Allah Ta’ala berfirman dalam Al Quran surat Al Fiil ayat 1 – 5 :

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِأَصْحَابِ الْفِيلِ (1) أَلَمْ يَجْعَلْ كَيْدَهُمْ فِي تَضْلِيلٍ (2) وَأَرْسَلَ عَلَيْهِمْ طَيْرًا أَبَابِيلَ (3) تَرْمِيهِمْ بِحِجَارَةٍ مِنْ سِجِّيلٍ (4) فَجَعَلَهُمْ كَعَصْفٍ مَأْكُولٍ (5)

Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara bergajah? Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Kabah) itu sia-sia? Dan Dia mengirimkan kapada mereka burung yang berbondong-bondong, yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar, lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat).”

 

Yusuf Dzu Nuwas

Dzu Nuwas adalah seorang Yahudi, pejabat tinggi kerajaan Yaman yang beribukota Najran. Waktu itu sekitar 30 tahun yang lalu atau sekitar tahun 570M. Alkisah, sang Raja adalah raja yang lemah dan tak memiliki keturunan, sehingga membangkitkan godaan kudeta dalam diri Yusuf Dzu Nuwas. Kerajaan Yaman saat itu  meliputi daerah subur dan penuh dengan pepohonan lebat.

Lewat sebuah kudeta yang cukup kejam dan cepat,  Yusuf Dzu Nuwas beserta pengikutnya ini berhasil memancung kepala sang Raja.  Para prajurit yang setia kepada sang raja, Dzu Nuwas membakar mereka hidup hidup. Kebiadaban itu, ternyata tak berhenti sampai disitu.

Didorong oleh gila kekuasaan dan gila kepercayaan, ia menginginkan seluruh penduduk Yaman, apapun kepercayaannya, agar berpindah memeluk agama Yahudi seperti dirinya.  Kepada rakyat yang membangkang, tetap teguh memeluk agama Nasrani, Dzu Nuwas membangun ratusan tiang salib. Belum puas, Dzu Nuwas menambah siksaannya dengan membakar mereka hidup-hidup dengan memasukkannya ke dalam lubang besar.

Bau daging manusia terbakar, saat itu memenuhi jagat negeri Yaman. Pembantaian itu berlangsung selama satu minggu penuh. Tanpa menyisakan satu orang Kristiani pun. Mereka semua habis terpanggang di tiang salib. Jerit tangis memilukan membuat siapapun yang punya nurani, akan bergetar hebat mendengarnya. Bau udara kota Najran, saat itu sungguh memuakkan.

*****
Kebrutalan Dzu Nuwas, tersebar dengan cepat ke seantero jazirah. Saat itu, untuk menangkis segala kemungkinan buruk, kerajaan kerajaan di sekitar Yaman, mulai mempersiapkan diri. Baik kerajaan besar seperti Naubah, hingga kesultanan kecil seperti Baisyah. Mereka bersiaga penuh menghadapi kemungkinan Dzu Nuwas mengacau di negeri mereka. Karena bisa jadi usai ia ber’pestapora’ di Yaman, Dzu Nuwas akan melanjutkannya di negeri mereka.

Untunglah Dzu Nuwas masih cukup waras untuk tidak ikut mengobrak-abrik negeri tetangga. Karena kalau itu juga dilakukan, Arabia akan terlibat perang besar yang mengerikan. Seluruh kerajaan akan ikut terseret perang biadab ini. Dan bau darah juga bisa ikut tercium sampai ke Yerusalem.

Dimana perang sesungguhnya antara Nasrani dan Yahudi berlangsung, sewjak abad pertama Masehi. Dan kalau itu sampai terjadi, orang-orang Pagan* (penyembah berhala) ini bisa jadi akan bersekutu dengan orang-orang Nasrani. Dan itu sangat tidak diinginkan Dzu Nuwas. Jadi, kekejamana itu dibatasinya hanya di negeri Yaman.
Saat itu, kebetulan ada seorang Nasrani penduduk Najran yang berhasil lolos dari pembantaian. Dengan menggunakan seluruh sisia kekuatannya, ia memacu kudanya dari Yaman hingga ke pelabuhan Al Makha. Tujuannya adalah menyebrangi Laut Qalzum untuk kemudian mendatangi Kerajaan Aksum.  Mencari pertolongan kepada sesama nasrani.

Diseberang Laut. Di luar Jazirah ini.

