بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Genocide umat muslim Rohingya di Myanmar, sudah berlangsung sejak 2012.  Bahkan kalau mau dirunut lebih dalam lagi, pembantaian itu sudah berlangsung sejak 1948 !

Dunia sempat bertanya tanya, darimana Myanmar mendapatkan persenjataan yang cukup canggih dan banyak itu? Karena siapapun pemasok senjata itu, itu sudah cukup untuk ikut menyeretnya sebagai penjahat perang dan mendapat sanksi Internasional. Junta militer Myanmar sempat merahasiakan hal itu.  Namun Januari lalu, sebuah issue mulai terkuak sedikit sedikit.

Adalah para relawan hak asasi manusia (HAM) dan para pengacara di Baitul Maqdis yang memberikan kabar persengkongkolan keji antara Israel dan Myanmar.  Mereka segera melihat fakta bahwa Israel-lah yang telah memasok senjata kepada Junta Militer Myanmar ! Para relawan dan pengacara segera melayangkan seruan agar Israel menghentikan ekspor itu.  Yang tentu saja ditolak tegas oleh Kementrian Pertahanan Israel.

 

Israel Akan Terus Pasok Senjata Ke Myanmar

Menurut pengacara HAM yang berkedudukan di Baitul Maqdis, Eitay Mack, Kementerian Pertahanan ‘Israel’ bersikeras akan melanjutkan ekspor perlengkapan militer ke Myanmar karena telah disetujui oleh Kementerian Luar Negeri dan berpijak di bawah hukum internasional.

Padahal, Eitay Mack dan relawan lainnya telah menulis surat kepada kepala departemen pengawasan ekspor Kementerian Pertahanan ‘Israel’ Racheli Chen pada Desember 2016 dan menuntut agar meninjau ulang seluruh izin ekspor yang diperoleh Militer Myanmar.

Dikatakan bahwa Militer Myanmar masih melancarkan perang dengan etnis minoritas di bagian utara dan timur Myanmar, juga melakukan pelanggaran HAM berat terhadap minoritas Muslim Rohingya di bagian barat Myanmar. “Sungguh mengherankan bahwa ‘Israel’ tidak ragu-ragu mengabaikan sanksi AS dan Uni Eropa terhadap Myanmar atas kejahatan kejahatan keji yang dilakukan di sana,” demikian bunyi surat tersebut.

Kunjungan Militer Ke Israel

Sebuah berita mengejutkan beredar ketika Jenderal Senior Min Aung Hlaing bersama para pejabat militer dari Angkatan Udara Myanmar dan Angkatan Lau berkujung ke Israel pada September 2015.  Para pejabat Myanmar itu  mengelilingi kantor Elbit Systems, perusahaan manufaktur pertahanan yang berbasis di ‘Israel’, Industri Kedirgantaraan ‘Israel’ dan cabangnya, Elta Systems Ltd.

Kabar itu tentu mengejutkan aktivis kemanusiaan di Baitul Maqdis.   Dan Eitay Mack menjelaskan bahwa Elbit Systems dan produsen lainnya TAR Ideal Concepts telah menandatangani kesepakatan untuk memberikan perlengkapan keamanan kepada Militer Myanmar. Mereka juga mengelilingi pangkalan angkatan laut ‘Israel’, Kementerian Pertahanan di Tel Aviv dan monumen serdadu Zionis yang tewas di Jalur Gaza.

Sempat Pamer di Facebook

Laporan laporan dan gambar gambar perjalanan tersebut ssempat dipublikasi di Facebook kepala Militer Myanmar. Di jejaring sosial miliknya itu ia menyatakan telah berbicara dengan perwakilan ‘Israel’ mengenai pembelian perlengkapan militer dan pelatihan.

Kementerian ‘Israel’ mengatakan pada Eitay Mack mereka tidak akan berkomentar mengenai perjanjian tersebut. “Kerahasiaan itu aneh karena faktanya kepala Militer Myanmar telah mempublikasikan rincian kunjungannya ke ‘Israel’ pada September 2015 dan pertemuannya di Naypyidaw dengan kepala ekspor pertahanan ‘Israel’ pada Agustus 2016,” kata Eitay Mack.

Seseorang memang hanya akan berteman dengan sejenisnya.  Begitupun para anak buah Dajjal tentu akan berkumpul sesamanya. Jika para aggresor sudah bersatu, dan dunia tak berdaya. Maka jihad adalah jawabannya.  Allahu Akbar !

Sumber : The Irrawaddy | Sahabat Al-Aqsha

Wallahu a’lam bishowab

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ ♥ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ♥ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ ♥ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ♥ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