘<br />
Agung, berpotongan baik, mulia, dan anggun.</p>
<p>Rangkaian julukan yang indah-indah ini, yang dikemukakan dengan sangat mencolok di dalam apa yang kemudian menjadi salah satu buku kesayangan dari dunia Persia, segera dikenal di mana-mana, dan atribut-atribut Nabi selanjutnya sering digunakan sebagai nama nama panggilan, baik secara sendiri sendiri (Wasim, untuk wanita Wasmaa), atau dengan digabungkan, seperti jasimuddin.</p>
<p>Selanjutnya, terutama di kalangan Muslim bukan Arab, Nabi sering disebut dengan julukan-julukan yang berkaitan dengan negeri asal dan keluarganya: Quraisyi, Muththalibi (sesuai nama kakeknya &#8216;Abdul Al Muththalib), Hasyimi (dari keluarga Hasyim), Makki, Madini, atau hanya ‘Arab saja. </p>
<p>Menyinggung tempat-tempat di mana perwujudan perwujudan duniawi Nabi terjadi, Nizami menyapanya dengan &#8220;<em>wahai engkau burqa‘ Madinah dan selubung Makkah!&#8221; </em> dan memintanya untuk <em>&#8220;mengangkat kepalanya dari jubah Yamannya&#8221;</em> sebab umatnya sangat membutuhkannya pada masa masa kacau ini.</p>
<p>*Nizami, &#8220;Makhzan Al-Asrar,&#8221; na&#8217;t no. 3, dalam Kulliyatd Khamsa, h. 23. Kain bergaris garis Yaman sangat tinggi dihargai di kalangan orang Arab.  Jami‘, Diwan, h. 177, no. 117. Dalam puisi rakyat, sebutan-sebutan yang berkaitan dengan latar belakang Arabnya Nabi seringkali muncul; maka dalam Siharfi huzuf<strong> q</strong> dapat berarti Quraisyi,<strong> ‘ain</strong> untuk ‘arab; kata ini kadang-kadang diperpanjang, ‘arab, demi mendapatkan matra yang sesuai. Sebuah contoh yang bagus mengenai distorsi-distorsi semacam itu muncul dalam Baloch,<em> Tir Akharyun</em>, 2: 190.</p>
<p>Tampaknya Jami‘ yang menguraikan pernyataan peryataan semacam itu dalam bentuk yang lebih artistik lagi, agaknya merupakan pelopor digunakannya julukan-julukan ini dalam bahasa Persia selanjutnya, dan lebih khusus lagi dalam bahasa Indo Persia dan Urdu, sebab puisi<em> na‘tiyyah</em>-nya penuh dengan istilah-istilah seperti <em>&#8220;wahai Pujaan dari Al-Batsa!&#8221;</em> (yaitu dari daerah di sekitar Makkah) dan:<br />
<em><br />
Wahai engkau yang berair muka bagaikan bulan, yang tempat kelahiranmu di Makkah,<br />
Dengan buaian Madinah, dengan selubung Yaman!</em></p>
<p>Dia, &#8220;yang di<em>iri</em>kan oleh matahari&#8221;, adalah &#8220;bulan dari Al Batsa dan cahaya dari Yatsrib (Madinah)&#8221; dan karena itu dia dapat</p>
<p><em>menghunus pedang bangsa Arab sebab keluwesan ada padanya,<br />
Dan dapat memburu bangsa Persia sebab dia memiliki keanggunan.<br />
</em></p>
<p>*Jami‘, &#8220;Iskandamrnama,&#8221; dalam<em> Haft Aurang</em>, h. 915. Muhammad adalah, sebagaimana di-<br />
nyanyikan oleh penyair Urdu, Tapisy, pada awa] abad kesembilan belas (Gulzar-i Na‘t, fol 11b), bukan hanya <em>&#8220;burung bulbul yang beryanyi merdu di dalam taman mawar perwujudan Ilahi&#8221;</em> tetapi juga, <em>&#8220;ranting bunga mawar dari petak kebun mawar di Batsa dan Madinah.&#8221;</em></p>
<p>Gagasan gagasan ini diulang ulang dalam beribu ribu sajak. Tetapi sementara upaya Jami‘ mengemukakan julukan julukan semacam itu jelas dimaksudkan untuk menekankan kekuatan Nabi yang bercakupan luas dan juga keindahannya, dalam tradisi India mereka sering dipahami sebagai pengingat bagi kaum Muslim akan asal usul agama mereka di negeri Arab.</p>
<p>Akan merupakan suatu upaya yang menarik untuk mengumpulkan seluruh julukan yang penuh kasih sayang dan pemuliaan yang dengan itu para penyair dan penulis prosa Muslim, dari kalangan sufi maupun bukan sufi, menggambarkan Muhammad, yang sering hanya disebut <em>rasul-i akram</em>, &#8220;Nabi yang paling mulia,&#8221; atau dalam tradisi Persia <em>risalat-panah</em>, &#8220;pelindung jabatan kenabian&#8221;.   Dia, misalnya, adalah<br />
<em>sarwar-i ka ’inat</em>, &#8220;pemimpin alam raya&#8221;,  dan Burung Bulbul yang Penuh Kasih Sayang, Matahari dunia moneteisme, Penguasa Para Kekasih, Poros bulatan kedua dunia, Mawar padang kenabian dan sebagainya.<br />
*Sebuah penelitian yang bagus mengenai juluka julukan mistikal untuk Nabi adalah indeks dari karya Baqli, <em>‘Abhar Al-‘Asyiqin</em>; di antara berlusin lusin sapaan dan atribut atribut puitikal yang ada, misalnya adalah, &#8220;pemimpin para kekasih,&#8221; &#8220;burung Elang darl taman Realitas,&#8221; &#8220;matahari para nabi dan bulan purnama oran orang suci,&#8221; &#8220;singa di padang surga Akal,&#8221; &#8220;mempelai di istana Keesaan,&#8221; &#8220;kelana di gurun pengasingan, tajrid&#8217;,&#8221; dan sebagainya*</p>
<p>Para penyair dan sufi secara hati-hati memilih nama nama panggilan baginya yang sesuai dengan ciri karya mereka: dalam epik heroik, misalnya, kekuasaan dan kekuatannya mungkin ditonjolkan, dan dalam puisi tentang cinta, keindahan dan kebaikannya yang disoroti.<br />
Karena nama Muhammad mengandung barakah yang sangat kuat, setiap anak lelaki harus diberi nama itu, atau paling tidak salah satu kata jadiannya atau padanannya. Sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ja‘far Al-Shadiq, lmam Keenam Syi‘ah, menyatakan bahwa Allah akan menyeru pada Hari Kiamat: &#8220;Setiap orang yang bernama Muhammad hendaklah bangkit dan masuk surga!&#8221; </p>
<p>Di Maroko dikatakan: &#8220;Jika ada seseorang bernama Muhammad hidup dalam sebuah rumah atau tenda,<br />
maka para malaikat akan selalu hadir di sana, kecuali jika mereka diusir pergi oleh seekor anjing hitam atau segerombolan pemusik dan penari.&#8221;</p>
<p>Nabi mempunyai hubungan khusus dengan orang orang yang menyandang namanya, sebagaimana dikatakan Busiri, penyair Burdah, dalam syairnya yang terkenal:<br />
<em><br />
Sebab sejak aku diberi nama Muhammad, dia memberiku<br />
suatu kewajiban,<br />
Dia, yang paling sempurna dalam memenuhi semua tugasnya di antara semua makhluk</em></p>
<p>Sebuah kisah yang mengharukan, yang menunjukkan kepercayaan yang dalam kepada kekuatan nama Muhammad, dikaitkan dengan sebuah syair yang diciptakan oleh ‘Abdur Rahim Al Bur‘i, salah seorang<br />
penyair keagamaan di dunia Arab pada abad kesebelas. Ketika putranya yang masih muda, Muhammad, sedang sakit parah, dia berpaling kepada Nabi, penengah yang agung, dan mengakhiri permohonannya yang<br />
panjang dengan kalimat kalimat:<br />
<em><br />
Dan penyakit telah menjadi jadi menimpa putraku yang kuberi nama sesuai dengan namamu:<br />
Kasihanilah, mengingat air matanya, yang mengalir di pipinya!</em></p>
<p>Dan benarlah, &#8220;anak lelaki itu sembuh&#8221;  Contoh-contoh serupa dari puisi berbahasa Persia, Turki, dan Indo Muslim dapat dengan mudah diperoleh.  Tetapi penggunaan nama Muhammad untuk setiap anak Ielaki juga<br />
mengandung aspek lain. Dikhawatirkan sejak tahun-tahun pertama Islam bahwa nama Nabi mungkin akan menjadi ternoda karena terus menerus dipakai di kalangan orang beriman. </p>
