بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Perang Islam Vs Kristen 'Romawi Timur'

636 M            ♦ Kota Lod jadi markas

Selain Al Quds [ Yerusalem ], Lod menjadi kota yang penting bagi Islam dan Yahudi. Karena kelak di kota Lod  [ Bab Al Ludd atau Gerbng Lod ] inilah dua Al Masih akan bertemu, dan satu Al Masih akan membunuh Al Masih yang lainnya [ Nabi Isa akan membunuh Dajjal ].  Di Lod, Dajjal akan berkumpul bersama pasukan Yahudi yang terakhir.

Sedang menurut kepercayaan Yahudi, kelak Al Masih [ Dajjal ] akan berkumpul bersama sama mereka di Lod untuk memimpin dunia.

Sumber sumber lain menyebutkan bahwa pertempuran akan berlangsung di sekitar Masjidil Aqsha.  Karena Dajjal berusaha membuka gerbang Al Aqsha dan memasukinya.  Dan orang orang Yahudi sebagian juga meyakini bahwa di sekitar Masjidil Al Aqsha-lah Dajjal akan berkumpul dan dikubur bersama dengan orang orang Yahudi.

Hingga kini, disamping bukit Al Quds, antara bukit Zaitun dan bukit Al Aqsha ada sebuah pemakaman Yahudi. Orang orang Yahudi berusaha untuk dapat dimakamkan di situ, meskipun mahal harganya.  Karena mereka berkeyakinan disitulah tempat paling suci sebagai pemakaman, dan karena Dajjal juga akan di’bunuh’ di situ.  Sehingga menjadi kebanggaan bagi meeka

Lod merupakan salah satu kota yang berkembang di dataran Sharon, yaitu 15 km di tenggara Tel Aviv, Israel. Lod yang dalam bahasa Arab adalah al Ludd itu, konon menjadi tempat tinggal Suku Benyamin. Kota seluas 12.226 km per segi itu sudah muncul sejak Periode Kanaan.

Kota ini menjadi salah satu lokasi yang penting setelah penaklukan bangsa Arab terhadap Baitul Maqdis  oleh pasurkan tentara Muslim yang dipimpin Khalid bin Walid pada 636 M. Selama penaklukan yang dilakukan kaum Muslim, Lod menjadi markas Provinsi Filastin, meskipun selanjutnya dipindahkan ke Ramla.

637 M           ♥    Al Quds berhasil dibebaskan   ♥ 
16 H

♦ Oleh pasukan Islam, kaum Yahudi dipersilahkan menetap di Al Quds

Usai memenangkan perang Yarmuk, kini tibalah saatnya membebaskan Al Quds. Khalifah Umar memerintahkan Amr Ibn Al Ash dan Syarhabil Ibn Hasanah untuk menguasai Al Quds. Amr dan Syarhabil akan menuju Al Quds dengan membawa pasukan. Tapi, itu bukan jalan mudah. Pasalnya, mereka mesti menaklukkan terlebih dahulu beberapa daerah untuk bisa masuk Palestina.
Pasukan pun melangkah lewat area pegunungan subur dan penuh pepohonan di Golan (Jaulan). Di sini, pasukan muslim akan melewati Galileia yang ada di utara Palestina. Sama seperti Golan, wilayah ini juga sangat subur. Kaum Yahudi dan Nasrani memiliki memori sejarah penting di kota ini. Dan, peperangan kecil terjadi.
Pasukan yang dipimpin Amr dan Syarhabil berhasil memenangkan pertempuran dengan pasukan Romawi TImur/ Byzantium yang kala itu berkuasa. Kota kota sepanjang Galileia mampu ditaklukkan pasukan muslim, dan penduduknya diberikan jaminan keamanan dan kepemilikan.

Inilah strategi Umar bin Khattab رضي الله عنه membebaskan Al Quds yang brilian.

Kota ini bakal dikuasai dengan jalan pengepungan. Di lain sisi Palestina, Yazid Ibn Abi Sufyan dan Muawiyah ternyata juga diutus untuk membantu menaklukkan Al Quds. Muawiyah membawa pasukan untuk menaklukkan wilayah utara Palestina lainnya.

Akhirnya Beirut, Tripoli, Sidon, Byblos, dan Latakia berhasil dikuasai. Sementara itu, Yazid menaklukkan daerah di Palestina sebelah selatan. Daerah yang berhasil dikuasai Yazid dan pasukan muslim adalah Sidon, Tyre, Acre, hingga Haifa. Usai menaklukkan Haifa, Yazid dan pasukannya bergabung dengan Amr. Dua kekuatan militer ini lantas berjalan menuju Palestina.
Masivnya gerakan pasukan Islam di Palestina membuat khawatir Raja Konstantin II, penguasa wilayah Caesarea yang ada barat Palestina. Meski Caesarea merupakan daerah kekuasaan Romawi Timur/ Byzantium yang cukup kuat, tetapi melihat prestasi pasukan Islam cukup menggetarkan, Konstantin II tidka mau ambil resiko.
Dari kota bandar yang ada di pesisir Levantina ini, Konstantin II meminta bantuan dari Siprus dan Konstantinopel. Sehingga terbentuklah pasukan Byzantium di bawah komando Artavon yang harus menghadang pasukan Islam ketika mereka melewati daerah Caesarea untuk bisa sampai ke Al Quds.

Pasukan Amr dan Yazid-pun bertemu pasukan Artavon dari Caesarea. Perang hebat pun terjadi di daerah Ajnadin.  Atas izin Allah ﷻ, pasukan Islam menang. Artavon lalu melarikan diri ke Baitul Maqdis.

Pembebasan Baitul Maqdis
Setelah 5 Abad, Yahudi diperbolehkan kembali menetap di Baitul Maqdis 

Jatuhnya Caesarea, menjadi kunci pembuka menuju Baitul Maqdis.  Khalifah Umar segera memerintahkan penambahan pasukan untuk mendukung Amr. Pasukan yang dipimpin Ubaidah, Khalid, dan Mu’awiyah diminta untuk membantu setelah sebelumnya menaklukkan Suriah dan pesisir Levantina. Dan, pasukan Islam pun mengepung sepanjang kota selama musim dingin.

Rasa gentar dihadapi oleh Artavon dan Patriarch Sophronius. Patriarch adalah uskup agung gereja di Baitul Maqdis. Mereka beradu mulut. Artavon tidak ingin bila Baitul Maqdis diserahkan pada pasukan Islam. Di lain sisi, Patriarch menginginkan Baitul Maqdis diserahkan pada pasukan Islan dengan damai. Dia yakin kedatangan pasukan Islam sebagai bentuk kehendak Tuhan. Perdebatan itu disaksikan oleh orang orang di dalam gereja yang letaknya dalam benteng. Dan, orang orang ini menyetujui ide Patriarch.

Lantas dikirimlah utusan gereja menemui pasukan Islam. Utusan ini menyampaikan bahwa Baitul Maqdis akan diserahkan dengan beberapa syarat. Yaitu, penyerahan kota tidak dilakukan dengan jalan peperangan, pasukan Romawi Timur/ Byzantium dibiarkan untuk menuju Mesir, dan Khalifah Umar diminta datang ke Yerusalem untuk serah-terima kunci kota. Abu Ubaidah yang menerima utusan gereja itu menyanggupi permintaan tersebut.

Umar pun datang ke Baitul Maqdis.  Masyarakat kota ini menyambut kedatangan Umar dengan arak arakan. Tapi, arakan ini mendadak hilang. Pasalnya, Umar datang dengan penuh kesederhanaan.

Patriarch Sophronius yang menyambut Umar terkesima melihat kedatangan Umar.  Karena, menurut ramalan Injil dikatakan : diketahui ke gereja di Yerusalem, “seorang miskin, tetapi lelaki yang kuat” akan datang sebagai pelindung dan beresekutu dengan orang Kristen Yerusalem.

Sophronius percaya bahwa Umar, seorang penakluk yang besar dan pemimpin kehidupan yang keras, memenuhi semua tanda dalam ramalan itu. Menurut cerita dari Patriarkh Aleksandria, Eutychius, ia mengatakan bahwa `Umar dipersilahkan mengunjungi Church of the Holy Sepulchre dan duduk di halaman depan gereja tersebut. Saat waktu shalat tiba, ia pun meninggalkan gereja dan melaksanakan shalat di dekat kemahnya. Ia khawatir akan generasi masa depan muslim yang menghalalkan shalat di dalam gereja ataupun dalam tempat ibadah agama lain selain masjid. Eutychius menambahkan bahwa `Umar juga menulis sebuah surat perintah yang ia percayakan kepada Patriarkh, yang melarang Muslim berkumpul untuk shalat dalam bangunan ini.
[ “The Holy Sepulchre – first destructions and reconstructions”. Christusrex.org. 2001-12-26. Diakses tanggal 2013-10-14.]

Umar disambut Uskup Patriarch dan diajak ke beberapa tempat suci di kota, termasuk ke Gereja Makam Suci [menurut keyakinan Kristen, Nabi Isa dimakamkan di gereja ini].  Ketika waktu zuhur tiba, Umar minta ijin untuk melakukan ibadah shalat.  Dengan sigap Uskup Patriarch menawarkan gereja Makam Suci untuk tempat Umar shalat.  Tetapi Umar menolaknya.

“Jika saya melaksanakan shalat di gereja ini, saya khawatir para pengikut saya yang tidak mengerti dan orang orang yang datang ke sini dimasa yang akan datang akan mengambil alih bangunan ini kemudian mengubahnya menjadi masjid.  Hanya karena saya pernah shalat di dalamnya. Mereka akan menghancurkan tempat ibadah kalian. Untuk menghindari kesulitan ini dan supaya Gereja kalian tetap sebagaimana adanya, maka saya shalat diluar,” ucap Umar yang tetap menghormati pemeluk agama lain dalam wilayah perlindungan Islam.

“Tunjukkan saja, dimana tempat Nabi kami Muhammad ﷺ melakukan shalat.  Di mana Bait Allah?” Mendengar permintaan itu, Uskup Patriarch cukup terkejut.  Mengingat Kuil Sulaiman [begitu Yahudi menyebutnya] sudah hancur berantakan sejak tahun 325 M, artinya sudah 3 abad lamanya.  Masjidil Aqsha bahkan menjadi tempat pembuangan sampah warga Baitul Maqdis.

Dengan agak ragu khawatir memancing kemarahan Umar, Patriach pun menunjukkan lokasi Bait Allah [Masjidil Aqsha].  Umar dan para sahabat mendapati tempat itu sungguh tidak terawat.  Penuh sampah dan bekas reruntuhan disana sini.  Umar dan shahabat segera  membersihkan tempat itu dan menjadikannya tempat shalat.

Ke depannya, di tempat ini bakal berdiri banyak bangunan bersejarah untuk mengingatkan peristiwa Isra’ Mi’raj.  Salah satunya adalah mesjid Al Qibly yang dibangun Umar pada tahun itu juga [ 636/7 M]

Jami’ Al Qibly : Masjid al Qibly atau Masjid Kiblat atau Masjid al Umar. Masjid ini dibangun oleh Sayyidina Umar bin Khattab dengan batang-batang pohon – sama seperti Masjid Nabawi yang dibangun Rasulullah ﷺ. Masjid Al-Qibly berkapasitas 3.000 jamaah. Dibangun kembali pada masa Sultan Abdul Malik bin Marwan, dan selesai pada masa anaknya Al Walid bin Abdul Malik. Masjid ini sudah beratus-ratus kali diserang musuh; penyerangan terbesar pada tahun 1969, ditandai dengan hancurnya Mimbar Salahuddin di Masjid al-Aqsha

Dengan adanya penaklukkan Arab, orang Yahudi diizinkan kembali memasuki Baitul Maqdis.  Dan berakhir sudah penantian Bani Israil selama 5 abad lebih.  Atas kebijaksaan Umar, Khalifah ke2 Islam, Bani Israil yang setelah Perang Bar Kokhba [ 132 – 135 M ] dilarang memasuki Baitul Maqdis, kini bebas untuk menetap di Baitul Maqdis.

Khulafaur Rasyidin Umar bin Khattab lalu menandatangani kesepakatan dengan Patriakh Kristen Monofisit Sophronius untuk meyakinkan dia bahwa tempat tempat suci dan umat Kristendi Baitul Maqdis akan dilindungi di bawah kekuasaan orang Muslim.  Kesepakatan itu dikenal dengan Perjanjian Umar atau al Ahdah al Umariyah.

‘Kami akan menepati perjanjian damai dan menjaga kalian.  Seperti yang diajarkan Allah dan RasulNya, Agama, hata dan jiwa kalian akan kami lindungi.  Dan kami kebebasan mengatur kehidupan kalian seperti biasanya, selama kalian berlaku adil dan bijaksana terhadap sesama,  Dan bila kalian memiliki masalah dan ingin kami yang menyelesaikannya, maka kami akan selesaikan denga syariat Islam.  Dan kalian tidak dibebani kewajiban bendawi, kecuali jizyah dan al kharaj.  Dan besarnya jizyah jauh dibawah zakat yang menjadi kewajiban kami. Zakat bagi kami adalah ibadah, sedang jizyah bagi kalian adalah bentuk pengakuan terhadap penguasaan Islam.  Kami tidak akan membebani kalian dengan ajaran kami,  karena itu dilarang Allah dan RasulNya. Tidak ada paksaan dalam agama.  Dan wajib bagi kami melindungi kalian dari musuh kita bersama.  Dan jika kami kewalahan, kami tidak akan menuntut kalian’  demikian yang diucapkan Umar.

Inilah satu satunya peristiwa penaklukan dimana masyarakat negri tsb menginginkan adanya perjanjian secara langsung dengan penguasa negri yang menaklukkan.  Belum pernah terjadi selama ini, ada rakyat yang ingin Sang Penguasa terlibat langsung dengan rakyat yang ditaklukkan.  Dan hal itu, baru kali pertama terjadi di Palestina. (Filistin Dirasat Manhajiah fi al-Qodhiyah al-Filistiniyah/ DR. Muhsin Muhammad Shalih/hal.22). Perjanjian itu mengisyaratkan bahwa orang Nashrani telah mengamanahkan kepada Umar diri mereka, harta mereka, gereja mereka, keturunan mereka, orang-orang yang sakit diantara mereka, orang yang sembuhnya, dan semua kepercayaan di sana, untuk dijaga dan pelihara oleh pemerintahahan Islam (ibid hal.22)

Pembangunan kembali Kompleks Masjidil Aqsha ⇒ Masjid Al Qibly yang pertama dibangun

Area Masjidil Aqsha mencakup sebidang tanah dengan luas 1,4 H.  Semula diatas area itu berdiri bangunan masjid sebagai tempat ibadah sekaligus pusat pemerintahan pada era Nabi Dawud dan Nabi Sulaiman.  Sebuah bangunan yang indah, megah, kuat dan dengan teknologi canggih yang tidak mungkin ada yang menyamainya, siapapun juga.  Bahkan hingga akhir jaman.  Tidak heran, pada era kedua nabi mulia itu, Bani Israil mencapai kejayaan mereka.  Mereka menjadi bangsa yang kuat, disegani dan dimuliakan.  Namun sayang sejak dua nabi itu wafat, Bani Israil kembali kufur, seperti yang sudah sudah.  Bahkan mereka tidak segan segan membunuh nabi yang telah berani memperingatkan akan kekufuran mereka.  Masjidil Aqsha, yang semula sebagai tempat ibadah shalat dan mengkaji ilmu ilmu agama [plus pusat pemerintahan], perlahan berubah fungsinya.  Seiring dengan semakin sesatnya Bani Israil, seiring itupula fungsi dan peran Masjidil Aqsha menjadi berubah.
Bahkan sebutannya pun berubah, tinggal lagi disebut Masjidil Aqsha seperti yang diajarkan para Nabi.  Tetapi Bani Israil menyebutnya dengan Baitalllah.

Masjidil Aqsha yang dibangun pertama kali oleh  Nabi Adam, kemudian dilanjutkan oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Ishaq setelah itu disempurnakan bangunannya oleh Nabi Dawud dan Nabi Sulaiman ⇒ bangunan itu telah dihancurkan rata pada tahun  586 SM Raja Nebuchadnezzar II [Raja Babilonia].  Kemudian pada tahun 516 SM, ketika Baitul Maqdis berada dalam kekuasaan Kerajaan Persia,  Bani Israil berkesempatan untuk membangun kembali Masjidil Aqsha yang mereka sebut sebagai Kotel atau Baitallah atau Tembok Bouroq.

Dan tahun 70 M dihancurkan untuk kedua kalinya, kali ini oleh Romawi [ Raja Titus Flavius ].  Dan kali kedua ini, tersisa sebuah tembok sepanjang 60 meter.  Inilah yang disebut Tembok Ratapan atau Kotel.  Tapi jelas, apapun klaim Yahudi, tembok ini bukanlah bagian dari Masjid yang dibangun Nabi Dawud dan Nabi Sulaiman.  Karena bangunan asli masjid mulia tsb, sudah hancur oleh tanah pada tahun 586 SM.

♥♥♥

Berdasarkan catatan sejarah yang saya miliki, bangunan pertama yang berdiri di atas kompleks Masjidil Aqsha adalah Jami’ Al Qibly atau Masjid al Qibly atau populer disebut Masjid Kiblat.  Juga dikenal luas sebagai Masjid al Umar karena Umar-lah yang membangun mesjid ini.

Mesjid ini dibangun pada tahun yang sama saat Baitul Maqdis dibebaskan, yakni di thaun 637 M/ 16 H.  Awalnya masjid Al Qibly dibangun  dengan batang batang pohon – sama seperti Masjid An Nabawi yang dibangun Rasulullah ﷺ.  Dibangun kembali pada masa Sultan Abdul Malik bin Marwan, dan selesai pada masa anaknya Al Walid bin Abdul Malik. Masjid ini sudah beratus ratus kali diserang musuh; penyerangan terbesar pada tahun 1969, ditandai dengan hancurnya Mimbar Salahuddin di Masjid al Aqsha.

Menurut uskup Gaul Arculf, yang tinggal di Yerusalem dari 679 hingga 688, Masjid Umar merupakan bangunan kayu persegi yang dibangun di atas sisa-sisa bangunan yang dapat menampung 3.000 jamaah.

645 M           Era Utsman Bin Affan رضي الله عنه 
24 H

650 M            Konflik pertama di laut dengan Armada Konstantinopel
29 H

Sesuai dengan Nubuwat Rasulullah ﷺ,  Persia dan Syam telah jatuh ke tangan muslim. Kini tinggal Konstantinopel itu sendiri yang belum ditaklukkan.  Dan Yaman!

