بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Berbicara tentang Baitul Maqdis, adalah sama dengan kita berbicara tentang Masjidil Aqsha.  Keduanya tak mungkin terpisahkan.
Sejarah Masjidil Aqsha, adalah juga sejarah Baitul Maqdis dan juga sejarah Palestina.   Dan pada akhirnya, kita juga tidak bisa lepas dari pembicaraan tentang Syam.  Karena justru Syam inilah daerah yang telah banyak memberi justifikasi pentingnya peran Masjidil Aqsha atau Baitul Maqdis dalam sejarah umat manusia.

DR. Fathi Zaghrut, dalam bukunya ‘An-Nawazil fi Tarikh Al-Islam menulis :

“Bahwa bapak para Nabi Ibrahim Al-Khalil menjadikan salah satu bagian dari wilayah tersebut sebagai Masjid, dan bahwa Nabi Yaqub mendapatkan wahyu di sana. Kemudian Nabi Yusya’ meletakkan kubah yang dibuat Musa di atas bagi Bani Israel”.

Membicarakan Masjidil Aqsha adalah menelusuri sejarah yang sangat mengesankan. Sejarah di mana banyak peradaban datang kesana dan bermukim lama, berlayar menyusuri rantai-rantai sejarah yang talik ulur saling menyambung, lalu menemukan fakta luar biasa dan mencengangkan; bahwa benarlah kata Ibnu Abbas. “Baitul Maqdis itu dibangun oleh para Nabi, tempat tinggal para Nabi. Tiada satupun jengkal tanah di sana, kecuali telah menjadi tempat shalat para nabi atau tempat berdirinya malaikat.”

Kebanyakan orang [ baik yang muslim, apalagi non muslim ] masih belum bisa membedakan mana yang disebut Masjidil Aqsha dan mana yang disebut Baitul Maqdis.  Seringkali pengertian kedua nama itu dianggap sama.

Masjidil Aqsha adalah sebutan yang diberikan Allah Ta’ala untuk sebuat tempat seluas 1.4 H yang berada di Baitul Maqdis [ sekarang ada di Palestina ].  Sedang Baitul Maqdis, juga sebutan yang diberikan Allah Ta’ala untuk daerah yang berada disekeliling Masjidil Aqsha.  Dan wilayah Baitul Maqdis ini memiliki batas batas yang jelas yang telah ditetapkan Allah dan disampaikan oleh RasulullahBaitul Maqdis terdiri dari desa, kota bahkan negara negara.

Orang Arab biasa menyebut Baitul Maqdis dengan Baitul Muqodas atau Urshalim Al Quds atau biasa disingkat hanya القدس Al Quds.  Sedang orang orang Yahudi dan non muslim menyebutnya  Yerusalem (bahasa Ibrani : Yerushalayim.  Dan orang orang Romawi menyebutnya sebagai Aelia Capitolia.  Sebagian menyebutnya Ilya Filastin.

Lalu, dari mana asal kata Yerusalem itu?

Banyak teori yang menjelaskan etimologi kata Yerrusalem.  Tetapi berdasar atas temuan arkeologi  bahwa suku pertama yang menetap di kawasan Palestina, adalah kabilah Arubiyah ( bangsa Kan’an/ Kanaan, Amoriyah/ Amorit, Yabusiah, dan Finokiyah ) kira kira pada tahun 2500 SM.  Setelah itu Bangsa Filistin mulai datang dan menempati selatan kawasan ini

Nah, bangsa Kan’an ini memiliki dewa petang yang bernama Shalim atau Shalem.  Kemungkinan besar diambil dari nama dewa inilah, yang kemudian sering digunakan orang orang untuk meng-identifikasikan daerah Al Quds tersebut.  Kemudian dari nama ini – didasarkan pada akar kata yang sama [ yaitu S-L-M ] –  kemudian diambil menjadi kata Ibrani yang berarti Shalom atau Salam [ damai ]. [ Lihat, kemiripan kata shalom dan salam ]

Nama tersebut dengan demikian menawarkan etimologisasi seperti “Kota Damai”, “Kediaman Damai”, “hunian damai” (“didirikan dalam keselamatan”), sebagai alternatifnya yaitu “Visi Perdamaian” menurut beberapa penulis Kristen.

Akhiran -ayim mengindikasikan bentuk dualis, sehingga mengarah pada anggapan bahwa nama Yerushalayim mengacu pada fakta kalau kota ini terletak di atas dua bukit.  Bagaimanapun pengucapan suku kata terakhir sebagai -ayim tampaknya merupakan suatu pengembangan akhir, yang mana belum terlihat pada masa digunakannya Septuaginta secara luas.

♦♦♦

Kesalahan umum umat Islam dalam memahami Masjidil Aqsha adalah karena mayoritas umat tidak paham yang mana sebenarnya yang disebut Masjidil Aqsha.  Umat juga tidak terlalu memahami apa itu Baitul Maqdis atau Al Quds atau Yerusalem.  Sebenarnya kesalahan serupa juga menimpa pada pemahaman soal Masjidil Haram.  Baca lebih detil : Masjidil Haram

Masjidil Aqsha adalah masjid tertua kedua yang dibangun di muka bumi.  Nabi Adam-lah yang membangunnya atas perintah Allah.  40 tahun sebelum Nabi Adam membangun Masjidil Haram.

Ketahuilah, ketika Nabi Adam عليه السلام
membangun kedua mesjid itu, itu bukanlah bangunan yang berupa bangunan mesjid seperti yang kita kenal sekarang.  Tetapi bagaimana bentuk Masjidil Aqsha ketika dibangun pertama kali oleh nabi Adam, belum ada literatur sejarah yang penulis temui.  Bisa jadi dahulu Nabi Adam عليه السلام
membangunnya hanya berupa tembok/ pondasi tinggi yang dibuat secara berkeliling,  dengan bentuk  SEGI EMPAT, [ dengan luas 1.4 H ] seperti bentuk bangunan Kabah.  Dilanjutkan oleh Nabi Ibrahim dan Ismail, kemudian disempurnakan oleh Nabi Dawud dan Nabi Sulaiman menjadi bangunan ibadah yang kokoh dan indah.  Ketika peristiwa Isra’ Mi’raj, mesjid itu tinggal berupa reruntuhan namun tembok yang mengelilingi, diperkirakan ada yang masih berdiri kokoh

Sehingga Masjidil Aqsha sejatinya ia adalah sebuah wilayah seluas 1.4 H tempat untuk bersujud/ beribadah kepada Allah ﷻ  yang terletak di Baitul Maqdis.  Bangsa Arab menyebut Baitul Maqdis  sebagai Al Quds dan masyarakat Internasional menyebutnya Yerusalem.  [ Terletak di Palestina ].  Dan dalam kompleks itu sekarang ini terdapat lebih dari 60 bangunan bersejarah dan 6 buah diantaranya adalah mesjid !

Dan yang disebut Masjidil Aqsha bukanlah Dome Of The Rock atau Masjid Al Qibli saja, tetapi keseluruhan bangunan yang ada di kompleks seluas 1.4 Hektar.  Baca : Apa Saja Bangunan Yang Ada Di Masjidil Aqsha

Israel sebagai pihak yang menjajah, memang sengaja menampilkan Dome Of The Rock ketika umat Islam berkunjung/ berwisata ke Masjidil Aqsha atau searching di internet.  Hal itu bisa dipahami, karena Israel memang ingin dunia dan umat Islam menyangka, bahwa masjidil Aqsha dalam keadaan ‘baik baik saja’.  Sejatinya Yahudi Israel tengah melakukan penggalian di bawah masjid Al Aqsha dengan tujuan meruntuhkan seluruh bangunan yang berada di kompleks Al Aqsha.  Bila sudah runtuh, Yahudi Israel laknatullah berambisi untuk membangun kembali bait Salomon yang mereka klaim dulunya berada di kompleks Al Aqsha.

Tetapi bicara tentang Baitul Maqdis [ yang didalamnya ada Masjidil Aqsha ] adalah juga bicara tentang Syam.  Karena antara Syam, Baitul Maqdis dan Masjidil Aqsha, adalah satu rangkaian erat yang ketiganya saling mempengaruhi dan menguatkan.

Sejarah  Baitul Maqdis dan Masjidil Aqsha yang berada di dalamnya

00 –                Era Nabi Adam عليه السلام : 

♦ Membangun Pertama Kali Masjidil Haram, kemudian Masjidil Aqsha

Al Quran surat Ali ‘Imran [3] ayat 96 :

إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكًا وَهُدًى لِلْعَالَمِينَ 96

Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadah) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia.

Setelah turun ke bumi, kemudian Allah ﷻ memerintahkan Nabi Adam untuk membangun Kabah di Bakkah [Mekah].  Kemudian Nabi Adam bertawaf mengelilinginy dengan batas batas yang sudah Allah ﷻ tentukan.

Ibnu Hisyam dalam kitab at-Tijan fi Muluki-l Hamir mengatakan, “Setelah Adam عليه السلام
membangun Kabah, Allah Ta’ala memerintahkannya untuk menempuh perjalanan ke Baitul Maqdis. Jibril mengawasi (atau memperhatikan) bagaimana Baitul Maqdis itu dibangun. Setelah Nabi Adam selesai membangunnya, beliau menunaikan ibadah di dalamnya.”

40 tahun kemudian, Nabi Adam عليه السلام diperintahkan ke Baitul Maqdis untuk membangun Masjidil Aqsha.
Disebutkan dalam Shahihaini, bahwa Abu Dzar رضي الله عنه bertanya kepada Rasulullah ﷺ : “ Wahai Rasulullah, masjid apakah yang pertama kali diletakkan di bumi? Nabi ﷺ menjawab : Al Masjidil Haram.
Aku bertanya lagi : Kemudian apa? Nabi ﷺ menjawab : Al Masjidil Aqsha. Aku bertanya : Berapakah jarak antara keduanya? Nabi ﷺ menjawab : 40 tahun. Kemudian di mana pun kalian mendapati waktu sholat, maka sholatlah. Sesungguhnya ada keutamaan di dalamnya.

*  Namun ada pendapat yang menyatakan bahwa para malaikat yang membangun Masjidil Aqsha.  Dua ribu tahun sebelum Nabi Adam عليه السلام diciptakan, Malaikat sudah membangun Ka’bah di bumi ini atas perintah Allah ﷻ . Di dalam Al Quran dijelaskan bahwa ketika Allah ﷻ , hendak menciptakan Nabi Adam عليه السلام, Allah ﷻ berfirman kepada malaikat :
“Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (QS. Al Baqarah : 30).
Para ahli sejarah dan ahli Tafsir mengatakan bahwa para malaikat merasa cemas bila diciptakan manusia di permukaan bumi, mereka akan berbuat kerusakan dan menodai bumi dengan pertengkaran dan pertumpahan darah, melihat pada tipe jin yang sudah lebih dulu diciptakan. Kekhawatiran para malaikat itu wajar saja terjadi karena mereka diciptakan untuk taat dan patuh kepada Allah ﷻ, tidak mendurhakainya sesuai dengan asal ciptaannya dari cahaya dan tidak mempunyai hawa nafsu.

Karena takut akan murka Allah ﷻ, para malaikat tidak bertanya lagi siapa yang layak dijadikan khalifah di bumi, manusia atau malaikat, maka para malaikat segera mohon ampun dan ridha Allah SWT. Karena Arasy Allah ﷻ sangat besar, maka dengan Rahman dan Rahim Allah ﷻ. Dia membangun Baitul Makmur di bawah Arasy untuk tempat mereka mengerjakan tawaf, dan lebih meringankan dan memudahkan mereka setiap hari.

Para malaikat mengerjakan tawaf silih berganti siang dan malam sehingga tidak kurang dari 7000 malaikat yang mengelilingi Baitul Makmur setiap harinya, bahkan menurut riwayat, ada di antara malaikat yang hanya dapat tawaf sekali saja, dan tidak dapat lagi mengelilingi tawafnya karena sesaknya Baitul Makmur yang dibangun oleh Allah SWT dari Zabrajad yang bertahtakan Yakut berwarna merah itu. Maka dengan Rahman dan Rahim Allah SWT memberi perintahkan kepada malaikat untuk membangun Ka’bah di bumi. Sebagaimana Firman Allah SWT :
“Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia” (QS. Ali-Imran : 96)
Dimana bentuk dan fondasinya persis seperti Baitul Makmur di bawah Arasy, besar dan ukurannya sama, posisinya setentang dengan Ka’bah di bumi. Andaikata dijatuhkan sebuah batu dari Baitul Makmur ke Ka’bah akan sampai ke tengah-tengah Ka’bah. Wallahu’alam bissawab.  Sumber : kitab Akhbar Makkah Muhammad Al Arzaqi (1988: 32)

Tetapi kami lebih condong bahwa yang membangun Masjid Al Aqsha adalah seorang manusia, bukan para malaikat. Karena para malaikat mempunyai rumah sendiri dan membangunya di langit, yaitu Baitul Makmur sebagai ganti Kabah di bumi.

Pembangunan Masjidil Aqsha dan Kabah yang sekarang ini, dilakukan dengan ukuran yang tidak terlalu berbeda dengan ukuran yang ada sekarang. Perbedaan ukuran memang ada, tetapi tidak terlalu mencolok, dan tentu tidak menjadi masalah.

Dan yang menakjubkan, denah skala antara Masjidil Aqsha dan Masjidil Haram [Kabah yang asli] adalah sama! Yakni 4 persegi dengan salah satu sisi pendeknya, lebih pendek lagi.

Dalam makalah Dosen fakultas teknik Universitas Nasional Al Najah, DR. Haitsam Rutut yang dicetak majalah Kajian Baitul Maqdis terbitan tahun 2005, Rutut mengungkapkan ada kesamaan antara bangunan Kabah dan bangunan Masjidil Aqsha. Dengan bantuan program teknik tiga dimensi dan dengan melupakan jarak antara keduanya.

DR. Haitsam Rutut menjelaskan, ada kesamaan antara kedua bangunan ini, ditinjau dari ke empat sudutnya. Ia menjelaskan hal tersebut dengan bantuan denah dan gambar. Bukti bukti secara ilmiah ini mendukung pendapat yang menyatakan, Masjidil Aqsha. Nabi Adam- lah yang membangun kedua masjid ini berdasarkan wahyu dari Allah ﷻ , dengan batas-batasnya. Inilah batas-batas yang dipelihara hingga kini atas Masjidil Aqsha seluas 1,42-1,44 hektar.

Kemiripan Teknik bangunan antara Masjid Al-Aqsha yang asli sebelum perluasan pada zaman Bani Umayah dengan bangunan Kabah dengan bentuknya yang asli yang dibangun oleh Abdullah bin Zubair mengutip keterangan Rasulullah ﷺ yang menyebutkan tentang bentuk Ka’bah pada zaman Nabi Ibrahim AS. (Baca : Sejarah Pembangunan Ka’bah)

Al Aqsha mempunyai persamaan dengan Kabah. Ia dibangun oleh orang yang sama yaitu Nabi Adam عليه السلام.   Jika dibesarkan, Kabah didapati bentuk pondasi yang sama dengan batas Al Aqsha. Di setiap sudutnya adalah sama

Yang jelas, pondasi atau tembok yang dibuat secara berkeliling dan membentuk persegi empat, masih tetap tegak berdiri hingga ratusan tahun kemudian. Saat pembangunan kedua dimulai oleh Nabi Ibrahim عليه السلام.

14.000 –         Manusia pertama di Al Quds
8000 SM

Sejumlah ahli arkeologi berpendapat, suku Nathofiyah adalah manusia pertama yang pernah mendiami wilayah utara Al Quds, wilayah pantai dan di goa goa dekat gunung Karmel

8000 –           Manusia mulai menetap
4500 SM

Mulailah manusia mendiami satu wilayah (tidak berpindah pindah), di Kota Jericho tahun 8000 SM tampak tanda tanda sebagaimana para ahli perkirakan, seperti bangunan yang merupakan bangunan pertama di dunia. tetapi tidak diketahui siapa yang mendiaminya.
Sementara itu, di Abu Syasyah, dekat Ramallah, tampak tanda-tanda keberadaan sejumlah suku yang mendiami wilayah tersebut, kira-kira 3500 SM.

4000 –          Jaman tembaga
3000 SM

Di Abu Syasyah, dekat Ramallah, juga tampak tanda tanda keberadaan sejumlah suku yang mendiami wilayah Baitul Maqdis

3650 SM      Nabi Nuh

Nabi Nuh adalah nabi ketiga dan keturunan ke 9 dari Nabi Adam.   Nabi Nuh diperkirakan tinggal di  wilayah selatan Iraq.    Antara Adam dan Nuh ada rentang 10 generasi dan selama periode kurang lebih 1642 tahun.  Nuh hidup selama 950 tahun. Ia mempunyai empat orang putra, yaitu Kanʻān, Yafith, Syam dan Ham.

Al Quran surat Al Furqaan {25] ayat 18 :

Kaum yang dihadapi Nabi Nuh merupakan salah satu generasi manusia yang diberi umur panjang serta dilimpahi kemakmuran

 قَالُوا سُبْحَانَكَ مَا كَانَ يَنْبَغِي لَنَا أَنْ نَتَّخِذَ مِنْ دُونِكَ مِنْ أَوْلِيَاءَ وَلَكِنْ مَتَّعْتَهُمْ وَآبَاءَهُمْ حَتَّى نَسُوا الذِّكْرَ وَكَانُوا قَوْمًا بُورًا 18

Mereka (yang disembah itu) menjawab: “Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagi kami mengambil selain Engkau (untuk jadi) pelindung, akan tetapi Engkau telah memberi mereka dan bapak bapak mereka kenikmatan hidup, sampai mereka lupa mengingati (Engkau); dan mereka adalah kaum yang binasa.”

[ Dalam kitab kaum Yahudi, disebutkan mereka juga kaum juga dianugerahi perawakan tubuh yang jauh lebih perkasa daripada generasi manusia pada zaman sekarang.  –  Ginzberg, Louis (1909). The Legends of the Jews (Translated by Henrietta Szold) Philadelphia: Jewish Publication Society. ]

Kemakmuran duniawi di generasi nabi Nuh menimbulkan sikap angkuh serta sikap sewenang wenang memandang diri sebagai golongan terkuat dan berkuasa,[8] yang kemudian berujung pada keengganan serta kecongkakan untuk mengakui Tuhan sebagai Yang Maha Kuasa maupun Yang lebih berwenang atas hidup mereka.[9] Allah menyebut kaum nabi Nuh sebagai kaum paling rusak di muka bumi.[10]

Surat Hud [11] ayat 116 :

 فَلَوْلا كَانَ مِنَ الْقُرُونِ مِنْ قَبْلِكُمْ أُولُو بَقِيَّةٍ يَنْهَوْنَ عَنِ الْفَسَادِ فِي الأرْضِ إِلا قَلِيلا مِمَّنْ أَنْجَيْنَا مِنْهُمْ وَاتَّبَعَ الَّذِينَ ظَلَمُوا مَا أُتْرِفُوا فِيهِ وَكَانُوا مُجْرِمِينَ 116

Maka mengapa tidak ada dari umat-umat yang sebelum kamu orang-orang yang mempunyai keutamaan yang melarang daripada (mengerjakan) kerusakan di muka bumi, kecuali sebahagian kecil di antara orang-orang yang telah Kami selamatkan di antara mereka, dan orang-orang yang zalim hanya mementingkan kenikmatan yang mewah yang ada pada mereka, dan mereka adalah orang-orang yang berdosa.

Dan di jaman Nabi Nuh, Kabah hancur hingga hanya menyisakan pondasinya saja.  Begitu juga dengan Masjidil Aqsha, mengalami kerusakan.

3000 –           Inilah suku pertama yang mendiami Palestina
2500 SM

Beberapa ahli sejarah menunjukan bahwa kabilah kabilah Arubiyah ( bangsa Kan’an/ Kanaan, Amoriyah/ Amorit, Yabusiah, dan Finokiyah ) adalah bangsa yang paling pertama mendiami wilayah Palestina, berdasarkan kesepakatan para ahli sejarah barat mau pun timur, yaitu kira-kira pada tahun 2500 SM.

Mereka menetap di wilayah pantai dan gunung gunung. Maka Palestina sering disebutkan sebagai “Tanah Kan’an/ Kanaan”, karena yang mendiaminya bangsa Kan’an.
Ada pun Yabusiah, mereka mendiami Kawasan Al Quds dan membangun kota di sana yang dinamakan Kota Yabus.
Setelah itu Bangsa Filistin mulai datang dan menempati selatan kawasan ini.  Bangsa Filistin inilah yang lebih banyak dikenal sebagai suku bangsa awal yang mendiami daerah Palestina. Dan hanya nama Palestina yang digunakan oleh penulis penulis Yunani Kuno.

Setelah pembakaran ‘Masjidil Aqsha‘ yang kedua, kemudian nama Palestina ini, yakni Syria Palaestina, digunakan oleh Romawi Timur untuk menggantikan nama Yerusalem yang sering digunakan Yahudi.  Dengan maksud membuat marah Yahudi.

Dengan demikian bangsa Palestina saat ini adalah keturunan suku suku tersebut.
Kelak, Suku Kan’an membangun 119 kota sepanjang sejarah Palestina.

