بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Ayat ayat Al Quran seringkali menggunakan kata panggilan atau seruan dengan kata yang khusus.  Misalnya bila Allah ﷻ sebut ‘Wahai orang orang yang mengerjakan sholat …’ maka ayat itu hanya ditujukan bagi mereka yang mengerjakan sholat saja.  Bila anda tidak kerjakan sholat, meskipun anda Islam, itu artinya ayat itu bukan ditujukan kepada anda.  Atau di sebut ‘Wahai orang orang yang beriman … atau seruan khusus untuk pemimpin, untuk laki laki, perempuan … dst.

Seruan seruan itu bersifat spesifik. Hanya kalangan tertentu saja.  Tetapi ada banyak ayat yang ternyata Allah ﷻ tujukan kepada seluruh umat manusia.  TIdak perduli apakah dia Islam atau kafir, munafik atau sidiq, laki laki atau perempuan.

Diantara ayat ayat Al Quran yang menyeru kepada umat manusia, ada 2 ayat yang menjelaskan bahwa perintah haji diserukan TERNYATA kepada seluruh umat manusia,  bukan kepada orang yang beriman saja.

Yang pertama, Surat Al Hajj [22] ayat 27 :

وَأَذِّن فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِ‌جَالًا وَعَلَىٰ كُلِّ ضَامِرٍ‌ يَأْتِينَ مِن كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ.

Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji untuk melaksanakan syariat haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh,

Kedua, dalam Surat Ali ‘Imran [3] ayat 97 :

وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا

Mengunjungi ke Baitullah (haji) adalah wajib bagi manusia kepada Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah.

Ayat yang kedua ini pun ditujukan kepada manusia, bukan saja kepada orang orang yang beriman.
Apa yang menjadi tujuan dan mengapa Allah ﷻ memanggil, menyeru seluruh manusia untuk datang mengunjungi Baitullah melaksanakan manasik haji dan umrah?

Seruan Ibrahim

Yaitu yang menyeru manusia untuk berhaji serta mengajak mereka untuk haji ke rumah yang telah Kami perintahkan untuk membangunnya ini.

Lalu, diceritakan bahwa Ibrahim berkata : “Ya Rabbku, bagaimana aku menyampaikan hal ini kepada manusia sedangkan suaraku tidak dapat menjangkau mereka?” Allah berfirman : “Berserulah, dan Aku yang akan menyampaikan.”

Maka, Ibrahim عليه السلام berdiri di maqamnya, satu pendapat mengatakan di atas sebuah batu, yang lain mengatakan di atas bukit Shafa dan yang lain mengatakan di atas Jabal Abu Qubaisy.  Dan ada riwayat menjelaskan bahwa Nabi Ibrahim عليه السلام naik keatas sebuah batu yang digunakan sebagai tangga pijakan untuk membangun Ka’bah ( hingga kini batu tersebut dengan maqam Ibrahim, dan ketika Nabi Ibrahim عليه السلام memijak batu tersebut, batu itu naik elastis menyamai tingginya Jabal Qubais.

Dan disanalah Nabi Ibrahim عليه السلام berseru : “Hai manusia, sesungguhnya Rabb kalian telah menjadikan sebuah rumah maka berhajilah kalian.”

Seruan Nabi Ibrahim begitu kencang memecah keheningan, dan ia menyeruak ke seluruh alam.  Begitu dasyatnya seruan itu, hingga ia menembus ke segala dimensi alam.

Bukan hanya gunung gunung yang tunduk terdiam mendengar seruan Nabi Ibrahim عليه السلام , namun Allah ﷻ memperdengarkan (sampai) kepada anak yang masih ada di rahim ibunya dan di tulang sulbi ayahnya.  Karena seruan  yang dimaksud oleh Allah Swt itu bukan memanggil fisik manusia karena sebahagian besar manusia yang diseru belum terlahir kepermukaan bumi ini.  Akan tetapi seruan itu menerpa hingga ke alam ruh-nya yang sudah lebih awal diciptakan Nya.

Itulah seruan dasyat seorang manusia yang menembus dimensi alam ruh.  Dan saat itu seluruh ruh ruh itu telah mendengar seruan berhaji yang diteriakkan Nabi Ibrahim.   Tetapi ketika dilahirkan ke dunia, ruh ruh itu sebagian beragama Islam, sebagian kafir, sebagian atheis dst.  Mereka yang beragama Islam pun, sebagian ‘merasa’ terpanggil, sebagian lagi menutup telinga rapat rapat.