Mengapa Nasrani itu harus menyeberangi Lautan hanya untuk meminta bantuan, mengapa tidak pergi ke Bakkah misalnya atau ke tempat dimanapun sepanjang masih di Jazirah ini?
Karena tentu saja Nasrani itu tak akan mau meminta pada orang-orang Quraisy atau negeri-negeri di Jazirah. Karena sebagian besar negeri-negeri itu adlaah penyembah berhala yang tidak terlalu suka dengan kaum Nasrani atau pun Yahudi.
Jadi, memang lebih mungkin kalau orang Najran itu meminta bantuan kepada Kerajaan Habasyah yang sesama Nasrani. Lagipula, kedua kerajaan itu sesungguhnya juga telah lama menjalin hubungan yang erat. Bahkan sejak tigaratus tahun yang lalu. Ingat bahwa para pendeta Habasyah telah dikirim oleh rajanya ke Yaman untuk kegiatan misionaris. Itulah sebabnya Yaman yang semula penyembah berhala kini mereka menyembah Yesus Sang Mesias. Dan menjadikan Yaman sebagai Kerajaan Nasrani terbesar di benua Jazirah ini.

Singkat cerita, sampailah orang itu di Kerajaan Aksum yang terletak di Habasyah*
Lalu berceritalah ia dengan sang raja, Negus (atau Najasy). Mendengar cerita orang itu, Negus menjadi sangat murka. Semangat Nasraninya muncul menggelegak. Negus kemudian memerintahkan panglimanya yang paling kuat dan berani,  Abraha Ash-Shabbah Al-Habsy  [ atau Abraha al-Ashram ]  untuk pergi ke Yaman.

Dan elancarkan pembalasan dengan lebih kejam lagi. Dengan izin seperti itu, Abraha beserta pasukannya yang berjumlah ribuan itu segera menyebrangi Laut Qalzum* (kini bernama Laut Merah) dan mendarat di Al Makha.
Bagai Nufud yang membawa satu ton pasir dan menyebarnya keseantero jagat, Abraha dan pasukannya menumpas Dzu Nuwas dengan gagah berani. Hanya dengan satu kali sapu. Kemenangan mutlak langsung di raih Abraha Al-Asram.

Dzu Nuwas tewas mengenaskan diujung pedang Abraha.

Kini, setelah berbalik menjadi penguasa, penganut Nasrani itu pun bahkan melakukan hal yang sama dengan Dzu Nuwas. Alih alih merasakan penderitaan karena kekejian Dzu Nuwas, Abraha pun ternyata sama kejinya. Bahkan jauh lebih keji lagi.
Bagi seluruh penduduk Yaman yang beragama Yahudi, ia memaksa mereka untuk berganti agama. Yang menolak, langsung dibakar hidup-hidup.  Asap kematian sekali lagi mengepul di langit Yaman. Teriakan kesakitan membahana di seantero negeri. Air mata tumpah ruah disana. Sungguh sebuah pembalasan yang diluar batas. Tak seorangpun sanggup melalui tragedi keji itu.
Setelah orang orang  Yahudi itu semua telah mati terpanggang. Barulah kemudian Abraha menghentikan perbuatan gilanya. Kendati ia tetap menginginkan seluruh penduduk memeluk agama Nasrani. Sesuai dengan pesan Raja Negus yang mengutusnya. Dan memang sesuai benar pilihan Nagus dalam mengutus Abraha yang memiliki sifat gagah berani bahkan cenderung kasar dan kejam untuk menyelesaikan tugas ini.
Kini, panglima kejam itu menjadi penguasa baru di negeri Yaman. Ia bahkan mengangkat dirinya menjadi raja.

Rombongan Kafila yang Mengubah Sejarah

Setelah beberapa saat, sebuah pemandangan menarik, membetot matanya. Dari atas menara istana, sebuah kafilah cukup besar mnarik perhatian Abraha. Kafilah itu tengah bersiap-siap untuk berangkat.
“Apakah itu sebuah kafilah dagang, hai mentriku!” Tanya Abraha.
“Kurang tepat, Tuanku Raja Abraha” jawab mentrinya dengan hati-hati.
“Sesungguhnya mereka akan pergi haji, tapi memang sembari mereka pergi haji, biasanya mereka juga berdagang”
“Pergi haji? Apa maksudnya itu? Dan kemana mereka pergi hajinya?”
“Haji adalah ritual keagamaan dimana mereka berlari-lari mengelilingi Kabah, rumah Tuhan Tuhan mereka, sambil mengucapkan sejumlah doa-doa. Setelah itu mereka akan menyembah berhala mereka masing-masing yang banyak bertebaran di dalam maupun di luar rumah tuhan* (Baitullah) atau yang sering mereka sebut Kabah. Dalam satu tahun, satu kali mereka beribadah di Kabah, yaitu pada Zulhijjah. Itulah yang disebut pergi haji”
“Dimana Baitullah itu, hai mentri?!”
“Di Bakkah, tuanku.  Disitulah seluruh orang orang arab pergi untuk melakukan haji setiap tahun pada bulan ini”

