[pullquote align=”left” color=”” class=”” cite=”” link=””]Perang  Khaibar[/pullquote]

Perang  Khaibar adalah pertempuran antara umat Islam dengan Yahudi Bani Nadir   di oasis Khaibar, 150 km dari Madinah.  Ini adalah daerah yang ditempati  Yahudi setelah diusir Rasulullah dari Madinah.  Rasulullah terpaksa mengusir yahudi karena  mereka melanggar perjanian damai. Di sana mereka menyusun makar untuk melampiaskan dendamnya terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Islam, dan kaum muslimin.

.


Tahun Terjadinya Pertempuran Khaibar

Pertempuran Khaibar terjadi pada tahun 629 M.  Ini adalah pertempuran yang dipimpin langsung oleh Rasulullah.

.


Kisah Pertempuran Khaibar

KHAIBAR DAN UTUSAN KEPADA RAJA-RAJA
Muhammad Husain Haekal (1/4)

Islam dan reformasi sosial – Khamr di haramkan –
Utusan-utusan Muhammad kepada raja-raja – Muslimin dan
orang-orang Yahudi – Ekspedisi Khaibar – Penumpasan
terakhir atas kekuasaan Yahudi – Jawaban raja-raja
kepada utusan-utusan Nabi – Menantikan ‘Umrah
Pengganti.

MUHAMMAD dan kaum Muslimin kembali lagi dari Hudaibiya menuju
Medinah, setelah tiga minggu persetujuan antara mereka dengan
Quraisy itu selesai – yaitu persetujuan yang menyatakan bahwa
untuk tahun ini mereka tidak akan masuk Mekah, dan baru tahun
berikutnya mereka boleh masuk. Mereka kembali dengan membawa
suatu perasaan dalam hati. Ada sebagian mereka yang masih
beranggapan bahwa isi persetujuan itu tidak sesuai dengan
harga diri kaum Muslimin, sampai akhirnya datang Surah al-Fath
sementara mereka sedang dalam perjalanan itu dan Nabi pun
telah pula membacakannya kepada mereka. Sekarang yang menjadi
pikiran Muhammad selama tinggal di Hudaibiya dan setelah
kembali pulang, ialah apa yang harus dilakukannya dalam
menambah ketabahan hati sahabat-sahabatnya disamping
memperluas penyebaran dakwah. Akhirnya ia berpendapat akan
mengutus orang-orang kepada Heraklius, Kisra, Muqauqis1,
Najasyi (Negus) di Abisinia, kepada Harith al-Ghassani dan
kepada penguasa Kisra di Yaman. Bersamaan dengan itu dianggap
perlu sekali menumpas samasekali kekuasaan Yahudi dari seluruh
jazirah Arab.

Pada waktu itu ajaran Islam sebenarnya sudah mencapai
kematangannya, sehingga ia menjadi suatu agama untuk seluruh
umat manusia, yang tidak lagi terbatas hanya pada masalah
tauhid serta segala konsekwensinya seperti dalam
masalah-masalah ibadat’ tetapi juga sudah meluas dan meliputi
segala macam kehidupan sosial. Hal ini sesuai dengan kebesaran
konsep tauhid itu dan membuat pembawanya dapat mencapai
kematangan hidup insani serta terlaksananya cita-cita hidup
yang lebih tinggi. Oleh karena itu turunlah
peraturan-peraturan yang berhubungan dengan masalah-masalah
kemasyarakatan.

Penulis-penulis riwayat hidup Nabi berbeda pendapat mengenai
kapan diturunkannya larangan khamr (minuman keras). Ada yang
mengatakan dalam tahun ke empat Hijrah. Tetapi sebagian besar
mengatakan dalam masa Hudaibiya. Idea larangan khamr ini
sosial sifatnya, yang tak ada hubungannya dengan tauhid dari
segi tauhid an sich. Bukti yang lebih jelas dalam hal ini
ialah, bahwa larangan itu disebutkan dalam Qur’an baru sekitar
duapuluh tahun kemudian setelah kerasulan Nabi, dan selama itu
pula Muslimin tetap minum khamr sampai datangnya larangan. Dan
bukti yang lebih jelas lagi dalam hal ini ialah, bahwa
larangan itu tidak sekaligus turunnya, melainkan
berangsur-angsur sehingga kaum Muslimin dapat mengurangi
kebiasaan itu sedikit demi sedikit. Bilamana larangan itu
kemudian datang, maka mereka pun berhenti minum. Dalam suatu
sumber tentang Umar bin’l-Khattab disebutkan, bahwa ketika ia
bertanya tentang khamr itu ia berkata: “Ya Allah, berikanlah
penjelasannya kepada kami.” Lalu turun ayat ini:

“Mereka bertanya kepadamu tentang khamr dan judi. Katakanlah,
dalam keduanya itu terdapat dosa besar dan juga banyak
manfaatnya buat manusia, tetapi dosanya lebih besar dari
manfaatnya.” (Qur’an, 2: 219)

Oleh karena sesudah turunnya ayat ini kaum Muslimin belum juga
mau berhenti, bahkan dari mereka ada yang sepanjang malam
minum sampai berlimpah-limpah, sehingga bila mereka pergi
sembahyang sudah tidak tahu lagi apa yang mereka baca, kembali
lagi Umar berkata: “Ya Allah, jelaskanlah kepada kami hukum
khamr itu, sebab ini menyesatkan pikiran dan harta,” maka
turun ayat ini:

“Orang-orang yang beriman. Janganlah kamu melakukan sembahyang
sementara kamu dalam keadaan mabuk supaya kamu ketahui apa
yang kamu baca.” (Qur’an, 4: 43)

Pada waktu itu muazzin Rasul pada waktu sembahyang berseru:

“Orang yang mabuk jangan ikut sembahyang!”

Sekalipun yang demikian ini membawa akibat berkurangnya
minuman itu dan dari segi ini pula pengaruhnya cukup besar,
sehingga sudah banyak dari mereka itu yang mengurangi minuman
khamr sedapat mungkin, namun beberapa waktu kemudian kembali
Umar berkata lagi:

“Ya Allah, jelaskanlah kepada kami hukum khamr itu, jelaskan
dengan tegas, sebab ini menyesatkan pikiran dan harta.”
Sebenarnya tepat sekali Umar berkata begitu, mengingat
orang-orang Arab – termasuk juga kaum Musliminnya – dengan
minuman demikian itu mereka jadi kacau, saling bertengkar,
saling menarik janggut dan saling memukul kepala satu sama
lain.

Pernah ada orang dari kalangan mereka itu mengadakan pesta
makan minum. Setelah mereka dalam keadaan mabuk, pihak
Muhajirin dan Anshar mulai saling adu mulut. Yang satu
menunjukkan sikap fanatiknya kepada Muhajirin sedang yang
fanatik kepada Anshar mengambil sebatang tulang kepala unta
yang mereka makan lalu dipukulkan kehidung salah seorang
Muhajirin. Ada lagi dua kelompok suku sedang mabuk-mabuk.
Mereka saling bertengkar, lalu saling bertikaman. Diantara
mereka timbul rasa benci-membenci, sedang sebelum itu hubungan
mereka hidup rukun dan saling cinta-mencintai. Ketika itulah
firman Tuhan ini turun:

“Orang-orang yang beriman! Bahwasanya khamr, perjudian,
berhala, mengadu nasib dengan panah, adalah perbuatan keji
yang termasuk perbuatan setan. Hindarilah itu supaya kamu
beruntung. Tentu setan bermaksud hendak menimbulkan permusuhan
dan kebencian di kalangan kamu dengan jalan khamr dan
perjudian itu, merintangi kamu dari mengingat Allah dan dari
sembahyang. Maka maukah kamu menghentikan?” (Qur’an, 5 90-91)

Ketika ada pelarangan khamr, waktu itu Anas yang bertugas
sebagai pelayan. Setelah didengarnya ada orang yang menyerukan
bahwa minuman itu dilarang, cepat-cepat cairan itu dibuangnya.
Tetapi ada orang-orang yang bagi mereka soal larangan ini
belum jelas, mereka berkata: mungkinkah khamr itu keji padahal
sudah di perut si anu dan si fulan, yang sudah terbunuh dalam
perang Uhud, juga dalam perut si anu dan si anu yang terbunuh
dalam perang Badr? Maka firman Tuhan ini turun:

“Tiada berdosa orang-orang yang beriman dan yang mengerjakan
perbuatan-perbuatan yang baik, karena makanan yang telah
mereka makan dahulu, asal saja mereka tetap memelihara diri
dari kejahatan, tetap beriman dan mengerjakan
perbuatan-perbuatan yang baik. Kemudian mereka tetap bertakwa
dan beriman kemudian bertakwa dan berbuat kebaikan. Tuhan
menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan.” (Qur’an, 5: 93)

Segala perhuatan baik dan kasih sayang yang dianjurkan Islam,
mengajak orang selalu melakukan amal kebaikan, latihan jiwa
dan watak yang terdapat dalam ibadat, fungsi ruku’ dan sujud
dalam sembahyang yang telah mcnghapuskan kecongkakan hati,
semua itu merupakan pelengkapan yang wajar terhadap
agama-agama yang sebelumnya dan yang menyebabkan ajaran ini
tertuju kepada semua umat manusia.

Pada waktu itu Heraklius dan Kisra masing-masing sebagai
kepala kerajaan Rumawi dan Persia, dua buah kerajaan yang
terkuat pada zamannya merupakan dua orang yang telah
menentukan jalannya politik dunia serta nasib seluruh
penduduknya. Perang antara dua kerajaan ini berkecamuk dengan
kemenangan yang selalu silih berganti seperti yang sudah kita
lihat. Pada mulanya Persia adalah pihak yang menang. Ia
menguasai Palestina dan Mesir, menaklukkan Bait’l-Maqdis
(Yerusalem) dan berhasil membawa Salib Besar (The True Cross).
Kemudian giliran Persia mengalami kekalahan lagi. Panji-panji
Bizantium kembali berkibar lagi di Mesir, di Suria dan di
Palestina, dan Heraklius berhasil mengen-balikan salib itu –
setelah ia bernadar – bahwa kalau ia telah mencapai
kemenangan, ia akan berziarah ke Yerusalem dengan berjalan
kaki dan mengembalikan salib ke tempatnya.

Kalau saja orang ingat akan kedudukan kedua kerajaan itu,
orang akan dapat mengira-ngirakan betapa besarnya dua nama itu
telah dapat menimbulkan kegentaran dan ketakutan dalam hati.
Tiada sebuah kerajaan pun yang pernah berpikir hendak
melawannya. Yang terlintas dalam pikiran orang ialah hendak
membina persahabatan dengan kedua kerajaan itu. Kalau
kerajaan-kerajaan dunia yang terkenal pada waktu itu sudah
begitu semua keadaannya, maka tidak aneh bila negeri-negeri
Arab itu pun akan demikian pula. Yaman dan Irak waktu itu di
bawah pengaruh Persia, sedang Mesir sampai ke Syam di bawah
pengaruh Heraklius. Pada waktu itu Hijaz dan seluruh
semenanjung jazirah terkurung dalam lingkaran pengaruh kedua
kemaharajaan itu. Kehidupan orang Arab pada masa itu hanya
tergantung pada soal perdagangan dengan Yaman dan Syam. Dalam
hal ini perlu sekali mereka mengambil hati Kisra dan Heraklius
supaya kekuasaan kedua kerajaan itu jangan sampai merusak
perdagangan mereka. Di samping itu kehidupan orang-orang Arab
itu tidak lebih daripada kabilah-kabilah, yang dalam
bermusuhan, kadang keras, kadang lunak. Tak ada sesuatu ikatan
diantara mereka yang akan merupakan suatu kesatuan politik,
yang akan dapat mereka pikirkan dalam menghadapi pengaruh
kedua kerajaan raksasa itu.

