XI. Strategi Syiah Dalam BerHujjah

 

 

Bab terakhir ini sebenarnya ingin saya sisipkan menjadi lampiran.   Tapi lantaran buku ini dipublish secara gratis, maka lampiran atau tidak, rasanya tidak ada bedanya.

Baik, mari sekarang kita bahas soal strategi orang orang Syiah jika mereka berdebat.  Jika mereka memakai hadis atau ayat sebagai hujjah.  Orang orang Syiah terkenal sering mengutip hadis bahkan ayat ayat Al Quran untuk mereka jadikah hujjah.

Padahal mereka tak seujung kukupun percaya dengan hadis hadis yang diriwayatkanTapi pemaknaan atau arti dari hadis dan ayat tsb dibuat berdasarkan nafsu mereka saja.   Bahasa mudahnya, Syiah telah melakukan plintiran hadis dan ayat.  Jadi tidak hanya fakta sejarah yang mereka plintir, tapi juga hadis dan bahkan ayat.  Meski demikian, tidak semua orang paham akan hal itu dan mampu menjawab balik hujjah mereka.

Karena memang butuh pengetahuan yang lebih banyak untuk bisa melihat bahwa mereka telah melakukkan plintiran.

Namun secara garis besar, sebenarnya cara mereka berhujjah itu sederhana saja.   Mudah ditebak bahkan.  Karena entah kenapa, mereka seperti tanpa sadar selalu melakukan sebuah ciri ciri yang menyebabkan strategi hujjah mereka menjadi mudah dibantah.  Tapi lagi lagi, karena mereka sudah buta mata hatinya, telah tertutup imannya, maka, apapun bantahan kita, bukti bukti kita, maka mereka tak akan mau menerima.  Mereka tetap bersikeras dan bertahan dengan nash nash dari para imam syiah sendiri.  Yang kita tidak pernah tahu, siapa sesungguhnya imam syiah itu, bagaimana iman mereka.

 

Pertama

Syiah selalu memaksakan sebuah hadis atau ayat yang sebenarnya tidak dikhususkan untuk ‘ahlul bait’ versi mereka, menjadi nash yang mereka klaim sebagai khusus buat mereka.

 

Masalahnnya dalam Al Quran, tidak ada satu pun ayat yang secara khusus membicarakan hak kekhalifahan Ahlul Bait ini atas  umat Islam. Demikian juga, tidak ada satu juga hadis sahih yang menerangkan hak kepimpinan Ahlul Bait  atas umat Islam.

Namun kita dapati Syiah mengemukakan pelbagai ayat dan hadis untuk mengangkat diri mereka sebagai golongan yang sah, sebagai khalifah yang hak. Padahal ayat dan hadis yang mereka kemukakan semuanya berbentuk umum dan tidak khusus merujuk kepada Ahlul Bait maupun subjek khalifah.

Nas nas al Quran dan al Sunnah, ada yang berbentuk:

  • umum,
  • khusus,
  • mutlak,
  • membatasi,
  • menetapkan,
  • menafikan,
  • ada yang berbentuk doa,
  • anjuran,
  • peringatan,
  • isyarat dan pelbagai lagi.

Semua bentuk-bentuk ini dapat dikenali daripada zahir susunan lafaz dan perkataan yang digunakan di dalam lafaz.

Apabila Allah mengilhamkan Rasul-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam untuk bersabda dengan sesuatu yang sifatnya memberi peringatan, maka redaksinya akan jelas berupa kalimat peringatan.

Dan seandainya Allah mengkehendaki hak kekhalifahan berada di tangan Ahlul Bait, khususnya Ali bin Abi Thalib, Allah akan menurunkan nas yang berbentuk khusus lagi tepat untuk menetapkan kekhalifahan mereka sehingga tidak akan menimbulkan kesalah pengertian.

Contohnya ketika Allah mengkhususkan kepimpinan kepada Nabi Daud ‘alaihi salam dan menetapkan kerajaannya dalam Al Quran surat Shaad ayat 26 :

 يَا دَاوُدُ إِنَّا جَعَلْنَاكَ خَلِيفَةً فِي الأرْضِ فَاحْكُمْ بَيْنَ النَّاسِ بِالْحَقِّ وَلا تَتَّبِعِ الْهَوَى فَيُضِلَّكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ إِنَّ الَّذِينَ يَضِلُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ بِمَا نَسُوا يَوْمَ الْحِسَابِ

Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan.

