<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Muhammad SAW, Nabi Muhammad SAW, Cerita Nabi Muhammad, Riwayat Nabi Muhammad, Rasulullah Muhammad SAW,  Dakwah Nabi Muhammad &#187; nabi muhammad saw</title>
	<atom:link href="http://nabimuhammad.info/tag/nabi-muhammad-saw/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://nabimuhammad.info</link>
	<description>Nur Muhammad, Muhammad, Nabi Muhammad SAW, Riwayat Nabi Muhammad, Sejarah Muhammad SAW,  Cerita Nabi Muhammad, Surat Muhammad, Maulid Nabi Muhammad, kisah Muhammad, Habib Muhammad, Kelahiran Nabi Muhammad, Cerita Nabi Muhammad, Hadist Nabi Muhammad, Foto Muhammad, Pidato nabi Muhammad</description>
	<lastBuildDate>Fri, 06 Jan 2012 12:34:53 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3</generator>
		<item>
		<title>Hamzah</title>
		<link>http://nabimuhammad.info/2011/12/hamzah-bin-abdul-muthalib/</link>
		<comments>http://nabimuhammad.info/2011/12/hamzah-bin-abdul-muthalib/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Dec 2011 09:56:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Paman dan Bibi Nabi]]></category>
		<category><![CDATA[Abdul Muthalib]]></category>
		<category><![CDATA[Abdul Rahman bin Auf]]></category>
		<category><![CDATA[Abdullah bin Abdul Muthalib.]]></category>
		<category><![CDATA[Abu Jahal]]></category>
		<category><![CDATA[Al Bidayah Wan Nihayah]]></category>
		<category><![CDATA[Al Harits At Taimi]]></category>
		<category><![CDATA[Al Kazzab]]></category>
		<category><![CDATA[Aminah Binti Wahab]]></category>
		<category><![CDATA[Anshar]]></category>
		<category><![CDATA[Badar]]></category>
		<category><![CDATA[baitullah]]></category>
		<category><![CDATA[Bangau]]></category>
		<category><![CDATA[Bani Muthalib]]></category>
		<category><![CDATA[Bani Zuhrah]]></category>
		<category><![CDATA[budak]]></category>
		<category><![CDATA[burung Na'amah]]></category>
		<category><![CDATA[Ethiopia]]></category>
		<category><![CDATA[Hamzah]]></category>
		<category><![CDATA[Hamzah bin Abdul Muthalib]]></category>
		<category><![CDATA[Haulah binti Wuhaib]]></category>
		<category><![CDATA[Hindun bin Utbah]]></category>
		<category><![CDATA[Jud'an bin Amir]]></category>
		<category><![CDATA[kafir Qurais]]></category>
		<category><![CDATA[keponakan]]></category>
		<category><![CDATA[menangis]]></category>
		<category><![CDATA[Muhammad SAW]]></category>
		<category><![CDATA[murtad]]></category>
		<category><![CDATA[Musailimah]]></category>
		<category><![CDATA[nabi muhammad saw]]></category>
		<category><![CDATA[Paman Nabi]]></category>
		<category><![CDATA[Perang Uhud]]></category>
		<category><![CDATA[pisau]]></category>
		<category><![CDATA[Quraiys]]></category>
		<category><![CDATA[Rasulullah]]></category>
		<category><![CDATA[Rasulullah Muhammad]]></category>
		<category><![CDATA[Rasulullah Saw]]></category>
		<category><![CDATA[Safa]]></category>
		<category><![CDATA[sang Nabi]]></category>
		<category><![CDATA[Saudara Sepesusuan Nabi]]></category>
		<category><![CDATA[saudara sesusuan]]></category>
		<category><![CDATA[Sayyidus Syuhada]]></category>
		<category><![CDATA[singa Allah]]></category>
		<category><![CDATA[thawaf]]></category>
		<category><![CDATA[Umaiyah bin Khalaf]]></category>
		<category><![CDATA[Wahsyi]]></category>
		<category><![CDATA[Wahsyi bin Harb]]></category>
		<category><![CDATA[Yamamah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nabimuhammad.info/?p=2535</guid>
		<description><![CDATA[Hamzah bin Abdul-Muththalib (bahasa arab : حمزه بن عبدالمطلب ) adalah sahabat sekaligus paman dan saudara sesusuan Nabi Muhammad SAW. Ia memiliki julukan &#8220;Singa Allah&#8221; karena kepahlawanannya saat membela Islam. Kelahiran &#038; Kehidupan Keluarga Hamzah lahir diperkirakan hampir bersamaan dengan Muhammad. Ia merupakan anak dari Abdul Muthalib dan Haulah binti Wuhaib dari Bani Zuhrah. Menurut [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone size-full wp-image-3404" title="3064962983_9ee846a956" src="http://nabimuhammad.info/wp-content/uploads/2010/06/3064962983_9ee846a956.jpg" alt="3064962983 9ee846a956 Hamzah " width="500" height="337" /><br />
<strong>Hamzah bin Abdul-Muththalib</strong> (bahasa arab : حمزه بن عبدالمطلب  ) adalah sahabat sekaligus paman dan saudara sesusuan Nabi Muhammad  SAW. Ia memiliki julukan &#8220;Singa Allah&#8221; karena kepahlawanannya saat membela Islam.</p>
<p><strong><br />
Kelahiran &#038; Kehidupan Keluarga</strong></p>
<p>Hamzah lahir diperkirakan hampir bersamaan dengan Muhammad. Ia merupakan anak dari <strong>Abdul Muthalib</strong> dan <strong>Haulah binti Wuhaib </strong>dari Bani Zuhrah. Menurut riwayat, pernikahan Abdul Muthalib dan Abdullah bin Abdul Muthalib terjadi bersamaan waktunya, dan ibu dari Nabi, Aminah binti Wahab, adalah saudara sepupu dari Haulah binti Wuhaib.</p>
<p>Hamzah mendapat gelar &#8216;singa Allah dan Rasul&#8217; atas keberaniannya membela Islam dan Muhammad, sang Nabi yang juga keponakannya. Umur Hamzah diperkirakan tak terpaut jauh dengan keponakannya itu. Mereka berdua merupakan teman sepermainan sejak kanak-kanak.</p>
<p>Tak heran jika Hamzah menjadi orang yang paling dekat dan mengenal secara mendalam kepribadian Muhammad. Keduanya memiliki hubungan yang sangat kuat. Meski demikian, sebagaimana Bani Muthalib lainnya, Hamzah memang tidak langsung menerima dan memeluk agama yang diwahyukan kepada Muhammad.</p>
<p>Walaupun dalam lubuk hatinya, ia tak bisa mengingkari keluhuran budi pembawa risalah tersebut. Meski demikian, ia tak memperlihatkan rasa tidak suka terhadap dakwah Muhammad, seperti yang dilakukan orang-orang Quraiys.</p>
<p>Bahkan ia selalu memberikan perlindungan terhadap diri Nabi Muhammad. Pada saat kaum kafir memperlihatkan kebencian yang kian meningkat, ia pun meningkatkan perlindungan kepada Muhammad. Beruntung, Hamzah ditakdirkan menjadi pria perkasa.</p>
<p>Hamzah memiliki fisik yang kuat. Ia pun terkenal sebagai penunggang kuda yang cekatan, ahli pedang, dan bela diri di seantero Makkah. Hamzah merupakan manusia padang pasir yang lebih suka menyendiri. Ia juga dikenal sebagai seorang pemburu rusa yang mumpuni.</p>
<p>Pada salah satu kisah perburuan rusa, Hamzah dikejutkan dengan suatu keributan. Ternyata, seekor singa telah memasuki kemahnya. Setelah menurunkan rusa yang baru saja di burunya, ia kemudian menghadapi singa itu seorang diri. Berbekal keahliannya, akhirnya, ia berhasil mengakhiri keganasan binatang buas tersebut.</p>
<p>Lalu ia pun menguliti singa tersebut, dan melemparkan kulitnya ke atas pelana kudanya. Orang-orang Makkah melihat kulit singa di pelana kuda Hamzah mafhum dengan keberanian dan kepiawaian Hamzah. Kegagahannya itu, membuat lawan-lawannya merasa gentar meski hanya mendengar namanya.</p>
<p>Bahkan ia berani melabrak petinggi Quraiys semacam Abu Jahal. Penyebabnya, Abu Jahal telah memperlakukan keponakannya, Muhammad, secara tak hormat.</p>
<p>Pada suatu hari, Abu Jahal berjalan melewati Rasulullah Muhammad ketika ia berada di Safa. Pada saat bertemu muka, ia pun mulai mencaci, memaki dan melampiaskan amarahnya kepada rasul. Meski demikian, Muhammad tidak menanggapi semua perilaku Abu Jahal.</p>
<p>Usai menumpahkan segala amarahnya, Abu Jahal bergegas bergabung dalam pertemuan petinggi Quraiys. Tanpa sepengetahuannya, tindakan Abu Jahal diketahui oleh seorang wanita, budak Jud&#8217;an bin Amir. Tak lama berselang terlihat Hamzah memasuki Makkah dengan busur di bahunya, usai berburu.</p>
<p>Rekan Abu Jahal melihat itu langsung bergegas untuk mengingatkan Abu Jahal bahwa Hamzah telah datang dari berburu dan khawatir akan mendengar perlakuan Abu Jahal terhadap keponakannya.</p>
<p>Menjadi kebiasaan Hamzah, setelah berburu ia pergi ke Baitullah untuk ber thawaf, sebelum ia kembali ke keluarganya. Setelah melihat Hamzah, budak wanita Jud&#8217;an bin Amir menghampirinya dan mengisahkan apa yang dilakukan Abu Jahal kepada Rasulullah SAW.</p>
<p>Amarah menjalar ke seluruh tubuhnya setelah mendengarkan kisah wanita itu. Bergegas ia mencari Abu Jahal. Ia telah menetapkan niat untuk menghajar dan memberi pelajaran kepada Abu Jahal. Di Masjid yang tak jauh dari Ka&#8217;bah, ia melihat Abu Jahal.</p>
<p>Sesampainya di hadapan Abu Jahal, langsung saja Hamzah memukulkan busurnya ke kepala Abu Jahal. Darah segar pun mengucur. Tak hanya itu, ia pun memukul tubuh lawannya hingga babak belur dan tersungkur. Hamzah tetap berdiri gagah di hadapan petinggi Quraiys itu.</p>
<p>Di hadapan mereka ia menyatakan bahwa ia berada di pihak Muhammad. Hamzah pun kemudian memberikan kesaksian bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya. Pada saat Abu Jahal tersungkur, orang-orang dari suku Makhzumah ingin menolongnya. Namun dicegah Hamzah, mereka pun kembali duduk.</p>
<p>Para petinggi Quraiys saling pandang. Semula mereka akan menentang Hamzah atas perlakuannya terhadap Abu Jahal. Namun mereka pun rupanya takut dan akhirnya kembali duduk di masjid. Beberapa saat kemudian ia menendang debu ke arah muka para petinggi Quraiys itu, dan meninggalkan tempat itu.</p>
<p>Pembelaan dan pernyataan Hamzah, telah menyadarkan kafir Quraiys bahwa Hamzah yang gagah berani akan selalu membela Muhammad. Tak heran jika kemudian mereka mulai menimbang akibat ketika akan mengganggu nabi yang mulia itu. Abu Sufyan menyatakan bahwa Muhammad telah mendapatkan teman yang kuat dan sangat disegani.</p>
<p>Allah memperkuat agamanya dengan masuknya Hamzah ke dalam Islam. Ia berdiri tegar dan siap membela rasul. Sejak memeluk Islam ia mencurahkan segenap tenaga dan pikirannya untuk kemajuan Islam. Sehingga Rasulullah SAW memberinya gelar Asad Allah wa Asad Rasulih (Singa Allah dan Rasulnya).</p>
<p><strong>Perang Dan Kematian Hamzah<br />
</strong></p>
<p>Thabarani telah mengeluarkan dari Al Harits At Taimi dia berkata: Adalah Hamzah bin Abdul Mutthalib r.a. pada hari pertempuran di Badar membuat tanda dengan bulu burung Na&#8217;amah (Bangau). Sesudah selesai peperangan, maka seorang dari kaum Musyrikin bertanya: Siapa orang yang bertanda dengan bulu burung Na&#8217;amah itu?</p>
<p>Maka orang berkata: Dialah Hamzah bin Abdul Mutthalib. Sahut orang itu lagi: Dialah orang yang banyak mepermalukan kita di dalam peperangan itu. (Majma&#8217;uz Zawa&#8217;id 6:81)</p>
<p>Bazzar mengeluarkan dari Abdul Rahman bin Auf ra. dia berkata: Bertanya Umaiyah bin Khalaf kepadanya: Hai Abdullah! Siapa orang yang memakai bulu burung Na&#8217;amah di dadanya pada perang Badar itu?</p>
<p>Jawabku: Dia itu paman Muhammad, dialah Hamzah bin Abdul Mutthalib ra.</p>
<p>Berkata lagi Umaiyah bin Khalaf: Dialah orang yang banyak mempermalukan kita dengan senjatanya sehingga dia dapat membunuh banyak orang di antara kita. (Majma&#8217;uz Zawa&#8217;id 6:81)</p>
<p>Pada saat pasukan Muslim bertemu dengan pasukan Kafir Quraiys di Perang Badr, Hamzah betul-betul memperlihatkan keberanian dan kecakapan perang yang luar biasa. Banyak orang kafir Quraiys tumbang di tangannya. Bahkan ayah Hindun, seorang petinggi Qurais mati di ujung pedangnya.</p>
<p>Pada Perang Badr, umat Islam mendapatkan kemenangan gemilang. Orang-orang kafir mundur dengan teratur. Tak heran jika kekalahan ini menumbuhkan dendan kesumat di dada mereka. Hamzah pun dianggap memiliki peran besar dalam kekalahan mereka.</p>
<p>Untuk membalas kekalahan, mereka kemudian terlibat dalam Perang Uhud. Selain nyawa Nabi yang menjadi incaran, Hamzah pun telah ditetapkan menjadi target sebagai tumbal kekalahan pasukan kafir pada Perang Badr.</p>
<p>Hindun yang ayahnya terbunuh oleh Hamzah menetapkan strategi. Ia memerintahkan seorang budak bernama Wahsyi yang mahir memanah, untuk membunuh Hamzah di medan perang. Dan menjanjikan kemerdekaan kepada budak tersebut.</p>
<p>Hakim telah mengeluarkan dari Sabir bin Abdullah ra. dia berkata: Rasulullah SAW mencari-cari Hamzah pada hari Uhud setelah selesai peperangan, dan setelah semua orang berkumpul di sisinya: Di mana Hamzah? Maka salah seorang di situ menjawab: Tadi, saya lihat dia berperang di bawah pohon di sana, dia terus menerus mengatakan: Aku singa Allah, dan singa RasulNya! Ya Allah, ya Tuhanku! Aku mencuci tanganku dari apa yang dibawa oleh mereka itu, yakni Abu Sufyan bin Harb dan tentera Quraisy. Dan aku memohon uzur kepadamu dari apa yang dibuat oleh mereka itu dan kekalahan mereka, yakni tentera Islam yang melarikan diri!</p>
<p>Lalu Rasulullah SAW pun menuju ke tempat itu, dan didapati Hamzah telah gugur. Sewaktu Beliau melihat dahinya, Beliau menangis, dan melihat mayatnya dicincang-cincang, Beliau menarik nafas panjang. Kemudian Beliau berkata: Tidak ada kain kafan buatnya?! Maka segeralah seorang dari kaum Anshar membawakan kain kafan untuknya. Berkata Jabir seterusnya, bahwa Rasulullah SAW telah berkata: Hamzah adalah penghulu semua orang syahid nanti di sisi Allah pada hari kiamat. (Hakim 3:199)</p>
<p>Ibnu Ishak telah mengeluarkan dari Ja&#8217;far bin Amru bin Umaiyah Adh-Dhamri, dia berkata: Aku keluar bersama Abdullah bin Adiy bin Al-Khiyar pada zaman Mu&#8217;awiyah ra&#8230; dan disebutkan ceritanya hingga kami duduk bersama Wahsyi (pembunuh Hamzah ra.), maka kami berkata kepadanya: Kami datang ini untuk mendengar sendiri darimu, bagaimana engkau membunuh Hamzah ra.</p>
<blockquote><p>Wahsyi bercerita: Aku akan memberitahu kamu berdua, sebagaimana aku telah memberitahu dahulu kepada Rasulullah SAW ketika Beliau bertanya ceritanya dariku.</p></blockquote>
<p>Pada mulanya, aku ini adalah hamba kepada Jubair bin Muth&#8217;im, dan pamannya yang bernama Thu&#8217;aimah bin Adiy telah mati terbunuh di perang Badar. Pada saat kaum Quraisy keluar untuk berperang di Uhud, Jubair berkata kepadaku: Jika engkau dapat membunuh Hamzah, paman Muhammad untuk menuntut balas kematian pamanku di Badar, engkau akan aku merdekakan. Begitu tentara Quraisy keluar ke medan Uhud, aku turut keluar bersama mereka.</p>
<p>Aku seorang Habsyi yang memang mahir untuk melempar pisau , dan sebagaimana biasanya orang Habsyi, jarang-jarang tidak mengenai sasaran apabila melempar. Apabila kedua belah pihak bertempur di medan Uhud itu, aku keluar mencari-cari Hamzah untuk kujadikan sasaranku, hingga aku melihatnya di antara orang yang bertarung, seolah-olahnya dia unta yang mengamuk, terus memukul dengan pedangnya segala apa yang datang menyerangnya, tiada seorang pun yang dapat melawannya. Aku pun bersiap untuk menjadikannya sasaranku. Aku lalu bersembunyi di balik batu berdekatan dengan pohon yang dia sedang bertarung, sehingga sewaktu dia datang berdekatan denganku, mudahlahlah aku melemparkan pisau racunku itu.</p>
<p>Tatkala dia dalam keadaan begitu, tiba-tiba datang menyerangnya Sibak bin Abdul Uzza. Hamzah melihat Sibak datang kepadanya, lalu dia berteriak: Ayo ke sini, siapa yang mau mencari mati! Disabetnya dengan sekali ayunan kepalanya berguling di tanah. Maka pada ketika itulah, aku terus mengacung-acungkan pisau bengkokku itu, dan saat aku rasa sudah tepat sasaranku, aku pun melemparkannya ke Hamzah mengenai bawah perutnya terus rnenembu bawah selangkangnya.</p>
<p>Dia mencoba menerkamku, tetapi dia sudah tidak berdaya lagi, aku lalu meninggalkannya di situ hingga dia mati. Kemudian aku kembali lagi untuk mengambil pisau bengkokku itu, dan aku membawanya ke perkemahan kami. Aku duduk di situ menunggu, dan aku tidak punya tujuan yang lain, kecuali membunuh Hamzah agar aku dapat dimerdekakan oleh tuanku. Dan itu sudah aku lakukan.</p>
<p><em>Ibnu Atsir berkata dalam kitab ‘Usud al Ghabah”, Dalam perang Uhud, Hamzah berhasil membunuh 31 orang kafir Quraisy, sampai pada suatu saat beliau tergelincir sehingga ia terjatuh kebelakang dan tersingkaplah baju besinya, dan pada saat itu ia langsung ditombak dan dirobek perutnya . lalu hatinya dikeluarkan oleh Hindun kemudian dikunyahnya hati Hamzah tetapi tidak tertelan dan segera dimuntahkannya.</em></p>
<p>Ketika Rasulullah melihat keadaan tubuh pamannya Hamzah bin Abdul Muthalib, Beliau sangat marah dan Allah menurunkan firmannya ,” Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar. (Qs; an Nahl 126)</p>
<p>Kami kembali ke Makkah, seperti yang dijanjikan oleh tuanku, aku dimerdekakan. Aku terus tinggal di Makkah. Dan apabila kota Makkah ditaklukkan oleh Rasulullah SAW aku pun melarikan diri ke Tha&#8217;if dan menetap di sana. Ketika rombongan orang-orang Tha&#8217;if bersiap-siap hendak menemui Rasulullah SAW untuk memeluk Islam, aku merasa serba salah tidak tahu ke mana harus melarikan diri. Aku berfikir, apakah aku harus melarikan diri ke Syam, atau ke Yaman, ataupun ke negeri-negeri lainnya, sampai kapan aku akan menjadi orang buruan?! Demi Allah, aku merasakan diriku susah sekali.</p>
<p>Tiba-tiba ada orang yang datang kepadaku memberi nasehat: Apa yang engkau takutkan? Muhammad tidak membunuh orang yang masuk ke dalam agamanya, dan menyaksikan syahadat kebenaran! Aku tidak punya jalan lain kecuali menerima nasehat itu. Aku pun menuju ke Madinah untuk menemui Rasulullah SAW. Tanpa diduga tiba-tiba Beliau melihatku berdiri di hadapannya menyaksikan syahadat kebenaran itu.</p>
<p>Beliau lalu menoleh kepadaku seraya berkata: Apakah engkau ini Wahsyi? Jawabku: Saya, wahai Rasulullah! Beliau berkata lagi: Duduklah! Ceritakanlah bagaimana engkau membunuh Hamzah?! Aku lalu menceritakan kepadanya seperti aku menceritakan sekarang kepada kamu berdua.</p>
<blockquote><p>Setelah selesai bercerita, Nabi berkata kepadaku: Awas! Jangan lagi engkau datang menunjukkan wajahmu kepadaku!</p></blockquote>
<p>Karena itu aku terus-menerus menjauhkan diri dari Rasulullah SAW supaya Beliau tidak melihat wajahku lagi, sehinggalah Beliau wafat meninggalkan dunia ini.</p>
<p>Kemudian saat kaum Muslimin keluar untuk berperang dengan Musailimah Al Kazzab, pemimpin kaum murtad di Yamamah, aku turut keluar untuk berperang melawannya. Aku bawa pisau bengkok yang membunuh Hamzah itu. Ketika orang-orang sedang bertempur, aku mencuri-curi masuk dan aku lihat Musailimah sedang berdiri dan di tangannya pedang yang terhunus, maka aku pun membuat persiapan untuk melemparnya dan di sebelahku ada seorang dari kaum Anshar yang sama tujuan denganku. Aku terus mengacung-acungkan pisau itu ke arahnya, dan setelah aku rasa bidikanku sudah cukup tepat, aku pun melemparkannya, dan mengenainya, lalu orang Anshar itu menghabisi hidupnya dengan pedangnya. Aku sendiri tidak memastikan siapa yang membunuh Musailimah itu, apakah pisau bengkokku itu, ataupun pedang orang Anshar tadi, hanya Tuhan sajalah yang lebih mengetahui. Jika aku yang membunuhnya, maka dengan demikian aku telah membunuh orang yang terbaik pada masa hidup Rasulullah SAW dan aku juga membunuh orang yang paling jahat sesudah masa Beliau.<br />
 ( Al Bidayah Wan Nihayah 4:18)</p>
<p>Diriwayatkan dari Jabir bahwa ketika Rasulullah shallallahu alaihi wassalam melihat Hamzah terbunuh, maka beliau menagis.</p>
<p>Ia wafat pada tahun 3 H, dan Rasulullah Shallallahu alaihi wasalam dengan “ Sayyidus Syuhada ”.</p>
<p>[islamuda.com]</p>
<p><strong><br />
Kematian</strong></p>
<p>Hamzah syahid pada Perang Uhud, dibunuh oleh Wahsyi bin Harb, seorang budak Ethiopia milik Hindun bin Utbah, istri dari Abu Sufyan bin Harb, yang ayahnya dibunuh oleh Hamzah pada Perang Badar. Hindun menjanjikan kebebasan untuk Wahsyi bila ia mampu membalaskan dendam Hindun dengan membunuh Hamzah.~~</p>
