Pages Navigation Menu
Categories Navigation Menu

Halimah

Posted in Ibu Asuh & Ibu Susu Nabi

images251 Halimah
Halimah As Sa’diyah (Arab:حليمة السعدية) adalah ibu susu dari Nabi Muhammad. Ia dan suaminya berasal dari suku Hawazin. Halimah As-Sa’diyah memiliki beberapa nama, yaitu Halimah binti Abdullah dan Halimah bint Abi Dhuayb.

Inilah sosok wanita dari Bani Sa’ad yang benar benar mulia dan beruntung. karena dia yang menyusui Rasulullah Shalallahu alaihi wa salam.

Wanita mulia tersebut adalah Halimah bintu Abdullah bin Al Harits As Sa’diyah. Suaminya adalah Al-Harits bin abdul Izzi bin Rifa’ah As Sa’di. Anak-anaknya adalah Abdullah, Anisah, dan Khadzdzamah. Anak-anak Al-Harits ini semuanya bertompel. Mereka semua adalah saudara sepersusuan Nabi Shalallahu alaihi wa salam.
Halimah juga menyusui Abu Sufyan bin Al Harits bin Abdul Muthalib, anak paman Rasulullah Shalallahu alaihi wa salam.

Mencari anak susuan

Halimah as Sa’diyah adalah wanita arab yang sangat terkenal karena menjadi ibu rasulullah Shalallahu alaihi wa salam. Halimah menceritkan tentang penyusuannya dengan panjang lebar dan komprehensif. Ia mengatakan “suatu ketika aku keluar bersama para wanita bani Sa’ad untuk mencari anak susuan. waktu itu adalah tahun yang sangat sulit (paceklik). Kami mengendarai keledai putih dan kurus. Kami membawa serta unta betina yang tidak mengandung air susu setetespun. Kami semua tidak pernah tidur di malam hari karena bayi kami yang selalu menangis karena rasa lapar. Puting kami tidak lagi menyediakan apa yang mencukupinya.

Unta betina kami tidak pula menyediakan apa-apa yang mengenyangkannya. Kami selalu berharap hujan dan jalan keluar. Sampai kami sengaja datang ke Mekah. Setiap wanita yang diperlihatkan kepada Nabi Shalallahu alaihi wa salam merasa enggan untuk mengasuhnya, setelah dikatakan bahwa dirinya adalah anak yatim, dikarenakan kami selalu menaruh harapan kebaikan dari ayah si anak asuh. Kami berkata, ‘ia yatim, apa gerangan yang akan diperbuat oleh ibu atau kakeknya?’ oleh karena itu, kami tidak tertarik. tidak ada dari wanita wanita yang bersamaku mengambilnya, selain diriku. ketika rombongan kami sepakat untuk pulang, aku berbicara dengan suamiku. ‘Demi Allah, sungguh aku tidak suka untuk pulang bersama kawan kawan wanita yang lain, sebelum mendapatkan anak susuan. Demi Allah, aku akan pergi menuju anak susuan yang yatim itu, dan pasti aku akan mengambilnya’. Ia berkata ‘Lakukan itu, semoga Allah memberi kita berkah lantaran anak itu’. aku pergi menuju anak itu dan mengambilnya.

images122 Halimah
Berkah Yang Melimpah

Berkah melimpah kepada Halimah dan suaminya setelah mengambil Nabi Shalallahu alaihi wa salam. Akan tetapi Halimah dan suaminya merasa lapar dan haus. Namun darimana mereka mendapatkan makanan karena unta betinanya susunya tidak berisi?
Seketika mereka berdua lupa akan keadaan dirinya. Keadaan telah berubah dalam sekejap. Keadaan ini diriwayatkan sendiri oleh Halimah. Ia berkata, “Suamiku bangkit menuju unta betina milik kami. ternyata susunya sangat penuh. Ia memerahnya untuk diminum bersamaku hingga ia puas dan kenyang. Sehingga kami tertidur di malam yang sangat baik itu. Ketika pagi suamiku berkata,’Demi Allah , wahai Halimah. Engkau telah mengambil orang yang penuh dengan berkah’.

Aku mengatakan,’Demi Allah, itulah yang kuharapkan’
Kemudian kami serombongan bepergian dengan menunggang keledai, Kubawa serta anak itu. Demi Allah, jarak itu kutempuh dengan tunggangnku jauh lebih cepat daripada keledai keledai orang lain, sehingga para kawanku berkata padaku,’Wahai anak serigala,sial engkau! temani kami! Bukankah ini keledaimu yang dulu kau tunggangi saat bepergian?
Kukatakan pada mereka,’Ya, Demi Allah benar. Keledai ini adalah keledai yang dulu itu’. mereka mengatakan, ‘Demi Allah, sekarang keledaimu tidak seperti dulu’

Rombongan tiba di daerah pedalaman bani Sa’ad yang terlihat bekas bekas kekeringan di tahun itu. Halimah telah melihat berkah anak yatim itu. Kebaikan telah memancar padanya dari segala penjuru. keberkahan meliputinya dalam segala hal Kambing kambingnya selalu keluar menuju ke tempat penggembalaan bersama kambing kambing orang lain. Ketika kembali ke kandang selalu dengan susu yang penuh. Sedangkan kambing kambing yang lain pulang dalam keadaan sebagaimana ketika pergi. Sehingga kaumnya mencerca tukang gembala mereka, ‘Sial kalian! kalian pergi menggembala sebagaimana penggembala anak perempuan Abu Dzuaib. akan tetapi hasilnya sangat berbeda’.
Demikianlah hari hari Halimah hingga berjalan selama dua tahun.