<p>Tentu saja, kaum Muslim, juga memanggil anak anak mereka dengan nama-nama dari para nabi terdahulu, seperti Musa, Sulaiman, atau ‘Isa; tetapi tidakkah menyakitkan hati jika kita mendengar para orangtua mencela putra mereka Muhammad, mengata-ngatainya, atau jika ada orang bernama Muhammad dinyatakan sebagai penipu atau pezina? </p>
<p>Satu cara untuk mengatasi kesulitan ini adalah menambahkan sepatah kata penghormatan jika menyebut nama Nabi, seperti misalnya sayyidina: tuan kami, sidi:tuan atau Hazrat:Yang Mulia atau menambahkan tashliyah pada waktu menyebut namanya, atau hanya membicarakannya sebagai Nabi Mulia saja. </p>
<p>Cara lain untuk memecahkan masalah ini adalah menyuarakan huruf-huruf mati dari namanya, <em>mhmh,</em> dengan vokalisasi yang berbeda jika digunakan untuk manusia biasa: dengan demikian di Maroko kita dapati nama-nama pribadi seperti Mihammad, Mahammad, atau hanya M0h dan singkatan-singkatan serupa lainnya.</p>
<p>Di Afrika Barat, bentuk-bentuk seperti Momado banyak digunakan. Di Turki pengucapan Mehmet secara umum diterima untuk pemakaian pribadi, dan penyebutan Muhammad secara benar hanya ditujukan untuk Nabi. Orang mungkin juga memendekkan nama itu, terutama jika digabungkan dengan nama nama lain, menjadi M saja, yang diucapkan Mim (seperti dalam M.N. Rasyid = Mim Nun Rasyid), sebab m merupakan huruf yang paling penting dalam nama Nabi. Ia juga dapat digunakan sebagai singkatan untuk Mustafa (seperti dalam M. Kemal). </p>
<p>Tarikat Bektasyi dari Turki mengembangkan suatu mim duasi yang istimewa, &#8220;doa untuk *mim,&#8221; yang bertumpu pada rahasia-rahasia dari huruf ini. Dengan mempertahankan konsonan <em>mhmh</em>, kita dapat menjaga barakah dari nama itu; pada saat yang sama, dengan mengganti huruf huruf hidupnya, kita tidak perlu takut akan menodai nama Nabi yang mulia.</p>
<p>Seperti semua orang Arab, Muhammad pun mempunyai kunyah, sebuah nama yang menunjukkan dia sebagai &#8220;ayah dari si anu.&#8221; Kunyah ini adalah Abu’l Qasim, dan masalah itu sudah sering dibicarakan, dan tidak pernah dapat dipecahkan secara menyeluruh, apakah seorang pemuda boleh dipanggil dengan nama panggilan Nabi dan kunyahnya (yaitu Muhammad Abu&#8217;l Qasim), atau apakah kita harus membatasi penggunaannya hanya pada satu atau dua namanya saja.  Tetapi penggabungan nama Muhammad Amin telah banyak digunakan.  </p>
<p>Secara umum diyakini bahwa pengulangan nama suci Nabi akan membawakan rahmat kepada orang yang membacanya. Baris penutup dari sebuah <em>charhhi </em>nama Urdu kuno, sebuah syair yang di dalam tamsil memintal digunakan untuk menyampaikan perintah agama, memperingatkan orang beriman: </p>
<p><em>Engkau adalah pelayan wanita di rumah darwisymu<br />
Sebutlah nama Allah dan Nabi dalam setiap tarikan hapas!</em></p>
<p>Tetapi di lain pihak, para penyair dan sufi sering mengungkap kekhawatiran mereka jangan-jangan mereka tidak cukup berharga bahkan untuk mengucapkan nama yang suci dan murni dari Nabi. Pada akhir abad keenam belas di India, ‘Urfi menulis bahwa:<br />
<em><br />
Seribu kali aku mencuci mulutku<br />
dengah minyak kesturi dan dengah air mawar,<br />
Sekalipun demikian membicarakan namamu<br />
merupakan kelancangan mutlak.</em></p>
<p>Dan Ghalib, hampir tiga ratus tahun kemudian, menghaturkan sébuah <em>qashidah</em> yang terdiri atas 101 sajak untuk Nabi, yang melukiskan sampai di akhir tulisannya bagaimana <em>etiket</em> telah mengingatkannya agar jangan sampai dia melampaui batas-batas perilaku yang sopan.  Seorang pendosa seperti dirinya hendaknya tinggal diam dan tidak menyapa Nabi sama sekali_  dia, yang dipuji oleh Tuhan yang Maha Tinggi!</p>
<p>Kaum sufi memulai sejak dini sekali untuk merenungkan sifat mistikal dan simbolik nama-nama Muhammad. Hallaj ada diantara orang orang pertama yang menggeluti mistikisme huruf.  Bukankah  Adam, protetip umat manusia, diciptakan dari nama Muhammad?</p>
<p>Kepalanya adalah huruf bulat<em> mim</em>, tangannya adalah <em>h</em>, pinggangnya lagi-lagi adalah sebuah <em>mim kecil</em>, dan yang selebihnya adalah <em>d</em> sehingga seluruh umat manusia lahir, sebagaimana adanya, dari nama Nabi.</p>
<p>Ibn ‘Arabi barangkali telah memberikan alasan yang paling terinci atas mistikisme huruf dari nama Nabi ini:</p>
<p><em>mim</em> pertama adalah kepalanya, dan itu adalah dunia dengan Kedaulatan Tertinggi  (‘alam al-malakut al a‘la) dan dengan Akal Terbesar (al-‘aql al akbar).<br />
Dada dan Iengannya berada di bawah huruf <em>h</em>, dan inilah Tahta yang  Jaya;<br />
Nilai angkanya adalah 8, yang merupakan jumlah dari para malaikat yang menjunjung Tahta.<br />
<em>Mim</em> kedua mewakili perut, dan itulah Dunia Kerajaan itu (&#8216;alam al mulk),<br />
Pinggul, tungkai dan kaki berasal dari huruf d, dan itulah komposisi yang mantap melalui Penulisan Abadi.</p>
<p>Demikian juga, dalam bentuk kaligrafiknya, nama Muhammad (dalam tulisan Arab) ditafsirkan sebagai menggambarkan seorang manusia sedang bersujud.***</p>
<h4  class="related_post_title">Related Post</h4><ul class="related_post"><li><a href="http://nabimuhammad.info/2010/05/asma%e2%80%99-al-syarifah-keindahan-dan-kemuliaan-nama-muhammad-33/" title="Asma’ al Syarifah &#8216;Keindahan dan Kemuliaan Nama Muhammad (3/3)"><img src="Array" alt=" Asma’ al Syarifah Keindahan dan Kemuliaan Nama Muhammad (2/3)"  title="Asma’ al Syarifah Keindahan dan Kemuliaan Nama Muhammad (2/3)" /></a>May 10, 2010 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2010/05/asma%e2%80%99-al-syarifah-keindahan-dan-kemuliaan-nama-muhammad-33/" title="Asma’ al Syarifah &#8216;Keindahan dan Kemuliaan Nama Muhammad (3/3)">Asma’ al Syarifah &#8216;Keindahan dan Kemuliaan Nama Muhammad (3/3)</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2010/05/lebih-jauh-tentang-nama-nabi-muhammad/" title="Asma’ al Syarifah &#8216;Keindahan dan Kemuliaan Nama Muhammad&#8217; (1/3)"><img src="Array" alt=" Asma’ al Syarifah Keindahan dan Kemuliaan Nama Muhammad (2/3)"  title="Asma’ al Syarifah Keindahan dan Kemuliaan Nama Muhammad (2/3)" /></a>May 9, 2010 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2010/05/lebih-jauh-tentang-nama-nabi-muhammad/" title="Asma’ al Syarifah &#8216;Keindahan dan Kemuliaan Nama Muhammad&#8217; (1/3)">Asma’ al Syarifah &#8216;Keindahan dan Kemuliaan Nama Muhammad&#8217; (1/3)</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/nama-nama-mulia-nabi-muhammad-saw/" title="Nama Nama Mulia Nabi Muhammad SAW"><img src="Array" alt=" Asma’ al Syarifah Keindahan dan Kemuliaan Nama Muhammad (2/3)"  title="Asma’ al Syarifah Keindahan dan Kemuliaan Nama Muhammad (2/3)" /></a>December 25, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/nama-nama-mulia-nabi-muhammad-saw/" title="Nama