Kabah, yang dianggap sebagai rumah Tuhan Tuhan mereka, adalah sebuah rumah ibadah yang sangat sangat penting. Sehingga siapapun yang bisa menguasai Kabah, ia akan bisa menguasai Jazirah ini. Ah, itu sebuah impian yang sangat menggiurkan!  Menjadi Maharaja di Jazirah Arabia! Bayangkan itu! Dan Abraha semakin tertarik untuk bertanya-tanya lebih jauh.
“Megahkah rumah tuhan mereka itu? Lebih bagus mana dengan Gereja yang dibangun Nagus di Habasyah?”
“Ampun, tuanku. Hamba belum pernah melihat Gereja Raja Negus. Tapi perkiraan hamba, gereja itu pasti jauh lebih bagus dan baik dibandingkan Kabah yang Cuma sebuah bangunan persegi yang terbuat dari batu-batu tua”
Abraha terpengarah.
“Batu? Jadi, Kabah itu hanya terbuat dari batu? Tidak ada unsur lainnya?”
”Betul sekali, tuan. Dulu sekali, Kabah itu dibangun Nabi Ibrahim bersama putranya Nabi Ismail untuk tempat mereka bersembahyang” Sang mentri bercerita pada bagian ”putranya Ismail” dengan agak hati-hati. Karena kendati Abraha beragama Nasrani, ia tidak tahu pasti apakah nasrani yang satu ini tidak tersinggung bila disebutkan bahwa Ibrahim yang membangun Kabah bersama putranya Ismail. Tidak seperti orang Yahudi yang selalu membantah dengan sengit keberadaan Kabah ini. Apalagi bila disebut Kabah adalah rumah tuhan yang dibangun oleh Ibrahim dan Ismail. Menurut orang Yahudi, Kabah hanyalah permainan orang-orang Jazirah dan bukan rumah tuhan betuan. Kalaupun Ibrahim membangun Kabah, maka itu pasti dilakukannya bersama putranya Ishak. Dan bukan Ismail.
Abraha mengangguk-anggukan kepalanya.
“Berapa banyak mereka yang akan pergi haji, hai mentri. Dan …………., apa agama mereka?”
“Mereka biasanya pergi dalam beberapa kafilah. Bila dihitung-hitung jumlah mereka sekitar 500 orang, tuanku. Dan mereka tentu saja penyembah berhala. Berhala-berhala itu ada yang mereka simpan di Kabah, selain mereka taruh juga di rumah-rumah mereka. Karena setiap orang menaruh tuhan-tuhan mereka di dalam Baitullah maka jumlah berhala yang tersimpan disana konon berjumlah 367 berhala yang berasal dari seluruh kabilah dan suku di jazirah Arabia ini. Dan bila musim haji tiba, ratusan penyembah berhala, dari seluruh pelosok Arabia, bahkan dari negeri yang jauh sekalipun seperti Balka* di Syam, (dari kota itulah pertamakali berhala-berhala di Mekah berdatangan) akan berkumpul di Bakkah untuk melaksanakan haji.
sanalah berhala berkumpul disana untuk bersembahyang.
Ibrahim dan Ismail-lah yang mendirikan Kabah semata-mata untuk menyembah hanya kepada Allah. Itulah yang disebut agama Ibrahim. Sebuah agama yang lurus dan bertauhid. Mohon ampun, tuanku….”
Abraha menyipitkan matanya. Rombongan yang cukup besar itu mulai bergerak meninggalkan gerbang kerajaan. Meninggalkan dadanya yang berdebar-debar. Dan hatinya yang gusar. Entah kenapa.
“Kafilah itu begitu panjang dan besar. Barang bawaan mereka amatlah banyak”
”Ya, karena memang mereka membawa juga barang dagangan, tuanku. Karena selain pergi haji, mereka juga ikut berdagang di pasar Bakkah yang terkenal ramai dan besar”
”Ah, berdagang……….Aku bisa membayangkan bagaimana sibuknya pasar itu. Ia menerima pedagang dan penjiarah dari seluruh pelosok Jazirah. Sebuah kegiatan yang luar biasa hebatnya”
kini Abraha mondar-mandir di sekeliling menaranya.
“Sebenarnya, seberapa banyak penyembah berhala di negeri Yaman ini?”
“Jika tuanku jeli, jumlah mereka sesungguhnya hampir mencapai setengah dari penduduk ini”
Kedua alis Abraha kini menyatu. Ia cukup terkejut dengna kenyataan ini. Kini ia betul-betul menyadari kalau jumlah itu cukup besar. Sapujagat yang ia lancarkan di awal penyerbuan, masih belum cukup untuk mnegkristenkan mereka. Ah, ini memang negeri para berhala! Jika di Yaman saja jumlah mereka cukup besar, bisa dibayangkan bila digabung dengan jumjlah di negeri lainnya. Dan itu berarti, dalam musim haji, negeri-negeri di seantero Arabia ini akan sedikit lengang karena penduduknya banyak yang pergi haji. Dan mereka semua berkumpul di Kabah! Di Bakkah!

