بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Para ahli sejarah menegaskan bahwa keberadaan kubah hijau di atas makam Nabi ﷺ baru ada di abad ke 7 Hijriyah. Yang pertama kali membangunnya adalah Sultan Qalawun.

Tahun 650-an Masjid Nabawi terbakar

Setelah masjid Nabawi terbakar, para tabi’in membangun kamar Nabi tetapi di seklitar kamar Rasulullah ﷺ dibangun dinding dari kayu.

Kemudian para tabi’in membangun kamar kamar Nabi ﷺ dibangun di zaman tabi’in –demi ayah dan ibu Rasulullah ﷺ – mereka  membiarkan atapnya berlubang, dan sampai sekarang masih seperti itu.

Diletakkan diatasnya lilin dan di ujungnya ada batu sebagai penyanggahnya, sedang langit tampak dari bawah.

Di mana api muncul di wilayah Hijaz yang disebabkan sekawanan unta di Bushra, lalu datanglah serangan pasukan Tartar di Baghdad dan wilayah wilayah lainnya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu berkata dalam kitab beliau Iqtidha’ush Shirathil Mustaqim : Kemudian selang beberapa tahun [ 678] dibangunlah kubah di atas atap tersebut, namun pembangunan ini ditentang oleh orang-orang yang mengingkarinya”.  ]

Tahun 678 H

Sultan Qalawun Ash Shalihi atau Al Malik An Nashir Abu Al Fatih Muhammad bin Al Manshur Saifuddin Qalawun Ash Shalihi adalah Raja atau penguasa Mesir yang memiliki perhatian besar pada pelayanan 2 tanah suci, Mekah dan Madinah. Ia merupakan ayah dari sultan Raja An Nashir Muhammad bin Qalawun,

Ia banyak membantu kafilah jamaah haji yang melintasi wilayah Mesir dengan menambah bekal mereka seperti makanan dan air. Ia juga membantu jamaah yang terpisah dari rombongan atau jamaan yang sakit.  Mereka diberikan tempat singgah dan dijamu dengan sebaik baiknya.

Pada tahun 678 H, Sultan Qalawun Ash Shalihi berinisiatif untuk memperbaiki makam Nabi dengan membangun sebuah kubah diatas makam Nabi.  Tujuannya agar bisa dibedakan antara atap kamar yang mulia ini dan atap masjid di sekitarnya.

Maka ia membangun sebuah kubah diatas makam yang mulia tsb, tepatnya diatas atap masjid.  .  Kubah itu berbentuk empat persegi panjang dari sisi bawah, sedangkan atasnya berbentuk delapan persegi dilapisi dengan kayu.

Dibangun dengan batu bata merah setinggi setengah badan, agar bisa dibedakan antara atap kamar yang mulia ini dan atap masjid di sekitarnya yang juga dibangun dengan batu bata merah,

Kubah itu berdiri di atas tiang tiang yang mengelilingi kamar, dikuatkan dengan papan dari kayu, lalu dikuatkan lagi dengan tembaga, dan ditaruh di atas kayu dengan kayu lain.

Awalnya kubah itu tidak dicat.  Jadi hanya berwarna kayu.  [ Di kemudian waktu,  dicat putih, kemudian cat biru dan yang terakhir berwarna hijau hingga sekarang.

Dalam bukunya Fushul Min Tarikh Al Madinah Al-Munawwarah, Prof. Ali Hafidz mengatakan :

لم تكن على الحجرة المطهرة قبة ، وكان في سطح المسجد على ما يوازي الحجرة حظير من الآجر بمقدار نصف قامة تمييزاً للحجرة عن بقية سطح المسجد .والسلطان قلاوون الصالحي هو أول من أحدث على الحجرة الشريفة قبة ، فقد عملها سنَة 678 هـ ، مربَّعة من أسفلها ، مثمنة من أعلاها بأخشاب ، أقيمت على رؤوس السواري المحيطة بالحجرة ، وسمَّر عليها ألواحاً من الخشب ، وصفَّحها بألواح الرصاص ، وجعل محل حظير الآجر حظيراً من خشب

Belum pernah ada kubah di atas rumah makam Rasulullah ﷺ. Dahulu di atap masjid yang lurus dengan kamar ada kayu memanjang setengah ukuran orang berdiri untuk membedakan antara ruang makam dengan bagian atap masjid lainnya.

Zainuddin Al Maraghi, yang wafat pada tahun 810H, berkata dalam kitab beliau Tahqiqun Nushrah bi Talkhishi Ma’alami Daril Hiijrah (hal. 81) : “Ketahuilah, tidak ada kubah yang dibangun di atas kamar baik sebelum dan sesudah masjid Nabawi terbakar, bahkan tidak ada di sekitar kamar Rasulullah ﷺ berupa atap setinggi setengah badan yang dibangun dengan batu bata merah untuk membedakan antara kamar Rasulullah ﷺ dengan atap di sekitarnya, hingga kemudian dibangun pada tahun 678 H di zaman pemerintahan Al Manshur Qalawun Ash Shalihi…. dst”.