<h4  class="related_post_title">Related Post</h4><ul class="related_post"><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/paman-bibi-nabi/" title="Paman Dan Bibi Nabi"><img src="Array" alt=" Hamzah "  title="Hamzah " /></a>December 30, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/paman-bibi-nabi/" title="Paman Dan Bibi Nabi">Paman Dan Bibi Nabi</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2010/07/abu-thalib-bin-abdul-muthalib/" title="Abu Thalib "><img src="Array" alt=" Hamzah "  title="Hamzah " /></a>July 30, 2010 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2010/07/abu-thalib-bin-abdul-muthalib/" title="Abu Thalib ">Abu Thalib </a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/harits-bin-abdul-muthalib/" title="Harits "><img src="Array" alt=" Hamzah "  title="Hamzah " /></a>December 30, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/harits-bin-abdul-muthalib/" title="Harits ">Harits </a> (1)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/memakan-makanan-yang-terdekat/" title="Memakan Makanan Yang Terdekat"><img src="Array" alt=" Hamzah "  title="Hamzah " /></a>December 28, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/memakan-makanan-yang-terdekat/" title="Memakan Makanan Yang Terdekat">Memakan Makanan Yang Terdekat</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/zaid-bin-haritsah/" title="Zaid Bin Haritsah"><img src="Array" alt=" Hamzah "  title="Hamzah " /></a>December 23, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/zaid-bin-haritsah/" title="Zaid Bin Haritsah">Zaid Bin Haritsah</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2010/10/abdullah-bin-abdul-muthalib/" title="Abdullah "><img src="Array" alt=" Hamzah "  title="Hamzah " /></a>October 26, 2010 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2010/10/abdullah-bin-abdul-muthalib/" title="Abdullah ">Abdullah </a> (1)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2010/10/aminah-binti-wahab/" title="Aminah "><img src="Array" alt=" Hamzah "  title="Hamzah " /></a>October 24, 2010 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2010/10/aminah-binti-wahab/" title="Aminah ">Aminah </a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2010/04/kewafatan-rasulullah/" title="Wafatnya Rasulullah"><img src="Array" alt=" Hamzah "  title="Hamzah " /></a>April 17, 2010 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2010/04/kewafatan-rasulullah/" title="Wafatnya Rasulullah">Wafatnya Rasulullah</a> (0)</li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nabimuhammad.info/2011/12/hamzah-bin-abdul-muthalib/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Paman Dan Bibi Nabi</title>
		<link>http://nabimuhammad.info/2011/12/paman-bibi-nabi/</link>
		<comments>http://nabimuhammad.info/2011/12/paman-bibi-nabi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Dec 2011 00:43:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Paman dan Bibi Nabi]]></category>
		<category><![CDATA['Utaibah]]></category>
		<category><![CDATA[Abbas Bin Abdul Muthalib]]></category>
		<category><![CDATA[Abdul Ka'bah]]></category>
		<category><![CDATA[Abdullah]]></category>
		<category><![CDATA[Abdullah bin Abbas]]></category>
		<category><![CDATA[Abdullah bin Abdul Muthalib.]]></category>
		<category><![CDATA[Abdullah bin Zubair al-Qurasy]]></category>
		<category><![CDATA[Abdurrahman bin Abbas]]></category>
		<category><![CDATA[Abu Lahab]]></category>
		<category><![CDATA[Abu Lahab bin Abdul Muthalib]]></category>
		<category><![CDATA[Abu Nu'aim]]></category>
		<category><![CDATA[Abu Sufyaan]]></category>
		<category><![CDATA[Abu Sufyan]]></category>
		<category><![CDATA[Abu Thalib]]></category>
		<category><![CDATA[Abu Thalib bin Abdul Muthalib]]></category>
		<category><![CDATA[Affaan bin Abu Al ‘Ash]]></category>
		<category><![CDATA[Al Ghaidaq]]></category>
		<category><![CDATA[al-Hakim]]></category>
		<category><![CDATA[Ali bin Abi Thalib]]></category>
		<category><![CDATA[Aqil]]></category>
		<category><![CDATA[Arwaa]]></category>
		<category><![CDATA[Auf]]></category>
		<category><![CDATA[Az Zubair]]></category>
		<category><![CDATA[Baidha’ Ummu Hakiem binti Abdul Muthalib]]></category>
		<category><![CDATA[bani Al Muthalib]]></category>
		<category><![CDATA[Bani Hasyim]]></category>
		<category><![CDATA[Barrah binti Abdul Muthalib]]></category>
		<category><![CDATA[Barroh]]></category>
		<category><![CDATA[benteng Khaibar]]></category>
		<category><![CDATA[Bibi Nabi]]></category>
		<category><![CDATA[Dhirar]]></category>
		<category><![CDATA[Dhuba’ah]]></category>
		<category><![CDATA[Fakhitah]]></category>
		<category><![CDATA[Ghaidaq]]></category>
		<category><![CDATA[Haarits bin Abdul Muthalib]]></category>
		<category><![CDATA[Hamzah bin Abdul Muthalib]]></category>
		<category><![CDATA[Harits]]></category>
		<category><![CDATA[Ibnu Asakir]]></category>
		<category><![CDATA[Ibnu Majah]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Jahl]]></category>
		<category><![CDATA[Jamanah]]></category>
		<category><![CDATA[Ja’far bin Abi Thalib]]></category>
		<category><![CDATA[Katsir]]></category>
		<category><![CDATA[khalifah Rasyidin]]></category>
		<category><![CDATA[Kurz bin Rabi’ah bin Habieb bin Abdus Syams]]></category>
		<category><![CDATA[Majl]]></category>
		<category><![CDATA[Ma’badullah]]></category>
		<category><![CDATA[Mu'tib]]></category>
		<category><![CDATA[Mughirah]]></category>
		<category><![CDATA[Muhammad SAW]]></category>
		<category><![CDATA[Mush’ab]]></category>
		<category><![CDATA[musyrikin]]></category>
		<category><![CDATA[nabi muhammad saw]]></category>
		<category><![CDATA[Nofel]]></category>
		<category><![CDATA[Paman & Bibi Nabi]]></category>
		<category><![CDATA[Paman Dan Bibi Nabi]]></category>
		<category><![CDATA[Paman Nabi]]></category>
		<category><![CDATA[penaklukan kota Makkah]]></category>
		<category><![CDATA[penghulu para syuhada]]></category>
		<category><![CDATA[penyair]]></category>
		<category><![CDATA[perang Ajnadain]]></category>
		<category><![CDATA[Perang Badar]]></category>
		<category><![CDATA[Perang Fijar]]></category>
		<category><![CDATA[Perang Gajah]]></category>
		<category><![CDATA[perang Hunain]]></category>
		<category><![CDATA[Perang Uhud]]></category>
		<category><![CDATA[Qutsam]]></category>
		<category><![CDATA[Rabi’ah]]></category>
		<category><![CDATA[Rasulullah]]></category>
		<category><![CDATA[Rasulullah Muhammad]]></category>
		<category><![CDATA[saudara sesusuan]]></category>
		<category><![CDATA[Shafiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Shafiyah binti Abdul Muthalib]]></category>
		<category><![CDATA[Silsilah Nabi]]></category>
		<category><![CDATA[singa Allah]]></category>
		<category><![CDATA[Syahid]]></category>
		<category><![CDATA[Tamaam]]></category>
		<category><![CDATA[Thalib]]></category>
		<category><![CDATA[Tsuwaibah Al-Aslamiyah]]></category>
		<category><![CDATA[Ubaidah]]></category>
		<category><![CDATA[Ubaidillah bin Abbas]]></category>
		<category><![CDATA[Umaimah]]></category>
		<category><![CDATA[Ummu Hakim]]></category>
		<category><![CDATA[Ummu Hani]]></category>
		<category><![CDATA[Utbah]]></category>
		<category><![CDATA[Utsman bin Affan]]></category>
		<category><![CDATA[Wahsyi]]></category>
		<category><![CDATA[Zubair]]></category>
		<category><![CDATA[Zubair bin Abdul Muthalib]]></category>
		<category><![CDATA[‘Atikah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nabimuhammad.info/?p=468</guid>
		<description><![CDATA[Seperti bisa dilihat dari Silsilah Nabi Muhammad, Hasyim memiliki anak bernama Abdul Muthalib Abdul Muthalib adalah kakek Rasulullah. Ia seorang tokoh terkemuka Quraisy dari bani Hasyim memiliki beberapa putra dan putri, diantaranya: 1. Al Harits bin Abdul Muthalib, anak tertua beliau dan wafat dimasa hidup Abdul Muthalib. Dari anak-anak Al Harits yang masuk Islam adalah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone size-full wp-image-3399" title="5860_1137922213858_1401474950_30456289_4079662_n" src="http://nabimuhammad.info/wp-content/uploads/2010/01/5860_1137922213858_1401474950_30456289_4079662_n.jpg" alt="5860 1137922213858 1401474950 30456289 4079662 n Paman Dan Bibi Nabi" width="400" height="571" /><br />
<strong>Seperti bisa dilihat dari Silsilah Nabi Muhammad, Hasyim memiliki anak bernama Abdul Muthalib<br />
</strong><br />
Abdul Muthalib adalah kakek Rasulullah.  Ia seorang tokoh terkemuka Quraisy dari bani Hasyim memiliki beberapa putra dan putri, diantaranya:</p>
<p>1. <strong> <a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/harits-bin-abdul-muthalib/" target="_blank">Al Harits bin Abdul Muthalib</a>,</strong> anak tertua beliau dan wafat dimasa hidup Abdul Muthalib. Dari anak-anak Al Harits yang masuk Islam adalah Ubaidah terbunuh di parang Badar, Rabi’ah, Abu Sufyaan dan Abdullah.</p>
<p>2. <strong>Az Zubair bin Abdul Muthalib,</strong> saudara kandung Abdullah bin Abdul Muthalib (ayahanda Rasulullah), ia adalah penglima bani Hasyim dan bani Al Muthalib dalam perang Fijaar, seorang terhormat dan penyair, namun tidak menjumpai masa-masa Islam. Diantara anaknya yang masuk Islam adalah Abdullah bin Zubair al-Quraisy [terbunuh dalam perang] Ajnadain, Dhuba’ah, Majl, Shafiyah dan ‘Atikah.</p>
<p>3. <strong><a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/hamzah-bin-abdul-muthalib/" target="_blank">Hamzah bin Abdul Muthalib</a></strong>, paman sekaligus saudara sesusuan Rasulullah yang masuk Islam dan menjadi pahlawan islam di perang Badar dan Uhud. Beliau terbunuh syahid di perang Uhud.</p>
<p>4. <strong><a href="http://nabimuhammad.info/2010/06/abbas-bin-abdul-muthalib/" target="_blank">Al Abbas bin Abdul Muthalib</a>,</strong> yang masuk islam dan menjadi pembela Rasulullah dalam memperjuangkan Islam. Beliau dilahirkan tiga tahun sebelum perang gajah dan meninggal tahun 32 H dalam usia 86 tahun.</p>
<p>5. <strong>Abu Lahab bin Abdul Muthalib, </strong>musuh besar dan penentang keras dakwah Rasulullah, sampai Allah turunkan firmanNya:<br />
&#8216;Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa. Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan. Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak. Dan (begitu pula) isterinya, pembawa kayu bakar&#8217;. (QS. 111:1-4)<br />
Ia mati setelah perang Badar. Diantara putra-putranya ‘Utaibah yang mati diterkam binatang buas, Utbah dan Mu’tib keduanya masuk islam pada hari penaklukan kota Makkah.</p>
<p>6. <strong><a href="http://nabimuhammad.info/2010/07/abu-thalib-bin-abdul-muthalib/" target="_blank">Abu Thalib  bin Abdul Muthalib</a>,</strong> paman Nabi yang memelihara dan membela beliau dalam penyebaran dakwah Islam, namun tidak mau masuk islam lantaran takut dicela kaumnya.</p>
<p>7. <strong>Jahl [ Mughirah ]</strong><br />
8. <strong>Abdul  Ka&#8217;bah</strong><br />
9. <strong>Qutsam</strong><br />
10. <strong>Dhirar</strong><br />
11.	<strong>Ghaidaq</strong> (merupakan gelar) sedangkan namanya adalah Mush’ab dan ada juga yang mengatakan Nofel dan ada juga yang mengatakan Muqawim.</p>
<p>Ada sebagian orang yang mengatakan hanya sepuluh, dengan menyatakan bahwa Abdul Ka’bah dan Muqawim itu orangnya sama, dan Jahl serta Ghaidaq itu juga sama.</p>
<p>12.<strong> Abdullah bin Abdul Muthalib,</strong>anak terkecil,  ayah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam.</p>
<p><strong><br />
<em>Inilah shirah singkat paman Nabi:</em></strong><em></em></p>
<p><strong>1. Hamzah bin Abdul Muthalib</strong><br />
Hamzah adalah paman Nabi s.a.w. dan juga saudara sesusuan beliau, yang sama—sama disusui oleh Tsuwaibah Al-Aslamiyah. Usianya hanya lebih tua sedikit dari Nabi. Ia merupakan singa Allah dan Rasul—Nya sebagaimana disebutkan  dalam beberapa riwayat. Ia hadir dalam perang Badar dan Uhud. Di Uhud ia mati syahid di tangan Wahsyi. Pada waktu itu di tubuhnya terdapat delapan puluh lebih luka bekas sabetan pedang, tikaman tombak dan tusukan anak panah.<br />
Anak—anaknya tidak ada yang meninggalkan keturunan.  Hamzah adalah seorang penghulu para syuhada. Dan dalam riwayat lain disebutkan bahwa sebaik-baik syuhada ummat ini di hari Kiamat adalah Hamzah. Disebutkan  juga bahwa Nabi s.a.w. berkata: &#8220;Sebaik-baik pamanku adalah Hamzah.&#8221;</p>
<p><strong>2. Abbas bin Abdul Muthalib</strong><br />
Abbas adalah paman Nabi yang paling muda usianya.   Umurnya hanya lebih tua dua atau tiga tahun dari Muhammad SAW.   Ia hadir dalam perang Badar di pihak kaum musyrikin yang telah memperdayakannya.  Termasuk salah seorang tawanan perang dan ia pun menebus dirinya.  Ia masuk Islam sebelum penaklukan benteng Khaibar dan merahasiakannya sampai hari terjadinya penaklukan kota Makkah.  Ada pula yang mengatakan bahwa sebenamya ia sudah masuk Islam sebelum terjadinya perang Badar, namun ia merahasiakan keislamannya itu.   Ia hadir dalam perang Hunain bersama Nabi.   Nabi sangat mengagungkan dan memuji-muji dirinya.   Ia meninggal pada tahun ketigapuluh dua Hijriah dalam usia delapan puluh delapan tahun, dan dishalati oleh Utsman bin Affan.  Ia dikaruniai sepuluh orang anak laki laki; ( tertua), Abdullah bin Abbas, Ubaidillah, Ma’badullah, Qutsam, Abdurrahman bin Abbas, Harits, Katsir, Auf dan Tamaam (anak bungsu); </p>
<p>Dan tiga anak   perempuan.   Yakni: <strong>Ummu Hubaib, Ummu Kultsum, dan Amimah</strong>.<br />
Diziwayatkan oleh Ibnu Asakir dan lainnya bahwa Nabi SAW  berkata:  &#8220;Ya Allah, menangkanlah Abbas dah putra Abbas sebanyak tiga kali”<br />
Diriwayatkan oleh Ibnu Majah, Al Hakim dan Abu Nu’aim dari sahabat Ibnu Umar, bahwa Nabi telah bersabda: &#8220;Sesungguhnya Allah SWT telah menjadikan aku sebagai khalil-Nya sebagaimana Dia telah mengangkat Ibrahim sebagai khalil-Nya. Keaudukanku dan kedudukan Ibrahim di surga kelak ibarat keduanya ini, dan Abbas berada di antara kami. &#8221;</p>
<p><strong>3. Abu Thalib</strong><br />
Abu Thalib mempunyai beberapa orang anak, laki laki dan perempuan, yaitu: Thalib, Aqil, Ja’far bin Abi Thalib dan Ali bin Abi Thalib.    Jarak umur mereka antara satu dengan lainya adalah 10 tahun  . Kemudian Ummu Hani yang nama sebenarnya Fakhitah, dan Jamanah.  Mereka semua masuk Islam kecuali  Thalib.</p>
<p><strong>4. Abu Lahab</strong><br />
Abu Lahab mempunyai beberapa orang anak, yaitu: <strong>Utbah, Mu’tab dan Durah</strong>. Semua masuk Islam.  Kemudian Utaibah yang akhirnya dimangsa singa.</p>
<p><strong>5. Harits</strong><br />
Harits, putra sulung Abdul Mutthalib dan yang menjadi kunyah (julukan)nya, tidak sampai mengalami masa Islam. Namun putra-putranya, yaitu: Nofel, Rabi’ah,  Abu Sufyan (saudara sesusuan Nabi dari ibu susu Halimah dan termasuk orang yang membela Nabi dalam perang Hunain), dan Abdullah. Keempat orang putra Harits ini, semuanya masuk Islam.  Ibnu Abdilbar mengatakan bahwa putra Harits sebenamya ada lima, dan yang kelima bemama Mughirah.  Nofel adalah putra sulung  Harits dan orang tertua dari Bani Hasyim yang masuk Islam.</p>
<p><strong>6. Zubair</strong><br />
Zubair mempunyai beberapa orang putra, yaitu: Abdullah, Dhabzfah, Shafiyah, Ummul  Hakam, dan Ummu Zubair.  Mereka semua masuk Islam.</p>
<p><strong>7. Jahl<br />
8. Abdul Ka’bah,<br />
9. Qutsam,<br />
10. Ahirar dan<br />
11. Ghaidaq</strong></p>
<p>Jahl mempunyai anak, namun keturunannya terputus. Demikian pula halnya Muqawwim. Sedangkan Abdul Ka’bah, tidak menemui masa Islam dan tldak mempunyai keturunan. Dan Qutsam meninggal dunia selagi kanak-kanak.   Dhiran meninggal dunia pada saat Nabi mendapat wahyu dan tidak sampai masuk Islam.  Ia termasuk salah seorang pemuda Quraisy yang paling eakap dan paling dermawan.   Ghaidaq termasuk orang Guralsy yang paling dermawan juga,   banyak mendermakan makanan dan harta,  sehlngga ia digelari Al Ghaidaq.  Saudara kandung Abdullah, ayahanda Nabi  ialah Abu Thalib, Zubair dan Abdul Ka’bah.</p>
<p>Para bibi Nabi SAW (saudara perempuan Abdullah bin Abdul Muthalib, ayah Nabi Muhammad SAW yaitu:</p>
<p>1. <strong>Al Baidha’ Ummu Hakiem binti Abdul Muthalib,</strong> yang menikah dengan Kurz bin Rabi’ah bin Habieb bin Abdus Syams. Ia memiliki dua anak yang bernma Amir dan Arwa’, lalu Arwa ini menikah dengan Affaan bin Abu Al ‘Ash dan melahirkan <strong>Utsman bin Affan</strong> khalifah Rasyidin yang ketiga. Arwa’ ibunya Utsman bin Affaan ini hidup sampai masa kekhilafahan anaknya.<br />
2. <strong>Barrah binti Abdul Muthalib, i</strong>bu sahabat Abu Salamah bin Abdul Aswad Al Makhzumi<br />
3. <strong>Shafiyah binti Abdul Muthalib,</strong> ibu sahabat Al Zubair bin Al Awaam, beliau menikah pertama kali dengan Al Haarits bin Harb, lalu ditinggal mati dan menikah lagi dengan Al ‘Awam dan melahirkan Al Zubair. Beliau masuk islam dan ikut berhijrah. Beliau wafat tahun 20 H di Madinah dan dimakamkan di Baqi’<br />
4. <strong>Arwa’, </strong>ibu dari keluarga Jahsy yang memiliki anak-anak diantaranya: Abdullah, Abu Ahmad, Ubaidillah, Zainab dan Hamnah.<br />
5.	Atikah<br />
6.	Amimah<br />
(tentang ketidakislaman ketiganya ini tidak ada perselisihan).   Keenam bibi Nabi  yang disebutkan terakhir tadi, semuanya adalah saudara kandung Abdullah,  ayahanda   Nabi.</p>
<p><strong>Dari paman dan bibi Nabi SAW di atas yang seayah seibu dengan Abdullah bin Abdul Muthalib ayah Rasulullah SAW adalah :</strong><br />
1. Abu Thalib<br />
2. Az Zubair<br />
3. Abdul Ka’bah<br />
4. Ummu Hakim<br />
5. Barroh<br />
6. Arwaa<br />
7. Umaimah<br />
8. ‘Atikah</p>
<p>Adapun yang lainnya adalah seayah dengan ‘Abdullah ayah Rasulullah SAW, namun lain ibu.</p>
<h4  class="related_post_title">Related Post</h4><ul class="related_post"><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/hamzah-bin-abdul-muthalib/" title="Hamzah "><img src="Array" alt=" Paman Dan Bibi Nabi"  title="Paman Dan Bibi Nabi" /></a>December 30, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/hamzah-bin-abdul-muthalib/" title="Hamzah ">Hamzah </a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/07/silsilah-nabi/" title="Silsilah Nabi 1"><img src="Array" alt=" Paman Dan Bibi Nabi"  title="Paman Dan Bibi Nabi" /></a>July 22, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/07/silsilah-nabi/" title="Silsilah Nabi 1">Silsilah Nabi 1</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2010/07/abu-thalib-bin-abdul-muthalib/" title="Abu Thalib "><img src="Array" alt=" Paman Dan Bibi Nabi"  title="Paman Dan Bibi Nabi" /></a>July 30, 2010 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2010/07/abu-thalib-bin-abdul-muthalib/" title="Abu Thalib ">Abu Thalib </a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/abu-lahab/" title="Abu Lahab "><img src="Array" alt=" Paman Dan Bibi Nabi"  title="Paman Dan Bibi Nabi" /></a>December 30, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/abu-lahab/" title="Abu Lahab ">Abu Lahab </a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/06/kemuliaan-rasulullah-2/" title="Kemuliaan Rasulullah (2)"><img src="Array" alt=" Paman Dan Bibi Nabi"  title="Paman Dan Bibi Nabi" /></a>June 21, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/06/kemuliaan-rasulullah-2/" title="Kemuliaan Rasulullah (2)">Kemuliaan Rasulullah (2)</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2010/06/silsilah-nabi-2/" title="Silsilah Nabi Muhammad SAW &#038; Kaum Kerabat [2]"><img src="Array" alt=" Paman Dan Bibi Nabi"  title="Paman Dan Bibi Nabi" /></a>June 25, 2010 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2010/06/silsilah-nabi-2/" title="Silsilah Nabi Muhammad SAW &#038; Kaum Kerabat [2]">Silsilah Nabi Muhammad SAW &#038; Kaum Kerabat [2]</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2010/06/abbas-bin-abdul-muthalib/" title="Abbas "><img src="Array" alt=" Paman Dan Bibi Nabi"  title="Paman Dan Bibi Nabi" /></a>June 19, 2010 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2010/06/abbas-bin-abdul-muthalib/" title="Abbas ">Abbas </a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2010/04/ali-bin-abi-thalib/" title="Ali "><img src="Array" alt=" Paman Dan Bibi Nabi"  title="Paman Dan Bibi Nabi" /></a>April 12, 2010 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2010/04/ali-bin-abi-thalib/" title="Ali ">Ali </a> (0)</li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nabimuhammad.info/2011/12/paman-bibi-nabi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Memakan Makanan Yang Terdekat</title>
		<link>http://nabimuhammad.info/2011/12/memakan-makanan-yang-terdekat/</link>
		<comments>http://nabimuhammad.info/2011/12/memakan-makanan-yang-terdekat/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Dec 2011 03:08:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Etika Makan dan Minum Nabi]]></category>
		<category><![CDATA[Bismillah]]></category>
		<category><![CDATA[Etika makan dan minum Nabi]]></category>
		<category><![CDATA[HR. Bukhari]]></category>
		<category><![CDATA[Memakan Makanan Yang Terdekat]]></category>
		<category><![CDATA[Muhammad SAW]]></category>
		<category><![CDATA[nabi muhammad saw]]></category>
		<category><![CDATA[posisi yang terdekat]]></category>
		<category><![CDATA[Rasulullah Muhammad]]></category>
