Menjaga akhlak selama berpuasa adalah penting agar amalan tidak sia sia.

 

Dari Abu Hurairah : Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya):

Puasa bukanlah dari makan, minum (semata), tapi puasa itu menahan diri dari perbuatan sia-sia dan keji, jika ada orang yang mencelamu, katakanlah : “Aku sedang puasa, Aku sedang puasa.”

HR Ibnu Khuzaimah (1996), Al-Hakim (1/430- 431). sanadnya SHAHIH

Oleh karena itu Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam mengancam dengan ancaman yang keras orang-orang yang berbuat sifat sifat tercela ini.

Beliau pernah bersabda (yang artinya): “Banyak orang yang puasa, bagiannya dari puasa hanyalah lapar dan haus.” HR Ibnu Majah (1/539), Darimi (2/221), ). Ahmad (2/441, 373), Baihaqi (4/270) dari jalan Said Al-Maqbari dari Abu Hurairah, sanadnya SHAHIH).
Dan sebab terjadinya demikian adalah bahwa orang-orang yang melakukan hal tersebut tidak memahaminya, sehingga Allah memberikan keputusan atas perbuatan tersebut dengan tidak memberikan pahala kepadanya. (lihat Riyadhush Shalihin (1215)).
Oleh sebab itulah Ahlul Ilmi dari generasi salafus shalih, membedakan antara larangan dengan makna khusus dengan ibadah, hingga membatalkannya.

Dan larangan yang tidak khusus dengan ibadah dan ini tidak membatalkannya. (Rujuklah : Jami’ul ulum wal Hikam (hal 58) oleh Ibnu Rajab).

 

Dari Abi Hurairah :

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya): “Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan mengamalkannya, Allah tidak ada butuh perbuatannya meninggalkan makan dan minumnya.”

HR Bukhori (4/99)