Pada periode ini ada Nabi Nuh, Nabi Hud dan Nabi Shaleh.  Tetapi karena ketiga nabi tesebut tidak ‘bersentuhan’ dengan Baitul Maqdis, maka sejarah kita loncat langsung ke era nabi Ibrahim. [ Nabi Nuh ditugaskan untuk kaumnya yakni kaum Babilonia [Iraq], Nabi Hud untuk Kaum ‘Ad dan Nabi Shaleh untuk kaum Tsamud ]

2166 –           Era Nabi Ibrahim عليه السلام
1991 SM

♦ Khalilu-r Rahman, Nabi Ibrahim sempat menetap di Baitul Maqdis dan memakmurkan Masjidil Aqsha.

Nabi Ibrahim lahir di Iraq di tepi sungai Eufrat berda’wah di sana sampai turun perintah untuknya berhijrah dengan membawa Hajar dan Ismail.  Lalu pergilah Ibrahim dari tepi sungai Eufrat ke Negeri Asy Syam.
Dari Asy Syam dia menuju Mesir. Penindasan Firaun di sana mendorongnya untuk melakukan perjalanan lagi, kali ini menuju Baitul Maqdis.
Nabi Ibrahim AS masuk Masjid Al Aqsha dan shalat di dalamnya serta bertemu dengan Raja Kaum Yabus yang sholeh, sang “Raja Jujur”.
Kemudian Allah ﷻ perintahkan untuk pergi ke Hijaz. Disinilah ia meninggalkan Hajar dan Ismail atas perintah Allah ﷻ .
Setelah itu, Nabi Ibrahim tinggal di Hebron, dan hidup bersama Sarah.  Namun ia kerap bolak balik bertandang ke Hijaz menemui Hajar dan Ismail.

15 tahun kemudian, Sarahpun hamil dan melahirkan Ishaq. Saat itu usia Sarah 90 tahun, dan Ibrahim 100 tahun

1991 –           Era Nabi Ismail عليه السلام
1779 SM

Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail membangun kembali Kabah

Setelah beberapa lama Ibrahim hidup jauh terpisah dengan Hajar dan Ismail, kemudian datang lagi perintah Allah ﷻ untuk kembali ke Hijaz.  Dan Nabi Ibrahim AS menamakan lembah Makkah dengan Baitul Atiq al Muharram. Menunjukan bahwa Kabah sudah ada pada saat itu yang menyaksikan kelahiran  Nabi Ismail عليه السلام.

Di Hijaz, Allah ﷻ perintahkan lagi kepada Nabi Ibrahim عليه السلام dan Ismail عليه السلام, untuk menyempurnakan pembangunan Kabah, yang sebelumnya dikerjakan Nabi Adam.
Sehingga jadilah Kabah dalam bentuknya yang sekarang dan menjadi rumah pertama yang dibangun untuk beribadah kepada Allah ﷻ .

Ibrahim kemudian mencari Ismail. Akhirnya beliau dapat bertemu dengan Ismail ketika Ismail sedang meruncingkan anak panahnya dekat sumur zamzam. Mereka kemudian berpelukan melepas kerinduan dan kegembiraannya.
Kemudian Nabi Ibrahim memberitahukan kepada Ismail, bahwa Allah ﷻ telah memerintahkan kepadanya agar membangun sebuah rumah untuk beribadah kepada-Nya di tempat ini. Lalu beliau menunjukkan tempatnya, yaitu di atas bukit yang rendah.

“Kerjakan apa yang diperintahkan Tuhan kepada Ayah, dan aku akan membantu di dalam pekerjaan mulia ini,” kata Ismail.  Maka mulailah Ibrahim melaksanakan pekerjaannya dibantu Ismail.

“Bawalah batu yang baik kepadaku untuk kuletakkan di sudut, sehingga batu itu menjadi tanda bagi manusia,” kata Ibrahim kepada Ismail.
Malaikat Jibril kemudian memberitahukan dengan batu yang hitam, maka ia mengambilnya dan meletakkan pada tempatnya.

Demikianlah, setiap kali Ibrahim dan Ismail memulai pekerjaannya, mereka berdoa kepada Allah ﷻ , “Ya Tuhan kami, terimalah dari kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”.
Ketika bangunan itu telah tinggi, dan Ibrahim yang telah tua dan lemah, sehingga tidak kuat lagi mengangkat batu ke atas, berdirilah ia di atas sebuah batu yaitu Maqam Ibrahim. Setiap kali ia menyelesaikan satu bagian dari dinding, kemudian berpindah ke bagian lainnya, ia tetap berdiri di atas maqamnya. Dan setiap kali ia selesai dari satu dinding, ia memindahkan maqamnya itu ke dinding lainnya.

Hingga sempurnalah Ibrahim dan Ismail membangun dinding dinding Kabah. Dan batu itu menempel di dinding Kabah dari dahulu hingga masa Umar bin Khatab yang telah mengundurkan sedikit dari Kabah, agar tidak menyulitkan orang orang yang menunaikan shalat.

Surat Al Baqarah [2] ayat 124 – 126 :

وَإِذِ ابْتَلَى إِبْرَاهِيمَ رَبُّهُ بِكَلِمَاتٍ فَأَتَمَّهُنَّ قَالَ إِنِّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا قَالَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي قَالَ لا يَنَالُ عَهْدِي الظَّالِمِينَ 124

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman : “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia”. Ibrahim berkata: “(Dan saya mohon juga) dari keturunanku”. Allah berfirman : “Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang-orang yang lalim”.

وَإِذْ جَعَلْنَا الْبَيْتَ مَثَابَةً لِلنَّاسِ وَأَمْنًا وَاتَّخِذُوا مِنْ مَقَامِ إِبْرَاهِيمَ مُصَلًّى وَعَهِدْنَا إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ أَنْ طَهِّرَا بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْعَاكِفِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ 125

Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat shalat. Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail : “Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang orang yang tawaf, yang iktikaf, yang rukuk dan yang sujud”.

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَذَا بَلَدًا آمِنًا وَارْزُقْ أَهْلَهُ مِنَ الثَّمَرَاتِ مَنْ آمَنَ مِنْهُمْ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ قَالَ وَمَنْ كَفَرَ فَأُمَتِّعُهُ قَلِيلا ثُمَّ أَضْطَرُّهُ إِلَى عَذَابِ النَّارِ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ 126

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa : Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezeki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman di antara mereka kepada Allah dan hari kemudian. Allah berfirman : “Dan kepada orang yang kafir pun Aku beri kesenangan sementara, kemudian Aku paksa ia menjalani siksa neraka dan itulah seburuk-buruk tempat kembali”.

Al Quran surat Al Hajj [22] ayat 26 :

وَإِذْ بَوَّأْنَا لإبْرَاهِيمَ مَكَانَ الْبَيْتِ أَنْ لا تُشْرِكْ بِي شَيْئًا وَطَهِّرْ بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْقَائِمِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ 26

Dan (ingatlah), ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan): “Janganlah kamu memperserikatkan sesuatu pun dengan Aku dan sucikanlah rumah-Ku ini bagi orang-orang yang tawaf, dan orang-orang yang beribadah dan orang-orang yang rukuk dan sujud.

1761 –            Era Nabi Ishaq عليه السلام
1638 SM

Nabi Ibrahim dan Nabi Ishaq, membangun kembali Masjidil Aqsha
Nabi Ishaq lahir 14 tahun setelah kelahiran Nabi Ismail

Pada era ini kita bisa mengambil kesimpulan sederhana bahwa saat itu Baitul Maqdis adalah milik umat Islam.  Terbukti Nabi Ibrahim dan Nabi Ishaq bisa membangun kembali Masjidil Aqsha yang sudah rusak ratusan tahun sejak Nabi Adam membangunnya.  Karena bila tidak, mana mungkin Nabi Ibrahim bisa membangunnya bahkan shalat di Masjidil Aqsha dengan tenang?  Ini hanya sebuah kesimpulan logika yang sederhana bukan?

Setelah selesai dengan urusan Kabah Nabi Ibrahim عليه السلام kemudian diperintahkan Allah ﷻ untuk hijrah kembali ke Syam, ke Baitul Maqdis. Surat Al Anbyaa’ [21] ayat 71 :

وَنَجَّيْنَاهُ وَلُوطًا إِلَى الأرْضِ الَّتِي بَارَكْنَا فِيهَا لِلْعَالَمِينَ 71

Dan Kami selamatkan Ibrahim dan Lut ke sebuah negeri [ Palestina ] yang Kami telah memberkahinya untuk sekalian manusia.

Setelah tiba di Al Quds, Nabi Ibrahim عليه السلام dan Ishaq عليه السلام diperintahkan Allah ﷻ untuk membangun kembali Masjidil Asha, yang sebelumnya dibangun oleh Nabi Adam عليه السلام.
Saat itu, tembok atau pondasi yang telah dibangun Nabi Adam ratusan tahun yang lalu, telah hancur dan hanya menyisakan sedikit saja. Silih bergantinya orang orang yang berkuasa
di Baitul Maqdis, membuat masjid suci ini menjadi hancur berantakan.
Dengan tangan sendiri Nabi Ibrahim dan Nabi Ishaq menyusun kembali batu batu baru diatas tembok yang masih tersisa. Hari demi hari, kedua nabi mulia itu mengerjakan pembangunan
masjidil Aqsha.

Peristiwa itu menunjukkan bahwa di era Nabi Ishaq, Baitul Maqdis berada ditangan Islam. Karena setelah pembangunan kedua ini, Nabi Ibrahim dan Nabi Ishaq kerap melakukan ibadah shalat di Masjidil Aqsha.  Dan ingat, sampai di era Nabi Ishaq, bangunan suci itu tetap disebut Masjidil Aqsha.  Dan bukan Bait Solomo ataupun Baitallah.  Tetapi Masjidil Aqsha, sesuai dengan penamaan dalam Al Quran.

1750 SM       Era Nabi Yaqub عليه السلام

♦ Sejarah Lahirnya Bani Israil
Nabi Yaqub melahirkan 12 anak, yang kelak disebut Bani Israil
♦ Pada tahun 1620 SM, Yaqub dan 12 anaknya meninggalkan Baitul Maqdis dan tinggal di Mesir.

Setelah Baitul Maqdis berada dalam kekuasaan Nabi Ibrahim, kini bandul sejarah berpindah ke Nabi Yaqub عليه السلام . Nabi Yaqub adalah anak dari Nabi Ishaq. Nabi Ishaq memiliki 2 anak, Isu dan Yaqub.

Dengan lahirnya Nabi Yaqub, maka sejarah kaum Yahudipun dimulai. [ Tetapi, Yahudi sebagai agama baru terbentuk pada era setelah wafatnya Nabi Sulaiman ].  Pada titik inilah peran, tindak tanduk dan sebab akibat dari prilaku Yahudi, mulai memenuhi sejarah agama agama besar di dunia. Baik Islam, Kristen maupun agama Yahudi itu sendiri.

Nabi Yaqub semula tinggal di Nablus, Palestina. Selama di Nablus, Yaqub ikut membangun Masjidil Aqsha bersama ke 12 anak anaknya.

Kemudian anak bungsunya, yaitu Yusuf diperdayai oleh ke 10 saudara saudaranya, sehingga Yusuf dibuang ke sumur dan diambil oleh pedagang budak, lalu dibeli oleh seorang dari kerajaan Mesir.  Sehingga pada era Nabi Yusuf, Nabi Yaqub dan 11 anak nya pindah ke Mesir, dan kembali lagi ke Palestina pada hari tua hingga wafat dan dimakamkan di Palestina.  Namun ke 12 anaknya tetap di Mesir hingga mereka beranak pinak.  Saat itu Mesir dikuasai oleh raja Firaun yang bernama Hexos.

Al Quran surat Hud [11] ayat 71 :

وَامْرَأَتُهُ قَائِمَةٌ فَضَحِكَتْ فَبَشَّرْنَاهَا بِإِسْحَاقَ وَمِنْ وَرَاءِ إِسْحَاقَ يَعْقُوبَ 71

Dan istrinya berdiri (di balik tirai) lalu dia tersenyum. Maka Kami sampaikan kepadanya berita gembira tentang (kelahiran) Ishak dan dari Ishaq (akan lahir putranya) Yakub.
Nabi Yaqub memiliki 12 anak yang kesemuanya kelak menjadi keturunan orang orang Yahudi. Ke-12 anak yang Allah ﷻ sebut mereka dengan sebutan asbath (keturunan Yaqub). Dari istrinya yang bernama Rahiil lahirlah : Nabi Yusuf عليه السلام dan Bunyamin. Dan dari istrinya yang bernama Laya lahirlah : Ruubil, Syam’un, Laawi, Yahuudza, Isaakhar dan Zabilon.

Dari budak milik Rahiil lahir : Daan dan Naftaali, dan dari budak milik Layaa lahir : Jaad dan Asyir.
Di antara sekian anaknya, yang paling tinggi kedudukannya, paling bertakwa dan paling bersih hatinya, di samping muda usianya adalah Nabi Yusuf عليه السلام. Oleh karena itulah Nabi Yaqub memberikan perhatian dan kasih sayang lebih kepadanya. Hal ini sudah menjadi tabiat, yakni ayah sangat sayang kepada anak yang paling kecil sampai ia dewasa dan kepada yang sakit sampai ia sembuh.

Kisah tentang Nabi Yaqub banyak diceritakan dalam Al Quran tetapi jauh lebih banyak lagi yang berasal dari ahli kitab atau kisah kisah Israiliyat. Dimana kita semua paham, bahwa bila menyangkut ahli kitab atau kisah Israliyat, maka kita tidak bisa menjadikan hal itu sebagai pegangan, karena kita tidak tahu mana yang benar, dan mana yang salah. Rasulullah ﷺ hanya mmerintahkan kita untuk mendengar kisah kisah itu sebatas sebuah kisah saja. Tidak lebih.
Jadi dalam tulisan ini, saya hanya sedikit mencantumkan kisah hidup Nabi Yaqub bersama 12 anaknya. Lagipula memang ‘peran’ pribadi Nabi Yaqub dalam sejarah Baitul Maqdis bisa disebut tidak terlalu signifikan. Tetapi peran beliau adalah sebagai ayah dari 12 anak anak yang kelak disebut Bani Israil.   Dan Bani Israil inilah yang banyak memberi pengaruh terhadap negeri yang ke-barakahan-nya adalah untuk seluruh umat manusia.

Shakhrah Dan Mimpi Nabi Yaqub

Dalam kitab Al-Bidayah wa Nihayah karangan Ibnu Katsir, disebutkan bahwa suatu malam nabi Yaqub melakukan sebuah perjalanan, beliau kelelahan dan tertidur di tempat tersebut seraya menyandarkan kepalanya pada sebuah batu.

Lalu beliau tertidur pulas, seketika itu pula beliau bermimpi melihat tangga yang memanjang dari langit ke bumi, dan ketika itu pula Malaikat turun dengannya.
Setelah itu beliau terbangun dan bergembira, lalu bernazar kepada Allah jika beliau pulang ke keluarganya dalam keadaan selamat, maka beliau dan keluarganya akan membuat sebuah masjid di atas tempat beliau bermimpi itu. Setelah itu, beliau meletakkan sebuah tanda sederhana di tempat beliau bermimpi berupa sebuah batu agar bisa dikenalinya di kemudian hari.

Ibnu Katsir berkomentar, “inilah Baitul Maqdis, yang direnovasi Nabi Sulaiman bin Dawud عليه السلام
. Inilah tempat batu besar yang dijadikan tanda olehnya setelah bangun dari tidurnya,” (Al-Bidayah wa An-Nihayah)

Nabi Yaqub dan anak anaknya semula tinggal di Palestina. Dari fakta ini bisa jadi menunjukkan bahwa Baitul Maqdis masih tetap berada dalam ‘otority Islam‘. Melanjutkan kekuasaan dari Ibrahim dan Ishaq, tentunya.

Dan tentu di Masjidil Aqsha inilah Nabi Yaqub dan 12 anak anaknya melakukan ibadah ibadah, seperti shalat.  Beberapa sumber menyebutkan bahwa Nabi Yaqub ikut melanjutkan pembangunan Masjdil Aqsha.
Setelah ke-12 anak anak Nabi Yaqub besar, mereka pindah ke Mesir karena Yusuf telah menjadi pejabat penting di Kerajaan di Mesir itu.
Diakhir hidup Nabi Yaqub عليه السلام kembali ke Palestina dan meninggal di sana. Ia dimakamkan dekat bapaknya, Nabi Ishaq عليه السلام.

Sementara itu, 12 anak-anak Nabi Yaqub عليه السلام tetap tinggal dan menetap di Mesir, hingga beranak pinak.  Dan sampailah keturunan 12 anak anak Yaqub itu dibawah pemerintahan Firaun.  Hingga Allah ﷻ mengutus Nabi Musa عليه السلام kepada mereka.

1745 –           Era Nabi Yusuf عليه السلام
1635 SM

♦ Bani Israil Hijrah dari Tanah Kanaan/Palestina Dan Menetap Di Mesir

Nabi Yusuf عليه السلام adalah putra ke-11 Yaqub.
Ia diangkat menjadi nabi pada tahun 1715 SM dan ia ditugaskan berdakwah kepada Kanʻan dan Hyksos di Mesir. Saat itulah Nabi Yusuf memboyong seluruh keluarganya, yakni ke 11 saudaranya dan sang ayah, Nabi Yaqub untuk hijrah dari Palestina ke Mesir. Sejak saat itu Bani Israil hidup dan beranak pinak di Mesir.
Mereka makmur, sejahtera dan aman di Mesir

Namun sejak Nabi Yusuf wafat [dimakamkan di Nablus, Palestina], mulailah Bani Israil hidup menderita dan teraniaia di Mesir. Bani Israil mulai dipinggirkan dan dijadikan budak. Puncak penderitaan mereka adalah ketika Firaun berkuasa di Mesir.

1600 –           Era Nabi Suaib عليه السلام
1500 SM

♦ Palestina masih didiami bangsa jahiliyah

Nabi Suaib diutus kepada kaum Madyan yang tinggal di timur Gunung Sinai dan Aykah, kaum yang tinggal di pesisir Laut Merah di tenggara Gunung Sinai.

1540 –           Era Nabi Ayub عليه السلام
1420 SM

♦ Palestina masih didiami bangsa jahiliyah

Nabi Ayub ditugaskan berdakwah kepada Bani Israil dan Kaum Amoria (Aramin) di Haran, Syam.
Sejak wafatnya Nabi Yusuf, Bani Israil hidup dalam kekejaman Fir’aun. Mereka bahkan dijadikan budak. Tetapi penderitaan yang mereka alamai, tidak membuat mereka pasrah dan tawakal kepada Allah. Sebaliknya, mereka mengikuti prilaku rakyat Mesir yang saat itu juga mulai menyembah berhala dan banyak perbuatan jahil lainnya.
Ajaran Nabi Ibrahim sudah mereka lupakan sama sekali.

1527 –            Era Nabi Musa عليه السلام
1407 SM

♦ Tanah Kanaan/ Palestina dikuasai kaum Jabbariyyah
♦ Bani Israil Masih di Mesir, diajak kembali ke Tanah Kanaan, tetapi menolak
Akibatnya Allah mengharamkan Baitul Maqdis bagi orang orang Yahudi itu.  Inilah pelarangan pertama yang diterima Yahudi.  

Nabi Musa ditugaskan Allah ﷻ untuk membebaskan Bani Israil dari kekejaman Firaun, serta membawa mereka menuju Tanah Yang Dijanjikan, yakni Palestina

Nabi Musa عليه السلام merupakan anak laki-laki Imran bin Yash-har, dan bersaudara dengan Nabi Harun. Nabi Musa عليه السلام dilahirkan pada waktu zaman Fir’aun menguasai mesir.
Menjelang dewasa ia membunuh seorang Mesir, dan kemudian melarikan diri ke Madyan. Di Madyan Nabi Musa عليه السلامmenikah dan menetap hingga 10 tahun.

Al Baqarah 54 –

Bercakap cakap Dengan Allah

Kemudian tibalah Nabi Musa عليه السلام  untuk kembali ke Mesir. Ditengah perjalanan, Nabi Musa melihat api pada sebuah bukit. Maka ia bergegas menghampiri bukit itu.
Dan diatas bukit itulah, terjadi percakapan antara Nabi Musa dengan Allah

Kisah Nabi Musa عليه السلام diceritakan cukup detail dan tersebar dalam banyak surat. Tetapi yang paling lengkap, terdapat dalam surat Al Qashash [28]

Surat An Naml [27] ayat 7 – 9
Surat Thaahaa [20] ayat 12 -14

Di sebuah lembah suci yang diberkahi, yang disebut bernama lembah Thuwa atau Thuursina, disitulah Nabi Musa ‘bercakap cakap’ dengan Allah ﷻ  [ selanjutnya Nabi Musa kerap disebut Kalimullah ].
Kemudian Nabi Musa dijadikan manusia pilihan, diangkat menjadi nabi dan diberikan wahyu wahyu.

Surat Thaahaa [20] ayat 12 – 13 :

إِنِّي أَنَا رَبُّكَ فَاخْلَعْ نَعْلَيْكَ إِنَّكَ بِالْوَادِ الْمُقَدَّسِ طُوًى 12
Sesungguhnya Aku inilah Tuhanmu, maka tanggalkanlah kedua terompahmu; sesungguhnya kamu berada di lembah yang suci, Thuwa.

وَأَنَا اخْتَرْتُكَ فَاسْتَمِعْ لِمَا يُوحَى 13
Dan Aku telah memilih kamu, maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan (kepadamu).