Alkisah Muawiyah رضي الله عنه. mengusulkan kepada khalifah Utsman bin Affan رضي الله عنه untuk membentuk armada laut sebanyak 1600 kapal untuk mengamankan wilayah Afrika Utara yang telah dikuasai kaum muslimin. Selain itu, angkatan laut ini juga diperlukan untuk berkonfrontasi terhadap kekutan Romawi yang wilayahnya berada pada tiga benua yang dibatasi oleh laut tengah dan laut mati. Penyerangan kepada ibukota Romawi, Konstantinopel, dari manapun arahnya harus melewati laut. Jadi angkatan laut ini sangat diperlukan.

Pada 650 Masehi, terjadi konfrontasi antara armada Islam yang dipimpin oleh Abdullah bin Abu Sarah melawan armada Romawi yang dipimpin Kaisar Konstantin II di Mount Phoenix. Armada Romawi Timur mengalami kekalahan telak. Konon 20.000 orang pasukannya tewas. Pertempun ini sangat menentukan karena selangkah lagi kaum muslimin akan menghampiri ibukota Romawi.

654 M          Ekspedisi yang gagal
33 H

Utsman bin Affan رضي الله عنه mengirimkan Muawiyah bin Abu Sofyan رضي الله عنه dengan pasukan yang besar untuk mengepung dan menaklukkan Konstantinopel. Tetapi sayang mereka pulang dengan tangan hampa disebabkan oleh kokohnya pertahanan Konstantinopel.

Kota ini memang memiliki benteng benteng yang kokoh. Kota ini juga memiliki benteng alam berupa tiga lautan yang mengelilinginya, yaitu selat Basphorus, laut Marmarah dan Tanduk Emas (golden horn) yang dijaga dengan rantai besar sehingga sangat sulit bagi kapal musuh untuk leluasa masuk kedalamnya. Daratannya dijaga dengan pagar-pagar yang kokoh yang terbentang dari laut Marmarah sampai Tanduk Emas. Memiliki satu menara dengan ketinggian 60 kaki, benteng benteng tinggi yang pagar bagian luarnya saja memiliki ketinggian 25 kaki, selain tower tower pemantau yang terpencar dan dipenuhi tentara pengawas. Dari segi kekuatan militer, kota ini dianggap sebagai kota yang paling aman dan terlindungi, karena di dalamnya ada pagar-pagar pengaman, benteng benteng yang kuat dan perlindungan secara alami. dengan demikian, maka sangat sulit untuk bisa diserang apalagi ditaklukkan.
Wajar kalau kota ini terbangun dengan benteng benteng yang kokoh. Banyak yang mengincar kota ini untuk dikuasai termasuk bangsa Gothik, Avars, Persia, Bulgar, Rusia, Khazar, juga kaum muslimin. Ini adalah kota yang dipilih oleh Constantine The Great setelah Kekaisaran Romawi terpecah dua akibat konflik gereja. Konflik gereja menyebabkan kekaisaran Romawi terpecah dua, satu berpusat di Vatikan, yaitu Katolik Roma. Sedangkan Yunani Orthodok berpusat di Konstantinopel. Kota ini dipilih dengan alasan strategis dan menjadi batas Eropa dan Asia baik di darat sebagai salah satu jalur sutera maupun di laut antara Laut Tengah dan Laut Hitam dan dianggap sebagai titik terbaik sebagai pusat kebudayaan dunia.

656 M           Terbunuhnya Utsman ⇒ berakhirnya era Khalifah Utsman bin Affan
35 H

Masa Rasulullah
Masa Khulafaur Rasyidin (632M – 661M)
Masa Khilafah Bani Umayah (661M – 750M)
Masa Khilafah Bani Abbasiyah:
┈☆Bani Abbasiyah (750M – 1258M)
┈☆Bani Abbasiyah di Kesultanan Mamluk Mesir (1261M – 1517M)
Masa Khilafah Utsmaniyah ( 1517M – 1924M)
Masa Kontemporer

661 –              Era Bani Umayyah [Arab بنو أمية banū umayya / الأمويون al-umawiyyūn] [Andalusia]
750 M

Dibangunnya Mushala Al Qadim : Masjid tertua yang berlokasi di bawah Masjid Al Aqsha. Di dalam masjid terdapat tangga yang terbuat dari bebatuan. Pintu masuknya di bawah pintu masuk Masjid Al-Qibly. Dibangun pada masa Kesultanan Umayyah. Beratus ratus tahun ditutup, dan baru dibuka lagi pada tahun 1999

Juga dibangun Mushala Al Marwani : Masjid terbesar dan berlokasi di bawah pekarangan sebelah selatan Masjidil Aqsha. Luas masjid 3600 m2. Pertama kali dibangun pada masa Kesultanan Umayyah. Saat Perang Salib, kuda-kuda ditambatkan di sini. Setelah pembebasan Baitul Maqdis oleh Salahuddin Al Ayyubi, bangunan diubah dan diberi nama baru menjadi “Gudang Sulaiman.” Pada tahun 1997, Yayasan Waqaf Al-Aqsha mengembalikan fungsinya menjadi masjid

 Sebenarnya tidak ada catatan pasti, kapan Masjid Al Buraq dibangun.  Dan bisa jadi juga dibangun di masa Kesultanan Umayyah.  Dulunya adalah tempat menambat Buraq, tunggangan Rasulullah ﷺ saat Isra’. Pintu masuknya menuruni tangga di bawah pekarangan Masjidil Aqsha, dan juga ada pintu masuk lain yang lebih tinggi. Hanya dibuka pada saat shalat Jum’at dan shalat-shalat ‘Id.

668 M           Mu’awiyah bin Abi Sufyan berusaha menaklukkan Konstantinopel ⇒ gagal
44 H

Pada masa kekhalifahan Muawiyah, 668 M, kaum muslimin menyerang Romawi dengan menggunakan dua jalur, laut dan darat. Dari laut armada Islam dikerahkan ke Hellespont menuju Laut marmara sampai ke Selat Bosporus. Dari darat, mereka menerobos Asia kecil menuju kota Chalcedon yang berada di selat Bosporus. Pasukan darat kemudian dijemput armada laut dan diseberangkan ke pantai Konstantinopel. Namun benteng-benteng kota Konstantinopel tak bisa ditembus. Pasukan Romawi bertahan dengan senjata terbarunya, yaitu Greek Fire atau Wet Fire berupa bola-bola berisi cairan naftha yang dilontarkan dan pecah sehingga bertebaran di permukaan laut. Lalu dari atas benteng Romawi menembakkan panah api ke laut sehingga laut pun terbakar. Pasukan muslimin gagal dalam penyerbuan ini dan seorang sahabat Rasulullah, Abu Ayyub Al-Anshary syhaid. Beliau adalah sahabat yang rumahnya dikunjungi pertama kali oleh Rasulullah ketika hijrah. Sebelum wafat Abu Ayyub sempat berwasiat jika wafat ia meminta dimakamkan di titik terjauh yang bisa
dicapai oleh kaum muslim. Dan para sahabatnya berhasil menyelinap dan memakamkan beliau persis di sisi tembok benteng Konstantinopel di wilayah Golden Horn.

682 / 63 H    Umar bin Abdul Aziz bin Marwan bin Al-Hakam bin Abu Al-Ash bin Umayyah bin Abd Syams bin Manaf
720 M

685 M            Dibangunnya  Kubah Shakhrah/ Dome Of The Rock
– 705 M

Pada Isra’ dan Mi’raj, setelah Rasulullah melakukan shalat bersama para Nabi, Rasul dan Malaikat, kemudian Rasulullah ﷺ bersama Malaikat Jibril menuju ketempat dimana Bouroq sudah disiapkan oleh para malaikat untuk siap dinaiki Rasulullah.  Nah, untuk menaiki Bouroq yang cukup tinggi dan besar itu, kaki Rasulullah konon menginjak sebuah batu besar yang ada disitu.  Kemudian dari titik inilah Rasulullah ﷺ naik ke langit.

Pada tahun 685 M, diatas batu besar itu dibangunlah sebuah kubah megah dan indah oleh Sultan Abdul Malik bin Marwan dari Umayyah.  Bentuk bangunan segi delapan, dengan tinggi 35 meter. Kubah yang disebut orang juga sebagai Dome of the Rock ini dilapisi potongan emas, sementara bangunannya dihiasi dengan porselin khusus, khat yang sangat indah dan lantainya keramik.

Syamsuddin Al-Maqdisi, seorang sejarawan abad ke-10, menuliskan bahwa Abdul Malik membangun shakhrah tersebut agar dapat mengimbangi kemegahan gereja-gereja monumental di Yerusalem.[135]

Di masa Perang Salib [ sekitar 1095 M] bangunan ini dijadikan gereja dengan ditambahi sebuah altar sementara bulan sabit besar di kubah diganti dengan salib. Pada tahun 1187, Salahuddin AlAyyubi mengembalikan Kubah As Sakhrah ke fungsi semula.

Pada tahun 2009, Turki memperbarui hiasan bulan sabit pada Kubah As Sakhrah dengan biaya 250 ribu Euro.

Kubah Al Shakhrah inilah yang kemudian diperkenalkan oleh Israel kepada dunia internasional sebagai Masjid Al Aqsha untuk menipu umat Islam dunia, dan menjauhkannya dari pengetahuan dan pengawasan kaum Muslimin. Kubah ini letaknya di dalam wilayah atau kompleks Masjid Al Aqsha [ atau sering juga disebut Al Haram Asy Syarif ]

Tujuan utama media Yahudi menyamarkan Masjid Sakhra (Dome of the Rock) sebagai Masjid Aqsa adalah agar Yahudi bisa menghancurkan Al Aqsha sehingga mereka bisa  membangun “Solomon Temple” [ Kuil Sulaiman ] pada bekas reruntuhan Al Aqsha itu.

Umat Yahudi meyakini dalam Kitab Perjanjian Lama (Taurat) bahwa akan datang di akhir zaman seorang yang mereka anggap sebagai dewa penolong Yahudi yang dinamakan “Messiah” (Al Masih, dalam bahasa Arab) apabila mereka mengadakan ritual agama di Solomon Temple dengan mempersembahkan sapi betina berwarna merah (Al Baqarah). (The Guardian Magazine).

Sejak itu selama 462 tahun ke depan wilayah ini terus menjadi daerah kekuasaan Islam dengan jaminan keamanan bagi para pemeluk agama lainnya dan perlindungan terhadap kelompok minoritas berdasarkan pakta yang dibuat Umar ketika menaklukkan kota tersebut.

Bahkan pada tahun 2012, ketika konflik Palestina kian memuncak, banyak umat Islam, Yahudi, dan Kristen menuntut diberlakukannya kembali pakta tersebut dan membuat poin-poin perdamaian yang merujuk pada pakta itu untuk sebagai solusi konflik antara umat bergama di sana.

750 M          ♥ Era Khilafah Bani Abbasiyah :  الخلافة العباسية

Era ini terbagi menjadi 2, yakni :

∴  Bani Abbasiyah (750M – 1258M)
∴  Bani Abbasiyah di Kesultanan Mamluk Mesir (1261M – 1517M)

Ini adalah kekhalifahan kedua Islam yang berkuasa di Baghdad (sekarang ibu kota Irak). Kekhalifahan ini berkembang pesat dan menjadikan dunia Islam sebagai pusat pengetahuan dunia. Kekhalifahan ini berkuasa setelah merebutnya dari Bani Umayyah dan menundukkan semua wilayahnya kecuali Andalusia.

Bani Abbasiyah dirujuk kepada keturunan dari paman Rasulullah ﷺ yang termuda, yaitu Abbas bin Abdul Muththalib (566-652), oleh karena itu mereka juga termasuk ke dalam Bani Hasyim. Berkuasa mulai tahun 750 dan memindahkan ibukota dari Damaskus ke Baghdad.

Berkembang selama tiga abad, tetapi pelan-pelan meredup setelah naiknya bangsa Turki yang sebelumnya merupakan bahagian dari tentara kekhalifahan yang mereka bentuk, dan dikenal dengan nama Mamluk.

Selama 150 tahun mengambil kekuasaan memintas Iran, kekhalifahan dipaksa untuk menyerahkan kekuasaan kepada dinasti-dinasti setempat, yang sering disebut amir atau sultan. Menyerahkan Andalusia kepada keturunan Bani Umayyah yang melarikan diri, Maghreb dan Ifriqiya kepada Aghlabiyyah dan Fatimiyah. Kejatuhan totalnya pada tahun 1258 disebabkan serangan bangsa Mongol yang dipimpin Hulagu Khan yang menghancurkan Baghdad dan tak menyisakan sedikitpun dari pengetahuan yang dihimpun di perpustakaan Baghdad.

Keturunan dari Bani Abbasiyah termasuk suku al Abbasi saat ini banyak bertempat tinggal di timur laut Tikrit, Iraq sekarang.

1000               Era Kekaisaran Seljuk Agung
1400 M

Mulai abad 11 hingga 14, berdiri kekaisaran Islam di Turki [Asia Tengah] yang menguasai Asia Tengah dan Timur Tengah, terbentang dari Anatolia hingga ke Rantau Punjab di Asia Selatan.  Kekaisaran ini juga dikenal sebagai Kekaisaran Seljuk Agung.

1073              Al Quds direbut  Kekaisaran Seljuk

Di bawah komando Atsiz bin Uwaq.  Setelah Atsız terbunuh, Pangeran Seljuk Tutush I memberikan Yerusalem kepada Artuk Bey, seorang komandan Seljuk lainnya. Setelah meninggalnya Artuk pada tahun 1091 kedua putranya, Sökmen dan Ilghazi, memerintah kota ini sampai dengan direbutnya kembali kota ini oleh Kekhalifahan Fatimiyah pada tahun 1098.

Berakhirnya Perang Islam Vs Kristen 'Romawi Timur'

Perang Islam Vs Kristen 'Tentara Salib'

1095 M         Dimulainya Perang Salib : Islam Vs Kristen

Pada awal abad ke 2, Muslim telah menguasai kawasan timur Laut Tengah yakni Tanah Suci [Palestina, Yordan, Libanon].  Hal itu membuat tidak suka Paus Urbanus II.  Ia mendorong Kaisar Aleksios [Kaisar Romawi Timur/ Byzantium] untuk memerangi Kerajaan Islam dan merebut Tanah Suci.  Ia juga mengimbau umat Nasrani seperti bangsawan Prancis, Jerman, dan Italia untuk memberi bantuan militer kepada Romawi Timur.

Ia menjelaskan secara detail penghinaan yang diterima para peziarah di Tanah Suci dan menyerukan orang beriman untuk membantu saudara-saudara mereka mengusir orang Turki dari Yerussalem.

Paus Urban bahkan menyarankan mereka yang menuju ke Timur harus mengenakan Salib berbentuk kotak merah sebagai lambang pencarian mereka. Ekspedisi ini harus disebut “Croisade” dari “croix” bahasa Prancis untuk “Salib”, dan dari inilah berasalnya nama yang dibekukan pada sejarawan untuk segenap upaya itu : Crusades atau Perang Salib, [Tamim Ansary, 2009].
Dengan wewenang yang ada padanya, Paus memutuskan bahwa siapa pun yang berangkat ke Al Quds untuk membunuh “kaum kafir” [Muslim] akan menerima pengampunan atas dosa dosanya.

“Pergilan ke Timur anak muda, kata Paus. Tunjukkan diri kalian yang sejati sebagai mesin pembunuh mengagumkan yang untuk itulah kalian telah dilatih masyarakat kalian, penuhi sakumu dengan emas tanpa rasa bersalah, rebutlan tanah yang jadi hak kalian sejak lahir, dan sebagai akibat dari itu semua, masuklah ke surga setelah kalian mati!” Begitu kata Paus.
Tentara ‘Salib’ itu pun berduyung-duyung datang ke Timur, berziarah dan untuk merebut Al Quds, serta merampas hak orang Islam yang dinilai kafir itu.

Al Quds saat itu sedang dikuasai oleh Kekaisaran Seljuk Agung yang dipimpin oleh Sultan Bakiyaruq Bin Maliksyah (1094 – 1105).  Masalahnya, Putra Sultan Maliksyah ini naik tahta di usia yang amat muda, yakni 13 tahun.  Tidak heran Al Quds harus kalah dalam Perang Salib Pertama ini.

1096 M         Perang Salib Pertama : Islam mengalami kekalahan.

Kaisar Byzantium Alexius Comenus mengirimkan pasukan gelombang pertama yang terdii dari petani Prancis dan Jerman yang tidak disiplin dan jarang mendapat hasil. Satu kelompok petani, yang dikenal dengan “Perang Salib Rakyat”, berhasil mencapai Konstantinopel sebelum akhirnya dikalahkan  Tuki Seljuk.

1097 M

Pada 1097, gelombang kedua yang terdiri dari 4.000 tentara dan 25 ribu infanteri, mulai bergerak ke timur. Pasukan dipimpin oleh Raymond dari Toulouse, Godfrey dari Bouillon, Robert dari Flanders, dan Bohemond dari Otranto, tentara Kristen yang menyeberang ke Asia Kecil pada 1097.
Pada Juni, tentara salib merebut kota Nicaea yang dikuasai Turki dan kemudian mengalahkan tentara Seljuk Turki di Dorylaeum. Dari sana, mereka berbaris menuju Antiokhia, yang terletak di dekat Sungai Orontes di bawah Gunung Silpius, dan memulai pengepungan selama enam bulan.

1098 M

Pada pagi hari 3 Juni 1098, Bohemond berhasil membujuk seorang pengkhianat Turki untuk membuka Gerbang Jembatan Antioch dan memerintahkan para tentara masuk dan melakukan pengepungan dalam kota. Mereka kemudian mulai membantai ribuan tentara musuh dan warga.
Pada bulan berikutnya, tentara Turki tiba untuk mencoba merebut kembali kota tersebut. Namun mereka juga berhasil dikalahkan dan benteng Antiokhia tunduk kepada orang-orang Eropa.

Setelah beristirahat dan melakukan reorganisasi selama enam bulan, tentara salib berangkat menuju tujuan akhir mereka, Al Quds. Jumlah mereka sekarang berkurang menjadi sekitar 1.200 kavaleri dan 12 ribu tentara.

1099 M         Setelah 400 tahun dalam wewenang IslamAl Quds Jatuh pada 7 Juni 1099 ketangan Tentara Salib

♦ Sekali lagi, Yahudi dilarang memasuki Al Quds

Pada 7 Juni 1099, tentara Kristen sampai di Al Quds dan mulai membangun tiga menara pengepungan besar. Pada 13 Juli menjelang malam, pasukan Kristen itu mulai berjuang menembus tembok Al Quds.
Pada 14 Juli, pasukan Godfrey menjadi pertama menembus pertahanan dan akhirnya Gerbang Santo Stefanus dibuka.

