Sariyyah Abdullah bin Jahsy.   Ini adalah sariyyah atau satuan satuan pasukan Islam yang pertama yang dibentuk Rasulullah. Pada waktu itu bulan Rajab [ yang merupakah bulan haram ] tahun pertama Hijriah.

Untuk membentuk pasukan tentera Islam, Rasulullah SAW telah memilih 8 orang yang dipandangnya mampu berperang termasuk sepupu beliau yakni Abdullah bin Jahsy dan Sa’ad bin Abi Waqqas r.a. Dalam pasukan ini, Abdullah bin Jahsy telah terpilih sebagai ketua dan telah diserahkan bendera Islam pertama kepadanya. Bendera ini telah diikat pada tongkat Rasulullah SAW. Abdullah bin Jahsy telah digelar Amirul Mukminin kerana peristiwa ini.

Setelah dilantik sebagai amir, beliau telah diperintahkan oleh Rasulullah SAW untuk merisik dan mengintip musuh. Rasulullah telah memberi Surat Perintah kepada beliau dan melarang beliau membuka surat itu melainkan sesudah dua hari perjalanan. Oleh itu sesudah dua hari perjalanan, beliau telah membuka surat itu dan membacanya:

“ Bila kamu membaca surat ini, teruskanlah perjalananmu ke arah Mekah. Berhentilah diantara Thaif dan Mekah. Amatilah gerak-geri kaun Quraisy dan segera laporkan kepadaku.”

Sesuai dengan arahan Rasulullah SAW, Abdullah bin Jahsy r.a meneruskan perjalanannya dan tiba di Nakhlah. Di tempat tersebut mereka mempersiapkan pos perisikan dan ketika mereka bersiap-siap, tiba-tiba dari jarak yang agak jauh mereka terlihat sekumpulan kabilah Quraisy terdiri daripada Amr bin Hadhramy, Hakam bin Kaysan, Utsman bin Abdullah dan al-Mughirah bin Abdullah.

Mereka membawa dagangan seperti kulit, anggur dan sebagainya. Abdullah bin Jahsy telah bermusyuarah dengan pasukannya untuk menyerang atau membiarkan kabilah Quraisy itu. Di saat akhir bulan Haram [ Rajab ], jika mereka melakukan penyerangan, bererti melanggar kehormatan bulan itu serta akan mendatangkan kemarahan bangsa Arab. Akan tetapi jika kabilah itu dibiarkan lalu, mereka akan masuk ke tanah Haram (Mekah) iaitu bererti membiarkan mereka masuk ke tempat aman.

Akhirnya mereka memutuskan menyerang dah merampas harta kabilah itu. Seorang anggota rombongan tewas, dua ditawan dan seorang lagi berjaya melarikan diri. Tibanya di Madinah, harta rampasan dan tawanan dibawa dihadapan Rasulullah SAW. Abdullah bin Jahsy dan pasukan telah dimarahi kerana bertindak diluar arahan dan perintah Rasulullah SAW.

Baginda telah menangguhkan keputusan mengenai hukuman harta rampasan dan dua tawanan perang sementara menunggu keputusan dari Allah. Abdullah bin Jahsy dan pasukan telah digantung kerja. Mereka jelas bersalah kerana melanggar perintah Rasulullah SAW. Kaum muslimin mencela mereka sehingga mereka terase dipulaukan. Penyesalan dan kesedihan menjadi lebih teruk apabila mereka mengetahui kaum Quraisy menggunakan peluang ini untuk menekan Rasulullah SAW dan kaum Muslimin. Mereka menyebarkan berita dikalangan kabilah-kabilah Arab, bahawa kaum Muslimin telah menghalalkan pertumpahan darah dan perampasan harta dibulan Haram.

Abdullah bin Jahsy menganggung beban mental yang sangat hebat. Walau bagaimanapun, beliau tetap terus beristigfar dan memohan ampun kepada Allah SWT sehingga turunnya Al Baqarah ayat 217 membawa berita gembira.