Surat Al Qashash [28] ayat 30 :

فَلَمَّا أَتَاهَا نُودِيَ مِنْ شَاطِئِ الْوَادِ الأيْمَنِ فِي الْبُقْعَةِ الْمُبَارَكَةِ مِنَ الشَّجَرَةِ أَنْ يَا مُوسَى إِنِّي أَنَا اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ 30
Maka tatkala Musa sampai ke (tempat) api itu, diserulah dia dari (arah) pinggir lembah yang diberkahi, dari sebatang pohon kayu, yaitu: “Ya Musa, sesungguhnya aku adalah Allah, Tuhan semesta alam,

Inilah Perjanjian Yang Teguh/ مِّيثَاقاً غَلِيظاً  Antara Allah Dan Bani Israil

Surat Al Baqarah [2] ayat 83 :

وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَاقَ بَنِي إِسْرَائِيلَ لا تَعْبُدُونَ إِلا اللَّهَ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا وَأَقِيمُوا الصَّلاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ ثُمَّ تَوَلَّيْتُمْ إِلا قَلِيلا مِنْكُمْ وَأَنْتُمْ مُعْرِضُونَ 83
Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Israel (yaitu) : Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat baiklah kepada ibu bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah salat dan tunaikanlah zakat. Kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebahagian kecil daripada kamu, dan kamu selalu berpaling.

Tetapi apa yang terjadi? Pembangkangan demi pembangkangan, terus dilakukan Bani Israil. Bukan hanya membangkang, tetapi mereka juga membunuhi para nabi dan rasul, bahkan juga berbuat musyrik dengan menyembah patung sapi yang mereka buat sendiri !
Setelah Nabi Musa dan Bani Israil behasil melepaskan diri dari penindasan Firaun, mereka atas pertolongan Allah bahkan ‘menenggelamkan’ Firaun di laut Merah yang dalam, hingga akhirnya Firaun mati tenggelam.

Kemudian disaat itu Baitul Maqdis sedang dikuasai oleh kaum yang sesat dan ingkar kepada Allah ﷻ. Mereka adalah kaum yang bertubuh besar/ raksasa yang kuat dan kejam, yang terdiri atas kabilah Haitsan, Fazzar Kan’an dan yang lainnya. yakni kaum Jabbaabirah. Mereka adalah kaum yang ingkar kepada Allah ﷻ. Karena itulah Nabi Musa mengajak Bani Israil untuk membersihkan Baitul Maqdis dari kaum sesat itu.

Bani Israil Diperintahkan Membebaskan Baitul Maqdis Dari Kaum Jabbaabirah, Tetapi Mereka Menolak

Kemudian Allah ﷻ memerintahkan Musa untuk menyiapkan Bani Israil menjadi tentara dan untuk mengangkat untuk mereka pemimpin pemimpin untuk masing-masing suku, sebagaimana firman Allah ﷻ dalam Al Quran Surat Al Maa-idah [5] ayat 12 :

وَلَقَدْ أَخَذَ اللَّهُ مِيثَاقَ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَبَعَثْنَا مِنْهُمُ اثْنَيْ عَشَرَ نَقِيبًا وَقَالَ اللَّهُ إِنِّي مَعَكُمْ لَئِنْ أَقَمْتُمُ الصَّلاةَ وَآتَيْتُمُ الزَّكَاةَ وَآمَنْتُمْ بِرُسُلِي وَعَزَّرْتُمُوهُمْ وَأَقْرَضْتُمُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا لأكَفِّرَنَّ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَلأدْخِلَنَّكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ فَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ مِنْكُمْ فَقَدْ ضَلَّ سَوَاءَ السَّبِيلِ (12)

”Dan sesungguhnya Allah telah mengambil perjanjian (dari) Bani Israel dan telah Kami angkat di antara mereka dua belas orang pemimpin dan Allah berfirman : “Sesungguhnya Aku beserta kamu, sesungguhnya jika kamu mendirikan salat dan menunaikan zakat serta beriman kepada rasul rasul-Ku dan kamu bantu mereka dan kamu pinjamkan kepada Allah pinjaman yang baik sesungguhnya Aku akan menghapus dosa-dosamu. Dan sesungguhnya kamu akan Kumasukkan ke dalam surga yang mengalir di dalamnya sungai sungai. Maka barangsiapa yang kafir di antaramu sesudah itu, sesungguhnya ia telah tersesat dari jalan yang lurus.”

Dia berfirman kepada mereka, ”Jika kalian melaksanakan apa yang telah Aku wajibkan kepada kalian dan tidak enggan berperang sebagaimana yang keengganan kalian pertama kali, niscaya Aku (Allah) akan menjadikan pahala semuanya itu sebagai penghapus hukuman atas pelanggaran yang telah kalian lakukan tersebut.

Dan Nabi Musa mengajak Bani Israil untuk masuk ke Baitul Maqdis guna mengusir kaum Jabbaabirah

Al Quran Surat Al Maa-idah [5] ayat 20 – 21 :

وَإِذْ قَالَ مُوسَى لِقَوْمِهِ يَا قَوْمِ اذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ جَعَلَ فِيكُمْ أَنْبِيَاءَ وَجَعَلَكُمْ مُلُوكًا وَآتَاكُمْ مَا لَمْ يُؤْتِ أَحَدًا مِنَ الْعَالَمِينَ 20

Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya : “Hai kaumku, ingatlah nikmat Allah atasmu ketika Dia mengangkat nabi nabi di antaramu, dan dijadikan-Nya kamu orang orang merdeka, dan diberikan-Nya kepadamu apa yang belum pernah diberikan-Nya kepada seorang pun di antara umat-umat yang lain”.

Lalu Musa berkata kepada kaumnya bahwa Allah telah menjanjikan Tanah Suci Baitul Maqdis kepada Bani Israel.  Musa mengajak mereka untuk berjuang, merebut tanah suci itu untuk mereka, yang kebetulan Baitul Maqdis saat itu tengah dikuasai oleh orang orang yang bertubuh besar dan kejam.

يَا قَوْمِ ادْخُلُوا الأرْضَ الْمُقَدَّسَةَ الَّتِي كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ وَلا تَرْتَدُّوا عَلَى أَدْبَارِكُمْ فَتَنْقَلِبُوا خَاسِرِينَ 21

Hai kaumku, masuklah ke tanah suci [ Baitul Maqdis ] yang telah ditentukan Allah bagimu, dan janganlah kamu lari ke belakang (karena takut kepada musuh), maka kamu menjadi orang-orang yang merugi.

Tapi kita tahu apa yang terjadi, ketika Bani Israil dperintahkan untuk berjihad dijalanNya, mereka malah balas mengatakan kepada Musa, Al Quran Al Maa-idah [5] ayat 22 :

قَالُوا يَا مُوسَى إِنَّ فِيهَا قَوْمًا جَبَّارِينَ وَإِنَّا لَنْ نَدْخُلَهَا حَتَّى يَخْرُجُوا مِنْهَا فَإِنْ يَخْرُجُوا مِنْهَا فَإِنَّا دَاخِلُونَ 22

Mereka berkata : “Hai Musa, sesungguhnya dalam negeri itu ada orang-orang yang gagah perkasa, sesungguhnya kami sekali kali tidak akan memasukinya sebelum mereka ke luar daripadanya. Jika mereka ke luar daripadanya, pasti kami akan memasukinya.”

Lihatlah, mereka takut akan kaum yang bertubuh besar kuat dan kejam itu. Padahal, mereka baru saja mengalahkan Firaun yang jauh lebih kuat dan kejam, dan amat banyak pengikutnya, dengan bantuan Allah ﷻ ! Lidah mereka belum lagi kering dari air laut yang meneggelamkan Firaun. Mulut mereka belum lagi istirahat dari mengucap syukur atas nikmat pertolongan Allah yang luar biasa itu.

Tidak sepatutnya mereka takut akan kaum Jabbaabirah, karena sesungguhnya Allah ada dipihak mereka !

Surat Al Maa-idah [5] ayat 23 :

قَالَ رَجُلانِ مِنَ الَّذِينَ يَخَافُونَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمَا ادْخُلُوا عَلَيْهِمُ الْبَابَ فَإِذَا دَخَلْتُمُوهُ فَإِنَّكُمْ غَالِبُونَ وَعَلَى اللَّهِ فَتَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ 23

Berkatalah dua orang di antara orang orang yang takut (kepada Allah) yang Allah telah memberi nikmat atas keduanya : “Serbulah mereka dengan melalui pintu gerbang (kota) itu, maka bila kamu memasukinya niscaya kamu akan menang. Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakal, jika kamu benar-benar orang yang beriman”.

Diantara mereka terdapat 2 orang shaleh [ sebagian riwayat menyebutnya Musa dan Harun, atau Harun dan Yusya bin Nun ] yang terus menerus memberi semangat dan penyadaran kepada Bani Israil agr memenuhi panggilan jihad dari Allah.

Tetapi mereka malah membangkang dan berani menentang perintah Musa, Rasul mereka yang telah bersusah payah memimpin dan menyelamatkan mereka. Yang telah membelah lautan untuk menyelamatkan mereka.  Tetpai Bani Israil itu berkata : pergi saja kamu berdua bersama Tuhanmu. Sementara biarlah kami menungu saja di sini …

Sungguh kita tidak bisa membayangkan umat seperti apa mereka itu.  Berbicara seperti itu kepada Nabi mereka yang notabene adalah dari ras mereka sendiri, dan melecehkan Allah yang telah menyelamatkan nyawa meerka.

Al Baqarah [2] ayat 24 :

قَالُوا يَا مُوسَى إِنَّا لَنْ نَدْخُلَهَا أَبَدًا مَا دَامُوا فِيهَا فَاذْهَبْ أَنْتَ وَرَبُّكَ فَقَاتِلا إِنَّا هَا هُنَا قَاعِدُونَ 24

Mereka berkata : “Hai Musa, kami sekali-sekali tidak akan memasukinya selama lamanya, selagi mereka ada di dalamnya, karena itu pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja.”

Kaki mereka belum lagi kering dari air laut yang menenggelamkan Firaun. Maka marahlah Musa dan Harun karena pembangkangan itu karena mereka takut akan azab Allah ﷻ kelak. Lebih gilanya lagi, alih alih berjihad memenuhi panggilan Allah, mereka malah mulai menyembah Ijla (patung sapi).

Al Quran surat Al Baqarah [2] ayat 93 :

وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَاقَكُمْ وَرَفَعْنَا فَوْقَكُمُ الطُّورَ خُذُوا مَا آتَيْنَاكُمْ بِقُوَّةٍ وَاسْمَعُوا قَالُوا سَمِعْنَا وَعَصَيْنَا وَأُشْرِبُوا فِي قُلُوبِهِمُ الْعِجْلَ بِكُفْرِهِمْ قُلْ بِئْسَمَا يَأْمُرُكُمْ بِهِ إِيمَانُكُمْ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ 93

Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari kamu dan Kami angkat bukit (Thursina) di atasmu (seraya Kami berfirman) : “Peganglah teguh-teguh apa yang Kami berikan kepadamu dan dengarkanlah!” Mereka menjawab : “Kami mendengarkan tetapi tidak menaati”. Dan telah diresapkan ke dalam hati mereka itu (kecintaan menyembah) anak sapi karena kekafirannya. Katakanlah : “Amat jahat perbuatan yang diperintahkan imanmu kepadamu jika betul kamu beriman (kepada Taurat)”.

Menghadapi pembangkangan itu, maka berdoalah Musa dalam surat Al Baqarah [2] ayat 25 :

قَالَ رَبِّ إِنِّي لا أَمْلِكُ إِلا نَفْسِي وَأَخِي فَافْرُقْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ الْقَوْمِ الْفَاسِقِينَ 25

Berkata Musa : “Ya Tuhanku, aku tidak menguasai kecuali diriku sendiri dan saudaraku. Sebab itu pisahkanlah antara kami dengan orang orang yang fasik itu”

Bani Israil Diharamkan Allah ﷻ Memasuki Baitul Maqdis
♦ Inilah pelarangan pertama bagi Yahudi memasuki Baitul Maqdis.  [Kelak sejarah membuktikan, akan ada episode pelarangan berikutnya bagi Yahudi.  Begitu terus sampai Yahudi Israel dengan kekuatan politik, ekonomi dan senjata yang dimilikinya, menganeksasi Palestina hingga sekaang]

Akibat pembangkangan itu, maka Allah ﷻ menghukum mereka selama 40 tahun. Mereka terpaksa berputar putar dalam kebingungan di Padang Tiih selama 40 tahun.

قَالَ فَإِنَّهَا مُحَرَّمَةٌ عَلَيْهِمْ أَرْبَعِينَ سَنَةً يَتِيهُونَ فِي الأرْضِ فَلا تَأْسَ عَلَى الْقَوْمِ الْفَاسِقِينَ 26

Allah berfirman : “(Jika demikian), maka sesungguhnya negeri itu diharamkan atas mereka selama empat puluh tahun, (selama itu) mereka akan berputar-putar kebingungan di bumi (padang Tiih) itu. Maka janganlah kamu bersedih hati (memikirkan nasib) orang-orang yang fasik itu.”

Diharamkannya Bani Israel untuk memasuki Baitul Maqdis selama 40 tahun, itu menjelaskan kepda kita bahwa diberikannya Tanah Suci Baitul Maqdis kepada bani Israel, hak atas tanah suci itu,  itu bukanlah tanpa syarat.  Selama syarat itu tidak terpenuhi, maka janji itu batal dengan sendirinya.  Selama syarat itu tidak dikerjakan, bahkan Allah haramkan tanah suci pada Bani Israil.

Dan kenyataannya, Bani Israel menolak tegas perintah Allah dan Nabi Musa, sehingga Allah murka,  dan mengharamkan tanah suci bagi mereka selama 40 tahun !

Mereka akan terus kebingungan dan tidak mampu keluar dari padang Tiih, sampai lahirlah gernerasi baru yang Allah turunkan diantara mereka. Yankni generasi yang taat kepada Allah !

Surat Al Maa-idah [5] ayat

قَالَ فَإِنَّهَا مُحَرَّمَةٌ عَلَيْهِمْ أَرْبَعِينَ سَنَةً يَتِيهُونَ فِي الأرْضِ فَلا تَأْسَ عَلَى الْقَوْمِ الْفَاسِقِينَ 26

Allah berfirman : “(Jika demikian), maka sesungguhnya negeri itu diharamkan atas mereka selama empat puluh tahun, (selama itu) mereka akan berputar-putar kebingungan di bumi (padang Tiih) itu. Maka janganlah kamu bersedih hati (memikirkan nasib) orang-orang yang fasik itu.

Akhinya, mereka semua tidak mampu keluar di padang Tiih itu, dan kebanyakan mereka mati disana. Hanya bebeapa orang pilihan saja yang dibiarkan hidup oleh Allah.  Dari mereka lahirlh generasi baru Bani Israil.  Yang kelak salah satu dari meerka akan memimpin Yahudi memasuki Baitul Maqdis untuk berjihad di bawah pimpinan Nabi Yusha bin Nun ‘alayhissalam – satu-satunya manusia yang untuknya Allah hentikan matahari tenggelam agar bisa terus berjihad dan merebut Baitul Maqdis sebelum masuknya waktu Sabath.

Pada beberapa sumber, disebutkan bahwa Nabi Musa pun wafat di padang Tiih.

Jadi jelas, pembebasan Baitul Maqdis tidak terjadi pada jaman Nabi Musa عليه السلام. Tetapi akan dilakukan oleh nabi berikutnya, yakni Nabi Yusya. Sama seperti pembebasan Baitul Maqdis juga tidak terjadi pada jaman Rasulullah ﷺ, tetapi pada jaman Khalifah Umar bin Khattab رضي الله عنه

1531 –            Era Nabi Harun عليه السلام
1408 SM       ♦ Bani Israil masih di Mesir

1407 SM       Era Nabi Yusya عليه السلام 

 ♦ Memimpin Bani Israil Untuk Membebaskan Palestina, setelah lebih dari 2 abad meninggalkan Tanah Kan’aan.

Allah ﷻ telah menyebutkan namanya di dalam Al Quran secara tidak jelas (tidak terang terangan) dalam kisah Khidir, sebagaimana yang telah dikemukakan sebelumnya, yaitu dalam firman-Nya surat Al Kahfi 18 ayat 60 – 64 …

وَإِذْ قَالَ مُوسَى لِفَتَاهُ لا أَبْرَحُ حَتَّى أَبْلُغَ مَجْمَعَ الْبَحْرَيْنِ أَوْ أَمْضِيَ حُقُبًا 60

Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada muridnya : “Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua buah lautan; atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun”.

فَلَمَّا جَاوَزَا قَالَ لِفَتَاهُ آتِنَا غَدَاءَنَا لَقَدْ لَقِينَا مِنْ سَفَرِنَا هَذَا نَصَبًا 62

Maka tatkala mereka berjalan lebih jauh, berkatalah Musa kepada muridnya : “Bawalah ke mari makanan kita; sesungguhnya kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini”.

Telah kami sampaikan pula sebelumnya tentang hadis shahih yang diriwayatkan dari Ubay bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu dari Rasulullah ﷺ yang menegaskan bahwa dia adalah Yusya bin Nuun.

Setelah Nabi Musa عليه السلام wafat, Nabi Yusya’ bin Nun ‘عليه السلام diperintahkan untuk membawa Bani Israil ke luar dari padang pasir.

Bukhari dan Muslim meriwayatkan dalam Shahih masing masing dari Abu Hurairah berkata bahwa Rasulullah bersabda, “Salah seorang Nabi berperang. Dia berkata kepada kaumnya, ‘Jangan mengikutiku orang yang menikahi wanita sementara dia hendak membangun rumah tangga dengannya dan dia belum membangunnya dengannya, dan tidak juga seorang yang membangun rumah tapi belum melengkapi atapnya. Tidak pula orang yang telah membekali kambing atau unta betina yang bunting sementara dia menunggu kelahirannya.’ Lalu nabi itu berperang. Dia mendekati sebuah desa pada waktu shalat ashar atau dekat waktu ashar. Maka dia berkata kepada matahari, ‘Sesungguhnya kamu diperintahkan dan akupun diperintahkan. Ya Allah, tahanlah matahari untuk kami.’ Matahari tertahan dan mereka meraih kemenangan.

Nabi Yusya Mementingkan Kualitas Prajuritnya

Nabiyullah Yusya pada saat persiapannya menuju kota yang hendak ditaklukkan dia berusaha agar pasukannya menjadi pasukan yang kuat dan tangguh. Oleh karenanya, dia menyortir prajurit prajurit yang bisa menjadi biang kekalahan, karena hati mereka lebih disibukkan oleh perkara dunia yang membelenggu hati dan pikiran mereka. Yusya’ mengeluarkan tiga kelompok prajurit yang tidak dizinkan untuk pergi berperang.

* Kelompok pertama adalah orang yang telah berakad nikah tetapi belum menyentuh isterinya. Kelompok ini tidak diragukan pastilah sangat tergantung hatinya dengan istrinya, lebih-lebih jika dia masih muda.
* Kelompok kedua adalah orang yang sibuk membangun rumah dan belum menyelesaikan bangunannya.
* Kelompok ketiga adalah orang yang membeli unta atau domba bunting sementara dia menantikan kelahirannya.

Prinsip yang dipegang oleh nabi Yusya ini menunjukkan bahwa dia adalah panglima yang unggul, pemilik taktik jitu dalam memimpin dan menyiapkan bala tentara sehingga kemenangan bisa diwujudkan. Prajurit tidak menang dalam jumlah besarnya, akan tetapi dengan kualitas. Ini lebih penting daripada jumlah dan kualitas.
Oleh karenanya, Yusya mengeluarkan orang orang yang berhati sibuk dari pasukannya, yaitu orang-orang yang badannya di medan perang, tetapi pikirannya bersama istri yang belum disentuhnya atau rumah yang belum diselesaikannya atau ternak yang ditunggu kelahirannya.

Apa yang dilakukan oleh Yusya’ ini mirip dengan apa yang dilakukan oleh Thalut ketika melarang pasukannya untuk minum dari sungai kecuali orang-orang yang menciduk air dengan tangannya. Saat itu sedikit dari mereka yang minum. Thalut telah membersihkan pasukannya dari unsur unsur pelemah yang menjadi titik kekalahan.

Setelah terkumpul prajurit yang berani, Yusya bin Nun membawa pasukan menuju Baitul Maqdis. Selama perjalanan menuju ke Baitul Maqdis, Yusya’ bin Nun banyak menundukkan raja raja Syam yang kafir. Dalam setiap pertempuran, Yusya bin Nun dengan izin Allah Ta’ala selalu menang dengan gemilang.
Hingga akhirnya mereka menyeberangi sungai Yordania dan sampailah di kota Jerico.

Kota Jerico adalah sebuah kota yang mempunyai pagar dan pintu gerbang yang kuat. Bangunan-bangunan di dalamnya tinggi tinggi serta berpenduduk padat. Nabi Yusya’ dan Bani Israil yang bersamanya, mengepung kota tersebut sampai 6 bulan lamanya.

Menyerbu Jerico

Setelah itu mereka bersepakat untuk menyerbu ke dalam. Diiringi dengan suara terompet dan pekikan takbir, dan dengan satu semangat yang kuat, mereka pun berhasil menghancurkan pagar pembatas kota, kemudian memasukinya. Di situ mereka mengambil harta rampasan dan membunuh 12.000 pria dan wanita. Mereka juga memerangi sejumlah raja yang berkuasa. Mereka berhasil mengalahkan 11 raja dan raja raja yang berkuasa di Syam. Hari itu hari Jum’at, tetapi peperangan belum juga usai, sementara matahari sudah hampir terbenam. Berarti hari Jum’at akan berlalu, dan hari Sabtu akan tiba. Sabtu adalah hari dimana haram untuk berperang. Jika pada sabtu mereka ‘break’ maka musuh bisa memanfaatkan hari libur itu untuk mengumpulkan kekuatan baru. Nabi Yusya dan Bani Israil bisa dikalahkan dengan mudah.

Allah ﷻ Menahan Matahari Untuk Yusya

Oleh karena itu Nabi Yusya bin Nun berkata : “Wahai matahari, sesungguhnya engkau hanya mengikuti perintah Allah ﷻ , begitu pula aku. Aku bersujud mengikuti perintahNya. Ya Allah ﷻ , tahanlah matahari itu untukku agar tidak terbenam dulu!”.

Iman Yusya’ begitu besar. Dia yakin kodrat Allah ﷻ di atas segala sesuatu. Dia mampu memanjangkan siang sehingga kemenangan bisa diraih sebelum terbenamnya matahari. Urusan seperti ini tidak sulit bagi Allah, dan kita mengetahui pada hari ini bahwa siang dan malam terjadi karena berputarnya bumi mengelilingi dirinya. Dan sepertinya, -ilmu yang sebenarnya berada di sisi Allah– perputaran bumi berjalan lambat dengan kodrat Allah hingga kemenagan terwujudkan.

Maka Allah ﷻ menahan matahari agar tidak terbenam sampai dia berhasil membebaskan negeri ini dan memerintahkan bulan agar tidak menampakkan dirinya.

Dari Abu Hurairah رضي الله عنه , dia berkata, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, yang artinya : “Sesungguhnya matahari itu tidak pernah tertahan tidak terbenam hanya karena seorang manusia kecuali untuk Yusya’. Yakni pada malam malam dia berjalan ke Baitul Maqdis (untuk jihad).’” (HR Ahmad dan sanad-nya sesuai dengan syarat Al Bukhari).

Ibnu Katsir meriwayatkan, “Ketika matahari condong ke Barat, maka Nabi Yusya’ bin Nun khawatir memasuki hari Sabtu. Sebab mereka tidak diperkenankan melakukan pertempuran pada hari itu. Untuk itu, ia memohon kepada Allah ﷻ agar berkenan menahan matahari sehingga tidak terbenam sampai berhasil menaklukkan kota tersebut. Allah ﷻ pun mengabulkan doanya dan matahari pun ditahan hingga mereka berhasil menaklukkan kota Baitul Maqdis.”

Meraih Kemenangan

Selanjutnya, “Allah memerintahkan ia bersama kaumnya dari Bani Israel ketika memasuki kota Baitul Maqdis agar masuk dari pintu gerbangnya dengan bersujud. Mereka menyebutnya ‘Hiththah’ yang berarti ‘hapuskanlah dosa-dosa kami’. Akan tetapi mereka menyelewengkan perintah dan pelaksanaan ibadah tersebut. Mereka memasuki dengan berlari seraya mengucapkan, ‘Hinthah’.”
Akhirnya Nabi Yusya dan kaumnya berhasil memerangi dan menguasai kota tersebut.

Masuk Dengan Tunduk Dan Taat

Dalam tafsir Ibnu Katsir Surah Al Baqarah ayat 58, disebutkan bahwa Bani Israel diperintahkan untuk tunduk kepada Allah ketika memasuki negeri itu, baik dengan ucapan atau pun dengan perbuatan. Mereka diperintahkan untuk mengakui dosa-dosa mereka dan memohon ampunan atas itu semua. Oleh karena itu, kita mendapati Rasulullah Saw sangat tunduk kepada Allah ketika membebaskan kota Mekah.

Surat Al Baqarah [2] ayat 58 :

وَإِذْ قُلْنَا ادْخُلُوا هَذِهِ الْقَرْيَةَ فَكُلُوا مِنْهَا حَيْثُ شِئْتُمْ رَغَدًا وَادْخُلُوا الْبَابَ سُجَّدًا وَقُولُوا حِطَّةٌ نَغْفِرْ لَكُمْ خَطَايَاكُمْ وَسَنَزِيدُ الْمُحْسِنِينَ 58

Dan (ingatlah), ketika Kami berfirman : “Masuklah kamu ke negeri ini (Baitulmakdis), dan makanlah dari hasil buminya, yang banyak lagi enak di mana yang kamu sukai, dan masukilah pintu gerbangnya sambil bersujud, dan katakanlah : “Bebaskanlah kami dari dosa”, niscaya Kami ampuni kesalahan-kesalahanmu. Dan kelak Kami akan menambah (pemberian Kami) kepada orang orang yang berbuat baik”.

Kita ketahui bersama dengan membaca dan meneliti sejarah, bahwa Yusya’ bin Nun adalah orang yang memimpin Bani Israel memasuki Baitul Maqdis.

Sebelumnya bangsa Yahudi tidak diperbolehkan Allah ﷻ memasuki Baitul Maqdis pada masa Nabi Musa dan Harun عليه السلام.

Harta Rampasan Perang

Allah tidak menghalalkan harta rampasan perang bagi umat manapun [ sampai tiba syariat Nabi Muhammad ]. Itulah sebabnya Nabi Yusya bin Nun memerintahkan kaumnya untuk mengumpulkan harta rampasan perang untuk dibakar.

Harta rampasan perang dikumpulkan, api pun turun tetapi tidak memakan apapun. Maka Yusya berkata, “Di antara kalian ada yang menggelapkan harta rampasan perang.”

Untuk membongkarnya Yusya menyuruh masing masing kabilah mengirimkan satu orang untuk membaitnya. Maka tangannya menempel lengket di tangan orang yang berasal dari kabilah yang menggelapkan harta rampasan perang. Yusya membait anggota kabilah itu satu persatu. Tangannya lengket dengan tangan dua atau tiga orang, dan Yusya berkata, “Penggelapnya ada pada kalian.”

Akhirnya mereka mengeluarkan sebongkah emas besar dalam bentuk kepala sapi dan diletakkan di antara harta rampasan lain. Api turun dan memakannya. Hukum ini telah mansukh (dihapus) bagi kita umat Muhammad ﷺ sebagai rahmat dari Allah kepada kita dan karunia-Nya. Dan dihalakannya harta rampasan perang merupakan salah satu kekhusuan atas umat ini.

Demikian syariat yang dibawa oleh Nabi Yusya sebelum Nabi Muhammad ﷺ. Yaitu tidak boleh mengambil harta rampasan perang. Dan Allah ﷻ menyempurnakan Syariat Nya dengan memperbolehkan bagi Rasulullah ﷺ untuk mengambil rampasan perang agar dapat diambil manfaat yang banyak dari harta rampasan perang itu.

Bukhari dan Muslim meriwayatkan dalam shahihnya masing masing :
Lalu dia mengumpulkan harta rampasan perang. Maka datanglah api untuk melahapnya tetapi ia tidak bisa memakannya. Nabi itu berkata, ‘Ada di antara kalian yang menggelapkan harta rampasan perang, hendaknya dari masing masing kabilah ada satu orang yang membaitku.’ Maka tangan seorang laki-laki menempel dengan tangannya dan dia berkata, ‘Kalian menggelapkan rampasan perang.’ Maka mereka datang menyerahkan emas sebesar kepala sapi. Mereka meletakannya lalu datanglah api dan memakannya. Kemudian Allah menghalalkan harta rampasan perang bagi kita. Dia mengetahui kelemahan dan ketidakmampuan kita, maka Dia menghalalkannya untuk kita.”

Takhrij Hadis :

Hadis ini diriwayatkan oleh Bukhari dalam Kitab Fardhul Khumus, bab sabda nabi, “Dihalalkan harta rampasan perang bagi kalian.” (6/220, no. 3124). Diriwayatkan oleh Bukhari secara ringkas dalam Kitab Nikah, bab orang yang hendak berumah tangga sebelum perang, 9/223, no. 5157. Diriwayatkan oleh Muslim dalam Kitabul Jihad Was Siyar, ba penghalalan harta rampasan perang, 3/1366, no. 1747. ia pun terdapat di dalam Syarah Shahih Muslim An-Nawawi, 12/409.

Setelah Baitul Maqdis dapat dikuasai oleh Bani Israil, maka mereka hidup di dalamnya dan mereka dipimpin oleh Nabi Yusya yang memerintah mereka dengan Kitab Allah ﷻ , Taurat.

Membangun Kubah di Baitul Maqdis

Setelah membebaskan Baitul Maqdis bersama Bani Israil yang sholih, Nabi Yusya bin Nuun, membangun masjid yang kelak digunakan untuk tempat beribadah bani Israil.

Dalam Tafsir Ibnu Katsir dikatakan bahwa, “Ketika merasa nyaman berada di Baitul Maqdis, maka Yusya’ bin Nuun mendirikan kubah di atas batu besar di baitul Maqdis. Merekapun mengerjakan shalat dengan menghadapnya. Ketika kubah tersebut hancur, maka mereka shalat ke arah tempatnya, yaitu As-Sakhrah atau batu besar.”

“Karena itulah”, tulis DR. Fathi Zaghrut dalam bukunya ‘An-Nawazil fi Tarikhil Islam’, “Qubbah As-Shakrah ini menjadi kiblat para Nabi hingga pada masa Rasulullah sebelum hijrah.”

Hadist yang diriwayatkan oleh Imam Ibnu Katsir juga disebutkan oleh Imam Bukhari dalam Kitab Shahihnya dalam menafsirkan Surat Al-Baqarah menyebutkan bahwa, “Ketika merasa nyaman berada di baitul Maqdis, maka kiblat diarahkan ke batu besar di Baitul Maqdis
Begitulah riwayat dan literatur yang menjelaskan kedudukan Shakhrah dalam sejarah Islam. Ia menjadi simbol kiblat yang begitu menyejarah, lama dan bernilai tinggi. Sebab nabinabi sebelum Muhammad, bahkan juga termasuk Nabi Muhammad pernah berkiblat ke Baitul Maqdis, tepatnya ke batu besar bernama As-Shakhrah ini.
Rasulullah ﷺ bersama para shahabatnya sholat menghadap As Shakhrah di Masjidil Aqsha selama 16 bulan, atau ada yang mengatakan 17 bulan, hingga kemudian Allah memerintahkan kiblat berpindah ke Ka’bah, tepatnya pada bulan Sya’ban pada waktu ashar. Ada pula yang mengatakan pada waktu zuhur.

Dalam tafsir Ibnu Katsir disebutkan, “Ketika merasa nyaman berada di Baitul Maqdis, maka Yusya bin Nun mendirikan kubah di atas batu besar di Baitul Maqdis.  Merekapun mengerjakan shalat dengan menghadapnya. Ketika kubah tersebut hancur, maka mereka shalat ke arah tempatnya, yaitu Ash Shakhrah atau batu besar. Karena itulah Qubbah Ash Shakhrah [Dome of the rock] ini menjadi kiblat para Nabi hingga masa Rasulullah setelah hijrah selama 16 bulan.

[ Sumber : DR. Fathi Zagrut. An Nawazil Al Kubra fi At Tarikh Al Islami (Bencana bencana Besar dalam Sejarah Islam). Jakarta : Pustaka Al Kautsar. Hal: 207-208 ]

Nabi Yusya ‘wafat saat berumur 127 tahun, dan masa hidupnya setelah wafatnya Nabi Musa ‘alaihis salam adalah 27 tahun.
Sumber Rujukan : Al Quranul Karim ; Riyadhus Shalihin ; Syarah Lum’atil I’tiqod

Dibawah kepemimpinan Yusha bin Nun, Bani Israil dapat membebaskan Baitul Maqdis dan menggenapi Janji Tuhan kepada Ibrahim, Ishaq dan Yaʿqub. Dan semua tugas untuk mengatur ke-12 suku tersebut telah selesai sesuai dengan kehendak Allah.

Namun setelah Yusha‘ bin Nūn wafat, sekali lagi [dan begitulah seterusnya, itulah tabiat orang oarng Yahudi] Bani Isrrail tergelincir pada kesesatan.  Mereka terpecah belah, dan Kitab Taurat mereka rubah dan ditambah tambah. Mereka sering bersilang pendapat sesama mereka sendiri, hingga akhirnya hilanglah kekuatan persatuan mereka.  Mereka tidak mampu menjaga Baitul Maqdis yang dijanjikan. Yang mengakibatkan Baitul Maqdis berulang kali diserbu dan dikuasai oleh bangsa lain.

 Pelajaran Dari Kisah Pembebasan Baitul Maqdis Yang Dipimpin Nabi Yusya
1Peperangan yang dilakukan oleh Yusya’ dengan diikuti oleh Bani Israil menunjukkan bahwa berperang telah diwajibkan atas umat-umat sebelum umat ini. Bukan khusus bagi kita saja. Allah telah menghukum Bani Israil dengan kesesatan selama empat puluh tahun manakala mereka menolak berperang melawan orang-orang yang sombong.
2Firman Allah ini menunjukkan bahwa para Nabi dalam jumlah yang besar telah berperang, “Dan berapa banyak nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikutnya yang bertaqwa.” (Ali Imran: 146). Firman Allah menunjukkan kewajiban berperang atas Bani Israil, “Apakah kamu tidak memperhatikan pemuka-pemuka Bani Israil sesudah Nabi Musa, yaitu ketika mereka berkata kepada seorang Nabi mereka, “Angkatlah untuk kami seorang raja supaya kami berperang (di bawah pimpinannya) di jalan Allah”. Nabi mereka menjawab, “Mungkin sekali jika kamu nanti diwajibkan berperang, kamu tidak akan berperang”. mereka menjawab: “Mengapa Kami tidak mau berperang di jalan Allah, padahal sesungguhnya kami telah diusir dari anak-anak kami?”. Maka tatkala perang itu diwajibkan atas mereka, merekapun berpaling, kecuali beberapa saja di antara mereka. Dan Allah Maha mengetahui siapa orang-orang yang zalim.” (Al-Baqarah: 246).

3Hadis ini membimbing pemimpin agar tidak menyerahkankan tugas-tugas besar kepada orang-orang di mana hati mereka sibuk dengan perkara yang menghalangi mereka untuk menunaikannya.
4Pengendalian prajurit memerlukan ilmu tentang tabiat-tabiat jiwa dan pemilihan kualitas yang memungkinkannya untuk bersabar di medan perang, serta membuang unsur penyebab kekalahan pasukan sebagaimana yang dilakukan oleh Yusya’.
5Hadis ini mengandung ayat yang nyata dan mukjizat mengagumkan yang menunjukkan kodrat Allah dan dukungan-Nya kepada rasul-rasul-Nya, serta pertolongan-Nya kepada mereka dalam tugas-tugas yang dibebankan atas mereka. Di antaranya adalah menahan matahari dan memanjangkan siang, sehingga para pasukan bisa meraih kemenangan. Allah juga menunjukkan kabilah di mana penggelapan terjadi padanya, termasuk para pelaku penggelapan, sebagaimana telah disebutkan dalam hadis.
6Harta rampasan perang diharamkan atas umat-umat sebelum kita. Dan Allah memberkan kekhususan kepada umat ini dengan menghalalkanya bagi mereka.
7Dosa menggelapkan harta rampasan perang. Api tidak mau membakar harta rampasan di mana padanya terjadi penggelapan. Rasulullah telah menyampaikan bahwa seorang laki-laki menggelapkan selimut, maka ia membakarnya di kuburnya. Orang yang menggelapkan harta rampasan perang, maka dia akan memikulnya di hari kiamat.
8Pada Bani Israil terdapat orang-orang shalih yang berjihad fi sabilillah. Allah membantu dan memberi mereka kemenangan.
9Walaupun Yusya’ telah membersihkan pasukannya dari unsur lemah di mana kekalahan mungkin terjadi melalui mereka, tetap saja tersisa orang-orang lemah iman pada pasukannya, yaitu orang-orang yang menggelapkan harta rampasan perang.
10Hadis ini mengoreksi sebagian penyimpangan dalam Taurat.
Sumber Buku “Ensklopedia Kisah Shahih Sepanjang Masa”, DR. Umar Sulaiman Abdullah Al-Asyqar, Pustaka Yassir

1139 SM       Jalut Dan Thalut

♦ Tanah Kan’an dikuasari Raja Jalut
♦ Bani Israil Terpecah Pecah

Setelah Nabi Yusya bin Nun wafat, Bani Israil mengalami masa suram nan gelap. Mereka tercerai berai dan lemah. Sekian lama mereka hidup tanpa ada nabi membuat iman mereka terkikis tipis. Mereka terlunta lunta bagai domba tanpa penggembala.

Di tengah kekosongan nabi dan kepemimpinan, masyarakat Israil mulai melupakan agama. Kondisi mereka berubah menjadi masyarakat kafir, zalim dan durhaka. Bahkan ketika diutus kepada mereka sejumlah Nabi, mereka membunuhnya, sebagaimana disebutkan Al Quran surat Al Nisaa’ [4] ayat 155 :

فَبِمَا نَقْضِهِمْ مِيثَاقَهُمْ وَكُفْرِهِمْ بِآيَاتِ اللَّهِ وَقَتْلِهِمُ الأنْبِيَاءَ بِغَيْرِ حَقٍّ وَقَوْلِهِمْ قُلُوبُنَا غُلْفٌ بَلْ طَبَعَ اللَّهُ عَلَيْهَا بِكُفْرِهِمْ فَلا يُؤْمِنُونَ إِلا قَلِيلا 155

Maka (Kami lakukan terhadap mereka beberapa tindakan), disebabkan mereka melanggar perjanjian itu, dan karena kekafiran mereka terhadap keterangan keterangan Allah dan mereka membunuh nabi nabi tanpa (alasan) yang benar dan mengatakan : “Hati kami tertutup.” Bahkan, sebenarnya Allah telah mengunci mati hati mereka karena kekafirannya, karena itu mereka tidak beriman kecuali sebahagian kecil dari mereka.

Dan Al Baqarah [2] ayat 61 :

وَإِذْ قُلْتُمْ يَا مُوسَى لَنْ نَصْبِرَ عَلَى طَعَامٍ وَاحِدٍ فَادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُخْرِجْ لَنَا مِمَّا تُنْبِتُ الأرْضُ مِنْ بَقْلِهَا وَقِثَّائِهَا وَفُومِهَا وَعَدَسِهَا وَبَصَلِهَا قَالَ أَتَسْتَبْدِلُونَ الَّذِي هُوَ أَدْنَى بِالَّذِي هُوَ خَيْرٌ اهْبِطُوا مِصْرًا فَإِنَّ لَكُمْ مَا سَأَلْتُمْ وَضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ وَالْمَسْكَنَةُ وَبَاءُوا بِغَضَبٍ مِنَ اللَّهِ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَانُوا يَكْفُرُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَيَقْتُلُونَ النَّبِيِّينَ بِغَيْرِ الْحَقِّ ذَلِكَ بِمَا عَصَوْا وَكَانُوا يَعْتَدُونَ 61

Dan (ingatlah), ketika kamu berkata : “Hai Musa, kami tidak bisa sabar (tahan) dengan satu macam makanan saja. Sebab itu mohonkanlah untuk kami kepada Tuhanmu, agar Dia mengeluarkan bagi kami dari apa yang ditumbuhkan bumi, yaitu : sayur mayur, ketimun, bawang putih, kacang adas dan bawang merahnya”. Musa berkata : “Maukah kamu mengambil sesuatu yang rendah sebagai pengganti yang lebih baik? Pergilah kamu ke suatu kota, pasti kamu memperoleh apa yang kamu minta”. Lalu ditimpakanlah kepada mereka nista dan kehinaan, serta mereka mendapat kemurkaan dari Allah. Hal itu (terjadi) karena mereka selalu mengingkari ayat ayat Allah dan membunuh para nabi yang memang tidak dibenarkan. Demikian itu (terjadi) karena mereka selalu berbuat durhaka dan melampaui batas.

Allah ﷻ pun murka sehingga mencabut kekuasaan mereka. Bani Israil diusir, tabut pun dirampas oleh musuh mereka.

Dijajah Amaliqah

Akhirnya datanglah sebuah kaum yang kuat dan kejam bernama Amaliqah atau sebagian menyebut Balthata yang terus saja menyerang Bani Israil. Kaum tersebut menahan para pembesar Bani Israel, menculik anak-anak, mengambil alih kawasan taklukan mereka kemudian menarik upeti semena mena. Saat itu benar-benar menjadi bencana hebat dan sengsara yang amat bagi Bani Israil. Kaum penjajah tersebut dipimpin oleh seorang berperawakan raksasa dari Dinasti Bukhtanashar bernama Jalut (Goliath).

Nabi Samuel

Di tengah penindasan, Bani Israil pun mengharapkan Allah mengutus seorang nabi yang akan menyelamatkan mereka. Padahal sebelumnya mereka selalu membunuh para nabi, hingga tak tersisa keturunan Lawi yang dipercaya Bani Israil sebagai marga yang layak menjadi pemimpin mereka. Satu-satunya keturunan Lawi yang tersisa dan dapat diharapkan hanyalah seorang wanita bernama Hubla.
Bani Israil pun melindunginya agar dapat melahirkan anak calon nabi mereka. Hubla pun terus berdoa disaat kehamilannya agar dapat memiliki seorang putra. Allah pun memenuhi doa sang wanita shalihah tersebut. Lahirlah anak laki-laki yang kemudian oleh ibunya diberi nama Shammil (Samuel) atau Syamwil atau Sham’un, yang artinya Allah telah mendengar permohonan saya.

Singkat cerita, Shammil pun kemudian diutus Allah untuk mengemban risalah para nabi. Surat AL Baqarah [2] ayat 246 :

أَلَمْ تَرَ إِلَى الْمَلإ مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ مِنْ بَعْدِ مُوسَى إِذْ قَالُوا لِنَبِيٍّ لَهُمُ ابْعَثْ لَنَا مَلِكًا نُقَاتِلْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ هَلْ عَسَيْتُمْ إِنْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ أَلا تُقَاتِلُوا قَالُوا وَمَا لَنَا أَلا نُقَاتِلَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَقَدْ أُخْرِجْنَا مِنْ دِيَارِنَا وَأَبْنَائِنَا فَلَمَّا كُتِبَ عَلَيْهِمُ الْقِتَالُ تَوَلَّوْا إِلا قَلِيلا مِنْهُمْ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِالظَّالِمِينَ 246

Apakah kamu tidak memperhatikan pemuka pemuka Bani Israel sesudah Nabi Musa, yaitu ketika mereka berkata kepada seorang Nabi mereka : “Angkatlah untuk kami seorang raja supaya kami berperang (di bawah pimpinannya) di jalan Allah“. Nabi mereka menjawab : “Mungkin sekali jika kamu nanti diwajibkan berperang, kamu tidak akan berperang.” Mereka menjawab : “Mengapa kami tidak mau berperang di jalan Allah, padahal sesungguhnya kami telah diusir dari kampung halaman kami dan dari anak-anak kami?” Maka tatkala perang itu diwajibkan atas mereka, mereka pun berpaling, kecuali beberapa orang saja di antara mereka. Dan Allah Maha mengetahui orang-orang yang lalim.

Bani Israil Meminta Didatangkan Raja

Kepada Shammil, Bani Israil berharap dapat mengakhiri penindasan kaum Amaliqah. Hingga suatu hari, Bani Israil meminta Shammil mengangkat seorang pemimpin untuk mereka berjihad di jalan Allah melawan penindasan. Mereka berkata kepada Shamil, “Angkatlah untuk kami seorang raja supaya kami dapat berperang di bawah pimpinannya di jalan Allah.”
Mendengarnya, Shammil tak lantas percaya. Ia meragukan Bani Israil yang memang gemar membangkang. Ia pun menjawab, “Bisa jadi saat kalian nanti diwajibkan berperang, kalian tidak mau berperang,” ujar sang nabi. Namun Bani Israil ngotot dan ingin permintaan mereka terpenuhi, “Bagaimana mungkin kami enggan berperang di jalan Allah, padahal kami telah terusir?!” seru mereka.

Shammil pun menengadahkan tangannya, berdoa meminta Allah mengutus seorang raja yang akan memimpin Bani Israil.

1525 SM       Raja Baru itu Bernama Thalut [ Raja Israel Pertama ]

Allah pun mengabulkan doa Nabi Shammil. Di pagi hari, seorang pemuda tampan, gagah perkasa, shalih dan cerdas, bernama Thalut (Saul) tengah mencari keledainya di depan rumah Shammil. Tiba-tiba, Shammil mendapati tanda dari tanduk binatang dan tongkatnya.

Allah memberi petunjuk pada Shammil bahwa orang yang akan menjadi raja ialah yang tinggi badannya setinggi tongkat tersebut dan mampu membuat minyak dalam tanduk binatang mendidih. Ketika Talut memasuki rumah Shammil, minyak dalam tanduk tersebut mendidih. Shammil pun mengukur tinggi badannya didapati seukuran tongkat. Nabi Shammil pun yakin, Talut lah yang akan memimpin Bani Israil.

Namun saat Shammil mengumumkan Talut akan menjadi pemimpin Bani Israil, serta merta bangsa Yahudi itu menolak. Pasalnya, Talut hanyalah seorang pengembala miskin. Ia bukan keturunan Lawi bin Yakub bukan pula keturunan Yahuza bin Yakub. Lawi dan Yahuza merupakan saudara Nabi Yusuf, putra Nabi Yakub bin Nabi Ishaq bin Nabi Ibrahim. Keturunan tersebut diyakini Bani Israil sebagai rumpun para nabi dan raja yang memimpin kaum mereka, keturunan Lawi sebagai nabi dan keturunan Yehuda sebagai raja. Padahal berdasarkan silsilah, Talut masih keturunan Yakub.

Ditolak Bani Israil Karena Miskin

Ia merupakan keturunan Bunyamin bin Yaqub, adik laki-laki Yusuf yang shalih. Namun tetap saja, Bani Israil menolak Talut menjadi pemimpin mereka. “Bagaimana mungkin seorang pengembala miskin menjadi raja kami, bagaimana mungkin kami dipimpin bukan dari keturunan Yehuda. Bagaimana mungkin Talut memerintah kami padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan darinya,” desus mereka kesal.
Nabi Shammil pun menjawab ringan, “Sesungguhnya Allah telah memilih rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa.”

Al Baqarah [2] ayat 247 :

وَقَالَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ إِنَّ اللَّهَ قَدْ بَعَثَ لَكُمْ طَالُوتَ مَلِكًا قَالُوا أَنَّى يَكُونُ لَهُ الْمُلْكُ عَلَيْنَا وَنَحْنُ أَحَقُّ بِالْمُلْكِ مِنْهُ وَلَمْ يُؤْتَ سَعَةً مِنَ الْمَالِ قَالَ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَاهُ عَلَيْكُمْ وَزَادَهُ بَسْطَةً فِي الْعِلْمِ وَالْجِسْمِ وَاللَّهُ يُؤْتِي مُلْكَهُ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ 247

Nabi mereka mengatakan kepada mereka : “Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu”. Mereka menjawab : “Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedang dia pun tidak diberi kekayaan yang banyak?” (Nabi mereka) berkata : “Sesungguhnya Allah telah memilihnya menjadi rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa.” Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Luas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui.

Tabut Dikembalikan

Tentu, Allah ﷻ memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Namun Bani Israil tetap menolak. Hingga akhirnya Shammil pun menjanjikan sebuah bukti bahwa Talut lah yang diperintahkan Allah untuk memimpin Bani Israil. “Sesungguhnya tanda ia akan menjadi raja, ialah kembalinya tabut kepadamu, di dalamnya terdapat ketenangan dari Tuhanmu dan sisa dari peninggalan keluarga Musa dan Harun. Sungguh itu menjadi tanda bagimu, jika kamu memang beriman,” tutur Shammil.

Tabut merupakna peti kayu berlapis emas tempat menyimpan Taurat. Tabut yang diyakini Bani Israil membawa ketenangan dan kemakmuran tersebut tersebut direbut musuh yang menindas dan menguasai wilayah mereka. Lalu terbuktilah tanda tersebut, malaikat membawa Tabut tersebut dan menjatuhkannya pada Bani Israil. Talut pun kemudian terbukti diutus sebagai raja Bani Israil.

Al Baqarah [2] ayat 248 :

وَقَالَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ إِنَّ آيَةَ مُلْكِهِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ التَّابُوتُ فِيهِ سَكِينَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَبَقِيَّةٌ مِمَّا تَرَكَ آلُ مُوسَى وَآلُ هَارُونَ تَحْمِلُهُ الْمَلائِكَةُ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَةً لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ 248

Dan Nabi mereka mengatakan kepada mereka : “Sesungguhnya tanda ia akan menjadi raja, ialah kembalinya tabut kepadamu, di dalamnya terdapat ketenangan dari Tuhanmu dan sisa dari peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun ; tabut itu dibawa oleh Malaikat. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda bagimu, jika kamu orang yang beriman.

Siap Membebaskan Baitul Maqdis, Diuji Allah

Setelah Thalut menjadi raja bani Israil, dan kekuasaannya semakin kuat, akhirnya mereka bersiap siap memerdekakan kembali Baitul Maqdis dari tangan raja Jalut. Terkumpullah hampir 80.000 pasukan bani Israil.
Mereka berbaris dengan perlatan lengkap dan berangkat untuk memerangi tentara Jalut. Jalanan sahara membuat pasukan begitu lelah dan sangat kehausan. Di tengah perjalanan, Allah menguji pasukan Talut dengan sungai yang mengalir diantara Yordania dan Palestina.

Al Baqarah [2] ayat 249 :

فَلَمَّا فَصَلَ طَالُوتُ بِالْجُنُودِ قَالَ إِنَّ اللَّهَ مُبْتَلِيكُمْ بِنَهَرٍ فَمَنْ شَرِبَ مِنْهُ فَلَيْسَ مِنِّي وَمَنْ لَمْ يَطْعَمْهُ فَإِنَّهُ مِنِّي إِلا مَنِ اغْتَرَفَ غُرْفَةً بِيَدِهِ فَشَرِبُوا مِنْهُ إِلا قَلِيلا مِنْهُمْ فَلَمَّا جَاوَزَهُ هُوَ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ قَالُوا لا طَاقَةَ لَنَا الْيَوْمَ بِجَالُوتَ وَجُنُودِهِ قَالَ الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُمْ مُلاقُو اللَّهِ كَمْ مِنْ فِئَةٍ قَلِيلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيرَةً بِإِذْنِ اللَّهِ وَاللَّهُ مَعَ الصَّابِرِينَ 249

Maka tatkala Thalut keluar membawa tentaranya, ia berkata : “Sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan suatu sungai. Maka siapa di antara kamu meminum airnya, bukanlah ia pengikutku. Dan barang siapa tiada meminumnya, kecuali menceduk seceduk tangan, maka ia adalah pengikutku.” Kemudian mereka meminumnya kecuali beberapa orang di antara mereka. Maka tatkala Thalut dan orang-orang yang beriman bersama dia telah menyeberangi sungai itu, orang-orang yang telah minum berkata : “Tak ada kesanggupan kami pada hari ini untuk melawan Jalut dan tentaranya.” Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah berkata : “Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.”

Thalut telah mewanti wanti agar pasukannya tak meminum air sungai tersebut kecuali seciduk tangan saja untuk menghilangkan dahaga. “Sungguh Allah akan menguji kalian dengan sungai. Siapapun yang meminum air dari sungai itu maka ia tidak akan menemaniku,” ujar Thalut.
Namun nafsu menguasai sebagian besar pasukan Talut. Mereka pun melanggar perintah pemimpin mereka dengan meminum air sungai tersebut sepuas-puasnya. Dari 70 ribu pasukan, hanya sekitar 300an orang saja yang mematuhi Thalut.
Mereka terdiri dari orang-orang shalih, salah satu diantara mereka ialah Dawud (David) yang saat itu belum diangkat sebagai seorang nabiyullah. Dan ditengah tengah perjalanan, Dawud mengalami peristiwa luarbiasa.

Ada batu yang bisa berbicara kepadanya : “Dawud, bawalah kami ikut serta,” ujar batu pertama. Setelah beberapa jarak, Dawud menemui lagi batu yang bisa berbicara. Dan batu kedua pun mengucap hal sama, demikian pun batu ketiga. Daud mengambil batu tersebut dan menyimpannya.

Dengan berat, Thalut pun melanjutkan perjalanan hanya dengan 300 prajurit. Paukan lain yang tamak meminum air sebanyak-banyaknya tersebut menjadi pucat dan takut berperang. Dengan jumlah yang minim, mereka maju berperang melawan pasukan Jalut yang bertubuh besar dan perkasa.

Dibawah komando Thalut, pasukan tersebut pun berdoa agar diberikan kesabaran dan kemenangan, “Ya Tuhan kami, berikanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir,” demikian doa mereka sebelum terjun ke kancah pertempuran.

Al Baqarah [2] ayat 250

250 وَلَمَّا بَرَزُوا لِجَالُوتَ وَجُنُودِهِ قَالُوا رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

Tatkala mereka nampak oleh Jalut dan tentaranya, mereka pun (Thalut dan tentaranya) berdoa : “Ya Tuhan kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir”

Matinya Jalut Ditangan Dawud

Thalut mendapatkan wahyu dari Allah ﷻ bahwa yang akan mengalahkan Jalut adalah orang yang cocok memakai baju besi Musa. Ia mengumumkan kepada seluruh pasukan dan banyak yang mencobanya. Namun tak ada satupun yang pantas mengenakannya. Hingga datanglah Dawud menghampiri Thalut dan menyatakan bahwa ia siap bertempur melawan Jalut.

Thalut yang melihat Dawud pun seolah tak percaya karena umurnya yang masih muda dan tak memiliki pengalaman berperang. Namun Thalut kagum akan keberanian dan keimanannya. Lalu Thalut mengeluarkan baju besi Musa dan menyuruh Dawud mengenakannya. Ia heran, baju tersebut cocok dipakai Dawud. Thalut sadar bahwa Dawud adalah utusan Allah ﷻ dan kelak ia akan mengalahkan Jalut.
Dawud pun maju untuk menghadapi Jalut. Namun, ia disepelekkan oleh Jalut karena hanya membawa sebuah batu yang tadi berbicara padanya dan ketapel. Tanpa tombak maupun pedang. Dawud meletakkan batu dalam ketapel serta bersiap mengahadapi Jalut. Dawud tak gentar saat Jalut menuju ke arahnya. Daud pun melontarakn batu pada jalut dan mengenai kening Jalut.

Prajurit yang melihat pertempuran keduanya, berdoa untuk kemenangan Dawud. Tak seorang pun melihat kala batu itu terhempas di udara dan merobohkan Jalut. Kaum kafir ketakutan melihat Jalut terhempas di tanah. Akhirnya Thalut beserta pasukannya menang menghadapi kaum kafir.
Al Baqarah [2] ayat 251 :

فَهَزَمُوهُمْ بِإِذْنِ اللَّهِ وَقَتَلَ دَاوُدُ جَالُوتَ وَآتَاهُ اللَّهُ الْمُلْكَ وَالْحِكْمَةَ وَعَلَّمَهُ مِمَّا يَشَاءُ وَلَوْلا دَفْعُ اللَّهِ النَّاسَ بَعْضَهُمْ بِبَعْضٍ لَفَسَدَتِ الأرْضُ وَلَكِنَّ اللَّهَ ذُو فَضْلٍ عَلَى الْعَالَمِينَ 251

Mereka (tentara Thalut) mengalahkan tentara Jalut dengan izin Allah dan (dalam peperangan itu) Daud membunuh Jalut, kemudian Allah memberikan kepadanya (Dawud) pemerintahan dan hikmah, (sesudah meninggalnya Thalut) dan mengajarkan kepadanya apa yang dikehendaki-Nya. Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebahagian manusia dengan sebahagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini. Tetapi Allah mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas semesta alam.

Sebelumnya, Talut pernah berjanji barangsiapa yang berhasil membunuh Jalut maka akan dinikahkan dengan putrinya serta memberinya separuh kepemimpinan kerajaan Bani Israil. Dawud pun mendapat bonus hadiah tersebut. Hingga usia Dawud mencapai 40 tahun, Talut meregang nyawa. Daud pun menggantikan posisi Talut menjadi raja Bani Israil. Tak hanya itu, Allah pun mengutusnya sebagai nabi dan Rasul serta diturunkan kepadanya kitab suci Zabur.

1040 –           Era Nabi Dawud عليه السلام [ Raja Israel Kedua ]
970 SM

Baitul Maqdis Dibawah Kepemimpinan Nabi Dawud
♦ Dimulainya Era Kejayaan Islam dibawah Bani Israil di Baitul Maqdis
♦ Kerajaan Baitul Maqdis berkembang menjadi Kerajaan Superpower, Kerajaan terkuat sepanjang sejarah

Dengan kalahnya Jalut, maka sekali lagi Bani Israil menguasai Al Quds. Dengan Dawud sebagai raja. Karena sebelum Thalut wafat, ia menyerahkan tahtanya kepada Dawud ( داود Dawud). Maka jadilah Dawud raja Bani Israil dan kemudian beliau diangkat menjadi Nabi.

Al Baqarah [2] ayat 251 :

فَهَزَمُوهُمْ بِإِذْنِ اللَّهِ وَقَتَلَ دَاوُدُ جَالُوتَ وَآتَاهُ اللَّهُ الْمُلْكَ وَالْحِكْمَةَ وَعَلَّمَهُ مِمَّا يَشَاءُ وَلَوْلا دَفْعُ اللَّهِ النَّاسَ بَعْضَهُمْ بِبَعْضٍ لَفَسَدَتِ الأرْضُ وَلَكِنَّ اللَّهَ ذُو فَضْلٍ عَلَى الْعَالَمِينَ 251

Mereka (tentara Thalut) mengalahkan tentara Jalut dengan izin Allah dan (dalam peperangan itu) Daud membunuh Jalut, kemudian Allah memberikan kepadanya (Daud) pemerintahan dan hikmah, (sesudah meninggalnya Thalut) dan mengajarkan kepadanya apa yang dikehendaki-Nya. Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebahagian manusia dengan sebahagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini. Tetapi Allah mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas semesta alam.

Setelah dikuasai Nabi Dawud عليه السلام dari masyarakat yang bernama Yebusit, Baitul Maqdis menjadi wilayah kerajaan yang kuat, makmur dan adil. Nabi Daud عليه السلام kemudian diriwayatkan mulai mengembangkan kota ini dan menjadikannya sebagai ibu kota kerajaannya.
Allah ﷻ mengangkat Dawud sebagai nabi dan rasul-Nya. Kepadanyalah diturunkan kitab Zabur. Ia memiliki sejumlah mukjizat, kecerdasan akal, mengerti bahasa burung, dan melembutkan besi hanya dengan menggunakan tangan kosong dan Dawud juga memiliki suara yang paling merdu dari semua suara umat manusia, sama seperti Yusuf yang diberikan wajah yang paling tampan.

Al Quran surat Shaad [38] ayat 1 – 20 :

اصْبِرْ عَلَى مَا يَقُولُونَ وَاذْكُرْ عَبْدَنَا دَاوُدَ ذَا الأيْدِ إِنَّهُ أَوَّابٌ 17

Bersabarlah atas segala apa yang mereka katakan; dan ingatlah hamba Kami Dawud yang mempunyai kekuatan; sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhan).

إِنَّا سَخَّرْنَا الْجِبَالَ مَعَهُ يُسَبِّحْنَ بِالْعَشِيِّ وَالإشْرَاقِ 18

Sesungguhnya Kami menundukkan gunung gunung untuk bertasbih bersama dia (Dawud) di waktu petang dan pagi,

وَالطَّيْرَ مَحْشُورَةً كُلٌّ لَهُ أَوَّابٌ 19

dan (Kami tundukkan pula) burung-burung dalam keadaan terkumpul. Masing-masingnya amat taat kepada Allah.

Baitul Maqdis Menjadi Kerajaan Terkuat Sepanjang Sejarah Manusia

Atas ijin Allah ﷻ pula, Baitul Maqdis telah menjadi kerajaan yang kuat, sehingga tidak ada lagi musuh yang mampu mengalahkan dan menjajah Bani Israil. Al Quran surat Shaad [38] ayat 20 :

وَشَدَدْنَا مُلْكَهُ وَآتَيْنَاهُ الْحِكْمَةَ وَفَصْلَ الْخِطَابِ 20

Dan Kami kuatkan kerajaannya dan Kami berikan kepadanya hikmah dan kebijaksanaan dalam menyelesaikan perselisihan.

Di tahun ke 11 beliau menjabat sebagai raja, kaum Nabiyullah Dawud عليه السلام terkena Tha’un (wabah penyakit yang menyebabkan kematian dalam tempo yang dekat). Kemudian Nabiyullah Dawud عليه السلام. menyeru kepada kaumnya untuk berkumpul di tempat sebelum dibangunnya Masjidil Aqsha, sebab di sanalah beliau melihat para malaikat berbondong bondong naik ke langit. Lalu beliau memanjatkan doa bersama agar wabah ini segera diangkat oleh Allah.

Nabi Dawud عليه السلام mencoba membangun kembali Masjidl Aqsha. Tapi kemudian beliau mendapat wahyu bahwa yang akan menyempurnakan pembangunan Masjidil Aqsha adalah Nabi Sulaiman عليه السلام , anaknya. Nabi Sulaiman عليه السلام kelak yang juga akan mewarisi tahta kerajaan Nabi Dawud عليه السلام

Dawud meninggal dalam usia 100 tahun dan dikebumikan di Baitul Maqdis.

Diringkas dan diterjemahkan dari Kitab Al-Kamil Fi At-Tarikh juz 1, hal 173. Karya Imam Ibnu Al Atsir yang wafat tahun 630 H.

975                Era Nabi Sulaiman عليه السلام [ Raja Israel Ketiga ]
935 SM

Baitul Maqdis menjadi pusat pemerintahan Daulah Islamiyah
♦ Puncak kejayaan Kerajaan Islam, tak terkalahkan diseluruh muka bumi, tak ada yang menyamai bahkan hingga akhir jaman.
Nabi Sulaiman menguasai tidak hanya bangsa manusia, tapi juga bangsa jin dan binatang, bahkan angin.
Nabi Sulaiman tidak mewasiatkan siapa pewaris tahta selanjutnya ⇒ Kerajaan Yahudi terpecah 12
♦ Beberapa sumber menyebut tepecah 2. Sebelah utara disebut Kerajaan Israel, sebelah selatan disebut Kerajaan Yudea
♦ Sesudah wafatnya Nabi Sulaiman, Yahudi semakin sesat ⇒ lahirnya agama Yahudi
♦ Muncul istilah Rahib [pendeta] yang kekuasaannya semakin besar bahkan dianggap Tuhan dan memiliki kewenangan besar
♦ Rahib rahid mulai saling bersaing antara selatan dan utara.
♦ Mulai mengubah Taurat untuk disesuaikan dengan agama baru mereka, agama Yahudi.
♦ Hampir seluruh istilah dalam Islam mereka ubah misalkan Masjid mereka sebut Kuil [Temple atau Bait Allah]

Tahun 970 SM, tahta diserahkan kepada Nabi Sulaiman. Nabi Sulaiman amat berkuasa, karena Allah memberikan banyak kemampuan, kepandaian dan kekayaan yang tidak pernah manusia memilikinya lagi sesudah Nabi Sulaiman. Seperti dalam surat Al Anbyaa’ [21] ayat 81 :

وَلِسُلَيْمَانَ الرِّيحَ عَاصِفَةً تَجْرِي بِأَمْرِهِ إِلَى الأرْضِ الَّتِي بَارَكْنَا فِيهَا وَكُنَّا بِكُلِّ شَيْءٍ عَالِمِينَ 81

Dan (telah Kami tundukkan) untuk Sulaiman angin yang sangat kencang tiupannya yang berhembus dengan perintahnya ke negeri yang Kami telah memberkatinya [ Palestina ] Dan adalah Kami Maha Mengetahui segala sesuatu.

Menyelesaikan Pembangunan Masjidil Aqsha

Pada era Nabi Sulaimanlah, pembangunan kota Baitul Maqdis amat pesat dan maju. Kemudian Nabi Sulaiman menyelesaikan pembangunan Masjidil Aqsha yang perbaikannya sudah dimulai oleh sang ayah, Nabi Dawud. Ditangan Nabi Sulaiman, Masjidil Aqsha amatlah kokoh dan indah.

Kemudian Nabi Sulaiman عليه السلام meminta kepada Allah ﷻ tiga hal, yakni : [1] bijaksana dalam berhukum, [2] kerajaan yang tidak akan dimiliki satupun orang setelahnya dan [3] siapa saja yang pergi ke Masjidil Aqsha dengan niat shalat/beribadah di dalamnya, ia akan diampuni dosa dosanya sebagaimana ia baru terlahir ke dunia.

Rasulullah ﷺ bersabda : “Dua permintaan Nabi Sulaiman dikabulkan Allah, dan aku berharap semoga yang ke tiga itu juga demikian.” [Sunan Ibnu Majah, sahih]

Dalam Sunan Ibnu Majah diriwayat sebuah hadits dari Abdullah bin Amr radhiallahu ‘anhuma bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَمَّا فَرَغَ سُلَيْمَانُ بْنُ دَاوُدَ مِنْ بِنَاءِ بَيْتِ الْمَقْدِسِ سَأَلَ اللَّهَ ثَلَاثًا: حُكْمًا يُصَادِفُ حُكْمَهُ، وَمُلْكًا لَا يَنْبَغِي لَأَحَدٍ مِنْ بَعْدِهِ، وَأَلَّا يَأْتِيَ هَذَا الْمَسْجِدَ أَحَدٌ لَا يُرِيدُ إِلَّا الصَّلَاةَ فِيهِ إِلَّا خَرَجَ مِنْ ذُنُوبِهِ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ” فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “أَمَّا اثْنَتَانِ فَقَدْ أُعْطِيَهُمَا، وَأَرْجُو أَنْ يَكُونَ قَدْ أُعْطِيَ الثَّالِثَةَ

“Ketika Nabi Sulaiman merampungkan pembangunan Baitul Maqdis, beliau memohon kepada Allah tiga permintaan: (1) Memberi putusan hukum yang sesuai dengan hukum Allah, (2) Diberikan kerajaan yang tidak patut dimiliki oleh seorang pun setelah dirinya, (3) dan agar tak seorang pun yang datang ke Masjid al-Aqsha dengan keinginan menunaikan shalat di dalamnya, kecuali dihapuskan segala kesalahannya, (sehingga ia suci) seperti saat hari kelahirannya.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melanjutkan, “Permintaan pertama dan kedua telah diberikan, dan aku berharap yang ketiga pun Allah kabulkan.” (HR. Ibnu Majah, no. 1408. Al-Albani mengatakan hadits ini shahih).

Secara tekstual, kita dapati hadits ini seolah-olah bertentangan dengan pendapat pertama yang mengatakan bahwa Nabi Adam-lah yang membangun Masjidil Aqsha bukan Nabi Sulaiman. Para ulama, seperti Ibnul Jauzi, al-Qurthubi, dan selain keduanya menjelaskan bahwa yang dimaksud pembangunan oleh Nabi Sulaiman adalah perbaikan bukan membangunnya dari awal, sebagaimana Nabi Ibrahim membangun ulang Masjidil Haram setelah Nabi Adam membangunnya pertama kali. Hal ini dikarenakan terdapat kerusakan yang diakibatkan banjir pada zaman Nabi Nuh.

Yahudi terpecah pecah

Setelah wafatnya Nabi Dawud dan juga Nabi Sulaiman, maka kerajaan Islam di Baitul Maqdis menjadi tepecah pecah.  Karena 12 anak nabi Yaqub, semua saling memisahkan diri.  Dan keturunan dari 12 anak anak Yaqub itu masing masing mendirikan kerajaannya sendiri sendiri.

Namun ada juga yang menyebut Kerajaan Yahudi Islam terpecah jadi 2.  Sebelah utara disebut Kerajaan Israel, sebelah selatan disebut Kerajaan Yudea.

Yahudi mencapai ‘puncak’ kesesatan

Selain terpecah mereka juga mencapai ‘puncak’ kesesatan.  Mulai saat itulah kesesatan demi kesesatan terus mereka lakukan. Seperti :

♣ Mengubah istilah istilah dalam Islam

Mereka tidak lagi menyebut masjid, tetapi Haekal [Kuil atau Temple], Masjidil Aqsha mereka sebut Temple Mount atau Bait Allah atau Bait Solomon atau Haekal Solomon atau Bait Suci Raja Solomo.  Bukit bukit yang ada di sekitar tempat berdirinya masjidil Aqsha disebut Gunung Sion dan Gunung Moria [kelak orang Nasrani menyebutnya bukit golgota].
Mereka tidak lagi menyebut ulama ulama, tetapi menggantinya dengan sebutan Rahib atau Pendeta.

Mereka mengganti nama Baitul Maqdis menjadi Jerusalem dan membuat garis demarkasi Jerusalem sesuai hawanafsu mereka sendiri.

Bahkan, mereka tidak lagi menyebut Allah, tetapi Yahwe, yang konon adalah salah satu dewa bangsa Syiria.

♣ Membangun Haekal Solomon diatas gunung Moria

Setelah Masjidil Aqsha dihancurkan oleh Raja Babilonia, yakni Raja Nebuchadnezzar II pada 586 SM, orang orang Yahudi membangun Haekal atau kuil atau temple Solomon, yang mereka sebut Haekal Solomon ke II pada tahun 536 SM.  Haekal Solomon ini jelas sejak awal didirikan adalah untuk ibadah menyembah Yahwe, tuhan orang Yahudi.

♣ Mengubah Taurat dan Zabur

Mereka seenaknya merubah Taurat dan Zabur yang dibawa Nabi Musa dan Dawud, dan menggantinya sesuai dengan hawa nafsu mereka.  Contohnya larangan riba yang diharamkan Allah, mereka ubah menjadi halal.  Dan banyak lagi syaiat yang mereka ubah

♣ Menjadikan Rahib dan pendeta sebagai Tuhan tuhan mereka. Al Quran surat At Taubah ayat 31 :

 اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا إِلَهًا وَاحِدًا لا إِلَهَ إِلا هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ 31

Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah, dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putra Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.

Ketika ayat ini turun, seorang sahabat bertanya : ‘bukankah orang Yahudi tidak menyembah rahib mereka dan orang nasrani tidak menyembah pendeta mereka?’

Rasulullah menjawab : ‘bukankah mereka menghalalkan apa yang diharamkan Allah? bukankah mereka menghalalkan riba? meminjamkan uang dan bunga?’ Dan bukankah rakyatnya juga menerimanya?

Itu adalah sirik! Siapapun yang menghalalkan apa yang Allah haramkan, berarti telah melakukan satu dosa yang Allah tidak akan pernah mengampuninya.  Itulah syirik.

♣ Memenuhi Masjidil Aqsha dengan berhala berhala, ini terjadi bahkan sampai datangnya Nabi Isa yang kemudian menjumpai banyak berhala di Haekal Solomon.
♣ Melahirkan agama baru, yakni agama Yahudi 
♣ Membunuhi para nabi dan asul yang dikirim Allah.  Pun Nabi Muhammad nyaris akan dibunuh Yahudi Yahudi ini, jika saja Allah dan para Malaikat melindungi Rasulullah.

Pada era ini, syariat Islam sudah jauh melenceng, sehingga bisa disebut ‘lahirlah’ agama Yahudi.  Masjidil Aqsha yang semula sebagai pusat ibadah dan pemerintahan, mereka ubah menjadi pusat kesesatan dimana mereka meletakkan banyak berhala.

Mereka juga amat bernafsu untuk mempelajari ilmu yang dimiliki Nabi Sulaiman.  Seperti kemampuan Nabi Sulaiman dalam menaklukan bangsa Jin.  Hal hal seperti itu justru yang getol dipelajari Bani Israil.  Dan bukannya belajar tentang kitab Taurat dan Zabur.

Mereka bahkan membangun Bait Suci Salomo di Gunung Moria.  Dan Bait Salomo (kemudian dikenal sebagai Bait Pertama), memainkan perang penting dalam sejarah bangsa Yahudi sebagai tempat singgahnya Tabut Perjanjian (Ten Commandments atau 10 Firman Tuhan yang diterima oleh Nabi Musa).

910 –              Era Nabi Ilyas عليه السلام
850 SM

Diiutus Allah Ta’ala untuk orang orang Finisia dan Bani Israel yang menyembah berhala bernama Baal di Kota Baalbak, Syam.

885 –              Era Nabi Ilyasa عليه السلام
795 SM

Beliau berdakwah kepada Bani Israil dan orang orang Amoria di Panyas, Syam. Ia wafat di Palestina

820 –              Era Nabi Yunus عليه السلام
750 SM

Nabi Yunus ditugaskan berdakwah kepada orang Assyiria di Ninawa Iraq.

820 –              Era Nabi Yesayah  عليه السلام [Isaiah]
750 SM

Nabi Yang Digergaji Bani Israil
♦ Babilonia Mencoba Menyerang Al Quds, tetapi digagalkan Raja Hizkia

Sejak Nabi Sulaiman wafat, 10 suku utara memisahkan diri membentuk kerajaan Bani Israil yang baru.
Nabi Yesaya diutus saat Bani Israil tengah dipimpin seorang raja yang saleh, Hizkia (Hezekiah) – menggantikan Raja Uzia. Saat itu Bani Israil masih terus hidup di masa damai dan makmur di Al Quds.

Peran Yesaya disini adalah sebagai penasehat bagi Raja Hizkia dan Bani Israil. Suatu hari, Raja Hizkia ditimpa sebuah penyakit. Kakinya terkena infeksi yang berat sangat. Kematian sudah ada dihadapannya. Sementara raja sakit, rombongan pasukan Raja Babilonia, Sennacherib (Sinharib) dikabarkan tengah menuju Al Quds. Mereka bermaksud menyerbu negeri pimpinan Hizkia dengan 60 ribu pasukan.

Raja Hizkia kebingungan dan ia meminta nasehat Nabi Yesaya.
“Apakah Allah memberikan wahyu kepada Anda mengenai pasukan Sanherib?” Tanya raja, lemas.
Allah belum memberikan wahyu apapun kepadaku tentang itu,” jawab Yesaya.
Setelah beberapa hari, Yesaya mendapat perintah dari Allah ﷻ agar Hizkia bersedia turun tahta dan mengangkat raja baru sebagai penggantinya untuk menghadapi serangan Babilonia. Pasalnya, takdir ajal telah dekat dengan Hizkia. Perintah itu disampaikan Nabi Yesaya dengan berat hati. Namun raja dengan lapang dada menerimanya.

Raja Hezkia kemudian segera menghadap kiblat [ Baitul Maqdis ] kemudian menengadahkan tangan berdoa. Dengan hati yang tulus, sang raja memanjatkan doa.
“Ya Tuhan dari segala Tuhan, Ya Raja dari segala raja…. Ya Allah yang penuh kebajikan dan penyayang, Yang tidak tidur dan tidak mengantuk, Yang dapat mengalahkan segala sesuatu… Ingatlah hambaMu ini atas apa yang telah hamba perbuat bagi Bani Israel. Dan Engkau tentu lebih mengetahuinya, Engkau mengetahui setiap perbuatan hamba dan segala rahasia hamba”.

Allah ﷻ pun menjawab doa raja yang saleh itu. Kepada Yesaya Allah ﷻ berfirman bahwa Dia sangat senang Hezkia memanjatlkan doa kepadaNya. Allah ﷻ pun memperpanjang usia Hizkia hingga 15 tahun lagi. Mendapat wahyu itu, Yesaya pun segera memberi kabar kepada sang raja dengan gembira.

Mendengar kabar tersebut, Raja Hezkia pun segera menyungkur sujud dan memanjatkan syukur. “Ya Tuhan, Engkau memberikan kerajaan bagi siapa yang Engkau kehendaki. Engkau mengangkat kedudukan siapa saja yang Engkau kehendaki. Engkau mengetahui segala hal ghaib dan nyata. Engkau adalah Al Awwal dan Al Akhir, Engkau memberikan rahmat dan menjawab orang orang yang kesulitan,” ujar Hezkia memuji Tuhan seluruh alam.
Usai sujud syukur, Yesia meminta sang raja untuk mengusap kaki yang infeksi dengan sari daun Ara. Dengan kehendak Allah, penyakit raja sembuh seketika. Tak hanya menyembuhkan oenyakit raja, Allah pun menolong Bani Israil dengan mengalahkan tentara Sanherib. Tiba-tiba di pagi hari, seluruh pasukan mati tergeletak, kecuali sang Raja Sanherib dan kelima tangan kanannya, termasuk Nebukadnezar.

Mereka dibelenggu selama 70 hari, kemudian dipulangkan ke Babilonia. Saat kembali, Raja Sanherib pun menanyakan hal aneh yang terjadi pada mereka. Para tukang sihir negeri itu pun mengatakan kepadanya, “Kami bercerita tentang Tuhan dan nabi mereka, tapi Anda tak pernah mendengarkan kami. Mereka adalah bangsa yang memiliki Tuhan,” ujar para tukang sihir. Sang raja Babilonia pun berkidik, ia kemudian merasa sangat takut akan Allah.
Sementara di Al Quds, setelah perpanjangan usia yang diberikan Allah ﷻ, Raja Hezkia pun menemui ajalnya.

Pasca meninggalnya Hezkia, Al Quds kembali porak poranda. Kondisi Bani Israil sangat buruk. Mereka dengan cepat mulai kembali menyimpang.  Padahal Nabi Yesaya yang masih hidup di tengah mereka, dan masih tetap mendakwahkan tauhid dan menyeru Bani Israil agar tetap di jalan Allah. Nabi Yesaya mengingatkan Bani Israil untuk tetap menyembah Allah ﷻ dan tidak berbuat kemunkaran. Lebih jauh Nabi Yesaya juga terus mengingatkan akan datangnya Nabi Isa Al Masih.
Namun salah satu sifat Yahudi adalah menentang para nabi. Meski Yesaya selalu menjadi wali bagi mereka, bangsa Israil itu justru marah kepadanya. Mereka geram dengan ceramah Yesaya. Mereka pun kemudian memusuhi nabiyullah dan berencana membunuhnya.  Iblis sudah merasuki pikiran kaum Israil itu.
Hingga suatu hari, Yesaya tengah melewati sebuah pohon. Sementara Bani Israil mengejarnya untuk membunuhnya. Lalu tiba-tiba pohon yang dilewati sang utusan Allah itu terbuka. Yesaya pun masuk dan berlindung di dalam pohon. Namun setan melihat Yesaya masuk ke dalam pohon. Setan pun kemudian membuah jubah sang nabi terjepit sehingga terlihat oleh Bani Israil. Melihatnya, Bani Israil pun segera mengambil gergaji kemudian menggergaji pohon itu. Yesaya pun wafat dibunuh oleh umatnya sendiri.

Kisah Nabi Yesaya tersebut tak tercantum dalam Al Quran, pun tak dikabarkan oleh Rasulullah ﷺ. Dalam ajaran Islam, nama Yesaya juga tak termasuk dalam nama 25 nabi yang harus diketahui. Hanya saja, Ibnu Katsir memasukkan kisah Yesaya tersebut dalam kitabnya “Qashshashul Anbiya”.
Menurut Ibn Katsir, mmengutip dari riwayat Muhammad Ibn Ishaq, Nabi Yesaya merupakan nabi yang muncul sebelum era Nabi Zakaria dan Yahya. Beliau bahkan salah satu nabi yang bernubuwat mengenai Nabi Isa dan Nabi Muhammad Rasulullah ﷺ. Silahkan merujuk kembali kitab Ibn Katsir tersebut.

722 SM         Babilonia Merebut Baitul Maqdis Dari Bani Israil

Sejak Nabi Sulaiman wafat, 10 suku utara memisahkan diri membentuk kerajaan Bani Israil yang baru. Di bawah wangsa (dinasti) Dawud dan Sulaiman, Baitul Maqdis/ Al Quds telah menjadi ibukota Kerajaan Yahudi.
Dan Bani Israil lagi lagi jatuh pada kekufuran. Melakukan dosa besar, menyembah berhala, sampai Allah menghukum mereka [kembali] dengan menjadikan atas mereka seorang penguasa yang kejam.

Datanglah Tentara Babilonia dan merebut Baitul Maqdis atau Al Quds dari orang Yahudi. Babilonia (1696 – 1654 SM) atau Babel dinamai sesuai dengan ibukotanya, Babilon, adalah negara kuno yang terletak di selatan Mesopotamia (sekarang Irak),

586 SM         Dikuasai Raja Babilonia, yakni Raja Nebuchadnezzar II (605 SM-562 SM)

♦ Masjidil Aqsha Dihancur-leburkan
♦ Bani Israil di’angkut’ dijadikan budak ke Babilonia
♦ Bani Israil untuk yang pertama kali, terusir dari Tanah Kan’an, dari Al Quds
Dan yang kedua kali, dalam arti ini adaalah kali kedua Bani Israil dilarang memasuki Al Quds.  Pelarangan pertama adalah dari Allah ketika Allah melarang Bani Israil memasuki Baitul Maqdis pada jaman Nabi Musa 
♦ Dalam Taurat yang asli, yang kemudian tetap mereka tulis dalam Taurat yang sudah mereka ubah, disebutkan bahwa akan datang seorang Messias, Al Masih, yang akan membebaskan mereka dari perbudakan dan membawa mereka kembali ke Baitul Maqdis.  Dan seorang Nabi Terakhir, nabi penutup, yang bernama Ahmad, yang kelak akan datang dan akan memimpin Bani Israil maupun non Bani Israel untuk menjadi umat yang besar dan kuat
♦ Di Babilonia Yahudi yahudi itu mengharapkan kedatangan Al Masih.  Namun sebelum datang Al Masih, Allah masih mengirimkan satu lagi nabi yang menyelamatkan mereka dari perbudakan. Itulah Nabi Daniyal.
hgj

Setelah berkuasa lebih dari 2 abad, pada tahun 586 SM, saat itu Babilonia yang diperintah oleh Raja Nebuchadnezzar II, dengan alasan yang tidak diketahui pasti oleh sejarah, mereka menangkapi anak anak Bani Israil, bahkan menghancur-lantakkan Masjidil Aqsha. Kemudian membawa paksa Bani Israil ke Babilonia untuk dijadikan budak.

Kemarahan Raja Nebuchadnezzar II bisa jadi karena Bani Israil terus melakukan perlawanan dan kekacauan.  Sehingga Raja marah besar dan menghancur-leburkan Masjidil Aqsha.Pembuangan kaum Yahudi ini, menurut catatan Babilonia dan Bible [versi Israel] dikarenakan raja Judea, Jeholakim, berpindah aliansi ke Mesir dari Babilonia. Invasi yang dilakukan oleh Babilonia sendiri merupakan hukuman karena beraliansi dengan wilayah saingan Babilonia.

 Di Babilonia inilah Bani Israil beranak pinak, bahkan bisa mendirikan Kerajaan Yehuda [menurut klaim Yahudi].  Namun di Babilonia juga, ajaran Islam yang dibawa Nabi Dawud dan Nabi Sulaiman [sebagai nabi terakhir mereka] menjadi amat menyimpang. Agama Babilonia yang paganisme [menyembah berhala] memberi banyak ide baru bagi yahudi yahudi itu.

536 SM         Era Nabi Daniyal عليه السلام

Kemudian Allah ﷻ mengirimkan kepada Bani Israil Nabi Daniyal. Daniyal hidup pada masa pembuangan bangsa Israel dari Kerajaan Yehuda ke Babilonia.
Setelah 50 tahun dalam pembuangan, dengan dipimpin Nabi Daniyal, Bani Israil bisa kembali ke Baitul Maqdis. Allah kembli mengampuni Bani Israil bahkan terus mengirimkan kepada mereka nabi nabi – yang lalu mereka bunuh juga.
Setelah itu ada nabi nabi lain yang Allah kirimkan ke Baitul Maqdis, termasuk Yahya dan ‘Isa عليه السلام – sampai tibalah waktunya nanti Rasulullah ﷺ diutus bagi seluruh alam dan terjadi peristiwa Isra’ dan Mi’raj itu.

536 –             Persia mengalahkan Babilonia dan menduduki Al Quds.
331 SM

♦ Kerajaan Persia di bawah Cyrus II [ Raja Persia Koresh Agung ] mengalahkan Babilonia dan Cheldania (Irak) dan menduduki Al Quds.
♦ Bani Israil Kembali Dari Pembuangan di Babilonia
♦ Yahudi membangun Bait Solomon sebagai ganti Masjidil Aqsha di atas gunung Sion [ Moria ]
♦ Setelah Bait atau Haekal Solomon dibangun, Yahudi itu menantikan Al Masih, karena mereka tahu, Al Masih yang akan memimpin mereka untuk kembali merebut masa keemasan seperti pada era Nabi Sulaiman.
bhgguy
fyhgyug

Kerajaan Persia setelah menaklukan Babilonia, mereka melangkah ke Tanah Kan’an, dan menundukkan Kerajaan Yahudi.  Jadi belum lama merdeka dibawah pimpinan Nabi Daniyal, Kerajaan Bani Israil kembali jatuh. Kali ini harus kalah ditangan Kerajaan Persia yang menang perang melawan Kerajaan Babilonia.

Tetapi sang raja, Cyruss II masih membolehkan orang Yahudi yang saat itu berencana membangun kembali Masjidil Aqsha yang dihancurkan Babilonia.

Maka dimulailah pembangunan kembali ‘Masjidil Aqsha‘. Inilah yang kemudian populer disebut Baitullah Kedua.  Tetapi penting untuk dipahami, bahwa Baitullah Kedua ini, adalah bangunan yang sama sekali baru dan berbeda dibanding Masjidil Aqsha pada jaman Nabi Dawud dan Nabi Sulaiman.

Saat itu Masjidil Aqsha amat megah, kokoh dan indah.  Dan yang pasti, masjid ini adalah tempat ibadah, sholat sekaligus sebagai pusat pemerintahan Islam.

Sedang ‘Masjidil Aqsha‘ yang dibangun Yahudi ini jelas berbeda 160 derajat dari aslinya.  Orang Yahudi tidak membangun masjid, tapi mereka membangun kuil atau bait. Yang mereka sebut Bait Solomo atau Kuil Sulaiman.  Bait ini digunakan untuk pemujaan dan pengorbanan yang disebut korbanot dalam Yahudi kuno.

Perhatikan kemiripan ritual korbanot Yahudi dengan Idul Adha Islam. Jelaslah korbonat adalah syariat Islam yang kemudian diselewengkan oleh Yahudi! Kurban (Ibrani : “pengorbanan” קרבן, qorban ; atau Korbanot קרבנות, qorbanot), dalam Yahudi adalah istilah untuk pengorbanan yang dideskripsikan dan diperintahkan dalam Torah. Korban yang biasa dikorbankan adalah binatang, seperti domba atau kerbau, dan sering dimasak dan dimakan oleh pemberi persembahan, dengan sebagian diberi ke Kohanim [pendeta Yahudi] dan sebagian dibakar ke mezbah (altar). Buah-buahan, dupa, dan serealia juga dapat dikurbankan.

Lebih dari sekedar tempat kobanot, kuil itu adalah tempat pemujaan jin dan setan, hasil mereka belajar ilmu ilmu yang dikuasai Nabi Sulaiman.  Itulah sebabnya namanya berubah menjadi Bait Solomon, dan bukan Masjidil Aqsha.

Kuil Solomon ini selesai tahun 516 SM, 70 tahun setelah hancurnya Masjidil Aqsha [ yang dibangun dengan sangat megah oleh Nabi Daud dan Nabi Sulaiman ]

451 SM        Uzair, Yahudi yang shaleh

Uzair hidup sekitar tahun 451 SM, Uzair.  Uzair adalah seorang Yahudi yang shaleh, begitu shalehnya, beberapa sumber menyebutnya sebagai Nabi.  Atau bisa jadi sesungguhny Uzair adalah seorang Nabi yang hidup sesudah era Nabi Sulaiman.

332 SM         Persia dikalahkan Kerajaan Makedonia di bawah Raja Aleksander (Iskandar) Yang Agung [ Roma ]

Al Quds jatuh ke tangan Makedonia
Al Quds diubah namanya menjadi Aelia Capitolina

166 –              Pemberontakan Makabe
37 SM

Al Quds dikuasai Yahudi
♦ Bait Solomon semakin melenceng dari fungsi awalnya dulu ketika Masjidil Aqsha yang asli masih berdiri tegak

Terjadi Pemberontakan Makabe [ 167 -166 ] Makabe adalah salah satu suku bangsa Yahudi, dipimpin oleh kaum Makabe melawan Kekaisaran Seleukid dan pengaruh Helenistik dalam kehidupan Yahudi.

Yahudi Makkabe mendirikan kerajaan di Al Quds.  Pemberontakan Makabe (bahasa Ibrani: מרד החשמונאים; bahasa Yunani: Επανάσταση των Μακκαβαίων) adalah suatu pemberontakan yang dilakukan bangsa Yahudi, berlangsung dari tahun 167 sampai 160 SM, dipimpin oleh kaum Makabe melawan Kekaisaran Seleukid dan pengaruh Helenistik dalam kehidupan Yahudi.

35 SM            Al Quds jatuh ketangan Romawi, Dinasti Herodes

♦ Masa Pemerintahan Romawi
♦ Masjidil Aqsha [Bait Sulaiman] masih tetap digunakan oleh Rahib atau Pendeta Yahudi

Penaklukan Romawi atas Palestina dan Mesir pada akhir abad pertama SM membuat banyak orang Yahudi tinggal di bawah kekuasaan Kekaisaran Romawi [meskipun banyak juga Yahudi yang tetap tinggal di Babilonia atau di tempat lainnya di Kekaisaran Parthia]. Banyak yang tetap tinggal di Palestina, namun yang lainnya pindah ke Roma atau ke berbagai tempat di Romawi. Karena mereka menganut agama yang berbeda dan menjalankan cara hidup yang berbeda, dan karena mereka tak mau menyembah kaisar Romawi sebagai dewa maka orang Romawi selalu mencurigai orang Yahudi.

Namun orang Romawi, seperti halnya orang Persia, masih mengizinkan orang Yahudi melaksanakan agama mereka.

100 SM         Era Nabi Zakariya عليه السلام

♦ Palestina masih dibawah pemerintahan Romawi
♦ Agama ‘Yahudi’ sudah semakin berkembang kuat dan melenceng jauh dari syariat Nabi Musa dan Dawud
Nabi Zakariya menjadi ‘kuncen’ di Masjidil Aqsha [Bait Solomon], tempat Nabi bermunajat memohon keturunan meskipun usianya sudah tua.  Disini juga menjadi tempat Maryam beriktikaf.
♦ Kenabian Zakariya ditolak Yahudi ⇒ tubuhnya digergaji, terbelah dua

Silsilah Nabi Zakariya berasal dari Nabi Sulaiman. Ia adalah ayah angkat Maryam [ Ibunda Nabi Isa عليه السلام ] diutus untuk berdakwah kepada Bani Israil di Palestina, ia wafat di Syam. Sementara itu peribadatan sesat di Masjidil Aqsha [Bait Solomon] masih terus berjalan meskipun Nabi Zakariya dipercayakan untuk mengurusnya.  Dan Nabi Zakariya selalu berupaya untuk meluruskannya.

Nabi Zakariya sadar banyak anggota keluarganya dari Bani Israil merupakan orang yang tidak beradab dan gemar bermaksiat karena kedangkalan iman mereka. Ia khawatir bila tiba ajal dan tidak mempunyai keturunan yang dapat memimpin kaumnya, sehingga mereka akan semakin merajalela dan sangat mungkin mengadakan perubahan perubahan di dalam kitab suci Taurat dan menyalahgunakan hukum agama.
Suatu hari datanglah janda Imron yang menyerahkan bayi perempuannya untuk diasuh. Kehadiran Maryam cukup memberi hiburan baginya dan diasuhnya Maryam seperti anak kandungnya sendiri.

Maryam Yang Suci

 إِذْ قَالَتِ امْرَأَةُ عِمْرَانَ رَبِّ إِنِّي نَذَرْتُ لَكَ مَا فِي بَطْنِي مُحَرَّرًا فَتَقَبَّلْ مِنِّي إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ 35

[Ingatlah], ketika istri Imran berkata : “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat [di Masjidil Aqsha]. Karena itu terimalah [nazar] itu dari padaku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”.

Maryam tumbuh menjadi wanita yang kerjanya setiap hari hanya beribadah dengan berkhidmat kepada Allah di Rumah-Nya di Masjidil Aqsha. Pada saat itu Maryam belum puber, sehingga ia dipebolehkan beribadat di mihrab Haekal Sulaiman. Karena Zakaria adalah “kuncen” Rumah Allah tersebut. Ia masih diperbolehkan oleh Rabi Yahudi untuk menjadi kuncen di Haekal Sulaiman.

Di sinilah Allah menurunkan Rahmat-Nya kepada Maryam. Setiap kali Zakaria menemui Maryam di mihrab, dia mendapati berbagai makanan yang lezat berada di samping Maryam. Ada juga buah-buahan yang bukan musimnya.   Dari manakah datangnya makanan itu? Setahu dia Maryam tidak pernah membawa makanan ke Rumah-Nya, Zakarilah yang selalu mengantarkan makanan kepada Maryam. Maryam menjawab bahwa makanan itu dikirim langsung dari Allah, mungkin diturunkan dari langit atau melalui perantara malaikat-Nya.

Rasa sayang Nabi Zakariya pada Maryam berubah menjadi rasa takjub.  Maryam gadis kecil yang suci, yang menadahkan tangannya ke atas meminta makanan, lalu Allah berikan makanan dari langit.  Sungguh, itu sebuah keajaiban !
Mukjizat itu membangkitkan harapan bagi Zakaria yang sudah sepuh tetapi belum memiliki anak.  Bahwa tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah. Allah yang telah memberi rezeki kepada Maryam dalam keadaan seorang diri dan tidak berdaya. Allah pasti berkuasa memberinya keturunan bila dengan kehendak-Nya walaupun usianya sudah lanjut dan rambutnya sudah penuh uban.
Pada suatu malam yang telah larut, Zakaria duduk di mihrabnya mengheningkan cipta kepada Allah dan bermunajat serta berdoa dengan khusyuk dan yakin. Dengan suara yang lemah lembut dia berdoa :

“Ya Tuhanku, berikanlah aku seorang putera yang akan mewarisiku dan mewarisi sebahagian dari keluarga Ya’qub, yang akan meneruskan pimpinan dan tuntunanku kepada Bani Israil. Aku cemas sepeninggalku nanti anggota anggota keluargaku akan rusak kembali aqidah dan imannya bila aku tinggalkan tanpa seorang pemimpin yang akan menggantikanku. Ya Tuhanku, tulangku telah menjadi lemah dan kepalaku telah dipenuhi uban, sedang isteriku adalah seorang perempuan mandul. Namun kekuasaanmu tidak terbatas, dan aku berdoa Engkau berkenan mengkaruniakan seorang anak yang shaleh dan Engkau ridhoi padaku.

Al Quran surat Maryam [19] ayat 1 – 15 :

يَا زَكَرِيَّا إِنَّا نُبَشِّرُكَ بِغُلامٍ اسْمُهُ يَحْيَى لَمْ نَجْعَلْ لَهُ مِنْ قَبْلُ سَمِيًّا 7

Hai Zakaria, sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu akan (beroleh) seorang anak yang namanya Yahya, yang sebelumnya Kami belum pernah menciptakan orang yang serupa dengan dia.

Tidak berapa lama, sungguhlah istri Nabi Zakaria hamil.  Hal ini membawa implikasi besa bagi Maryam, yakni sejak itu, ia menjadi gadis yang amat terkenal di Baitul Maqdis.  Semua mengenalnya sebagai gadis yang shaleh dan taat.

1 M               Era Nabi Yahya عليه السلام

Baitul Maqdis masih dibawah Kekuasaan Romawi
♦ Masjidil Aqsha [ Bait atau Haekal Solomon ] sudah semakin dipenuhi kebatilan, berhala ada dimana mana. Agama Yahudi semakin kuat
♦ Kenabian Yahya juga tidak diterima Bani Israel ⇒ kepalanya dipenggal ( konon atas perintah Herodes Antipas [20 SM–sekitar 40 M] )
♦ Di era ini ikut lahir Sang Messias,  Nabi Isa عليه السلام, Isa Al Masih
Nabi Yahya mengabarkan bahwa Al Masih sudah lahir dan sebentar lagi akan datang ke Baitul Maqdis. nvjhdfk
nvjhsfh

Yahya bin Zakariyya diangkat menjadi nabi pada sekitar tahun 28 M dan ditugaskan berdakwah kepada Bani Israil di Palestina. Namanya disebutkan sebanyak 4 kali di dalam Al Quran dan wafat di Damaskus Syiria.
Yahya dikaruniai hikmah dan ilmu semasa kanak kanak. Ia berbakti pada orang tuanya, dan tidak sombong ataupun durhaka. Ia pintar dan tajam pemikirannya. Ia beribadah siang malam sehingga tubuhnya kurus kering, wajahnya pucat, dan matanya cekung.

Al Quran surat Maryam [19] ayat 15 :

وَسَلامٌ عَلَيْهِ يَوْمَ وُلِدَ وَيَوْمَ يَمُوتُ وَيَوْمَ يُبْعَثُ حَيًّا 15

Kesejahteraan atas dirinya pada hari ia dilahirkan, dan pada hari ia meninggal dan pada hari ia dibangkitkan hidup kembali.

Di kalangan bani Israil, dia dikenal sebagai ahli agama dan hafal Taurat. Tapi kenabiannya jelas ditolak Bani Israil.  Nabi Yahya dikenal berani mengambil keputusan, tidak takut dihina orang, dan tidak menghiraukan ancaman penguasa dalam usahanya menegakkan kebenaran. Ia menganjurkan orang bertobat, dan sebagai tanda pertobatan, ia menyuruh mereka mandi besar [ dalam kisah Kristen disebut ia memandikan orang yang bertobat di sungai Yordan, inilah yang disebut pembaptisan dan Nabi Yahya disebut Yahya Pembastis ]

Nabi Yahya Menentang Herodes Antipas

Pada masa itu, Herodes seorang penguasa Romawi di Palestina merencanakan akan menikah dengan kemenakannya sendiri yaitu Hirodia. Hirodia sendiri merasa senang jika diperistri oleh seorang raja.

Tetapi Yahya melarang pernikahan ini karena bertentangan dengan syariat kitab Taurat dan Zabur. Seluruh istana pun gempar, mereka setuju dengan pendapat Yahya. Sehingga membuat Herodes malu dan murka, kemudian ia dan Hirodia berusaha mencari jalan untuk membungkam mulut Yahya dengan cara apapun.

Hal ini dimanfaatkan Bani Israil yang memang sangat ingin membunuh Nabi Yahya.  Bani Israil terus memprovokasi Herodes Antipas.  Maka diperintahkanlah tentara Romawi untuk memenggal Nabi Yahya. [ Situasi ini mirip dengan kejadian yang menimpa Isa ]  Dalam sejarah Kristen, kelak, Herodes Antipas ini juga yang mengejek Yesus [Nabi Isa] sebelum disalib.

Dikisahkan bahwa Yahya belum pernah menikahi seorang wanita, karena dia sudah terbunuh di usia muda dan dianggap sebagai nabi yang telah mati syahid. Ia mati syahid karena telah dipenggal oleh sang raja atas keinginan keponakannya tersebut.

1 –                  Era Nabi Isa Al Masih عليه السلام
32 M

♦ Palestina masih dibawah Kekuasaan Romawi
♦ Haekal Sulaiman semakin rusak dan dipenuhi berhala. Agama Yahudi semakin kuat
Nabi Isa Al Masih ditolak kenabiannya oleh Yahudi. Padahal Taurat memuat tentang kedatangan Messias, Isa Al Masih. Dan Al Masih akan memerintah dunia dari tahta Sulaiman.
♦ Tugas pertama Nabi Isa adalah membebaskan Baitul Maqdis, Fathu Baitul Maqdis
♦ Kedua adalah membawa kembali dan mendudukkan orang orang Yahudi dalam pemerintahan di Baitul Maqdis.
♦ Membangun kembali negara Yahudi dan sekali lagi menjadikan Kerajaan Yahudi sebagai kekuasaan Super power.
♦ Mengembalikan semua ajaran Islam kepada yang asli, dan membawa kitab Injil menggantikan Taurat
♦ Lewat tangan tentara Romawi, Pendeta Yahudi meminta mereka menyalib Nabi Isa Al Masih.
♦ Herodes Antipas [20 SM–sekitar 40 M] menyaksikan penyaliban itu dan menurut sejarah Kristen, dia mentertawakannya
♦ Agama Kristen Belum lahir

Nabi Isa عليه السلام dan Nabi Yahya عليه السلام hidup di waktu yang bersamaan. Keduanya bagaikan sepupu. Karena Maryam, ibunda Nabi Isa adalah anak angkat dari ayahnya Nabi Yahya, yakni Nabi Zakaria عليه السلام . Keduanya pun, ditugaskan untuk berdakwah kepada Bani Israil yang semakin melupakan ajaran Ibrahim.

Nasib keduanya pun sama, harus mati ditangan Raja Roma. Bedanya untuk Nabi Isa, bukan beliau yang disalib, tetapi seseorang yang Allah serupakan wajahnya dengan Nabi Isa عليه السلام.
Ia diangkat menjadi nabi pada tahun 29 M dan ditugaskan berdakwah kepada Bani Israil di Palestina.

Allah ﷻ memberikan wahyu kepada Nabi Isa عليه السلام melalui malaikat Jibril, dan diangkat menjadi Nabi dan Rasul serta menerima kitab Injil. Isi dari kitab tersebut untuk membenarkan dan melengkapi kitab sebelumnya, yaitu kitab Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa عليه السلام.

Dan Nabi Isa ditugaskan untuk mendakwahi Bani Israil di Palestina. Pada saat itu, kaum Bani Israil banyak melakukan penyimpangan. Dosa dosa telah menjadi kebiasaan dan menganggapnya sebagai kewajaran. Lebih parahnya, para Rahib atau Rabi tidak bisa diandalkan. Karena mereka cenderung membiarkan kemaksiatan. Mereka bahkan tak segan segan mengubah ketentuan. Halal menjadi haram dan haram menjadi halal.

Ketika memasuki Haekal Sulaiman, Nabi Isa menyaksikan bahwa kuil itu dipenuhi oleh berhala berhala.  Juga meja meja untuk berdagang uang.  Lihat, mereka melakukan riba di kuil kuil mereka! Untuk riba, orang Yahudi memiliki istilah sendiri, yakni : rip off.

Tentu saja Nabi Isa amat marah, dalam beberapa riwayat disebut bahwa karena marahnya Nabi Isa sampai sampai beliau membalikkan meja meja itu.  Dan berkata : ‘Kalian telah mengambil rumah Allah dan menjadikannya sarang penyamun!’

Kitab Injil 

Ketika mengetahui Nabi Isa عليه السلام membawa kitab Injil, hal itu dijadikan alasan bagi para pendeta Yahudi untuk menolak risalah Islam yang dibawa Nabi Isa. Mereka bahkan menghasut dan menyuruh Bani Israil untuk menentang Nabi Isa عليه السلام karena dianggap membawa agama baru.

Hingga akhirnya berita Nabi Isa عليه السلام mengajar agama ‘baru’ diketahui oleh Raja Herodes.

Dia tak percaya akan ajaran-ajaran Nabi Isa dan meminta menunjukkan mukjizat. Herodes pun langsung mengumpulkan rakyatnya untuk melihat mukjizat Nabi Isa. Lalu, Nabi Isa membuat sebuah patung dari tanah liat dengan bentuk burung. Kemudian dia meniup burung itu. Atas izin Allah ﷻ burung dari tanah liat tersebut tiba tiba hidup dan terbang. Banyak orang orang orang yang berdecak kagum melihat kejadian itu.

Tidak hanya itu saja, pada suatu hari Nabi Isa عليه السلام didatangi oleh dua orang yang memiliki penyakit, yaitu tunanetra dan kusta. Berkat izin Allah ﷻ , orang buta sejak lahir tersebut dapat melihat kembali. Begitupun dengan orang yang menderita penyakit kusta. Penyakitnya sirna tidak ada sedikitpun bekas bekas penyakit yang nampak menjijikan seperti di tubuhnya sebelumnya.

Para kaum Bani Israil yang masih kafir bersekongkol dengan para pendeta untuk mengucilkan Nabi Isa عليه السلام. Beliau memiliki beberapa pengikut dan jumlahnya dua belas orang. Mereka terkenal dengan sebutan Hawariyun

Ketika Nabi Isa dan Hawariyyun melakukan suatu perjalan dan melawati sebuah padang pasir yang gersang, kering serta panas masalah pun timbul. Rombongan tersebut kehabisan bekal, dan setiap orang sangat lapar dan haus. Para pengikut mulai mengeluh dan mulai berkata macam macam. Nabi Isa berdoa kepada Allah ﷻ untuk menurunkan hidangan dari langit. Allah mengabulkan permintaannya dengan syarat apabila ingkar akan terkena azab yang sangat berat yang belum pernah ditimpakan kepada siapapun. Akhirnya hidangan dari langitpun benar benar turun dan kemudian Nabi Isa dan Hawariyun menikmatinya.

Lambat laun dakwah Nabi Isa mendapat sambutan yang sangat besar. Semakin hari pengikut Nabi Isa semakin banyak. Namun ada pihak lain yang merasa dirugikan, yaitu para kaum Bani Israil yang masih kafir dan para pendeta yang tidak terima akan dakwahan Nabi Isa. Rencana diatur sedemikian rupa. Tentara pilihan dikumpulkan untuk membunuh Nabi Isa.

Namun rencana pembunuhan tersebut diketahui oleh salah satu pengikut Nabi Isa عليه السلام dan segera dilaporkan ke beliau. Mereka segera menyelamatkan diri dan hidup berpindah pindah tempat.
Salah satu murid Nabi Isa عليه السلام yang bernama Yudas, terbujuk akan iming iming hadiah sebesar 30 dinar dengan syarat harus memberitahukan tempat persembunyian Nabi Isa عليه السلام dan Hawariyyun. Yudas berkhianat, dia membocorkan tempat persembunyian Nabi Isa. Mendengar informasi dari Yudas, tentara Romawi langsung bergerak.

Tentara Romawi langsung menangkap seseorang yang sangat mirip dengan Nabi Isa yaitu Yudas sendiri sang pengkhianat. Dan membawanya ke bukit Golgota [ berdasarkan sejarah Kristen ]
Sebelumnya saat akan ditangkap oleh tentara Romawi, Allah ﷻ tiba-tiba mengangkat Nabi Isa ke langit. Kemudian Allahﷻ mengubah wajah Yudas dengan wajah Nabi Isa. Sehingga akhirnya Yudas mendapatkan pukulan bertubi tubi dan terus diseret. Tubuh Yudas penuh dengan luka dan wajahnya memar akibat pukulan. Yudas menghembuskan napas terakhirnya di tiang salib.
Saat itu Herodes Antipas [yang sebelumnya memerintahkan memenggal Nabi Yahya] tertawa mengejek atas penyaliban itu.

Para Rabi Yahudi itu tertawa sombong dan mengatakan bahwa Isa sungguh bukanlah Sang Messias.  Karena Isa telah mati disalib. Bukankah Messias tidak boleh mati sebelum tugasnya, yakni menjadikan Kerajaan Baitul Maqdis [kembali] berjaya seperti pada era nabi Sulaiman ?

Al Quran surat An Nisaa‘ [4] ayat 157 :

 وَقَوْلِهِمْ إِنَّا قَتَلْنَا الْمَسِيحَ عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ رَسُولَ اللَّهِ وَمَا قَتَلُوهُ وَمَا صَلَبُوهُ وَلَكِنْ شُبِّهَ لَهُمْ وَإِنَّ الَّذِينَ اخْتَلَفُوا فِيهِ لَفِي شَكٍّ مِنْهُ مَا لَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍ إِلا اتِّبَاعَ الظَّنِّ وَمَا قَتَلُوهُ يَقِينًا 157

dan karena ucapan mereka : “Sesungguhnya Kami telah membunuh Al Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah“, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan ‘Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa.

Pada saat Nabi Isa ‘disalib’, tidak ada seorangpun yang tahu kejadian yang sesungguhnya.  Tidak seorangpun. Hingga turun surat An Nisaaayat 147.  Dan bahkan di dalam Al Quran juga disebutkan bahwa Nabi Isa عليه السلام kelak akan diturunkan kembali ke bumi oleh Allah ﷻ sebelum hari kiamat, untuk menyelesikan ‘tugas tugasnya’.  Dan salah satunya adalah untuk membunuh Dajjal.

Dan khabar akan kembalinya Nabi Isa sudah disampaikan pula, berulang ulang, oleh Rasulullah dalam berbagai hadis hadis yang cukup detail.  Bahwa kelak, Nabi Isa akan menjadi Hakim Yang Adil, menjadi penguasa dunia, dan ia akan memerintah dan memimpin dari Baitul Maqdis dengan keadilan.  Dan itu akan menjadi pemerintahan yang abadi. Itu artinya hingga tibanya hari kiamat, dan tidak akan ada yang menggantikan Nabi Isa.

43 M             Yahudi di Lod

Gubernur Romawi untuk Suriah Cassius menjual Yahudi penduduk Lod sebagai budak.  Kota Lod ini kelak menjadi tempat dibunuhnya Dajjal Al Masih oleh Nabi Isa Al Masih

Perang Yahudi Vs Romawi

66 M              Dimulainya Perang Yahudi Romawi I [Disebut juga : Revolusi Besar]

♦ Yahudi kalah
♦ Palestina tetap dikuasai Romawi
♦ Bait Solomon/ Kuil Suliaman masih dipebolehkan digunakan oleh Bani Israil, dan masih dipenuhi berhala
♦ Kota Lod dihancurkan

Semasa pemerintahan Romawi, Bani Israil berkali kali mengadakan pemberontakan. Disebabkan karena ketegangan agama Yunani dan Yahudi, yang selanjutnya berkembang menjadi penentangan pajak dan penyerangan terhadap penduduk Romawi.

Pada tahun 66 M, pada masa pemerintahan kaisar Nero, orang Yahudi memutuskan untuk memberontak melawan Romawi seperti yang pernah mereka lakukan di bawah pimpinan Makabe dan berusaha memperoleh kemerdekaan mereka kembali. Perang terjadi di Propinsi Ludea, bersebelahan dengan Al Quds.

Prokonsul Suriah, Cestius Gallus, menghancurkan kota Lod dalam perjalanannya menuju Yerusalem pada 66 M.

Nero mengirim salah satu jenderal minornya, yakni Vespasianus, yang kelak menjadi kaisar, untuk menghentikan pemberontakan. Ketika Vespasianus menjadi kaisar pada tahun 69 M, putranya, Titus, meneruskan tugas untuk menghentikan pemberontakan Yahudi.  Vespasianus juga menduduki kota Lod.

Titus memerangi orang Yahudi hingga dia menang. Salah satu pertahanan terakhir adalah benteng Masada, di sana sekelompok Yahudi berhasil bertahan hingga Romawi membuat jalan landai menuju benteng dan meruntuhkan dindingnya. Ketika Titus kembali ke Roma, saudaranya Domitianus membangun sebuah pelengkung kejayaan besar dari batu untuk memperingatinya, dan dihiasi dengan ukiran yng menggambarkan Titus sedang membawa benda benda suci Yahudi, termasuk sebuah menorah.
Perang berakhir setelah legiun Romawi mengepung dan menghancurkan pusat pemberontakan di Yerusalem, serta menaklukan benteng benteng Yahudi lainnya. Banyak orang menjadi korban.

70 M

Bait Solomon/ Haekal Sulaiman [Masjidil Aqsha] dihancurkan oleh Romawi
♦ Masih tersisa satu sisi tembok sebelah barat yang kelak disebut Tembok Ratapan
♦ Al Quds diganti namanya menjadi Aelia Capitolina yang artinya kurang lebih “Kota Suci untuk Dewi Aelia”.

Menghadapi pemberontakan Yahudi yang terus menerus, pemerintahan Romawi dibawah Raja Titus Flavius, akhirnya mematahkan pemberontakan tersebut. Dan ujung ujungnya memusnahkan Baitullah Kedua orang Yahudi !

Yang tinggal hanyalah sebagian gedung itu yang dikenal sebagai Tembok Barat. Tembok inilah kelak dikenal sebagai Tembok Ratapan. Panjang tembok yang semula sekitar 485 meter hanya tersisa 60 meter saja.  Bagi orang Yahudi, ini adalah kehancuran yang kedua, yang pertama adalah ketika dihancukan oleh Raja Babilonia, yakni Raja Nebuchadnezzar II pada tahun 586 SM.  Tetapi kita harus ingat, bahwa Masjidil Aqsha betul betul dihancurlebukan oleh Raja Nebuchadnezzar II.  Yang tersisa adalah reruntuhan bangunan dan batas wilayah Masjidil Aqsha berupa pondasi dasar.  Jadi, pembangunan yang kedua sudah betul betul dibangun ‘murni’ berdasakan pemikiran dan hawa nafsu Yahudi saja.    Sehingga tidak pantas kita menyebutnya sebagai penghancuran yang kedua.

Bangunan asli Masjidil Aqsha sudah musnah dihancurkan tahun 586 SM.  Dan itu adalah fakta tak terbantahkan.

Setelah pemberontakan tersebut, orang Yahudi diperbolehkan tinggal di situ tetapi dalam jumlah yang kecil. Pada kurun kedua, Kaisar Roma memerintahkan supaya Al Quds dibangun kembali dan membangun sebuah kuil orang Roma di situ sambil menghalang kegiatan keagamaan orang Yahudi. Orang Yahudi kembali memberontak tetapi dapat dipatahkan tentara Roma. Al Quds tetap dinamakan Aelia Capitolina.

115 –              Perang Kitos, Perang Ke-2 Yahudi Vs Romawi 
117 M            ♦ Kota Lod berganti nama menjadi Lydda

Tentara Roma mengepung Kota Lod dan mengganti namanya menjadi Lydda. Pada saat itu, terjadi pemberontakan Yahudi dipimpin oleh Julian dan Pappus. Lydda kemudian dikuasai dan banyak Yahudi yang dieksekusi. “Pembunuhan Lydda” sering digunakan sebagai kalimat pujian di dalam Talmud.

Sejak Lod dikuasai penuh Romawi, [kelak] banyak penduduknya memeluk agama Kristen.

Namun pada perang ke-2 ini orang orang Yahudi dengan mudah dikalahkan oleh Jenderal Quintus Lucius Quietus yang memerintah saat itu.

Kelak pada abad ke 6, namanya diubah lagi namanya menjadi Georgiopolis [ untuk menghormati seorang prajurit Kekaisaran Diocletian, St George ] Gereja dengan nama yang sama juga dibangun di kota tersebut untuk mengenangnya.  Dan tahun 1099, Tentara Salib merebut kota Lod dari bangsa Arab dan menamainya menjadi St Jorge de Lidde. Namun, kota tersebut direbut kembali dari Tentara Salib pada 1191 oleh pasukan Saladdin. Penjelajah Yahudi Benjamin Tudela mengatakan, saat Saladdin menaklukkan Lod, sebanyak 1.170 keluarga Yahudi tinggal di sana.

132 –              Perang Bar Kokhba, Perang Ke-3 dan terakhir Yahudi Vs Romawi 
135 M

♦ Yahudi lagi lagi dikalahkan Romawi
≠ Untuk yang ke 3 kali, Yahudi kembali dilarang memasuki Al Quds
♦ Dimulainya Diaspora Yahudi Besar Besaran Ke Seluruh Dunia
♦ Dalam Taurat dan Injil sudah disebut akan datangnya Nabi Penutup, Nabi Terakhir, karena Al Masih sudah mereka ‘bunuh’, maka harapan terkahir mereka tinggal Nabi Akhir Jaman yang diperkirakan lahir di Tanah Arab
♦ Itulah sebabnya sebagian kecil ada yang pindah ke Yastrib [Madinah] yakni : suku Bani Qainuqa, Bani Nadhir, dan Bani Quraizhah
♦ Untuk menghina Yahudi, Romawi mengganti nama Yudea dengan Syria Palaestina
♦ Wilayah Masjidil Aqsha, ditempatkan patung Dewa Yupiter dan Kaisar Hadrianus

Perang ini mengambil nama sang pemimpin perang yakni : Simon bar Kokhba [Koziba] yang sering dianggap Mesias Yahudi. Ia bergelar Nasi Israel [penguasa atau pangeran Israel]
Setelah gagal pada Revolusi Besar [70 M] Yahudi tetap tidak berhenti melakukan perlawanan terhadap Romawi. Sementara itu Romawi juga terus mengambil langkah mengawasi provinsi Ludea yang suka memberontak itu. Bukannya menempatkan seorang prokurator, mereka menempatkan seorang praetor sebagai gubernur serta menempatkan pula satu legiun penuh, X Fretensis.

Pada 130 M, Kaisar Hadrianus mengunjungi reruntuhan Yerusalem. Kaisar yang mulanya bersimpati terhadap orang-orang Yahudi itu, menjanjikan untuk membangun kembali kota itu, namun orang-orang Yahudi merasa dikhianati ketika mereka mengetahui bahwa ia bermaksud membangun kembali kota paling suci orang Yahudi ini sebagai sebuah metropolis kafir, dan sebuah kuil kafir yang baru yang akan dibangun di atas lokasi Baitullah/ Masjidil Aqsha akan dipersembahkan kepada dewa Yupiter.

Sepanjang waktu itu, ide membentuk sebuah negara Yahudi yang berdaulat terus digodok. “Era penebusan Israel” diumumkan, kontrak-kontrak ditandatangani dan mata uang dicetak dengan tulisan yang sesuai (sebagian dicetak di atas mata uang perak Romawi).

Yahudi yang ajarannya sudah amat menyimpang dari syariat Musa dan Isa itu, berkeyakinan bahwa Bait Allah bisa didirikan lagi, jika ritual korban mulai dilakukan. Mulailah Rabi Akiba memimpin Sanhedrin. Ritual keagamaan Yahudi dirayakan dan korbanot (penyerahan kurban) dilakukan kembali di altar.

Perang Bar Kokhba berjalan selama 3 tahun dengan sangat sengit. Korban jatuh di keduabelah pihak, sama sama besar.

Pasukan Romawi yang dikerahkan jauh lebih besar daripada yang dipimpin oleh Titus Flavius 60 tahun sebelumnya. Tahun 135 M, Romawi berhasil memenangkan perang ini. Sekali lagi Yahudi harus kalah dari Romawi.  Dan perang ini sekaligus menjadi akhir perang antara Yahudi Vs Romawi.

Kaisar Hadrianus berusaha membasmi Yudaisme [agama Yahudi], yang dipandangnya sebagai penyebab pemerontakan yang terus-menerus. Ia melarang hukum Taurat, kalender Yahudi dan menghukum mati para ahli Yudaisme. Gulungan suci dibakar dalam sebuah upacara di Gunung Bait Allah.

Di bekas tempat kudus Bait Allah [dalam wilayah Masjidil Aqsha], ia menempatkan dua buah patung : patung dewa Yupiter, dan patung dirinya sendiri.

” Untuk menghapuskan setiap ingatan tentang Yudea, ia menghapus nama Yudea dari peta dan menggantinya dengan nama Syria Palaestina sebagai suatu peringatan yang menghina
bagi orang orang Yahudi.  Dan agar mereka ingat siapa penghuni asli wilayah itu, musuhnya pada zaman kuno, orang-orang Filistin, yang saat itu tesingkirkan.
Ia membangun kembali Al Quds sebagai sebuah polis Romawi dan tetap mempertahankan nama Aelia Capitolina, dan orang orang Yahudi dilarang memasukinya..”

Belakangan mereka diizinkan meratapi kekalahan mereka yang memalukan setahun sekali pada Tisha B’Av [Tembok Ratapan]. Orang Yahudi tetap tersebar selama hampir 2000 tahun.

Setelah pemberontakan itu, kekuasaan Yahudi beralih kepada komunitas Yahudi Babel dan para sarjananya. Yudea tidak akan lagi menjadi pusat keagamaan, budaya, atau kehidupan politik Yahudi lagi hingga masa modern. Meskipun orang Yahudi tetap tinggal di sana, dan perkembangan keagamaan yang penting masih terjadi di sana. Yang terpenting adalah tradisi kabala dari kota Safed, di Galilea.

Orang orang Yahudi kini dilarang masuk ke Palestina, dengan ancaman hukuman mati. Akbiatnya terjadi diaspora Yahudi besar besaran ke seluruh dunia. Gelombang penduduk Yahudi pindah ke wilayah Galilea dan pegunungan Golan di Utara, menyebabkan didirikannya desa desa baru dan sinagoga sinagoga.

Tetapi ada sebagian kecil dari mereka yang pindah hingga ke Yastrib [Madinah]. Mereka adalah yahudi suku Bani Qainuqa, Bani Nadhir, dan Bani Quraizhah.

Allah jadikan Yahudi dalam berbagai golongan tersebar dimana mana.

Al Quran surat Al A’raaf [7] ayat 168 :

 وَقَطَّعْنَاهُمْ فِي الأرْضِ أُمَمًا مِنْهُمُ الصَّالِحُونَ وَمِنْهُمْ دُونَ ذَلِكَ وَبَلَوْنَاهُمْ بِالْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ 168

Dan Kami bagi bagi mereka di dunia ini menjadi beberapa golongan; di antaranya ada orang-orang yang saleh dan di antaranya ada yang tidak demikian. Dan Kami coba mereka dengan (nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk, agar mereka kembali (kepada kebenaran).

Meskipun dengan sejumlah kezaliman yang dilakukan orang orang Yahudi itu, dan Allah jadikan mereka tersebar k seluruh pelosok bumi, pintu maaf Allah selalu terbuka hingga kapanpun.

Yakni jika mereka mengikuti RasulullahSurat Al A’raaf [7] ayat 157 :

 الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ الأمِّيَّ الَّذِي يَجِدُونَهُ مَكْتُوبًا عِنْدَهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَالإنْجِيلِ يَأْمُرُهُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَاهُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ وَيَضَعُ عَنْهُمْ إِصْرَهُمْ وَالأغْلالَ الَّتِي كَانَتْ عَلَيْهِمْ فَالَّذِينَ آمَنُوا بِهِ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَاتَّبَعُوا النُّورَ الَّذِي أُنْزِلَ مَعَهُ أُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ 157

(Yaitu) orang orang yang mengikut Rasul, Nabi yang umi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka,
yang menyuruh mereka mengerjakan yang makruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar
dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka.
Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Quran), mereka itulah orang-orang yang beruntung.

Berakhirnya Perang Yahudi Vs Romawi

136                Ada Yahudi yang menetap di Yastrib
627 M

♦ 3 suku Yahudi yang mengembara dan menetap di Yastrib adalah Bani Qainuqa, Bani Nadhir, dan Bani Quraizhah.

Setelah Perang Bar Kokhba Yahudi terusir dan dilarang keras tinggal di Al Quds. Mereka akhirnya mengembara dan sampailah di Yastrib. Di Yastrib mereka menetap dan bergaul seperti layaknya seorang Arab-Madinah asli. Mereka berbahasa Arab, berpakaian seperti orang Arab, bahkan banyak yang menikah dengan orang Arab (Madinah).

Walapun begitu mereka masih memiliki fanatisme ras yang sangat tinggi. Mereka menganggap kaum di luar ras mereka sebagai kaum yang bodoh, hina dan primitif, bahkan mereka menghalalkan darah dan harta orang-orang di luar kaum mereka.
Bagi mereka, mengambil harta dan hak hak di luar ras mereka tidak akan membuat mereka berdosa. Mereka selalu membangga banggakan ras mereka sebagai ras yang paling unggul diantara bangsa bangsa lain. Inilah salah satu sifat asli mereka sebagai orang-orang Yahudi.

Tidak hanya itu mereka juga suka mengadu domba kabilah kabilah Arab yang ada di Madinah untuk saling berperang. Terkadang mereka lah yang langsung berperang dengan sebagian kabilah Arab yang ada di Madinah.

Ke 3 suku Yahudi itupun menguasai bisnis di Madinah. Meskipun memang ada beberapa saudagar Arab-Madinah yang kaya raya. Mereka, orang-orang Yahudi, memang dikenal sebagai kaum yang pandai sekaligus licik dalam mengelola bisnis mereka di Madinah. Komoditas-komoditas penting mereka kuasai seperti biji-bijian, korma, khamr, dan kain.

Dan ketika mereka berperang dengan kabilah kabilah Arab, mereka selalu mengancam bahwa mereka akan mengalahkan semua kabilah Arab yang ada di Madinah JIKA nabi terakhir yang mereka tunggu tunggu telah datang.
Mereka mengira bahwa nabi yang diutus terakhir untuk manusia berasal dari bangsa mereka (Yahudi).Tetapi mereka salah sangka, nabi dan rasul terakhir yang diutus ternyata berasal dari keturunan Nabi Ismail, dari bangsa Arab.

Kelak, justru nabi yang mereka tunggu tunggu dengan penuh harap itu, yang akan mengusir mereka dari Yastrib. Dan setelah sekitar 5 abad menetap di Yastrib, sekali lagi, mereka kembali harus diusir dan kemudian mengembara entah kemana.
Hal itu terjadi setelah perang demi perang dan pengkhianatan yang mereka lakukan. Begitulah nasib suku yang diberikan banyak kelebihan oleh Allah, namun karena sifat buruk mereka, mereka menjadi kaum yang paling sering diusir dan mengembara kemana mana.

Syaikh Shafiyyurahman Al-Mubarakfury. Sirah Nabawiyah. Pustaka Al-Kautsar. Cetakan ke-15. Februari 2004. hal.243.

Wallahu a’lam bishowab

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ ♥ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ♥ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ ♥ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ♥ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

Sejarah Baitul Maqdis [Yerusalem] [1]
Sejarah Baitul Maqdis [Yerusalem] [2]
Sejarah Baitul Maqdis [Yerusalem] [3]
Sejarah Baitul Maqdis [Yerusalem] [4]