Kota Lod direbut Tentara Salib dan namanya diganti lagi menjadi St Jorge de Lidde. Namun, kota tersebut direbut kembali dari Tentara Salib pada 1191 oleh pasukan Saladdin. Penjelajah Yahudi Benjamin Tudela mengatakan, saat Saladdin menaklukkan Lod, ada sekitar  1.170 keluarga Yahudi tinggal di sana.

Membantai Saracen

Begitu Tentara Salib memasuki kota, tujuan utama mereka adalah mencari Saracen.  Saracen adalah sebutan  yang digunakan oleh orang Kristen Eropa terutama pada Abad Pertengahan untuk merujuk kepada orang yang memeluk Islam. Pernyataan ini dengan jujur menegaskan begitu kejamnya pasukan Perang Salib selain tehadap kaum Muslim.

Tentara Salib bukan hanya melakukan pembantaian. Mereka mengamuk secara menakutkan, bahkan sampai merebus orang Muslim dewasa untuk sup dan menusuk anak anak sebagai sate, memanggang mereka di atas bara api, lalu menyantap.

Albert Aix yang ikut dalam penaklukan Ma’ara, sebagaimana dinarasikan Tamin Ansary, menulis, “Pasukan kami bukan hanya tidak segan-segan memakan bangkai orang Turki dan Saracen, mereka juga memakan anjing.” (Tamim Ansary, 2009).

Tumpukan kepala, tangan, dan kaki di sepanjang jalan. Mereka menumpahkan darah ‘orang kafir’ (istilah mereka kepada umat Islam) hingga darah umat Islam kala itu digambarkan sampai selutut.
David M. Crowe dalam bukunya “War Crimes, Genocide, and Justice: A Global History” menggambarkan, setelah pertempuran Antiokhia, Tentara Salib membunuh semua orang di kota itu dan menjual perempuan dan anak-anak dalam perbudakan. Juga membunuh semua Muslim dan Yahudi di Jerussalem. Menurut catatan, Tentara Salib membantai lebih dari 70 000 Muslim dan Yahudi di kota itu dalam jangka hanya dua hari.
Awalnya orang Yahudi mencari aman dengan mengungsi ke sinagoge utama mereka yang besar, tetapi ketika kumpul di sana untuk berdoa dan keselamatan, Tentara Salib justru menutup semua pintu dan jendela, lalu membakar bangunan itu menghanguskan hampir seluruh warga Yahudi Yerussalem dalam sekali sambar.
Penduduk asli yang Kristen pun tidak benasib begitu baik. Ini karena tak satu pun dari mereka sebagai jemaat Gereja Katolik Roma, melainkan berasal dari gereja Timur seperti Yunani, Armenia, Koptik, atau Nestorian.
Pasukan Salib Franj memandang mereka sebagai sempalan dan ahli bid’ah akidah juga ibadah, dan sebagaimana mereka pandang, bid’ah kadang lebih buruk daripada kafir. Akhirnya, Franj menyita harta milik penganut Kristen Timur ini lalu mengirim mereka ke pengasingan.
Tentara salib telah mencapai tujuan mereka, dan Al Quds berada di tangan orang Kristen. Namun tentara Mesir mulai memasuki kota suci itu beberapa minggu kemudian untuk melakukan perlawanan dan kalah.
Dilansir dari History, kekalahan Mesir oleh orang orang Kristen pada Agustus 1099 mengakhiri perlawanan Muslim terhadap orang orang Eropa untuk sementara waktu.

Berdirinya 4 Negara Tentara Salib Kerajaan Katolik Yerusalem

Kemenangan awal Perang Salib menghasilkan pendirian 4 Negara Tentara Salib  yang pertama di kawasan timur Laut Tengah, yakni [1] Kabupaten Edessa, [2] Kepangeranan Antiokhia, [3] Kerajaan Yerusalem, dan [4] Kabupaten Tripoli.

Tetapi perang Salib tidak berhenti sampai disitu, seruan Paus Urbanus dari seluruh kalangan masyarakat Eropa Barat untuk merebut lebih banyak lagi daerah daerah lain, menjadi preseden bagi perang-perang Salib selanjutnya. Para sukarelawan menjadi Tentara Salib dengan mengikrarkan kaul di muka umum dan menerima indulgensi paripurna dari Gereja. Sebagian berharap akan diangkat beramai-ramai ke surga dari Yerusalem [Al Quds] atau mendapatkan ampunan Allah atas segala dosanya. Sebagian yang lain ikut serta demi menunaikan kewajiban feodal, untuk mendapatkan kemuliaan dan kehormatan, atau untuk mendapatkan keuntungan ekonomi dan politik.

1099 M         Dome Of The Rock dijadikan gereja

Setelah Al Quds jatuh ketangan Tentara Salib, Kubah As Sakhra  ini dijadikan gereja dengan ditambahi sebuah altar,  sementara bulan sabit besar di kubah diganti dengan salib. Namun pada tahun 1187, Salahuddin Al Ayyubi mengembalikan Kubah As Sakhrah ke fungsinya semula, yakni sebagai monumen titik berangkat Rasulullah saat Mi’raj.

Tentara Salib merebut kota Lod dari bangsa Arab dan menamainya menjadi St Jorge de Lidde. Namun, kota tersebut direbut kembali dari Tentara Salib pada 1191 oleh pasukan Saladdin. Penjelajah Yahudi Benjamin Tudela mengatakan, saat Saladdin menaklukkan Lod, sebanyak 1.170 keluarga Yahudi tinggal di sana.

1118   M        Nuruddin Mahmud Zanki (1118-1174).

1146 –           Perang Salib Kedua
1148

♦ Tentara Salib Ingin Menguasai Damaskus

Al Quds masih diduduki Kerajaan Yerusalem, sehingga gema Perang Salib Kedua tidak sekencang Perang Salib Pertama. Paus Eugenus III memanggil Perang Salib baru, yang diserukan di Prancis dan Jerman oleh St. Bernard dari Clairvux. Raja Perancis, Louis VIII, dan istrinya, Eleanor dari Aquitaine, segera merespon, meskipun Kaisar Jerman, Conrad III, harus dibujuk. Kaisar Byzantine saat itu, Manuel Comnenus, juga mendukung Perang Salib, meskipun dia tidak menyumbangkan pasukannya.

Meskipun pada suatu waktu Perang Salib ini melibatkan pasukan terbesar, Perang Salib kedua ini tidak diikuti oleh antusiasme seperti antusiasme pada Perang Salib yang pertama, karena pada saat itu Yerusalem masih dikuasai Kristen. Jalannya kampanye kedua ini juga dipenuhi kepentengan-kepentingan dari pihak yang terlibat, yang kesemuanya menghambat kemajuan. Kesulitan perjalananjuga semakin menambah kesulitan. Ketika tidak mampu untuk sampai ke Edessa, para Prajurit Salib berkonsentrasi untuk mengambil alih Damaskus. Tapi konlik intern membuat mereka mengundurkan diri.

Kegagalan dari Perang Salib kedua begitu mematahkan semangat, dan banyak di Eropa merasa bahwa Kekaisaran Byzantium merupakan halangan dalam mencapai kesuksesan. Kegagalan ini juga merupakan tiupan moral yang kuat bagi Pasukan Muslim yang telah berhasil secara sebagian mengurangi kekalahan mereka di Perang Salib pertama. Posisi dari negara bagian para Prajurit Salib saat itu lemah, dan di tahun tahun selanjutnya mereka dikelilingi oleh kekuatan Muslim yang telah berkonsolidasi yang diikuti oleh hancurnya Kalifah Fatimid di Mesir.

1187   –         Shalahuddin merebut Al Quds dari tangan Tentara Salibis
1229 M

♦ Yahudi diperbolehkan memasuki Al Quds kembali.
♦ Era Kesultanan Ayyubiyah [yang berlangsung selama 86 tahun; selama 1174-1250 Kesultanan Ayyubiyah beribukotakan Kairo, lalu pada 1250-1260 beribukota di Aleppo]

3 Juli 1187, Shalahuddin dan pasukannya mengepung wilayah Tiberias, sementara Pasukan Salib [Kerajaan Yerusalem] sedang mengadakan persiapan untuk menyerang Daulah Ayyubiyah. Mendengar hal itu, Shalahuddin langsung bertolak menuju pusat pemerintahannya di Kafr Sabt –sebuah daerah di Utara Palestina-. Ia meninggalkan pasukannya di Tiberias, dan memerintahkan pasukannya yang lain untuk mencegat Pasukan Salib di wilayah Hattin.

4 Juli 1187, terjadilah peperangan besar antara Shalahuddin dan pasukannya dengan tentara Salib, perang yang terjadi di saat kaum muslimin berpuasa ini dikenal dengan Perang Hattin. Pada perang ini, sebanyak 20.000 tentara Salib berhasil ditundukkan, di antara mereka ada yang mati kehausan dan kepanasan. Sedangkan Raja Jerusalem yang memimpin Pasukan Salib di perang ini, Guy de Lusignan, berhasil ditawan. Shalahuddin adalah pria yang penuh adab dan keramahan, ia memperlakukan tawanannya yang terhormat ini dengan penuh adab, tidak seperti yang digambarkan oleh sebagian pihak. Adapun tawanan seperti Reginald dari Chaliton yang berhianat dengan merusak perdamaian dieksekusi sebagai bayaran dari perbuatannya. Demikian juga dengan seluruh ksatria gereja dan pasukan elit Kristen, semua dieksekusi di depan khalayak.

Kekalahan di Hattin telah memangkas gerak penyebaran Pasukan Salib di Timut Tengah dan juga mengakibatkan Jerusalem kehilangan sebagian pasukannya. Kondisi ini benar-benar dimanfaatkan Shalahuddin untuk terus menekan Pasukan Salib. Terbukti, empat hari setelah perang itu, Shalahuddin mengajak kaum muslimin bersatu memerangi tentara Salib dan mengusir mereka dari tanah Palestina. Ia mengumpulkan semua pasukannya dari berebagai desament menuju tanah suci Jerusalem dengan tujuan membebaskannya.
Pada bulan Agustus 1187, pasukan besar ini telah berhasil menaklukkan Ramalah, Gaza, Bayt Jibrin, dan Laturn. Kemudian pada 2 Oktober 1187, barulah Shalahuddin bersama pasukannya berhasil membebaskan Jerusalem setelah berunding dengan penguasanya, Balian dari Ibelin. Saat itu lantunan adzan dari Masjidil Aqsha menggantikan dentang lonceng gereja yang biasa menggema di Al Quds.

Sesaat setelah pembebasan Baitul Maqdis oleh Salahuddin Al Ayyubi, semua pintu ditutup demi menjaga kota Baitul Maqdis dan Masjid al Aqsha dari serangan musuh.

Begitu juga Gerbang Rahmah, yang terdiri dari dua pintu: Pintu Rahmah dan Pintu Taubah. Pintu setinggi 11,5 meter ini termasuk salah satu akses umum untuk masuk ke Masjid Al-Aqsha dari arah timur laut.

Gerbang Rahmah ini oleh Kaum Nashara (Kristen) disebut  Pintu Emas. Mereka mempercayai bahwa “Yesus” [ Nabi Isa عليه السلام ] masuk melalui pintu ini dan akan keluar lagi nanti dari pintu ini.

Pintu Segitiga juga ditutup Salahuddin.  Ini pintu masuk ke Masjid Al Marwani di dalam kompleks Masjid Al-Aqsha.  Pada tahun 1990 saat ‘Israel’ menduduki kota, mereka ingin merebut Masjid Al-Marwani dan sudah membuat tangga di sana dan ingin membukanya, tetapi kaum Muslim berhasil merestorasinya kembali untuk menjadikannya tempat shalat seperti dulu lagi. Dengan ini mereka berhasil menghambat proyek ‘Israel’

Pintu Ganda juga ditutup Salahuddi. Pintu kedua di dinding selatan dari arah kiblat. Menghadap benteng benteng Umawi di arah selatan masjid. Pintu dibuat agar para sultan dan pemimpin ummat dari arah benteng itu dapat masuk ke Masjid dan langsung bisa mengimami shalat.

 Salahuddin Al Ayyubi membangun Masjid Al Maghariba : Dibangun langsung oleh Salahuddin Al-Ayyubi pada tahun 1193. Sekarang dijadikan museum.

1187 M         Dome Of The Rock Dikembalikan fungsinya sebagai bangunan suci Islam, dan bukan gereja.

Setelah pada masa Perang Salib [1099 M] Kubah As Sakhra  ini dijadikan gereja dengan ditambahi sebuah altar,  sementara bulan sabit besar di kubah diganti dengan salib. Akhirnya pada tahun 1187, Salahuddin Al Ayyubi mengembalikan Kubah As Sakhrah ke fungsinya semula, yakni sebagai monumen titik berangkat Rasulullah saat Mi’raj.

1188 –            Perang Salib Ketiga
1192 M

Al Quds tetap dikuasai Islam [ DInasti Ayyubiyah ]

Seiring dengan jatuhnya Al Quds ketangan Islam, Paus Gregory VIII menyerukan Perang Salib ketiga. Sayang waktunya bersamaan dengan matinya raja-raja yang pertama kali menjawab panggilan. Raja pertama yang menjawab seruan tersebut adalah William II dari Sisilia. Dia mengirimkan armada ke Timur tapi kemudian mati pada 1189. Henry II dari Inggris setuju untuk berpartisipasi, tapi juga mati di tahun yang sama. Kaisar Jerman, Frederick Barbarossa, yang telah ber-rekonsiliasi dengan Gereja (setelah sebelumnya sempat di ekskomunikasi), berpartisipasi dengan memimpin tentara yang besar yang mengalahkan Pasukan Seljug pada 1190. Tapi bulan berikutnya, Kaisar yang sudah lanjut ini mati tenggelam saat dia berusaha berenang untuk mengintai.

Dua raja yang akhirnya memimpin Perang Salib ini adalah Richard I (“Si Hati Singa, Lion-Hearted) yang gagah tapi falmboyan, keturunan Henry II dan penerusnya. Dan RajaPhilip II Agustus dari Prancis. Dalam perjalanan ke Tanah Kudus, Richard I berhenti di Cyprus dan saat itu dia diserang oleh Pangeran Byzantine Isaac Comnenus. Ricahrd I kemudian mengalahkan sang Pangeran dan mengambil alih pulau tersebut sebelum berlayar ke kota pelabuhan Acre yang diserang oleh Prajurit Salib.

Dengan datangnya bala bantuan, kota pelabuhan Acre akhirnya bisa direbut dan pasukan Muslim akhirnya menyerah. Philip II kemudian merasa kaul Perang Salibnya terpenuhi dan kembali ke Prancis. Shalahuddin kemudian setuju untuk menukarkan tawanan dengan relikui dari Salib yang asli. Persetujuan ini kemudian pecah ketika Richard memasalahkan pemilihan tawanan yang akan dikembalikan dan kemudian memerintahkan untuk menghukum mati tawanan Muslim dan keluarganya.

Richard berkehendak untuk menekan ke Al Quds dan berhasil mendapatkan beberapa kota, termasuk Jaffa, tapi pada akhirnya tidak mampu mencapai Kota Suci Al Quds itu sendiri. Hubungannya dengan Shalahuddin akrab. Keduanya sepertinya saling menghormati.

Pada akhir 1192 keduanya menandatangani perjanjian damai 5 tahun yang mengijinkan Umat Kristen memiliki akses ke tempat kudus. Daerah kekuasaan Kristen di Tanah Kudus saat itu telah berkurang menjadi kerajaan-kerajaan kecil yang terdiri dari kota pelabuhan besar.

1193 M        Salahuddin membangun Masjid Al Maghariba

 Salahuddin Al Ayyubi membangun Masjid Al Maghariba pada tahun 1193. Sekarang dijadikan museum.

1198             Seruan Perang Salib Keempat

Paus Innocent III mengajukan Perang Salib keempat.

1203

♦ Pembuatan ulang Pintu An Nazar : Memiliki banyak nama di antaranya Pintu Kurungan, Pintu Majlis dan Pintu Mikail. Berbentuk persegi panjang dengan tinggi 4,5 meter. Dibangun ulang pada tahun 1203.
♦ Gerbang Al Silsilah : Gerbang ini memiliki dua pintu masuk, yang pertama Pintu AlSilsilah yang berstatus “buka” dan Pintu As-Sakinah yang tertutup dan hanya dibuka pada saat-saat tertentu saja. Kedua pintu dengan tinggi 4,5 meter dibangun dan diperbarui pada masa Kesultanan Ayyubiyah di tahun 1203.

1204             Perang Salib Keempat

♦ Target : Melumpuhkan Mesir [Daulah Ayyubiyah]
Al Quds tetap dikuasai Islam [ DInasti Ayyubiyah ]

Perang Salib keempat adalah bencana yang tidak terhindarkan. Perang Salib keempat adalah episode yang hanya menyebabkan kerusakan internal dalam Kekristenan. Pada 1198 Paus Innocent III mengajukan Perang Salib keempat. Seperti biasa, Prancis menjawab seruan tersebut. Target baru saat itu adalah Mesir, wilayah yang dulunya Kristen namun sekarang menjadi kekuatan Muslim. Prajurit Salib berpaling ke bangsa Venetia untuk transportasi, tapi ketika dana yang dikumpulkan tidak cukup, warga Venetian menyarankan agar mereka menyerang dan menangkap Zara, kota Hungaria yang Kristen. Banyak yang menolak dengan keras, termasuk Paus. Tapi perintah Paus diabaikan dan Prajurit Salib mengambil alih Zara atas permintaan warga Venetia.
Masalah berubah dari buruk menjadi lebih buruk ketika Alexius, anak dari bekas Kaisar Byzantin Isaac Angelus, meminta bantuan Prajurit Salib untuk mengembalikan tahta ayahnya. Dengan menjanjikan hadiah, Alexius meyakinkan para Prajurit Salib untuk mencoba melakukannya. Surat Paus yang melarang ekspedisi tersebut datang lambat dan Prajurit Salib telah mengambil Konstantinopel, mengembalikan tahta Isaac sebagai Kaisar dan menyatakan anaknya sebagai Kaisar-bersama (Co-emperor) Paus Innocent III memperingatkan dengan keras para pemimpin dan memerintahkan mereka untuk terus menuju Tanah Kudus, tapi hanya beberapa yang melakukannya. Kebanyakan menunggu hadiah yang dijanjikan Alexius.

Kekaisaran Romawi Timur Jatuh ke Tentara Salib
Memisahkan Kekristenan Barat Dan Timur

Pihak Romawi Timur/ Byzantium yang kurang suka terhadap janji Alexius terhadap Prajurit Salib kemudian membunuh Alexius yang kemudian diikuti oleh pengambil alihan Byzantin dan kekaisarannya oleh Prajurit Salib dan pihak Venetia.

