بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Mengimani para Nabi dan Rosul, hukumnya adalah wajib.  Sebab itu adalah bagian dari rukun Iman.  Satu saja kita tidak percaya pada Nabi atau Rosul, maka batallah ke-islaman kita.  Lalu, apakah definisi Nabi dan Rosul itu? Apakah keduanya sama, ataukah ada perbedaannya?

Apakah antara nabi dan rosul terdapat perbedaan atau tidak, terdapat ikhtilaf/ perbedaan di sini.  Sebagian ulama berpendapat bahwa nabi dan rasul sama, tidak ada perbedaan di antara keduanya dari sisi makna. Namun, pendapat ini tidak diperkuat oleh dalil. Bahkan, tampak bahwa dalil-dalil dari al Qur’an dan as Sunnah tidak sejalan dengan pendapat ini. Pendapat yang benar adalah pendapat jumhur (mayoritas) ulama. Mereka menyatakan adanya perbedaan antara nabi dan rasul.

Pendapat ini diperkuat oleh dalil-dalil yang sahih dari al Kitab dan as-Sunnah, termasuk hadits Abu Dzar dan Abu Umamah radhiyallahu ‘anhuma tentang jumlah nabi dan jumlah rasul. Asy-Syaikh al-Albani rahimahullah setelah menyebut hadits Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu tentang jumlah nabi dan rasul, berkata, “Ketahuilah, hadits Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu yang baru saja kita sebut, demikian pula haditshadits lain yang telah kita ketengahkan sebelumnya, semua menunjukkan adanya perbedaan antara rosul dan nabi.

Perbedaan ini ditunjukkan pula oleh al Qur’an, seperti firman Allah Subhanahu wata’ala dalam surat Al Hajj ayat 52 :

وَمَا أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ وَلَا نَبِيٍّ إِلَّا إِذَا تَمَنَّىٰ أَلْقَى الشَّيْطَانُ فِي أُمْنِيَّتِهِ فَيَنسَخُ اللَّهُ مَا يُلْقِي الشَّيْطَانُ ثُمَّ يُحْكِمُ اللَّهُ آيَاتِهِ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

“Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang rosul pun dan tidak (pula) seorang nabi, kecuali apabila ia mempunyai sebuah keinginan, setan pun memasukkan godaan-godaan terhadap keinginan itu. Allah menghilangkan apa yang dimasukkan oleh setan itu dan Allah menguatkan ayatayat-Nya. Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana”.

Demikian pendapat yang diikuti seluruh ahli tafsir, seperti al-Imam Ibnu Jarir ath Thobari, Ibnu Katsir, hingga yang terakhir dari ahli tafsir, al Imam al Alusi rahimahumullah. Pendapat ini pula yang dikuatkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam banyak fatwa beliau. Beliau berkata :

“Semua rasul adalah nabi, namun tidak semua nabi adalah rasul.” (lihat Majmu’ Fatawa [10/ 209] dan [18/7]) Al-Imam al-Qurthubi rahimahullah dalam tafsirnya berkata bahwa al-Mahdawi menyatakan, “Inilah yang benar, seluruh rasul adalah nabi, namun tidak setiap nabi itu rasul.” (Tafsir al Qurthubi [12/80])

Persamaan Nabi dan Rosul adalah :

Ketika berbicara soal persamaan nabi dan rosul, mayoritas ulama hampir tidak ada perbedaan.

Nabi dan Rosul sama-sama utusan Allah yang diberi wahyu oleh Allah, berdasarkan firman Allah dalam surat Al Hajj ayat 52 :

وَمَآأَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ وَلاَنَبِيٍّ

“Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang rasul pun dan tidak (pula) seorang nabi…” (QS. Al Hajj:52). Dalam ayat ini Allah membedakan antara nabi dan rasul, namun menjelasakan kalau keduanya merupakan utusan Allah.

  • Nabi dan rosul sama-sama diutus untuk menyampaikan syariat Islam.  Seperti yang disebutkan oleh firman-Nya dalm surat Al Anbiya ayat 25 :
    وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلا أَنَا فَاعْبُدُونِ

    Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya, “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku”.