Nama Mulia Nabi Muhammad SAW">Nama Nama Mulia Nabi Muhammad SAW</a> (1)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/10/wajah-nabi-mirip-dengan-wajah-nabi-ibrahim/" title="Wajah Nabi Mirip Dengan Wajah Nabi Ibrahim"><img src="Array" alt=" Asma’ al Syarifah Keindahan dan Kemuliaan Nama Muhammad (2/3)"  title="Asma’ al Syarifah Keindahan dan Kemuliaan Nama Muhammad (2/3)" /></a>October 28, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/10/wajah-nabi-mirip-dengan-wajah-nabi-ibrahim/" title="Wajah Nabi Mirip Dengan Wajah Nabi Ibrahim">Wajah Nabi Mirip Dengan Wajah Nabi Ibrahim</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/10/6936/" title="25 Rasul"><img src="Array" alt=" Asma’ al Syarifah Keindahan dan Kemuliaan Nama Muhammad (2/3)"  title="Asma’ al Syarifah Keindahan dan Kemuliaan Nama Muhammad (2/3)" /></a>October 27, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/10/6936/" title="25 Rasul">25 Rasul</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2010/04/prakata-dasar-dasar-sederhana-dalam-kedua-agama/" title="Prakata: Dasar Dasar Sederhana Dalam Kedua Agama"><img src="Array" alt=" Asma’ al Syarifah Keindahan dan Kemuliaan Nama Muhammad (2/3)"  title="Asma’ al Syarifah Keindahan dan Kemuliaan Nama Muhammad (2/3)" /></a>April 7, 2010 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2010/04/prakata-dasar-dasar-sederhana-dalam-kedua-agama/" title="Prakata: Dasar Dasar Sederhana Dalam Kedua Agama">Prakata: Dasar Dasar Sederhana Dalam Kedua Agama</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2010/02/sejarah-singkat-imam-hambali/" title=" Hambali"><img src="Array" alt=" Asma’ al Syarifah Keindahan dan Kemuliaan Nama Muhammad (2/3)"  title="Asma’ al Syarifah Keindahan dan Kemuliaan Nama Muhammad (2/3)" /></a>February 18, 2010 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2010/02/sejarah-singkat-imam-hambali/" title=" Hambali"> Hambali</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2012/01/penerima-wahyu-tidak-semuanya-adalah-nabi/" title="Penerima Wahyu Tidak Semuanya Adalah Nabi"><img src="Array" alt=" Asma’ al Syarifah Keindahan dan Kemuliaan Nama Muhammad (2/3)"  title="Asma’ al Syarifah Keindahan dan Kemuliaan Nama Muhammad (2/3)" /></a>January 2, 2012 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2012/01/penerima-wahyu-tidak-semuanya-adalah-nabi/" title="Penerima Wahyu Tidak Semuanya Adalah Nabi">Penerima Wahyu Tidak Semuanya Adalah Nabi</a> (0)</li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nabimuhammad.info/2010/05/asma%e2%80%99-al-syarifah-keindahan-dan-kemuliaan-nama-muhammad-23/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Asma’ al Syarifah &#8216;Keindahan dan Kemuliaan Nama Muhammad&#8217; (1/3)</title>
		<link>http://nabimuhammad.info/2010/05/lebih-jauh-tentang-nama-nabi-muhammad/</link>
		<comments>http://nabimuhammad.info/2010/05/lebih-jauh-tentang-nama-nabi-muhammad/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 09 May 2010 11:23:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Asma’ al Syarifah]]></category>
		<category><![CDATA[Abu Thalib]]></category>
		<category><![CDATA[Adam]]></category>
		<category><![CDATA[Ahmad]]></category>
		<category><![CDATA[Al Amin]]></category>
		<category><![CDATA[Al-Sana’i]]></category>
		<category><![CDATA[Annemarie Schimmel]]></category>
		<category><![CDATA[Asma’ al Syarifah 'Keindahan dan Kemuliaan Nama Muhammad']]></category>
		<category><![CDATA[barakah]]></category>
		<category><![CDATA[cintanya]]></category>
		<category><![CDATA[fakta]]></category>
		<category><![CDATA[hadits Mi'raj]]></category>
		<category><![CDATA[hamada]]></category>
		<category><![CDATA[Ibrahim]]></category>
		<category><![CDATA[indah]]></category>
		<category><![CDATA[Isa]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Jibril]]></category>
		<category><![CDATA[Kitab Injil Yahya]]></category>
		<category><![CDATA[memuji]]></category>
		<category><![CDATA[menyanjung]]></category>
		<category><![CDATA[misterius]]></category>
		<category><![CDATA[Muhammad]]></category>
		<category><![CDATA[Musthafa]]></category>
		<category><![CDATA[Nabi saw]]></category>
		<category><![CDATA[pemujaan]]></category>
		<category><![CDATA[Penghormatan]]></category>
		<category><![CDATA[penyair kelana Anatolia]]></category>
		<category><![CDATA[rahasia]]></category>
		<category><![CDATA[Rumi]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Siti Hawa]]></category>
		<category><![CDATA[syahadat]]></category>
		<category><![CDATA[Thaha]]></category>
		<category><![CDATA[Thugh]]></category>
		<category><![CDATA[Utusan Allah]]></category>
		<category><![CDATA[Yunus Emre]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nabimuhammad.info/?p=1500</guid>
		<description><![CDATA[*Oleh Annemarie Schimmel (Dan Muhammad Adalah Utusan Allah, Penghormatan terhadap Nabi saw dalam Islam)* nabimuhammad.info _ Merupakan suatu fakta yang dikenal luas dalam sejarah berbagai agama bahwa nama seseorang mempunyai suatu kekuatan yang sangat istimewa. Hal itu dikaitkan dengan orang yang diberi nama tersebut dengan cara yang misterius: mengenal nama seseorang berarti mengenal orang itu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://nabimuhammad.info/wp-content/uploads/2010/05/images23.jpg"><img src="http://nabimuhammad.info/wp-content/uploads/2010/05/images23.jpg" alt="images23 Asma’ al Syarifah Keindahan dan Kemuliaan Nama Muhammad (1/3)" title="images23" width="194" height="259" class="alignnone size-full wp-image-6716" /></a>*Oleh <strong>Annemarie Schimmel</strong><br />
<em>(Dan Muhammad Adalah Utusan Allah, Penghormatan terhadap Nabi saw dalam Islam)</em>*</p>
<p><strong>nabimuhammad.info _</strong> Merupakan suatu fakta yang dikenal luas dalam sejarah berbagai agama bahwa nama seseorang mempunyai suatu kekuatan yang sangat istimewa. Hal itu dikaitkan dengan orang yang diberi nama tersebut dengan cara yang misterius: </p>
<blockquote><p>mengenal nama seseorang berarti mengenal orang itu sendiri. ltulah sebabnya mengapa Allah “mengajarkan kepada Adam nama nama” (surah 2:30) untuk menjadikannya penguasa segala makhluk.</p></blockquote>
<p>Untuk alasan yang sama, seorang kekasih tidak boleh mengungkapkan nama kekasihnya, sebab dia tidak ingin orang lain mengetahui rahasia rahasia cintanya. Karena nama itu merupakan bagian, dan bahkan bagian yang sangat penting, dari sesuatu atau seseorang, ia membawa barakah, kekuatan berkah, dan jika seseorang itu mendapatkan suatu kekuatan khusus atau menempati suatu kedudukan yang sangat tinggi, namanya pun dapat mempengaruhi -dengan cara yang misterius – orang-orang yang diberi nama yang sama.<br />