Konstantinopel kemudian jatuh ke tangan mereka pada 13 April 1204 yang membuat dimulainya penjarahan dan pembunuhan. Kemudian Kaisar Latin untuk Konstantinopel diangkat oleh sebuah konsili yang terdiri dari Prajurit Salib dan warga Venetia. Pemerintahan Byzantin kemudian di re-lokasikan ke Nicaea dan memerintah hanya sebagain dari daerah sebelumnya sampai 1261 saat Konstantinopel di taklukkan oleh Michael VIII Paleologous.
Perang Salib ini adalah perjalanan bodoh. Tidak hanya tidak sempat untuk berhadapan dengan pasukan Muslim yang menguasai Tanah Kudus, peristiwa ini lebih memisahkan Kekristenan Barat dan Timur disamping merusak secara permanen Kekaisaran Byzantine yang berfungsi sebagai pembatas antara agresi Muslim dengan jantung daerah Kristen.
Di tahun tahun setelah Perang Salib Keempat, ada beberapa Perang Salib kecil (perang dimana pesertanya bersumpah) dengan penganut bidat (ajaran sesat) dan lainnya. salah satu yang menjadi fokus adalah “Prajurit Salib anak-anak” (1212) dimana ribuan anak diberangkatkan untuk menaklukkan Muslim dengan cinta dan bukan dengan senjata. Seorang anak dari Prancis yang punya visi ini memimpin satu bagian gerakan, sementara satu anak dari Jerman memimpin yang lain. Kebanyakan anak sampai ke Italy. Namun gerakan ini tidak pernah sampai ke Tanah Kudus dan kebanyakan anak mati lapar atau atau mati ellah atau dijual orang jahat dari Italy sebagai budak Muslim. Meskipun begitu gerekan ini menimbulkan simpati yang mengarah ke Perang Salib Kelima.

1213 M         Dinasti Ayyubiyah terus melakukan pembangunan di Masjidil Aqsha

Membuat Pintu Al Asbat : Pintu ini tingginya 4 meter  Kesultanan Ayyubiyah (yang berlangsung selama 86 tahun; selama 1174-1250 Kesultanan Ayyubiyah beribukotakan Kairo, lalu pada 1250-1260 beribukota di Aleppo).

Juga Pintu Atam / : Dikenal juga dengan Pintu Raja Faisal dan Pintu Kehormatan Para Nabi.

1217               Perang Salib kelima
1221 M

♦ Target : Mesir Daulah Ayyubiyah

Ini adalah Perang Salib terakhir dimana Gereja berperan. Perang salib ini diserukan oleh Paus yang menyerukan Perang Salib sebelumnya, Innocent III, dan juga oleh Konsili Ekumenis ke 12, Lateran !V. Dan seperti upaya sebelumnya, target dari perang Salib ini bukanlah Palestina tapi Mesir, basis dari kekuatan Muslim, yang diharapkan oleh para Prajurit Salib untuk dijadikan bahan tawaran untuk pembebasan Al Quds. Tidak seperti Perang Salib sebelumnya (Keempat) yang menjadi tidak terkendali ditangan awam, upaya kali ini diletakkan dalam otoritas wakil kepausan, Cardinal Pelagius. Dia mempunyai pengetahuan militer dan secara rutin berperan dalam keputusan militer.

Usaha kali ini mengalami kesuksesan awal, dan Pasukan Muslim yang terkejut menawarkan syarat damai yang sangat menguntungkan, termasuk pengembalian Al Quds. Tapi, Prajurit Salib, dianjurkan oleh Kardinal Pelagius, menolak ini. Sebuah blunder militer mengakibatkan Prajurit Salib kehilangan Damietta yang mereka dapat di awal kampanya ini.

Pada 1221, Pasukan Kristen menerima perjanjian gencatan senjata dengan syarat yang jauh kurang menguntungkan dari yang pertama. Banyak yang menyalahkan Pelagius, beberapa menyalahkan Paus. Banyak juga yang menyalalahkan Kaisar German Frederick II yang tidak tampil di Perang Salib kali ini tapi yang akan tampil utama di Perang Salib berikutnya.

1220 M

Pintu Hitta : Salah satu pintu Masjid Al Aqsha yang tertua. Direstorasi pada masa Kesultanan Ayyubiyah di tahun 1220

1228 –           Perang Salib Keenam 
1229 M

Innocent III telah mengijinkan Frederick II untuk menunda partisipasinya di Perang Salib supaya dia bisa mengatasi masalah di Jerman. Penerus Innocent III, Gregory IX, kesal terhadap penundaan terus menerus Frederick memperingatkan Frederick untuk memenuhi kaulnya. Saat sang Kaisar menunda lagi dengan alasan sakit Paus langsung meng-ekskomunikasi dia. Saat Frederick akhirnya berangkat, dia berperang dalam kondisi ter-ekskomunikasi.
Situasi aneh ini mengawali suatu Perang Salib yang aneh. Sebagain karena ekskomunikasi dari Frederick sedikit orang yang mendukung dia sehingga dia tidak mampu menggalang kekuatan militer yang besar. Karena itu dia memakai diplomasi dan mengambil kesempatan atas terjadinya perpecahan didalam Muslim. Dia melakukan perjanjian dengan Sultan Al Kamil dari Mesir pada 1229. Menurut perjanjian tersebut Al Quds (Kecuali Kubah Batu dan Mesjid Al-Aqsa), Betlehem, Nazareth dan beberapa daerah tambahan, akan dikembalikan ke Kerajaan Yerusalem

Frederick II yang masih ter-ekskomunikasi, kemudian dimahkotai sebagai Raja Yerusalem di Gereja Kuburan Kristus dalam suatu upacara non-religius (Karena Yerusalem dilarang oleh Gereja untuk melakukan upacara religious akibat status Frederick II yang masih ter-ekskomunikasi). Tahun selanjutnya Frederick II diterima kembali ke Gereja. Namun dia tidak mampu memerintah dengan sukses Kerajaan Al Quds dari jauh karena baron lokal menolak untuk bekerja sama dengan wakil dia. Tahun 1239 dan 1241 ada dua Perang Salib kecil yang dilakukan oleh Thibaud IV dari Champagne dan Roger dari Cornwall. Dua upaya si Syria dan melawan Ascalon tidak sukses.

1229 –            Al Quds Dikuasai Lagi oleh Kerajaan Salib
1244 M

♦ Inilah terakhir kali Al Quds dikuasai Kerajaan Yerusalem [ Tentara Salib ]

Dari tahun 1229 sampai 1244, Al Quds dikembalikan secara damai ke dalam kendali kaum Kristen sebagai hasil dari suatu perjanjian pada tahun 1229 antara Kaisar Romawi Suci Friedrich II mewakili Tentara Salib dan Sultan Ayyubiyyah al Kamil dari Mesir sehingga mengakhiri Perang Salib Keenam.  Kaum Ayyubiyyah mempertahankan kendali atas tempat tempat suci Muslim, dan sumber sumber Arab menunjukkan bahwa Friedrich tidak diizinkan untuk memulihkan fortifikasi-fortifikasi Yerusalem [Al Quds]

1244  –          Al Quds direbut kaum Tatar Khwarezmia
1260 M

♦ Yahudi diusir keluar dari Al Quds

Al Quds jatuh ketangan kaum Tatar Khwarezmia [ bangsa dari Gurun Gobi sebelah utara timu laut ] , sebagian besar populasi Kristen dibinasakan dan orang orang Yahudi diusir keluar.  Kaum Tatar beasal dari Rusia.

1247 M         Al Quds dibebaskan lagi oleh Ayyubiyah

♦ Yahudi diperbolehkan masuk lagi

Kaum Tatar Khwarezmia  [ bangsa dari Gurun Gobi sebelah utara timu laut ] dihalau keluar Al Quds oleh Ayyubiyah pada tahun 1247. Ketika Nahmanides berkunjung pada tahun 1267, ia hanya menemukan dua keluarga Yahudi dalam suatu populasi berjumlah 2.000 penduduk (300 di antaranya adalah orang Kristen) di kota ini.

1226 M

Di Prancis, Louis IX (1226-1270), memerintahkan pengusiran semua orang Yahudi dari kerajaannya, sesaat setelah Louis berangkat menuju medan Perang Salib. Perintah itu memang tidak dijalankan dengan sempurna. Banyak orang Yahudi yang meninggalkan Prancis kemudian kembali lagi. Tetapi, Philip the Fair (1285-1314) kemudian memerintahkan semua Yahudi Prancis untuk ditangkap. Kemudian, Raja Charles IV, kembali mengusir Yahudi Prancis pada tahun 1322. Josephine Bacon mencatat pengusiran dan pembantaian orang-orang Yahudi di Prancis dalam kurun tahun 800-1500. Tahun 1420, komunitas Yahudi dimusnahkan dari Toulouse. Pada tahun yang sama, Yahudi juga diusir dari Kota Lyon. Tahun 1321, 160 Yahudi dikubur dalam satu lobang di Kota Chinon. Tahun 1394, seluruh Yahudi diusir dari Kota Sens.

1244 M         Al Quds dikuasai bangsa Tartar

Tahun 1244, Al Quds dikepung oleh Kharezmian bangsa Tartar, yang mengurangi penduduk Kristen kota dan mengusir orang Yahudi. Khwarezmia dari bangsa Tatar diusir oleh Ayyubiyyah tahun 1247. Dari 1250 hingga 1517, Yerusalem dikusasai oleh Mamluk. Selama periode ini banyak pertentangan terjadi antara Mamluk di satu sisi dan tentara salib dan suku Mongol di sisi lain. Wilayahnya juga terimbas dari banyak gempa dan wabah hitam.

1249 –           Perang Salib Ketujuh
1252 M

♦ Taget : tetap Mesir, untuk dijadikan tawaran untuk Palestina

Inisiatif untuk Perang Salib ini diambil oleh Raja Louis IX dari Prancis. Prajurit Salib dengan cepat mampu mengambil alih Damietta tapi harus membayar mahal ketika mengambil alih Kairo. Serangan balasan Muslim berhasil menangkap Louis IX. Dia kemudian dibebaskan setelah setuju untuk mengembalikan Damietta dan membayar uang tebusan. Setelah itu Louis IX tetap di Timur beberapa tahun untuk bernegosiasi mengenai pelepasan tawanan dan mengkokohkan kekristenan di wilayah tersebut

1258 M         Kejatuhan total Dinasti Abbassiyah, disebabkan serangan bangsa Mongol yang dipimpin Hulagu Khan                          yang menghancurkan Baghdad dan tak menyisakan sedikitpun dari pengetahuan yang dihimpun di perpustakaan Baghdad

1260 M         Berakhirnya kekuasaan Daulah Ayyubiyah [Mesir]

Kesultanan yang telah dibangun Shalahuddin dari Tigris sampai ke Nil telah ia bagi-bagikan kepada ahli warisnya. Sayangnya tidak ada satu pun dari mereka yang mewarisi keahliannya dalam memimpin. Anak-anaknya al-Malik al-Afdhal yang menggantikan kedudukannya di Damaskus, al-Zahir mewarisi tahta di Aleppo, dan si bungsu sekaligus kepercayaan Shalahuddin, Shalah al-Adil yang menguasai Karak dan Syaubak, gagal meneruskan kejayaan Daulah Ayyubiyah ini.
Kekuasaan mereka berhasil direbut oleh paman mereka sendiri al-Adil antara tahun 1196-1199 M. Pada masa selanjutnya, kekuasaan Dinasti dilanjutkan oleh anak-anak al-Adil dan kemudian dihancurkan oleh pasukan Tartar.

1260 –           Al Quds dikuasai Mamluk/ Sultan Alauddin Basyari
1517 M

Dari tahun 1260 sampai 1517, Al Quds diperintah oleh Kesultanan Mamalik/ Mamluk [Mesir]. Selama periode waktu ini terjadi banyak bentrokan antara kaum Mamluk di satu sisi dan para tentara salib serta suku Mongol di sisi lainnya. Daerah ini juga mengalami banyak gempa bumi dan wabah hitam.  Beberapa keberadaan kaum Kristen Eropa dipertahankan di kota ini dengan adanya Ordo Makam Kudus.

1266             Pembuatan Pintu Matharah

Pintu Matharah : Disebut juga Pintu Wudhu, sebab berdekatan dengan tempat berwudhu. Tingginya 3,5 meter dan dibangun pada 1266 pada masa Sultan Alauddin Basyari dari Kesultanan Mamalik.

1270 M         Perang Salib Kedelapan 

♦ Perang Salib Terakhir
Al Quds tetap dikuasai Islam [Kesultanan Mamluk ]

Perang Salib terakhir juga dipimpin oleh Louis IX. Di tahun tahun kemudian, perubahan di dunia Muslim mengakibatkan munculnya sejumlah serangan baru ke wilayah Kristen di Tanah Kudus. Warga lokal meminta bantuan militer pada Barat, tapi cuma sedikit bangsa Eropa yang tertarik untuk melakukan kampanye besar. Satu orang yang sekali lagi mau memanggul beban adalah Louis IX. Namun kampanye yang dia lakukan kali ini mencapai kurang dari apa yang dicapai sebelumnya bagi Kerajaan Yerusalem.
Tidak diketahui mengapa, tapi Tunisia di Afrika Utara dijadikan saran awal. Setelah disana, wabah mengambil nyawa banyak orang, termasuk Louis yang saleh. Saudaranya, Charles Anjou, tiba dengan kapal-kapal Sisilia dan berhasil mengungsikan sisa tentara.

Meskipun ini adalah Perang Salib terakhir, ini bukanlah ekspidisi militer terakhir yang bisa disebut sebagai Perang Salib. Kampanya terus diserukan atas berbagai sasaran (bukan hanya Muslim) oleh Prajurit Salib-orang yang berkaul untuk melakukan perang. Umat Kristen di Palestina ditinggalkan tanpa bantuan lebih lanjut.

Meskipun mengalami kekalahan terus menerus, Kerajaan Yerusalem tetap bertahan sampai 1291, ketika akhirnya musnah. Umat Kristen masih tetap hidup di daerah tersebut bahkan setelah kejatuhan Kerajaan Yerusalem.

Berakhirnya Perang Islam Vs Kristen 'Tentara Salib'

1261 M –     Al Quds dipegang Bani Abbasiyah di Kesultanan Mamluk Mesir

Abad ke -15 M : Pembantaian Yahudi & Muslim di Spanyol dan Potugal

Abad ke-15 sejarah mencatat pembantaian besar besaran kaum Yahudi dan Muslim di Spanyol dan Portugal. Pada tahun 1483 saja, dilaporkan 13.000 orang Yahudi dieksekusi atas perintah Komandan Inqusisi di Spanyol, Fray Thomas de Torquemada. Selama puluhan tahun berikutnya, ribuan Yahudi mengalami penyiksaan dan pembunuhan.

1278 M        Dibangun Menara Pintu Al Maghariba

Menara Pintu Al Maghariba : Disebut juga Menara Fahri . Dibangun pada masa Kesultanan Mamalik di tahun 1278. Masih digunakan hingga hari ini. Bagian atas menara ini agak hancur disebabkan oleh gempa bumi pada tahun 1992. Direstorasi di tahun yang sama. Ini menara terkecil di Masjid Al-Aqsha dengan tinggi 23,5 meter.

1297 M         Dibangunnya Menara Pintu Ghawanimah

Menara Pintu Ghawanimah : Disebut juga Menara Qalawun dan dan dibangun pada masa Kesultanan Mamalik di tahun 1297. Sejak tahun 1329, Menara Ghawanimah dan Menara As-Silsilah telah direstorasi dua kali. Ghawanimah adalah menara tertinggi di dalam Masjid Al-Aqsha dengan tinggi 38,5 meter. Di ujung menara terdapat sulaman, motif dan ubin menghiasi

1307 M

Restorasi pembangunan Pintu Ghawanimah : Dibangun di masa Sultan Walid bin Abdul Malik dari Kesultanan Umayyah (yang selama periode tahun 661-744 berpusat di Damascus, lalu pada periode 744-750 di Harran di kawasan Turki sekarang; dan akhirnya menjadi kesultanan terasing pada 756-1031 di Kordoba). Pintu ini juga dikenal sebagai Pintu Walid atau Pintu Al-Khalil. Dibangun kembali pada tahun 1307. Pernah dihancurkan oleh seorang fanatik Yahudi dan pada Juni 1998 selesai direstorasi.

1313

Pintu Al Maghariba : Dikenal juga sebagai Pintu Buraq dan Pintu Nabi. Dalam satu riwayat dikatakan bahwa Rasulullah ﷺ pada malam Isra’ dan Mi’raj masuk ke Masjidil Aqsha melalui pintu ini. Direstorasi pada masa Sultan Muhammad bin Kalawun dari Kesultanan Mamalik di tahun 1313

1329 M         Dibangunnya Menara Pintu Al Silsilah

Menara Pintu Al Silsilah : Disebut juga Menara Mahkamah dengan tinggi 35 meter. Konstruksinya masih seperti saat dibangun di bawah Kesultanan Mamalik di tahun 1329. Dalam beberapa tahun belakangan ini sudah direstorasi. Oleh sebab gempa, terlihat di ujung menara batubatu putih hasil perbaikan.

1376 M         Dibangunnya Menara Pintu Al Asbat

Menara Pintu Al Asbat : Dibangun pada masa Kesultanan Mamalik di tahun 1376, dengan tinggi 28,5 meter. Restorasi total setelah gempa pada tahun 1927. Dari semua menara, hanya menara ini saja yang dalamnya berbentuk silinder.

1453 M         Konstantinopel Jatuh  ke tangan Daulah Utsmaniyah [ Sultan Al Fatih ]

29 Mei 1453, Konstantinopel, ibu kota dari Kekaisaran Romawi TImur/ Byzantium yang agung, jatuh ke tangan tentara Ottoman Turki yang telah mengepung kota selama tujuh minggu. Selama tiga hari, sang pemenang, Sultan Mehmed II yang berusia 21 tahun mengizinkan para tentaranya untuk memporakporandakan kota, merampas apapun yang mereka temukan.

Sabda Rasulullah : ‘Suatu saat Konstantinopel akan takluk di tangan laki laki (Islam). Di tangan dialah sebaik baiknya pemimpin dan di tangan dialah sebaik baiknya pasukan’ .  Tahun 1453, Konstantinopel benar benar di taklukkan di tangan umat Islam. Di bawah komando Sultan Al Fatih, kota itu resmi diubah namanya menjadi Istanbul, artinya “jalan Islam“. Begitu Konstantinopel ditaklukkan, Al Fatih pun bergumam singkat : ‘Sabda Rasul telah terbukti’ ucapnya bersejuk.

Dari sudut pandang para penguasa Eropa, hal tersebut merupakan malapetaka bagi negara-negara Kristen: keseimbangan kekuasaan di dunia telah berubah untuk selamanya. Hampir selama tiga dekade kemudian, Ottoman memukul lebih dalam di Eropa, menyerbu kota Otranto di sebelah selatan Italia, dan mengeksekusi lebih dari 800 penduduk yang menolak memeluk Islam.

1492 M         Jatuhnya Granada

Jatuhnya Granada, pemerintahan Muslim terakhir di Spanyol, pada 20 Januari 1492, telah mengakhiri pemerintahan Muslim selama 781 tahun di Spanyol. Kejatuhan Granada ke tangan Kristen ini dirayakan dengan upacara keagamaan di seluruh Eropa. Kemudian, Paus mengundang seluruh bangsa Kristen untuk mengirimkan delegasi ke Roma, guna mendiskusikan rencana ‘crusade’ terhadap Turki Uthmani.

Dan kepada Yahudi  mereka memberikan pilihan : pergi dari Spanyol atau dibaptis. Setelah jatuh ke tangan Kristen, kaum Muslim Granada (yang oleh diberi sebutan Moors oleh kaum Kristen Spanyol) masih diberi kebebasan menjalankan beberapa ritual dan tradisi agama mereka. Archbishop yang diangkat di Granada juga seorang yang memiliki interes terhadap kebudayaan Arab. Ia diharapkan melakukan konversi kaum Muslim ke Kristen secara gradual. Tapi, Isabella tidak sabar, dan memaksakan dilakukannya pembaptisan massal.

Akhirnya, kaum Muslim melakukan perlawanan pada tahun 1499, tetapi berhasil ditumpas pasukan Kristen. Setelah itu, sebagaimana kaum Yahudi, mereka juga diberi pilihan : meninggalkan Spanyol atau dibaptis. Jika menolak, kematian sudah menunggu.

Jatuhnya Granada, juga sekaligus merupakan bencana bagi kaum Yahudi di Spanyol. Hanya dalam beberapa bulan saja, antara akhir April sampai 2 Agustus 1492, sekitar 150.000 kaum Yahudi diusir dari Spanyol. Sebagian besar mereka kemudian mengungsi ke wilayah Turki Uthmani yang menyediakan tempat yang aman bagi Yahudi. Ada yang mencatat jumlah Yahudi yang terusir dari Spanyol tahun 1492, sebanyak 160.000. Dari jumlah itu, 90.000 mengungsi ke Turki/Uthmani, 25.000 ke Belanda, 20.000 ke Maroko, 10.000 ke Prancis, 10.000 ke Itali, dan 5.000 ke Amerika. Yang mati dalam perjalanan diperkirakan 20.000 orang. Sedangkan yang dibaptis dan tetap di Spanyol sebanyak 50.000. Selain bermotif keagamaan, pengusiran kaum Yahudi dan Muslim dari Spanyol oleh Ferdinand dan Isabella juga memberikan banyak kekayaan kepada para penguasa Kristen Spanyol. Dengan pengusiran itu, mereka berhasil menguasai seluruh kekayaan Yahudi dan Muslim dan menjual mereka sebagai budak. Bahkan, diantara mereka yang diusir itu, mereka dirampok di tengah jalan dan sering dibedah perutnya untuk mencari emas yang diduga disembunyikan dalam perut kaum yang terusir itu. Masa kekuasaan Ferdinand dan Isabella dicatat sebagai puncak persekusi kaum Yahudi di Spanyol. Keduanya dikenal sebagai “the Catholic Kings”, yang dipuji sebagai pemersatu Spanyol.

Tahun 1494, pasangan Ferdinand dan Isabella diberi gelar ‘the Catholic Kings’ oleh Paus Alexander VI. Pasangan itu sebenarnya telah banyak melakukan pembantaian terhadap Yahudi dan Muslim sejak dibentuknya Inquisisi di Castile dengan keputusan Paus tahun 1478.

1495

Pada tahun 1495, orang-orang Yahudi diusir dari Lithuania. Padahal di negara ini, orang-orang Yahudi itu mengungsi dari persekusi kaum Kristen Barat, karena mereka tidak menerima agama Kristen. Di Rusia, sebagai akibat dari kebencian yang disebarkan oleh gereja Kristen Ortodoks Rusia, kaum Yahudi dikucilkan dan diusir dari Rusia dalam kurun waktu mulai abad ke-15 sampai dengan tahun 1722. Ketika itu, secara umum, bisa dikatakan, tanah Kristen Eropa bukanlah tempat yang aman bagi kaum Yahudi.

1517 M         Lahirnya Kristen Protestan

1517 M         Al Quds dipegang  Khilafah Utsmaniyah/ kerajaan Otoman

1517

Setelah diusirnya orang orang Yahudi dari Spanyol pada 1492 [sebagai akibat dari Inkuisisi Spanyol]  Kerajaan Ottoman yang sedang bangkit, kini menyambut orang orang Yahudi, dan bersama penaklukannya ke wilayah wilayah di sekitar Palestina pada 1517.

Kerajaan itu, (di bawah Suleiman) mulai mengizinkan orang Yahudi dalam jumlah yang terus bertambah untuk kembali ke ‘Palestina’. Orang-orang Yahudi membangun kembali Negara Israel pada 1948. Betar menjadi lambang perlawanan Yahudi.

Al Quds dan sekitarnya jatuh ke tangan Turki Ottoman yang masih mengambil kendali hingga 1917. Yerusalem menikmati periode pembaruan dan kedamaian di bawah kekuasaan Suleiman I – termasuk pembangunan ulang tembok-tembok yang mengelilingi Kota Tua. Selama masa penguasa-penguasa Ottoman, Yerusalem berstatus provinsi, jika dalam hal keagamaan kota ini menjadi pusat yang sangat penting, and tidak menutup diri dari jalur perdagangan utama antara Damaskus dan Kairo. Orang-orang Muslim Turki melakukan banyak pembaharuan: sistem pos modern diterapkan oleh berbagai konsulat; penggunaan roda untuk mode transportasi, kereta pos dan kereta kuda, gerobak sorong dan pedati; dan lentera minyak, merupakan tanda-tanda awal modernisasi di dalam kota. Pada paruh abad ke-19, bangsa Ottoman membangun jalan aspal pertama dari Jaffa hingga Yerusalem, dan pada 1892 jalur rel mulai mencapai kota.

1517 M         Al Quds dipegang  Kerajaan Turki Utsmaniyah

1555 M         Dokumen/ Papal Bull : Cum nimis absurdum

Sejumlah Paus di Vatikan dikenal sangat anti-Yahudi. Pada tanggal 17 Juli 1555, hanya dua bulan setelah pengangkatannya, Paus Paulus IV, mengeluarkan dokumen (Papal Bull) bernama “Cum nimis absurdum”. Paus menekankan, bahwa para pembunuh Kristus, yaitu kaum Yahudi, pada hakekatnya adalah budak dan seharusnya diperlakukan sebagai budak. Yahudi kemudian dipaksa tinggal dalam ‘ghetto’, yang hanya memiliki satu pintu masuk. Yahudi dipaksa menjual semua miliknya kepada kaum Kristen dengan harga sangat murah; maksimal 20 persen dari harga yang seharusnya. Di tiap kota hanya boleh ada satu sinagog. Di Roma, tujuh dari delapan sinagog dihancurkan. Di Campagna, 17 dari 18 sinagog dihancurkan. Yahudi juga tidak boleh memiliki Kitab Suci. Saat menjadi kardinal, Paus Paulus IV membakar semua Kitab Yahudi, termasuk Talmud. Paus Paulus IV meninggal tahun 1559. Tetapi cum nimis absurdum tetap bertahan sampai 3 abad.

1917 M       Al Quds jatuh ke kuasaan Turki Utsmaniyah/ Ottoman

Pada tahun 1517 Al Quds dan daerah sekitarnya jatuh ke dalam kekuasaan kaum Turki Utsmaniyah (Ottoman); secara umum mereka masih memegang kendali atas wilayah ini sampai tahun 1917. Al Quds mengalami suatu periode pembaruan dan perdamaian dalam pemerintahan Suleiman yang Luar Biasa,[ Sultan Sulaiman al Qonuni (Suleiman the Magnificent)] salah satunya adalah pembangunan kembali tembok tembok megah di sekeliling Kota Lama [ yang didalamnya ada Masjidil Haram ]

Selama hampir sepanjang pemerintahan Utsmaniyah, Al Quds tetap berstatus provinsi di samping sebagai sentra penting keagamaan, dan tidak turut campur dalam jalur perdagangan utama antara Damaskus dan Kairo.  Modern history or the present state of all nations, sebuah buku rujukan berbahasa Inggris yang ditulis pada tahun 1744, menyatakan bahwa “Al Quds masih diperhitungkan sebagai ibu kota Palestina”.

Kaum Utsmaniyah membawa banyak inovasi : sistem pos modern yang dikelola oleh berbagai konsulat serta layanan pengangkutan dan kereta pos reguler merupakan tanda-tanda awal modernisasi di dalam kota.

Pada pertengahan abad ke-19, kaum Utsmaniyah membangun jalan aspal pertama dari Yafo ke Al Quds, dan sejak tahun 1892 jalur kereta api telah ada di kota ini.

Asing Mulai Saling Berebut Kekuasaan di Al Quds

1831 M

Setelah aneksasi Al Quds oleh Muhammad Ali dari Mesir pada tahun 1831, berbagai konsulat dan misi dari luar negeri mulai didirikan di kota ini.

Pada tahun 1836 Ibrahim Pasha mengizinkan warga Yahudi di Al Quds untuk merestorasi 4 sinogaga besar, di antaranya yaitu Sinagoga Hurba. Dalam Pemberontakan Petani yang terjadi di seluruh negeri, Qasim al Ahmad memimpin pasukannya dari Nablus untuk menyerang Al Quds, dengan dibantu oleh klan Abu Ghosh, dan memasuki kota pada tanggal 31 Mei 1834. Kaum Kristen dan Yahudi di Al Quds/ Yerusalem menjadi sasaran serangan. Pada bulan berikutnya, pasukan Mesir pimpinan Ibrahim mengusir pasukan Qasim di Al Quds/ Yerusalem.

Pemerintahan Utsmaniyah dipulihkan kembali statusnya pada tahun 1840, namun banyak kaum Muslim Mesir yang tetap tinggal di Al Quds serta semakin banyak kaum Yahudi dari Aljir dan Afrika Utara yang mulai menetap di kota ini.

1840 –            Kekuatan Internasional mulai saling berebut pengaruh di Palestina

Pada tahun 1840-an dan 1850-an, kekuatan-kekuatan internasional mulai saling berebut pengaruh di Palestina karena mereka berupaya untuk memperluas perlindungan mereka atas kelompok minoritas keagamaan di wilayah ini, suatu perjuangan yang utamanya dilakukan melalui perwakilan-perwakilan konsuler di Al Quds.

Menurut konsul Prusia, populasi Yerusalem pada tahun 1845 adalah 16.410 penduduk, dengan komposisi 7.120 Yahudi, 5.000 Muslim, 3.390 Kristen, 800 tentara Turki dan 100 orang Eropa.  Jumlah peziarah Kristen mengalami peningkatan selama pemerintahan Utsmaniyah, dan melipatgandakan populasi kota ini pada sekitar masa Paskah.

Pada tahun 1860-an, lingkungan-lingkungan baru mulai berkembang di luar tembok Kota Lama untuk menampung para peziarah juga untuk mengurangi kepadatan penduduk dan sanitasi yang buruk di dalam kota ini.

Kampung Rusia dan Mishkenot Sha’ananim didirikan pada tahun 1860, diikuti oleh banyak lainnya seperti Mahane Israel (1868), Nahalat Shiv’a (1869), Koloni Jerman (1872), Beit David (1873), Mea Shearim (1874), Shimon HaTzadik (1876), Beit Ya’aqov (1877), Abu Tor (1880s), Koloni Swedia-Amerika (1882), Yemin Moshe (1891), dan Mamilla, Wadi al-Joz pada waktu sekitar pergantian abad itu.

Pada tahun 1867 seorang misionaris Amerika melaporkan suatu perkiraan populasi Al Quds dengan jumlah ‘di atas’ 15.000 penduduk, dengan komposisi 4.000–5.000 Yahudi dan 6.000 Muslim. Setiap tahun terdapat sekitar 5.000–6.000 peziarah Kristen Rusia.  Pada tahun 1874 Yerusalem menjadi pusat dari sebuah distrik administratif khusus, dilepaskan dari Vilayet Suriah dan berada di bawah kewenangan langsung Istanbul yang disebut Mutasarrıf Yerusalem.

Hingga tahun 1880-an tidak terdapat satu pun panti asuhan resmi di Al Quds, sebab para keluarga pada umumnya saling merawat satu sama lain. Pada tahun 1881, Panti Asuhan Diskin didirikan di Yerusalem dengan datangnya anak-anak Yahudi yang menjadi yatim piatu karena suatu pogrom Rusia. Panti asuhan lainnya yang didirikan di Yerusalem pada awal abad ke-20 yaitu Panti Asuhan Blumenthal Zion (1900) dan Rumah Yatim Israel Umum untuk Perempuan (1902).
Para misionaris Kristen dari Gereja Anglikan dan Lutheran tiba di kota ini pada abad ke-19,[166] beserta para misionaris dari Christian and Missionary Alliance (CMA).[167]

1915             Dimulainya pembahasan ‘Perjanjian Sykes Picot’

Inggris – Perancis – Rusia mengadakan pertemuan rahasia untuk membahas pembagian wilayah ‘warisan’ Kerajaan Utsmaniyah yang jatuh pada PD I

1916             Ditandatanganinya Perjanjian Sykes Picot

16 Mei Perjanjian Sykes-Picot resmi ditandatangi.  Sykes – Picot adalah perjanjian rahasia antara pemerintah Britania Raya dengan pemerintahan Perancis yang diikuti dan disetujui oleh Kerajaan Rusia.
Dalam perjanjian itu ketiga negara mendiskusikan pengaruh dan kendali di Asia Barat setelah jatuhnya Kerajaan Utsmaniyah pada Perang Dunia I yang telah diprediksi sebelumnya.

Perjanjian ini secara efektif membagi bagi Negeri Syam yang lepas dari Turki Utsmani [ Kerajaan Otoman ]. Namun kemudian, karena pecahnya Revolusi Bolshevik, Rusia mengundurkan diri dari perjanjian ini. Pada Revolusi Rusia dibulan Oktober 1917, para pejuang Bolsheviks membocorkan perjanjian ini kepada publik sehingga membuat malu Inggris, membuat Arab marah, dan Turki senang.

Inilah pembagian negari Syam berdasarkan hasil Perjanjian Sykes-Picot :

• Suriah-Lebanon menjadi kekuasaan Prancis,
• Palestina-Yordania menjadi kekuasaan Inggris.

Pembagian Negeri Syam ini banyak ditafsirkan sebagai gambaran Hadits Rasulullah ﷺ yang mempredikisi, suatu saat di akhir zaman umat Islam laksana hidangan yang dikerumuni musuh-musuhnya.

1917 –          Bagian dari daerah mandat Britania Raya, Palestina.
1948

1948             Kota dibagi dua, bagian barat direbut Israel, bagian timur dikuasai Yordania.
1950             Ibukota Israel.
1967             Setelah Perang Enam Hari, bagian barat dan timur Yerusalem seluruhnya dikuasai oleh Israel.
2000             Muncul aksi Intifada II setelah Perdana Menteri Israel berkunjung ke Tembok Ratapan.

 

.

1517

Setelah diusirnya orang orang Yahudi dari Spanyol pada 1492 [sebagai akibat dari Inkuisisi Spanyol]  Kerajaan Ottoman yang sedang bangkit, kini menyambut orang orang Yahudi, dan bersama penaklukannya ke wilayah wilayah di sekitar Palestina pada 1517.

Kerajaan itu, (di bawah Suleiman) mulai mengizinkan orang Yahudi dalam jumlah yang terus bertambah untuk kembali ke ‘Palestina’. Orang-orang Yahudi membangun kembali Negara Israel pada 1948. Betar menjadi lambang perlawanan Yahudi.

Yerusalem dan sekitarnya jatuh ke tangan Turki Ottoman yang masih mengambil kendali hingga 1917. Yerusalem menikmati periode pembaruan dan kedamaian di bawah kekuasaan Suleiman I – termasuk pembangunan ulang tembok-tembok yang mengelilingi Kota Tua. Selama masa penguasa-penguasa Ottoman, Yerusalem berstatus provinsi, jika dalam hal keagamaan kota ini menjadi pusat yang sangat penting, and tidak menutup diri dari jalur perdagangan utama antara Damaskus dan Kairo. Orang-orang Muslim Turki melakukan banyak pembaharuan: sistem pos modern diterapkan oleh berbagai konsulat; penggunaan roda untuk mode transportasi, kereta pos dan kereta kuda, gerobak sorong dan pedati; dan lentera minyak, merupakan tanda-tanda awal modernisasi di dalam kota. Pada paruh abad ke-19, bangsa Ottoman membangun jalan aspal pertama dari Jaffa hingga Yerusalem, dan pada 1892 jalur rel mulai mencapai kota.

1538             Dibangunnya Tembok Mengelilingi Kota Lama

Pada tahun 1538 dibangun tembok di sekitar Al Quds dalam pemerintahan Suleiman yang Luar Biasa. Saat ini tembok tersebut mengelilingi Kota Lama, [ kota tua yang berada dalam kawasan Al Quds / Yerusalem Timur.  Di kota tua ada 4 wilayah yaitu Bagian Muslim, Yahudi, Kristen dan Armenia (yang juga mayoritas penduduknya beragama Kristen).

1831

Setelah aneksasi Yerusalem oleh Muhammad Ali dari Mesir, misi dan konsulat asing mulai menapakkan kakinya di kota. Tahun 1836, Ibrahim Pasha mengizinkan penduduk Yahudi Yerusalem memperbaiki empat sinagoga besar, termasuk di antaranya Sinagoga Hurva.

1834

Saat Revolusi Arab di Palestina, Qasim al-Ahmad memimpin penyerangan dari Nablus dan menyerang Yerusalem, dibantu oleh klan Abu Ghosh, dan memasuki kota pada 31 Mei 1834. Orang Kristen dan Yahudi di Yerusalem menjadi target penyerangan. Tentara Mesir Ibrahim menaklukkan serangan Qasim di Yerusalem bulan berikutnya.

1840

Kekuasaan Ottoman kembali lagi di tahun 1840, namun banyaknya orang Islam Mesir yang ada di Yerusalem dan orang Yahudi dari Algeria dan Afrika Utara yang berdatangan menyebabkan meningkatnya jumlah populasi di dalam kota. Di tahun 1840-an dan 1850-an, kuasa internasional mulai tarik tambang di Palestina saat mereka meminta perpanjangan perlindungan atas umat beragama minoritas di dalam negeri, sebuah perjuangan yang diangkat terutama oleh wakil konsuler di Yerusalem. Menurut konsul Prussia, populasi di tahun 1845 adalah 16.410 dengan 7.120 orang Yahudi, 5.000 Muslim, 3.390 Kristen, 800 tentara Turki dan 100 orang Eropa. Volume peziarah Kristen semakin meningkat selama kekuasaan Ottoman, dan menyebabkan populasi kota bertambah menjadi dua kali lipat selama Paskah.

1860

Pemukiman baru mulai berkembang di luar tembok Kota Tua sebagai tempat menetap para peziarah dan untuk mengurangi tingkat kepadatan dan sanitasi yang buruk di dalam kota. Kamp Rusia dan Mishkenot Sha’ananim didirikan di tahun 1860. Tahun 1867 Misionaris Amerika melaporkan populasi kira-kira Yerusalem ‘diatas’ 15.000 yang terdiri dari: 4.000 hingga 5.000 orang Yahudi dan 6.000 umat Muslim. Setiap tahun ada sekitar 5.000 hingga 6.000 Peziarah Kristen Rusia.

1876             Sultan Abdul Hamid II (21 September 1842–10 Februari 1918) mulai berkuasa sebagai sultan (khalifah)                        ke-34 yang memerintah Daulah Khilafah Islamiyah Turki Utsmani.

Abdul Hamid II merupakan sultan terakhir buat Kerajaan Uthmaniyyah yang memerintah dengan kuasa mutlak.

Beliau juga dikenal sebagai Ulu Hakan (“Khan Besar”). Dunia Barat memanggilny dengan nama “Sultan Merah” (Kızıl Sultan). Jatuhny Abdul Hamid terutama karena akibat Resolusi Turki Muda yang disambut oleh kebanyakkan rakyat Utsmaniyyah, yang menyambut kepulangan pemerintahan berperlembagaan.
Khalifah terakhir Sultan Abdul Hamed II meninggalkan istana atas arahan Presiden Turki pertama Mustafa Kamal Atartuk pada 3 Mac 1922.

       Pada masa kekuasaannya-lah kekuatan Yahudi dan Freemasonry, yang menginginkan berdirinya                      komunitas Yahudi di Palestina, mulai muncul ke permukaan.

1909 Sultan Abdul Hamid II dicopot kekuasaannya melalui kudeta militer [ Resolusi Turki Muda ], sekaligus memaksanya untuk         mengumumkan sistem pemerintahan perwakilan dan membentuk parlemen untuk yang kedua kalinya.           Ia  diasingkan ke Tesalonika, Yunani, atas arahan Presiden Turki pertama Mustafa Kamal Atartuk pada 3 Mac 1922

Selama periode pemerintahannya, Sultan Abdul Hamid II menghadapi tantangan terberat yang pernah dijumpai kaum muslimin dan Kekaisaran Ottoman (Usmaniyah) saat itu :

»  Konspirasi dari negara negara asing (seperti Perancis, Italia, Prusia, Rusia, dll) yang menghendaki hancurnya eksistensi Khilafah Utsmaniyah.
»  Separatisme yang dihembuskan negara negara Barat melalui ide nasionalisme, yang mengakibatkan negeri-negeri Balkan (seperti Bosnia Herzegovina, Kroasia, Kosovo, Bulgaria, Hongaria, Rumania, Albania, Yunani) melepaskan diri dari pangkuan Kekaisaran Ottoman. Begitu pula dengan lepasnya Mesir, Jazirah Arab (Hejaz dan Nejd) dan Libanon baik karena campur tangan negara asing ataupun gerakan dari dalam negeri. Akibatnya, di kawasan Balkan saat itu dikenal sebagai kawasan “Gentong Mesiu” karena konflik yang ada di kawasan itu dapat sewaktu waktu meledak terutama terlibatnya negara negara adikuasa masa itu (Kerajaan Ottoman, Kekaisaran Austria-Hongaria, Inggris, Perancis, Kekaisaran Jerman dan Rusia. Konflik ini meledak saat Perang Dunia I, Perang Dunia II dan Krisis di kawasan yang sekarang dikenal sebagai bekas Yugoslavia pada dekade 1990-an.
»  Perlawanan dari organisasi yang didukung negara negara asing seperti organisasi Turki Fatat (Turki Muda), Ittihat ve Terakki (Persatuan dan Kemajuan).
»  Kekuatan Yahudi dan Freemasonry, yang menginginkan berdirinya komunitas Yahudi di Palestina

1897

Tahun 1897 Theodore Herzl menggelar kongres Zionis sedunia di Basel Swiss. Peserta Kongres I Zionis mengeluarkan resolusi, yang isinya: Bahwa umat Yahudi tidaklah sekedar umat beragama, namun adalah bangsa dengan tekad bulat untuk hidup secara berbangsa dan bernegara. Dalam resolusi itu, kaum zionis menuntut tanah air bagi umat Yahudi – walaupun secara rahasia – pada “tanah yang bersejarah bagi mereka” atau “Tanah Yang Dijanjikan Allah” yaitu Palestina. Sebelumnya Inggris hampir menjanjikan “tanah protektorat Uganda atau di Amerika Latin” ! Di kongres itu, Herzl menyebut, Zionisme adalah jawaban bagi “diskriminasi dan penindasan” atas umat Yahudi yang telah berlangsung ratusan tahun.
Pergerakan ini mengenang kembali bahwa nasib umat Yahudi hanya bisa diselesaikan di tangan umat Yahudi sendiri. Di depan kongres, Herzl berkata, “…Akan aku dirikan sebuah negara Yahudi. Jika aku mengatakan itu hari ini, mungkin seluruh dunia akan menertawakanku. Atau bisa jadi 5 dalam tahun. Namun yang pasti adalah dalam 50 tahun setiap orang akan menyaksikannya” (Negara Israel didirikan Mei 1948, 50 tahun 3 bulan, setelah catatan Herzl tersebut)

1909             Sultan Abdul Hamid II dicopot kekuasaannya melalui kudeta militer [ Resolusi Turki Muda ] , sekaligus                            memaksanya untuk mengumumkan sistem pemerintahan perwakilan dan membentuk parlemen untuk                          yang kedua kalinya.    Abdul Hamid  diasingkan ke Tesalonika, Yunani,

      Selama Perang Dunia I, ia dipindahkan ke Istana Belarbe.

1914             Ditemukannya pertambangan berlian yang amat besar di Afrika Selatan.  Sejak itu Yahudi Eropa                                      memiliki cadangan harta yang besar, itulah sumber dana mereka, selain riba tentunya.

1914 –
1918             28 Juli 1914, dimulainya Perang Dunia I hingga 11 Nopember 1918.

PD I terjadi akibat dari pembunuhan tanggal 28 Juni 1914 terhadap Adipati Agung Franz Ferdinand dari Austria, pewaris tahta Austria-Hongaria, oleh seorang nasionalis Yugoslavia di Sarajevo, Bosnia dan Herzegovina. Pembunuhan tersebut berujung pada ultimatum Habsburg terhadap Kerajaan Serbia.[10][11] Sejumlah aliansi yang dibentuk selama beberapa dasawarsa sebelumnya terguncang, sehingga dalam hitungan minggu semua kekuatan besar terlibat dalam perang; melalui koloni mereka, konflik ini segera menyebar ke seluruh dunia.

Perang ini melibatkan semua kekuatan besar dunia,[ yang terbagi menjadi dua aliansi bertentangan, yaitu Sekutu (berdasarkan Entente Tiga yang terdiri dari Britania Raya, Perancis, dan Rusia) dan Blok Sentral (terpusat pada Aliansi Tiga yang terdiri dari Jerman, Austria-Hongaria, dan Italia; namun saat Austria-Hongaria melakukan serangan sementara persekutuan ini bersifat defensif, Italia tidak ikut berperang).

Kedua aliansi ini melakukan reorganisasi (Italia berada di pihak Sekutu) dan memperluas diri saat banyak negara ikut serta dalam perang. Lebih dari 70 juta tentara militer, termasuk 60 juta orang Eropa, dimobilisasi dalam salah satu perang terbesar dalam sejarah.  Lebih dari 9 juta prajurit gugur, terutama akibat kemajuan teknologi yang meningkatkan tingkat mematikannya suatu senjata tanpa mempertimbangkan perbaikan perlindungan atau mobilitas. Perang Dunia I adalah konflik paling mematikan keenam dalam sejarah dunia, sehingga membuka jalan untuk berbagai perubahan politik seperti revolusi di beberapa negara yang terlibat.

Penyebab jangka panjang perang ini mencakup kebijakan luar negeri imperialis kekuatan besar Eropa, termasuk Kekaisaran Jerman, Kekaisaran Austria-Hongaria, Kesultanan Utsmaniyah, Kekaisaran Rusia, Imperium Britania, Republik Perancis, dan Italia. Pembunuhan tanggal 28 Juni 1914 terhadap Adipati Agung Franz Ferdinand dari Austria, pewaris tahta Austria-Hongaria, oleh seorang nasionalis Yugoslavia di Sarajevo, Bosnia dan Herzegovina adalah pencetus perang ini. Pembunuhan tersebut berujung pada ultimatum Habsburg terhadap Kerajaan Serbia.

Sejumlah aliansi yang dibentuk selama beberapa dasawarsa sebelumnya terguncang, sehingga dalam hitungan minggu semua kekuatan besar terlibat dalam perang; melalui koloni mereka, konflik ini segera menyebar ke seluruh dunia.

1916             Juni 1916, Syarief Hussein bin Ali memberontak terhadap khilafah Turki Utsmani

Syarif Husain bin Ali (1856-1931) ialah Gubernur Makkah yang diangkat pada 1908 dan Raja Hijaz antara 1916-1924. Ia memberontak terhadap khilafah Turki Utsmani pada Juni 1916.

Sebagian ulama sejarah menduga pengkhianatan itu karena Husain diiming imingi uang dan kekuasaan terhadap Mekah dan Madinah oleh mata mata Yahudi Inggris.  Yahudi Inggris menjanjikan akan membebaskan tanah Hijah dari kekuasaan Ottoman Turki serta uang sekitar 7 M Pond.  Dan memberikannya pada Syarif Hussein dan menjadikannya raja Arab.

Mekah saat itu berada di bawah kontrol Arab Batalion dan Madinah dibawah pengawasan Batalion Turki.  Juni 1916, Syarief mendeklarasikan diri merdeka dari khilafah Turki Utsmani dan menjadi sekutu Inggis.

Begitu Syarief Hussein bin Ali berkhianat dan menyatakan Mekah dan Madinah ‘merdeka’ dari khilafah Turki Utsmani, kekhalifahan langsung ‘kehilangan nyawa’nya.  Karena, tanpa Mekah, tanpa Kabah tempat melaksanakan haji, kekhalifahan bukanlah kekhalifahan Islam.  Itu sama seperti menaik kapet merah yang menyebabkan semua yang ada diatasnya terjungkal.

Maka, khilafah Turki Utsmani  kehilangan legitimasinya.  Secara de facto, khilafah Turki Utsmani sudah jatuh.  Maka tujuan Inggris untuk menjatuhkan kekhalifahan Islam, 99 persen sudah berhasil.  Sekarang tinggal satu langkah lagi.  Yakni Inggris harus memastikan bahwa siapapun yang menguasai Tanah Haram, tidak akan menjadikannya Khilafah.

Ibnu Saud menyerang dan mengalahkannya pada 1924, sehingga Syarif Husain harus turun tahta Hijaz dan memilih Siprus sebagai tempat tinggalnya sejak itu. Syarif Husain meninggal di Amman, Yordania.

Keturunan dari Syarif Husain ini yang kemudian memegang kekuasaan di Yordania sampai sekarang dan Iraq pada masa kerajaan.

1917

Setelah Pertempuran Yerusalem, Tentara Britania dipimpin General Edmund Allenby mengepung kota, dan di tahun 1922, LBB (Liga Bangsa-bangsa bentuk pertama PBB, Persatuan Bangsa-bangsa) pada Konferensi Lausanne mempercayakan Britania Raya untuk mengatur Mandat bagi Palestina.

Dari tahun 1922 hingga tahun 1948 total populasi kota meningkat dari 52.000 menjadi 165.000 dengan dua pertiganya orang Yahudi dan sepertiga orang Arab (umat Muslim dan Kristen). Situasi antara orang Arab dan Yahudi di Palestina tidak tenang. Di Yerusalem, kerusuhan terjadi tahun 1920 dan tahun 1929. Di bawah pemerintahan Britania, taman-taman baru dibuat di pinggir kota di bagian utara dan barat kota dan institusi pendidikan tinggi seperti Universitas Ibrani didirikan.

Saat masa jabatan Mandat Britania untuk Palestina berakhir, Rencana Pembagian Palestina oleh PBB tahun 1947 mengusulkan “pembuatan rezim internasional khusus di Kota Yerusalem, mengesahkannya sebagai corpus separatum di bawah administrasi PBB”. Rezim internasional (yang juga termasuk kota Bethlehem) tetap berlaku selama satu periode berkisar sepuluh tahun, kemudian sebuah referendum diadakan untuk memutuskan rezim masa depan kota. Namun, rencana ini tidak dilaksanaan karena perang tahun 1948 meletus, sementara Britania menarik diri dari Palestina dan Israel menyatakan kemerdekaannya. Perang memicu pemindahan populasi Arab dan Yahudi di kota. 1.500 penduduk Perempat Yahudi di Kota Tua terusir dan beberapa ratus dipenjara saat Legiun Arab mengepung Perempat itu pada 28 Mei. Legiun Arab juga menyerang Yerusalem Barat dengan sniper.

1918              Pada 10 Februari 1918, Abdul Hamid II meninggal dan tidak menyaksikan runtuhnya institusi Negara                             Khilafah (1924), suatu peristiwa yang dihindari terjadi pada masa pemerintahannya. Ia digantikan oleh                           saudaranya Sultan Muhammad Reshad (Mehmed V) yang tidak memiliki kekuasaan apapun

1920              Kerusuhan Nabi Musa

Kerusuhan Nebi Musa kerusuhan Yerusalem 1920 adalah kerusuhan Arab terhadap Yahudi di Yerusalem. Kerusuhan ini terjadi di Mandat Britania atas Palestina pada 4 April-7 April 1920 di sekitar Kota Tua Yerusalem.

Peristiwa ini terjadi karena meningkatnya ketegangan antara Arab dan Yahudi dengan terjadinya imigrasi Zionis. Pidato oleh pemimpin religius Arab Palestina selama festival hari Nabi Musa menyebabkan terjadinya kekerasan terhadap kota Yahudi. Pemerintahan militer Britania gagal menangani kerusuhan ini, yang terus berlanjut selama 4 hari. Akibatnya, kepercayaan antara Britania, Yahudi, dan Arab berkurang.

1921              Kerusuhan Jaffa

Terjadi kerusuhan dan pembunuhan di Mandat Britania atas Palestina antara 1 hingga 7 Mei 1921. Bersama dengan kerusuhan Nebi Musa satu tahun sebelumnya, kerusuhan ini dianggap sebagai bibit dari konflik Arab-Israel dan konflik Israel-Palestina – meskipun negara Israel baru dibentuk beberapa dekade kemudian.

Setelah terjadinya kerusuhan Jaffa, Britania membatasi imigrasi Yahudi ke Palestina.  Dan kota LodLydda berada di bawah administrasi mandat Inggris di Palestina sebagai keputusan Liga Bangsa-Bangsa yang diikuti dengan Perang Dunia I.

1924             Ibnu Saud menyerang dan mengalahkan Syaief Hussein bin Ali pada 1924 di Mekah, sehingga Syarif                              Husain harus turun tahta Hijaz dan memilih Siprus sebagai tempat tinggalnya sejak itu. Syarif Husain                             meninggal di Amman, Yordania.

Keturunan dari Syarif Husain ini yang kemudian memegang kekuasaan di Yordania sampai sekarang dan Iraq pada masa kerajaan

1924              3 Maret 1924, Akhir Riwayat Kekhalifahan Islam Dunia

Dengan sokongan dan kekuatan dari British dan Zionis, Mustafa Kemal Ataturk telah mengumumkan penghapusan Khilafah dan pemisahan agama Islam daripada negara tepat pada pagi 3 Maret 1924.

Kamal telah memerintah supaya Khalifah terakhir, Sultan Abdul Hamid II supaya meninggalkan Turki sebelum subuh pada hari yang sama. Polis dan tentera dikerah berhimpun di istana Khalifah dan memaksa Khalifah memasuki kereta dan seterusnya membawanya ke Switzerland.

Atartuk kemudiannya telah mengumpulkan semua waris Khalifah dan mengusir mereka keluar daripada Turki. Kesemua aktiviti keagamaan dimansuhkan, semua sekolah agama ditukar kepada sekolah sekular, mahkamah Islam dimansuhkan, azan dilaungkan dalam bahasa Turki dan undang-undang sekular dilaksanakan sepenuhnya

1947             PBB membagi wilayah Mandat Britania atas Palestina

Pada tahun 1947, keluarlah keputusan Perserikatan Bangsa-Bangsa yakni membagi wilayah Mandat Britania atas Palestina. Dan kota Lod masuk dalam wilayah keuasaan Israel.   Keputusan ini ditentang keras  negara negara Timur Tengah lainnya dan juga banyak negeri negeri Muslim.

Karena jelas lebih menguntungkan Kaum Yahudi yang mendapat 55% dari seluruh wilayah tanah Palestina [ meskipun jumlah penduduk dari wilayah 55% itu hanya 30% dari jumlah seluruh penduduk Palestina]. Sedangkan kota Yerusalem yang dianggap suci, tidak hanya oleh orang Yahudi tetapi juga orang Muslim dan Kristen, akan dijadikan kota internasional.

Perang Islam Vs Yahudi
1948 — .....

1948             14 Mei 1948 di bawah pimpinan David Ben Gurion : deklarasi pendirian Negara Israel.

Jewish People’s Council berkumpul di Museum Tel Aviv dan memproklamasikan berdirinya sebuah negara Yahudi di daerah Eretz Israel yang bernama State of Israel.

