Tabayyun adalah memeriksa dengan teliti.  Tatsabbut adalah berhati-hati dan tidak tergesa-gesa. melihat dengan keilmuan yang dalam terhadap sebuah peristiwa dan kabar yang datang, sampai menjadi jelas dan terang baginya.” [ Imam Asy Syaukani rahimahullah dalam Fathul Qadir, 5:65 ].

Dari aspek bahasa, kata tabayyun memiliki 3 pengertian yang berdekatan seperti berikut :

1) Mencari kejelasan suatu masalah hingga tersingkap dengan jelas kondisi yang sebenarnya.
2) Mempertegas hakikat sesuatu.
3) Berhati-hati terhadap sesuatu dan tidak tergesa-gesa.

Allah berfirman dalam Al Quran surat Al Hujuraat ayat 6 :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ الحجرات

Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.

Menurut Istilah Syara’

Tabayyun adalah Kehati-hatian terhadap informasi yang beredar terkait dengan kaum muslimin dan didasari dengan pemahaman yang mendalam.

Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam Al Quran surat An Nuur ayat 15 :

إِذْ تَلَقَّوْنَهُ بِأَلْسِنَتِكُمْ وَتَقُولُونَ بِأَفْوَاهِكُمْ مَا لَيْسَ لَكُمْ بِهِ عِلْمٌ وَتَحْسَبُونَهُ هَيِّنًا وَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ عَظِيمٌ النور

(Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia pada sisi Allah adalah besar.

Firman Allah dalam surat An Nuur 15 itu sendiri merupakan penjelasan terhadap peristiwa haditsul ifki [ berita bohong ] berupa fitnah keji yang dihembuskan oleh Abdullah bin Ubay seorang dedengkot munafik kepada Aisyah Radhiallahu ‘Anha. Dan kemudian Allah memberikan petunjuk bahwa Aisyah suci dari segala fitnah, dan juga petunjuk bagaimana sikap yang harus diambil untuk menghadapi fitnah.

 

Cara Bertabayyun Yang Baik

1) Mengembalikan permasalahan kepada Allah dan Rasul-Nya serta ahli terkait.

Allah berfirman dalam Al Quran surat An Nisaaayat 83 :

قال سبحانه وَإِذَا جَاءَهُمْ أَمْرٌ مِنَ الْأَمْنِ أَوِ الْخَوْفِ أَذَاعُوا بِهِ وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَى أُولِي الْأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنْبِطُونَهُ مِنْهُمْ وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لَاتَّبَعْتُمُ الشَّيْطَانَ إِلَّا قَلِيلًا النساء

Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan atau pun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri). Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut setan, kecuali sebahagian kecil saja (di antaramu).

2) Bertanya Langsung Kepada Pelaku Utama.

يا حاطب ما هذا ؟ فقال : يا رسول الله لا تعجل على إني كنت امرءا ملصقا من المهاجرين من لهم قرابات يحمون بها أهلهم وأموالهم فأحببت إذا فاتني ذلك من النسب فيهم أن أتخذ عندهم يدا يحمون قرابتي ولم أفعله ارتدادا عن ديني ولا رضا بالكفر بعد الإسلام فعذره النبي صلى الله عليه وسلم وقال  أما إنه قد صدقكم

Sikap Rasulullah saw menyikapi Hatib bin Balta’ah dengan memanggilnya lalu bertanya : kenapa engkau melakukannya ? Wahai Rasulullah. Janganlah tergesa-gesa. Saya adalah orang muhajirin yang memiliki sanak keluarga yang berusaha melindungi keluarganya. Karena saya tidak bisa melakukannya, maka saya mencoba mencari orang yang dapat melindungi kerabatku. Saya melakukannya bukan karena murtad dari Islam dan bukan karena saya telah kafir. Lalu Rasulullah menerima alasannya dengan mengatakan, “ia jujur”.

3) Mendengar Dengan Seksama dan Mericek Terus-Menerus Jika Memang Dibutuhkan.

Ketika Ali ra diberikan bendera perang Khaibar maka dengan segera ia bergegas berangkat. Tapi di tengah perjalanan ia kebingungan tentang missi peperangan yang diembannya. Ia pun berbalik arah ke Madinah demi menanyakan missi peperangan tersebut Kepada Rasulullah Saw

علام أقاتل الناس ؟ فيرد عليه النبي صلى الله عليه وسلم قاتلهم حتى يشهدوا أن لا إله إلا الله وأن محمداً عبده ورسوله ، فإذا فعلوا ذلك فقد منعوا منا دماءهم وأموالهم إلا بحقها وحسابهم على الله “.

Dengan tujuan apa saya memerangi mereka ? Rasulullah menjawab, “perangilah merka hingga mereka masuk Islam (bersayhadat). Jika mereka telah melakukannya, maka darah dan harta mereka haram kita sentuh kecuali dengan alasan yang benar……

4) Melakukan Pengecekan Khusus Melalui Pengamatan dan Pertemanan.

Ketika ada seseorang memuji orang lain di sampingnya, Umar bin Khattab lalu berkata, “Apakah kamu pernah bepergian bersamanya ? Ia menjawab : tidak. Umar melanjutkan : apakah kamu pernah mengadakan transaksi binis dengannya ? Katanya : tidak. Kata umar : kalau begitu, kamu diam saja. Saya pikir kamu hanya pernah melihatnya di masjid sambil mengangkat dan menundukkan kepalanya.

5) Bertemu Secara Langsung Setelah Menjaring Informasi dari Pihak-Pihak yang Bertengkar.

Ketika Ali bin Abi Thalib hendak diutus sebagai hakim ke Yaman, Rasulullah mengarahkannya dengan berkata,

” إن الله سيهدى قلبك ، ويثبت لسانك ، فإذا جلس بين يديك الخصمان فلا تقضين حتى تسمع من الآخر كما سمعت من الأول ، فإنه أحرى أن يتبين لك القضاء “.

“Semoga Allah senantiasa memberimu petunjuk dan meneguhkan lisanmu. Jika fihak berperkara menghadap kepadamu, maka jangan sekali-kali memutuskan perkara tanpa mendengar kedua belah fihak. Karena yang demikian akan memudahkan kamu memutuskan perkara dengan baik”.