بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Saudah binti Zam’ah adalah istri kedua Rasulullah. Rasulullah menikahi Saudah pada 2 tahun sebelum Hijrah atau 621 M. Bersamaan dengan pernikahan Rasulullah dengan Aisyah binti Abu Bakar. Namun bedanya Aisyah belum dicampur oleh Rasulullah hingga tahun pertama Hijriah.

Sehingga Saudah menjadi istri satu satunya Rasulullah setelah kematian Khadijah hingga tahun pertama Hijriah ketika Rasulullah resmi mencampur Aisyah.

.

Nasab Saudah binti Zam’ah

Nama lengkap Saudah adalah  Saudah binti Zam’ah bin Qais bin Abdu Syams bin Abdu Wadd bin Nashr bin Malik bin Hisl bin Amir bin Luai bin Ghalib.  Saudah berasal dari suku Quraishy Amiriah.

Ibunya adalah Syamusy binti Qois bin Zaid An-Najjariiyyah.

Ayahnya adalah Zam’ah bin Qais.

.


Tahun Kelahiran Saudah

Tidak diketahui tahun kelahiran Saudah.

.


Tahun Wafatnya Saudah

Meninggal di Madinah tahun 54 H di akhir pemerintahan Umar al Faruq.

.


Tahun Pernikahan Dengan Rasulullah

Saudah menikah dengan Rasul pada tahun 621 M atau 2 BH. Setelah menikahi Saudah, Rasul juga menikahi Aisyah di tahun yang sama.

.


Riwayat Pernikahan Saudah

Suami pertama Saudah ialah al Sakran bin Amr bin Abdu Syams.  Saudah dan suaminya al Sakran adalah di antara mereka yang pernah berhijrah ke Habsyah. Saat suaminya meninggal dunia setelah pulang dari Habasyah, maka Rasulullah  mengambilnya menjadi istri untuk memberi perlindungan kepadanya dan memberi penghargaan yang tinggi kepada suaminya.

Karena bagaimanapun, Saudah adalah orang orang yang paling awal memeluk Islam hingga mereka harus hijrah ke Habsyah akibat tak mampu menanggung kekejaman Quraishi.

Acara pernikahan dilakukan oleh Salit bin Amr. Riwayat lain menyatakan upacara dilakukan oleh Abu Hatib bin Amr. Maskawinnya ialah 400 dirham.

.

NoNama, Lahir Wafat, Nikah, Status, Suami Sebelumnya, Anak Dari Nabi
1Khadijah binti Khuwailid, 555 M/ 55 BB - 619 M/ 4 BH, 595 M, Janda, Atiq bin Abid dan Abu Halah bin Malik, Qasim - Zaynab - Abdullah - Ruqayyah - Ummu Kultsum - Fatimah
2Saudah binti Zam'ah, ? - 54 H, 620/621 M atau 3/2 BH, Janda, Sakran bin Amr bin Abdu Syams, Tidak Ada
3Aisyah binti Abu Bakar, 614 M/ 9 BH - 58 H, 620/621 M atau 3/2 BH Gadis,-Tidak Ada
4Hafshah binti Umar,607 M/ 3 BB - 45 H,3 H, Janda, Khunais bin Hudhafah al Sahmiy,Tidak Ada
5Zainab binti Khuzaimah, 597 M/ 13 BB - 4 H, 3 H, Janda, Ubaidah bin Al Haris bin Al Muthalib,Tidak Ada
6Ummu Salamah, 597 M/ 13 BB - 680 M, 4 H, Janda, Abdullah bin Abdul Asad Al Makhzumi,Tidak Ada
7Juwairiyah Binti Al Harits, 609 M/ 14 BH - 50 H, 5 H, Janda, Musafi’ bin Shafwan,Tidak Ada
8Zainab binti Jahsy,590 M/ 33 BH - 20 H, 5 H, Janda, Zaid bin HaritshahTidak Ada
9Ummu Habibah,592 M/ 31 BH - 44 H, 6 H,Janda,Ubaydullah bin Jahsy,Tidak Ada
10Maymunah binti Harits, 604 M/ 6 BB - 63 H, 6 H, Janda,Ibnu Mas’ud bin Amru bin Ats-Tsaqafi dan Abu Ruham bin Abdul Uzza, Tidak Ada
11Shafiyah binti Huyay,612 M/ 2 B - masa kekhalifahan Mu’awiyah,629 M atau 7 H,Janda,Salam bin Abi Al-Haqiq dan Kinanah bin Rabi' bin Abil Hafiq, Tiidak Ada
12Maria Qibtiyah, ?7 HBudak- Ibrahim

*Istilah yang digunakan :

M = Tahun Masehi

H = Tahun Hijirah,

BH = sebelum tahun Hijrah

B = Tahun Kenabian, yakni tahun saat Muhammad diangkat menjadi Rasul yakni tahun 610 M, dengan asumsi Rasul lahir tahun 570 M

BB = sebelum Tahun Kenabian,

.


Kisah Saudah binti Zam’ah

Rasul masih sedih karena kematian Khadijah. Kemudian Khaulah binti Hakim [ istri dari Utsman bin Mazh’un, salah seorang sahabat yang meninggal pada tahun 2 H ] mendatangi Rasulullah dan bertanya :

‘Wahai Rasulullah, tidakkah engkau ingin menikah lagi?’

“Dengan siapa?” tanya beliau.

“Dengan Saudah binti Zam’ah, karena dia telah beriman padamu dan mengikutimu.” Jawab Khaulah.

Rasulullah kemudian berkata, “Baiklah, pinanglah dirinya buatku!”

Setelah itu, Khaulah segera beranjak menuju Saudah. “Kebaikan dan berkah apa
yang dimasukkan Allah kepadamu, wahai Saudah?” kata Khaulah ketika mereka bertemu.

Saudah balik bertanya karena tidak tahu maksudnya, “Apakah itu, wahai Khaulah?”

Khaulah menjawab, “Rasulullah SAW mengutus aku untuk meminangmu.”

Saudah berkata dengan suara gemetar, “Aku berharap engkau masuk kepada ayahku dan menceritakan hal itu kepadanya.”

Dan ayahnya yang sudah tua, sedang duduk-duduk santai. Khaulah memberinya salam, lalu si ayah berkata, “Apakah kau datang melamar pagi-pagi, siapakah dirimu?”

“Saya Khaulah binti Hakim,” jawabnya.

Lalu ayah Saudah menyambutnya. Kemudian Khaulah berkata padanya, “Sesungguhnya Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib meminang anak perempuanmu.”

Ayah Saudah berkata, “Muhammad adalah seorang yang mulia. Lalu apa yang dikatakan oleh sahabatmu (Rasulullah)?”

“Dia menyukai hal itu,” jawab Khaulah.

Kemudian ayah Saudah berkata, “Sampaikan padanya (Muhammad) agar datang ke sini!”

Kemudian Rasulullah SAW datang padanya dan menikahi Saudah.

Dari Ibnu Abbas diceritakan bahwa Nabi SAW meminang Saudah yang sudah mempunyai lima anak atau enam anak yang masih kecil-kecil. Saudah berkata, “Demi Allah, tidak ada hal yang dapat menghalangi diriku untuk menerima dirimu, sedang kau adalah sebaik-baik orang yang paling aku cintai. Tapi aku sangat memuliakanmu agar dapat menempatkan mereka, anak-anakku yang masih kecil, berada di sampingmu pagi dan malam.”

Rasulullah SAW berkata padanya, “Semoga Allah menyayangi kau, sesungguhnya sebaik-baik wanita adalah mereka yang menunggangi unta, sebaik-baik wanita Quraisy adalah yang bersikap lembut terhadap anak di waktu kecilnya dan merawatnya untuk pasangannya dengan tangannya sendiri.”

.


Kisah Pernikahan Saudah

Sebelum menikah dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Saudah telah menikah dengan Sakran bin Amr Al-Amiry, mereka berdua masuk Islam dan kemudian berhijrah ke Habasyah bersama dengan rombongan sahabat yang lainnya.

