بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Allah ﷻ telah bersumpah atas umur  Nabi Muhammad ﷺ, atas nama hidup Rasulullah ﷺ.  Dan ini adalah keagungan yang diberikan Allah Ta’ala kepada Rasulullah ﷺ yang kita tidak mendengar hal itu dialami nabi dan rasul yang lain.

Allah ﷻ berfirman dalam Al Quran surat Al Hijr ayat 72 :

 لَعَمْرُكَ إِنَّهُمْ لَفِي سَكْرَتِهِمْ يَعْمَهُونَ

 “Demi umurmu [ Muhammad ], sesungguhnya mereka terombang-ambing di dalam kemabukan [kesesatan]”

Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Al Baihaqi, Ibnu Abu Syaidah dan Ibnu Jarir.  Hadis yang senada juga diriwayatkan dari Abu Hurairah رضي الله عنه, dari Ibnu Murdawaih, Ibnu Abbas berkata : ‘Allah Ta’ala tidak pernah bersumpah dengan kehidupan seseorang kecuali dengan kehidupan Nabi Muhammad ﷺ.  Allah berfirman : ‘Demi umurmu!’

Sumpah tersebut menunjukkan dengan jelas dan tidak samar, kelebihan, keutamaan, kedudukan yang tinggi lagi unik, yang khusus dimiliki Rasulullah ﷺ.

Sumpah yang mengatas namakan seseorang,  mengindikasikan adanya kemuliaan dan keagungan hidup pada diri orang tsb terhadap subjek yang melakukan sumpah.

Dan memang sangat layak untuk menjadikan hidup Nabi Muhammad sebagai sumpah olehNya karena hidup beliau memang betul betul mulia.

Sumpah Allah

Kata ‘sumpah’ berasal dari kata Arab ‘qasam’ dimana kata ‘qasam’ diartikan ‘bersumpah’ misalnya terdapat pada ayat :

dalam QS Al Waqiah [56] : 75 “Maka Aku bersumpah dengan tempat beredarnya bintang-bintang”
dan QS Al Insyiqaq [84] :16 “Maka Aku bersumpah dengan cahaya merah di waktu senja”

Ketika Allah ﷻ bersumpah dengan nama makhluk-Nya, bukanlah bermakna bahwa Allah ﷻ telah ‘menyerahkan kekuasaan untuk menghakimi’ sumpah-Nya tersebut kepada benda tsb. Baik didasar sumpah ataupun tidak, ataupun sumpah tersebut dilontarkan oleh siapapun, maka pihak yang berkuasa untuk menghakimi hanyalah Allah ﷻ selaku penguasa tunggal alam semesta dan isinya.

Kalau begitu bagaimanakah sebenarnya ‘status’ makhluk/benda yang terdapat dalam sumpah itu..?? maka posisi makhluk/benda tersebut adalah hanya sebagai SAKSI atas sumpah tsb (semua mahluk sesungguhnya telah bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah ketika di alam ruh hanya ketika di dunia saja orang-orang kafir mengingkarinya). Dalam sumpahnya Allah ﷻdan sebagai saksinya mahluk itu independen, berdiri sendiri dan terpisah dari pihak yang bersumpah (Allah), berfungsi untuk menguatkan dan mengukuhkan bahwa apa yang disampaikan dalam sumpah tersebut benar adanya.

Kesan terpisah ini sejalan dengan tujuan disampaikannya sumpah, sehingga seolah-olah Allah mengatakan ;”Sekalipun Aku adalah Tuhan Yang Maha Berkuasa, namun makhluk/benda yang Aku jadikan objek sumpah-Ku, dipersilahkan memutuskan sendiri kesaksiannya. Apabila Aku telah berbohong atau sumpah-Ku tidak benar, maka Aku sendiri yang akan menghakimi diri-Ku..”.

Pengertian ‘qasam’ ini juga berlaku dalam hal Tuhan bersumpah atas diri-Nya sendiri. Pemisahan diibaratkan ‘posisi’ Tuhan sebagai pihak yang bersumpah dan sebagai pihak yang bersaksi merupakan dua hal yang seolah-olah terpisah, sehingga kesaksian Tuhan adalah adli, kuat dan benar. Ini memenuhi tujuan untuk apa sumpah tersebut dilontarkan, yaitu untuk meyakinkan pihak lain yang tidak percaya dan ragu-ragu.

Disinilah kesetaraan antara istilah ‘qasam’ dan ‘aimanu’, yaitu kemandirian sebagai saksi menunjang pengukuhan dan penguatan sumpah yang disampaikan.

Wallahu a’lam bishowab

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ ♥ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ♥ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ ♥ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ♥ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ .