Perintah Untuk Membaca Shalawat Kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman dalam surah Al Ahzaab ayat 56 :

إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُۥ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِىِّ ۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ صَلُّوا۟ عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا۟ تَسْلِيمًا

“Sesungguhnya Allah dan Malaikat-Malaikat-Nya ber shalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, ber shalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.”

Tafsir ayat ini :

Imam Ibnu Katsir berkata : Maksud dari ayat ini bahwasanya Allah SWT mengabarkan kepada hamba hambaNya di sisiNya di alam yang tinggi, yaitu Allah memujinya di sisi para malaikat muqarrabin [ yang didekatkan ].  Dan Bahwasanya para malaikat pun bershalawat kepada nabi.

Maka Allah memerintahkan penduduk alam bawah [ bumi ] untuk mengucapkan shalawat dan salam kepada nabi Muhammad agar menyatu antara pujian penghuni atas dan bawah seluruhnya. [ lihat Tafsir Ibnu Katsir III/486-487 ]

Imam al Qurtubi berkata : ‘Dengan ayat ini Allah memuliakan rasulNya ketika beliau hiduap dan setelah wafatnya.  Serta menyebutkan kedudukan beliau di sisiNya.  Shalawat Allah kepada Nabi artinya rahmat dan keridhoanNya.

Shalawat para malaikat adalah doa dan permohonan ampun mereka untuk nabi.  Sedangkan shalawat dari ummat artinya doa dan pengagungan perintah Nabi.  Karena Allah memerintahkan nabiNya, Muhammad, tnapa menyebut nabi nabi lainnya.  Ini merupakan bentuk penghormatan kepada nabi.

Imam Bukhari berkata, “Abul ‘Aliyah mengatakan: Yang dimaksud dengan Allah bershalawat kepada Nabi-Nya adalah pujian yang Allah berikan kepada Nabi yang diungkapkan dihadapan para malaikat.” Sedangkan shalawat Malaikat berarti do’a mereka atas Nabi.” Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma berkata, “Artii dari lafazh يُصَلُّونَ adalah, “Allah dan para Malaikat-Nya memberkati Nabi -shallallahu’alaihi wa sallam-.” (Fat-hul Baari [VIII/392])

Abu ‘Isa at-Tirmidzi berkata, “Terdapat sebuah riwayat dari Sufyan ats-Tsauri dan para ulama ahli tafsir lainnya bahwa mereka berkata, “Shalawat yang berasal dari Allah konotasinya adalah melimpahkan rahmat. Sedang shalawat yang berasal dari Malaikat berarti istighfar (memohonkan ampunan).” (Tuhfatul Ahwadzi [II/610])

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Diantara hari yang paling utama untuk kalian adalah hari jum’at. Pada hari itu diciptakan Nabi Adam. Pada hari jum’at Nabi Adam diambil nyawanya.Pada hari jum’at ditiup sangkakala. Pada hari jum’at semua makhluk dimatikan. Oleh karena itu, banyak-banyaklah bershalawat kepadaku pada hari itu, karena shalawat yang kalian baca itu akan dibawa kehadapanku.” Para shabat bertanya, “Bagaimana bisa shalawat dibawa kehadapanmu sementara engkau sendiri telah binasa?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya Allah mengharamkan bumi memakan jasad para Nabi.” (HR. Ahmad IV/8, Abu Daud I/635 (no. 1047), an-Nasa’i III/91, Ibnu Majah I/524 (no.1636) dan selainnya. Shahiihul Jaami’ (no. 2212))

Dari Abu Thalhah, bahwa suatu hari Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam datang dengan wajah terlihat ceria. Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, sungguh kami melihat kegembiraan menghias wajahmu.”

Beliau bersabda, “Sesungguhnya aku didatangi seorang malaikat, ia berkata, ‘Wahai Muhammad tidakkah engkau ridha bahwa Rabb-mu berfirman: ‘Sesungguhnya tidak ada seorangpun dari umatmu yang membaca shalawat kepadamu, kecuali Aku (yakni Allah) akan bershalawat (berupa pujian diantara para malaikat-Nya) kepadanya sebanyak sepuluh kali. Dan tidak ada seorangpun dari umatmu yang membaca salam kepadamu, kecuali Aku akan memberi salam kepadanya sebanyak sepuluh kali.’ Aku (Nabi) menjawab, “Tentu saja aku ridha.” (HR. Ahmad (IV/30), an-Nasa’i (III/44). Dishahihkan oleh syaikh al-Albani dalam Silsilah ash-Shahiihah no.829)

Dari jalur lain Imam Ahmad meriwayatkan sebuah hadits dari Abu Thalhah al-Anshari. Ia berkata, “Pada suatu hari disaat pagi menjelang Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam tampak berseri-seri, diwajahnya tampak raut kegembiraan. Para sahabat bertanya-tanya, “Wahai Rasulullah pagi ini engkau begitu berseri-seri. Terlihat raut kegembiraan?, Beliau menjawab, “Tentu saja, telah datang kepadaku seorang malaikat utusan Rabb-ku. Ia berkata, ‘Barangsiapa bershalawat kepadamu dari kalangan umatmu sebanyak satu kali saja, niscaya Allah akan menuliskan untuknya sebanyak sepuluh nilai kebajikan, menghapus darinya sebanyak sepuluh nilai kejelekan, mengangkat untuknya sepuluh derajat. Dan (Allah) menjawabnya dengan hal yang sama.” (HR. Ahmad (IV/29). Hasan Lihghairihi, lihat Shahiihul Targhiib wa Tarhiib no.1661)

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang membaca shalawat kepadaku satu kali saja, niscaya niscaya Allah akan bershalawat kepadanya sebanyak sepuluh kali.” (HR. Muslim (I/306) no.408. Abu Daud (II/184) no.1530. at-Tirmidzi no.485 dan an-Nasa’i (III/50))

Dari al-Husain bin Ali radhiyallahu’anhuma bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wa salam bersabda, “Orang yang kikir adalah orang yang bila namaku disebut dihadapannya, kemudian ia tidak mau bershalawat kepadaku.” Abu sa’id berkata: “(dengan lafazh): Lalu ia tidak bershalawat kepadaku.” (HR. Ahmad (I/201) dan at-Tirmidzi no.3546. Shahih, Shahiihul Jaami’ no.2878)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Celakalah seseorang yang ketika namaku disebut dihadapannya, ia tidak membaca shalawat kepadaku. Celakalah seseorang yang telah memasuki bulan Ramadhan lalu bulan Ramadhan itu berlalu sementara dosa-dosanya belum sempat diampuni. Dan celakalah bagi seorang yang kedua orang tuanya masih ada dalam keadaan tua renta, lalu tidak ia jadikan (ajang berbakti) kepada keduanya sebagai sarana masuk surga.” (HR. Tirmidzi no.3545. Shahih, lihat Shahiihul Jaami’ no.3510)


Sumber: (Shahih Tafsir Ibnu Katsir Juz 22. Hal. 353-362. Pustaka Ibnu Katsir)