Ketika Sakran dan istrinya Saudah tiba dari Habasyah maka Sakran jatuh sakit dan meninggal. Maka jadilah Saudah menjanda. Saudah kemudian kembali ke Mekah bersama rombongan Ja’far.

Kemudian Muhammad menikah dengan Saudah pada bulan Ramadhan satu tahun sebelum Hijriyah.

Setelah dinikahi, Saudah langsung tinggal dirumah Muhammad.  Pada saat itu  di rumah Muhammad ada Ruqayah, Ummu Kultsum, Fathimah dan semua anak anak Khadijah dari suami terdahulu, yakni Hindun  [ laki laki ] dan  Hindun [ perempuan ].  Kemudian juga ada Zaid dan Ali.
Saudah lah yang mengurus semua anak2 Muhammad, mengurus rumah tangga beliau tanpa kenal lelah.

.


Saudah Yang Humoris

Saudah adalah tipe seorang istri yang menynangkan suaminya dengan kesegaran candanya, sebagaimana dalam kisah yang diriwayatkan oleh Ibrahim AN-Nakha’i bahwasanya Saudah berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Wahai Rasulullah tadi malam aku shalat di belakangmu, ketika ruku’ punggungmu menyentuh hidungku dengan keras, maka aku pegang hidungku karena takut kalau keluar darah,” maka tertawalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Ibrahim berkata, Saudah biasa membuat tertawa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan candanya. (Thobaqoh Kubra, 8:54).

.


Tak Ingin Dicerai

Ketika Saudah sudah tua Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berniat hendak mencerainya, maka Saudah berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah janganlah Engkau menceraikanku. Bukanlah aku masih menghendaki laki-laki, tetapi karena aku ingin dibangkitkan dalam keadaan menjadi istrimu, maka tetapkanlah aku menjadi istrimu dan aku berikan hari giliranku kepada Aisyah.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabulkan permohonannya dan tetap menjadikannya salah seorang istrinya sampai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal. Dalam hal ini turunlah ayat Alquran surat An Nisa ayat 128 :

وَإِنِ امْرَأَةٌ خَافَتْ مِن بَعْلِهَا نُشُوزًا أَوْ إِعْرَاضًا فَلاَجُنَاحَ عَلَيْهِمَآ أَن يُصْلِحَا بَيْنَهُمَا صُلْحًا وَالصُّلْحُ خَيْرٌ وَأُحْضِرَتِ اْلأَنفُسُ الشُّحَّ وَإِن تُحْسِنُوا وَتَتَّقُوا فَإِنَّ اللهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا

“Dan jika seorang wanita khawatir akan nusyuz atau sikap tidak acuh dari suaminya, maka tidak mengapa bagi keduanya mengadakan perdamaian yang sebenar-benarnya, dan perdamaian itu lebih baik.”

.