. يَسْأَلُونَكَ عَنِ الشَّهْرِ الْحَرَامِ قِتَالٍ فِيهِ قُلْ قِتَالٌ فِيهِ كَبِيرٌ وَصَدٌّ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ وَكُفْرٌ بِهِ وَالْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَإِخْرَاجُ أَهْلِهِ مِنْهُ أَكْبَرُ عِنْدَ اللَّهِ وَالْفِتْنَةُ أَكْبَرُ مِنَ الْقَتْلِ وَلا يَزَالُونَ يُقَاتِلُونَكُمْ حَتَّى يَرُدُّوكُمْ عَنْ دِينِكُمْ إِنِ اسْتَطَاعُوا وَمَنْ يَرْتَدِدْ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَيَمُتْ وَهُوَ كَافِرٌ فَأُولَئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan Haram. Katakanlah: “Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar; tetapi menghalangi (manusia) dari jalan Allah, kafir kepada Allah, (menghalangi masuk) Masjidilharam dan mengusir penduduknya dari sekitarnya, lebih besar (dosanya) di sisi Allah. Dan berbuat fitnah lebih besar (dosanya) daripada membunuh. Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. Barang siapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya

Turunnya ayat ini telah menenangkan hati Rasulullah SAW.  Harta rampasan diberike Baitul Man dan kedua tawanan dibebaskan. Harta rampasan ini adalah harta rampasan pertama umat Islam dan musuh yang dibunuh adalah musyrik pertama yang tertumpah darahnya di tangan kaum Muslimin. Bendara pasukan mereka juga, bendara pertama yang diikat oleh Rasulullah

 

 

Sarriyah  Abdullah ibn Jahsy. Dalam bulan Rajab tahun pertama Hijriah, Abdullah bin Jahsy dikirim oleh Rasulullah bersama-sama beberapa orang Muhajirin, dan sepucuk surat diberikan kepadanya dengan
perintah untuk tidak dibuka sebelum mencapai dua hari
perjalanan. Ia menjalankan perintah itu. Kawan-kawannyapun tak
ada yang dipaksanya. Dua hari kemudian Abdullah membuka surat
itu, yang berbunyi: “Kalau sudah kaubaca surat ini, teruskan
perjalananmu sampai ke Nakhla (antara Mekah dan Ta’if) dan
awasi keadaan mereka. Kemudian beritahukan kepada kami.”

Disampaikannya hal ini kepada kawan-kawannya dan bahwa dia
tidak memaksa siapapun. Kemudian mereka semua berangkat
meneruskan perjalanan, kecuali Said b. Abi Waqqash (Banu
Zuhra) dan ‘Utba b. Ghazwan yang ketika itu sedang pergi
mencari untanya yang sesat tapi oleh pihak Quraisy mereka lalu
ditawan.

Sekarang Abdullah dan rombongannya meneruskan perjalanan
sampai ke Nakhla. Di tempat inilah mereka bertemu dengan
kafilah Quraisy yang dipimpin oleh ‘Amr bin’l-Hadzrami dengan
membawa barang-barang dagangan. Waktu itu akhir Rajab.
Teringat oleh Abdullah b. Jahsy dan rombongannya dari kalangan
Muhajirin akan perbuatan Quraisy dahulu serta harta-benda
mereka yang telah dirampas. Mereka berunding. “Kalau kita
biarkan mereka malam ini mereka akan sampai di Mekah dengan
bersenang-senang. Tapi kalau mereka kita gempur, berarti kita
menyerang dalam bulan suci,2” kata mereka.

Mereka maju-mundur, masih takut-takut akan maju. Tetapi
kemudian mereka memberanikan diri dan sepakat akan bertempur,
siapa saja yang mampu dan mengambil apa saja yang ada pada
mereka. Salah seorang anggota rombongan itu melepaskan
panahnya dan mengenai ‘Amr bin’l-Hadzrami yang kemudian tewas.
Kaum Muslimin menawan dua orang dari Quraisy.

Sesampainya di Medinah Abdullah b. Jahsy membawa kafilah dan
kedua orang tawanannya itu kepada Rasul, dan kelima barang
rampasan itu diserahkan mereka kepada Muhammad. Tetapi setelah
melihat mereka ini ia berkata, “Aku tidak memerintahkan kamu
berperang dalam bulan suci.”

Kafilah dan kedua tawanan itu ditolaknya. Samasekali ia tidak
mau menerima. Abdullah b. Jahsy dan teman-temannya merasa
kebingungan sekali. Teman-teman sejawat mereka dari kalangan
Musliminpun sangat menyalahkan tindakan mereka itu.