Oleh sebab itu, tidaklah mengherankan bahwa kaum Muslim beranggapan bahwa nama Nabi mengandung suatu barakah yang sangat istimewa. Perasaan ini terungkap secara ringkas dalam suatu permohonan oleh seorang penyair kelana Anatolia, Yunus Emre, yang ditulis pada sekitar tahun 1300:</p>
<blockquote><p><em>Tolonglah, berdoalah untuk kami di Hari Kiamat —<br />
Namamu indah, engkau sendiri indah, Muhammad!<br />
Kata-katamu diterima di dekat Allah, Tuhanku —<br />
Namamu indah, engkau sendiri indah, Muhammad!</em>
</p></blockquote>
<p>Ternyata pemujaan terhadap nama Muhammad ini telah dimulai sejak masa hidup Nabi, sebab Qadhi ‘Iyad mengutip sebuah sajak oleh Hassan ibn Tsabit, penyair Nabi, yang dengan mudah dapat menjadi dasar bagi semua spekulasi yang muncul sesudahnya mengenai nama Muhammad. Dalam baris baris ini, penyair Arab termasyhur itu menunjuk kepada hubungan antara nama Muhammad dan salah satu atribut Ilahi, Mahmud:</p>
<blockquote><p>(Allah) mengambil untuknya, untuk menghormatinya, bagian dari Nama-Nya<br />
Demikianlah Allah di atas Tahta dinamakan Mahmud, dan yang ini Muhammad
</p></blockquote>
<p>Yaitu, Muhammad adalah bentuk pasif-parsitip dari bentuk kedua kata kerja hamada, “memuji, menyanjung,” dan mengandung arti “(dia yang) patut dipuji, (orang yang) sering disanjung.” Mahmud adalah bentuk pasif partisip dari bentuk pertama dari akar kata kerja yang sama, “(dia yang) dipuji, kepada siapa pujian ditujukan”. Karena surah pertama dalam Al Quran dimulai dengan Alhamdu llllah, “Segala puji bagi Allah” maka Allah adalah “Yang patut dipuji,” yaitu Mahmud par excellence. Kaitan gramatikal yang sederhana antara atribut Ilahi dengan nama Nabi mendapat tekanan khusus dari para sufi, dan selanjut ya diuraikan dengan berbagai cara. Penyair Urdu abad kesembilan belas, Tapisy, melangkah demikian jauh dengan menyatakan dalam hubungan ini bahwa :</p>
<blockquote><p><em><br />
Ketika Pena menuliskan nama Tuhan,<br />
Ia (juga) menuliskan nama sang Utusan Tuhan (Muhammad)</em>
</p></blockquote>
<p>Pernyataan ini juga dapat ditafsirkan dengan cara berbeda, sebab kaum Muslim selalu memikirkan tentang fakta bahwa nama Nabi disebutkan dalam pernyataan iman secara langsung setelah nama Allah, <strong>La ilaha illa Allah, Muhammadun rasul Allah.</strong> Penggabungan ini telah menjadi sarana pengingat bagi kaum Muslim akan kedudukan Nabi yang unik, dan bukan hanya para ahli teologi saja yang memikirkan tentang kaitan misterius ini beserta implikasi implikasinya, tetapi para penyair pun tak henti-hentinya menyinggung hal tersebut, seperti misalnya yang dilakukan oleh Naziri pada awal abad ketujuh belas di India:</p>
<blockquote><p><em>Dalam syahadat Dia telah mengucapkan nama Musthafa sering dengan namaNya sendlri<br />
Dan dengan demikian telah mewujudkan cita cita terakhir Adam<br />
</em></p></blockquote>
<p>Penyalr itu mengambil gagasan ini sendiri beberapa halaman selanjutnya, dan menambahkan suatu rincian penting:</p>
<blockquote><p><em>Allah telah membuat nama (Muhammad) dalam syahadat ber iringan dengan nama-Nya sendiri<br />
Dan dengan menyebutkannya, telah memisahkan orang beriman dari orang Kristen</em>
</p></blockquote>
<p>Baris-baris ini mengungkapkan kembalinya sang penyair kepada suatu pandangan yang lebih ortodoks setelah adanya toleransi keagamaan Akbar. Pengumpul hadis Nabi abad kesembilan, Al-Darlmi, menulis dalam prakata karyanya mengenai hadis, beberapa kata-kata yang diambil alih, enam abad kemudian, oleh ahli teologi Meslr, Jalaluddin Al Suyuthi, untuk menjelaskan misteri nama Muhammad:<br />
<em><br />
Namanya adalah Muhammad dan Ahmad; umatnya adalah umat terpujl (hamd) dan semua gerak serta shalat umatnya dimulai dengan pujian (hamd). Dalam Kitab Abadi di rumah Allah ditullskan bahwa para Khalifahnya dan para Sahabatnya, dalam menulis Kitab Suci, hendaknya memulainya dengan pujian (surah 1:1). Dan di tangannya pada Hari Kebangkitan akan tergenggam panji panji pujian. Dan ketika kemudian dia bersujud dl hadapan Allah untuk menjadi penengah yang membela kita, dan sujudnya diterima, maka dia memuji muji Allah dan ketika dia bangkit, seluruh manusia yang berkumpul akan memuji-mujinya, balk kaum Muslim maupun orang-orang yang tidak beriman, yang pertama dan yang terakhir, dan semua makna dan cara untuk mengucapkan puji-pujian syukur terkumpul dan dihaturkan kepadanya.</em>*</p>
<p>Dengan kata lain, nama Muhammad sendiri telah menunjukkan semua pujlan yang akan diterimanya dan akan diterima oleh para pengikutnya di dunia ini dan di akhirat nanti. Nama ini telah ada sejak awal masa dan akan selamanya digemakan kembali di surga. </p>
<p>Seperti diserukan oleh Al-Sana’i: </p>
<blockquote><p><em>Di atas Tahta lingkungan yang berputar, engkau lihat tempatnya telah tersedia; .<br />
Di dasar Tahta Ilahi engkau melihat namanya.</em>(Sana’i, Diwan, h. 363.)</p></blockquote>
<p>Sebuah buku pegangan sufi menguraikan tema ini:</p>
<p><em>Dan dengan nama itu Adam menamainya, dan melaluinya menjadi penengah dan shalawat diucapkan kepadanya dalam perkawinanya dengan Siti Hawa.<br />
. . dan dengan nama itu ‘Isa akan menamainya di akhirat ketika dia menunjuknya untuk menjadi penengah; dan dengan nama itu jibril menyapanya dalam hadis mi‘raj. Dan dengan nama itu pula Ibrahim juga memanggilnya dalam hadis miraj. Dan Malaikat Pegunungan menyapanya dengan nama itu, dan dengan nama itu Malaikat Maut meratap ketika dia mencabut nyawanya, berseru: &#8220;Aduh! Muhammad, ah!&#8221;<br />
Dan dengan nama itu dia memperkenalkan dirinya kepada Penjaga Surga, ketika dia meminta untuk dibukakan pintunya, dan pintu itu dibukakan untukny</em>a.</p>
<p>Selain itu, para sufi menemukan, dengan menggunakan metode<strong> isytiqaq kabir</strong> (pengambilan suatu makna tertentu dari setiap huruf dalam sebuah kata).<br />
Bahwa namanya terdiri atas <em>m</em> dari<em> majd</em>, &#8220;kemenangan&#8221;, <em>h</em> dari <em>rahmat,</em> &#8220;rahmat&#8221;,  <em>m</em> dari <em>mulk</em>, &#8220;kerajaan&#8221; dan <em>d</em> dari <em>dawam</em>, &#8220;keabadian&#8221;.</p>
<p>Nabi sendiri diyakini pernah berkata, &#8220;Tidakkah kalian bertanya tanya bagaimana Allah menghindarkan aku dari perlakuan kejam dan kutukan kaum Quraisy? Mereka menghinaku sebagai ’yang patut disalahkan&#8217; (mudzammam) dan mengutukku sebagai orang yang patut disalahkan, sedangkan aku adalah orang yang patut dipuji (muhammad)&#8221; </p>
<blockquote><p>Dalam sebuah hadis awal lainnya Nabi menyebutkan sebagai nama namanya, di samping Muhammad,<br />
- Ahmad (berasal dari akar yang sama, hamd),<br />
- al-mahi` &#8220;0rang yang melaluinya Tuhan menghapuskan (mahw) kekafiran;&#8221;<br />
- al-hasyir, &#8220;0rang yang di kakinya umat manusia akan berkumpul pada Hari Kiamat;&#8221;<br />
dan akhirnya al &#8216;aqib, &#8220;yang terakhir,&#8221; sebab tidak akan ada nabi lagi sesudahnya.