  • Nabi dan rasul ada yang diturunkan kepadanya kitab, ada pula yang tidak
  • Nabi dan rosul mengajarkan agama yang satu.  Walaupun mereka memiliki syariat yang berbeda.  Agama yang dibawa oleh para rosul semuanya adalah agama tauhid, yaitu yang menganjurkan menyembah Allah semata, tiada sekutu bagi­Nya.  Dan di dalam hadis disebutkan seperti berikut :
“نَحْنُ مَعْشَرَ الْأَنْبِيَاءِ أَوْلَادُ عَلَّاتٍ دِينُنَا وَاحِدٌ

Kami para nabi adalah saudara yang berbeda-beda ibu, tetapi agama kami satu.

Dengan kata lain, kesamaan yang ada di antara mereka ialah menyembah Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, sekalipun syariat dan tuntunannya berbeda-beda. Seperti yang disebutkan dalam firman-Nya dalam surat Al Maaidah ayat 48 :

لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا

Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang.

Karena itulah dalam surat ini disebutkan oleh firman-Nya  dalam surat Asy Syuro ayat 13 :

أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلا تَتَفَرَّقُوا فِيهِ

Tegakkanlah agamamu dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. (Asy-Syura: 13)

Allah Swt. memerintahkan kepada semua nabi untuk rukun dan bersatu, serta melarang mereka berpecah belah dan berlainan pendapat.

Allah Ta’ala berfirman  dalam surat Asy Syuuroo ayat 13 :

شَرَعَ لَكُم مِّنَ الدِّينِ مَاوَصَّى بِهِ نُوحًا وَالَّذِي أَوْحَيْنَآ إِلَيْكَ وَمَاوَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى وَعِيسَى أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلاَتَتَفَرَّقُوا فِيهِ

“Dia telah mensyariatkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrohiim, Muusa, dan Isa yaitu : Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya…. ”

Surat Al Mu’minun ayat 51 – 52 :

يَآأَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّي بِمَاتَعْمَلُونَ عَلِيمٌ {51}
وَإِنَّ هَذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاتَّقُونَ {52

“Wahai para rosul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang shaleh. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Sesungguhnya (agama tauhid) ini, adalah agama kamu semua, agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah kepada-Ku”

Rasulullah ﷺ bersabda : “Sesungguhnya seluruh nabi memiliki agama yang satu, dan para nabi adalah saudara” (Muttafaqun ‘alaih).

Agama seluruh para Nabi adalah satu, yaitu agama Islam. Allah tidak akan menerima agama selain Islam. Yang dimaksud dengan islam adalah berserah diri kepada Allah dengan mentauhidkan-Nya, tunduk kepada Allah dengan mentaatinya, dan menjauhkan diri dari perbuatan syirik dan orang-orang musyrik. (Al Irsyaad ilaa Shahiihil I’tiqaad hal 159-160).

Perbedaan Nabi Dan Rosul adalah :

Namun ketika berbicara soal perbedaan Nabi dan Rosul, terdapat perbedaan/ ikhtilaf diantara ulama. Tetapi jumhur ulama sepakat bahwa semua Rosul adalah Nabi, tetapi tidak semua Nabi adalah Rosul. Jadi para nabi itu jauh lebih banyak ketimbang para rasul. Sebagian rasulrasul itu dikisahkan oleh Allah Ta’ala dalam AlQur’an dan sebagian yang lain tidak dikisahkan.

  1. Tiada Allah mengutus seorang nabi kecuali pasti dia penggembala domba. (HR. Bukhari dan Muslim)
  2. Kami (para nabi) tidak diwarisi (meninggalkan warisan). Apa yang kami tinggalkan adalah sodaqoh (untuk umat). (HR. Bukhari)
  3. Sesungguhnya Allah mengharamkan (mencegah) bumi makan jasad nabinabi. (HR. Al Hakim)
  4. Sesungguhnya tidak layak bagi seorang nabi memasuki rumah yang mewah. (HR. Ibnu Hibban)
  5. Isa bin Maryam melihat sendiri seorang yang mencuri, lalu Isa ‘Alaihissalam berkata kepada orang itu, “Kamu mencuri.” Tapi pencuri itu menjawab, “Tidak, demi Allah yang tiada Tuhan kecuali Dia.” Isa lalu berkata lagi, “Aku beriman kepada Allah dan mendustakan mataku sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Inilah pendapat para ulama tentang perbedaan nabi dan rosul.

  1. Sebagian ulama menyatakan bahwa Nabi adalah seorang yang diberi wahyu oleh Allah berupa sebuah syari’at.   Namun ia tidak diperintah untuk menyampaikan syariat itu kepada orang lain atau suatu kaum .

Jadi syariat itu hanya untuk diamalkan oleh dirinya pribadi.  Tidak ada kewajiban untuk menyampaikan syaria’at itu kepada orang lain.  Apakah ada orang lain yang mengikuti atau tidak, itu bukan masalah bagi nabi tersebut.  Karena syariat yang diturunkan Allah, itu hanya berlaku untuk dirinya sendiri.  Ia hanya terkena kewajiban untuk mengamalkannya bagi dirinya sendiri.  Sedang Rosul diwajibkan

Nah, bila Nabi diturunkannya syari’at hanya untuk dirinya pribadi, sedang Rosul, syariat itu wajib di share kepada orang lain, wajib dipublish.  Dan itu wajib hukumnya.  Jadi bila ada Rosul yang tidak mempublish syariat yang diembannya, maka ia akan terkena murka Allah.  Karena memang hukumnya wajib bagi Rosul untuk menshare syariat itu.  Dan bukan hanya menshare, tapi juga Rosul itu wajib mengajak orang lain untuk mengikuti syariat itu. Rosul wajib untuk mendakwahi orang lain, agar mengikuti syariat yang diturunkan Allah.  Siang malam, mudah sulit, apapun taruhannya, bahkan nyawa sekalipun, seorang Rosul wajib mendakwahi orang lain untuk mengikuti syariat itu.

Pendapat ini dibantah oleh sebagian ulama lainnya.  karena bagaimana mungkin seorang nabi tidak berdakwah kepada orang lain, sedangkan seorang ulama saja diwajibkan untuk berdakwah?  Bukankah ulama adalah pewaris nabi?  Lalu bagaimana mungkin ulama berdakwah, bila itu tidak dicontohkan oleh nabi?

2. Pendapat sebagian ulama bahwa nabi diutus tidak membawa syariat baru, sebaliknya seorang nabi bisa disebut rosul jika ia membawa syariat baru.

 Jadi seorang nabi hanya mengikuti syariat dari nabi atau rosul sebelumnya.  Sedang rosul, ia akan membawa syariat baru yang akan mengganti sebagian atau seluruhnya dari syariat sebelum ia.  Contohnya Rosul Isa yang membawa kitab Injil, membawa syariat baru untuk kalangan Bani Isroil.  Tetapi Injil ini tidak menghapus seluruh syariat yang termaktub dalam Taurot, yang dibawa oleh Rosul Musa sebelumnya. Pendapat ini juga dibantah oleh sebagian ulama.  Karena tidak disyaratkan seorang rosul, harus membawa syariat yang baru.  Rosul Yusuf, tidak membawa syariat yang baru.

Allah berfirman dalam surat Al Mu’min [al Ghoofir] ayat 34 :

وَلَقَدْ جَاءَكُمْ يُوسُفُ مِنْ قَبْلُ بِالْبَيِّنَاتِ}

Dan sesungguhnya telah datang Yusuf kepadamu sebelumnya dengan membawa keterangan-keterangan. (Al-Mu’min: 34)

فَمَا زِلْتُمْ فِي شَكٍّ مِمَّا جَاءَكُمْ بِهِ حَتَّى إِذَا هَلَكَ قُلْتُمْ لَنْ يَبْعَثَ اللَّهُ مِنْ بَعْدِهِ رَسُولا

tetapi kamu senantiasa dalam keraguan tentang apa yang dibawanya kepadamu, hingga ketika dia meninggal, kamu berkata, “Allah tidak akan mengirim seorang rasul pun sesudahnya”.