		<category><![CDATA[Rasulullah Saw]]></category>
		<category><![CDATA[tangan kanan]]></category>
		<category><![CDATA[Umar Bin Abi Salamah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nabimuhammad.info/?p=7207</guid>
		<description><![CDATA[nabimuhammad.info _ Umar Bin Abi Salamah r.a. bercerita: &#8216;Saat aku belia, aku pernah berada di kamar Rasulullah SAW dan kedua tanganku seringkali mengacak acak piring piring. Rasuullah bersabda kepadaku: &#8220;Nak, bacalah bismillah, makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah dari makanan baik yang terdekat [maksudnya ambillah makanan baik yang posisinya dekat dengan kita]. [ HR Bukhari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://nabimuhammad.info/wp-content/uploads/2011/12/family-eating-dinner2-lg.jpg"><img src="http://nabimuhammad.info/wp-content/uploads/2011/12/family-eating-dinner2-lg.jpg" alt="family eating dinner2 lg Memakan Makanan Yang Terdekat" title="family-eating-dinner2-lg" width="460" height="360" class="alignnone size-full wp-image-7212" /></a><br />
<strong>nabimuhammad.info _</strong> Umar Bin Abi Salamah r.a. bercerita:<br />
&#8216;Saat aku belia, aku pernah berada di kamar Rasulullah SAW dan kedua tanganku seringkali mengacak acak piring piring.  </p>
<p>Rasuullah bersabda kepadaku: &#8220;Nak, bacalah bismillah, makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah dari makanan baik yang terdekat [maksudnya ambillah makanan baik yang posisinya dekat dengan kita].<br />
[ HR Bukhari ]</p>
<h4  class="related_post_title">Related Post</h4><ul class="related_post"><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/hamzah-bin-abdul-muthalib/" title="Hamzah "><img src="Array" alt=" Memakan Makanan Yang Terdekat"  title="Memakan Makanan Yang Terdekat" /></a>December 30, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/hamzah-bin-abdul-muthalib/" title="Hamzah ">Hamzah </a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/paman-bibi-nabi/" title="Paman Dan Bibi Nabi"><img src="Array" alt=" Memakan Makanan Yang Terdekat"  title="Memakan Makanan Yang Terdekat" /></a>December 30, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/paman-bibi-nabi/" title="Paman Dan Bibi Nabi">Paman Dan Bibi Nabi</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/makanlah-hanya-agar-tidak-kelaparan/" title="Makanlah Hanya Agar Tidak Kelaparan"><img src="Array" alt=" Memakan Makanan Yang Terdekat"  title="Memakan Makanan Yang Terdekat" /></a>December 28, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/makanlah-hanya-agar-tidak-kelaparan/" title="Makanlah Hanya Agar Tidak Kelaparan">Makanlah Hanya Agar Tidak Kelaparan</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/etika-makan-dan-minum/" title="Etika duduk ketika Makan dan Minum"><img src="Array" alt=" Memakan Makanan Yang Terdekat"  title="Memakan Makanan Yang Terdekat" /></a>December 28, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/etika-makan-dan-minum/" title="Etika duduk ketika Makan dan Minum">Etika duduk ketika Makan dan Minum</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/pola-makan-rasulullah-1/" title="Pola Makan Rasulullah (1)"><img src="Array" alt=" Memakan Makanan Yang Terdekat"  title="Memakan Makanan Yang Terdekat" /></a>December 25, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/pola-makan-rasulullah-1/" title="Pola Makan Rasulullah (1)">Pola Makan Rasulullah (1)</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2010/04/ali-bin-abi-thalib/" title="Ali "><img src="Array" alt=" Memakan Makanan Yang Terdekat"  title="Memakan Makanan Yang Terdekat" /></a>April 12, 2010 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2010/04/ali-bin-abi-thalib/" title="Ali ">Ali </a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/suami-harus-lemah-lembut-terhadap-istri/" title="Suami Harus Lemah Lembut Terhadap Istri"><img src="Array" alt=" Memakan Makanan Yang Terdekat"  title="Memakan Makanan Yang Terdekat" /></a>December 28, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/suami-harus-lemah-lembut-terhadap-istri/" title="Suami Harus Lemah Lembut Terhadap Istri">Suami Harus Lemah Lembut Terhadap Istri</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/membaca-bismillah-sebelum-makan/" title="Membaca Bismillah Sebelum Makan"><img src="Array" alt=" Memakan Makanan Yang Terdekat"  title="Memakan Makanan Yang Terdekat" /></a>December 28, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/membaca-bismillah-sebelum-makan/" title="Membaca Bismillah Sebelum Makan">Membaca Bismillah Sebelum Makan</a> (0)</li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nabimuhammad.info/2011/12/memakan-makanan-yang-terdekat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Makan Ketika Lapar Dan Berhenti Sebelum Kenyang</title>
		<link>http://nabimuhammad.info/2011/12/makan-ketika-lapar-dan-berhenti-sebelum-kenyang/</link>
		<comments>http://nabimuhammad.info/2011/12/makan-ketika-lapar-dan-berhenti-sebelum-kenyang/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Dec 2011 01:57:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Etika Makan dan Minum Nabi]]></category>
		<category><![CDATA[Abu Hurairah]]></category>
		<category><![CDATA[adz-Dzahabi]]></category>
		<category><![CDATA[Ahlus Shuffah]]></category>
		<category><![CDATA[Al Bidayah Wan Nihayah]]></category>
		<category><![CDATA[Allah SWT]]></category>
		<category><![CDATA[Arna'uth]]></category>
		<category><![CDATA[berkah]]></category>
		<category><![CDATA[bernafas]]></category>
		<category><![CDATA[daging]]></category>
		<category><![CDATA[gandum]]></category>
		<category><![CDATA[hemat]]></category>
		<category><![CDATA[HR Imam Tirmidzi]]></category>
		<category><![CDATA[Imam Hakim]]></category>
		<category><![CDATA[kekenyangan]]></category>
		<category><![CDATA[makan]]></category>
		<category><![CDATA[Makan Ketika Lapar Dan Berhenti Sebelum Kenyang]]></category>
		<category><![CDATA[Makanan]]></category>
		<category><![CDATA[makanlah sebelum lapar]]></category>
		<category><![CDATA[minum]]></category>
		<category><![CDATA[Miqdam Ma'di Karb r.a]]></category>
		<category><![CDATA[Nabi Muhammad]]></category>
		<category><![CDATA[nabi muhammad saw]]></category>
		<category><![CDATA[Perang Khandaq]]></category>
		<category><![CDATA[perutnya]]></category>
		<category><![CDATA[Rasulullah dan Cuka]]></category>
		<category><![CDATA[Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam]]></category>
		<category><![CDATA[roti]]></category>
		<category><![CDATA[sanadnya dhaif]]></category>
		<category><![CDATA[sederhana]]></category>
		<category><![CDATA[sepertiga]]></category>
		<category><![CDATA[terlalu kenyang]]></category>
		<category><![CDATA[tidak makan sebelum lapar]]></category>
		<category><![CDATA[tulang punggung]]></category>
		<category><![CDATA[Zaadul Ma’ad]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nabimuhammad.info/?p=7186</guid>
		<description><![CDATA[nabimuhammad.info _ Bagaimana keshahihan hadits berikut: نحن قوم لا نأكل حتى نجوع وإذا أكلنا لا نشبع “Kita (kaum muslimin) adalah kaum yang hanya makan bila lapar dan berhenti makan sebelum kenyang.“ Hadits ini memang diriwayatkan dari sebagian sahabat yang bertugas sebagai utusan, namun sanadnya dhaif. Diriwayatkan bahwa para sahabat tersebut berkata dari Rasulullah shallallahu ’alaihi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://nabimuhammad.info/wp-content/uploads/2011/08/cherry-blossom.jpg"><img src="http://nabimuhammad.info/wp-content/uploads/2011/08/cherry-blossom.jpg" alt="cherry blossom Makan Ketika Lapar Dan Berhenti Sebelum Kenyang" title="cherry-blossom" width="319" height="432" class="alignnone size-full wp-image-6783" /></a><br />
<strong>nabimuhammad.info _ </strong>Bagaimana keshahihan hadits berikut:</p>
<p>نحن قوم لا نأكل حتى نجوع وإذا أكلنا لا نشبع</p>
<p>“Kita (kaum muslimin) adalah kaum yang hanya makan bila lapar dan berhenti makan sebelum kenyang.“</p>
<p>Hadits ini memang diriwayatkan dari sebagian sahabat yang bertugas sebagai utusan, namun sanadnya dhaif. Diriwayatkan bahwa para sahabat tersebut berkata dari Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam:</p>
<p>نحن قوم لا نأكل حتى نجوع وإذا أكلنا لا نشبع</p>
<p>“Kita (kaum muslimin) adalah kaum yang hanya makan bila lapar dan berhenti makan sebelum kenyangs“</p>
<p>Maksudnya yaitu bahwa kaum muslimin itu hemat dan sederhana.</p>
<p>Maknanya benar, namun sanadnya dhaif, silakan periksa di <strong>Zaadul Ma’ad</strong> dan <strong>Al Bidayah Wan Nihayah</strong>. Faidahnya, bahwa seseorang baru makan sebaiknya jika sudah lapar atau sudah membutuhkan. Dan ketika makan, tidak boleh berlebihan sampai kekenyangan. Adapun rasa kenyang yang tidak membahayakan, tidak mengapa. Karena orang-orang di masa Nabi Muhammad shallallahu ’alaihi wasallam dan masa selain mereka pun pernah makan sampai kenyang. Namun mereka menghindari makan sampai terlalu kenyang.</p>
<p>Terkadang Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam mengajak para sahabat ke tempat sebuah jamuan makan. Kemudian beliau menjamu mereka dan meminta mereka makan. Kemudian mereka makan sampai kenyang. Setelah itu barulah Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam makan beserta para sahabat yang belum makan.</p>
<p>Terdapat hadits, di masa Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam, ketika sedang terjadi <strong>perang Khandaq</strong>, Jabir bin Abdillah Al Anshari mengundang Nabi shallallahu ’alaihi wasallam untuk memakan daging sembelihannya yang kecil ukurannya beserta sedikit gandum. Kemudian Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam mengambil sepotong roti dan daging, kemudian beliau memanggil sepuluh orang untuk masuk dan makan. Mereka pun makan hingga kenyang kemudian keluar. Lalu dipanggil kembali sepuluh orang yang lain, dan demikian seterusnya. </p>
<p>Allah SWT menambahkan berkah pada daging dan gandum tadi, sehingga bisa cukup untuk makan orang banyak, bahkan masih banyak tersisa, hingga dibagikan kepada para tetangga.</p>
<p>Dan suatu hari, Nabi shallallahu ’alaihi wasallam menyajikan susu pada Ahlus Shuffah (salah satunya Abu Hurairah, pent). Abu Hurairah berkata: “Aku minum sampai puas.” Kemudian Nabishallallahu ’alaihi wasallam bersabda: “Ayo minum lagi, Abu Hurairah.“ Maka aku minum. Kemudian Nabi shallallahu ’alaihi wasallam bersabda: “Ayo minum lagi.“ Maka aku minum lagi.</p>
<p>Kemudian Nabi shallallahu ’alaihi wasallam bersabda: “Ayo minum lagi.“ Maka aku minum lagi, lalu aku berkata “Demi Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran, tidak lagi aku dapati tempat untuk minuman dalam tubuhku”. Kemudian Nabi shallallahu ’alaihi wasallam mengambil susu yang tersisa dan meminumnya. Semua ini adalah dalil bolehnya makan sampai kenyang dan puas yang wajar, selama tidak membahayakan.</p>
<p>Dari <strong>Miqdam Ma&#8217;di Karb r.a</strong>. menyatakan pernah mendengar Rasulullah bersabda:</p>
<p>&#8216;Tiada memenuhi anak Adam suatu tempat yang lebih buruk daripada perutnya. Cukuplah untuk anak Adam itu beberapa suap yang dapat menegakkan tulang punggungnya. Jika tidak ada cara lain, maka sepertiga [dari perutnya] untuk makanannya.  Sepertiga lagi untuk minuman dan sepertiganya lagi untuk bernafas&#8217;<br />
[ HR Imam Tirmidzi dan Hakim ]<br />
Arna&#8217;uth dan Adz Dzahabi menyatakan hadits ini shahih.</p>
<h4  class="related_post_title">Related Post</h4><ul class="related_post"><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/membaca-bismillah-sebelum-makan/" title="Membaca Bismillah Sebelum Makan"><img src="Array" alt=" Makan Ketika Lapar Dan Berhenti Sebelum Kenyang"  title="Makan Ketika Lapar Dan Berhenti Sebelum Kenyang" /></a>December 28, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/membaca-bismillah-sebelum-makan/" title="Membaca Bismillah Sebelum Makan">Membaca Bismillah Sebelum Makan</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/pola-makan-rasulullah-2/" title="Pola Makan Rasulullah (2)"><img src="Array" alt=" Makan Ketika Lapar Dan Berhenti Sebelum Kenyang"  title="Makan Ketika Lapar Dan Berhenti Sebelum Kenyang" /></a>December 25, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/pola-makan-rasulullah-2/" title="Pola Makan Rasulullah (2)">Pola Makan Rasulullah (2)</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/10/bab-1-ikhlas/" title="Bab 1. Ikhlas"><img src="Array" alt=" Makan Ketika Lapar Dan Berhenti Sebelum Kenyang"  title="Makan Ketika Lapar Dan Berhenti Sebelum Kenyang" /></a>October 11, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/10/bab-1-ikhlas/" title="Bab 1. Ikhlas">Bab 1. Ikhlas</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/10/islam-agama-mudah-tapi-jangan-dimudah-mudahkan/" title="Islam Agama Mudah, Tapi Jangan Dimudah Mudahkan"><img src="Array" alt=" Makan Ketika Lapar Dan Berhenti Sebelum Kenyang"  title="Makan Ketika Lapar Dan Berhenti Sebelum Kenyang" /></a>October 9, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/10/islam-agama-mudah-tapi-jangan-dimudah-mudahkan/" title="Islam Agama Mudah, Tapi Jangan Dimudah Mudahkan">Islam Agama Mudah, Tapi Jangan Dimudah Mudahkan</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/06/kemuliaan-rasulullah-1/" title="Kemuliaan Rasulullah (1)"><img src="Array" alt=" Makan Ketika Lapar Dan Berhenti Sebelum Kenyang"  title="Makan Ketika Lapar Dan Berhenti Sebelum Kenyang" /></a>June 21, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/06/kemuliaan-rasulullah-1/" title="Kemuliaan Rasulullah (1)">Kemuliaan Rasulullah (1)</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2010/10/makan-niatkan-untuk-bertaqwa/" title="Makan Niatkan Untuk Bertaqwa"><img src="Array" alt=" Makan Ketika Lapar Dan Berhenti Sebelum Kenyang"  title="Makan Ketika Lapar Dan Berhenti Sebelum Kenyang" /></a>October 6, 2010 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2010/10/makan-niatkan-untuk-bertaqwa/" title="Makan Niatkan Untuk Bertaqwa">Makan Niatkan Untuk Bertaqwa</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2012/01/hukum-membuat-patung-dalam-islam/" title="Hukum Membuat Patung Dalam Islam"><img src="Array" alt=" Makan Ketika Lapar Dan Berhenti Sebelum Kenyang"  title="Makan Ketika Lapar Dan Berhenti Sebelum Kenyang" /></a>January 2, 2012 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2012/01/hukum-membuat-patung-dalam-islam/" title="Hukum Membuat Patung Dalam Islam">Hukum Membuat Patung Dalam Islam</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/hamzah-bin-abdul-muthalib/" title="Hamzah "><img src="Array" alt=" Makan Ketika Lapar Dan Berhenti Sebelum Kenyang"  title="Makan Ketika Lapar Dan Berhenti Sebelum Kenyang" /></a>December 30, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/hamzah-bin-abdul-muthalib/" title="Hamzah ">Hamzah </a> (0)</li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nabimuhammad.info/2011/12/makan-ketika-lapar-dan-berhenti-sebelum-kenyang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Makanlah Hanya Agar Tidak Kelaparan</title>
		<link>http://nabimuhammad.info/2011/12/makanlah-hanya-agar-tidak-kelaparan/</link>
		<comments>http://nabimuhammad.info/2011/12/makanlah-hanya-agar-tidak-kelaparan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Dec 2011 01:07:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Etika Makan dan Minum Nabi]]></category>
		<category><![CDATA[Abi Dawud]]></category>
		<category><![CDATA[Abu Hurairah Ra]]></category>
		<category><![CDATA[Albani-rahimhullah]]></category>
		<category><![CDATA[banyak dan berlebih]]></category>
		<category><![CDATA[Etika Makan & Minum]]></category>
		<category><![CDATA[kebutuhan]]></category>
		<category><![CDATA[Kelaparan]]></category>
		<category><![CDATA[khianat]]></category>
		<category><![CDATA[Makanlah Hanya Agar Tidak Kelaparan]]></category>
		<category><![CDATA[Muhammad SAW]]></category>
		<category><![CDATA[nabi muhammad saw]]></category>
		<category><![CDATA[nafsu makan]]></category>
		<category><![CDATA[Rasulullah Saw]]></category>
		<category><![CDATA[seburuk-buruk teman dekat]]></category>
		<category><![CDATA[seburuk-buruk teman tidur]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nabimuhammad.info/?p=4280</guid>
		<description><![CDATA[Umat muslim di anjurkan untuk makan hanya sebatas kebutuhan fisik saja, artinya betul betul hanya untuk supaya tidak kelaparan. Itu artinya seorang muslim tidak boleh makan dengan porsi yang banyak dan berlebih. Sehingga tidak bisa lagi membedakan makan karena kebutuhan atau makan karena nafsu makan yang besar. Nabi Muhammad SAW selalu mencontohkan untuk makan secukupnya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://nabimuhammad.info/wp-content/uploads/2010/10/eat28.jpg" alt="eat28 Makanlah Hanya Agar Tidak Kelaparan" title="eat28" width="152" height="183" class="alignnone size-full wp-image-4281" /><br />
Umat muslim di anjurkan untuk makan hanya sebatas kebutuhan fisik saja, artinya betul betul hanya untuk supaya tidak kelaparan.  Itu artinya seorang muslim tidak boleh makan dengan porsi yang banyak dan berlebih.  Sehingga tidak bisa lagi membedakan makan karena kebutuhan atau makan karena nafsu makan yang besar.</p>
<blockquote><p>Nabi Muhammad SAW selalu mencontohkan untuk makan secukupnya saja.  Hanya untuk agar tidak kelaparan.  </p></blockquote>
<p>•	Berlindung dari kelaparan, dijelaskan dalam sebuah hadits riwayat Abu Hurairah RA berkata: Rasulullah Muhammad SAW bersabda: </p>
<p>اَللّهُـمَّ إِنِّي أَعـُوذُبِكَ مِنَ الْجُـوْعِ فَإِنَّهُ بِئْـسَ الضَّجِيْعِ وَأَعُـوْذُ بِكَ مِنَ الْخِيَانَةِ فَإِنَّهُ بِئْـسَ اْلبِطَانَةِ</p>
<p>	“Ya Allah aku berlindung kepada Mu dari kelaparan sesungguhnya ia seburuk-buruk teman tidur dan aku berlindung kepadaMu dari khianat sesungguhnya ia seburuk-buruk teman dekat”. </p>
<p>  [Hadits ini dihasankan oleh Albani-rahimhullah-, sunan Abi Dawud no: 2723]</p>
<h4  class="related_post_title">Related Post</h4><ul class="related_post"><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/hamzah-bin-abdul-muthalib/" title="Hamzah "><img src="Array" alt=" Makanlah Hanya Agar Tidak Kelaparan"  title="Makanlah Hanya Agar Tidak Kelaparan" /></a>December 30, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/hamzah-bin-abdul-muthalib/" title="Hamzah ">Hamzah </a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/memakan-makanan-yang-terdekat/" title="Memakan Makanan Yang Terdekat"><img src="Array" alt=" Makanlah Hanya Agar Tidak Kelaparan"  title="Makanlah Hanya Agar Tidak Kelaparan" /></a>December 28, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/memakan-makanan-yang-terdekat/" title="Memakan Makanan Yang Terdekat">Memakan Makanan Yang Terdekat</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/pola-makan-rasulullah-1/" title="Pola Makan Rasulullah (1)"><img src="Array" alt=" Makanlah Hanya Agar Tidak Kelaparan"  title="Makanlah Hanya Agar Tidak Kelaparan" /></a>December 25, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/pola-makan-rasulullah-1/" title="Pola Makan Rasulullah (1)">Pola Makan Rasulullah (1)</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/paman-bibi-nabi/" title="Paman Dan Bibi Nabi"><img src="Array" alt=" Makanlah Hanya Agar Tidak Kelaparan"  title="Makanlah Hanya Agar Tidak Kelaparan" /></a>December 30, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/paman-bibi-nabi/" title="Paman Dan Bibi Nabi">Paman Dan Bibi Nabi</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/suami-harus-lemah-lembut-terhadap-istri/" title="Suami Harus Lemah Lembut Terhadap Istri"><img src="Array" alt=" Makanlah Hanya Agar Tidak Kelaparan"  title="Makanlah Hanya Agar Tidak Kelaparan" /></a>December 28, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/suami-harus-lemah-lembut-terhadap-istri/" title="Suami Harus Lemah Lembut Terhadap Istri">Suami Harus Lemah Lembut Terhadap Istri</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/membaca-bismillah-sebelum-makan/" title="Membaca Bismillah Sebelum Makan"><img src="Array" alt=" Makanlah Hanya Agar Tidak Kelaparan"  title="Makanlah Hanya Agar Tidak Kelaparan" /></a>December 28, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/membaca-bismillah-sebelum-makan/" title="Membaca Bismillah Sebelum Makan">Membaca Bismillah Sebelum Makan</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/tidak-mencela-makanan/" title="Tidak Mencela Makanan"><img src="Array" alt=" Makanlah Hanya Agar Tidak Kelaparan"  title="Makanlah Hanya Agar Tidak Kelaparan" /></a>December 28, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/tidak-mencela-makanan/" title="Tidak Mencela Makanan">Tidak Mencela Makanan</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/etika-makan-dan-minum/" title="Etika duduk ketika Makan dan Minum"><img src="Array" alt=" Makanlah Hanya Agar Tidak Kelaparan"  title="Makanlah Hanya Agar Tidak Kelaparan" /></a>December 28, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/etika-makan-dan-minum/" title="Etika duduk ketika Makan dan Minum">Etika duduk ketika Makan dan Minum</a> (0)</li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nabimuhammad.info/2011/12/makanlah-hanya-agar-tidak-kelaparan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Membaca Bismillah Sebelum Makan</title>
