بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Dari Abu Hurairah, Rasulullah ﷺ bersabda :

لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يُقَاتِلَ الْمُسْلِمُونَ الْيَهُودَ فَيَقْتُلُهُمُ الْمُسْلِمُونَ حَتَّى يَخْتَبِئَ الْيَهُودِيُّ مِنْ وَرَاءِ الْحَجَرِ وَالشَّجَرِ فَيَقُولُ الْحَجَرُ أَوِ الشَّجَرُ: يَا مُسْلِمُ، يَا عَبْدَ اللهِ، هَذَا يَهُودِيٌّ خَلْفِي، فَتَعَالَ فَاقْتُلْهُ؛ إِلَّا الْغَرْقَدَ فَإِنَّهُ مِنْ شَجَرِ الْيَهُودِ

“Tidak akan terjadi kiamat hingga kaum muslimin memerangi Yahudi dan membunuhi mereka, sampai ketika Yahudi bersembunyi di balik batu atau pohon, batu dan pohon itu berkata : ‘Wahai muslim, wahai hamba Allah, Yahudi ada di belakangku, kemari dan bunuhlah dia.’ Kecuali pohon gharqad, (dia tidak berbicara) karena dia dari pohon Yahudi.”

Takhrij hadits

Hadits ini diriwayatkan Al Bukhari dalam Ash-Shahih, Kitab Al-Jihad bab Qitalu-Al-Yahud (6/103 no. 2767 bersama Fathul Bari), Muslim dalam Ash-Shahih (18/44-45 no. 2922 bersama Syarah An-Nawawi), Ahmad dalam Al-Musnad (2/396, 417 dan 530) dan Al-Khatib Al-Baghdadi dalam At-Tarikh (7/207) dari Abu Hurairah.

Diriwayatkan pula dari sahabat Abdullah bin Umar bin Al-Khaththab c dalam Ash-Shahihain dan Sunan At-Tirmidzi.
At-Tirmidzi berkata dalam As-Sunan (4/509 no.2236): ”Hadits ini hasan shahih.”

Perang melawan Yahudi di akhir zaman

Pembaca rahimakumullah, Rasulullah n mengabarkan akan adanya perang di akhir zaman antara kaum muslimin dan Yahudi. Dalam perang itu, Yahudi terhina, dikalahkan, dan dibunuh. Tidak ada bagi mereka tempat persembunyian, bahkan batu dan pepohonan semua berseru :

يَا مُسْلِمُ، يَا عَبْدَ اللهِ، هَذَا يَهُودِيٌّ خَلْفِي فَتَعَالَ فَاقْتُلْهُ

“Wahai muslim, wahai hamba Allah, Yahudi ada di belakangku, kemari dan bunuhlah dia!”

Subhanallah, batu dan pepohonan berseru, memanggil muslim memberitahukan keberadaan Yahudi yang bersembunyi di baliknya. Semua pohon dan batu berujar, kecuali satu jenis pohon yaitu gharqad.
An-Nawawi berkata : “Gharqad adalah sejenis pohon berduri yang dikenal di Baitul Maqdis (Palestina). Di sanalah Dajjal dan Yahudi akan dibunuh.” (Al-Minhaj)

Berita perang melawan Yahudi dan kebinasaan mereka adalah sebagian dari tanda-tanda hari kiamat yang Rasulullah ﷺ kabarkan. Berita-berita ini wajib kita imani dan kita benarkan sebagai bukti iman kita kepada beliau.
Hadits Abu Hurairah ini juga kabar gembira akan kejayaan Islam dan kemenangan muslimin yang telah pasti atas musuh-musuhnya, sekaligus berita bahwa peperangan antara muslimin dan Yahudi akan terus berlangsung hingga akhir zaman.

Kapan perang itu terjadi?

Perang yang tersebut dalam hadits, bukanlah peperangan yang telah terjadi antara Rasulullah ﷺ dengan Yahudi di masa beliau, seperti perang bani Quraidhah, bani Nadzir, atau bani Qainuqa’. Akan tetapi peperangan ini terjadi di akhir zaman, pada masa Imam Mahdi, Muhammad bin Abdullah Al-Hasani, saat turunnya Nabi Isa عليه السلام, sebagaimana ditunjukkan riwayat-riwayat lain.

