بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Satu abad yang lalu, tepatnya 2 Nopember 1917, bangsa Ingris yang beragama Nasrani, telah ‘menjual’ Palestina kepada Yahudi.  Padahal, di Palestina, ada Yerusalem, yang juga merupakan tanah suci agama Nasrani.  Karena disanalah Yesus, Tuhan mereka dilahirkan dan disalib.  Yerusalem juga merupakan kiblat agama Nasrani.

Pengkhianatan itu, lucunya, tiap tahun dikenang dengan rasa bangga oleh orang orang Nasrani, terutama bangsa Inggris.

Menteri Luar Negeri Boris Johnson amat membanggakan peran Inggris dalam mendukung terbentuknya Israel dengan mendukung pendirian rumah bagi orang-orang Yahudi di Palestina pada 1971 silam.

Dukungan Inggris tersebut tertuang dalam sebuah pernyataan publik pada satu abad silam, tepatnya November 1917, yang ditandatangani oleh menlu saat itu, Arthur Balfour, dan kini dikenal dengan Deklarasi Balfour.

“Saya bangga dengan Inggris yang ikut berperan dalam menciptakan negara Israel. Dokumen tersebut penting dan sangat diperlukan untuk menciptakan sebuah negara besar,” tutur Johnson dalam artikel yang ia tulis di Telegraph, sebagaimana dikutip AFP, Senin (30/10).

Apakah Deklarasi Balfour itu?

Saat Perang Dunia I [1914 – 1918], Kekaisaran Otoman jatuh, dan wilayah Palestina direbut oleh negri Nasrani, yakni Inggris.  Dan negara yang kalah dalam perang- [Jerman, Austria-Hungaria, dan Kekaisaran Ottoman-] memberikan seluruh kekuasaan wilayahnya kepada para pemenang, yakni Inggris dan sejumlah negara sekutu lainnya, seperti Perancis dan Italia.

Setelah mendapat ‘mandat’ itu, Inggris yang merupakan salah satu negri Kristen yang besar, mulai memfasilitasi perpindahan kaum Yahudi Eropa ke Palestina. Dimulai dengan Deklarasi Balfour.  Yakni, dukungan resmi dari pemerintahan Inggris untuk pendirian “tanah air nasional” bagi orang Yahudi di Palestina.

Deklarasi tersebut menyatakan :

Pandangan pemerintahan Yang Mulia dengan sanjungan pendirian tanah air nasional bagi orang Yahudi di Palestina, dan akan memakai dorongan terbagi mereka untuk mengayomi pengabdian dari obyek ini, ini secara jelas menyatakan bahwa tak ada hal yang harus dilakukan yang dapat menghakimi hak sipil dan agama dari komunitas non-Yahudi yang ada di Palestina, atau hak dan status politik yang dinikmati oleh Yahudi di negara manapun lainnya.

Ini aneh sekali, karena Yerusalem adalah tanah suci bagi umat Nasrani. Disitulah Yesus tuhan mereka dilahirkan dan disalib. Disitu juga berdiri Gereja Suci mereka, seperti Gereja Makam Kudus.  Mengapa Inggris yang beragama Nasrani itu, tidak menjadikan Palestina, terutama Yerusalem, dibawah kontrol penuh mereka?  Tetapi malah menyerahkannya kepada Yahudi, yang semua bangsa tahu, Yahudi adalah bangsa yang penuh tipu daya.  Tidakkah orang orang Nasrani itu telah berkhianat terhadap Tuhannya sendiri?

Deklarasi tersebut tercantum dalam sebuah surat tertanggal 2 November 1917 dari Menteri Luar Negeri Britania Raya Arthur Balfour kepada Lord Walter Rothschild, seorang pemimpin komunitas Yahudi Britania, untuk transmisi ke Federasi Zionis Britania Raya dan Irlandia. Teks deklarasi tersebut diterbitkan dalam pers pada 9 November 1917.

Meski begitu, dalam deklarasi tersebut, Inggris memberikan catatan tambahan : untuk tidak “mengurangi hak sipil dan agama dari komunitas non-Yahudi yang ada di Palestina.”  Tetapi dunia tahu, catatan tambahan itu cuma omong kosong belaka.