		<link>http://nabimuhammad.info/2011/12/membaca-bismillah-sebelum-makan/</link>
		<comments>http://nabimuhammad.info/2011/12/membaca-bismillah-sebelum-makan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Dec 2011 00:43:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Etika Makan dan Minum Nabi]]></category>
		<category><![CDATA[Abdullah bin Hurairah As-Saba’I]]></category>
		<category><![CDATA[Abdurrahman bin Jubair]]></category>
		<category><![CDATA[Abusy-Syaikh]]></category>
		<category><![CDATA[Ahlaqun Nabi]]></category>
		<category><![CDATA[Ahmad]]></category>
		<category><![CDATA[Al Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Al-Hawi Lil Fatawa]]></category>
		<category><![CDATA[Allah]]></category>
		<category><![CDATA[aqnaita]]></category>
		<category><![CDATA[Bakar bin Amer]]></category>
		<category><![CDATA[Bersin]]></category>
		<category><![CDATA[bid’ah madzmumah (bid’ah yang tercela)]]></category>
		<category><![CDATA[Bismillah]]></category>
		<category><![CDATA[Bukhari]]></category>
		<category><![CDATA[Dimasqy]]></category>
		<category><![CDATA[Doa]]></category>
		<category><![CDATA[Etika Makan & Minum]]></category>
		<category><![CDATA[hadiah]]></category>
		<category><![CDATA[hamdallah]]></category>
		<category><![CDATA[Harta]]></category>
		<category><![CDATA[Ibnu Abid Dunya]]></category>
		<category><![CDATA[Imam Ahmad]]></category>
		<category><![CDATA[Imam Muslim]]></category>
		<category><![CDATA[Imam Suyuthi]]></category>
		<category><![CDATA[kemusyirkan]]></category>
		<category><![CDATA[khurafat]]></category>
		<category><![CDATA[Makanan]]></category>
		<category><![CDATA[Membaca Bismillah Sebelum Makan]]></category>
		<category><![CDATA[minum]]></category>
		<category><![CDATA[Muhammad bin Abdul Wahab]]></category>
		<category><![CDATA[Muslim]]></category>
		<category><![CDATA[Mustadrakul Hakim]]></category>
		<category><![CDATA[Nabi Muhammad]]></category>
		<category><![CDATA[nabi muhammad saw]]></category>
		<category><![CDATA[Nasrani]]></category>
		<category><![CDATA[penghidupan]]></category>
		<category><![CDATA[perawi tsiqah]]></category>
		<category><![CDATA[pujian]]></category>
		<category><![CDATA[Rasul]]></category>
		<category><![CDATA[Rasulullah dan Cuka]]></category>
		<category><![CDATA[sanad]]></category>
		<category><![CDATA[shahih]]></category>
		<category><![CDATA[shahih muttafaq alaihi]]></category>
		<category><![CDATA[Shalawat Nabi]]></category>
		<category><![CDATA[Syaikh Abdullah bin Umar]]></category>
		<category><![CDATA[syaikh muhammad nashirudin al albani]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nabimuhammad.info/?p=4285</guid>
		<description><![CDATA[۷١ &#8211; كَانَ اِذَا قُرِبَ اِلَيْهِ الطَّعَامُ يَقُالُ : بِسْمِ اﷲِ ، فَاِذَا فَرَغَ قَالَ : اَللّٰهُمَّ اَطْعَمْتَ وَاَسْقَيْتَ ، وَاَقْنَيْتَ ، وَهَدَيْتَ ، وَاَحْيَيْتَ ، فَلِلّهِ الْحَمْدُ عَلىٰ مَا اَعْطَيْتَ “Jika Rasulullah disuguhi makanan, beliau mengucapkan: “Bismillah”. Dan jika telah selesai makan beliau berdo’a: “Ya Allah, Engaku telah memberi makan, memberi minum, memberi harta, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://nabimuhammad.info/wp-content/uploads/2010/10/eat61.jpg" alt="eat61 Membaca Bismillah Sebelum Makan" title="eat6" width="218" height="170" class="alignnone size-full wp-image-4288" /></p>
<blockquote><p>
۷١ &#8211;  كَانَ اِذَا قُرِبَ اِلَيْهِ الطَّعَامُ يَقُالُ : بِسْمِ اﷲِ ، فَاِذَا فَرَغَ قَالَ : اَللّٰهُمَّ اَطْعَمْتَ وَاَسْقَيْتَ ، وَاَقْنَيْتَ ، وَهَدَيْتَ ، وَاَحْيَيْتَ ، فَلِلّهِ الْحَمْدُ عَلىٰ مَا اَعْطَيْتَ</p>
<p>“Jika Rasulullah disuguhi makanan, beliau mengucapkan: “Bismillah”. Dan jika telah selesai makan beliau berdo’a: “Ya Allah, Engaku telah memberi makan, memberi minum, memberi harta, memberi hadiah (suguhan) dan memberi penghidupan. Hanya milik Allah -lah semua pujian atas semua yang telah diberikan.”</p></blockquote>
<p>Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad (4/62, 5/375), dan Abusy-Syaikh di dalam Ahlaqun Nabi  (hal 238) dari Bakar bin Amer, dari Abdullah bin Hurairah As-Saba’I dari Abdurrahman bin Jubair, yang memberitahukan bahwa ia telah diberi riwayat oleh seseorang yang pernah melayani Rasul selama kurang lebih delapan tahun. Orang tersebut mendengar Rasulullah berdo’a ketika disuguhi makanan… (Perawi menyebutkan hadits di atas secara lengkap).</p>
<p>Saya berpendapat: Sanad hadits ini shahih dan seluruh perawinya tsiqah, disamping juga dipakai oleh Imam Muslim.</p>
<p>Kata “aqnaita” berarti: harta (atau benda-benda lain) yang telah Engkau berikan.</p>
<p>Hadits ini menunjukkan bahwa doa yang dibaca ketika akan makan adalah Bismillah, tak ada yang lain (tambahan). Hadits-hadits lain yang shahih juga tidak menyebutkan adanya tambahan. Dan saya belum pernah melihat hadits yang menyebutkan adanya tambahan doa. Oleh karena itu, tambahan itu merupakan bid’ah (menurut istilah ulama fiqh). Dan orang-orang yang memakai tambahan doa itu seandainya ditanya mereka secara serempak akan menjawab: “Sebab doa itu telah banyak dipakai.”</p>
<p>Saya mengatakan: Segala tambahan (susulan) yang diberikan kepada Rasul tak ubahnya seperti shalawat kepada Nabi  ketika menjawab orang yang bersin, yang telah membaca Hamdallah. Seandainya hal itu disyari’atkan, tentu Nabi akan menyebutkannya atau mempraktekkannya walau sekali. Sebab semua amal yang diperintahkan kepada kita untuk mengamalkannya pasti pernah dipraktekkan (apalagi diperintahkan oleh beliau, meskipun hanya sekali).</p>
<p>Oleh karena itu mengenai adanya tambahan itu terdapat silang pendapat di antara ulama. Syaikh Abdullah bin Umar tidak mengakuinya, sebagaimana dijelaskan di dalam <strong>Mustadrakul Hakim</strong>. Sedang Imam Suyuthi dengan tegas di dalam <strong>Al-Hawi Lil Fatawa</strong> (1/388) menyatakan bahwa tambahan itu adalah bid’ah madzmumah (bid’ah yang tercela).</p>
<p>Dapatkah mereka yang ikut-ikutan memakai tambahan itu menjelaskan mengapa Imam Suyuthi berani dengan tegas menyatakan pendapatnya itu? Sebuah jawaban klise yang mereka berikan adalah karena dia adalah seorang Wahabi! Padahal beliau wafat kurang lebih tiga ratus tahun sebelum Muhammad bin Abdul Wahab wafat. Hal itu mengingatkan saya pada sebuah cerita menarik di sebuah lembaga pendidikan di <strong>Dimasqy</strong> (baca: Damaskus). Di sana ada seorang tenaga pengajar terkemuka yang beragama Nasrani. Ia membicarakan gerakan yang dilakukan oleh Muhammad bin Abdul Wahab di Jazirah Arabia dan usahanya untuk menghancurkan segala prilaku dan tindakan yang mengandung kemusyirkan, bid’ah, dan khurafat. Karena nada bicaranya tampak menggebu-gebu dan penuh antusias, maka ada salah seorang siswa berkomentar: “Dosen ini jelas seorang Wahabi!”</p>
<p>Ada pula yang menganggap As-Suyuti salah mengambil kesimpulan. Tetapi seandainya dia benar-benar melakukan kesalahan maka buktinya (dalilnya)? Sedangkan hadits yang digunakan oleh As-Suyuti adalah hadits Rasul:</p>
<p>“Orang yang mengajarkan sesuatu yang tidak termasuk dalam agama kami ini adalah tertolak.”</p>
<p>Nilai hadits ini shahih muttafaq alaihi (disepakati Bukhari, Muslim dan Ahmad).</p>
<p>Hadits-hadits lain yang senada dengan hadist itu telah kami himpun dalam sebuah buku yang khusus berbicara tentang bid’ah. Semoga Allah I berkenan memberikan pertolongan-Nya kepada saya, sehingga dapat menyelesaikannya dengan baik.</p>
<p>                                            ash-shahihain &#8211; syaikh muhammad nashirudin al albani -rahimahullohu-</p>
<h4  class="related_post_title">Related Post</h4><ul class="related_post"><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/makan-ketika-lapar-dan-berhenti-sebelum-kenyang/" title="Makan Ketika Lapar Dan Berhenti Sebelum Kenyang"><img src="Array" alt=" Membaca Bismillah Sebelum Makan"  title="Membaca Bismillah Sebelum Makan" /></a>December 28, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/makan-ketika-lapar-dan-berhenti-sebelum-kenyang/" title="Makan Ketika Lapar Dan Berhenti Sebelum Kenyang">Makan Ketika Lapar Dan Berhenti Sebelum Kenyang</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/10/islam-agama-mudah-tapi-jangan-dimudah-mudahkan/" title="Islam Agama Mudah, Tapi Jangan Dimudah Mudahkan"><img src="Array" alt=" Membaca Bismillah Sebelum Makan"  title="Membaca Bismillah Sebelum Makan" /></a>October 9, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/10/islam-agama-mudah-tapi-jangan-dimudah-mudahkan/" title="Islam Agama Mudah, Tapi Jangan Dimudah Mudahkan">Islam Agama Mudah, Tapi Jangan Dimudah Mudahkan</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2012/01/hukum-menggambar-dalam-islam/" title="Hukum Menggambar Dalam Islam"><img src="Array" alt=" Membaca Bismillah Sebelum Makan"  title="Membaca Bismillah Sebelum Makan" /></a>January 2, 2012 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2012/01/hukum-menggambar-dalam-islam/" title="Hukum Menggambar Dalam Islam">Hukum Menggambar Dalam Islam</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/10/bab-2taubat/" title="Bab 2:Taubat"><img src="Array" alt=" Membaca Bismillah Sebelum Makan"  title="Membaca Bismillah Sebelum Makan" /></a>October 28, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/10/bab-2taubat/" title="Bab 2:Taubat">Bab 2:Taubat</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/06/kemuliaan-rasulullah-1/" title="Kemuliaan Rasulullah (1)"><img src="Array" alt=" Membaca Bismillah Sebelum Makan"  title="Membaca Bismillah Sebelum Makan" /></a>June 21, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/06/kemuliaan-rasulullah-1/" title="Kemuliaan Rasulullah (1)">Kemuliaan Rasulullah (1)</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/06/kemuliaan-rasulullah-2/" title="Kemuliaan Rasulullah (2)"><img src="Array" alt=" Membaca Bismillah Sebelum Makan"  title="Membaca Bismillah Sebelum Makan" /></a>June 21, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/06/kemuliaan-rasulullah-2/" title="Kemuliaan Rasulullah (2)">Kemuliaan Rasulullah (2)</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2010/05/puasa-rasulullah/" title="Hari Yang Dipilih Rasulullah Untuk Berpuasa"><img src="Array" alt=" Membaca Bismillah Sebelum Makan"  title="Membaca Bismillah Sebelum Makan" /></a>May 8, 2010 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2010/05/puasa-rasulullah/" title="Hari Yang Dipilih Rasulullah Untuk Berpuasa">Hari Yang Dipilih Rasulullah Untuk Berpuasa</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2010/04/kewafatan-rasulullah/" title="Wafatnya Rasulullah"><img src="Array" alt=" Membaca Bismillah Sebelum Makan"  title="Membaca Bismillah Sebelum Makan" /></a>April 17, 2010 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2010/04/kewafatan-rasulullah/" title="Wafatnya Rasulullah">Wafatnya Rasulullah</a> (0)</li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nabimuhammad.info/2011/12/membaca-bismillah-sebelum-makan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nama Nama Mulia Nabi Muhammad SAW</title>
		<link>http://nabimuhammad.info/2011/12/nama-nama-mulia-nabi-muhammad-saw/</link>
		<comments>http://nabimuhammad.info/2011/12/nama-nama-mulia-nabi-muhammad-saw/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Dec 2011 10:42:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Nama Nabi]]></category>
		<category><![CDATA['Abduhu]]></category>
		<category><![CDATA['Adil]]></category>
		<category><![CDATA[Abdullah]]></category>
		<category><![CDATA[Abthan]]></category>
		<category><![CDATA[Abu Ibrahim]]></category>
		<category><![CDATA[Abul Qasim]]></category>
		<category><![CDATA[Ahmad]]></category>
		<category><![CDATA[Akhir]]></category>
		<category><![CDATA[Amin]]></category>
		<category><![CDATA[Amir]]></category>
		<category><![CDATA[Annemarie Schimmel]]></category>
		<category><![CDATA[Aqib]]></category>
		<category><![CDATA[Aula]]></category>
		<category><![CDATA[Awwal]]></category>
		<category><![CDATA[Aziz]]></category>
		<category><![CDATA[Basyir]]></category>
		<category><![CDATA[Bathin]]></category>
		<category><![CDATA[da'i]]></category>
		<category><![CDATA[Fatih]]></category>
		<category><![CDATA[Habib Allah]]></category>
		<category><![CDATA[Hadi]]></category>
		<category><![CDATA[Hafi]]></category>
		<category><![CDATA[Hafizh]]></category>
		<category><![CDATA[Hakim]]></category>
		<category><![CDATA[Hamid]]></category>
		<category><![CDATA[Hamim]]></category>
		<category><![CDATA[Haqq]]></category>
		<category><![CDATA[Harish 'alaikum]]></category>
		<category><![CDATA[Hasibujib]]></category>
		<category><![CDATA[Hasyimi]]></category>
		<category><![CDATA[Hasyir]]></category>
		<category><![CDATA[Hijazi]]></category>
		<category><![CDATA[Jawwad]]></category>
		<category><![CDATA[Kalim Allah]]></category>
		<category><![CDATA[Kamil]]></category>
		<category><![CDATA[Karim]]></category>
		<category><![CDATA[Khalil]]></category>
		<category><![CDATA[Khatam Al - Anbiya']]></category>
		<category><![CDATA[Khatim]]></category>
		<category><![CDATA[Kunyah]]></category>
		<category><![CDATA[Ma'lum]]></category>
		<category><![CDATA[Ma'mun]]></category>
		<category><![CDATA[Mad'u]]></category>
		<category><![CDATA[Mahdi]]></category>
		<category><![CDATA[Mahi]]></category>
		<category><![CDATA[Mahmud]]></category>
		<category><![CDATA[Malhamah]]></category>
		<category><![CDATA[Manshur]]></category>
		<category><![CDATA[Masyhud]]></category>
		<category><![CDATA[Matin]]></category>
		<category><![CDATA[Mishbah]]></category>
		<category><![CDATA[Mubasyir]]></category>
		<category><![CDATA[Mubin]]></category>
		<category><![CDATA[Mudatstsir]]></category>
		<category><![CDATA[Mudhar]]></category>
		<category><![CDATA[Mudzakkir]]></category>
		<category><![CDATA[Muhammad]]></category>
		<category><![CDATA[Muharram]]></category>
		<category><![CDATA[mujtaba]]></category>
		<category><![CDATA[Mukarram]]></category>
		<category><![CDATA[Munir]]></category>
		<category><![CDATA[Muqaffi]]></category>
		<category><![CDATA[Muqafi]]></category>
		<category><![CDATA[Muqtashid]]></category>
		<category><![CDATA[Murtadha]]></category>
		<category><![CDATA[Mushaddiq]]></category>
		<category><![CDATA[Musthafa]]></category>
		<category><![CDATA[Mutha']]></category>
		<category><![CDATA[Muthahhar]]></category>
		<category><![CDATA[Muthi]]></category>
		<category><![CDATA[Muzamil]]></category>
		<category><![CDATA[Nabi]]></category>
		<category><![CDATA[Nabi Al Rahmah]]></category>
		<category><![CDATA[Nabi Al Tawbah]]></category>
		<category><![CDATA[nabi muhammad saw]]></category>
		<category><![CDATA[Nadzir]]></category>
		<category><![CDATA[Naji]]></category>
		<category><![CDATA[Naji Allah]]></category>
		<category><![CDATA[Nama Nama Mulia Nabi Muhammad SAW]]></category>
		<category><![CDATA[Nama Nama Nabi Muhammad]]></category>
		<category><![CDATA[Nashir]]></category>
		<category><![CDATA[Qarib]]></category>
		<category><![CDATA[Qasim]]></category>
		<category><![CDATA[Qawi]]></category>
		<category><![CDATA[Quraisyi]]></category>
		<category><![CDATA[rahim]]></category>
		<category><![CDATA[Rasul]]></category>
		<category><![CDATA[Rasul Al Malahim]]></category>
		<category><![CDATA[Rasul Al Rahmah]]></category>
		<category><![CDATA[Rasyid]]></category>
		<category><![CDATA[Rauf]]></category>
		<category><![CDATA[Sayyid]]></category>
		<category><![CDATA[Shadiq]]></category>
		<category><![CDATA[Shafi Allah]]></category>
		<category><![CDATA[Siraj]]></category>
		<category><![CDATA[Syafi]]></category>
		<category><![CDATA[Syahid]]></category>
		<category><![CDATA[Syahir]]></category>
		<category><![CDATA[Syahld]]></category>
		<category><![CDATA[Syaku]]></category>
		<category><![CDATA[Tarazi]]></category>
		<category><![CDATA[Thaha]]></category>
		<category><![CDATA[Thasin]]></category>
		<category><![CDATA[Thayyib]]></category>
		<category><![CDATA[Tihami]]></category>
		<category><![CDATA[Ummi]]></category>
		<category><![CDATA[Wali]]></category>
		<category><![CDATA[Yasin]]></category>
		<category><![CDATA[Yatim]]></category>
		<category><![CDATA[Zhahir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nabimuhammad.info/?p=503</guid>
		<description><![CDATA[nabimuhammad.info_ Selain Allah SWT, Rasulullah pun memiliki banyak nama. Di antara nama nama berikut yang disandangkan kepada Nabi, adalah juga nama yang disandingkan pada nama Allah SWT. Muhammad : Yang Sangat Terpuji (surah 3:144, 33:40, 47:2, 48:29) Ahmad : Yang plaing agung puja dan pujinya kepada Allah (surah 61:6) Hamid : Yang Memuji Mahmud : [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://nabimuhammad.info/wp-content/uploads/2010/01/images12.jpg"><img src="http://nabimuhammad.info/wp-content/uploads/2010/01/images12.jpg" alt="images12 Nama Nama Mulia Nabi Muhammad SAW" title="images12" width="228" height="221" class="alignnone size-full wp-image-6712" /></a></p>
<p><strong>nabimuhammad.info_ </strong>Selain Allah SWT, Rasulullah pun memiliki banyak nama.  Di antara nama nama berikut yang disandangkan kepada Nabi, adalah juga nama yang disandingkan pada nama Allah SWT.</p>
<p><strong>Muhammad</strong> 	:  Yang Sangat Terpuji (surah 3:144, 33:40, 47:2, 48:29)<br />
<strong>Ahmad</strong>		:  Yang plaing agung puja dan pujinya kepada Allah (surah 61:6)<br />
<strong>Hamid</strong>		:  Yang Memuji<br />
<strong>Mahmud</strong>	:  Yang Terpuji<br />
<strong>Qasim	</strong>:  Yang Membagi (sebenarnya Abul Qasim,  Ayah Qasim, yang merupakan   kunyah (julukan atau panggilan yang lazim untuk Nabi), beliau juga dipanggil Abu Ibrahim (nama kedua putra Nabi yang juga wafat saat kanak kanak)<br />
<strong>‘Aqib</strong>		:  Yang Mengikuti, Yang Terakhir, sesudahnya tidak akan ada Nabi lagi<br />
<strong>Fatih</strong>		:  Yang Membuka, Yang Menaklukkan<br />
<strong>Syahid</strong> 		:  Saksi (Surah 33:45)<br />
<strong>Hasyir</strong> 		:  Yang Pertama dibangkitkan dari kubur dan Mengumpulkan Manusia (pada Hari Kiamat) di Padang Masyar<br />
<strong>Rasyid</strong>		:  Yang Terbimbing (surah 11:78)<br />
<strong>Masyhud</strong>	:  Yang Tersaksikan<br />
<strong>Basyir</strong>		:   Pembawa Kabar kabar  Baik (surah 7:88)<br />
<strong>Nadzir</strong>		:   Pemberi Peringatan (surah 33:45 dan sering)<br />
<strong>Da’i</strong>		:  Penyeru (surah 33:46)<br />
<strong>Syafi</strong>		:  Yang Menyembuhkan<br />
<strong>Hadi</strong>		:  Yang Memandu ke Kebenaran (surah 13:7)<br />
<strong>Mahdi</strong>		:  Yang Terbimbing Baik<br />
<strong>Mahi</strong>		:  Yang Menghapus (kedurhakaan), dengannya Allah menghapuskan kekafiran<br />
<strong>Munzi</strong>		:  Yang Menyelamatkan, Yang Menyampaikan<br />
<strong>Naji</strong> 		:  Keselamatan<br />
<strong>Rasul</strong>		:  Utusan (banyak terdapat di dalam Al-Quran)<br />
<strong>Nabi</strong>		:   (banyak terdapat di dalam Al-Quran)<br />
<strong>Ummi</strong>		:   Buta huruf (surah 21:107)<br />
<strong>Tihami</strong>		:   Dari Tihama<br />
<strong>Hasyimi</strong>		:   Dari Keluarga Hasyim<br />
<strong>Abthan</strong>i		:   Milik Al-Bathha (daerah di seputar Makkah)<br />
<strong>Aziz</strong>		:  Yang Mulia (surah 9:128). Aziz juga sebuah Nama Allah<br />
<strong>Harish ‘alaikum</strong>	:   Penuh Perhatian terhadap Anda (surah 9:128)<br />
<strong>Rauf</strong>		:   Lembut (surah 9:128). Juga sebuah Nama Allah<br />
<strong>Rahim</strong>		:  Penyayang (surah 9:128). juga sebuah Nama Allah<br />
<strong>Thaha</strong>		:   (surah 20:1)<br />
<strong>Mujtaba</strong>	:   Yang Terpilih<br />
<strong>Thasin</strong>		:   (surah 27:1)<br />
<strong>Murtadha</strong>	:  Yang Diridhai<br />
<strong>Hamim</strong>		:  (permulaan surah 40:46)<br />
<strong>Mushtafa</strong>	:  Yang Terpilih<br />
<strong>Yasin</strong>		:   (surah 36:1)<br />
<strong>Aula</strong>’		:  Yang Lebih Patut, Yang Lebih Baik (surah 33:6)<br />
<strong>Muzammil</strong>	:  Yang Terbungkus (surah 74:1)<br />
<strong>Wali</strong>		:  Sahabat, Yang Menolong, Yang Berbuat Kebaikan.   Juga sebuah nama Allah<br />
<strong>Mudatstslr</strong>	:  Yang Berselimut (surah 73:1)<br />
<strong>Matin</strong>		:  Yang Kukuh<br />
<strong>Mushaddiq</strong>	: Yang Menyatakan Kebenaran (surah 2: 101)<br />
<strong>Thayyib</strong>		:  Yang Baik<br />
<strong>Nashir</strong>		:  Yang Menolong.   Juga sebuah Nama Allah<br />
<strong>Manshur</strong>	:   Yang Ditolong (oleh Allah), Yang Berjaya<br />
<strong>Mishbah</strong>	:  Dian, Lampu (suvah 24:35)<br />
<strong>Amir</strong>		:   Pangeran, Pemimpin<br />
<strong>Hijazi</strong>		:  Dari Hijaz<br />
<strong>Tarazi</strong>		: (?)<br />
<strong>Quraisyi</strong>	:  Dari Suku Quraisy<br />
<strong>Mudhar</strong>i	:  Dari Suku Mudhar<br />
<strong>Nabi  Al Tawbah</strong>:   Nabinya Tobat<br />
<strong>Hafizh</strong>		:  Yang Menjaga.   Juga sebuah Nama Allah<br />
<strong>Kamil</strong>		:   Yang Sempurna<br />
<strong>Shadiq</strong>:		:  Yang Lurus, Tulus, Suci (Surah 19:54), digunakan untuk Ismail<br />
<strong>Amin</strong>		:  Yang Terpercaya (Surah 26:107, 81:21)<br />
<strong>Abdullah</strong>	:   Hamba Allah<br />
<strong>Kalim  Allah</strong>	:   Dia yang kepadanya Allah Berfirman (biasanya nama kehormatan Musa) `<br />
<strong>Habib Allah</strong>	:   Sahabat Tercinta Allah<br />
<strong>Naji  Allah</strong>	:   Sahabat Karib Allah (biasanya nama kehormatan Musa)<br />
<strong>Shafi  Allah</strong>	:  Sahabat Tulus Allah (biasanya nama kehormatan Adam)<br />
<strong>Khatam Al-Anbiya’</strong>:    Penutup Para Nabi (surah 33:40)<br />
<strong>Hasib</strong>		:  Yang Mulia. _]uga sebuah Nama Allah<br />
<strong>Mujib</strong>		:  Yang Menjawab.   Juga sebuah Nama Allah<br />
<strong>Syaku</strong>r		:   Yang Banyak Bersyukur.   Juga sebuah Nama Allah<br />
<strong>Muqtashid</strong>	:  Mengambil sebuah Jalan Tengah (surah 35:32)<br />
<strong>Rasul  Al Rahmah</strong> :   Rasulnya Rahmat<br />
<strong>Qawi</strong>		:   Kuat.   Juga sebuah Nama Allah<br />
<strong>Hafi</strong>		:  Yang Tahu (surah 7:187)<br />
<strong>Ma ’mun</strong>	:   Terpercaya<br />
<strong>Ma ‘lum</strong>	:   Termasyhur<br />
<strong>Haqq</strong>		:   Kebenaran (surah 3:86)<br />
<strong>Mubin</strong>		:  Jelas, Nyata (surah 15:89)<br />
<strong>Muthi</strong>		:   Taat<br />
<strong>Awwal</strong>		:  Pertama.   Juga sebuah Nama Allah<br />
<strong>Akhir</strong>		:  Terakhir.   Juga sebuah Nama Allah<br />
<strong>Zhahir</strong>		:   Yang Lahir, Eksternal.   Juga sebuah N ama Allah<br />
<strong>Bathin</strong>		:  Yang Batin.   Juga sebuah Nama Allah<br />
<strong>Yatim</strong>		:   Yatim (surah 93:6)<br />
<strong>Karim</strong>		:   Yang Pemurah (surah 81:19).   Juga sebuah Nama Allah<br />
<strong>Hakim</strong>		:   Yang Arif, Bijaksana.   Juga sebuah Nama Allah<br />
<strong>Sayyid</strong>		:  Tuan (surah 3:39) _<br />
<strong>Siraj</strong>		:   Dian, Lampu (surah 33:46) _<br />
<strong>Munir</strong>		:  Bercahaya (Surah 33:46)<br />
<strong>Muharram</strong>	:   Yang Terlarang, Suci<br />
<strong>Mukarram</strong>	:  Yang Mulia<br />
<strong>Mubasysyir</strong>	:  Pembawa Kabar Baik (surah 33:45)<br />
<strong>Mudzakkir</strong>	:  Yang Mengingatkan<br />
<strong>Muthahhar</strong>	:   Suci<br />
<strong>Qarib</strong>		:  Dekat.   Juga sebuah Nama Allah<br />
<strong>Khalil</strong>		:   Sahabat Baik (biasanya nama kehormatan Ibrahim)<br />
<strong>Mad’u</strong>		 :  Yang Diseru `<br />
<strong>Jawwad</strong>		:   Yang Pemurah<br />
<strong>Khatim</strong>		:  Penutup (surah 33:40)<br />
<strong>‘Adil</strong>		:   Yang Adil • .<br />
<strong>Syahir</strong>		:   Termasyhur<br />
<strong>Syahld</strong>		:  Yang Menyaksikan,  Saksi.   Juga sebuah Nama Allah<br />
<strong>Muqaffi</strong>              :  Nabi Yang Datang sesudah Nabi Nabi sebelumnya dan mengikuti jejak mereka<br />
<strong>Malhamah</strong>          :  Nabi yang telah diijinkan baginya dan bagi umatnya berperang melawan orang kafir yang menentangnya<br />
<strong>Rasul Al-Malahim</strong>	:  Rasulnya Pertempuran pertempuran Hari hari Terakhir •</p>
<p>Salah satu nama yang paling sering disebut sebut namun tidak terdapat di  dalam daftar khusus ini  adalah  <strong>‘Abduhu</strong> (hambaNya, hamba Allah) yang terdapat di dalam surah 17:1 dan 53:10 dan lazim sebagai sebuah nama orang (misalnya, Muhammad ‘Abduh).<br />
Begitu pula, <strong> Mutha‘</strong>, Yang  Ditaati (surah 81:21) juga tidak tercantum di sini.</p>
<p>Sumber: Daltar ini diambil dari copy Al-Quran milik penulis (Annemarie Schimmel)  (Lahore: Taj Company), yang mengandung  17 x 6 = 102 nama, di antaranya dua kali  Rasul Al-Rahmah, plus Nabi Al-Rahmah, sementara  julukan (kunyah) Nabi, Abu’l Qasim, tidak disebut-sebut.***</p>
<h4  class="related_post_title">Related Post</h4><ul class="related_post"><li><a href="http://nabimuhammad.info/2010/05/asma%e2%80%99-al-syarifah-keindahan-dan-kemuliaan-nama-muhammad-33/" title="Asma’ al Syarifah &#8216;Keindahan dan Kemuliaan Nama Muhammad (3/3)"><img src="Array" alt=" Nama Nama Mulia Nabi Muhammad SAW"  title="Nama Nama Mulia Nabi Muhammad SAW" /></a>May 10, 2010 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2010/05/asma%e2%80%99-al-syarifah-keindahan-dan-kemuliaan-nama-muhammad-33/" title="Asma’ al Syarifah &#8216;Keindahan dan Kemuliaan Nama Muhammad (3/3)">Asma’ al Syarifah &#8216;Keindahan dan Kemuliaan Nama Muhammad (3/3)</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2010/05/asma%e2%80%99-al-syarifah-keindahan-dan-kemuliaan-nama-muhammad-23/" title="Asma’ al Syarifah &#8216;Keindahan dan Kemuliaan Nama Muhammad (2/3)"><img src="Array" alt=" Nama Nama Mulia Nabi Muhammad SAW"  title="Nama Nama Mulia Nabi Muhammad SAW" /></a>May 10, 2010 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2010/05/asma%e2%80%99-al-syarifah-keindahan-dan-kemuliaan-nama-muhammad-23/" title="Asma’ al Syarifah &#8216;Keindahan dan Kemuliaan Nama Muhammad (2/3)">Asma’ al Syarifah &#8216;Keindahan dan Kemuliaan Nama Muhammad (2/3)</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2010/05/lebih-jauh-tentang-nama-nabi-muhammad/" title="Asma’ al Syarifah &#8216;Keindahan dan Kemuliaan Nama Muhammad&#8217; (1/3)"><img src="Array" alt=" Nama Nama Mulia Nabi Muhammad SAW"  title="Nama Nama Mulia Nabi Muhammad SAW" /></a>May 9, 2010 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2010/05/lebih-jauh-tentang-nama-nabi-muhammad/" title="Asma’ al Syarifah &#8216;Keindahan dan Kemuliaan Nama Muhammad&#8217; (1/3)">Asma’ al Syarifah &#8216;Keindahan dan Kemuliaan Nama Muhammad&#8217; (1/3)</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/07/silsilah-nabi-muhammad/" title="Pohon Silsilah Nabi Muhammad"><img src="Array" alt=" Nama Nama Mulia Nabi Muhammad SAW"  title="Nama Nama Mulia Nabi Muhammad SAW" /></a>July 22, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/07/silsilah-nabi-muhammad/" title="Pohon Silsilah Nabi Muhammad">Pohon Silsilah Nabi Muhammad</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2010/10/aminah-binti-wahab/" title="Aminah "><img src="Array" alt=" Nama Nama Mulia Nabi Muhammad SAW"  title="Nama Nama Mulia Nabi Muhammad SAW" /></a>October 24, 2010 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2010/10/aminah-binti-wahab/" title="Aminah ">Aminah </a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2010/06/silsilah-nabi-3/" title="Silsilah Nabi Muhammad SAW [3]"><img src="Array" alt=" Nama Nama Mulia Nabi Muhammad SAW"  title="Nama Nama Mulia Nabi Muhammad SAW" /></a>June 25, 2010 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2010/06/silsilah-nabi-3/" title="Silsilah Nabi Muhammad SAW [3]">Silsilah Nabi Muhammad SAW [3]</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/paman-bibi-nabi/" title="Paman Dan Bibi Nabi"><img src="Array" alt=" Nama Nama Mulia Nabi Muhammad SAW"  title="Nama Nama Mulia Nabi Muhammad SAW" /></a>December 30, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/paman-bibi-nabi/" title="Paman Dan Bibi Nabi">Paman Dan Bibi Nabi</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/membaca-bismillah-sebelum-makan/" title="Membaca Bismillah Sebelum Makan"><img src="Array" alt=" Nama Nama Mulia Nabi Muhammad SAW"  title="Nama Nama Mulia Nabi Muhammad SAW" /></a>December 28, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/membaca-bismillah-sebelum-makan/" title="Membaca Bismillah Sebelum Makan">Membaca Bismillah Sebelum Makan</a> (0)</li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nabimuhammad.info/2011/12/nama-nama-mulia-nabi-muhammad-saw/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pola Makan Rasulullah (1)</title>
		<link>http://nabimuhammad.info/2011/12/pola-makan-rasulullah-1/</link>
		<comments>http://nabimuhammad.info/2011/12/pola-makan-rasulullah-1/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Dec 2011 10:41:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Etika (Pola)  Makan Nabi]]></category>
		<category><![CDATA[ahsani taqwim]]></category>
		<category><![CDATA[air dingin]]></category>
		<category><![CDATA[al hafidz al amin]]></category>
		<category><![CDATA[ba'dunis]]></category>
		<category><![CDATA[Bisyir ibnu al barra]]></category>
		<category><![CDATA[buah tin]]></category>
		<category><![CDATA[cerna]]></category>
		<category><![CDATA[cuka]]></category>
		<category><![CDATA[dhuha]]></category>
		<category><![CDATA[fluor]]></category>
		<category><![CDATA[gigi]]></category>
		<category><![CDATA[hilbah]]></category>
		<category><![CDATA[kanker]]></category>
		<category><![CDATA[keju]]></category>
		<category><![CDATA[kepikunan]]></category>
		<category><![CDATA[Kurma]]></category>
		<category><![CDATA[kurma ajwa']]></category>
		<category><![CDATA[lambung]]></category>
		<category><![CDATA[lemah tulang]]></category>
		<category><![CDATA[luka bakar]]></category>
		<category><![CDATA[Mad'u]]></category>
		<category><![CDATA[metabolisme tubuh]]></category>
		<category><![CDATA[mikronutrisi]]></category>
		<category><![CDATA[minyak zaitun]]></category>
		<category><![CDATA[Muhammad SAW]]></category>
		<category><![CDATA[mulut]]></category>
		<category><![CDATA[nabi muhammad saw]]></category>
		<category><![CDATA[peradangan]]></category>
		<category><![CDATA[Perang Khaibar]]></category>
		<category><![CDATA[Pola Makan Rasulullah]]></category>
		<category><![CDATA[Prof. Dr Musthofa Romadhon]]></category>
		<category><![CDATA[qiyamul lail]]></category>
		<category><![CDATA[Rasulullah Saw]]></category>
		<category><![CDATA[roti]]></category>
		<category><![CDATA[sabbath]]></category>
		<category><![CDATA[sana al makki]]></category>
		<category><![CDATA[sanut]]></category>
		<category><![CDATA[sayur mayur]]></category>
		<category><![CDATA[sembelit]]></category>
		<category><![CDATA[sintetik]]></category>
		<category><![CDATA[sistem pencernaan]]></category>
		<category><![CDATA[siwak]]></category>
		<category><![CDATA[Subuh]]></category>
		<category><![CDATA[Udara Segar]]></category>
		<category><![CDATA[usus]]></category>
		<category><![CDATA[wasir]]></category>
		<category><![CDATA[yaqthin]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nabimuhammad.info/?p=341</guid>
		<description><![CDATA[Kita mengenal ungkapan, &#8220;mencegah lebih baik dari mengobati&#8221;. Mengenal serta meneladani pola makan Rasulullah merupakan langkah aplikatif dan tindakan preventif dari penyakit yang bisa menyerang tubuh kita. Jika kita cermat melihat pola hidup Rasulullah, maka akan kita dapati point penting sbb: 1. Asupan awal ke dalam tubuh Rasulullah adalah udara segar di subuh hari. Beliau [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kita mengenal ungkapan, &#8220;mencegah lebih baik dari mengobati&#8221;.  Mengenal serta meneladani pola makan Rasulullah merupakan langkah aplikatif dan tindakan preventif dari penyakit yang bisa menyerang tubuh kita.<br />
Jika kita cermat melihat pola hidup Rasulullah, maka akan kita dapati point penting sbb:</p>
<p>1.	Asupan awal ke dalam tubuh Rasulullah adalah udara segar di subuh hari.  Beliau bangun sebelum subuh dan melaksanakan (shalat) qiyamul lail. Para pakar kesehatan menyatakan bahwa udara sepertiga malam terakhir sangat kaya dengan oksigen dan belum terkotori oleh zat zat lain, sehingga sangat bermanfaat  untuk optimalisasi metabolisme tubuh.  Hal ini jelas sangat besar pengaruhnya terhadap vitalitas dalam aktifitasnya sehari penuh.   Orang yang memulai kehidupan di pagi hari dengan bangun subuh, biasanya menjalani hari dengan penuh semangat dan optimisme.  Berbeda dengan orang yang tidak bangun di subuh hari, biasanya lebih mudah terserang rasa malas beraktifitas.</p>
<p>2.	Di pagi hari, Rasulullah menggunakan siwak untuk menjaga kesehatan mulut dan giginya.  Mulut dan gigi merupakan organ tubuh yang sangat berperan dalam konsumsi makanan.  Apabila mulut dan gigi sakit, maka biasanya proses konsumsi makanan menjadi terganggu.  Kita tahu siwak mengandung fluor yang sangat bermanfaat dalam menjaga kesehatan gigi dan gusi.  Fluor yang terkandung dalam siwak merupakan fluor alami yang berguna, berbeda dengan fluor sintetik yang dapat membahayakan kesehatan.  Saat ini, fluor alami yang terdapat dalam siwak sudah mampu di ekstraksi dalam bentuk pasta gigi agar mudah di gunakan.</p>
<p>3.	Di pagi hari pula Rasulullah membuka menu sarapannya dengan segelas air dingin yang di campur dengan sesendok madu asli.  Khasiatnya luarbiasa.  Dalam Al Quran, madu merupakan syifaa (obat) yang diungkapkan dengan isim nakiroh, menunjukkan arti umum dan menyeluruh.  Hal ini berarti pada dasarnya madu bisa  menjadi obat atas berbagai penyakit.  Di tinjau dari ilmu kesehatan, madu berfungsi untuk membersihkan lambung, mengaktifkan usus usus, dan menyembuhkan sembelit, wasir dan peradangan.  Madu juga mengandung mikronutrisi yang sangat dibutuhkan oleh tubuh.  dalam istilah masyarakat Arab, madu di kenal dengan <strong>al hafidz al amin</strong> karena bisa menyembuhkan luka bakar.</p>
<p>4.	Masuk waktu dhuha (pagi menjelang siang), Rasulullah senantiasa mengkonsumsi 7 butir kurma ajwa&#8217; (matang).  Rasulullah pernah bersabda, &#8220;Barang siapa yang makan tujuh butir kurma, maka akan terlindungi dari racun&#8221;.  Hal ini terbukti ketika seorang wanita Yahudi menaruh racun dalam makanan Rasulullah pada sebuah percobaan pembunuhan di perang Khaibar, racun yang tertelan oleh beliau kemudian bisa di netralisir oleh zat zat yang terkandung dalam kurma.  Sementara itu <strong>Bisyir ibnu al barra</strong>, salah seorang sahabat yang ikut makan racun tsb, akhirnya meninggal.  Tetapi Rasulullah selamat dari racun tsb.  Rahasianya adalah 7 butir kurma yang biasa di konsumsi Rasulullah.</p>
<p>5.	Menjelang sore hari, menu Rasulullah biasanya adalah cuka dan minyak zaitun.  Tentu saja tidak hanya cuka dan minyak zaitun, tetapi dikonsumsi dengan makanan pokok seperti roti.  Manfaatnya banyak sekali, diantaranya mencegah lemah tulang, kepikunan di hari tua, melancarkan sembelit, menghancurkan kolesterol dan melancarkan pencernaan.  Roti yang dicampur cuka dan minyak zaitun juga berfungsi untuk mencegah kanker dan menjaga suhu tubuh di musim dingin.  Ada cerita menarik terkait dengan buah Tin dan minyak Zaitun.  A</p>
<blockquote><p>llah bersumpah dalam surat At Tin.  Dalam Al Quran, kata at tin  hanya disebutkan sekali, sedangkan kata az zaytun diulang sampai 7X.  Seorang ahli melakukan penelitian terkait hal itu.  Kesimpulannya luar biasa: jika zat zat yang terkandung dalam at tin dan az zaytun berkumpul dalam tubuh manusia dengan perbandingan 1;7, maka akan menghasilkan <strong>ahsani taqwim</strong> (tubuh terbaik dan optimum kekuatannya) sebagaimana tercantum dalam surat At Tin</p></blockquote>
<p>6.	Di malam hari, menu utama makan malam Rasulullah adalah sayur mayur.  Beberapa riwayat mengatakan, Rasulullah selalu mengkonsumsi sana al makki dan sanut. (Dalam kamus Al Munjid Sana dan sanut berarti jenis tumbuh tumbuhan, bisa bermakna sayuran atau lalapan.  Tapi sanut bisa juga berarti madu dan keju).  Menurut Prof. Dr Musthofa Romadhon, di Mesir keduanya mirip dengan  sabbath dan ba&#8217;dunis.  Mungkin istilahnya cukup asing bagi orang luar Arab, tapi Prof. Musthofa menjelaskan, intinya adalah sayur sayuran.  Secara umum, sayuran memiliki kandungan zat dan fungsi yang sama, yaitu menguatkan daya tahan tubuh dan melindunginya dari serangan penyakit.  Rasulullah tidak langsung tidur setelah makan malam.  Beliau beraktifitas dulu supaya makanan yang di konsumsi masuk lambung dengan cepat dan baik sehingga mudah di cerna.  Caranya bisa juga dengan shalat.  </p>
<blockquote><p>Rasulullah bersabda: &#8220;Cairkan makanan kalian dengan zikir kepada Allah dan shalat dan janganlah kalian langsung tidur setelah makan, karena dapat membuat hati kalian menjadi keras&#8221; (HR Abu Nu&#8217;aim dari Aisyah r.a)</p></blockquote>
<p>7.	Disamping menu wajib diatas, ada beberapa jenis makanan yang disukai Rasulullah tetapi beliau tidak rutin mengkonsumsinya.  Diantaranya <strong>tsarid</strong>, yaitu campuran antara roti dan daging dengan kuah air masak.  Beliau juga senang makan buah <strong>yaqthin</strong> atau labu air, yang terbukti bisa mencegah penyakit gula.  kemudian beliau juga senang  makan buah anggur dan <strong>hilbah</strong> (susu).</p>
<p>8.	Rasulullah sering menyempatkan untuk berolahraga.  Terkadang beliau berolahraga sambil bermain dengan anak anak dan cucu cucunya.  pernah pula beliau lomba lari dengan istri tercintanya, Aisyah ra.  Olah raga diakui oleh para ahli kesehatan sangat bermanfaat bagi tubuh.</p>
<p>9.	Rasulullah tidak menganjurkan umatnya untuk bergadang.  Karena itulah beliau tidak menyukai  berbincang bincang dan makan sesudah waktu isya.  Biasanya beliau tidur lebih awal supaya bisa bangun lebih pagi.  Istirahat yang cukup dibutuhkan oleh tubuh karena tidur termasuk hak tubuh.~~</p>
<h4  class="related_post_title">Related Post</h4><ul class="related_post"><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/pola-makan-rasulullah-2/" title="Pola Makan Rasulullah (2)"><img src="Array" alt=" Pola Makan Rasulullah (1)"  title="Pola Makan Rasulullah (1)" /></a>December 25, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/pola-makan-rasulullah-2/" title="Pola Makan Rasulullah (2)">Pola Makan Rasulullah (2)</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/hamzah-bin-abdul-muthalib/" title="Hamzah "><img src="Array" alt=" Pola Makan Rasulullah (1)"  title="Pola Makan Rasulullah (1)" /></a>December 30, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/hamzah-bin-abdul-muthalib/" title="Hamzah ">Hamzah </a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/memakan-makanan-yang-terdekat/" title="Memakan Makanan Yang Terdekat"><img src="Array" alt=" Pola Makan Rasulullah (1)"  title="Pola Makan Rasulullah (1)" /></a>December 28, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/memakan-makanan-yang-terdekat/" title="Memakan Makanan Yang Terdekat">Memakan Makanan Yang Terdekat</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/makanlah-hanya-agar-tidak-kelaparan/" title="Makanlah Hanya Agar Tidak Kelaparan"><img src="Array" alt=" Pola Makan Rasulullah (1)"  title="Pola Makan Rasulullah (1)" /></a>December 28, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/makanlah-hanya-agar-tidak-kelaparan/" title="Makanlah Hanya Agar Tidak Kelaparan">Makanlah Hanya Agar Tidak Kelaparan</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/06/perut-sumber-penyakit/" title="Perut Sumber Penyakit"><img src="Array" alt=" Pola Makan Rasulullah (1)"  title="Pola Makan Rasulullah (1)" /></a>June 30, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/06/perut-sumber-penyakit/" title="Perut Sumber Penyakit">Perut Sumber Penyakit</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/paman-bibi-nabi/" title="Paman Dan Bibi Nabi"><img src="Array" alt=" Pola Makan Rasulullah (1)"  title="Pola Makan Rasulullah (1)" /></a>December 30, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/paman-bibi-nabi/" title="Paman Dan Bibi Nabi">Paman Dan Bibi Nabi</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/suami-harus-lemah-lembut-terhadap-istri/" title="Suami Harus Lemah Lembut Terhadap Istri"><img src="Array" alt=" Pola Makan Rasulullah (1)"  title="Pola Makan Rasulullah (1)" /></a>December 28, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/suami-harus-lemah-lembut-terhadap-istri/" title="Suami Harus Lemah Lembut Terhadap Istri">Suami Harus Lemah Lembut Terhadap Istri</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/makan-ketika-lapar-dan-berhenti-sebelum-kenyang/" title="Makan Ketika Lapar Dan Berhenti Sebelum Kenyang"><img src="Array" alt=" Pola Makan Rasulullah (1)"  title="Pola Makan Rasulullah (1)" /></a>December 28, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/makan-ketika-lapar-dan-berhenti-sebelum-kenyang/" title="Makan Ketika Lapar Dan Berhenti Sebelum Kenyang">Makan Ketika Lapar Dan Berhenti Sebelum Kenyang</a> (0)</li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nabimuhammad.info/2011/12/pola-makan-rasulullah-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Zaid Bin Haritsah</title>