Kemudian Allah secara khusus menetapkan Nabi Sulaiman ‘alaihi salam sebagai pewaris Nabi Daud ‘alaihi salam dalam Al Quran surat Al Naml ayat 16 :

 وَوَرِثَ سُلَيْمَانُ دَاوُدَ وَقَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ عُلِّمْنَا مَنْطِقَ الطَّيْرِ وَأُوتِينَا مِنْ كُلِّ شَيْءٍ إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْفَضْلُ الْمُبِينُ

Dan Sulaiman telah mewarisi Daud, dan dia berkata: “Hai Manusia, kami telah diberi pengertian tentang suara burung dan kami diberi segala sesuatu. Sesungguhnya (semua) ini benar-benar suatu karunia yang nyata”.

Demikian juga, apabila Allah hendak menerangkan bahawa Muhammad adalah Rasul-Nya, Allah menerangkannya dengan jelas lagi tepat sebagaimana firman-Nya:

Al Quran surat Al Fath ayat 29 :

…..  مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ

Muhammad itu adalah Rasul Allah ….

 

Namun untuk penunjukkan Ali dan Ahlul Bait sebagai pewaris kekhalifahan setelah Rasulullah, tidak kita temukan satupun ayat [ atau bahkan hadis ] yang menunjukkan secara jelas pengangkatan itu.

Hakikatnya kita tidak mendapati di dalam al Quran ayat yang berbunyi umpamanya :

“Wahai  Ali dan keturunanmu ! Sesungguhnya Kami telah menjadikan kalian khalifah di bumi ini…” atau:

“Ali dan keluarganya mewarisi kepimpinan Rasulullah” atau: “ Ali bin Abi Thalib ialah Khalifah Allah sesudah Muhammad.” atau apa-apa lain yang seumpama.

Ini tidak lain menunjukkan bahwa Allah memang tidak berkehendak menetapkan Ali dan keturunannya sebagai khalifah umat Islam sesudah Rasulullah.

Seandainya Allah mengkehendaki Ali menjadi khalifah,  Allah akan menetapkannya dengan nas yang berbentuk khusus, jelas lagi tepat.

 

Kedua

Mengkhususkan pembahasan berdasarkan sebab turun dan kelahiran nas

Salah satu strategi penghujahan Syiah ialah mengkhusus dan membataskan sebuah ayat al Quran atau hadis berdasarkan sebab turunnya ayat tersebut [ Asbabun Nuzul ] atau  hadis tersebut [ Asbabul Wurud ].

Oleh itu kita biasa menemui hujah Syiah yang berbunyi: “Ayat sekian sekian,  turun karena Imam Ali……” dan: “Hadis sekian-sekian adalah untuk Imam Ali……”

Jadi jika tidak ada Ali , maka ayat ayat itu tidak akan turun. Jika bukan karena Ali, maka hadis itu tidak akan pernah ada.

Dalam hal ini ada 8 ayat dalam Al Quran  yang dijadikan hujjah oleh Syiah.  Saya tidak akan membahas ayat ayat itu sekarang, Karena hal itu nanti masuk ke bahasan berikutnya.

Hujjah Syiah ini cukup membingungkan sebenarnya.  Karena mereka seakan akan ingin mengatakan bahwa Ali adalah sosok yang amat mulia dan istimewa, sehingga beliau menyebabkan banyak ayat ayat [penting] yang turun dengan beliau sebagai perantaranya.

Atau dengan kata lain seseorang yang menyebabkan sebuah ayat atau hadis itu turun, itu artinya orang tersebut adalah lebih mulia dan lebih istimewa dibanding mereka yang tidak.

Hujjah tersebut sebenarnya menggelikan.  Karena kita tahu, bukan hanya Ali bin Abu Thalib yang memiliki ‘posisi’ seperti itu.  Ada banyak para sahabat yang juga menjadi penyebab turunnya sebuah ayat.  Namun itu tidak menjadikan sahabat sahabat itu menjadi lebih mulia, lebih istimewa dibanding yang lain.

Sekali lagi, Syiah memiliki kekeliruan yang menggelikan dalam hujjah mereka.

Asbabun Nuzul bukan menjadi penentu kemuliaan seseorang, namun asbabun nuzul membantu umat untuk memahami arti atau tafsir sebuah ayat.