Oleh karena itu mengherankan sekali jika pada waktu itu
Muhammad berpikir hendak mengirimkan utusan-utusannya kepada
kedua penguasa besar itu – juga kepada Ghassan. Yaman, Mesir
dan Abisinia. Diajaknya mereka itu meinganut agamanya, tanpa
ia merasa kuatir akan segala akibat yang mungkin timbul karena
tindakannya itu, dan yang mungkin juga akan dapat membawa
seluruh negeri Arab itu tunduk dibawah cengkeraman Persia dan
Bizantium.

Akan tetapi kenyataannya Muhammad tidak ragu-ragu mengajak
semua raja-raja itu menganut agama yang benar. Bahkan pada
suatu hari ia pergi menemui sahabat-sahabatnya dan berkata:

“Saudara-saudara. Tuhan mengutus saya adalah sebagai rahmat
kepada seluruh umat manusia. Janganlah saudara-saudara
berselisih pendapat tentang saya, seperti kaum Hawariyun
(pengikut-pengikut Almasih) tentang Isa anak Mariam.”

Rasulullah,” kata sahabat-sahabatnya. “Bagaimana
pengikut-pengikut Isa itu berselisih pendapat?”

“Ia mengajak mereka kepada apa yang seperti saya ajak
saudara-saudara. Orang yang diutusnya ke tempat yang dekat,
orang itu menerima dan dengan senang hati. Tetapi orang yang
diutusnya ke tempat yang jauh, muka orang itu terpaksa dan
segan-segan.”

Kemudian dikatakannya kepada mereka bahwa ia akan mengutus
orang-orang kepada Heraklius, kepada Kisra, Muqauqis, Harith
al-Ghassani raja Hira, Harith al-Himyari raja Yaman dan kepada
Najasi di Abisinia. Akan diajaknya mereka itu masuk Islam.
Sahabat-sahabatnya menyatakan mereka bersedia melakukan itu.
Lalu dibuatnya sebentuk cincin dari perak bertuliskan:
Muhammad Rasulullah.”

Isi suratsurat yang dikirimkan itu seperti contoh yang kita
kemukakan kepada pembaca, yaitu suratnya kepada Heraklius yang
berbunyi:

“Dengan nama Allah, Pengasih dan Penyayang. Dari Muhammad
hamba Allah kepada Heraklius pembesar Rumawi. Salam sejahtera
kepada orang yang sudi mengikut petunjuk yang benar.

Kemudian daripada itu. Dengan ini saya mengajak tuan menuruti
ajaran Islam. Terimalah ajaran Islam, tuan akan selamat. Tuhan
akan memberi pahala dua kali kepada tuan. Kalau tuan mengelak,
maka dosa orang-orang arisiyin2 menjadi tanggungiawab tuan.
Wahai orang-orang Ahli Kitab. Marilah sama-sama kita berpegang
pada kata yang sama antara kami dan kamu yakni bahwa tak ada
yang kita sembah selain Allah dan kita tidak akan
mempersekutukanNya dengan apa pun, bahwa yang satu takkan
mengambil yang lain menjadi tuhan selain Allah. Tetapi kalau
mereka mengelak juga, katakanlah kepada mereka, saksikanlah
bahwa kami ini orang-orang Islam.”

Surat kepada Heraklius itu kemudian dibawa oleh Dihya b.
Khalifa, surat kepada Kisra dibawa oleh Abdullah b. Hudhafa,
surat kepada Najasyi oleh ‘Amr b. Umayya, surat kepada
Muqauqis oleh Hatib b. Abi Balta’a, surat kepada penguasa Oman
oleh ‘Amr bin’l-‘Ash, surat kepada penguasa Yamama oleh Salit
b. ‘Amr, surat kepada raja Bahrain oleh al-‘Ala
bin’l-Hadzrami, surat kepada Harith al-Ghassani, raja
perbatasan Syam, oleh Syuja’ b. Wahb, surat kepada Harith
al-Himyari, raja Yaman, oleh Muhajir b. Umayya.

Mereka semua berangkat masing-masing menuju ke tempat yang
telah ditugaskan oleh Nabi. Mereka berangkat dalam waktu yang
bersamaan menurut pendapat sebagian besar penulis-penulis
sejarah, sebagian lagi berpendapat mereka berangkat dalam
waktu berlain-lainan.