Semacam perasaan iri menyeruak dengan deras di dadanya. Mengapa orang-orang nasrani menjadi tak lebih tolol dibanding penyembah berhala ini? Mereka sibuk bertengkar tentang siapa itu Tuhan anak dan siapa Tuhan bapak!! Sementara para penyembah berhala ini telah meraup jutaan sesterses dari kebodohan mereka lewat perdagangan di Bakkah! Tapi kendati sama dungunya, orang-orang Nasrani tak mendapat apa-apa. Cuma peti mati Yesus yang hingga kinpun keberadaannya masih tak tentu. Sungguh menyedihkan.
“Panggilkan Pamen* (tukang gambar istana). Suruh dia menghadapku di balairung”
Abraha bergegas turun ke bawah, memasuki ruangan besar dan luas yang ia sebut balairung. Ditengahnya ada sebuah maja panjang dan besar. Abraha mengambil selembar papyrus dan sebatang pena dari kayu dildo pipih dan kecil. Ia menggambar sesuatu. Lalu masuklah si mentri, Pamen dan Yazid, Panglima Kerajaan Yaman. Mereka masuk dengan patuh tanpa berkata sepatah pun. Kini mereka semua mengelilingi meja panjang itu.
“Seperti inikah Kabah?” tanya Abraha.
Sang Pamen mengamati. Dari pandangan sekilasnya, ia tahu Abraha salah menggambar Kabah. Lalu ia mengambil pena dan lembaran papyrus baru dan sibuk mencoret-coret Sesuatu di situ. Cuma sebentar, lalu diberikannya papyrus itu kepada sang Raja Baru.
Abraha membelalakkan mata.
“Kotak seperti ini mereka sebut rumah tuhan? Mereka datangi tiap tahun meski dari tempat yang jauh-jauh?”
Pamen itu tersenyum. Jelas, raja ini tak tahu apa-apa. Ia raja yang bodoh.
“Jangan lupa, tuanku. Kotak itu terbuat dari batu dan umurnya telah ratusan tahun”
“Aku tahu itu” jawab Abraha sedikit tersinggung.
“Tapi mestinya kotak itu hanya menjadi tempat berkumpulnya babi-babi dan bukan manusia! Pasti tempatnya bau dan kotor! Huh!”
Tak ada yang berani membantah hinaan Abraha. Mereka semua terdiam.
“Aku tidak suka dengan kenyataan ini”
Hening kemudian.
”Sejak kapan para penyembah berhala itu mengadakan ritual haji?”
Pertanyaan sederhana Abraha sungguh mengejutkan. Tak ada seorangpun di balairung itu yagn sempat memikirkan bahwa Abraha akan melontarkan pertanyaan seperti itu. Sejak kapan? Siapa yang bisa menjawabnya?
”Kalian tak bisa menjawabnya hah!! Padahal kalian sesungguhnya adalah para penyembah berhala sebelum aku paksa kalian untuk menjadi gembala-gembala Yesus!”
Hardik Abraha keras.
Para mentri, panglima dan pamen semua tersentak kaget. Mereka semakin terdiam karena bentakkan itu.

Karena tak ada yang bisa menjawabnya.
”Hm…………., kalian tak tahu ya. Lalu, apa yang kalian ketahui tentang ritual haji ini. Raja mana yang menyuruh mereka untuk berhaji di Kabah? Apakah itu Raja di Bakkah sendiri? Atau ini sekedar konsensus antar penguasa penyembah berhala itu?”
”Tidak tuan,” kali ini Yazid, Panglima Kerajaan terburu-buru menjawab .
”Perintah berhaji ini konon datang dari Tuhannya Ibrahim sendiri. Sebuah perintah agama untuk dilaksanakan umatnya satu tahun satu kali. Jadi, ini tidak ada hubungannya dengan kekuasaan” kali ini si Panglima.

”Hm…….., tak ada hubungannya ya. Lalu, kenapa Kabah itu berdiri di Hijaz, dan bukannya di Najran atau Shana’a atau malah bukannya di Aksum atau di Yerusalem?! Kenapa!!!”