</p></blockquote>
<p>Di antara nama nama ini, Ahmad telah mendapatkan makna khusus dalam teologi Islam. Surah 61:5 menyatakan bahwa Allah akan &#8220;mengutus seorang nabi dengan nama Ahmad,&#8221; atau &#8220;yang namanya<br />
sangat patut dipuji.&#8221;<br />
Kalimat ini dianggap oleh kaum Muslim sejak masa awal sebagai acuan kepada <em>Paraclete</em> yang kehadirannya telah diramalkan dalam Kitab Injil Yahya. Pembacaan <em>paracletos</em> sebagai <em>periclletos</em> yang dapat ditafsirkan sebagai &#8220;yang paling patut dipuji, &#8220;membuat penafsiran semacam itu menjadi mungkin, dan dengan demikian Ahmad secara umum diterima sebagai nama Nabi dalam Kitab Taurat dan Injil. </p>
<p>Rumi mengatakan dalam buku pertama dari Matsnawi-nya, bahwa beberapa orang Kristen kuno suka mencium nama Ahmad dalam Injil, dan diselamatkan dari hukuman mati dikarenakan rahmat yang terkandung dalam nama itu.</p>
<p>&#8220;Ahmad adalah juga nama surgawi Muhammad, di sekitarnya tumbuh sekumpulan literatur sufi, sebagai-<br />
mana yang akan kita lihat sekarang. Sebagai nama &#8220;spiritual&#8221;-nya, nama itu sekaligus juga nama dari semua nabi (yang merupakan bagian dari cahaya primordialnya).</p>
<p>Najm Daya Razi menemukan suatu ponggambaran yang sangat aneh mengenai berbagai nama yang diberikan kepada Muhammad:<br />
&#8220;Ketika telur dari keadaan Muhammad sebagai manusia belum dierami oleh si ayam ‘Abdullah, Tuhan menamakannya Ahmad (surah 61:5),&#8221; yang berarti bahwa Ahmad merupakan nama primordialnya; &#8220;tetapi<br />
ketika telur itu telah menetas dan tumbuh menjadi nabi dan rasul di bawah sayap Jibril,&#8221; dia dinamakan Muhammad (surah 3:144), dan ketika burung itu akhirnya mulai terbang &#8220;menuju <em>qaba qawsayn</em>, Dia menamakannya hamba-Nya(‘abduhu) (surah 53:10)&#8221; </p>
<p>Menurut Ibn lshaq, Muhammad pada masa mudanya dipanggil Al Amin, orang yang setia dan dapat dipercaya, karena kawan kawannya sangat terkesan oleh sifat sifatnya yang mulia dan dapat dipercaya. Hal ini merupakan penjelasan bagi banyaknyadigunakan nama Amin sebagai nama yang disukai di negeri negeri Islam.<br />
Di samping nama-nama yang disebutkan oleh Nabi sendiri, kaum Muslim mengembangkan berbagai nama untuknya yang mereka katakan berasal daxi Al-Quran atau hadis. </p>
<p>Nama-nama yang diambil dari Al Quran tentu saja tetap menonjol. Di samping Muhammad dan Ahmad, kita mendapati:</p>
<p>Abdullah, &#8220;hamba Tuhan,&#8221; atau ‘Abduhu, &#8220;hambaNya&#8221; (yang diambil dari surah 17:1 dan surah 53:10, kedua ayat itu mengacu kepada kedudukannya yang tinggi selama dalam perjalanannya ke langit).<br />
Huruf-huruf misterius yang tidak ada kaitannya pada awal surah 20 dan surah 36, <em>Thaha</em> dan <em>Yasin</em>, juga dianggap sebagai nama nama Nabi. Surah 20 awalnya berbunyi: &#8220;Thaha — tidakkah Kami turunkan Al-Quran kepadamu?&#8221;<br />
Huruf-huruf Yasin pada awal surah 36 (yang dinamakan &#8220;Inti Al-Quran&#8221;) ditafsirkan sebagai Ya insan, &#8220;wahai<br />
manusia!&#8221; — yang lagi-lagi merupakan sapaan bagi Nabi.  Oleh sebab itu Thaha dan Yasin menjadi nama-nama yang diterima di kalangan kaum Muslim, dan banyak penulis telah merenungkan makna maknanya yang tersembunyi, dengan membaca Thaha, misalnya, sebagai kependekan dari <em>thahir</em>, &#8220;mumi,&#8221; dan hadi, &#8220;penuntun.&#8221; </p>
<p>Penyair Turki, Khaqani, berlantun dalam karyanya, <em>Hilyat </em>bahwa,</p>
<p><em>Pohon cemara yang berjalan itu datang dengan</em> thugh* <em>Thaha,<br />
Berayun bagaikan panji panji dia datang</em></p>
<p>*Thugh adalah panji panji  kekaisaran yang dibuat dari ekor binatang yak.*<br />
**M. Khaqani, Hilyat, h. 7. Dalam puisi kebaktian ‘Utsman Al-Mirghani, nama Thaha sangat sering digunakan; itu sering muncul dalam kaitannya dengan peranan Muhammad sebagai penengah, dan merupakan isi penting lagu lagu rakyat untuk menghormati Nabi; ia juga selanjutnya digabungkan dengan Yasin.<br />
Lihat Bannerth, <em>&#8220;Leider agyptiseher medda/iin:&#8221;</em></p>
<blockquote><p><em>Engkau, Thaha, bagiku adalah kekasih,<br />
Engkau, Thaha, penengahku!</em>
</p></blockquote>
<p>Sajak-sajak serupa terdapat dalam puisi rakyat Sindh; lihat Baloeh, Maulud, h. 151 dan berikutnya. Suatu ungkapan yang sangat indah mengenai kasih sayang seorang penyair rakyat untuk Thaha adalah berupa sebuah syair karya penyair Hausa, Ibrahim Niass, dikutip dalam Hiskett, &#8220;The Eommunity of Graee,&#8221; h. 117:</p>
<p><em>Hatiku tidak merindukan gadis-gadis cantik —<br />
Apalah gadis gadis cantik itu? Anggaplah mereka khayalan belaka di samping<br />
Thaha (Muhammad), yang Terpercaya, yang suci.<br />
Aku telah melupakan Laila dan Maila dan Tandami<br />
Karena Thaha, yang dipercaya oleh Allah, cinta yang kukenal . . .</em></p>
<p>Orang bertanya-tanya apakah baris 332 dalam kazya Ibn A1—Farld Taiyyah mengandung suatu perujukan tak langsung kepada nama Nabi, Thaha. Bunyinya adalah:<br />
<em><br />
Tak mengherankan bahwa aku menguasai semua yang hidup sebelumku,<br />
Karena aku mempunyai pegangan paling kuat pada Thaha.</em></p>
<p>Nieholson, Studies in Islamie Mystieism, h. 231, merujuk kepada surah 20 ini, &#8220;Thaha,&#8221;<br />
ayat 7, tetapi adanya makna ganda tidak bisa dipungkiri**</p>
<p>Dan Amir Khusrau di India menggabungkan, tiga abad kemudian, kata <em>Yasin</em> dengan penafsiran huruf <em>sin</em> sebagai &#8220;gigi&#8221;:</p>
<blockquote><p>Yasin <em>telah menyebarkan mutiara dari mulutnya,</em><br />
Thaha<em>nya telah menerima di dalam</em> yakadu,
</p></blockquote>
<p>(yaitu, ia dikaitkan dalam cara yang misterius dengan tiga ayat terakhir dari surah 68, yang dibaca untuk mengusir mata yang jahat).<br />
*Amir Khusrau, Majnun Laila, h. 10; dia menggabungkan huruf-huruf ya—sin dengan gigi.  sebab sin secara metaforikal —- dikarenakan bentuknya — berarti &#8220;gigi.&#8221;*</p>
<p>Penggunaan nama nama ini masih luas bahkan di sudut sudut terpencil di dunia Muslim, dan sebagaimana para <em>qawwal</em> di Khuldabad (India) mengulang berkali kali refrain Urdu nyanyian mereka:</p>
<p><em>Betapa Allah telah melingkupimu dalam Al Quran<br />
dengan nama-nama yang indah<br />
Kadang-kadang Dia menyapamu dengan Thaha, kadang-kadang<br />
dengan Yasin. . .</em></p>
<p>demikian pula penyair sezaman dari Gilgit menggunakan julukan julukan yang sama ini dalam lagu lagu pujian mereka untuk Nabi dalam bahasa asli mereka, Syina.&#8221;<br />
* Rekan saya Georg Buddruss, dari Univexsitas Mainz, telah berbaik hati mengizimi saya na‘t ini di Syina dengan penjelasan-penjelasan. dia menyebutkan bahwa itu dinyanyikan dengan nada yang sangat manis. Ia diterbitkan di Rawalpindi pada 1974*</p>
<p>Di masa masa sesudahnya, huruf-huruf <em>ha mim,</em> yang terdapat pada awal surah 40-46, juga dianggap mengacu kepada Nabi, yang berbunyi<em> Habibi Muhammad, &#8220;Kekasihku Muhammad&#8221;</em>.   </p>