		<link>http://nabimuhammad.info/2011/12/zaid-bin-haritsah/</link>
		<comments>http://nabimuhammad.info/2011/12/zaid-bin-haritsah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Dec 2011 07:25:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Putra Putri Nabi]]></category>
		<category><![CDATA[Abdullah ibnul Rawahah]]></category>
		<category><![CDATA[al-Ahzab: 40]]></category>
		<category><![CDATA[al-Hismi]]></category>
		<category><![CDATA[Al-Jumuh]]></category>
		<category><![CDATA[al-’Ish]]></category>
		<category><![CDATA[anak angkat Muhammad Rasulullah]]></category>
		<category><![CDATA[anak angkat Nabi]]></category>
		<category><![CDATA[at-Tharaf]]></category>
		<category><![CDATA[Bal'qa]]></category>
		<category><![CDATA[Bani Maan]]></category>
		<category><![CDATA[budak]]></category>
		<category><![CDATA[dijual]]></category>
		<category><![CDATA[ditawan]]></category>
		<category><![CDATA[Hakim bin Hizam]]></category>
		<category><![CDATA[Haritsah]]></category>
		<category><![CDATA[HIjrah]]></category>
		<category><![CDATA[Hijriah]]></category>
		<category><![CDATA[Hukaim bin Hisyam]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Ja’far bin Abi Thalib]]></category>
		<category><![CDATA[Jumadil Ula]]></category>
		<category><![CDATA[Ka'bah]]></category>
		<category><![CDATA[Kabilah Kalb]]></category>
		<category><![CDATA[keponakan]]></category>
		<category><![CDATA[Khadijah]]></category>
		<category><![CDATA[Madinah]]></category>
		<category><![CDATA[Masyarif]]></category>
		<category><![CDATA[mati syahid]]></category>
		<category><![CDATA[merdeka]]></category>
		<category><![CDATA[Muhammad Rasulullah SAW]]></category>
		<category><![CDATA[nabi muhammad saw]]></category>
		<category><![CDATA[Pahlawan Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Panglima Perang]]></category>
		<category><![CDATA[Pasar Ukaz]]></category>
		<category><![CDATA[pelayan]]></category>
		<category><![CDATA[Perampok Badui]]></category>
		<category><![CDATA[perang Muktah]]></category>
		<category><![CDATA[Pertempuran Mu'tah]]></category>
		<category><![CDATA[Rasulullah]]></category>
		<category><![CDATA[Romawi]]></category>
		<category><![CDATA[sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[Sahabat Nabi]]></category>
		<category><![CDATA[Su'da]]></category>
		<category><![CDATA[Syafa'at]]></category>
		<category><![CDATA[Syam]]></category>
		<category><![CDATA[Syam (Syiria)]]></category>
		<category><![CDATA[Syma]]></category>
		<category><![CDATA[Ummi Ayman]]></category>
		<category><![CDATA[Ummu Kultsum binti ‘Uqbah]]></category>
		<category><![CDATA[Usamah bin Zaid bin Haritsah]]></category>
		<category><![CDATA[Zaid bin Haritsah]]></category>
		<category><![CDATA[Zainab]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nabimuhammad.info/?p=2531</guid>
		<description><![CDATA[nabimuhammad.info _ Zaid bin Haritsah (578-629) (Arab:زيد بن حارثة) adalah anak angkat Nabi. Ia juga dikenal sebagai sahabat nabi Muhammad SAW. Biografi Singkat Zaid bin Haritsah berasal dari kabilah Kalb yang menghuni sebelah utara jazirah Arab. Di masa kecilnya, ia ditangkap oleh sekelompok penjahat yang kemudian menjualnya sebagai seorang budak. Kemudian ia dibeli oleh Hukaim [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://nabimuhammad.info/wp-content/uploads/2010/07/3064962983_9ee846a9561.jpg"><img src="http://nabimuhammad.info/wp-content/uploads/2010/07/3064962983_9ee846a9561.jpg" alt="3064962983 9ee846a9561 Zaid Bin Haritsah" title="3064962983_9ee846a956" width="500" height="337" class="alignnone size-full wp-image-3002" /></a><strong>nabimuhammad.info</strong><strong><em> _  Zaid bin Haritsah</em></strong> (578-629) (Arab:زيد بن حارثة) adalah anak angkat Nabi. Ia juga dikenal sebagai sahabat nabi Muhammad SAW.</p>
<p><strong><br />
Biografi Singkat<br />
</strong><br />
Zaid bin Haritsah berasal dari kabilah Kalb yang menghuni sebelah utara jazirah Arab. Di masa kecilnya, ia ditangkap oleh sekelompok penjahat yang kemudian menjualnya sebagai seorang budak. Kemudian ia dibeli oleh Hukaim bin Hisyam keponakan dari Khadijah. Oleh Khadijah, ia diberikan kepada Nabi Muhammad yang kemudian memerdekakan Zaid bin Haritsah. </p>
<p>Ia adalah salah satu orang yang pertama dalam memeluk agama Islam.  Zaid diangkat sebagai anak oleh Muhammad, hanya saja nasabnya tetap bersandar pada bapaknya seperti yang diperintah oleh Allah SWT. Di keluarga Muhammad dan Khadijah, Zaid bersama sama Ali bin Abi Thalib tumbuh berkembang bersama dengan keempat anak perempuan Muhammad.</p>
<p>Zaid menjadi sahabat serta pelayan yang setia Nabi Muhammad. Ia menikah dengan Ummi Ayman dan memiliki putra yang bernama Usamah bin Zaid bin Haritsah. Ia mengikuti hijrah ke Madinah serta mengikuti setiap pertempuran dalam membela Islam. Dalam Pertempuran Mu&#8217;tah, ia diangkat sebagai panglima perang dan dalam Pertempuran Mu&#8217;tah inilah, ia mati syahid.</p>
<p>              *******                            ***********</p>
<p>Zaid bin Haritsah, seorang yang dilukiskan oleh para ahli sejarah dengan perawakan biasa, pendek, kulitnya coklat kemerah-merahan, dan hidung yang agak pesek, adalah termasuk pahlawan-pahlawan Islam yang besar.</p>
<p>Sudah lama sekali Su’da, isteri Haritsah, berniat hendak berziarah ke kaum keluarganya di kampung Bani Maan. Ia sudah gelisah dan seakan-akan tak sabar lagi menunggu waktu keberangkatanya. Pada suatu pagi yang cerah, suaminya (ayah Zaid) mempersiapkan kendaraan dan perbekalan untuk keperluan itu. Kelihatan Su’da sedang menggendong anaknya yang masih kecil, Zaid bin Haritsah. </p>
<p>Di waktu ia akan menitipkan isteri dan anaknya kepada rombongan kafilah yang akan berangkat bersama dengan isterinya, menyelinaplah rasa sedih di hatinya disertai perasaan aneh: menyuruh agar ia turut serta mendampingi anak dan isterinya. Karena ia harus menyelesaikan tugas dan pekerjaannya, perasaan gundah itu hilang jua. Kafilah pun berangkat meninggalkan kampung itu; Haritsah pun mengucapkan selamat jalan kepada isteri dan anaknya ….</p>
<p>Haritsah melepas kepergian isteri dan anaknya dengan air mata berlinang. Isteri dan anaknya pun sangat sedih dalam peristiwa perpisahan itu.</p>
<p>Setelah mereka berdua sampai di tempat tujuan, beberapa waktu kemudian terjadilah musibah yang menimpa penduduk kampung Bani Maan. Kampung itu habis porak-poranda diserang oleh gerombolan perampok Badui. Semua barang berharga milik penduduk kampung itu dikuras habis; penduduknya ditawan dan digiring oleh para perampok itu sebagai tawanan, termasuk si kecil Zaid bin Haritsah.</p>
<p>Dengan perasaan duka, pulanglah Su’da untuk menyusul suaminya seorang diri. Demi Haritsah mengetahui kejadian itu, ia pun jatuh tak sadarkan diri. Dengan tongkat di pundaknya segera ia berjalan mencari anak kesayangannya. Padang pasir dijelajahinya, kampung demi kampung diselidikinya. Sesekali ia bertanya kepada kabilah yang lewat; kalau-kalau ada yang tahu keberadaan anaknya tersayang, Zaid. Usahanya itu pun belum menunjukan hasil. Sambil menghibur diri, ia bersyair:</p>
<blockquote><p>“Kutangisi Zaid ku tak tahu apa yang telah terjadi<br />
Dapatkah ia diharapkan hidup, atau telah mati?<br />
Demi Allah ku tak tahu, sungguh aku hanya bertanya<br />
Apakah di lebah ia celaka, atau dibukit ia binasa?<br />
Di kala matahari terbit ku terkenang padanya<br />
Bila surya terbenam ingatan kembali menjelma<br />
Tiupan angin yang membangkitkan kerinduan pula<br />
Wahai, alangkah lamanya duka nestapa, diriku jadi merana.”</p></blockquote>
<p>Ketika kabilah perampok yang menyerang desa Bani Maan berhasil dengan rampokannya, mereka pergi ke pasar Ukaz menjual barang-barang dan tawanan hasil rampokannya. Si kecil Zaid dibeli oleh Hakim bin Hizam. Pada kemudian harinya ia memberikannya kepada Siti Khadijah. Pada waktu itu, Khadijah ra telah menjadi isteri Muhammad bin Abdullah (sebelum diangkat menjadi rasul oleh Allah SWT).</p>
<p>Selanjutnya Khadijah memberikan khadamnya Zaid sebagai pelayan bagi Muhammad. Beliau pun menerimanya dengan senang hati, lalu segera memerdekannya. Dengan pribadinya yang besar dan jiwanya yang mulia, Zaid diasuh dan dididiknya dengan segala kelembutan dan kasih sayang seperti terhadap anaknya sendiri.</p>
<blockquote><p>Pada salah satu musim haji, sekelompok orang dari desa tempat Haritsah tinggal dan berjumpa dengan Zaid di Mekah. Mereka menyampaikan kerinduan ayah bunda Zaid. Zaid balik menyampaikan pesan salam rindu dan hormatnya kepada kedua orang tuanya. Kepada para hujaj atau jamaah haji itu, Zaid berkata, “Tolong beritakan kepada kedua orang tuaku bahwa aku di sini tinggal bersama seorang ayah yang paling mulia.”</p></blockquote>
<p>Begitu ayah Zaid mengetahui di mana anaknya berada, segera ia mengatur perjalanan ke Mekah bersama seorang saudaranya. Sesampainya di Mekah, ia menanyakan di mana rumah Muhammad. Setelah bertemu dengan Muhammad, Harisah berkata, “Wahai Ibnu Abdul Muththalib…!, wahai putera dari pemimpin kaumnya! Anda termasuk penduduk tanah Suci yang biasa membebaskan orang tertindas, yang suka memberi makanan para tawanan. Kami datang ini kepada anda hendak meminta anak kami. Sudilah kiranya menyerahkan anak itu kepada kami dan bermurah hatilah menerima uang tebusannya seberapa adanya?”</p>
<p>Muhammad merasakan benar bahwa hati Zaid telah lekat dan terpaut kepadanya, tetapi dalam pada itu ia merasakan pula kerinduan dan kepedihan seorang ayah terhadap anaknya. </p>
<blockquote><p>Maka kata Muhammad kepada Haritsah, ”Panggilah Zaid itu ke sini, suruh ia memilih sendiri. Seandainya dia memilih Anda, maka akan saya kembalikan kepada Anda tanpa tebusan. Sebaliknya, jika ia memilihku, maka demi Allah aku tak hendak menerima tebusan dan tak akan menyerahkan orang yang telah memilihku!”</p></blockquote>
<p>Mendengar ucapan Muhammad yang demikian, wajah Haritsah berseri-seri kegirangan karena tak disangkanya sama sekali keluar darinya kemurahan seperti itu, lalu ucapnya: “Benar-benar Anda telah menyadarkan kami dan Anda beri pula keinsafan di balik kesadaran itu!”</p>
<p>Kemudian Muhammad menyuruh seseorang untuk memanggil Zaid. Setibanya dihadapannya, beliau langsung bertanya, “Tahukah Engkau siapa orang-orang ini?” “Ya, tahu,” jawab Zaid.” Yang ini ayahku, sedangkan yang seorang lagi adalah pamanku.”</p>
<p>Kemudian Muhammad mengulangi lagi apa yang telah dikatakannya kepada ayahnya tadi, yaitu tentang kebebasan memilih orang yang disenanginya.</p>
<p>Tanpa berpikir panjang, Zaid menjawab, “Tak ada orang pilihanku, kecuali Anda (Muhammad)! Andalah ayah, dan Andalah pamanku!”</p>
<p>Mendengar itu, kedua mata Muhammad basah dengan air mata karena rasa syukur dan haru. Lalu dipegangnya tangan Zaid, dibawanya ke pekarangan Ka’bah, tempat orang-orang Quraisy sedang banyak berkumpul, lalu serunya:</p>
<blockquote><p>“Saksikan oleh kalian semua bahwa mulai saat ini Zaid adalah anakku… yang akan menjadi ahli warisku dan aku jadi ahli warisnya.”</p></blockquote>
<p>Mendengar ucapan itu hati Harits seakan-akan berada diawang-awang karena suka citanya, sebab ia bukan saja telah menemukan kembali anaknya bebas merdeka tanpa tebusan, malahan sekarang diangkat anak pula oleh seseorang yang termulia dari suku Quraisy yang terkenal dengan sebutan “Ash-Shadiqul Amin”(orang lurus terpercaya), keturunan Bani Hasyim, tumpuan penduduk kota Mekah seluruhnya.</p>
<p>Meskipun telah sekian lama merindukan anaknya kembali, Zaid dan pamannya pulang dengan hati yang tenteram karena anaknya berada dalam naungan keluarga yang termulia, keluarga Muhammad.</p>
<p>Muhammad telah mengangkat Zaid sebagai anak angkat, maka menjadi terkenallah ia diseluruh Mekah dengan nama “Zaid bin Muhammad.”</p>
<p>Pada suatu hari yang cerah, seruan wahyu yang pertama datang kepada Muhammad, “Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang telah menciptakan! Ia menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, yang telah mengajari manusia dengan kalam (pena). Mengajari manusia apa-apa yang tidak diketahuinya.” (al-Alaq: 1-5).</p>
<p>Kemudian datang susul-menyusul wahyu berkikutnya kepadanya, “Wahai orang yang berselimut! bangunlah, lalu berilah peringatan! dan Tuhanmu agungkanlah.” (al-Muddatsir: 1-3)</p>
<p>“Hai Rasul, sampaikan apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (genggaman) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” (al-Maidah: 67)</p>
<p>Tidak tak lama setelah Muhammad memikul tugas kerasulannya dengan turunnya wahyu tersebut, jadilah Zaid sebagai orang yang kedua masuk Islam, bahkan ada yang mengatakan sebagai orang yang pertama.</p>
<p>Rasul sangat sayang sekali kepada Zaid. Kesayangan Nabi itu memang pantas dan wajar disebabkan kejujurannya, kebesaran jiwanya, kelembutan dan kesucian hatinya, sertai terpelihara lidah dan tangannya.</p>
<p>Semua itu menyebabkan Zaid punya kedudukan tersendiri sebagai “Zaid Kesayangan” sebagaimana yang telah dipanggilkan sahabat-sahabat rasul kepadanya. Berkatalah Aisyah ra, “Setiap Rasulullah mengirimkan suatu pasukan yang disertai oleh Zaid, pastilah ia yang selalu diangkat menjadi pemimpinnya. Seandainya ia masih hidup sesudah Rasul, tentulah ia akan diangkatnya sebagai khalifah.”</p>
<p>Suatu ketika Rasulullah saw berdiri melepas bala tentara Islam yang akan berangkat menuju medan perang Muktah melawan orang-orang Romawi. Beliau mengumumkan tiga nama yang akan memegang pimpinan dalam pasukan secara berurutan, sabdanya:</p>
<p>“Kalian semua berada di bawah pimpinan Zaid bin Haritsah! Seandainya ia tewas, pimpinan akan diambil alih oleh Ja’far bin Abi Thalib; dan seandainya Jafar tewas pula, maka komando hendaklah dipegang oleh Abdullah ibnul Rawahah.”</p>
<p>Sampai ke tingkat inilah kedudukan Zaid di sisi Rasulullah saw. Siapakah sebenarnya Zaid ini?</p>
<p>Ia seorang anak yang pernah ditawan, diperjualbelikan, lalu dibebaskan Rasul dan dimerdekakannya. Ia seorang laki-laki yang berperawakan pendek, berkulit coklat kemerahan, hidung pesek, tapi ia adalah manusia yang berhati mantap dan teguh serta berjiwa merdeka. Karena itulah, ia mendapt tempat yang tinggi di dalam Islam dan di hati Rasululah saw.</p>
<p>Rasulullah saw menikahkan Zaid dengan Zainab. Sayangnya, pernikahannya tidak berumur panjang dan berakhir dengan perceraian. Kesediaan Zainab menikah dengan Zaid hanya karena rasa enggan menolak anjuran dan syafaat Rasulullah, dan karena tidak sampai hati menolak Zaid sendiri. Maka Rasulullah saw mengambil tanggung jawab terhadap rumah tangga Zaid ini yang telah pecah itu. Rasulullah merangkul Zainab dengan menikahinya sebagai isterinya, kemudian mencarikan Ummu Kultsum binti ‘Uqbah yang kemudian dinikahkan dengan Zaid.</p>
<p>Karena peristiwa tersebut, terjadilah kegemparan di kalangan masyarakat kota madinah. Mereka melemparkan kecaman, kenapa Rasul menikahi bekas isteri anak angkatnya.</p>
<p>Tantangan dan kecaman ini kemudian dijawab oleh Allah SWT dengan wahyu-Nya yang membedakan antara anak angkat dan anak kandung atau anak adaptasi dengan anak sebenarnya, sekaligus membatalkan adat kebiasaan yang berlaku selama itu. Pernyataan wahyu itu berbunyi sebagai berikut:</p>
<p>“Muhammad bukanlah bapak dari seorang laki-laki (yang ada bersama) kalian. Tetapi, ia adalah Rasul Allah dan Nabi penutup. (al-Ahzab: 40)</p>
<p>Dengan turunnya wahyu tersebut, Zaid kemudian dipanggil dengan sebutan “Zaid bin Haritsah.”</p>
<p>Dan sekarang….<br />
Tahukah anda bahwa kekuatan Islam yang pernah maju ke medan perang “Al-Jumuh” komandannya adalah Zaid bin Haritsah? Kekuatan-kekuatan laskar Islam yang begerak maju ke medan pertempuran at-Tharaf, al-’Ish, al-Hismi dan lainnya, panglima pasukannya adalah Zaid bin Haritsah juga? Begitulah, sebagaimana yang pernah kita dengar dari Aisyah ra sebelumnya, “Setiap Nabi mengirimkan Zaid dalam suatu pasukan, pasti ia yang diangkat menjadi pemimpinnya.”</p>
<p>Suatu ketika datanglah perang Muktah yang terkenal itu. Adapun orang-orang Romawi dengan kerajaan mereka yang telah tua bangka secara diam-diam mulai cemas dan takut terhadap kekuatan Islam, bahkan mereka melihat adanya bahaya besar yang dapat mengancam keselamatan mereka. Terutama di daerah jajahan mereka, Syam (Syiria) yang berbatasan dengan negara dari agama baru ini, yang senantiasa bergerak maju dalam membebaskan negara-negara tetangganya dari cengkeraman penjajah. Bertolak dari pikiran demikian, mereka hendak mengambil Syria sebagai batu loncatan untuk menaklukan jazirah Arab dan negeri-negeri Islam.</p>
<p>Gerak-gerik orang-orang Romawi dan tuan terakhir mereka yang hendak menumpas kakuatan Islam dapat tercium oleh Nabi. Sebagai seorang yang ahli strategi, Nabi memutuskan untuk mendahului mereka dengan serangan mendadak sebelum diserang di daerahnya sendiri.</p>
<p>Demikianlah, pada bulan Jumadil Ula, tahun yang kedelapan Hijriah, tentara Islam maju bergerak ke Balqa’ di wilayah Syam. Demi mereka sampai di perbatasannya, mereka dihadapi tentara Romawi yang dipimpin oleh Heraklius, dengan mengerahkan juga kabilah-kabilah atau suku-suku badui yang diam di perbatasan. Tentara Romawi mengambil tempat di suatu daerah yang bernama Masyarif, sedangkan laskar Islam mengambil posisi di dekat negeri kecil yang bernama Muktah yang kemudian dijadikan nama pertempuran ini.</p>
<p>Rasulullah saw mengetahui benar arti penting dan bahayannya peperangan ini. Oleh sebab itu, beliau sengaja memilih tiga orang panglima perang yang di waktu malam bertakarub mendekatkan mendekatkan diri kepada Ilahi, sedangkan di siang hari sebagai pendekar pejuang pembela agama. Tiga orang pahlawan itu adalah mereka yang siap menggadaikan jiwa raga mereka kepada Allah, yang tiada berkeinginan kembali, yang bercita-cita mati syahid dalam perjuangan menegakkan kalimat Allah, yang mengharap semata-mata ridha Illahi dengan menemui wajah-Nya Yang Maha Mulia kelak.</p>
<p>Mereka bertiga secara berurutan memimpin tentara itu ialah: Zaid bin Haritsah, Ja’far bin Abi Thalib, dan Abdullah bin Rawahah, moga-moga Allah rela kepada mereka dan menjadikan mereka rela kepada-Nya, serta Allah merelakan pula seluruh sahabat lainya.</p>
<p>Rasul berdiri di hadapan pasukan tentara Islam yang hendak berangkat itu. Rasul melepas mereka dengan amanat, “Kalian harus tunduk kepada Zaid bin Harits sebagai pimpinan, seandainya ia gugur pimpinan dipegang oleh Ja’far bin Abi Thalib, dan senadainya Ja’far gugur pula, maka tempatnya diisi oleh Abdullah bin Rawabah.”</p>
<p>Ja’far bin Abi Thalib dijadikan orang yang kedua setelah Zaid, meskipun keberanian dan ketangkasanya serta keturunan dan kebangsawanannya tidak diragukan lagi, bahkan orang yang paling dekat kepada Rasul dari segi hubungan keluarga, sebagai anak pamannya sendiri.</p>
