Dengan memahami apa itu hakikat syafa’at yang sesungguhnya, sepatutnya umat Islam hanya meminta syafa’at kepada Allah.

Allah berfirman dalam Al Quran surat As Sajdah [32] ayat 4 :

 اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ مَا لَكُمْ مِنْ دُونِهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلا شَفِيعٍ أَفَلا تَتَذَكَّرُونَ

Allah-lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘arsy. Tidak ada bagi kamu selain daripada-Nya seorang penolong pun dan tidak (pula) seorang pemberi syafa’at. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?

 

Karena hanya Allahlah yang memiliki syafa’at. Barangsiapa yang meminta syafaaat hanya kepada selain Allah, pada hakekatnya dia telah berdoa kepada selain Allah.

Ini merupakan salah satu bentuk kesyirikan, meskipun dia meminta kepada Nabi shalallhu ‘alaihi wa sallam. Dengan demikian,  salah ketika orang yang meminta syafaat mengatakan  : “Wahai Nabi, berilah aku syafaat”, atau “ Wahai Nabi, syafaatilah aku”, dan yang semisalnya.

Syafaat hanya milik Allah dan Nabi tidak bisa memberikan syafaat tanpa ridho dan izin dari-Nya.

Sehingga, tidak boleh meminta syafaat kepada makhluk, termasuk kepada Nabi sekalipun. Mengapa? Karena meminta syafaat adalah termasuk doa permintaan. Seseorang yang meminta syafaat kepada selain Allah berarti dia telah berdoa kepada selain Allah.

Doa adalah ibadah yang harus ditujukan kepada Allah dan tidak boleh ditujukan kepada selain-Nya. Barang siapa yang beribadah kepada selain Allah dia telah melakukan syirik akbar.

Demikian pula bagi orang yang meminta syafaat kepada selain Allah dia telah berbuat syirik akbar. [Lihat Syarhu al Qowaaidil Arba’, Syaikh Sholeh Alu Syaikh]

Sebelumnya telah dijelaskan siapa saja pemberi syafa’at. Rasulullah dan orang orang shalih bisa memberi syafa’at saat di akhirat nanti.

Tetapi penting dipahami agar tidak terjebak meminta syafaat langsung kepada selain Allah, termasuk kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hal ini bukan berarti kita mengingkari adanya syafaat Nabi. Tetapi syafaat itu hanyalah milik Allah.

Bagaimana Allah hendak memberikan syafaat-Nya kepada seseorang sementara dia berbuat syirik dengan meminta syafaat kepada Nabi? Pantaskah bagi kita tatkala Allah telah menetapkan bahwa syafaat hanya milik-Nya, kemudian kita justru meminta kepada Nabi?

Lalu bagaimana dalam konteks Nabi dan orang orang shaleh bisa memberi syafa’at ?

Nabi dan orang orang shlaih bisa memberi syafa’at setelah kita meminta syafa’at kepada Allah SWT. Dan kemudian memohon agar Allah meridhoi Rasulullah untuk memberi syafaat kepada kita.

Jadi yang pertama, kita meminta kepada Allah untuk memberi syafaatNya. Baru kemudian meminta syafaat kepada Rasulullah. Dengan terlebih dulu mengajukan permohonan kepada Allah agar mengijinkan Rasululah memberi syafa’atnya kepada kita.

Wallahu alam bi shawab.

Syafa’at

Syafa’at  •  Syafa’at Hanya Milik Allah •  Nabi Muhammad Pemberi Syafa’at  •  Siapa Saja Pemberi Syafa’at Syarat Syafa’at • Tiga Amalan Yang Akan Menjadi Syafa’at