Semakin gemetarlah hati para bawahan Abraha itu mendapat pertanyaan yang sedemikian muskil untuk ditemukan jawabannya. Pun oleh ahli agama sekalipun. Sebab, siapa yang tahu alasannya mengapa Kabah berdiri di Hijaz atau tepatnya di Bakkah dan bukannya di Syam? Kenapa?
Ini seperti mempertanyakan kenapa gurun itu ada di Jazirah dan bukannya di Konstantinopel?! Atau mengapa unta tak punya sayap?
”Aku tak percaya sama sekali ini tak ada hubungannya dengan kekuasaan. Sepanjang ada orang Arab disana, maka bisa dipastikan ada uang yang mengalir. Aku tahu itu…..”
Abraha terdiam sejenak. Ia kelihatan sibuk berpikir tentang masalah ini. Ya, bisa diduga bila Abraha berpikir pendek seperti itu. Pada masa abad ke 6M seperti itu, permusuhan anatar orang-orang Jazirah yang sering disebut sebagai orang Arabia dengan orang-orang dari Kerajaan di benua Afrika adalh seperti tidak mungkin bersatunya bunga Dandelion dengan kumpulna kutu pemangsa
Akhirnya Abraha menunjuk pada panglima kerajaannya. Dan berkata sesuatu.
”Siapkan rombongan kafilah kecil yang tidak mencolok. Pergilah kalian ke Kabah!”

Kabah‘ Baru Bernama Al-Qulles

Abraha adalah raja yang kuat dan berhati dingin. Ia juga penuh ambisi bahkan serakah. Satu bulan setelah ekspedisi diam idam,  Balairung Istana Kerajaan Yaman itu terasa bergetar.

Para mentri kerajaan yang semuanya berjumlah 10 orang, ditambah dengan Yazid sang Panglima Kerajaan dan 3 orang Pendeta Penasehat Kerajaan tengah berkumpul di ruangan besar itu dengan duduk membisu. Mereka diliputi suasana penuh dugaan yang menakutkan. Yang sebentar lagi akan disuarakan Abraha, raja mereka.
”Hari ini aku akan memaparkan rencana besarku untuk membuat Yaman menjadi kerajaan hebat, kuat dan ditakuti oleh seluruh orang Arab di Jazirah ini”
”Setelah kunjungan rahasia ke Bakkah, aku kini menjadi paham mengapa Yaman tak mampu berkembang lebih pesat dari seharusnya. Mengapa kerajaan ini tak bisa menjadi Kerjaan yang hebat, seperti masa Ratu Bilqis dahulu. Padahal kita memiliki perkebunan paling subur dan panen yang selalu melimpah. Kita juga memiliki bendungan besar yang hebat, kendati bendungan itu tinggal sisa-sisa saja. Tapi kehebatan bendungan itu, masih bisa kita rasakan sampai saat ini. Hah! Yaman tak akan pernah bisa mengulangi masa keemasan Saba’, bila yang satu ini tidak segera kita selesaikan masalahnya!”
”Aku telah melihat dengan mata kepalaku sendiri, mengapa Bakkah bisa berkembang lebih hebat dari Yaman. Bahkan melampui Aksum sekalipun, Mengapa kerajaan-kerjaan disekitar Bakkah juga bisa ikut berkembang pesat. Atau bahkan mengapa Rum dan Persia masih bisa berdiri hingga kini. Kalian tahu mengapa?”

”Aku telah menyaksikan bahwa penyebab semua itu adalah karena sebuah bangunan batu yang kumuh dan bau, yang mereka puja-puja sebagai rumah tuhan!”

Kabah telah menjadikan negeri-negeri itu kaya dan berkuasa! Kini, sudah saatnyalah kita membalikkan keadaan! Kita harus bisa menandingi Kabah! Kita harus melebihi Bakkah!!”

”Bila Yerusalem punya kuburan Yesus dan di sana berdiri Istana Sulaeman, lalu di Bakkah juga ada Kabah, mengapa di Yaman ini tidak kita dirikan bangunan keagamaan yang ketenarannya bisa melampaui ketiganya? Mengapa tidak?”

“Sekarang, dengarkan dengan baik kata-kataku ini. Aku ingin membuat sebuah gereja yang bentuknya hampir mirip dengan Kabah. Tapi tentu saja dalam hasil akhir yang jauh lebih bagus dan indah. Gereja itu akan kutempatkan di kota Shana’a. Dan bukan di Najran sini. Karena kota Shana’an sangat bagus untuk tempat berdirinya gereja Kabah itu nantinya. Selain alamnya yang indah, banyak sungainya, udaranya sejuk, kita juga bisa membuat pasar besar seperti pasar Najran tapi ini akan jauh lebih hebat. Bahkan pasar ini akan lebih hebat dari pasar Okads dan Basthra.
Sehingga semua orang di Yaman dan sekitarnya, tak perlu jauh-jauh pergi ke Mekah untuk melakukan haji. Cukup di gereja kita yang indah itu nanti! Bila itu dilakukan oleh semua pemeluk berhala di Yaman dan sekitarnya, bisa dipastikan negeri ini akan makmur dan kuat! Kita akan memiliki kerajaan yang hebat melebihi kehebatan kekuasaan orang-orang Mekah!”
“Terpujilah Tuhan anda, tuanku Abraha. Anda memang seorang raja yang memiliki gagasan tepat dan jitu. Sebaiknya, kita mulai kerja sekarang saja, tuanku!”
Kemudian para pembantu itu buru-buru bangkit hendak keluar ruangan. Seperti takut terkena sampar. Namun suara Abraha menghentikan langkah mereka.
“Tunggu sebentar!” Abraha diam beberapa saat lalu melanjutkan sambil tersenyum puas. Tercekat hati para mentri mendengarnya. Ada apalagi?
“Gereja Kabah itu akan aku namakan Al-Qulles!