Ayat diatas jelas menyebut Yusuf adalah seorang rosul, tetapi ia tidak membawa syariat yang baru. Karena tertera dalam surat Yusuf ayat 38 :

وَاتَّبَعْتُ مِلَّةَ آبَائِي إِبْرَاهِيمَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ

Dan aku mengikut agama bapak-bapakku, yaitu Ibrohiim, Ishaq, dan Yaquub. (Yusuf: 38),

Menurut beberapa ulama, ayat diatas jelas menjelaskan bahwasanya Rosul Yusuf tidak membawa syariat baru, tetapi ia hanya mengikuti agama kakek moyangnya, yaitu Ibrohiim, Ishaq dan Yaquub.

Begitu pula Rosul Sulaiman, ia tidak mengikuti syariat yang baru, ia hanya mengikuti kitab Taurotnya Rosul Musa.

3. Kemudian pendapt yang ketiga, menyatakan bahwa seorang nabi diutus kepada kaum mu’minin.  Sedang seorang rosul diutus kepada kaum mu’minin dan kaum kafirin, orang yang mengingkari.  Dan tidak harus membawa syariat baru.

Jika mengacu pada pendapat ini, maka 25 nabi yang kita kenal, semuanya adalah nabi dan rosul, karena ke 25 nabi itu diutus kepada kaum kafirin. Barangkali hanya nabi Adam saja yang Nabi dan bukan Rosul.  Karena ia diutus untuk mendakwahi keluarganya sendiri.

 

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Surah Al Mu’min [المؤمن ] atau Surah Ghafir [ غافر ] ayat 78 :

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلًا مِنْ قَبْلِكَ مِنْهُمْ مَنْ قَصَصْنَا عَلَيْكَ وَمِنْهُمْ مَنْ لَمْ نَقْصُصْ عَلَيْكَ ۗ وَمَا كَانَ لِرَسُولٍ أَنْ يَأْتِيَ بِآيَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ

Dan sesungguhnya telah Kami utus beberapa orang rosul sebelum kamu, di antara mereka ada yang Kami ceritakan kepadamu dan di antara mereka ada (pula) yang tidak Kami ceritakan kepadamu. Tidak dapat bagi seorang rasul membawa suatu mu’jizat melainkan dengan seizin Allah.

Bertolak dari ayat ini, maka dapat disimpulkan bahwa setiap nabi yang disebutkan di dalam Al Qur’an adalah juga sebagai rosul.

Persamaan Nabi dan Rosul adalah :

Nabi dan Rosul sama-sama utusan Allah yang diberi wahyu oleh Allah, berdasarkan firman Allah dalam surat Al Hajj ayat 52 :

وَمَآأَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ وَلاَنَبِيٍّ

“Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang rasul pun dan tidak (pula) seorang nabi…” (QS. Al Hajj:52). Dalam ayat ini Allah membedakan antara nabi dan rasul, namun menjelasakan kalau keduanya merupakan utusan Allah.

  • Nabi dan rasul sama-sama diutus untuk menyampaikan syariat.
  • Nabi dan rasul ada yang diturunkan kepadanya kitab, ada pula yang tidak.

Secara ringkas, Persamaan dan Perbedaan Nabi & Rosul adalah :

  • Nabi dan Rosul sama sama diberi wahyu untuk disampaikan kepada suatu kaum.  Tetapi nabi ditugasi untuk berakwah kepada kaum mu’minin.  Sebagaimana dalam sebuah hadist, ”Dan akan datang Nabi yang tidak memiliki satu pun pengikut”. Sedangkan rasul diutus untuk menyampaikan syariat kepada kaum yang kafirin atau menyelisihinya.
  • Nabi mengikuti syariat sebelumnya yang sudah ada, sedangkan Rasul terkadang mengikuti syariat sebelumnya.  Seperti Yusuf yang diutus untuk kaumnya dengan syariat yang dibawa oleh Ibrohim dan Ya’qub.  Dan atau terkadang membawa syariat baru, seperti Rosul Isa. [Diringkas dari Syarh al ‘Aqidah Ath Thahawiyah Syaikh Sholeh Alu Syaikh, hal 227-234]

 

