بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Seluruh para sahabat Rasulullah adalah orang orang yang mulia.  Keimanan dan kecintaan mereka terhadap Allah dan RasulNya sudah terbukti luar biasa.  Dan mereka semua memiliki keistimewaan dan tempat tersendiri dalam hati Rasulullah.  Namun ketika berbicara soal luasnya ilmu pengetahuan seseorang, pujian Rasulullah ternyata ditujukan kepada Umar bin Khattab.  Dan bukan sahabat Ali bin Abu Thalib seperti yang selama ini selalu digembar gemborkan orang orang Syiah.

 

Umar Adalah Lautan Ilmu

عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ سَمِعْتُ رَسُوْل َاللهِ صَلَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ بَيْنَ أَنَا نَائِمٌ أُتِيْتُ بِقَدَحِ لَبَنٍ فَشَرِبْتُ حَتَّى إِنِّي لَأَرَى الرِّيَّ يَخْرُجُ فِي أَظْفَارِي ثُمَّ أَعْطَيْتُ فَضْلِي عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ قَالُوْا فَمَا اَوَّلْتَهُ يَا رَسُوْلَ اللهِ قَالَ الْعِلْمُ. رواه البخاري

Dari Ibnu Umar, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah SAW berkata “Ketika aku tidur, (mimpi) aku diberi semangkuk susu, lalu aku meminumnya sampai aku benar-benar melihat air keluar dari jari jariku, kemudian aku memberikan sisaku pada Umar bin Khatab”.  Mereka bertanya, Ya Rasulullah apa yang engkau ta’wilkan tentang mimpi tersebut? Rasul menjawab “Ilmu”. HR Bukhari no 82

Mimpi Rasulullah tentang Umar yang menghabiskan mangkuk susu beliau artinya adalah Umar memiliki kedalaman dan keluasan akan ilmu [dunia dan akhirat].  Itulah kelebihan Umar yang tidak ada satupun para sahabat yang mampu menandinginya.

 

Ali Adalah Gudang Ilmu, Ternyata Hadis Palsu/ Maudlu’

Diriwayatkan dari jalan Abu Shalt Abdussalam bin Shalih Al Harawi, telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah dari A’masy dari Mujahdi dari Ibnu Abbas secara marfu’ dari Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam :

أنا مَدِينَةُ العلمِ وعليٌّ بابُها فمَنْ أرادَ المدينةَ فَلْيَأْتِها من قِبَلِ البابِ

“Saya adalah kota ilmu dan Ali adalah pintunya, maka barangsiapa yang menginginkan ilmu hendaklah mendatanginya dari arah pintunya”

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dalam Tahdzibul Atsar, Ath Thabrani dalam Al Kabir 1/108, Al Hakim 3/126, Al Khothib dalam Tarikh Baghdad 11/48, Ibnu Asakir 2/159.

Hadis ini sempat tenar di negeri ini dalam bentuk lagu, yang dibawakan oleh Haddad Alwi dan Sulis.

Hadis itu juga diriwayatkan oleh Al Hakim  [ Al Mustadrak No. 4637, katanya: isnadnya shahih, dan tidak dikeluarkan oleh Bukhari – Muslim ]  dengan sanad : menceritakan kepada kami Abul Abbas Muhammad bin Ya’qub, menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdurrahim Al Harawi, menceritakan kepada kamiAbu Shalt Abdussalam bin Shalih, telah mengabarkan kepada kami Abu Mu’awiyah, dari Al A’masy, dari Mujahid, dari Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhuma (lalu disebut hadits di atas).

Juga oleh Ibnu Jarir dalam Tahdzibul Atsar, Ath Thabarani (Al Mu’jam Al Kabir, 3/108/1), Al Khathib (Tarikh Baghdad, 11/48), dan Ibnu ‘Asakir (Tarikh Dimasyq, 12/159/2).

Dari jalan Abu Shalt Abdussalam bin Shalih Al Harawi, telah mengabarkan kepada kami Abu Mu’awiyah, dari Al A’masy, dari Mujahid, dari Ibnu Abbas secara marfu’.  Al Hakim dan Ibnu Jarir telah menshahihkan hadits ini.
Penshahihan yang disebutkan oleh Al Hakim dan Ibnu Jarir ini, lantaran bagi mereka Abu Shalt Abdussalam bin Shalih adalah tsiqah, ma’mun (amanah), dan shaduq (jujur), sebagaimana dikatakan Imam Yahya bin Ma’in (Lihat Al Mustadrak No. 4637).

Namun, hal ini telah dikoreksi para ulama.