Dan kerja besar itupun segera dimulai.  Abraha ingin Gereja ‘Kabah‘nya  lebih bagus dalam segala hal dibanding Kabah. Mulai dari bentuk bangunannya, ukiran-ukiran yang nantinya akan memenuhi seluruh empat dinding Al-Qulles, hingga pemakaian batu marmer yang mereka beli dari pedagang Rum di pasar-pasar Hadramaut. Abraha juga berkeinginan menaruh patung Yesus di hampir tiap sudut Al-Qulles.

Disekitar Al-Qulles, Abraha membangun pelataran yang lantainya juga dari marmer. Dan lagi-lagi pelataran itu pun dipenuhi oleh patung Sang Mesias.
Aktifitas perdaganan ini menjadi hebat karena dikunjungi oleh para penyembah berhala yang berasal dari seluruh antero Jazirah bahkan hingga ke negeri-begeri di sepanjang sungai Nil dan Oksus. Bahkan, para penyembah berhala dari Persia, walaupun Persia dikenal sebagai negeri para Penyembah Api, negeri Zoroaster, tapi tetap saja ada orang-orang yang menyembah berhala di sana (misalnya dari Al Madain dan AL Hairah) ikut berhaji di Kabah.

Memang, selama ini, Bakkah telah menjadi kota suci yang terlarang bagi para penyebaran agama-agama apapun (selain agama pagan atau agama penyembah berhala tentu saja!).

Kini Al-Qulles telah berdiri dengan megahnya. Besar, kokoh dan berkesan angkuh. Semua benar-benar sesuai dengan kehendak Abraha.
Abraha memandang gereja barunya dengan perasaan takjud. Luar biasa, keindahan Al-Qulles akan segera menawan para penyembah berhala! Mereka akan terpikat untuk datang dan melakukan haji di sini kemudian setelah itu mereka akan melakukan perdagangan . Maka Yaman akan menjadi pusat perdagangan melebihi Bakkah !

Abraha segera mengutus para punggawanya untuk melayangkan undangan resmi Kerajaan Kerajaan di sekitar Yaman.
”Sampaikan kepada mereka, bahwa maha Raja Abraha Ash-Shabbah Al-Habsy, berkenan mengundang mereka seluruhnya untuk mampir dahulu ke Shana’a sebelum mereka berangkat menuju Bakkah. Sebuah jamuan makan akan menanti mereka!” Begitu titah Abraha.


Di Shana’a sendiri, Abraha tengah mempersiapkan Al-Qulles dengan sebaik-baiknya. Ia kini tengah menanti kafilah Qamawi yang diperkirakan akan tiba esok tengah hari. Sementara itu banyak penduduk Najran sendiri tengah sibuk mempersiapkan unta-unta mereka untuk memulai perjalanan haji di tahun ini. Abraha sendiri ikut sibuk menyebarkan undangan ke para jamaah itu. Ia mengirimkan prajurit perangnya lengkap dengan tombak trisula mereka. Abraha tak suka basa-basi. Ia berpikir bila mengirim utusan kerajaan dengan hanya pakaian biasa, para jamaah itu masih bisa membantah. Karena ini adalah undangan yang muskil untuk dipenuhi. (Karena, siapa mau disuruh berhaji di gereja yagn tak mereka kenal sebelumnya? Sementara Kabah yang sudah lama mengisi lorong jiwa mereka, mereka tingglakan begitu saja?)