Tahun 765 : Pertama kali dibangun

Lalu beliau melanjutkan :

وجددت القبة زمن الناصر حسن بن محمد قلاوون ، ثم اختلت ألواح الرصاص عن موضعها ، وجددت ، وأحكمت أيام الأشرف شعبان بن حسين بن محمد سنة 765 هـ ، وحصل بها خلل ، وأصلحت زمن السلطان قايتباي سنة 881هـ

Kubah tersebut diperbarui pada zaman An Nasir Hasan bin Muhammad Qalawun, kemudian papan yang ada tembaganya retak. Lalu diperbarui dan dikuatkan lagi pada masa Al Asyraf Sya’ban bin Husain bin Muhammad tahun, 765 H. Akan tetapi ada kerusakan,

Tahun 881 : Rusak

Ada kerusakan pada kubah, sehingga Kubah itu diperbaiki lagi pada zaman Sultan Qaytabai

Tahun 886 : Mesjid Nabi Kebakaran

Beliau melanjutkan :

وقد احترقت المقصورة والقبة في حريق المسجد النبوي الثاني سنة 886 هـ ، وفي عهد السلطان قايتباي سنة 887هـ جددت القبة ، وأسست لها دعائم عظيمة في أرض المسجد النبوي ، وبنيت بالآجر بارتفاع متناه ،….
وفي سنة 1253هـ صدر أمر السلطان عبد الحميد العثماني بصبغ القبة المذكورة باللون الأخضر ، وهو أول من صبغ القبة بالأخضر ، ثم لم يزل يجدد صبغها بالأخضر كلما احتاجت لذلك إلى يومنا هذا. وسميت بالقبة الخضراء بعد صبغها بالأخضر ، وكانت تعرف بالبيضاء ، والفيحاء ، والزرقاء

Rumah dan kubah turut terbakar pada saat terjadi kebakaran Masjid Nabawi tahun 886 H.

Tahun 887 H : Kubah diperbaharui lagi, masih pada zaman Sultan Qaytabai.  Dan dibuat pondasi yang kuat di tanah Masjid Nabawi, dibangun dengan meninggikan batanya.

Tahun 1253 H : Dicat Hijau

Sultan Abdul Hamid Al-Utsmani mengeluarkan perintah untuk mengecat kubah dengan warna hijau. Beliaulah yang pertama kali mengecat kubah dengan warna hijau. Kemudian cat tersebut terus menerus diperbarui setiap kali dibutuhkan, sampai hari ini.

Dinamakan kubah hijau setelah dicat hijau. Dahulu dikenal dengan Kubah Putih, Fayha dan Kubah Biru.” [ Fushul min Tarikh Madinah al-Munawarah, hal. 127-128 ]

Keberadaan kubah ini tidak pernah dikenal di zaman sahabat, tabiin maupun tabi’ tabiin, juga tidak pernah dikenal di zaman para imam madzhab, para pencatat hadis. Yang menarik, tidak kita jumpai usulan dari mereka untuk membuat kubah itu. Artinya mereka memahami, kubah itu memang tidak ada syariatnya dalam Islam. karena itu, aneh ketika ada orang yang menjadikan keberadaan kubah ini sebagai dalil pembenar membuat cungkup di atas kuburan.

Diantaranya as Shan’ani – penulis kitab Subulus Salam –, beliau mengikari keberadaan kubah ini sebagai dalil. Beliau mengatakan :

فإن قلت : هذا قبرُ الرسولِ صلى اللهُ عليه وسلم قد عُمرت عليه قبةٌ عظيمةٌ انفقت فيها الأموالُ. قلتُ : هذا جهلٌ عظيمٌ بحقيقةِ الحالِ ، فإن هذه القبةَ ليس بناؤها منهُ صلى اللهُ عليه وسلم ، ولا من أصحابهِ ، ولا من تابعيهم ، ولا من تابعِ التابعين ، ولا علماء الأمةِ وأئمة ملتهِ ، بل هذه القبةُ المعمولةُ على قبرهِ صلى اللهُ عليه وسلم من أبنيةِ بعضِ ملوكِ مصر المتأخرين ، وهو قلاوون الصالحي المعروف بالملكِ المنصورِ في سنةِ ثمانٍ وسبعين وست مئة

Pengingkaran Ulama Terhadap Bangunan Kubah 

Kubah ini, tidak dibangun oleh Rasulullah ﷺ, tidak juga para sahabat, tabiin, tabi’ tabiin, maupun para ulama umat ini. Kubah yang dibangun di atas makam Rasulullah ﷺ merupakan proyek sebagian raja mesir belakangan, yaitu Qalawun as-Shalihi, yang dikenal dengan Raja al Manshur, pada tahun 678 H.” [ Thathir I’tiqad, hlm. 46 ]
Tidak diragukan lagi bahwa para ulama –semoga Allah ﷻ merahmati mereka- mengingkari apa apa yang telah diharamkan dalam syariat Islam.