1948             Perang Islam – Arab Vs Yahudi Pertama

♦ 15 Mei 1948 – 10 Maret 1949

Dalam perang yang berlangsung selama hampir 10 bulan itu (sejak 15 Mei 1948 hingga 10 Maret 1949), pasukan Yordania, Mesir, Suriah, Irak, Lebanon, dan Arab Saudi bergerak ke Palestina untuk menduduki daerah daerah yang diklaim sebagai wilayah ‘negara Israel’. Ada sekitar 45 ribu tentara yang dikerahkan oleh negara-negara Arab tersebut pada waktu itu.
“Sementara, di pihak Israel sendiri awalnya hanya diperkuat oleh 30 ribu prajurit, namun pada Maret 1949 meningkat jumlahnya menjadi 117 ribu tentara,” ungkap Yoav Gelber dalam buku Palestine 1948: War, Escape and the Emergence of the Palestinian Refugee Problem.
Perang Arab-Israel Pertama berakhir dengan kekalahan di pihak negara-negara Arab. Menurut catatan, jumlah tentara Arab yang gugur mencapai 7.000 orang. Perang itu juga menewaskan 13 ribu warga Palestina. Di samping itu, berdasarkan hasil penghitungan resmi PBB, ada 711 ribu orang Arab yang menjadi pengungsi selama pertempuran berlangsung.

Sebagai akibat dari kemenangan Israel tersebut, setiap orang Arab yang mengungsi selama Perang Arab-Israel Pertama, tidak diizinkan untuk pulang ke kampung halaman mereka yang kini sudah diklaim Zionis sebagai wilayah negara Israel.

“Oleh karenanya, para pengungsi Palestina yang kita jumpai hari ini adalah keturunan dari orang-orang Arab yang meninggalkan tanah air mereka ketika terjadinya perang 1948-1949,” tutur Erskine Childers lewat tulisannya, The Other Exodus The Spectator, yang dipublikasikan dalam buku The Israel-Arab Reader: A Documentary History of the Middle East Conflict,(1969).

Nasib Yerusalem/ Al Quds Sesudah Perang Pertama

Yerusalem Barat, yang sejak awal pembagian mandat British disebut merupakan wilayah Palestina, mulai direbut Israel.   Setahun kemudian, Israel menobatkan Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Bahkan, saat itu, parlemen Israel (Knesset) yang semula di Tel Aviv, telah diboyong ke sana

Namun, saat itu, Yerusalem Timur — yang merupakan lokasi Kota Tua Yerusalem, dan merupakan tempat berdirinya situs penting tiga agama, termasuk Masjidil Aqsha — masih dikuasai Yordania.  Tanah tak berpemilik antara Yerusalem Barat dan Timur mulai diurus pada November 1948 : Moshe Dayan, komandan tentara Israel di Yerusalem bertemu dengan rekan Yordanianya Abdullah el Tell di sebuah tempat tinggal gurun di lingkungan Musrara Yerusalem dan menandai posisi mereka masing-masing : posisi Israel berwarna merah dan Yordania berwarna hijau.

Peta kasar, yang tidak berarti sebagai suatu yang resmi, menjadi garis gencatan senjata final dalam Kesepakataan Gencatan senjata 1949, yang membagi kota dan meninggalkan Gunung Scopus sebagai daerah kantong Israel. Kawat berduri dan pagar beton penghalang dipasang di pusat kota dan tembak-tembakan militer sering pecah di wilayah gencatan senjata. Setelah proklamasi Negara Israel, Yerusalem dideklarasikan sebagai ibukotanya.

Setelah peresmian negara Israel pada 1948, bandar udara Lod diubah namanya menjadi Bandara Ben Gurion.

Hingga 1948, Lydda menjadi permu kiman bangsa Arab dengan populasi sekitar 20 ribu penduduk dan sebanyak 18.500 jiwa adalah Muslim, sisanya Kristen.

Tetapi selama 1948, populasi di Lydda meningkat menjadi 50 ribu jiwa, yang sebagian besar merupakan pengungsi Arab. Namun, sekitar 700 hingga 1.056 orang diusir atas perintah komando tinggi Iseael dan dipaksa berjalan sepanjang 17 km menuju garis Legiun Arab pada hari terpanas tahun itu. Banyak yang meninggal karena kelelahan dan dehidrasi dalam perjalanan tersebut.
Kota Lydda kemudian dikuasai oleh tentara Israel. Beberapa ratus keturunan Arab yang tinggal di kota itu tidak diizinkan menempati rumah-rumah mereka. Mereka segera kalah jumlah akibat masuknya imigran Yahudi dari berbagai daerah pada Agustus 1948. Sebagian dari mereka adalah Yahudi yang tinggal di negara-negara Arab.
Maka, seperti awal mula berdirinya kota tersebut, Kota Lydda kembali menjadi Kota Yahudi. Imigran Yahudi terus berdatangan, awalnya dari Maroko dan Tunisia, lalu dari Ethiopia, dan kemudian dari Uni Soviet.

Di dalam Kota Lod terdapat sebuah dinding setinggi 3 meter yang dibangun untuk memisahkan distrik Yahudi dari distrik bangsa Arab. Pertumbuhan daerah Arab sangat minim, sementara Pemerintah Israel telah mendorong pembangunan di daerah Yahudi. Beberapa layanan, seperti lampu jalan dan pengumpulan sampah hanya dilakukan di distrik Yahudi.

Hal itu mengingatkan kita ketika Berlin terbagi dua oleh Tembok Berlin karena berlakunya dua kekuatan di sana, yaitu Amerika Serikat di Berlin Barat dan Uni Soviet di Berlin Timur.

1950             Yordan Menguasai Yerusalem Timur

Yordan menguasai Yerusalem Timur tahun 1950, memberlakukan hukum Yordania di wilayah itu. Hanya Britania Raya dan Pakistan yang mengakui aneksasi tersebut, yang, terkait Al Quds, berada atas dasar de facto.

Yordania mengambil kendali tempat tempat suci di Kota Tua. Bertolak belakang dengan syarat syarat perjanjian, orang Israel tidak diperkenankan masuk ke tempat tempat suci, banyak diantaranya yang dinajiskan. Yordania mengizinkan akses sangat terbatas ke tempat tempat suci Kristen. Selama periode ini, Kubah Shakhrah dan Masjidil Aqsha direnovasi besar-besaran.

Para pendoa Yahudi di Tembok Ratapan hanya mungkin berada di beberapa titik di sepanjang gang sempit di pinggiran wilayah orang-orang Maroko yang padat penduduknya, sebuah daerah yang diwariskan pada abad kedua belas untuk pengikut Shalahudin oleh putranya Malik al-Afdhal.

1956              Perang Islam – Arab Vs Yahudi Kedua

Perang  kembali meletus ketika Mesir melakukan nasionalisasi terhadap Terusan Suez pada 1956. Kebijakan yang digawangi oleh Presiden Mesir Gamal Abdul Nasser itu mendorong Israel untuk menginvasi Semenanjung Sinai, sehingga menyebabkan peristiwa yang dikenal sebagai ‘Krisis Suez’.

Tak lama berselang, pasukan Inggris dan Prancis juga mendarat di Pelabuhan Suez. Keikutsertaan dua negara Eropa itu dalam konflik tersebut seolah-olah untuk memisahkan pihak yang bertikai. Namun, motivasi mereka sebenarnya pada waktu itu hanya untuk melindungi kepentingan investor di negara-negara yang terkena dampak nasionalisasi Terusan Suez oleh Mesir.
Perang Arab-Israel yang kedua ini berakhir dengan kesepakatan damai. Mesir setuju untuk membayar jutaan dolar kepada Suez Canal Company—selaku pemegang otoritas Terusan Suez sebelum dinasionalisasi oleh Presiden Nasser.

19 67             Perang Islam – Arab Vs Yahudi Ketiga

Pada dekade berikutnya, hubungan Israel dengan negara-negara tetangga Arab tidak pernah sepenuhnya normal. Menjelang Juni 1967, ketegangan antara Mesir dan Israel kembali meningkat. Mesir memobilisasi pasukannya di sepanjang perbatasan Israel di Semenanjung Sinai. Sementara, Israel meluncurkan serangkaian serangan udara terhadap lapangan udara Mesir pada 5 Juni. Peristiwa itu menimbulkan Perang Arab-Israel Ketiga yang berlangsung selama enam hari.
Dalam perang tersebut, Mesir juga dibantu oleh sejumlah negara Arab lainnya, yaitu Yordania dan Suriah. Di samping itu, Arab Saudi, Kuwait, Libya, Maroko, dan Pakistan juga ikut mendukung Mesir dalam pertempuran tersebut. Hasilnya, Mesir dan koalisi negara-negara Arab kembali menelan kekalahan. Menurut catatan, ada sekitar 19 ribu tentara Arab yang hilang atau gugur di medan perang kala itu.

1967

Yerusalem Timur dicaplok Israel, setelah Perang Enam Hari pada 1967 [ tanggal 5 Haziraan Juni ], . Meski Israel secara sempurna telah menguasai Yerusalem, dan mengklaim Yerusalem sebagai ibu kota abadi Israel. Namun, sampai saat ini prosesnya masih tarik-ulur. Pengakuan Yerusalem sebagai ibu kota Israel itu kerap muncul dalam kampanye presiden Amerika maupun ucapan para pemimpin negara Barat, namun sebagian besar negara di dunia belum mengakuinya.

Sekarang ini, hanya ada dua kedutaan besar yang berada di Yerusalem, yaitu El Salvador dan Kostarika. Sementara, negara negara lain, belum ada yang berani memindahkan kedutaan besarnya ke Yerusalem. Dan saat ini pun, ibu kota Israel masih di Tel Aviv.   Status Yerusalem ini, berulang kali menggagalkan proses perdamaian, seperti Pertemuan Camp David pada 2000.

Setelah Israel merebut Yerusalem Timur, Yahudi laknatullah mulai melarang masuknya orang orang Muslim ke wilayah Mesjidil Aqsha.  Namun orang Yahudi sendiri dan Kristen diperbolehkan memasuki kembali tempat tempat suci, sementara Bukit Bait masih menjadi yurisdiksi wakaf Islam.

Wilayah orang Maroko yang berbatasan dengan Tembok Barat, dikosongkan dan dihancurkan untuk membuat jalan bagi sebuah plaza bagi mereka mengunjungi dinding. Sejak perang, Israel telah memperluas lingkar kota dan menetapkan lingkar pemukiman Yahudi di tanah kosong sebelah timur Garis Hijau.

Namun, pengambilalihan Yerusalem Timur dikritik oleh dunia internasional. Setelah penyampaian Hukum Yerusalem Israel, yang menyatakan Yerusalem “sepenuhnya dan kesatuan” ibukota Israel, Dewan Keamanan PBB menyampaikan resolusi yang menyatakan terjadi “pelanggaran hukum internasional” dan meminta semua negara-negara anggota menarik semua duta besarnya dari kota.

Status kota ini, khususnya tempat-tempat suci, masih menjadi masalah inti konflik Israel-Palestina. Pemukim Yahudi telah mengambil alih situs-situs bersejarah dan membangun di tanah yang disita dari orang Arab untuk meluaskan kehadiran orang Yahudi di Yerusalem Timur, sementara pemimpin-pemimpin Islam terkemuka mengklaim orang Yahudi tidak memiliki hubungan sejarah dengan Yerusalem, menganggap Tembok Barat yang telah berusia 2500 tahun dibangun sebagai bagian dari masjid. Orang Palestina menginginkan Yerusalem Timur sebagai ibukota negara Palestina di masa mendatang. [1]

Di akhir perang pada Juni 1967, saat pasukan Israel memasuki Kota Tua, pemerintah Israel diberi kesempatan tidak hanya untuk memulihkan keberadaan Yahudi ke kota bertembok namun menciptakan wilayah baru Yahudi yang diperluas, yang terdapat Tembok Barat sebagai pusatnya.

Setelah perang tahun 1967M, orang-orang Yahudi memperluas bagian timur kota Al-Quds dan menggabung 66 ribu Dunum[1] dari wilayah Ghaza disebelahnya. Agar luas kota Al-Quds menjadi 72 ribu Dunum. Yahudi juga bergerak, dengan menambah tiga orang Yahudi pada setiap orang Arab di kota Al-Quds bagian timur. Oleh karena itu, perpindahan orang-orang Yahudi ke kota Al-Quds bagian timur terus menerus dilakukan. Kantor kementrian dalam negeri melakukan usaha untuk tidak menyatukan keluarga-keluarga yang telah terpisah di Al-Quds. Juga pemerintah bagian perkotaannya (Al-Baladiyah), kota Al-Quds menolak memberikan izin pendirian bangunan dan menghancurkan bangunan yang tidak ada izinnnya.

Berdasarkan ini semua, usaha-usaha mereka ini berhasil dan memaksa banyak penduduk Al Quds mengungsi ke daerah pinggiran di luar batas kota Al-Quds, seperti Ar-Rami, Dhahiyah Al Barid, Abu Dis dan Al Izariyah.

Pembagian wilayah-wilayah pinggiran ke wilayah yang ikut kota Al-Quds dan yang lainnya ke Ghaza Barat, serta mempersulit penduduk Al-Quds dalam pendirian bangunan, membuat penduduk wilayah pinggiran memperluas pendirian bangunan pada bagian wilayah yang masuk Ghaza Barat, karena undang-undang yang khusus dalam perizinan bangunan lebih mudah. Perbedaannya jelas, yaitu untuk memindahkan dan mengusir secara resmi penduduk Al-Quds ke wilayah pinggiran, yang terletak di Ghaza Barat secara bertahap. Tujuannya, diantaranya untuk memperkecil jumlah orang-orang Palestina di kota Al-Quds.

Pentingnya pemukiman-pemukiman yang dibangun di sekitar Al-Quds sebelah timur di jalur Ghaza Barat, seperti kota Ma’alaih Adwamim, Ja’bat Za’if dan sebagainya adalah untuk menjadikan kota-kota pemukiman Yahudi di jalur Ghaza mengitari dan melindungi kota Al-Quds. Maka, pada akhir tahun tujuh puluhan dan awal-awal delapan puluhan (Masehi) telah dibangun kota Ma’alih Adwamim ke arah timur dari Al-Quds, kota Ja’bat Za’if ke arah barat laut, dan kota Afrat ke arah selatan. Masing-masing kota ini memiliki beragam tugas penting yang berbeda.

Kota Ma’alih Adwamim dibangun untuk memisahkan Al-Quds timur dengan jalur Ghaza Barat, dan sebagai penghalang interaksi antara penduduk Arab di Al-Quds Timur dengan Ghaza Barat. Juga untuk mencegah perkembangan perkampungan Arab di timur kota Al-Quds, yang telah selesai ditentukannya perluasan wilayah, pengembangannya, serta rencana untuk memperluas batas kota Ma’alih Adwamim, sehingga menyatu dengan kota Ja’bat Za’if dan kota Nabi Ya’qub. Dengan begitu, sempurnalah membentengi daerah timur. Hal itu bertujuan untuk menegaskan pembatas atau pemisah antara Al-Quds dengan Ghaza.

Kota Ja’bat Za’if, disamping sebagai pemukiman Yahudi, kota ini dibangun untuk merealisasikan beberapa tugas lain. Di antara tugas tersebut ialah :

1. Menghambat perkembangan tanah Palestina yang subur ini, dari arah barat laut dengan cara melakukan perampasan tanah.
2. Mencegah interaksi antar organisasi Palestina di tanah subur Palestina (Ar-Rif Falastini) yang dekat dengan Al-Quds
3. Menghalangi interaksi antara daerah Ramilah dan Al-Quds, dengan cara membangun wilayah ini ditempat tersebut.

Kota Bitar dan Afrat. Tugas dua kota ini, yaitu :

1.Menyatukan organisasi-organisasi Yahudi di batas wilayah barat daya kota Al-Quds, dan mengahalangi perluasan Palestina dari kota Al-Quds
2. Menjaga hubungan antara daerah dan penduduk Yahudi Al-Quds dan apa yang dinamakan Ghausy Atshiyun ke arah barat daya Al-Quds

1969 M          Zionis membakar pertama kali Masjid Al Aqsha [ Masdjid Al Qibly ]

Tepatnya 21 Agustus 1969 [8 Jumadil Akhir 1389 H], Zionis membakar pertama kali Masjidil Aqsha yang menyebabkan mimbar kuno Shalahuddin Al Ayyubi terbakar habis. Dinasti Bani Hasyim penguasa Kerajaan Yordania menggantinya dengan mimbar baru yang dikerjakan di Yordania.

Peristiwa terbakarnya Masjidil Aqsha adalah buah dari berkuasanya orangorang zionis Yahudi di wilayah tersebut. Mereka hendak menghilangkan atau setidaknya mengaburkan peninggalan-peninggalan peradaban Islam dan meredupkan syiar syiarnya di bumi al Quds.

Pada saat itu, tentara tentara zionis menyerang Masjid al-Aqsha dan memasukinya melalui beberapa pintu yang ada. Hingga sampailah mereka di bangunan utama komplek Masjidil Aqsha yakni Msjid  al Qibli. Mereka memasuki tempat itu kemudian membakarnya di beberapa titik seperti bagian mihrab, mimbar, di dekat kubah masjid, dll. Para zionis itu juga memutuskan saluran air menuju ke masjid dan menghalangi upaya masyarakat untuk memadamkannya.

Mimbar Shalahuddin al-Ayyubi yang dibakar oleh zionis Yahudi
Api yang dinyalakan di beberapa titik masjid kemudian menjalar kebagian-bagian lainnya dan hampir saja membakar kubah masjid jika tidak segera dipadamkan oleh kaum muslimin dan orang-orang Nasrani yang turut membantu memadamkannya. Akhirnya api-api yang berkobar di masjid tersebut dapat dipadamkan dengan gotong royong masyarakat membawa air dari sumur-sumur yang ada di sana.

Pembakaran tersebut berdampak pada hilangnya peninggalan peninggalan lama di Musholla al-Qibli. Mimbar yang merupakan peninggalan Shalahuddin al-Ayyubi hancur terbakar, membakar teras utara, beberapa atap, kubah dan ukiran-ukiran klasik yang ada padanya, dan beberapa peningglan-peningglana kuno lainnya.

Dalam pemberitaan orang-orang Yahudi mengklaim kebakaran disebabkan gangguan arus listrik, sementara orang-orang Arab menyatakan hal itu murni kesengajaan yang dilakukan oleh penjajah Yahudi di Palestina. Akhirnya, seorang pemuda berkebangsaan Australia, Dennis Michael Rohan, ditetapkan sebagai tersangka. Namun tidak beberapa lama ditangkap, ia pun kembali dibebaskan.

Insiden inilah yang [juga] mendorong berdirinya Organisasi Konferensi Islam (OKI).