<p>Beginilah contoh dan teladan yang diperlihatkan Rasul dalam mengukuhkan suatu prinsip. Islam sebagai suatu agama baru mengikis habis segala hubungan lapuk yang didasarkan pada darah dan turunan atau yang ditegakkan atas yang batil dan rasialisme. Islam mengganti sistem-sistem yang tidak baik itu atas bimbingan dan hidayah Ilahi yang berpokok kepada hakikat kemanusiaan.</p>
<p>Ketika Rasulullah memilih mereka bertiga untuk menjadi pemimpin pasukan secara berurutan, seolah-olah beliau telah telah mengetahui secara ghaib tentang pertempuarn yang akan berlangsung. Beliau mengatur dan menetapkan susunan panglimanya dengan tertib berurutan: Zaid, lalu lalu Ja’far, kemudian Ibnu Abi Rawahah, ternyata ketika mereka menemui ajalnya, pulang ke rahmat Allah sebagai syuhada, sesuai dengan urutan itu pula.</p>
<p>Demi Kaum Muslimin melihat tentara romawi yang jumlahnya menurut taksiran tidak kurang dari 200.000 orang, suatu jumlah yang tak mereka duka sama sekali, mereka terkejut. Tetapi kapankah pertarungan yang didasari iman mempertimbangkan jumlah bilangan?</p>
<p>Ketika itulah, disana, merek amaju terus tanpa gentar, tak perduli dan tak menghiraukan besarnya musuh. Didepan sekali kelihatan dengan tangkasnya mengendarai kuda, panglima mereka Zaid, sambil memegang teguh panji-panji Rasulullah SAW. maju menyerbu laksana topan, dicelah-celah desingan anak panah, ujung tombak dan pedang musuh. Mereka bukan hanya semata-mata mencari kemenangan, tetapi lebih dari itu mereka mencari apa yang telah dijanjikan Allah, yakni tempat pembaringan disisi Allah, karena sesuai dengan firman-Nya:</p>
<blockquote><p>“Sesungguhnya Allah telah membeli jiwa dan harta orang-orang Mukmin dengan surga sebagai imbalannya.” (QS. at-Taubah: 111)</p></blockquote>
<p>Zaid tak sempat melihat pasir Balqa’, bahkan pula keadaan bala tentara Romawi, tetapi ia langsung melihat keindahan taman-taman surga dengan dedaunannya yang hijau berombak laksana kibaran bendera, yang memberitakan kepadanya, bahwa itulah hari istirahat dan kemenanggannya.</p>
<p>Ia telah terjun ke medan laga dengan menerpa, menbas, membunuh atau dibunuh. Tetapi ia tidaklah memisahkan kepala musuh-musuhnya, ia hanyala membuka pintu dan menembus dinding, yang menghalanginya kekampung kedamaian, surga yang kekal disisi Allah.</p>
<p>Ia telah menemui tempat peristirahatannya yang akhir. Rohnya yang melayang dalam perjalannya ke surga tersenyum bangga melihat jasadnya yang tidak berbungkus sutera dewangga, hanya berbalut darah suci yang mengalir di jalan Allah.</p>
<p>Senyumnya semakin melebar dengan tenang penuh nikmat, karena melihat panglima yang kedua Ja’far melesit maju ke depan laksana anak panah lepas dari busurnya. untuk menyambar panji-panji yang akan dipanggulnya sebelum jatuh ketanah.~~</p>
<p>http://risalahrasul.wordpress.com/2008/05/29/zaid-bin-haritsah/</p>
<h4  class="related_post_title">Related Post</h4><ul class="related_post"><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/06/zaynab-binti-muhammad/" title="Zaynab "><img src="Array" alt=" Zaid Bin Haritsah"  title="Zaid Bin Haritsah" /></a>June 10, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/06/zaynab-binti-muhammad/" title="Zaynab ">Zaynab </a> (1)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/10/bab-1-ikhlas/" title="Bab 1. Ikhlas"><img src="Array" alt=" Zaid Bin Haritsah"  title="Zaid Bin Haritsah" /></a>October 11, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/10/bab-1-ikhlas/" title="Bab 1. Ikhlas">Bab 1. Ikhlas</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2010/04/ali-bin-abi-thalib/" title="Ali "><img src="Array" alt=" Zaid Bin Haritsah"  title="Zaid Bin Haritsah" /></a>April 12, 2010 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2010/04/ali-bin-abi-thalib/" title="Ali ">Ali </a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/hamzah-bin-abdul-muthalib/" title="Hamzah "><img src="Array" alt=" Zaid Bin Haritsah"  title="Zaid Bin Haritsah" /></a>December 30, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/hamzah-bin-abdul-muthalib/" title="Hamzah ">Hamzah </a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/paman-bibi-nabi/" title="Paman Dan Bibi Nabi"><img src="Array" alt=" Zaid Bin Haritsah"  title="Zaid Bin Haritsah" /></a>December 30, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/paman-bibi-nabi/" title="Paman Dan Bibi Nabi">Paman Dan Bibi Nabi</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/10/palestina-masuk-unesco-marah-besar-ancam-hentikan-donasi/" title="Palestina Masuk UNESCO, Marah Besar AS Ancam Hentikan Donasi"><img src="Array" alt=" Zaid Bin Haritsah"  title="Zaid Bin Haritsah" /></a>October 10, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/10/palestina-masuk-unesco-marah-besar-ancam-hentikan-donasi/" title="Palestina Masuk UNESCO, Marah Besar AS Ancam Hentikan Donasi">Palestina Masuk UNESCO, Marah Besar AS Ancam Hentikan Donasi</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2010/04/kewafatan-rasulullah/" title="Wafatnya Rasulullah"><img src="Array" alt=" Zaid Bin Haritsah"  title="Zaid Bin Haritsah" /></a>April 17, 2010 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2010/04/kewafatan-rasulullah/" title="Wafatnya Rasulullah">Wafatnya Rasulullah</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/10-alasan-kita-berislam/" title="10 Alasan Kita Ber&#8217;Islam&#8217;"><img src="Array" alt=" Zaid Bin Haritsah"  title="Zaid Bin Haritsah" /></a>December 21, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/10-alasan-kita-berislam/" title="10 Alasan Kita Ber&#8217;Islam&#8217;">10 Alasan Kita Ber&#8217;Islam&#8217;</a> (0)</li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nabimuhammad.info/2011/12/zaid-bin-haritsah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>10 Alasan Kita Ber&#8217;Islam&#8217;</title>
		<link>http://nabimuhammad.info/2011/12/10-alasan-kita-berislam/</link>
		<comments>http://nabimuhammad.info/2011/12/10-alasan-kita-berislam/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Dec 2011 11:23:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Saqafah Islamiyah]]></category>
		<category><![CDATA[10 Alasan Kita Ber'Islam']]></category>
		<category><![CDATA[Agama]]></category>
		<category><![CDATA[Ali Imran]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Nabi]]></category>
		<category><![CDATA[Dakwah Nabi]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Kitab-Nya]]></category>
		<category><![CDATA[Muhammad Rasulullah SAW]]></category>
		<category><![CDATA[Muslim]]></category>
		<category><![CDATA[nabi muhammad saw]]></category>
		<category><![CDATA[Ridha Allah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nabimuhammad.info/?p=7139</guid>
		<description><![CDATA[Setidaknya ada sepuluh alasan mengapa kita menganut agama Islam. Kesepuluh alasan tersebut adalah sebagai berikut: Pertama , karena kita ingin hidup di dalam naungan ridha Allah سبحانه و تعالى . Sedangkan Allah سبحانه و تعالى telah menegaskan di dalam Kitab-Nya bahwa satu-satunya agama atu jalan hidup yang diridhai-Nya hanyalah agama Islam. Tidak ada seorangpun Muslim [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://nabimuhammad.info/wp-content/uploads/2010/01/5.jpg"><img src="http://nabimuhammad.info/wp-content/uploads/2010/01/5.jpg" alt="5 10 Alasan Kita BerIslam" title="5" width="1024" height="768" class="alignnone size-full wp-image-6457" /></a>Setidaknya ada sepuluh alasan mengapa kita menganut agama Islam. Kesepuluh alasan tersebut adalah sebagai berikut:</p>
<blockquote><p>Pertama</p></blockquote>
<p>, karena kita ingin hidup di dalam naungan ridha Allah سبحانه و تعالى . Sedangkan Allah سبحانه و تعالى telah menegaskan di dalam Kitab-Nya bahwa satu-satunya agama atu jalan hidup yang diridhai-Nya hanyalah agama Islam. Tidak ada seorangpun Muslim yang pernah membaca ayat di bawah ini kecuali pasti akan menjadikan Islam sebagai satu-satunya pilihan agama yang ia anut. Karena Allah سبحانه و تعالى hanya meridhai atau melegalisir agama Islam, bukan agama selain Islam.</p>
<p>إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الإسْلامُ</p>
<p>&#8220;Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam.&#8221;</p>
<p>(QS. Ali Imran [3] : 19)</p>
<p>Seorang Muslim sangat peduli memperoleh ridha Allah سبحانه و تعالى dalam hidupnya. Ia tidak risau jika pak RT atau pak RW atau presiden atau bahkan penguasa negara superpower sekalipun tidak ridha kepadanya. Tapi ia sangat risau jika Allah سبحانه و تعالى Penguasa langit dan bumi tidak meridhai hidupnya.</p>
<p>Ayat di atas bukan saja menegaskan bahwa penganut agama Islam bakal memperoleh ridha dan restu Allah سبحانه و تعالى , tetapi secara implisit juga menegaskan bahwa barangsiapa mencari agama selain Islam berarti ia hidup di dunia tanpa keridhaan Allah سبحانه و تعالى . Jika Allah سبحانه و تعالى tidak ridha kepadanya berarti ia bakal menderita kerugian di akhirat nanti. Sebab murka Allah سبحانه و تعالى menanti dirinya. Bagaimana tidak? Allah سبحانه و تعالى telah memberikan begitu banyak nikmat —lahir maupun batin— kepadanya, namun ia malah tidak bersyukur terhadap nikmat yang paling utama, yaitu hidayah agama Islam. Bukti tidak bersyukurnya ialah dia memilih agama selain Islam yang sesungguhnya menjauhkan dirinya dari Ridha Allah سبحانه و تعالى .</p>
<p>وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الإسْلامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ</p>
<p>&#8220;Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.&#8221; (QS. Ali Imran [3] : 85)</p>
<p>Keridhaan Allah سبحانه و تعالى akan tercurah kepada kita karena kita memilih untuk beridentitas Islam, bukan yang lainnya. Sebab Allah سبحانه و تعالى menyuruh kita saat berinteraksi dengan penganut agama lainnya agar menawarkan prinsip hidup tauhid kepada mereka sebagai kesepakatan bersama. Tetapi kemudian jika mereka berpaling, kita tidak disuruh untuk berkompromi dengan mereka, misalnya dengan mencari identitas “pertengahan” seperti nasionalisme dan sejenisnya. Allah سبحانه و تعالى menyuruh kita untuk memproklamirkan diri sebagai orang-orang yang beridentitas Islam.</p>
<p>قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلا نَعْبُدَ إِلا اللَّهَ وَلا نُشْرِكَ بِهِ</p>
<p>شَيْئًا وَلا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ</p>
<p>&#8220;Katakanlah, &#8216;Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatu pun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah&#8217;. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka, &#8216;Saksikanlah, bahwa kami adalah kaum muslimin (orang-orang yang berserah diri kepada Allah)&#8217;.&#8221; (QS. Ali Imran [3] : 64)</p>
<blockquote><p>Kedua</p></blockquote>
<p>, kita menganut agama Islam karena ingin hidup seirama dengan gerak alam semesta. Seluruh makhluk di langit maupun di bumi bersikap “Islam” atau berserah-diri, bersujud, tunduk dan patuh kepada Allah سبحانه و تعالى . Maka kita tidak ingin memilih irama yang berbeda dengan gerak alam. Kita kaum Muslimin sangat merasa perlu untuk hidup dalam harmoni keserasian dengan alam seluruhnya.</p>
<p>أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يَسْجُدُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الأرْضِ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ وَالنُّجُومُ</p>
<p>وَالْجِبَالُ وَالشَّجَرُوَالدَّوَابُّ وَكَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ</p>
<p>&#8220;Apakah kamu tiada mengetahui, bahwa kepada Allah bersujud apa yang ada di langit, di bumi, matahari, bulan, bintang, gunung, pohon-pohonan, binatang-binatang yang melata dan sebagian besar daripada manusia?&#8221;</p>
<p>(QS. Al-Hajj [22] : 18)</p>
<p>Kita menganut Islam karena kita ingin dengan sukarela berserah diri kepada Allah سبحانه و تعالى . Kita sangat sadar bahwa kita semua berasal dari Allah سبحانه و تعالى dan akan dikembalikan kepada Allah سبحانه و تعالى sebagai akhir perjalanan hidup.</p>
<p>أَفَغَيْرَ دِينِ اللَّهِ يَبْغُونَ وَلَهُ أَسْلَمَ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ طَوْعًا وَكَرْهًا وَإِلَيْهِ يُرْجَعُونَ</p>
<p>&#8220;Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nya-lah berserah diri (aslama) segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allah-lah mereka dikembalikan.” (QS. Ali Imran [3] : 83)</p>
<blockquote><p>Ketiga</p></blockquote>
<p>, kita menganut agama Islam karena ingin dikumpulkan bersama orang-orang terbaik sepanjang zaman. Dari zaman ke zaman, dari negeri ke negeri Allah سبحانه و تعالى mengutus para Nabi dan Rasul-Nya untuk menyampaikan pesan Allah سبحانه و تعالى bahwa hidup di dunia ini adalah untuk menjalankan misi beribadah kepada Allah سبحانه و تعالى semata dan menjauhkan diri dari musuh-musuh-Nya yaitu para thaghut. Berfihak kepada al-haq(kebenaran) dan tidak berkompromi dengan al-bathil(kebatilan).</p>
<p>Para Nabi dan Rasul Allah merupakan manusia-manusia terbaik sepanjang zaman. Kita ingin dikumpulkan bersama mereka kelak di Akhirat nanti. Oleh karena itu kita menganut Islam. Sebab Islam merupakan agama yang telah dianut bahkan diperjuangkan oleh setiap Nabi dan Rasul Allah sepanjang sejarah.</p>
<p>قُلْ آمَنَّا بِاللَّهِ وَمَا أُنْزِلَ عَلَيْنَا وَمَا أُنْزِلَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ</p>
<p>وَالأسْبَاطِ وَمَا أُوتِيَ مُوسَىوَعِيسَى وَالنَّبِيُّونَ مِنْ رَبِّهِمْ لا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْهُمْ وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ</p>
<p>&#8220;Katakanlah, &#8216;Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Yakub, dan anak-anaknya, dan apa yang diberikan kepada Musa, &#8216;Isa dan para nabi dari Rabb mereka&#8217;. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka dan hanya kepada-Nya-lah kami menjadi kaum muslimun (menyerahkan diri).&#8221;</p>
<p>(QS. Ali Imran [3] : 84)</p>
<p>Bahkan kita sangat berambisi agar bisa dikumpulkan bersama orang-orang terbaik sesudah level para Nabi dan Rasul Allah, yaitu para shiddiqiin (orang-orang yang selalu dalam kebenaran), syuhada (orang-orang yang mati syahid terbunuh oleh musuh-musuh Allah سبحانه و تعالى ) sertasholihiin (orang-orang yang menyibukkan diri mengerjakan amal ibadah dan amal sholeh). Sebab mereka inilah orang-orang yang paling pantas kita jadikan sebagai sebaik-baiknya teman setia di dunia maupun di Akhirat kelak.</p>
<p>وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ</p>
<p>وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا</p>
<p>&#8220;Dan barang siapa yang mentaati Allah dan Rasul (Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.&#8221; (QS. An-Nisa [4] : 69)\</p>
<p>Setidaknya ada sepuluh alasan mengapa kita menganut agama Islam. Tiga alasan pertama sudah kita bahas pada tulisan sebelumnya, Kenapa Kita Menganut Agama Islam? (Bagian 1). Alasan-alasan selanjutnya ialah:</p>
<blockquote><p>Keempat</p></blockquote>
<p>, kita menganut agama Islam karena ingin mati sebagai muslim yaitu sebagai orang yang berserah diri kepada Allah سبحانه و تعالى . Kita tidak mau mati sebagai seorang yang kafir kepada Allah سبحانه و تعالى . Demikian pula, kita tidak ingin mati sebagai orang yang berpura-pura atau bermain-main menjadi seorang yang beriman alias menjadi seperti kaum munafik. Begitu pula, kita tidak mau mati dalam keadaan sebagai seorang yang murtad. Mengapa? Karena Allah سبحانه و تعالى menyuruh kita untuk tidak mati kecuali dalam keadaan sebagai seorang muslim.</p>
<p>يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ<br />
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS Ali Imran 102)</p>
<p>Orang yang mati dalam keadaan beragama Islam akan mendapat keselamatan dan kebahagiaan hakiki dan abadi di akhirat kelak dengan dimasukkan Allah سبحانه و تعالى ke dalam jannah-Nya (surga-Nya). Sedangkan orang yang mati dalam keadaan selain beragama Islam pasti celaka di akhirat, karena Allah سبحانه و تعالى bakal memasukkan dirinya ke dalam api neraka yang menyala-nyala. Semua orang yang mati dalam keadaan kafir, munafik atau murtad berarti mati tidak dalam keadaan beragama Islam. Ia bakal hidup dalam kesengsaraan hakiki dan abadi di dalam azab Allah tersebut. Wa na’udzubillaahi min dzaalika&#8230;</p>
<p>Maka seorang yang mati dalam keadaan beragama Islam berarti telah mempersiapkan dirinya untuk mampu menjawab beberapa pertanyaan fundamental malaikat ketika dirinya sudah menjadi mayat berada di dalam kuburnya. Sebagaimana disebutkan Rasulullah صلى الله عليه و سلم di dalam hadits berikut:</p>
<p>قَالَ فَتُعَادُ رُوحُهُ فِي جَسَدِهِ فَيَأْتِيهِ مَلَكَانِ فَيُجْلِسَانِهِ فَيَقُولَانِ لَهُ مَنْ رَبُّكَ فَيَقُولُ رَبِّيَ اللَّهُ فَيَقُولَانِ لَهُ مَا دِينُكَ فَيَقُولُ دِينِيَ الْإِسْلَامُ فَيَقُولَانِ لَهُ مَا هَذَا الرَّجُلُ الَّذِي بُعِثَ فِيكُمْ فَيَقُولُ هُوَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيَقُولَانِ لَهُ وَمَا عِلْمُكَ فَيَقُولُ قَرَأْتُ كِتَابَ اللَّهِ فَآمَنْتُ بِهِ وَصَدَّقْتُ فَيُنَادِي مُنَادٍ فِي السَّمَاءِ أَنْ صَدَقَ عَبْدِي<br />
Kata Nabi Muhammad صلى الله عليه و سلم : “&#8230; lantas rohnya di kembalikan ke jasadnya, kemudian dua malaikat mendatanginya dan mendudukkannya dan bertanya “Siapa Rabbmu?”. Ia menjawab “Rabb-ku Allah”. Tanya keduanya &#8220;Apa agamamu?&#8221; Ia menjawab: “Agamaku Islam.&#8221; Keduanya bertanya &#8220;Bagaimana komentarmu tentang laki-laki yang diutus kepada kamu ini?” Si mayit menjawab &#8220;Oh, dia Rasulullah صلى الله عليه و سلم .” Keduanya bertanya &#8220;Darimana kamu tahu itu semua?” Ia menjawab &#8220;Aku membaca Kitabullah sehingga aku mengimaninya dan membenarkannya.” Lantas ada Penyeru di langit memanggil-manggil:&#8221;HambaKu benar&#8230;” (HR Ahmad – Shahih)</p>
<blockquote><p>Kelima</p></blockquote>
<p>, kita menganut agama Islam karena ingin meneladani Nabi Muhammad صلى الله عليه و سلم yang disebut Allah سبحانه و تعالى merupakan rahmat bagi semesta alam.</p>
<p>وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ<br />
“Dan tiadalah Kami mengutus kamu (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS Al-Anbiya)</p>
<p>Seorang manusia yang menjalani kehidupan mengikuti agama Islam, berarti ia telah mengambil peranan sebagai rahmat bagi sekelilingnya. Sebab hakikat menjadi rahmat bagi sekelilingnya ialah ketika seseorang loyal dan istiqomah di dalam menganut agama Islam. Jangan dibalik. Bila orang kebanyakan (yang aqidahnya rusak serta terlanjur tenggelam dalam dosa) merasa terganggu oleh kehadiran orang yang sesungguhnya sholeh, maka orang sholeh itu dituduh tidak menjadi rahmat bagi orang-orang sekelilingnya (yang terlanjur gemar kemusyrikan dan bermaksiat alias durhaka kepada Allah سبحانه و تعالى ). Akhirnya supaya dianggap menjadi “rahmat” bagi orang-orang tersebut si sholeh tadi berkompromi dan menunjukkan sikap mencampuradukkan yang haq dengan yang batil. Ini pengertian yang keliru dari makna “rahmat bagi semesta alam.”</p>
<p>Maka, kita menganut agama Islam dan berusaha untuk istiqomah dengannya, karena tahu bahwa satu-satunya tolok-ukur kalau dirinya menjadi rahmat bagi sekelilingnya adalah ketika ia sibuk berusaha meneladani Nabi Muhammad صلى الله عليه و سلم dalam sebanyak mungkin aspek kehidupannya.</p>
<p>لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ<br />
كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا<br />
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak mengingat Allah.” (QS Al-Ahzab 21)</p>
<blockquote><p>Keenam</p></blockquote>
<p>, kita menganut agama Islam karena ingin kehidupan yang baik di dunia dan kehidupan yang jauh lebih baik lagi di akhirat kelak nanti. Sebab seorang muslim yakin bahwa hidupnya belum berakhir ketika ia meninggal dunia. Ia sangat yakin bahwa kehidupan dunia ini fana dan masih ada kehidupan akhirat yang menantinya. Di dunia ini ia hanya menjalani kehidupan sementara dan sangat singkat. Sedangkan di akhirat nanti ia bakal menjalani kehidupan yang abadi dan hakiki. Kesenangan serta penderitaan di dunia merupakan kesenangan dan penderitaan yang artifisial. Sedangkan kesenangan dan derita di akhirat merupakan kesenangan dan derita yang sejati.</p>