<p>Karena itu, mereka kadang kadang dikembangkan dalam kaligram kaligram dekoratif. Disebutnya Muhammad sebagai habib, &#8220;kawan tercinta&#8221; Tuhan, juga telah mendorong diciptakannya banyak nama julukan, seperti<br />
Habibullah, &#8220;Kekasih Tuhan&#8221; atau Hahib ur-Rahman, &#8220;Kekasih dari Yang Maha Pengasih,&#8221; yang tidak lain adalah padanan padanan dari nama Muhammad.***</p>
<h4  class="related_post_title">Related Post</h4><ul class="related_post"><li><a href="http://nabimuhammad.info/2010/05/asma%e2%80%99-al-syarifah-keindahan-dan-kemuliaan-nama-muhammad-33/" title="Asma’ al Syarifah &#8216;Keindahan dan Kemuliaan Nama Muhammad (3/3)"><img src="Array" alt=" Asma’ al Syarifah Keindahan dan Kemuliaan Nama Muhammad (1/3)"  title="Asma’ al Syarifah Keindahan dan Kemuliaan Nama Muhammad (1/3)" /></a>May 10, 2010 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2010/05/asma%e2%80%99-al-syarifah-keindahan-dan-kemuliaan-nama-muhammad-33/" title="Asma’ al Syarifah &#8216;Keindahan dan Kemuliaan Nama Muhammad (3/3)">Asma’ al Syarifah &#8216;Keindahan dan Kemuliaan Nama Muhammad (3/3)</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2010/05/asma%e2%80%99-al-syarifah-keindahan-dan-kemuliaan-nama-muhammad-23/" title="Asma’ al Syarifah &#8216;Keindahan dan Kemuliaan Nama Muhammad (2/3)"><img src="Array" alt=" Asma’ al Syarifah Keindahan dan Kemuliaan Nama Muhammad (1/3)"  title="Asma’ al Syarifah Keindahan dan Kemuliaan Nama Muhammad (1/3)" /></a>May 10, 2010 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2010/05/asma%e2%80%99-al-syarifah-keindahan-dan-kemuliaan-nama-muhammad-23/" title="Asma’ al Syarifah &#8216;Keindahan dan Kemuliaan Nama Muhammad (2/3)">Asma’ al Syarifah &#8216;Keindahan dan Kemuliaan Nama Muhammad (2/3)</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/nama-nama-mulia-nabi-muhammad-saw/" title="Nama Nama Mulia Nabi Muhammad SAW"><img src="Array" alt=" Asma’ al Syarifah Keindahan dan Kemuliaan Nama Muhammad (1/3)"  title="Asma’ al Syarifah Keindahan dan Kemuliaan Nama Muhammad (1/3)" /></a>December 25, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/nama-nama-mulia-nabi-muhammad-saw/" title="Nama Nama Mulia Nabi Muhammad SAW">Nama Nama Mulia Nabi Muhammad SAW</a> (1)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/10/wajah-nabi-mirip-dengan-wajah-nabi-ibrahim/" title="Wajah Nabi Mirip Dengan Wajah Nabi Ibrahim"><img src="Array" alt=" Asma’ al Syarifah Keindahan dan Kemuliaan Nama Muhammad (1/3)"  title="Asma’ al Syarifah Keindahan dan Kemuliaan Nama Muhammad (1/3)" /></a>October 28, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/10/wajah-nabi-mirip-dengan-wajah-nabi-ibrahim/" title="Wajah Nabi Mirip Dengan Wajah Nabi Ibrahim">Wajah Nabi Mirip Dengan Wajah Nabi Ibrahim</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/10/6936/" title="25 Rasul"><img src="Array" alt=" Asma’ al Syarifah Keindahan dan Kemuliaan Nama Muhammad (1/3)"  title="Asma’ al Syarifah Keindahan dan Kemuliaan Nama Muhammad (1/3)" /></a>October 27, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/10/6936/" title="25 Rasul">25 Rasul</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2010/04/prakata-dasar-dasar-sederhana-dalam-kedua-agama/" title="Prakata: Dasar Dasar Sederhana Dalam Kedua Agama"><img src="Array" alt=" Asma’ al Syarifah Keindahan dan Kemuliaan Nama Muhammad (1/3)"  title="Asma’ al Syarifah Keindahan dan Kemuliaan Nama Muhammad (1/3)" /></a>April 7, 2010 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2010/04/prakata-dasar-dasar-sederhana-dalam-kedua-agama/" title="Prakata: Dasar Dasar Sederhana Dalam Kedua Agama">Prakata: Dasar Dasar Sederhana Dalam Kedua Agama</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/06/kemuliaan-rasulullah-2/" title="Kemuliaan Rasulullah (2)"><img src="Array" alt=" Asma’ al Syarifah Keindahan dan Kemuliaan Nama Muhammad (1/3)"  title="Asma’ al Syarifah Keindahan dan Kemuliaan Nama Muhammad (1/3)" /></a>June 21, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/06/kemuliaan-rasulullah-2/" title="Kemuliaan Rasulullah (2)">Kemuliaan Rasulullah (2)</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/06/siksa-saja-kami/" title=" Siksa Saja Kami!"><img src="Array" alt=" Asma’ al Syarifah Keindahan dan Kemuliaan Nama Muhammad (1/3)"  title="Asma’ al Syarifah Keindahan dan Kemuliaan Nama Muhammad (1/3)" /></a>June 4, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/06/siksa-saja-kami/" title=" Siksa Saja Kami!"> Siksa Saja Kami!</a> (0)</li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nabimuhammad.info/2010/05/lebih-jauh-tentang-nama-nabi-muhammad/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bab IV: Siksa Saja Kami!</title>
		<link>http://nabimuhammad.info/2010/02/bab-iv-siksa-saja-kami/</link>
		<comments>http://nabimuhammad.info/2010/02/bab-iv-siksa-saja-kami/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Feb 2010 02:39:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sejarah Hidup Nabi]]></category>
		<category><![CDATA[nabi muhammad saw]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nabimuhammad.info/?p=866</guid>
		<description><![CDATA[Setiap suku mulai menangkapi anggota mereka yang masuk Islam dan menahan mereka. Mereka melampiaskan kemarahan dengan mencambuk, tidak memberi makan dan minum atau dijemur pada saat terik matahari. Tapi, terhadap Sang Nabinya sendiri, mereka hanya bisa mencaci, memfitnah dan paling banter meludahi beliau atau melemparinya dengan kotoran unta. Tapi lebih dari itu, mereka tak berani [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_880" class="wp-caption alignleft" style="width: 277px"><img class="size-full wp-image-880" title="kaligrafi1" src="http://nabimuhammad.info/wp-content/uploads/2010/02/kaligrafi1.jpg" alt="kaligrafi1 Bab IV: Siksa Saja Kami!" width="267" height="242" /><p class="wp-caption-text">Nabi Muhammad SAW</p></div>
<p>Setiap suku mulai menangkapi anggota mereka yang masuk Islam dan menahan mereka. Mereka melampiaskan kemarahan dengan mencambuk, tidak memberi makan dan minum atau dijemur pada saat terik matahari.<br />
Tapi, terhadap Sang Nabinya sendiri, mereka hanya bisa mencaci, memfitnah dan paling banter meludahi beliau atau melemparinya dengan kotoran unta.  Tapi lebih dari itu, mereka tak berani sama sekali.  Karena ada Abu Thalib dibelakang Muhammad.<br />
Suatu hari, para pembesar Quraisy berkumpul di Hijr Ismail.  Datanglah Rasul dan melakukan thawaf.  Melihat Rasul, mereka segera bangkit dan seperti melakukan olahraga kesenangan, mereka secara bersemangat ‘menyambut’ Rasul.<br />
“Lihatlah ini, pemimpin para orang gila telah datang!” teriak mereka dengan sangat keras.  Celaan penuh cemooh ini mereka ulang-ulang terus.  Rasul diam saja.  Raut wajah beliau tidak berubah sedikit pun.  Ia berusaha khusu’ dalam berthawaf kendati dengan kewaspaan yang tak lepas.  Sementara caci maki itu terus menggema.  Usai thawaf, beliau melihat kepada para pengganggunya.  Sambil tersenyum beliau berkata:<br />