Abraha berharap para jamaah haji di Najran (Dna beberapa dari Shana’a sendiri) masih belum berangkat ketika kafilah dari Qamawi itu tiba. Ia ingin sekali memeperlihatkan bahawa ia adlaah raja yang berkuasa sehingga mampu membelokkan sebuah kafilah haji dari lembah Guadarran ke Shana’a.
Ini akan menjadi prosesi yang sempurna. Dan aku tak ingin ada kesalahan sedikitpun. Kalau bisa, para pedagang di pasar Najran bisa segera pindah dan mengisi kios-kios Al Qulles. Pokonya semua harus benar-benar mirip dengan Kabah jelek itu!
Sekarang Abraha hanya bisa menanti dengan sabar sampai semuanya telah berdatangan dan siap untuk memasuki Al Qulles.
Dan ketika mereka benar-benar telah tiba, Abraha merasakan sebentar lagi detik-detik kekuasaaannya akan tiba.
Kafilah Qamawi tiba di muka jalan utama Shana’a. Jahsy, sang pemimpin kafilah berdiri paling depan dengan wajah serius. Sinar matahari memaksanya menyipitkan matanya. Disela-sela itu, Jahsy berusaha mencari Yazid. Dimana dia? Dimana ?
Kafilah itu terus berjalan mengikuti jalan utama, beberapa prajurit Abraha mengarahkan seklaigus mengawal mereka hingga mereka benar-benar tiba di pelataran AL Qulles.
Seruan takjub terdengar dari mulut para jamaah haji itu ketika mereka telah benar-benar melihat Al Qulles berdiri megah di depan mata mereka. Sebetulnya lebih karena kekagetan mereka. Karena mereka benar-benar tidka menyangka, Al Qulles bisa demikian sama dengan Kabah tercinta mereka. Tapi dalam bentuk yang lebih megah, indah dan penuh wibawa. Berwarna hitam legam seperti Kabah, Al Qulles pun dihiasi banyak patung-patung. Hiasan dan ukiran indah menghiasi dinding Al Qulles.
Antara Kabah dan Al Qulles persis seperti dua bersaudara yang berwajah mirip tapi dengan nasib yang berbeda. Yang satu bernasib baik dengan harta melimpah, itulah Al Qulles. Sementara satunya lagi miskin dan selalu kesusahan. Itulah Kabah.
Ah, Yazid, kau dimana? Jahsy masih terus berharap bertemu dengan Yazid sebelum ia memberi salam dengan Abraha yang tengah berkacak pinggang dengan senyum puasnya di tengah pelataran AL Qulles

“Selamat datang! Selamat datang wahai saudara-saudaraku penduduk Yaman” ucap Abraha dengan ramah dan senyummengembang.
Jahsy turun dari kudanya dan memberi salam kehormatan.

”Salam sejahtera wahai Abraha, Raja Agung Kerajaan Yaman. Maafkan telah membuat tuanku menuggu lebih lama” ucap Jahsy dengan khidmat dan hati-hati. Ia tidak ingin terdengar lebih ramah dari yang seperlunya sehingga membuat posisinya akan cukup sulit bila nanti ia harus bertindak tegas.
”Ah, Jahsy, aku telah mendengar tentang dirimu dari para pengawalku yang setia. Kuucapkan dengan hangat selamat bergabung dengan para prajuritku, Jahsy. Aku tentu sangat memerlukan para pemuda kuat dan perkasa seperti dirimu!” kata Abraha dengan senyum lebar. Jahsy membalasnya dengan senyum pula. Setelah itu ia mundur kebelakang. Ia membiarkan Abraha angsung bergabung dengan para ketua kabilah yang telah membentuk kerumunan kecil di depan Abraha.
”Wahai saudara-saudaraku, terutama para pemimpin kabilah bani Qamawi, ayolah segera bergabung dengan para jamaah haji lainnya di tempat yang indah dan megah ini…..Mari…segera saja kemasi barang-barang kalian. Dan lihatlah bangunan megah ini. Jangan malu-malu…”
Abraha mendorong beberapa tetua pembesar bani Qamawi. Para sesepuh ini, agak sungkan mendapat tepukan langsung dari sang raja pada pundak-pundak mereka. Beberapa, malah dirangkul dengna ceria oleh Abraha.
Mereka menggerutu dengan kalimat yang tak jelas, buat mereka perlakuan Abraha sungguh tak mengenakkan. Abraha adalah raja Nasrani yang berasal dari negeri Habasyah. Sedang mereka adalah orang-orang Jazirah yang punya sejarah dan tempat yang berbeda dari orang-orang Nasrani itu. Jadi, untuk saling menepuk pundak, orang haruslah setara dan setempat. Bukan dari arah yagn berbeda. Orang Nasrani dan orang paganis* (penyembah berhala) jelaslah tak bisa disetarakan. Mreka ibarat dua misykat* (sumber).

Para Wajah-wajah bingung penuh tanda tanya ….
Mari, silahkan masuk, silahkan datangi rumah peribadatan yang mulia dan megah ini…..”
Mereka, tentu saja terkejut bukan kepalang dengan gamblangnya kata-kata Abraha.
kenyataan ini. Sebelumnya mereka memang mendengar desas desus bahwa raja gila ini akan membangunkan sebuah rumah untuk berhala-berhala mereka. Tapi, kenyataan ini lebih kacau dari bayangan mereka.
Semula mereka berdiri saja di pelataran Al-Qulles, namun tombak prajurit Abraha memaksa mereka masuk lebih kedalam.
“Ayo, saudara-saudaraku. Jangan sungkan, lihatlah lebih dekat. Lihatlah betapa indahnya Al-Qulles dan betapa megahnya ia. Inilah tempat yang paling cocok untukk kalian beribadah. Lihat! Lihat sekeliling kalian. Aku juga telah menempatkan banyak patung disini untuk kalian sembah!”
“Kalian tak perlu lagi pergi haji jauh-jauh ke Kabah. Hanya menghabiskan uang dan tenaga saja. Cukuplah kalian beribadat haji di sini, di Al-Qulles yang mulia ini!”