Karena pada akhirnya, Yerusalem berada dibawah kendali penuh Israel laknatullah.  Bahkan bukan hanya masjidil Aqsha dan ribuan masjid masjid lainnya, gereja gereja di Yarusalem, tidak luput dari pengrusakan Israel. Israel bukan hanya membumihanguskan Islam, tapi juga menjajah Kristen.  Fakta ini yang dipandang sebelah mata oleh kaum nasrani sendiri.  Pathetic.

♦♦♦

Perjanjian kontroversial itu pun menjadi titik awal terbentuknya Israel hingga memicu konflik berkepanjangan di Timur Tengah sejak 1967, terutama antara Tel Aviv dan Palestina dalam Perang Enam Hari.

Dan mulai antara tahun 1922-1935, sebagaimana dilansir Al Jazeera, populasi Yahudi meningkat sembilan persen menjadi hampir 27 persen dari total populasi di Palestina.

Sejak itu, pendudukan Israel di wilayah itu pun terus meluas hingga hanya menyisakan Tepi Barat dan Jalur Gaza bagi warga Palestina.

Selain Inggris, Amerika Serikat secara tidak langsung turut mendukung terbentuknya Israel. Dalam sebuah pertemuan Kabinet Perang di London pada September 1917, para menteri Inggris memutuskan, pandangan Presiden AS saat itu, Woodrow Wilson, “juga harus terakomodasi sebelum deklarasi dikeluarkan.”

Penolakan Rakyat Palestina

Pada 1919, Presiden Wilson membentuk sebuah komisi yang dikenal sebagai King-Crane untuk meninjau opini publik terkait sistem mandat hasil PD I di Suriah dan Palestina.

Survei tersebut menunjukkan mayoritas rakyat Palestina menentang keras deklarasi itu dan gerakan zionisme di negara mereka. Komisi itu pun menganjurkan sejumlah modifikasi dalam mandat tersebut.

Seorang tokoh politik nasionalis Palestina, Awni Abd al-Hadi, pun mengecam Perjanjian Balfour itu dalam memoarnya. Ia mengatakan, deklarasi tersebut dibuat oleh orang asing dan tidak pernah diakui oleh Palestina.

Pada 1920, Kongres Palestina Ketiga di Haifa juga mencela rencana Inggris mengukuhkan wilayah bagi orang Yahudi tersebut dan menganggap Deklarasi Balfour melanggar hukum internasional atas hak-hak penduduk asli di negara itu.
Seabad Deklarasi Balfour, Awal Pendudukan Yahudi di PalestinaBalforu dan presiden pertama Israel, Chaim Weizmann, berkunjung ke Tel Aviv pada 1925. (AFP Photo/GPO/Handout)
Pendudukan Israel yang terus meluas di Palestina selama puluhan tahun terakhir meningkatkan ketegangan antara warga kedua negara. Kekerasan hingga bentrokan pun tak jarang terjadi di perbatasan kedua wilayah.

Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa pun sempat menjatuhkan sanksi atas Israel karena berkeras memperluas dan mempercepat pembangunan permukiman di wilayah tersebut.

Kini, Menlu Inggris, Boris Johnson, juga menekankan bahwa negaranya tetap berkomitmen mendukung solusi dua negara atau two state solution dalam penyelesaian konflik Israel-Palestina.

“Saya tidak ragu bahwa satu-satunya solusi tepat untuk konflik tersebut adalah visi mengenai dua negara untuk dua bangsa seperti yang pertama kali disepakati oleh Menlu Inggris Lord Peel pada 1937 lalu dalam laporan Komisi Kerajaan terkait Palestina,” kata Johnson.

“Satu abad ke depan, Inggris akan memberikan dukungan apapun yang bisa kita lakukan untuk menutup konflik dan menyelesaikan urusan yang belum selesai dari deklarasi [Balfour] tersebut.”

Wallahu a’lam bishowab

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ ♥ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ♥ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ ♥ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ♥ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ
. .