&#8220;Apakah kalian tidak mendengar, wahai orang-orang Quraisy?  Demi Dzat yang diriku berada dalam KekuasaanNya.  Sesungguhnya aku akan membawakan binatang sembelihan untuk kalian”</p>
<p>Seketika kaum Quraisy itu terdiam, tidak bergerak.  Jawaban Rasul benar-benar diluar dugaan.  Membawa binatang sembelihan bagi bagi bangsa Arab adalah seperti membawakan mereka rejeki yang baik.  Karena orang Arab itu gemar berkurban. Dan daging kurbannya mereka makan sendiri atau dibagi-bagikan kepada orang-orang miskin.  Seperti yang dilakukan para nenek moyang mereka.  Akan tetapi tradisi berbagi rejeki ini terkikis sedikit demi sedikit karena mereka kini menjadi semakin bakhil dan rakus.  Daging kurban itu mereka makan sendiri.<br />
Tapi kerhormatan yang mengiringi kurban tetap melekat pada mereka.  Itu sebabnya mereka kaget ketika Rasul mengatakan akan membawakan mereka  kurban atau binatang sembelihan. Mereka amat senang dan langsung bersikap ramah pada Rasulullah.  Rasul, masih dengan senyum yang seperti ketika ia datang, Cuma menganggukkan kepala dan segera berlalu.<br />
Tentu saja Rasul akan membawakan binatang sembelihan kepada mereka.  Tapi binatang itu akan disembelih atas nama Allah Yang Maha Berkuasa!  Bukan atas nama berhala-berhala mereka!<br />
Sebuah jawaban yang tepat, jitu sekaligus cerdas!</p>
<p>Namun ini Cuma gangguan kecil yang selalu ada setiap saat.  Begitu pula keesokan harinya.  Ketika Rasul datang kembali ke Ka’bah untuk tawaf, orang-orang Quraisy itu kembali mengganggu.<br />
Kali ini sambil mencemooh, mereka mengepung Rasulullah.  Rasulullah tahu, mereka sedang berusaha memancing emosinya agar melayani nafsu marah mereka.  Itulah sebabnya Rasul diam saja dan meningkatkan kewaspaan.  Salah seorang dari mereka bahkan menarik selendangnya.  Kini Rasul menjadi sangat waspada.  Ia tak mungkin menarik selendang itu.  Akan terjadi tarik menarik yang bisa berujung jatuhnya beliau menubruk salah seorang dari mereka. Karena kekuatan si Quraisys yagn memegang selendangnya, kuat sekuat postur bongsornya.  Itu sebabnya Rasul segera melepaskan selendangnya.  Dan si Quraisy tentu saja jatuh terjerembab.  Menyaksikan temannya jatuh, semakin gemuruhlah suasana.  Teriakan dan hentakan kaki silih berganti.  Tangan-tangan mereka mulai menepak kepala Rasul dan menarik jenggotnya.  Suasana magis  yang menyanyat hati mulai turun perlahan-lahan.  Seorang mulia disakiti, apakah Tuhannya akan berdiam diri?<br />
Rasul tetap tidak bergerak.  Ia tidak mau memulai perkelahian itu.  Karena bila ia yang memulai, maka Quraisy itu punya alasan untuk membunuhnya.  Bukankah mereka bisa mengatakan bahwa Rasul telah memukuli mereka dan mereka terpaksa membalas?  Ini bisa seperti membuka tutup panci berisi belerang  mendidih.  Cipratannya akan melepuhkan kulit muka!</p>
<p>Itu sebabnya Rasul hanya bisa bersikap bertahan.  Tapi ia pun yakin, Quraisy itu tak mungkin berani mulai memukulnya.  Abu Thalib sebagai pemimpin klannya Rasul, klan Hasyim, bisa meneriakkan serangan balasan.  Dan akan dimulailah perang antar suku di Mekah ini.<br />
Sesuatu yang sangat mereka hindarkan.  Huru hara akan membuat orang-orang menjauhi Mekah.  Dan itu berarti bunuh diri!<br />
Rasul dalam posisi terkepung.  Tapi ia tetap bertahan dan waspada.  Lalu, datanglah Abu Bakar yang langsung tersulut belas kasihannya.  Sungguh, siapa yang sanggup melihat orang yang dicintai berada dalam posisi seperti hewan ternak yang digiring ke pojok untuk ditangkap dan disembelih?<br />
Menagislah Abu Bakar. Air matanya jatuh seperti hujan disebuah sore yang murung.<br />
“Apakah kalian akan membunuh seseorang hanya karena ia mengatkan bahwa Tuhannya adalah Allah?” jerit Abu Bakar.<br />
Merasa sudah cukup, karena datangnya Abu Bakar bisa menjadi saksi yang memberatkan, mereka menghentikan teror itu.  Mereka lalu membubarkan diri.  Abu Bakar membimbing Rasul dan bersama-sama mereka pulang.  Hari itu usai dengan membawa tetes demi tetes airmata Abu Bakar yang dicintai dan mencintai Rasul.</p>
<p>Pada suatu hari, seorang pengecut meludahi Rasul dari atap rumahnya.<br />
“Cih!”  Rasul kaget bukan main.  Beliau langsung mengusap kepalanya.  Membersihkan dan melanjutkan perjalananannya. Tidak ada reaksi berlebihan di sini. Tidak membalas?  Terlalu besar energi dan waktu  yang dikeluarkan hanya untuk seorang pengecut dengan ludah busuknya.<br />
Keesokkan harinya hal itu ternyata terulang lagi.  Begitu seterusnya.  Rasul tetap sabar.  Mengusap kepalanya, membersihkan dan kembali berjalan.  Rasul jadi terbiasa dengan ‘ritual’ kecil ini. Akan tetapi hari berikutnya tidak ada yang meludahi.  Sejenak, heran juga Rasul. Apa orang ini sudah kapok?  Rasanya kok tidak mungkin.  Penasaran, Rasul bertanya kepada tetangganya.<br />
“Ah, si fulan sedang sakit.  Untuk apa kau bertanya, hai Muhammad?” ucap tetangganya ketus.  Dia juga tidak suka dengan Rasu.  Rasul tersenyum dan menjawab:<br />
“Innalillahi. Kasihan dia. Aku akan menjenguknya nanti sepulang urusanku”<br />
Lalu, pergilah Rasul meninggalkan ketercengangan di wajah sitetangga.  Menjenguk?  Apa pula maksudnya ini?<br />
Setelah shalat, Rasul menengok orang yang biasa meludahinya itu.  Tentu saja, orang itu kaget bukan main.  Sekejab, ia merasa takut Rasul balas menyakitinya.  Padahal ia sedang terbaring lemah diatas tempat tidur.  Namun Rasul datang dengan senyum tenang dan salam pembuka yang sangat sopan.<br />
“Aku dengar kau sakit, wahai Fulan?”<br />
Orang itu Cuma mengangguk pelan dan melihat kalau Rasul Cuma datang sendirian.  Perlahan, ia melihat ada sinar menyelimuti wajah Rasul.  Cahaya itu begitu indah dan mesra.  Sebuah cahaya yang sesungguhnya hanya bisa dilihat oleh orang-orang mukmin.<br />
Seketika penyesalan merambati hatinya.<br />
“Aku berdoa kepada Tuhanku agar memberi kesembuhan padamu” kata Rasul.<br />
Sebuah doa yang sederhana.  Meminta kesembuhan.Tidak lebih? Seperti misalnya agar Tuhannya membalas kejahatan yang telah dilakukannya selama ini kepada Rasul?  Atau memintanya masuk Islam?<br />
Ah, benar-benar Rasul penuh kejutan manis.  Orang itu tersenyum malu dan tersipu-sipu. Ia seperti anak kecil yang ketahuan mencuri sebatang loli dari toples ibunya.<br />
“Maafkan aku, ya Rasul Allah,  Kini aku beriman kepadamu”<br />
Inilah mulut yang ludahnya paling bernilai dan pernyataannya paling indah yang didengar Rasul.  Rasul tak henti-hentinya mengucap Syukur Alhamdulillah.</p>
<p>Abu Jahal juga termasuk orang yang kerap mengganggu Rasul.  Bila Rasul hendak pergi shalat, segera Abu Jalah menghadang dan menggangu beliau.<br />
Kali ini, Rasul menampakkan kemarahan di wajahnya.  Namun sikap beliau tetap tenang.  Kemarahannya tercermin dari pilihan kata-katanya.<br />
Mendengar kata-kata Rasul kali ini yang mencerminkan ketidaksukaannya, Abu Jahal menantang Rasul :<br />
