بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Allah Ta’ala bersumpah bagi kepentingan Rasulullah ﷺ. Sumpah yang demikian merupakan puncak penghargaan, pengagungan dan pernyatan kepentingan diri Rasulullah ﷺ.

I. Allah Ta’ala berfirman dalam Al Quran surat Adh Dhuhaa [93] ayat 1- 5 :

وَالضُّحَى 1

Demi waktu matahari sepenggalahan naik,

وَاللَّيْلِ إِذَا سَجَى 2

dan demi malam apabila telah sunyi,

 مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَى 3

Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula) benci kepadamu,

 وَلَلآخِرَةُ خَيْرٌ لَكَ مِنَ الأولَى 4

dan sesungguhnya akhir itu lebih baik bagimu dari permulaan.

 وَلَسَوْفَ يُعْطِيكَ رَبُّكَ فَتَرْضَى 5

Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi puas.

Pada ayat di atas ada beberapa pernyataan sebagai sumpah Alah untuk Rasulullah ﷺ.  Sumpah itu memberitahukan keadaan Rasulullah ﷺ dan menerangkan kedudukannya di sisi Allah ﷻ.

‘ ….. Tuhanmu tiada meninggalkanmu dan tiada [pula] benci kepadamu …’

Sumpah itu menjelaskan apa yang akan diterima oleh Nabi Muhammad ﷺ di akhirat dan bahwa apa yang akan diterima itu lebih besar dari apa yang diterima di dunia ini,

‘… dan sesungguhnya akhir itu lebih baik bagimu dari permulaan ..’

Juga menerangkan kemurahan Allah Ta’ala yang telah memberikan aneka hal, sehingga Nabi ﷺ merasa ridha,

..Kelak Tuhanmu pasti akan memberikan karuniaNya kepadamu, lalu hati [kamu] menjadi puas ..’

II. Allah Ta’ala berfiman dalam Al Quran surat An Najm [53] ayat 1 – 4 :

 وَالنَّجْمِ إِذَا هَوَى 1

Demi bintang ketika terbenam,

 مَا ضَلَّ صَاحِبُكُمْ وَمَا غَوَى 2

kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru,

 وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى 3

dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya.

 إِنْ هُوَ إِلا وَحْيٌ يُوحَى 4

Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)

III. Allah berfirman dalam Al Quran surat Al Qalam [68] ayat 1 – 4 :

 ن وَالْقَلَمِ وَمَا يَسْطُرُونَ 1

Nun, demi kalam dan apa yang mereka tulis,

 مَا أَنْتَ بِنِعْمَةِ رَبِّكَ بِمَجْنُونٍ 2

berkat nikmat Tuhanmu kamu (Muhammad) sekali-kali bukan orang gila.

 وَإِنَّ لَكَ لأجْرًا غَيْرَ مَمْنُونٍ 3

Dan sesungguhnya bagi kamu benar-benar pahala yang besar yang tidak putus-putusnya.

 وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ 4

Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.

IV.  Allah berfirman dalam Al Quran surat Yassiin [36] ayat 1 – 4 :

 يس 1

Yaa Siin.

وَالْقُرْآنِ الْحَكِيمِ 2

Demi Al Qur’an yang penuh hikmah,

 إِنَّكَ لَمِنَ الْمُرْسَلِينَ 3

sesungguhnya kamu salah seorang dari rasulrasul,

 عَلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ 4

(yang berada) di atas jalan yang lurus

Dan masih banyak ayat Al Quran mengenai hal itu

Sumpah Allah

Kata ‘sumpah’ berasal dari kata Arab ‘qasam’ dimana kata ‘qasam’ diartikan ‘bersumpah’ misalnya terdapat pada ayat :

dalam QS Al Waqiah [56] : 75 “Maka Aku bersumpah dengan tempat beredarnya bintang-bintang”
dan QS Al Insyiqaq [84] :16 “Maka Aku bersumpah dengan cahaya merah di waktu senja”

Ketika Allah ﷻ bersumpah dengan nama makhluk-Nya, bukanlah bermakna bahwa Allah ﷻ telah ‘menyerahkan kekuasaan untuk menghakimi’ sumpah-Nya tersebut kepada benda tsb. Baik didasar sumpah ataupun tidak, ataupun sumpah tersebut dilontarkan oleh siapapun, maka pihak yang berkuasa untuk menghakimi hanyalah Allah ﷻ selaku penguasa tunggal alam semesta dan isinya.

Kalau begitu bagaimanakah sebenarnya ‘status’ makhluk/benda yang terdapat dalam sumpah itu..?? maka posisi makhluk/benda tersebut adalah hanya sebagai SAKSI atas sumpah tsb (semua mahluk sesungguhnya telah bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah ketika di alam ruh hanya ketika di dunia saja orang-orang kafir mengingkarinya). Dalam sumpahnya Allah ﷻdan sebagai saksinya mahluk itu independen, berdiri sendiri dan terpisah dari pihak yang bersumpah (Allah), berfungsi untuk menguatkan dan mengukuhkan bahwa apa yang disampaikan dalam sumpah tersebut benar adanya.

Kesan terpisah ini sejalan dengan tujuan disampaikannya sumpah, sehingga seolah-olah Allah mengatakan ;”Sekalipun Aku adalah Tuhan Yang Maha Berkuasa, namun makhluk/benda yang Aku jadikan objek sumpah-Ku, dipersilahkan memutuskan sendiri kesaksiannya. Apabila Aku telah berbohong atau sumpah-Ku tidak benar, maka Aku sendiri yang akan menghakimi diri-Ku..”.

Pengertian ‘qasam’ ini juga berlaku dalam hal Tuhan bersumpah atas diri-Nya sendiri. Pemisahan diibaratkan ‘posisi’ Tuhan sebagai pihak yang bersumpah dan sebagai pihak yang bersaksi merupakan dua hal yang seolah-olah terpisah, sehingga kesaksian Tuhan adalah adli, kuat dan benar. Ini memenuhi tujuan untuk apa sumpah tersebut dilontarkan, yaitu untuk meyakinkan pihak lain yang tidak percaya dan ragu-ragu.

Disinilah kesetaraan antara istilah ‘qasam’ dan ‘aimanu’, yaitu kemandirian sebagai saksi menunjang pengukuhan dan penguatan sumpah yang disampaikan.

Sumber al : Sumber : Keagungan Nabi Muhammad ﷺ . Ibrahim Mulaakathir

Wallahu a’lam bishowab

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ ♥ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ♥ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ ♥ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ♥ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