Imam Adz Dzahabi mengatakan: “Justru hadits ini palsu.” Beliau mengoreksi pujian Imam Yahya bin Ma’in terhadap Abu Shalt, dengan mengatakan: “Tidak, demi Allah, dia tidak tsiqah dan tidak amanah.” (As SilSilah Adh Dhaifah, 6/519)

Kemudian Adz Dzahabi berkata : “Demi Allah hadits ini palsu, Ahmad (salah seorang perawi dalam sanad hadits ini) adalah pendusta, alangkah bodohnya kalian padahal ilmumu luas”.

Al ‘Uqaili mengatakan : rafidhi (syi’ah) yang busuk. Ibnu ‘Adi mengatakan : dituduh sebagai pemalsu hadits .

An Nasa’i mengatakan : bukan orang yang bisa dipercaya.  Ad Daruquthni mengatakan ; rafidhi yang busuk dan dituduh sebagai pemalsu hadits. (Al Hafizh Adz Dzahabi, Mizanul I’tidal, 2/616)

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah: “hadits ‘saya adalah kota ilmu dan Ali adalah pintunya‘ lebih parah kelemahannya. Oleh karena itu ia termasuk jajaran hadits palsu meskipun diriwayatkan oleh At Trimidzi dan disebutkan oleh Ibnul Jauzi, namun beliau menjelaskan bahwa semua sanadnya palsu.

Kedustaan ini juga bisa dilihat dari matannya sendiri, karena seandainya Rasulullah adalah kota ilmu lalu pintunya hanya satu dan tidak bisa mengambil ilmu dari beliau kecuali dari satu pintu ini, niscaya Islam akan tertutup.

Padahal diketahui bahwa ilmu Rasulullah baik dari Al Quran maupun As Sunnah sudah merambah ke seluruh dunia.

Sedangkan yang diajarkan oleh Ali bin Abi Thalib sangat sedikit sekali. Kebanyakan tabi’in mempelajari Islam pada zaman Umar dan Utsman, juga yang diajarkan Mu’adz pada penduduk Yaman lebih banyak dari apa yang diajarkan Ali. Sedangkan Ali tatkala datang ke kota Kufah saat itu sudah ada para imam tabi’in semacam Syuraih, Ubaidah, Alqamah, Masruq, dan lainnya” (Minhajus Sunnah 4/138 dengan sedikit peringkasan).

[disalin dari buku “Hadits Lemah dan Palsu yang Populer Di Indonesia” karya Ust. Ahmad Sabiq hal 71-72]

Sebenarnya, sikap mam Yahya bin Ma’in dalam mentautsiq (mentsiqahkan) Abu Shalt Abdussalam bin Shalih tidaklah jazm (pasti). Lantaran ucapannya yang berbeda-beda terhadap Abu Shalt ini.

Dia pernah menyebutnya : tsiqah. Pernah juga menyebut : tsiqah shaduq (bisa dipercaya dan jujur). Pernah juga menyebut: aku tidak tahu kedustaannya. Juga pernah menyebut : menurut kami dia bukan termasuk pendusta (ahlul kidzb). Pernah juga mengatakan; laisa mimman yakdzib (dia bukan termasuk orang yang berdusta). Pernah juga mengatakan; huwa shaduq (dia jujur). Bahkan dia pernah mengatakan; aku tidak mengenalnya.

Oleh karena itu, Syaikh Al Albani menilai bahwa tautsiq yang dilakukan oleh Yahya bin Ma’in ini dianggap idhthirab (goncang).

Ditambah lagi dia menyendiri dalam hal ini, sementara para imam lain telah mendhaifkan dan mencela Abu Shalt Abdussalam bin Shalih, maka dari itu mesti berpegang pada mereka bukan, kepadanya (Ibnu Ma’in). (As Silsilah Adh Dhaifah, 6/519-520).

Ada pun tentang hadits ini, Yahya bin Ma’in pun memiliki beberapa sikap. Pertama dia mengatakan : shahih. Pernah juga mengatakan : maa hadza fil hadits bi syai’ (hadits ini tidak ada apa-apanya). Pernah juga beliau mengingkarinya secara keras, setelah beliau ditanya oleh Yahya bin Ahmad bin Ziyad tentang hadits ini. Pernah juga mengatakan ; hadits bohong dan tidak ada asalnya. Pernah juga mengatakan : aku belum pernah sekali pun mendengar hadits ini, kecuali telah disampaikan padaku darinya (Abu Shalt). (Ibid, 6/520-521)

Sedangkan Syaikh Al Albani menyatakan dengan tegas bahwa hadits ini maudlu’ (palsu). (As Silsilah Adh Dhaifah, 6/518-519)

 

 

Wallahu a’lam bishowab

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ ♥ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ♥ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ ♥ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ♥ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

.