“Muhammad, apakah engkau berani mengancam aku? Tidakkah engkau tahu, bahwa aku ini seorang yang memiliki harta berlimpah dan kawan yang banyak?  Aku adalah orang yang berkuasa di Mekah.  Sedangkan kau, siapakah dirimu? Ha? Apa kau berani padaku?”</p>
<p>Sungguh sombong kata-kata yang berhamburan dari mulut Abu Jahal.  Ia mengira, harta yang banyak, kawan yang siap membela dan jabatan bisa membuat seseorang menjadi hebat atau mulia.<br />
Tidak.  Sesekali tidak. Semua itu Cuma laksana planton-planton kecil yang berenang-renang di air.  Banyak sekali dan indah-indah.  Tapi, bisakah ditangkap? Disentuh? Atau bahkan di makan?<br />
Seketika itu juga Allah menurunkan wahyu kepada Nabi saw.</p>
<p>“Ketahuilah bahwa sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas.<br />
Karena dia melihat dirinya serba cukup.<br />
Sesungguhnya hanya kepada Tuhanmulah kembali (mu).<br />
Bagaimana pendapatmu tentang orang yang melarang seorang hamba ketika dia mengerjakan shalat?<br />
Bagaimana pendapatmu jika orang yang dilarang itu berada diatas kebenaran,<br />
atau dia menyuruh untuk bertakwa (kepada Allah)?<br />
Bagaimana pendapatmu jika orang yang melarang itu mendustakan dan berpaling ? Tidaklah ia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah Melihat segala perbuatannya?”</p>
<p>Rasulullah, seperti bisa hanya mengaggap angin lalu dan segera pergi.  Walau pun telah mendengar wahyu Allah yang mengecamnya, kekejaman dan kebodohan Abu Jahal tidaklah surut. Kiranya Allah telah menutup hati dan matanya dari sinar kebenaran.<br />
Pernah suatu saat ia berkata:<br />
“Apakah Muhammad sujud dan menempelkan dahinya di tanah (shalat) di depan kalian?”<br />
“Benar,” jawab seseorang.<br />
“Demi latta dan Uzza, andaikan aku melihatnya, tentu kuinjak tengkuknya dan kulumuri mukanya dengan debu” teriak Abu Jahal.<br />
Lalu dia menemui Rasulullah saw. yang sedang shalat dan  bermaksud hendak menginjak tengkuk beliau saw.  Namun, ia tiba-tiba menghentikan langkahnya.  Wajahnya gemetar menahan kengerian yang terlihat di pelupuk matanya.  Ia mundur dengan berlindung dibalik kedua tangannya. Nafasnya memburu, keringatnya bercucuran.<br />
“Ada apa dengan dirimu wahai Abul Hakam ?” tanya mereka<br />
“Antaraku dan dia seperti ada parit dari api dan sekumpulan makhluk menyeramkan dan bersayap beeerdiri disekeliling Muhammad”<br />
Lantas Rasul bersabda “Andaikan dia sedikit lagi mendekatiku, tentu para malaikat akan menyambarnya sepotong demi sepotong”.<br />
Dan ketika itu turunlah ayat :<br />
<em><br />
</em></p>
<blockquote><p><em>Oh, janganlah begitu! Sesungguhnya jika ia tidak menghentikan perbuatannya itu,<br />
tentu akan Kami (Allah) Tarik ubun-ubunnya,<br />
(yaitu) ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka.<br />
Maka biarlah dia memanggil golongannya (untuk menolongnya).<br />
Kelak Kami akan memanggil Malaikat Zabbaniyah.<br />
Sekali-kali janganlah kamu patuh padanya,<br />
dan sujudlah dan dekatkanlah (dirimu kepada Tuhan)” </em><br />
<strong>Al Quran surat Al Alaq (96): 15-19</strong></p></blockquote>
<p><strong><br />
</strong></p>
<p>Begitulah perlakuan yang diterima Rasul.  Namun, apapun dan bagaimana pun situasinya, Rasulullah tak pernah hilang kendali.  Logika berpikirnya tetap terstruktur, kata-katanya selalu penuh perhitungan. Beliau tak pernah sekali dan sedikitpun membiarkan emosi menutupi kalbunya.  Sikap sabar menjadi rambu yang sangat logis.<br />
Lebih dari itu, Rasul selalu memasrahkan dirinya kepada Allah SWT.  Karena ia hanyalah seorang hamba.  Yang lemah dan tiada daya.  Bukankah kepada tuannya seorang hamba meminta perlindungan dan berserah diri?</p>
<h4  class="related_post_title">Related Post</h4><ul class="related_post"><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/hamzah-bin-abdul-muthalib/" title="Hamzah "><img src="Array" alt=" Bab IV: Siksa Saja Kami!"  title="Bab IV: Siksa Saja Kami!" /></a>December 30, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/hamzah-bin-abdul-muthalib/" title="Hamzah ">Hamzah </a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/paman-bibi-nabi/" title="Paman Dan Bibi Nabi"><img src="Array" alt=" Bab IV: Siksa Saja Kami!"  title="Bab IV: Siksa Saja Kami!" /></a>December 30, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/paman-bibi-nabi/" title="Paman Dan Bibi Nabi">Paman Dan Bibi Nabi</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/memakan-makanan-yang-terdekat/" title="Memakan Makanan Yang Terdekat"><img src="Array" alt=" Bab IV: Siksa Saja Kami!"  title="Bab IV: Siksa Saja Kami!" /></a>December 28, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/memakan-makanan-yang-terdekat/" title="Memakan Makanan Yang Terdekat">Memakan Makanan Yang Terdekat</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/makan-ketika-lapar-dan-berhenti-sebelum-kenyang/" title="Makan Ketika Lapar Dan Berhenti Sebelum Kenyang"><img src="Array" alt=" Bab IV: Siksa Saja Kami!"  title="Bab IV: Siksa Saja Kami!" /></a>December 28, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/makan-ketika-lapar-dan-berhenti-sebelum-kenyang/" title="Makan Ketika Lapar Dan Berhenti Sebelum Kenyang">Makan Ketika Lapar Dan Berhenti Sebelum Kenyang</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/makanlah-hanya-agar-tidak-kelaparan/" title="Makanlah Hanya Agar Tidak Kelaparan"><img src="Array" alt=" Bab IV: Siksa Saja Kami!"  title="Bab IV: Siksa Saja Kami!" /></a>December 28, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/makanlah-hanya-agar-tidak-kelaparan/" title="Makanlah Hanya Agar Tidak Kelaparan">Makanlah Hanya Agar Tidak Kelaparan</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/membaca-bismillah-sebelum-makan/" title="Membaca Bismillah Sebelum Makan"><img src="Array" alt=" Bab IV: Siksa Saja Kami!"  title="Bab IV: Siksa Saja Kami!" /></a>December 28, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/membaca-bismillah-sebelum-makan/" title="Membaca Bismillah Sebelum Makan">Membaca Bismillah Sebelum Makan</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/nama-nama-mulia-nabi-muhammad-saw/" title="Nama Nama Mulia Nabi Muhammad SAW"><img src="Array" alt=" Bab IV: Siksa Saja Kami!"  title="Bab IV: Siksa Saja Kami!" /></a>December 25, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/nama-nama-mulia-nabi-muhammad-saw/" title="Nama Nama Mulia Nabi Muhammad SAW">Nama Nama Mulia Nabi Muhammad SAW</a> (1)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/pola-makan-rasulullah-1/" title="Pola Makan Rasulullah (1)"><img src="Array" alt=" Bab IV: Siksa Saja Kami!"  title="Bab IV: Siksa Saja Kami!" /></a>December 25, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/pola-makan-rasulullah-1/" title="Pola Makan Rasulullah (1)">Pola Makan Rasulullah (1)</a> (0)</li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nabimuhammad.info/2010/02/bab-iv-siksa-saja-kami/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