Padahal, seruan berhaji adalah seruan bagi tiap tiap mahkluk, sejak di alam ruh hingga hari kiamat.

لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ لاَشَرِيْكَ لَكَ

Inilah kandungan makna perkataaan dari Ibnu `Abbas, Mujahid, `Ikrimah, Sa’id bin Jubair dan banyak ulama Salaf lainnya.

Jika riwayat diatas sahih, seruan haji Nabi Ibrahim عليه السلام  ini tidak dapat dijadikan alasan bagi orang yang berkemampuan untuk enggan melakasanakan haji dengan alasan sederhana “belum ada seruan’’.

Sebab seruan haji nabi Ibrahim عليه السلام. adalah seruan disaat kita berada dialam ghaib sedangkan isthitha’ah hanya berhubungan dengan alam nyata disaat hidup didunia ini.

Dan seperti kita ketahui, setelah Nabi Ibrahim عليه السلام , maka selanjutnya diantara kaum muslim banyak terjadi penyimpangan dan kesesatan.  Diantaranya adalah munculnya agama Yahudi, Kristen, Hindu, Budha dst.

Allah ﷻ berfirman dalam Al Quran surat Mumtahanah [60] ayat 4 :

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ

Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia.

Pantaslah jika syariat haji diseru kepada seluruh umat manusia karena di situ terdapat fakta-fakta yang tidak bisa terbantahkan bagi seluruh manusia, terutama bagi mereka yang mengakui pengikut ajaran Nabi Ibrahim عليه السلام.

Maka kita sebagai umat Islam semakin nyata bahwa seluruh petunjuk-petunjuk Allah ﷻ sangat berargumen (beralasan). Hal itu semua sebagai petunjuk menuju kemuliaan dan kebahagiaan orang beriman yang mengikuti petunjuk-petunjuk yang lurus. Petunjuk-petunjuk Allah ﷻ berdasarkan ayat yang kita bahas tadi memiliki argumen sekaligus berfakta.

Semoga Allah senantiasa memberikan ampunan kepada kita membimbing dengan bimbingan jalan yang lurus.

Seperti Mati Kafir

Terkadang sebagian orang dilihat secara financial sudah cukup, akan tetapi dia merasa belum mampu, dan belum siap secara mental bahkan ada yang beralasan belum ‘’ada panggilan Allah

Jika sampai wafat berpendirian seperti ini maka tidak ada jaminan dia bebas dari kematian, seperti seorang Yahudi atau Nasrani sebagimana sabda Nabi Muhammad ﷺ : Siapa yang memiliki ongkos yang dapat menyampaikannya kebaitullah yang mulia, namun dia tidak berhaji, maka aku tidak peduli apakah dia mati sebagai mati yahudi atau mati nasrani.

Barangsiapa menunda-nunda sampai lebih lima tahun, padahal sudah memiliki kemampuan, maka dia benar-benar jauh dari kebaikan.

Rasulullah ﷺ bersabda :

يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ : إِنَّ عَبْدًا أَصْحَحْتُ جِسْمَهُ وَأَوْسَعْتُ عَلَيْهِ فِى الْمَعِيشَةِ تَأْتِى عَلَيْهِ خَمْسَةُ أَعْوَامٍ لَمْ يَفِدْ إِلَىَّ لَمَحْرُومٌ

Allâh Azza wa Jalla berfirman, “Sesungguhnya seorang hamba yang telah Aku anugerahi kesehatan badan, Aku telah luaskan penghidupannya, telah lewat padanya lima tahun, (namun) dia tidak mendatangiKu (yakni: melakukan ibadah haji), dia benar-benar dicegah (dari kebaikan). [1]

Ketika Allah ﷻ memerintahkan para hamba-Nya untuk beribadah, bukan berarti Allah ﷻ membutuhkan ibadah itu, akan tetapi hal itu untuk kebaikan manusia sendiri. Demikian juga ketika Allah mewajibkan ibadah haji, bukan berarti Allah ﷻ membutuhkan ibadah haji tersebut.

Allah  Azza wa Jalla berfirman dalam Al Quran surat Ali ‘Imran [3] ayat 97 :

وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا ۚ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ

“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allâh Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.”

Imam Ibnu Katsir rahimahullah menukilkan dari Ibnu Abbas, Mujahid, dan lainnya, tentang firman Allah ﷻ : “Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam”, yaitu : Barangsiapa mengingkari kewajiban haji, maka sesungguhnya dia telah kafir, dan Allah tidak memerlukannya” [Tafsir Ibnu Katsîr, 2/84]

Wallahu a’lam bishowab

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ ♥ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ♥ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ ♥ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ♥ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