Keutamaan Saudah 

  • Saudah dikenal sebagai orang yang suka bersedekah. Umar bin Khathab pernah mengirim sekantung penuh dengan dirham padanya. Kemudian Saudah bertanya, “Apa ini?”  Mereka berkata, “Dirham yang banyak.”  Lalu Saudah berkata, “Dalam kantung seperti setandang kurma, wahai jariyah, yakinkan diriku.” Kemudian dia membagi-bagikan dirham tadi.
  • Aisyah berkata, “Bahwa sebagian isteri-isteri Nabi SAW berkata, “Wahai Rasulullah, siapakah di antara kami yang paling cepat menyusulmu ?” Nabi SAW menjawab, “Yang terpanjang tangannya di antara kalian.” Kemudian mereka mengambil tongkat untuk mengukur tangan mereka. Ternyata, Saudah adalah orang yang terpanjang tangannya di antara mereka. Kemudian kami mengetahui, bahwa maksud dari panjang tanganya adalah suka sedekah. Saudah memang suka memberi sedekah dan dia yang paling cepat menyusul Rasulullah di antara kami.” (HR Syaikhain dan Nasai)
  • Aisyah berkata, “Saudah meminta izin kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada waktu malam Muzdalifah untuk berangkat ke Mina sebelum berdesak-desakkannya manusia. Dia adalah perempuan yang berat jika berjalan, sungguh kalau saat itu aku meminta izin kepadanya lebih aku sukai daripada orang yang dilapangkan.” (Thobaqoh Kubra, 8:54)
  • Aisyah berkata, “Aku tidak pernah melihat wanita yang paling aku ingin sekali menjadi dia daripada Saudah bintI Zam’ah, ketika dia tua dia berikan gilirannya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepadaku.” (Shahih Muslim, 2:1085)
  • Di antara keutamaan Saudah adalah ketaatan dan kesetiaannya yang sangat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.  Ketika haji wada’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada istri-istrinya, “Ini adalah saat haji bagi kalian kemudian setelah ini hendaknya kalian menahan diri di rumah-rumah kalian,”  Maka sepeninggal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam Saudah selalu di rumahnya dan tidak berangkat haji lagi sampai dia meninggal. (Sunan Abu Dawud 2:140)
  • Suatu saat Sa’ad bin Waqqash dan Abd bin Zam’ah saudara laki-laki Saudah berebut seorang anak di hapadan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Sa’ad berkata, “Wahai Rasulullah ini adalah anak saudaraku Utbah bin Abi Waqqash yang telah diserahkan kepadaku semasa hidupnya, lihatlah kemiripannya dengannya,”.   Abd bin Zam’ah berkata, “Wahai Rasulullah ini adalah saudaraku karena dilahirkan di ranjang bapakku dari budak perempuannya,” maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat anak tersebut dan merasakan kemiripannya yang sangat dengan Utbah bin Abi Waqqash, kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :  “Dia adalah milikmu wahai Abd. Anak adalah bagi pemilik ranjang, dan yang berzina terhalang darinya, dan berhijablah Engkau darinya wahai Saudah!” Aisyah berkata, “Maka anak itu tidak pernah melihat Saudah sesudah itu.” (Shahih Bukhari, 2:773 no 6749 dan Shahih Muslim, 2:1080)
  • Aisyah berkata, “Sesudah turun ayat hijab keluarlah Saudah di waktu malam untuk menunaikan hajatnya. Dia adalah wanita yang berperawakan tinggi besar sehingga mudah sekali dibedakan dari wanita yang lainnya. Saat itu Umar melihatnya dan berkata, “Wahai Saudah demi Allah kami tetap bisa mengenalimu,” maka lihatlah bagaimana Engkau keluar, maka Saudah segera kembali dan menuju kepada Rasulullah yang waktu itu di rumah Aisyah. Pada saat itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang makan malam, di tangannya ada sepotong daging, maka masuklah Saudah kepadanya seraya berkata, “Wahai Rasulullah sesungguhnya aku keluar untuk sebagai keperluanku dalam keadaan berhijab tetapi Umar mengatakan ini dan itu,” maka saat itu turunlah wahyu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,  “Sesungguhnya telah diizinkan bagi kalian para wanita untuk keluar menunaikan hajatmu.” (Shahih Bukhari, 1:67 no. 4795 dan Shahih Muslim 4:1709)
  • Saudah terkenal juga dengan kezuhudannya, ketika Umar mengirim kepadanya satu wadah berisi dirham, ketika sampai kepadanya maka dibagikannya (Thobaqoh Kubra, 8:56 dan Dishahihkan sanadnya oleh Ibnu Hajar dalam Al-Ishobah, 7:721).

.


Peran Saudah Dalam Penyebaran Hadis 

Saudah termasuk deretan istri istri Nabi yang menghafal dan menyampaikan sunnah sunnah Nabi. Hadis-hadisnya diriwayatkan oleh para imam yang terkemuka seperti Ahmad, Bukhari, Abu Dawud dan Nasai.

.


Wafatnya

Saudah meninggal di akhir kekhilafan Umar di Madinah tahun 54 Hijriyah. Sebelum dia meninggal, dia mewasiatkan rumahnya kepada Aisyah. Semoga Allah meridhainya dan membalasnya dengan kebaikan yang melimpah.

.

Wallahu a’lam bishowab Wallahu a’lam bishowab

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ ♥ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ♥ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ ♥ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ♥ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

.