Kesempatan ini oleh Quraisy sekarang dipergunakan.
Disebarkannya provokasi kesegenap penjuru, bahwa Muhammad dan
kawan-kawannya telah melanggar bulan suci, menumpahkan darah,
merampas harta-benda dan menawan orang. Karena itu orang-orang
Islam yang berada di Mekahpun lalu menjawab, bahwa
saudara-saudara mereka seagama yang kini hijrah ke Medinah
melakukan itu dalam bulan Sya’ban. Lalu datang orang-orang
Yahudi turut mengobarkan api fitnah. Ketika itulah datang
firman Tuhan:

“Mereka bertanya kepadamu tentang perang dalam bulan suci.
Katakanlah: “Perang selama itu adalah soal (pelanggaran)
besar. Tetapi menghalangi orang dari jalan Allah dan
mengingkari-Nya, menghalangi orang memasuki Mesjid Suci dan
mengusir orang dari sana, bagi Allah lebih besar
(pelanggarannya). Fitnah itu lebih besar dan pembunuhan. Dan
mereka akan tetap memerangi kamu, sampai mereka berhasil
memalingkan kamu dari agamamu, kalau mereka sanggup.” (Qur’an,
2: 217)

Dengan adanya keterangan Qur’an dalam soal ini hati kaum
Muslimin merasa lega kembali. Penyelesaian kafilah dan kedua
orang tawanan itu kini di tangan Nabi, yang kemudian oleh
Quraisy akan ditebus kembali. Tetapi kata Nabi:

“Kami takkan menerima penebusan kamu, sebelum kedua sahabat
kami kembali – yakni Sa’d b. Abi Waqqash dan ‘Utba ibn
Ghazwan. Kami kuatirkan mereka di tangan kamu. Kalau kamu
bunuh mereka, kawan-kawanmu inipun akan kami bunuh.”

Setelah Said dan ‘Utba kembali, Nabi mau menerima tebusan
kedua tawanan itu. Tapi salah seorang dari mereka, yaitu
Al-Hakam b. Kaisan masuk Islam dan tinggal di Medinah, sedang
yang seorang lagi kembali kepada kepercayaan nenek-moyangnya.

Pasukan Abdullah b. Jahsy ini dan ayat suci yang diturunkan
karenanya itu, patut sekali kita pelajari. Menurut hemat kami,
ini adalah suatu persimpangan jalan dalam politik Islam.
Kejadian ini merupakan peristiwa baru, yang memperlihatkan
adanya jiwa yang kuat dan luhur, suatu kekuatan yang bersifat
insani, meliputi seluk-beluk kehidupan material, moral dan
spiritual. Ia begitu kuat dan luhur dalam tujuannya hendak
mencapai kesempurnaan. Quran memberikan jawaban kepada mereka
yang ikut bertanya tentang perang dalam bulan suci: adalah itu
termasuk pelanggaran-pelanggaran besar, yang diiakan bahwa itu
memang masalah besar. Tetapi ada yang lebih besar dari itu.
Menghalangi orang dari jalan Allah serta mengingkari-Nya
adalah lebih besar dari perang dan pembunuhan dalam bulan
suci, dan memaksa orang meninggalkan agamanya dengan ancaman,
dengan bujukan atau kekerasan adalah lebih besar daripada
membunuh orang dalam bulan suci atau bukan dalam bulan suci.
Orang-orang musyrik dan Quraisy yang telah menyalahkan kaum
Muslimin karena mereka melakukan perang dalam bulan suci
mereka akan selalu memerangi umat Islam supaya berpaling dari
agamanya bila mereka sanggup. Apabila pihak Quraisy dan
orang-orang musyrik itu semua melakukan
pelanggaran-pelanggaran ini, menghalangi orang dari jalan
Allah dan mengingkariNya, apabila mereka ternyata mengusir
orang dari Mesjid Suci, memperdayakan orang dari agamanya,
maka jangan disalahkan orang yang menjadi korban penindasan
dan pelanggaran itu bila ia juga memerangi mereka dalam bulan
suci. Tetapi bagi orang yang tidak mengalami beban penderitaan
ini, melakukan perang dalam bulan suci memang suatu
pelanggaran.