Pembakaran Masjidil Aqsa pada tanggal 21 Agustus 1969 telah mendorong berdirinya Organisasi Konferensi Islam yang saat ini beranggotakan 57 negara. Pembakaran tersebut juga menyebabkan sebuah mimbar kuno yang bernama “Shalahuddin Al-Ayyubi” terbakar habis. Dinasti Bani Hasyim, penguasa Kerajaan Yordania telah menggantinya dengan mimbar buatan Jepara, Indonesia. Keluarga Bani Hasyim, yang masih bertalian darah dengan Nabi Muhammad Saw. menurut tradisi merupakan keluarga yang bertanggungjawab memelihara tempat-tempat suci Islam di kawasan tersebut.

Mesjid ini dibangun pada tahun yang sama saat Baitul Maqdis dibebaskan, yakni di thaun 637 M/ 16 H.  Awalnya masjid Al Qibly dibangun  dengan batang batang pohon – sama seperti Masjid An Nabawi yang dibangun Rasulullah ﷺ.  Dibangun kembali pada masa Sultan Abdul Malik bin Marwan, dan selesai pada masa anaknya Al Walid bin Abdul Malik. Masjid ini sudah beratus ratus kali diserang musuh; penyerangan terbesar pada tahun 1969, ditandai dengan hancurnya Mimbar Salahuddin di Masjid al-Aqsha

1970

Sekelompok rabi ekstremis – dipimpin oleh Shlomo Goren, yang kemudian menjadi kepala rabi Israel – mulai melobi agar orang Yahudi diizinkan masuk ke kompleks mesjid untuk berdoa, walaupun keputusan rabbi tradisional bertenangan dengan praktek seperti.

Kelompok-kelompok Yahudi segera muncul menuntut lebih: bahwa masjid akan diledakkan untuk mencari jalan untuk pembangunan sebuah kuil ketiga yang akan membawa lebih dekat kepada kedatangan Mesias mereka.

1973             Perang Yom Kippur ⇒ Perang Ke 4

Tahun 1973 antara Arab (mayoritas negara Arab terlibat secara langsung maupun tidak langsung) versus Israel ini adalah perang keempat yang mereka lakoni. Perang ini memiliki banyak nama. Perang Ramadhan, karena terjadi pada 10 Ramadhan 1339 H. Bertepatan dengan 6 Oktober 1973. Karena itu, perang ini juga dikenal dengan Perang Oktober 1973. Perang ini juga disebut dengan Perang Yom Kippur. Karena serangan koalisi Arab dilakukan saat Yahudi merayakan hari paling agung dalam tradisi mereka, hari Yom Kippur.
Perang ini dimulai dengan serangan Mesir dan Suriah terhadap posisi Israel di sepanjang Dataran Tinggi Golan dan Terusan Suez. Mesir dan Suriah ingin merebut kembali wilayah mereka yang diduduki Israel pada tahun 1967. Perang yang berlangsung selama 19 hari ini awalnya dimenangkan oleh orang-orang Arab.
Pada tanggal 10 Ramadhan 1339 atau 6 Oktober 1973, pasukan Mesir melintasi Terusan Suez. Pasukan Mesir berhasil menguasai kembali Daratan Sinai. Israel menderita kekalahan. Penyerbuan mesir ke Sinai dimulai dengan satu serangan udara dan gempuran artileri. Lebih dari 200 ton peluru meriam berdaya ledak tinggi yang disembunyikan di bukit-bukit pasri pesisir Terusan Suez berhasil menghantam sasaran-sasaran yang sudah ditargetkan. Pesawat-pesawat MiG Mesri meraung-raung di atas Suez. Menukik. Membomi. Memberondong. Dan meroket kubu-kubu Israel di Garis Bar Lev. Belum lagi peledak-peledak yang dipasangi Pasukan Katak Mesir juga berhasil diledakkan.
Kemudian pasukan penyerang Mesir segera bergerak dengan perahu-perahu motor mereka. Dalam waktu beberapa menit mereka berlarian menuruni Terusan dan menyalakan perahu motor untuk menyeberangi perairan selebar 180 meter. Setelah itu, mereka mendirikan sebuah landasan serbu sebagai titik awal untuk serangan berikutnya. Pasukan berikutnya pun tiba. Mereka berjumlah 10.000 prajurit dan didukung oleh 1.350 tank serta 150 senjata anti pesawat. Pasukan mesir berhasil memenangkan pertempuran di hari pertama.
Kemenangan ini bukanlah tanpa perlawanan dan pengorbanan. Mesir harus membayar kemenangan mereka dengan gugurnya 64 orang tentara Mesir. 420 luka-luka. 17 tank mereka mengalami kerusakan. 26 kendaaraan lapis baja dan 11 pesawat tempur dan helikopter mengalami kerusakan.
Sementara pihak Israel mengalami kerugian dengan 2838 orang tewas. 2800 luka-luka. 508 tawanan kabur. 840 tank, 400 kendaraan lapis baja, 109 pesawat tempur dengan helikopter, dan satu kapal perang hancur.
Penderitaan Israel tidak berhenti sampai di situ. Pada pukul 14.00 di hari yang sama, gantian Suriah menghajar mereka. 60 pesawat tempur Suriah terbang membomi sasaran-sasaran Israel. Sementara meriam-meriam mereka membuka gempuran gencar untuk melemahkan militer Israel. 800 tank Suriah pun masuk ke wilayah darat negara Yahudi itu.
Hari-hari awal Perang Yom Kippur ini menjadi milik bangsa Arab. Sampai akhirnya, Israel dengan dukungan negara adidaya, Amerika, berhasil memutar balikkan keadaan. Hingga kemudian dibuatlah perjanjian damai. Antara negara-negara Arab dengan Israel.

1990               Israel mencoba merebut Masjid Al Marwani

Pada tahun 1990 saat ‘Israel’ menduduki kota, mereka ingin merebut Masjid Al Marwani dan sudah membuat tangga di sana dan ingin membukanya, tetapi kaum Muslim berhasil merestorasinya kembali untuk menjadikannya tempat shalat seperti dulu lagi. Dengan ini mereka berhasil menghambat proyek ‘Israel’

1996             Israel Menggali terowongan di bawah Tembok Ratapan

Di saat menjabat perdana menteri, Netanyahu membuka terowongan di Tembok Barat/ Tembok Ratapan.  Dan penggalian lainnya hingga mendekati kompleks masjid, sehingga terjadi bentrokan yang menewaskan 75 orang Palestina dan 15 tentara Israel.

Israel, yang mengatakan masjid berada di atas reruntuhan dua kuil Yahudi kuno, yang dibangun oleh Salomo dan Herodes, mengacu pada situs di Gunung Bait dan telah menyampaikan pengakuan untuk mendapatkan kedaulatan atas wilayah tersebut dalam perundingan damai baru-baru ini.

1997              Lahirnya gerakan intifadhah pertama
Terbentuknya HAMAS

5 Muharam 1418H, bertepatan 12 Mei 1997, orang Yahudi telah menetapkan penggabungan pemukiman pemukiman mereka mengelilingi Baitul Maqdis ke Baitul Maqdis (Al Quds), dalam satu distrik yang terpusat. Ini terjadi setelah dimulainya pembangunan pemukiman baru di Bukit Abu Ghunaim. Pemukiman-pemukiman ini termasuk sebagai upaya menambah pemukiman-pemukiman (Yahudi) yang dibangun di sekitar Baitul Maqdis (Al Quds). Sehingga nantinya, Baitul Maqdis dikelilingi dengan pemukiman-pemukiman Yahudi, seperti tembok pada tempat perlindungan setelah mengepung kota Al Quds sejak enam tahun lalu, disertai pos-pos pemeriksaan militer. (Dimaksudkan) untuk mencegah penduduk Palestina di Ghaza sebelah barat terhalang (tidak) masuk ke Baitul Maqdis atau shalat di Masjidil Aqsha

Perlu diketahui, banyak kelompok orang-orang Yahudi dengan beragam nama, mereka berusaha terus menerus mengganggu kaum Muslimin di dalam Masjidil Aqsha, dengan dalih, mereka melakukan shalat disana, sehingga menimbulkan bentrokan antara kaum Muslimin yang sedang melakukan shalat di dalam masjid tersebut, dengan tentara Yahudi. Ini mengakibatkan banyak korban yang terbunuh dan luka-luka. Akhir perlawanan ini terjadi ketika Yahudi membuat terowongan di bawah Masjidil Aqsha.

Desember 1997, terjadi kerusuhan. Yang menyulut aksi spontan dari rakyat Palestine dan melahirkan gerakan intifadhah dan terbentuknya HAMAS

1998

2000

Sebelumnya kekacauan yang oleh Israel pada otoritas Islam di situs ini telah memicu bentrokan antara polisi Israel dan Palestina. Kunjungan pasukan bersenjata lengkap ke kompleks mesjid oleh Ariel Sharon pada tahun 2000, lama sebelum ia menjadi perdana menteri, untuk menyatakan hak Israel ada memicu Intifada kedua.

Pada perundingan Camp David di tahun 2000, Bill Clinton, kemudian menjadi presiden AS, mengusulkan membagi kedaulatan sehingga Israel akan memiliki kontrol atas “ruang bawah tanah” dari kompleks masjid dan Tembok Barat. Selama pembicaraan Ehud Barak, perdana menteri Israel sekarang, pengamat mengkhawatirkan sebutan atas keseluruhan kompleks Yahudi dengan “Mahakudus”, istilah yang sebelumnya digunakan hanya mengacu pada tempat suci di dalam candi yang telah hancur.

Meskipun undang-undang kemurnian agama Yahudi telah melarang orang Yahudi secara tradisional memasuki Mount Temple (Kuil Bukit), namun semakin banyak rabi Yahudi menuntut agar diizinkan untuk berdoa di dalam kompleks tersebut. Lebih lagi kelompok fanatik yang diketahui mendukung peledakan masjidmasjid dan membangun sebuah kuil ketiga di tempat mereka.

2004

Terjadi kerusakan kecil di jalan batu menuju Gerbang Mughrabi di depan kompleks mesjid oleh sebuah badai kecil. Kerusakan bertambah luas karena Israel membongkar jalan itu kemudian.

Menurut bukti yang ditunjukkan ke pengadilan Yerusalem, saat ini para pejabat Israel menggunakan kerusakan jalan tersebut sebagai dalih untuk membongkarnya enam tahun yang lalu. Tujuannya adalah untuk menggantikan jalan dengan jembatan logam permanen dan kemudian memperluas plaza doa Yahudi ke daerah dimana jalan itu.

Skema ini adalah gagasan Shmuel Rabinowitz, rabi yang bertanggung jawab atas Tembok Barat, yang menyatakan kerusakan jalan pada tahun 2004 adalah sebuah “keajaiban” yang mana Israel ditawari kesempatan untuk menguasai lebih banyak tanah yang dikuasai Islam di Kota Tua .

2006             Pemilu pertama di Palestine, dengan tujuan delegitimasi HAMAS.  Tetapi hasil dari pemilu ini malah HAMAS mendapatkan GAZA.

2007

Rencana Shmuel Rabinowitz itu disetujui oleh sebuah komite menteri khusus yang dipimpin oleh Ehud Olmert, yang kemudian menjadi perdana menteri. Proyek ini juga mendapat dukungan dari Netanyahu, meskipun ia membekukan pekerjaan konstruksinya pada bulan Juli atas perintah pengadilan Yerusalem.

Hakim, Moussia Arad, mengusulkan pada bulan Januari agar jalan dikembalikan, atau paling tidak jembatan mengikuti rute jalan yang tepat, dan semua pendoa dilarang di lokasi. Posisi itu mendapatkan dukungan dari pejabat PBB yang memantau pekerja Israel di Gerbang Mughrabi.

Pendekatan ilmiah untuk penggalian itu disorot pada awal tahun 2007 ketika muncul tiga tahun sebelumnya arkeolog-arkeolog Israel telah menemukan di sebuah situs ruang berdoa muslim dari masa Saladin, berasal dari abad ke-11, tapi penemuan itu tidak dihiraukan.

Pada bulan Februari 2007, ketika Israel membawa alat berat untuk penggalian di Gerbang Mughrabi, ratusan warga Palestina bentrok dengan polisi sementara Gerakan Islam di Israel menggelar demonstrasi besar-besaran. Jihad Islam mengatakan telah menembakkan dua roket Qassam dari Gaza sebagai jawaban, dan Brigade Martir al-Aqsa mengancam akan melakukan serangan jika pekerjaan itu tidak dihentikan.

Otoritas Islam juga mengungkapkan kekhawatiran bahwa bagian masjid mungkin akan rusak oleh buldoser, dan mesin berat mungkin juga akan menghancurkan Masjid Al-Buraq yang masih belum ditemukan, yang diyakini terletak dekat dengan Gerbang Mughrabi, yang menandai situs di mana Nabi Muhammad menambatkan kudanya pada malam perjalanan dari Mekah menuju Yerusalem (Isra’).

Untuk menenangkan situasi, Israel mengizinkan pakar dari Turki untuk memeriksa penggalian beberapa waktu kemudian. Mereka melaporkan bahwa Israel sedang berusaha mengenyampingkan sejarah Islam di Yerusalem sehingga aspek Yahudi bisa lebih ditonjolkan.

2009

Pada bulan Desember, bertepatan dengan bulan Ramadhan, Israel mulai melakukan penggalian untuk membangun sejumlah terowongan di dekat Mesjid Al Aqsha. Terowongan-terowongan itu dibangun saling terhubung di bawah lingkungan Arab Silwan, berkedalaman 120 meter, lebar 1,5 meter dan tinggi 3 meter, dan diarahkan menuju bagian utara Mesjid Al-Aqsa.

Pihak Palestina meyakini Israel ingin meng-yahudinisasi Yerusalem dan menghancurkan Mesjid Al-Aqsa, kemudian membangun kuil kedua di atas reruntuhan Mesjid. Namun pihak Israel berdalih melakukan penggalian terowongan untuk fasilitas pariwisata yang pembangunannya dimulai di bawah tanah.

Sementara itu 100.000 orang Palestina tidak bisa mencapai mesjid Al-Aqsa untuk shalat Jum’at (11/12/09) karena dilarang tentara pendudukan Israel. Sejak pagi Jumat ribuan orang Palestina tersebut yang berdatangan dari seluruh kota-kota Tepi Barat mengantri untuk diizinkan masuk ke dalam areal mesjid. [3]

2010

Pemerintah Israel telah berkeras meneruskan rencana untuk memperbesar alun-alun doa Yahudi di Tembok Barat di Kota Lama Yerusalem, meskipun diperingatkan akan beresiko memicu intifadhah ketiga.

Para pejabat Israel menolak proposal pengadilan Yerusalem minggu ini (Maret 2010) untuk mengesampingkan rencananya setelah hakim menerima pendapat bahwa perluasan alun-alun doa akan melanggar “status quo” yang meliputi pengaturan tempat-tempat suci Kota Tua. Otoritas Islam menyetujui pengaturan tersebut setelah Israel menduduki Yerusalem Timur pada tahun 1967.

Situs yang dimaksud oleh pejabat Israel terletak di Gerbang Mughrabi, sebuah pintu masuk ke kompleks masjid yang dikenal sebagai Haram al-Sharif, situs yang paling sensitif dalam konflik antara Israel dan Palestina. Di dalamnya ada Masjid Al-Aqsa dan Dome oh the Rock dengan kubah berlapis emasnya.

8 April 2015 : Yahudi rebut makam Nabi Yusuf di Nablus.  Dinablus inilah dulu terdapat sumur tua tempat Nabi Yusuf dibuang oleh 10 saudara saudaranya yang iri dan dengki

2012             Tuntutan kembali pada pakta Umar bin Khattab

Bahkan pada tahun 2012, ketika konflik Palestina kian memuncak, banyak umat Islam, Yahudi, dan Kristen menuntut diberlakukannya kembali pakta tersebut dan membuat poin-poin perdamaian yang merujuk pada pakta itu untuk sebagai solusi konflik antara umat bergama di sana

Nopember 2012

Zionis Israel memulai gencatan senjata dengan GAZA. dan membunuh Ahmad Jabari, pemimpin pasukan Al Qassam

25 Juli 2016

Google corp, resmi menghapus nama Palestina dalam google map dan seluruh aplikasi miliknya.  Dan menggantikannya dengan Israel.

Forum Jurnalis Palestina : “Keputusan Google menghapus Palestina dari peta adalah bagian dari skema Israel untuk menjadi negara terlegitimasi bagi generasi masa depannya dan menghapus Palestina,”

2017
Jumat 14 Juli 2017 kemarin, menjadi kali pertama Israel berani menutup area Masjidil Aqsha dan melarang umat untuk melakukan sholat Jumat disana

Setelah lebih dari 69 tahun sejak Israel merampas masjidil Aqsha dari tangan kaum muslim, belum pernah sekalipun Israel berani melarang umat Islam untuk melakukan sholat Jumat di area masjidil Aqsha. Israel memang sering melarang umat untuk melakukan sholat sholat fardhu, tapi tidak untuk sholat Jumat.

Dan aksi pelarangan sholat jumat yang pertama itu, adalah ‘buntut’ dari aksi pembebasan Masjidil Aqsha yang dilakukan dengan penuh keberanian oleh 3 pemuda Palestina. Aksi pembebasan tersebut mengakibatkan Israel mengeluarkan larangan sholat Jumat di sekitar area Masjidil Aqsha dan sertamerta kawasan masjid ditutup tentara Israel. Seruan Jumatul Al Ghadab yang disuarakan di Istambul oleh ulama ulama dunia, membuat kawasan Yerusalem kini bergolak panas.  5 syahid, dan ratusan terluka akibat gempuran tentara Israel.

 

Lupa Sejarah

Al-Quran sudah mengingatkan salah satu ciri yang menonjol pada kaum ini adalah serakah dan tamak terhadap dunia.

وَلَتَجِدَنَّهُمْ أَحْرَصَ النَّاسِ عَلَى حَيَاةٍ وَمِنَ الَّذِينَ أَشْرَكُواْ

“Dan kamu akan jumpai mereka adalah manusia-manusia yang paling tamak terhadap dunia, bahkan dibanding kaum musyrik… (QS al-Baqarah [2]:96).

Ketamakan Yahudi Israel itu juga menunjukkan betapa mereka adalah kaum yang tidak tahu berterimakasih. Mereka lupa, bahwa sebelum negara Yahudi Israel berdiri di Palestina, 14 Mei 1948, mereka adalah bangsa yang teraniaya di berbagai penjuru dunia; terusir dari negeri mereka sendiri, dan kemudian selama beratus tahun mendapatkan perlindungan dari kaum Muslimin di Andalusia dan Turki Utsmani.

Wallahu a’lam bishowab

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ ♥ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ♥ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ ♥ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ♥ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

Sejarah Baitul Maqdis [Yerusalem] [1]
Sejarah Baitul Maqdis [Yerusalem] [2]
Sejarah Baitul Maqdis [Yerusalem] [3]
Sejarah Baitul Maqdis [Yerusalem] [4]