<p>Maka seorang muslim tentunya ingin hidup baik dan senang di dunia, tetapi ia lebih fokus mengejar hidup yang baik dan senang di akhirat. Seorang muslim tentunya tidak ingin hidup yang buruk dan menderita di dunia, tapi ia lebih tidak ingin lagi hidup buruk dan menderita di akhirat nanti. Sedangkan  Allah سبحانه و تعالى menjanjikan bahwa jika ia menjadi penganut Islam yang baik dan benar, niscaya ia bakal memperoleh hidup yang baik di dunia dan hidup yang jauh lebih baik lagi di akhirat kelak nanti.</p>
<p>مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ<br />
حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ<br />
“Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS An-Nahl 97)</p>
<p>Yang sering mengecohkan manusia ialah kesalahfahaman mengenai makna “hidup yang baik di dunia.” Kebanyakan manusia modern mengartikannya sebagai hidup dengan berkecukupan dan kaya serta sukses meraih gelar akademis bahkan punya jabatan dan menjadi orang yang populer. Padahal tolok-ukur kesuksesan hidup di dunia, bagi seorang muslim, bukanlah itu. Kesuksesan diukur berdasarkan “taqwa”. Sedangkan taqwa ialah seberapa jauh seseorang menjalankan perintah-perintah Allah سبحانه و تعالى dan menjauhi larangan-larangan-Nya.</p>
<p>Seringkali karena seseorang patuh menjalankan perintah Allah سبحانه و تعالى (misalnya perintah berda’wah, amar ma’ruf dan nahi mungkar serta berjihad di jalan Allah) malah justeru dituduh sebagai pengacau, ekstrimis atau bahkan teroris, lalu dipenjara oleh penguasa zalim. Atau tatkala ia menjauhi larangan Allah سبحانه و تعالى (misalnya larangan mencuri/korupsi, berzina, memakan riba/bunga bank serta mentaati/berkompromi/berkoalisi dengan thaghut) malah ia dicap sebagai seorang yang kaku, radikal, kolot serta tidak progresif oleh kaum liberalis yang ingin hidup memperturutkan hawa-nafsu mereka. Apakah orang-orang seperti ini hidupnya tidak baik? Oh tidak, justeru inilah orang-orang yang sesungguhnya memperoleh “hidup yang baik di dunia” jika mereka tetap sabar dan istiqomah mematuhi Allah سبحانه و تعالى apapun resiko yang mesti mereka alami. Subhaanallah&#8230;.!</p>
<p>Setidaknya ada sepuluh alasan mengapa kita menganut agama Islam. Tiga alasan pertama sudah kita bahas pada tulisan sebelumnya Kenapa Kita Menganut Agama Islam? (bagian 1). Tiga alasan berikutnya telah kita bahas juga pada tulisan berjudul Kenapa Kita Menganut Agama Islam? (bagian 2).  Alasan-alasan sisanya ialah:</p>
<blockquote><p>Ketujuh</p></blockquote>
<p>, kita menganut agama Islam karena tidak mau menjadi orang yang berdusta sesudah mengaku beriman. Kita sadar bahwa sekedar berikrar syahadatain tidak serta-merta memastikan diri menjadi seorang yang benar imannya. Bahkan berpeluang masuk ke dalam golongan kaum munafik. Wa na’udzubillaahi min dzaalika&#8230;!</p>
<p>أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لا يُفْتَنُونَ وَلَقَدْ فَتَنَّا<br />
الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ<br />
“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: &#8220;Kami telah beriman&#8221;, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS Al-Ankabut 2-3)</p>
<p>Hidup seorang yang mengaku beriman pasti dipenuhi dengan ujian demi ujian dari Allah سبحانه و تعالى untuk menyingkap apakah dirinya seorang mukmin yang benar ucapannya ataukah seorang munafik yang terbiasa berdusta. Allah سبحانه و تعالى secara tegas menggolongkan kaum munafik yang suka berdusta sebagai orang-orang yang pada hakikatnya tidak beriman walau lisannya mengaku dirinya beriman.</p>
<p>وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ آمَنَّا بِاللَّهِ وَبِالْيَوْمِ الآخِرِ وَمَا هُمْ بِمُؤْمِنِينَ<br />
“Di antara manusia ada yang mengatakan: &#8220;Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian&#8221;, padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman.” (QS Al-Baqarah <img src='http://nabimuhammad.info/wp-includes/images/smilies/icon_cool.gif' alt="icon cool 10 Alasan Kita BerIslam" class='wp-smiley' title="10 Alasan Kita BerIslam" /> </p>
<blockquote><p>Kedelapan</p></blockquote>
<p>, kita menganut agama Islam karena menyadari bahwa iman tidak bisa diwarisi dari orangtua atau nenek moyang kita. Iman dan Islam bukanlah perkara yang secara otomatis diwariskan dari orang-tua kepada anak-keturunannya. Menjadi orang beriman harus melalui sebuah perjuangan memelihara iman dan tauhid serta kesungguhan doa kepada Allah سبحانه و تعالى agar senantiasa menunjuki kita jalan hidayah dan keselamatan di dunia dan di akhirat. Seorang ustadz yang alim dan sholeh tidak serta-merta mempunyai anak-keturunan yang juga alim dan sholeh. Jangankan seorang ustadz, bahkan seorang Nabiyullah-pun tidak selalu anaknya pasti menjadi orang beriman. Hal ini kita dapati di dalam kisah Nabiyullah Nuh ‘alaihis-salam.</p>
<p>وَنَادَى نُوحٌ رَبَّهُ فَقَالَ رَبِّ إِنَّ ابْنِي مِنْ أَهْلِي وَإِنَّ وَعْدَكَ الْحَقُّ وَأَنْتَ أَحْكَمُ<br />
الْحَاكِمِينَ قَالَ يَا نُوحُ إِنَّهُ لَيْسَ مِنْ أَهْلِكَ إِنَّهُ عَمَلٌ غَيْرُ صَالِحٍ فَلا تَسْأَلْنِي<br />
مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنِّي أَعِظُكَ أَنْ تَكُونَ مِنَ الْجَاهِلِينَ<br />
“Dan Nuh berseru kepada Rabbnya sambil berkata: &#8220;Ya Rabbku, sesungguhnya anakku, termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji Engkau itulah yang benar. Dan Engkau adalah Hakim yang seadil-adilnya.&#8221; Allah berfirman: &#8220;Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan), sesungguhnya (perbuatannya) perbuatan yang tidak baik. Sebab itu janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui (hakikat) nya. Sesungguhnya Aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan.&#8221; (QS Huud 45-46)</p>
<p>Allah سبحانه و تعالى menegur Nabi Nuh agar jangan menganggap puteranya yang condong memilih kafir daripada iman sebagai bagian dari keluarganya. Bahkan Allah melarang Nabi Nuh mengajukan permohonan doa yang mencerminkan seolah dirinya selaku Nabi tidak berpengetahuan dalam persoalan mendasar ini. Yaitu persoalan aqidah sebagai pengikat sejati antar manusia, bahkan antara anak dan ayah. Pengikat sejati antar manusia adalah iman dan tauhid, bukan darah dan garis keturunan.</p>
<p>Demikian pula dengan Nabi Muhammad صلى الله عليه و سلم . Beliau dengan tegas memperingatkan kepada anak-keturunannya agar jangan mengandalkan garis keturunan sebagai hal yang otomatis mendatangkan keistimewaan dibandingkan orang lainnya yang tidak bergaris keturunan hingga ke Nabi Muhammad صلى الله عليه و سلم . Tidak mentang-mentang seseorang merupakan bagian dari ahli bait Rasulullah صلى الله عليه و سلم kemudian ia menjadi yakin dan pasti bahwa dirinya bakal masuk surga dan memperoleh syafaat dari Nabi Muhammad صلى الله عليه و سلم . Tidak&#8230;!<br />
إن أهل بيتي هؤلاء يرون أنهم أولى الناس بي وليس كذلك إن أوليائي منكم المتقون من كانوا و حيث كانوا &#8211; إسناده صحيح رجاله كلهم ثقات<br />
“Ahli Baitku berpandangan bahwa mereka adalah orang-orang yang paling berhak mendapat syafaatku, padahal tidaklah demikian. Sesungguhnya para waliku di antara kamu sekalian adalah yang bertaqwa, siapapun dia dan dimanapun adanya.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Ashim dalam “As-Sunnah” dan dipandang shahih oleh Al Al-Bani dalam takhrij beliau)</p>
<blockquote><p>Kesembilan</p></blockquote>
<p>, kita menganut agama Islam karena faham bahwa zaman yang sedang berlangsung dewasa ini merupakan era penuh fitnah dimana ancaman utama ialah munculnya gejala “murtad tanpa sadar”. Sehingga Nabi Muhammad صلى الله عليه و سلم menggambarkannya seperti sepenggal malam yang gelap-gulita.</p>
<p>بَادِرُوا بِالْأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ<br />
يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا أَوْ يُمْسِي مُؤْمِنًا<br />
وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنْ الدُّنْيَا<br />
Nabi صلى الله عليه و سلم bersabda: &#8220;Segeralah kalian beramal sebelum datangnya fitnah-fitnah seperti malam yang gelap gulita. Di pagi hari seorang laki-laki masih dalam keadaan mukmin, lalu menjadi kafir di sore harinya. Di sore hari seorang laki-laki masih dalam keadaan mukmin, lalu menjadi kafir di pagi harinya. Dia menjual agamanya dengan barang kenikmatan dunia.&#8221;<br />
(HR Muslim -Shahih)</p>
<p>Hadits di atas menggambarkan dengan tepat sekali kondisi dunia dewasa ini. Bila jujur dalam menilai, semua kita pasti merasakan betapa fitnah telah merebak ke segenap lini kehidupan. Entah itu fitnah ideologi, politik, sosial, ekonomi, budaya, hukum, pendidikan, media, militer dan lain-lainnya. Sehingga Nabi Muhammad صلى الله عليه و سلم tidak mengatakan bahwa gejala yang muncul ialah “di pagi hari seorang lelaki berbuat kebaikan, lalu berbuat kejahatan di sore harinya.” Tidak, Nabi tidak berkata demikian..! Sebab sejahat-jahatnya seseorang, namun bila iman dan tauhid masih bersemayam di dalam dadanya, ia masih berpeluang diampuni Allah سبحانه و تعالى . Jelas-tegas Nabi muhammad صلى الله عليه و سلم mengatakan “pagi beriman, sorenya kafir..!” Gejala “murtad tanpa sadar” inilah yang harus kita waspadai..!</p>
<p>Dalam hadits lainnya, kita temukan prediksi Nabi muhammad صلى الله عليه و سلم yang dengan tepat menggambarkan keadaan kaum muslimin dewasa ini.</p>
<p>لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ<br />
حَتَّى لَوْ دَخَلُوا فِي جُحْرِ ضَبٍّ لَاتَّبَعْتُمُوهُمْ<br />
قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ آلْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ فَمَنْ<br />
Rasulullah صلى الله عليه و سلم bersabda: &#8220;Sungguh, kalian benar-benar akan mengikuti kebiasaan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta, sehingga sekiranya mereka masuk ke dalam lubang biawak sekalipun kalian pasti akan mengikuti mereka.&#8221; Kami bertanya; &#8220;Wahai Rasulullah, apakah mereka itu kaum Yahudi dan Nasrani?&#8221; Beliau menjawab: &#8220;Siapa lagi kalau bukan mereka?&#8221; (HR Muslim &#8211; Shahih)</p>
<p>Tidakkah seperti itu kondisi sebagian besar kaum muslimin dewasa ini? Mereka mengekor secara membabi-buta kepada “the western civilization” (peradaban barat) yang tidak lain ialah “the judeo-christian civilization” (peradaban yahudi-nasrani) yang sedang mendominasi dunia saat ini. Dalam berideologi meyakini faham sekularisme, humanisme, pluralisme dan liberalisme. Dalam berhukum menolak hukum Allah سبحانه و تعالى dan membanggakan hukum produk manusia. Dalam berbudaya menjadikan syahwat sebagai tujuan bukan dzikrullah (mengingat Allah). Menjadikan riba sebagai praktek utama berekonomi yang diterima tanpa peduli larangan dan ancaman Allah سبحانه و تعال. Ikatan sosial dirajut berlandaskan faham nasionalisme bukan aqidah tauhid sebagaimana yang Allah perintahkan. Dalam berpolitik menjadikan faham Machiavelli (tujuan menghalalkan segala cara) serta demokrasi sebagai acuan utama, bukannya memperjuangkan tegaknya kedaulatan Allah سبحانه و تعالى dengan menerapkan syariah Islam sebagai aturan bersama. Media menjadi sarana penyebar-luasan kebohongan, kerusakan, humbar aurat, kelalaian bahkan kemusyrikan, bukan menjadi penerang yang menyadarkan manusia akan hakikat dan tujuan hidupnya. Sekolah formal sebagai sarana utama pendidikan malah menjadi penyebab utama disintegrasi keluarga serta tempat dimana anak belajar menjadi nakal dan mempersekutukan Allah, bukan menjadi santun dan ber-tauhid.</p>
<p>Pantas bilamana Allah سبحانه و تعالى memperingatkan kita akan bahaya kaum yahudi dan nasrani yang selalu menginginkan kaum muslimin mengekor kepada millah (baca: jalan hidup) mereka. Bahkan Allah سبحانه و تعالى memperingatkan kita bahwa jika loyalitas diserahkan kepada kaum yahudi dan nasrani, maka Allah tidak lagi memandang kita masih beragama Islam, alias murtad..!</p>
<p>وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَى وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلا نَصِيرٍ<br />
“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti millah mereka. Katakanlah: &#8220;Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)&#8221;. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” (QS Al-Baqarah 120)</p>
<p>Allah jelas-tegas menyatakan bahwa &#8220;Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)&#8221;. Islam itulah petunjuk Allah. Islam itulah petunjuk yang benar. Mengapa sebagian kita mengikuti petunjuk kaum yahudi dan nasrani? Pantas dewasa ini sebagian besar kaum muslimin tidak merasakan pertolongan dan perlindungan Allah, sebab mereka sibuk mencari pertolongan dan perlindungan dari kaum yahudi dan nasrani..!</p>
<p>يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ<br />
بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ<br />
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS Al-Maidah 51)</p>
<blockquote><p>Kesepuluh</p></blockquote>
<p>, kita menganut agama Islam karena sadar bahwa saat ini kaum muslimin sedang hidup di babak keempat perjalanan sejarah ummat Islam. Dan babak ini merupakan “the darkest ages of the Islamic era” (babak paling kelam dalam sejarah Islam). Di babak ini kaum muslimin hidup di bawah dominasi kepemimpinan mulkan jabbriyyan (para penguasa yang memaksakan kehendak dan mengabaikan kehendak Allah dan Rasul-Nya). Belum pernah di dalam sejarah ummat Islam kita mengalami babak yang lebih kelam daripada babak ini. Simak hadits Nabiصلى الله عليه و سلم berikut ini:</p>
<p>تَكُونُ النُّبُوَّةُ فِيكُمْ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةٌ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِفَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا عَاضًّا فَيَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا جَبْرِيَّا فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ ثُمَّ سَكَتَ<br />
“Masa (1)kenabian akan berlangsung pada kalian dalam beberapa tahun, kemudian Allah mengangkatnya, setelah itu datang masa (2)Kekhalifahan mengikuti pola (Manhaj) Kenabian, selama beberapa masa hingga Allah mengangkatnya, kemudian datang masa (3)Raja-raja yang Menggigit selama beberapa masa, selanjutnya datang masa (4)Raja-raja/para penguasa  yang Memaksakan kehendak (diktator) dalam beberapa masa hingga waktu yang ditentukan Allah, setelah itu akan terulang kembali (5)Kekhalifahan mengikuti pola (Manhaj) Kenabian. Kemudian Rasul SAW terdiam.” (HR Ahmad &#8211; Shahih)</p>
<p>Pada babak ketiga kaum muslimin sempat mengalami kepemimpinan yang juga bermasalah karena yang memimpin adalah para khalifah yang dijuluki Nabi صلى الله عليه و سلم sebagai mulkan aadhdhon (para raja yang menggigit). Mengapa? Sebab pada masa itu pergantian khalifah bak sistem kerajaan yaitu diwariskan dalam lingkup keluarga raja secara turun-temurun. Sehingga mereka dijuluki para raja. Lalu mengapa disebutmenggigit? Karena tidak sedikit di antara mereka yang memang berlaku zalim secara pribadinya, namun betapapun para kahliafah tersebut masih memenuhi kriteria sebagai ulil amri dalam hal kepemimpinannya dimana bila ada perselisihan, mereka masih menjadikan Allah (Al-Qur’an) serta Ar-Rasul (As-Sunnah) sebagai rujukan utama. Tidak demikian halnya di babak keempat dewasa ini. Para pemimpin dan pembesar yang ada mengambil rujukan selain Al-Qur’an dan As-Sunnah dalam menyelesaikan persoalan masyarakat di dalam negara yang dipimpinnya. Inilah hal yang paling membedakan antara babak ketiga dengan babak keempat perjalanan sejarah ummat Islam. Di babak ketiga ummat masih merasakan kepemimpinan “ulil amri” sedangkan di babak keempat ummat tidak memiliki “ulil amri” sebab yang ada hanyalah para “pemimpin dan pembesar” yang mengajak masyarakat bukan menuju keridhoan Allah سبحانه و تعالى , malah menuju kemurkaan-Nya. Wa na’udzubillaahi min dzaalika..!</p>
<p>يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الأمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلا<br />
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur&#8217;an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”<br />
(QS An-Nisa 59)</p>
<p>يَوْمَ تُقَلَّبُ وُجُوهُهُمْ فِي النَّارِ يَقُولُونَ يَا لَيْتَنَا أَطَعْنَا اللَّهَ<br />
وَأَطَعْنَا الرَّسُولا وَقَالُوا رَبَّنَا إِنَّا أَطَعْنَا سَادَتَنَا وَكُبَرَاءَنَا فَأَضَلُّونَا السَّبِيلا<br />
رَبَّنَا آتِهِمْ ضِعْفَيْنِ مِنَ الْعَذَابِ وَالْعَنْهُمْ لَعْنًا كَبِيرًا<br />
Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikkan dalam neraka, mereka berkata: &#8220;Alangkah baiknya, andai kata kami taat kepada Allah dan taat (pula) kepada Rasul&#8221;. Dan mereka berkata: &#8220;Ya Rabb kami, sesungguhnya kami telah mentaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar). Ya Rabb kami, timpakanlah kepada mereka azab dua kali lipat dan kutuklah mereka dengan kutukan yang besar&#8221;.<br />
(QS Al-Ahzab 66-68)</p>
<p>Ya Allah, ajarkanlah kami bagaimana caranya beristiqomah menjadikan Kitab-Mu dan Sunnah Nabi-Mu Muhammad صلى الله عليه و سلم sebagai pemimpin kami di era fitnah ketiadaan ulil amri dewasa ini&#8230;</p>
<p>http://bolehjadikiamatsudahdekat.com/index.php?option=com_content&#038;view=article&#038;id=302:kenapa-kita-menganut-agama-islam-bagian-3-tamat&#038;catid=1:latest-news&#038;Itemid=55</p>
<h4  class="related_post_title">Related Post</h4><ul class="related_post"><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/ketika-rasulullah-menggoda-aisyah/" title="Ketika Rasulullah Menggoda Aisyah"><img src="Array" alt=" 10 Alasan Kita BerIslam"  title="10 Alasan Kita BerIslam" /></a>December 21, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/ketika-rasulullah-menggoda-aisyah/" title="Ketika Rasulullah Menggoda Aisyah">Ketika Rasulullah Menggoda Aisyah</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/zaid-bin-haritsah/" title="Zaid Bin Haritsah"><img src="Array" alt=" 10 Alasan Kita BerIslam"  title="10 Alasan Kita BerIslam" /></a>December 23, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/zaid-bin-haritsah/" title="Zaid Bin Haritsah">Zaid Bin Haritsah</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/10/identitas-para-penyerang-mavi-marmara-terkuak-lewat-fb/" title="Identitas Para Penyerang Mavi Marmara Terkuak Lewat FB"><img src="Array" alt=" 10 Alasan Kita BerIslam"  title="10 Alasan Kita BerIslam" /></a>October 10, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/10/identitas-para-penyerang-mavi-marmara-terkuak-lewat-fb/" title="Identitas Para Penyerang Mavi Marmara Terkuak Lewat FB">Identitas Para Penyerang Mavi Marmara Terkuak Lewat FB</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/10/palestina-masuk-unesco-marah-besar-ancam-hentikan-donasi/" title="Palestina Masuk UNESCO, Marah Besar AS Ancam Hentikan Donasi"><img src="Array" alt=" 10 Alasan Kita BerIslam"  title="10 Alasan Kita BerIslam" /></a>October 10, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/10/palestina-masuk-unesco-marah-besar-ancam-hentikan-donasi/" title="Palestina Masuk UNESCO, Marah Besar AS Ancam Hentikan Donasi">Palestina Masuk UNESCO, Marah Besar AS Ancam Hentikan Donasi</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2010/04/ali-bin-abi-thalib/" title="Ali "><img src="Array" alt=" 10 Alasan Kita BerIslam"  title="10 Alasan Kita BerIslam" /></a>April 12, 2010 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2010/04/ali-bin-abi-thalib/" title="Ali ">Ali </a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2012/01/hukum-membuat-patung-dalam-islam/" title="Hukum Membuat Patung Dalam Islam"><img src="Array" alt=" 10 Alasan Kita BerIslam"  title="10 Alasan Kita BerIslam" /></a>January 2, 2012 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2012/01/hukum-membuat-patung-dalam-islam/" title="Hukum Membuat Patung Dalam Islam">Hukum Membuat Patung Dalam Islam</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/paman-bibi-nabi/" title="Paman Dan Bibi Nabi"><img src="Array" alt=" 10 Alasan Kita BerIslam"  title="10 Alasan Kita BerIslam" /></a>December 30, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/paman-bibi-nabi/" title="Paman Dan Bibi Nabi">Paman Dan Bibi Nabi</a> (0)</li><li><a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/membaca-bismillah-sebelum-makan/" title="Membaca Bismillah Sebelum Makan"><img src="Array" alt=" 10 Alasan Kita BerIslam"  title="10 Alasan Kita BerIslam" /></a>December 28, 2011 -- <a href="http://nabimuhammad.info/2011/12/membaca-bismillah-sebelum-makan/" title="Membaca Bismillah Sebelum Makan">Membaca Bismillah Sebelum Makan</a> (0)</li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nabimuhammad.info/2011/12/10-alasan-kita-berislam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