Kembali Mengasuh Rasulullah Shalallahu alaihi wa salam

Setelah menyusuinya selama 2 tahun, Halimah harus membawanya pulang kembali ke pangkuan ibu kandungnya, Aminah, di Makkah al Mukarramah. Halimah membawanya pada sang ibu, sekalipun sangat ingin agar anak asuhnya tetap bersamanya karena melihat besarnya berkah pada diri Nabi Shalallahu alaihi wa salam.
Aminah sangat berbahagia dengan anaknya yang mulia. Khususnya ketika melihatnya sedemikian suci dan tumbuh laksana anak berumur 4 tahun, padahal belum lebih dari 2 tahun. Halimah berbicara sangat lembut kepada Aminah, mengharap agar mengizinkan anaknya kembali ke pedalaman lagi. Aminah mengizinkannya, Halimah kembali ke pedalaman dengan anak asuhnya.
Demikianlah, Nabi Shalallahu alaihi wa salam tinggal di tengah-tengah bani Sa’ad sampai berumur 4 atau 5 tahun dari hari lahirnya hingga terjadinya peristiwa ‘pembelahan dada’. Setelah kejadian ini Halimah merasa takut sehingga mengembalikannya kepada ibu kandungnya.

Halimah kembali ke daerah pedalaman. Dia tinggal di sana beberapa tahun. Selanjutnya, ketika Allah Ta’ala mengutus Muhammad Shalallahu alaihi wa salam kepada seluruh manusia, maka Halimah as Sa’diyah masuk Islam bersama suami dan anak-anaknya.

Kedudukan Halimah

Halimah berkedudukan mulia di sisi Rasulullah Shalallahu alaihi wa salam. Tidak ada kehormatan dan kelembutan yang lebih baik daripada yang diberikan kepada ibu asuhnya, Halimah. Bukti sikap beliau Shalallahu alaihi wa salam yang sangat menghormati Halimah, yaitu ketika menyambut kedatangan Halimah dengan berteriak “Ibuku, Ibuku” lalu beliau membentangkan sorbannya untuk ibu asuhnya itu sebagai bukti bakti dan kebaikan beliau kepadanya.

Wafatnya

Halimah masuk Islam dan berhijrah. Ia meninggal di Madinah Munawwarah, lalu dimakamkan di Baqi’. Makam Halimah Radhiallahu anha sangat dikenal di sana. Semoga Allah mengangkat derajatnya bersama para shahabat nabi yang lain (Abu Fathimah)

facebook Halimah twitter Halimah google plus Halimah share save 171 16 Halimah
Read More

Ibu Asuh & Ibu Susu Nabi

Posted in Ibu Asuh & Ibu Susu Nabi

Ibu Asuh Nabi SAW semasa kecilnya adalah :

1. Aminah binti Wahab bin Abdu manaf bin Zuhrah bin Kilaab, ibu beliau
SAW.
2. Tsuwaibah (yang juga ibu susu beliau)
3. Halimah As-sa’diyah (juga ibu susu beliau)
4. Syaimaa’ anak perempuan Halimah As-Sa’diyah yang juga merupakan saudara sepesusuan Nabi SAW (ia mengasuhnya bersama ibunya).
5. Ummu Aiman Barakah Al-Habasyiyah, seorang hamba sahaya yang beliau warisi dari ayah beliau. Ummu Aiman ini yang beliau nikahkan dengan Zaid bin Haritsah, lalu mempunyai anak bernama Usamah bin Zaid.

Ibu susu Nabi SAW
1. Tsuwaibah, seorang hamba sahaya Abu Lahab yang sudah dimerdekakan. Tetapi ia hanya menyusui beliau dalam beberapa hari saja. Waktu itu Tsuwaibah juga menyusui seorang anak yang bernama ‘Abdullah bin Abdul Asad Al-Makhzumiy (Abu Salamah), disamping menyusui anaknya sendiri yang bernama Masruh.
2. Halimah As-Sa’diyah, seorang perempuan dari qabilah Bani Sa’ad. Setelah Nabi SAW disusui beberapa hari oleh Tsuwaibah, kemudian beliau disusui oleh Halimah As-Sa’diyah. Pada waktu itu Halimah sedang menyusui anaknya sendiri yang bernama ‘Abdullah (saudaranya Anisah dan Syaimaa’) anaknya Al-Haarits bin ‘Abdul ‘Uzza bin Rifaa’ah As-Sa’diy. Halimah As-Sa’diyah menyusui Nabi SAW hampir dua tahun, disamping itu Halimah As-Sa’diyah juga pernah menyusui Hamzah bin ‘Abdul Muththalib selama satu hari. Disamping itu Halimah As-Sa’diyah juga pernah menyusui Abu Sufyan bin Al Haarits bin ‘Abdul Muththalib (anak paman Nabi SAW).

Saudara sepesusuan Nabi SAW
1. ‘Abdullah bin Abdul Asad Al-Makhzumiy
2. Masruh
3. Hamzah bin ‘Abdul Muththalib
4. ‘Abdullah bin Al-Haarits
5. Anisah binti Al-Haarits
6. Syaimaa’ binti Al-Haarits
7. Abu Sufyan bin Al-Haarits bin ‘Abdul Muththalib

facebook Ibu Asuh & Ibu Susu Nabitwitter Ibu Asuh & Ibu Susu Nabigoogle plus Ibu Asuh & Ibu Susu Nabishare save 171 16 Ibu Asuh & Ibu Susu Nabi
Read More