Sebagian mereka menegaskan pengingkaran ini, dan sebagian lagi memilih jalan diam karena mereka menyadari tidak ada gunanya berdebat dan memperpanjang masalah.

Atau bisa jadi mereka ingin bersikap ramah dengan jalan diam ini berdasarkan sabda Rasulullah ﷺ kepada Aisyah رضي الله عنه :

“Seandainya bukan karena kaummu yang baru saja terlepas dari kekafiran, niscaya aku akan mendirikan rumah di atas pondasi pondasi (yang dibangun) Ibrahim (sebelumnya)”.

Sudah diketahui sebelumnya bahwa mereka yang mengingkari hal ini telah melaksanakan kewajiban yang diperintahkan Allah ﷻ , yaitu dengan memberikan nasihat demi Islam dan kaum muslimin sendiri.

Berikut ini di antara mereka yang mengingkarinya, sebagai berikut.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu : penjelasan beliau ada diawal tulisan

Ash-Shan’ani rahimahullahu berkata dalam Tathhirul I’tiqad : “Jika anda mengatakan bahwa kuburan Rasulullah ﷺ ini saja telah dibangun kubah yang besar di atasnya dengan dukungan dan dan harta, maka aku berkata : “Inilah kebodohan besar akan hakikat peristiwa sebenarnya, karena kubah ini bukan dibangun oleh Rasulullah ﷺ, bukan pula para sahabatnya ataupun tabi’in ataupun tabi’it tabi’in, bahkan para ulama dan pemimpin agama. Akan tetapi ia merupakan bangunan penguasa Mesir belakangan, yaitu Qalawun Ash Shalihi yang lebih dikenal dengan Raja Al Manshur pada tahun 678H. Jadi, masalah ini sifatnya politis, bukan dalil yang dapat dijadikan pegangan”.

Asy-Syaikh Husein bin Mahdi An-Na’ami, dalam kitab beliau Ma’arijul Al Bab, mengemukakan pernyataan sebagian mufti yang berhujjah dengan kubah Rasulullah ﷺ. Atas dibolehkannya membangun kubah di atas kuburan, maka sang mufti berkata, “Sudah diketahui sebelumnya bahwa Rasulullah ﷺ memiliki kubah, begitu pula para pemimpin Madinah serta negeri-negeri yang lainnya.

Kubah tersebut diziarahi setiap waktu dan diyakini mendatangkan berkah” Oleh karena itu, Syaikh Husein rahimahullhu berkata : Aku menyatakan, jika memang demikian adanya, maka bagaimana dengan peringatan Rasulullah ﷺ dimana beliau mengingatkan serta menyatakan bebasnya diri beliau?! Lalu kalian nyata nyata mengerjakana apa yang dilarang oleh Rasulullah ﷺ, apakah ini tidak cukup bagi kalian sebagai pelanggaran terhadap perintah Rasulullah ﷺ, dan sikap perlawanan atas diri Rasulullah ﷺ ?! Apakah Rasulullah ﷺ pernah menganjurkan hal seperti ini, sekalipun dengan isyarat, atau beliau ridha atau beliau tidak melarangnya?! Adapun keyakinan kalian akan turunnya berkah, maka itu menurut kalian dan bukan dari Allah ﷻ ! Jadi perihal berkah ini sebagai bantahan terhadap kalian”.

Demikianlah, dan saudara-saudara kita –semoga Allah ﷻ merahmati mereka- pernah bertekad untuk merubuhkan kubah ini ketika mereka datang ke Madinah saat Raja Abdul Aziz rahimahullahu memerintah.

Mereka hampir sala melakukannya, sekiranya mereka tidak khawatir kalau kalau terjadi fitnah yang lebih besar dari para quburiyyun dibanding merubuhkan kubah tersebut, yang pada akhirnya menyebabkan kemungkaran yang lebih dahsyat. Lalu berapa banyak dakwaan dakwaan batil yang akan dilontarkan oleh para quburiyyun sekiranya diserukan penghancuran kubah kubah tersebut, yang sebagiannya sudah menyerupai sembahan Lata, Uzza dan Hubal.

 

SUmber : kitab edisi Indonesia Bantahan terhadap Musuh Sunnah, Penulis Syaikh Abu Abdurrahman Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i, Penerjemah Munawwir A Djasari, Penerbit Pustaka Azzam, Pebruari 2003
dan Ustadz Ammi Nur Baits [ Dewan Pembina Konsultasisyariah.com ]

Wallahu a’lam bishowab

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ ♥ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ♥ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ ♥ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ♥ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

.