Mendustakan Satu = Mendustakan Semuanya

Kewajiban seorang mukmin adalah beriman bahwa risalah para Rosul adalah benar-benar dari Allah. Barangsiapa mendustakan risalah mereka, sekalipun hanya salah seorang di antara mereka, berarti ia telah mendustakan seluruh para rosul. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala dalam surat Asy Syuuaroo ayat 105 :

كَذَّبَتْ قَوْمُ نُوحٍ الْمُرْسَلِينَ

“Kaum Nabi Nuuh telah mendustakan para Rasul

Dalam ayat in Allah menilai tindakan kaum Nuuh sebagai pendustaan kepada para rosul yang diutus oleh Allah. Berdasarkan hal ini maka orang-orang Nashroni yang mendustakan Muhammad ﷺ dan tidak mau mengikuti beliau, berarti mereka telah mendustakan Al Masih bin Maryam (Nab Isa ‘alaihis salaam) dan tidak mengikuti ajarannya. (Syarhu Ushuulil Iman hal 34-35)

Mengimani Nama Para Rasul

Termasuk pokok keimanan adalah kita beriman bahwa para R0sul Allah memiliki nama. Sebagiannya diberitakan kepada kita dan sebagiannya tdak diberitakan kepada kita. Yang diberikan kepada kita seperti Muhammad, Ibrohim, Muusa, ‘Isa, dan Nuuh ‘alahimus shalatu wa salaam. Kelima nama tersebut adalah para Rasul ‘Ulul Azmi. Allah Ta’ala telah menyebut mereka pada dua (tempat) surat di dalam Al Quran yakni surat Al Ahzaab dan As Syuraa,

وَإِذْ أَخَذْنَا مِنَ النَّبِيِّينَ مِيثَاقَهُمْ وَمِنكَ وَمِن نُّوحٍ وَإِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ

“Dan ingatlah ketika Kami mengambil perjanjian dari nabi nabi dan dari kamu (sendiri), dari Nuuh, Ibrohim, Muusa, dan Isa bin Maryam…” (QS. Al Ahzab:7)

شَرَعَ لَكُم مِّنَ الدِّينِ مَاوَصَّى بِهِ نُوحًا وَالَّذِي أَوْحَيْنَآ إِلَيْكَ وَمَاوَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى وَعِيسَى أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلاَتَتَفَرَّقُوا فِيهِ…

“Dia telah mensyariatkan bagi kamu tentang apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuuh dan apa yang telah kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrohim, Muusa, dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah-belah tentangnya” (QS. Asy Syuraa:13)

Adapun terhadap para Rosul yang tidak kita ketahui nama-namanya, kita beriman secara global. Allah Ta’ala berfirman,

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلاً مِّن قَبْلِكَ مِنْهُم مَّن قَصَصْنَا عَلَيْكَ وَمِنْهُم مَّن لَّمْ نَقْصُصْ عَلَيْكَ

“Dan sesungguhnya telah Kami utus beberapa orang rosul sebelum kamu, di antara mereka ada yang Kami ceritakan kepadamu dan di antara mereka ada (pula) yang tidak Kami ceritakan kepadamu” (QS. Al Mukmin:78). (Syarhu Ushuulil Iman,hal 35)

Para Rasul Pemberi Kabar Gembira Sekaligus Pemberi Peringatan

Allah mengutus para Rasul untuk menyampaikan kabar gembira sekaligus memberikan peringatan. Ini merupakan salah satu dari hikmah diutusnya para rasul kepada manusia. Maksud menyampaikan kabar gembira adalah menyebutkan pahala bagi orang yang taat, sekaligus memberikan peringatan kemudian mengancam orang yang durhaka dan orang kafir dengan kemurkaan dan siksa Allah. Allah Ta’ala berfirman :

رُّسُلاً مُّبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ لِئَلاَّ يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى اللهِ حُجَّةُُ بَعْدَ الرُّسُلِ وَكَانَ اللهُ عَزِيزًا حَكِيمًا

“(Mereka Kami utus) selaku rasulrasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar tidak ada lagi alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasulrasul itu” (QS. An Nisaa’ 165).