Namun ….
kata kata Abraha bagai angin lalu …

Tak seorangpun yang mengacuhkan … ia ditinggl begitu saja dengan Al Qellesnya yang megah namun kosong melompong.

Kemarahan Yang Membara
“Mmasalah yang sebenarnya kita hadapi, adalah Kabah itu sendiri. Jadi, selama Kabah masih berdiri, selama itu pulalah orang-orang Arab akan tetap mendatanginya untuk beribadah di sana. Selama kabah masih berdiri, selama itu pulalah masalah akan tetap ada!!”

Abraha memulai kata katanya.
Semua yang hadir di mansion itu bertepuk tangan sambil mengangguk angguk bak burung Gugak yang meminta makanan. Abraha sangat puas akan kata- dengan tangan di pinggang.
“Ketika esok matahari mulai terbit, kita siapkan pasukan paling besar, paling dasyat dan paling kuat yang pernah ada dalam sejarah umat manusia! Itulah pasukan gajah Abraha Al Asram! Penguasa Kerajaan Yaman Yang Digdaya! Akan kita hancurkan Kabah dari muka bumi! Kita bakar Kabah, kita robohkan dia! Dan siapapun yang menghalangi, akan kita bunuh tanpa ampun!”
Suara Abraha menggelegar dalam balairung. Mereka yang bukan orang-orang Abraha, terkejut bukan kepalang. Kabah akan digempur, akan dirobohkan? Wah, luarbiasa menakutkannya gagasan itu. Dan itu bukan ancaman yang main-main. Itu berarti Abraha talah memukul genderang perang pada seluruh suku dan kabilah di Jazirah Arabia ini. Arabia bisa begolak panas, benua ini bahkan bisa terbelah-belah.
Tapi, sampai seberapa tangguhkah kekuatan pasukan Abraha? Sampai seberapa besar armada tempurnya hingga ia tanpa pikir panjang, berkeinginan merobohkan Kabah, yang itu sama artinya menyulut permusuhan dengan seluruh orang Arab? Sanggupkan Abraha membawa seluruh pasukan tempurnya, melintasi gurun demi gurun yang harus ditempuh bahkan sampai berminggu-minggu, untuk sampai di Mekah? Sanggupkah ia? Sementara di sepanjang perjalanan, ia bisa saja dihadang oleh berbagai suku yang tentunya berpihak pada Kabah. Akan mampukan ia melintasi rintangan itu?
Dalam urusan perang, harus diakui, Abraha adalah seorang jenius. Ia terbaik di jamannya. Sedikit panglima yang mampu menyamai keberaniannya dalam hal berperang. Ia tak pernah gentar oleh pedang musuh. Ia juga selalu ikut terlibat langsung dalam berbagai peperangan yang dihadapinya. Raja Najasy, tak salah pilih ketika matanya menangkap bakat luarbiasa dalam diri Abraha, kendati ia masih teramat muda ketika ditemukan Najasy.
Maka, ketika Abraha berkeinginan untuk menggempur Kabah, kendati Kabah letaknya ribuan kilometer dari Yaman, ia tentu punya gambaran pasti bagaimana ia harus memenangkan pertempuran itu.
Ia pasti (harus) punya sesuatu yang ‘istimewa’ untuk menghadapi orang-orang Arab itu. Dan itu, akan menjadi kejutan bagi siapapun.

Namun, belum lagi Abraha mematangkan rencana penyerbuannya, kabar itu telah menggelinding keluar balairung. Seperti tak sabar lagi Ia menembus dinding-dinding rumah penduduk, menciptakan mimpi-mimpi buruk, dan membentuk gumpalan ketakutan dalam dada tiap orang. Seumur hidup, baru kali ini ada orang yang berani ingin menghancurkan Kabah. Orang ini mesti cukup gila atau amat digdaya sehingga bisa punya ide seperti ini. Karena Kabah, meskipun terletak di Mekah, ia bukan milik kabilah Quraisy semata, atau dikuasai para petinggi Mekah. Tidak. Kabah adalah pusat spiritual bagi bangsa Arabia. Mereka-mereka yang mengaku suku Arabia, mulai dari kabilah-kabilah yang bermukin di sepanjang sungai Nil, hingga kota paling timur, Oksus, semuanya memiliki semacam ikatan batin dengan Kabah.
.
Tapi orang-orang Arab tak perlu mendengar hingga duakali, pesan Abraha sudah cukup jelas dalam benak mereka. Mereka tak pernah main-main dalam urusan ini