بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Hadis shahih adalah hadis yang bersambung sanad nya [ jalur periwayatan ] melalui penyampaian para perawi yang adil, dhabith, dari perawi yang semisalnya sampai akhir jalur periwayatan, tanpa ada syudzudz, dan juga tanpa ‘illat.

Hadis shahih adalah  salah satu jenis hadis berdasarkan tingkat keaslian hadis [shahih, hadis hasan, dhaif dan maudlu’ ]  . 

Kategorisasi tingkat keaslian hadis adalah klasifikasi yang paling penting dan merupakan kesimpulan terhadap tingkat penerimaan atau penolakan terhadap hadits tersebut.

Hadis yang dapat diterima, bila ditinjau dari sisi perbedaan tingkatannya terbagi menjadi dua kelompok :

  1. Shahih
  2. Hasan.

Masing-masing kelompok dibagi lagi menjadi 2:

  1. Li Dzatihi (secara independen) dan
  2. Li Ghairihi (karena riwayat pendukung).

Dengan demikian, pembagian hadis yang bisa dijadikan dalil ada empat, yang disusun secara hirarki sebagai berikut:

  1. Shahih Li Dzatihi (shahih secara independen)
  2. Shahih Li Ghairihi (shahih karena yang lainnya/riwayat pendukung)
  3. Hasan Li Dzatihi (hasan secara independen)
  4. Hasan Li Ghairihi (hasan karena yang lainnya/riwayat pendukung)

Tingkatan hadis berdasar pada tingkat keaslian hadis,  terbagi menjadi 4 tingkat yakni shahih, hasan, dhaif dan maudlu’.

Hadis shahih memenuhi persyaratan sebagai berikut:

  1. Sanadnya bersambung
  2. Diriwayatkan oleh para penutur/rawi yang adil, memiliki sifat istiqomah, berakhlak baik, tidak fasik, terjaga muruah [kehormatan]-nya, dan kuat ingatannya.
  3. Pada saat menerima hadis, masing-masing rawi telah cukup umur (baligh) dan beragama Islam.
  4. Matannya tidak mengandung kejanggalan/bertentangan (syadz) serta tidak ada sebab tersembunyi atau tidak nyata yang mencacatkan hadits (’illat).
  • Hadis Hasan, bila hadis yang tersebut sanadnya bersambung, namun ada sedikit kelemahan pada rawi(-rawi)nya; misalnya diriwayatkan oleh rawi yang adil namun tidak sempurna ingatannya. Namun matannya tidak syadz atau cacat.
  • Hadis Dhaif (lemah), ialah hadis yang sanadnya tidak bersambung (dapat berupa hadits mauquf, maqthu’, mursal, mu’allaq, mudallas, munqathi’ atau mu’dlal), atau diriwayatkan oleh orang yang tidak adil atau tidak kuat ingatannya, atau mengandung kejanggalan atau cacat.
  • Hadis Maudlu’, bila hadis dicurigai palsu atau buatan karena dalam rantai sanadnya dijumpai penutur yang dikenal sebagai pendusta.

.

Wallahu a’lam bishowab

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ ♥ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ♥ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ ♥ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ♥ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