Ayat ini merupakan dalil bahwa tugas para Rasul ialah memberikan kabar gembira bagi siapa saja yang mentaati Allah dan mengikuti keridhaan-Nya dengan melakukan kebaikan. Dan bagi siapa yang menentang perintah-Nya dan mendustakan para rasul-Nya akan diancam dengan hukum dan siksaan. (Husuulul Ma’muul bi Syarhi Tsalaatsatil Ushuulhal 195-196)

Ulul Azmi

Dan diantara 25 Rosul itu, ada 5 yang istimewa, yakni yang kita sebut sebagai Ulul Azmi [ أولوالعزم ].  Itulah gelar khusus bagi golongan Rosul pilihan yang mempunyai keteguhan dan ketabahan yang luar biasa, kesabaran serta keuletannya dalam berjuang melaksanakan dakwah (menyebarkan ajaran tauhid) ditengah tengah kaumnya, walaupun kaumnya menentang keras dakwahnya. Yang mereka semua melebihi rosul rosul yang lain.  Terdapat 5 Rosul yang mendapatkan gelar Ulul Azmi, yakni Nuuh, Ibrohim, Muusa, Isa dan Muhammad.  Gelar Ulul Azmi dijelaskan dalam Surah Al Ahqof ayat ke-35 dan Asy-Syura ayat ke-13.

Nuuh yang Pertama, Muhammad Penutupnya

Termasuk keyakinan Ahlus sunnah adalah beriman bahwasanya Rasul yang petama diutus adalah Nuh ‘alaihis salaam dan yang terkhir adalah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dalil yang menunjukkan bahwa Nuh adalah Rasul pertama adalah firman Allah,

إِنَّآأَوْحَيْنَآإِلَيْكَ كَمَآأَوْحَيْنَآإِلَى نُوحٍ وَالنَّبِيِّينَ مِن بَعْدِهِ

“Sesungguhnya Kami telah memberkan wahyu kepadamu sebagaman Kami telah memberikan wahyu kepada Nuuh dan nabinabi yang kemudiannya…” (An Nisaa’:163)

Para ulama berdalil dengan ayat ini bahwa Nuh adalah rasul pertama. Sisi pendalilannya adalah dari kalimat “dan nabinabi yang kemudiannya”. Jika ada rosul sebelum Nuuh tentunya akan dikatakan dalam ayat ini.u

Adapun dalil dari sunnah adalah sebuah hadist shahih tentang syafa’at, ketika manusia mendatangi Nabi Adam untuk meminta syafaat, beliau berkata kepada mereka, “Pergilah kalian kepada Nuh, karena ia adalah rasul pertama yang diutus ke muka bumi”. Maka mereka pun mendatangi Nuh dan berkata: “engkau adalah rasul pertama yang diutus ke bumi…” (Muttafaqun ‘alaihi). Hadist ini merupakan dalil yang paling kuat menunjukkan bahwa Nuh adalah rasul pertama. Dan Nabi Adam sendiri menyebutkan bahwa Nuh sebagai Rasul pertama di atas muka bumi. (Husuulul Ma’muul bi Syarhi Tsalaatsatil Ushuulhal 196-197)

Sedangkan Rasul yang terakhir adalah Muhammad sholallahu ‘alaihi wa salaam. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala.

مَّاكَانَ مُحَمَّدٌ أَبَآ أَحَدٍ مِّن رِّجَالِكُمْ وَلَكِن رَّسُولَ اللهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ وَكَانَ اللهُ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمًا

Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kalian, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup para Nabi. Dia adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu” (QS. Al Ahzab:40).

Rosulullah sholallahu ‘alaihi wa salaam bersabda, “Aku adalah penutup para Nabi, dan beliau berkata :’ Tidak ada Nabi sesudahku”.

Hal ini melazimkan berakhirnya diutusnya para Rosul, karena berakhirnya yang lebih umum (yakni diutusnya Nabi) melazimkan berakhirnya yang lebih khusus (yakni diutusnya Rasul). Makna berakhirnya kenabian dengan kenabian Muhammad yakni tidak adanya pensyariatan baru setelah kenabian dan syariat yang dibawa oleh Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Al Irsyaad ilaa Shahiihil I’tiqaad hal 173).

Wallahu a’lam bishowab

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ ♥ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ♥ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ ♥ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ♥ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ
. .