 

Jika setiap ayat al Quran dikhususkan perbicaraannya berdasarkan sebab penurunannya [ Asbabun Nuzul ], berarti ayat ayat tersebut hanya sah diperlakukan (valid) kerana faktor penyebabnya. Apabila faktor ini telah hilang, maka hilanglah juga nilai perbicaraan ayat (no longer valid).

Contohnya, apabila sebuah ayat yang umum dikhususkan perbicaraannya kerana satu perbuatan tertentu Ali bin Abi Thalib yang menjadi sebab turunnya ayat, maka nilai perlakuan ayat akan hilang apabila Ali berhenti melakukan perbuatan tersebut. Apatah lagi selepas itu Ali meninggal dunia.

Hal ini pasti tidak mungkin berlaku terhadap kitab al Quran al Karim yang diturunkan oleh Allah Subhanahu wa Ta‘ala kepada seluruh generasi manusia sehingga ke Hari Kiamat.

Penjelasan yang sama juga kepada hadis hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan sebab-sebab kelahirannya [ Asbabun Wurud ].

 

Ketiga

Jumlah rujukan yang banyak menjadi bukti kebenaran hujah.

 

Perhatikan, setiap kali mengemukakan hujah, Syiah akan menyertakan banyak sekali sumber sumber rujukan Ahlul Sunnah yang adakalanya mencapai belasan dan puluhan buah.  Sumber sumber itu dijadikan bukti bahawa hujah mereka adalah benar lagi kuat di sisi sekian sekian tokoh dan ilmuan Ahlul Sunnah yang menjadi pengarang rujukan tersebut.

Bagi yang belum pernah berhadapan dengan Syiah, banyaknya sumber sumber rujukan dari kitab kitab ahli hadis umat Islam, pasti akan membuat keder dan bahkan akan langsung menyerah kalah.

Padahal, ingatlah. Kebenaran hujah tidak diukur dengan berapa banyak jumlah rujukannya.  Tapi lihatlah hujjah yang terkandung di dalamnya.

Dan yang terpenting, periksa semua rujukan itu, apakah shahih ataukah maudlu.  Dan periksa keseluruhan nasnya, apakah disajikan secara sepotong sepotong atau utuh.

Perhatikanlah, bahwa sumber rujukan yang diambil  Syiah lazimnya hanya ditulis nama kitab dan penulisnya,  tetapi mereka tidak menukil dan menterjemahkan hujah yang terkandung di dalam rujukan tersebut.

Dan perhatikan juga, telitilah membaca rujukan itu. Karena memang seringkali rujukan itu benar adanya,  tetapi rujukan itu bukanlah untuk membenarkan Syiah. Malahan  rangka menerangkan kelemahan dan kebatilannya.

Dan yang terpenting, TIDAK ADA SATUPUN nas nas Islam yang berisi ketetapan kedudukan khalifah kepada Ali bin Abi Thalib dan Ahlul Baitnya.  Jadi semua itu masuk kategori sebagai sumber rujukan Syiah sendiri.


 

 

Daftar Isi

Kata Pengantar [ Pintu Jebakan Syiah 1]

Bagian Pertama

I.  Prolog [ Pintu Jebakan Syiah 2 ]

II. Apa dan Siapa Syiah [ Pintu Jebakan Syiah 3 ]

III. Taqiyyah adalah keyakinan dasar Syiah [ Pintu Jebakan Syiah 4 ]

IV. Perbedaan Sunni –Syiah HANYA Masalah Khilafah ? [ Pintu Jebakan Syiah 5 ]

V. Empat Kunci Pembuka Pintu Jebakan Syiah [ Pintu Jebakan Syiah 6 ]

Bagian Kedua

Pintu Jebakan Syiah

VI.     Cinta Rasul [ Pintu Jebakan Syiah 7 ]

VII.   Ghuluw [ Pintu Jebakan Syiah 8 ]

VIII.  Cerita Israiliyat dan Bahayanya [ Pintu Jebakan Syiah 9 ]

IX.   Keutamaan dan Kekhususan Nabi Muhammad [ Pintu Jebakan Syiah 10 ]

X.   Mukjizat, Shalawat, Syafaat, Washilah dan Tawassul. [ Pintu Jebakan Syiah 11 ]

XI.  Strategi Syiah Dalam BerHujjah  [ Pintu Jebakan Syiah 12 ]

XII. Penututp [ Pintu Jebakan Syiah 13 ]