Misalnya hadits Abu Umamah Al-Bahili z yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam As-Sunan dalam sebuah hadits panjang. Dalam hadits tersebut Rasulullah bersabda :

فَبَيْنَمَا إِمَامُهُمْ قَدْ تَقَدَّمَ يُصَلِّي بِهِمُ الصُّبْحَ إِذْ نَزَلَ عَلَيْهِمْ عِيْسَى بْنُ مَرْيَمَ الصُّبْحَ فَرَجَعَ ذَلِكَ الْإِمَامُ يَنْكُصُ يَمْشِي الْقَهْقَرَى لِيَتَقَدَّمَ عِيْسَى يُصَلِّي بِالنَّاسِ، فَيَضَعُ عِيْسَى يَدَهُ بَيْنَ كَتِفَيْهِ ثُمَّ يَقُولُ لَهُ: تَقَدَّمْ فَصَلِّ، فَإِنَّهَا لَكَ أُقِيْمَتْ. فَيُصَلِّي بِهِمْ إِمَامُهُمْ فَإِذَا انْصَرَفَ قَالَ عِيْسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ: افْتَحُوا الْبَابَ. فَيُفْتَحُ وَوَرَاءَهُ الدَّجَّالُ مَعَهُ سَبْعُونَ أَلْفَ يَهُودِيٍّ كُلُّهُمْ
ذُو سَيْفٍ مُحَلَّى وَسَاجٍ فَإِذَا نَظَرَ إِلَيْهِ الدَّجَّالُ ذَابَ كَمَا يَذُوبُ الْمِلْحُ فِي الْمَاءِ وَيَنْطَلِقُ هَارِبًا وَيَقُولُ عِيْسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ: إِنَّ لِي فِيْكَ ضَرْبَةً لَنْ تَسْبِقَنِي بِهَا. فَيُدْرِكُهُ عِنْدَ بَابِ اللُّدِّ الشَّرْقِيِّ فَيَقْتُلُهُ فَيَهْزِمُ اللهُ الْيَهُودَ فَلَا يَبْقَى شَيْءٌ مِمَّا خَلَقَ اللهُ يَتَوَارَى بِهِ يَهُودِيٌّ إِلَّا أَنْطَقَ اللهُ ذَلِكَ الشَّيْءَ لَا حَجَرٌ وَلَا شَجَرٌ وَلَا حَائِطٌ وَلَا دَابَّةٌ إِلَا الْغَرْقَدَةَ فَإِنَّهَا مِنْ شَجَرِهِمْ
لَا تَنْطِقُ إِلَّا قَالَ يَا عَبْدَ اللهِ الْمُسْلمَ، هَذَا يَهُودِيٌّ فَتَعَالَ اقْتُلْهُ

“… Ketika tatkala imam mereka sudah maju untuk mengimami shalat subuh, tiba-tiba turunlah kepada mereka ‘Isa bin Maryam عليه السلام pagi itu. Karena itu, imam tersebut mundur agar Nabi ‘Isa عليه السلام maju mengimami mereka.
Lalu Nabi ‘Isa meletakkan tangan beliau diantara dua pundak imam tersebut dan berkata : ‘Majulah, karena untukmulah shalat ini diiqamatkan.’ Imam itu pun mengimami mereka.

Setelah selesai, Isa عليه السلام  berkata : ‘Bukalah pintu.’ Pintu itu dibuka, ternyata di baliknya ada Dajjal bersama 70.000 Yahudi bersenjata pedang berhias dan berjubah hijau.

Ketika Dajjal melihat ke arah Isa عليه السلام, diapun meleleh seperti garam dalam air. Dia berbalik melarikan diri. Nabi Isa عليه السلام  berkata : ‘Sungguh aku memiliki sebuah pukulan yang engkau tidak akan mendahului aku dengannya.’

Kemudian Isa عليه السلام mendapatkan Dajjal di Bab Al Lud [ Gerbang Lod ] sebelah timur dan membunuhnya.

“Sesungguhnya Isa Bin Maryam Akan Membunuh Dajjal Di Bab Lud (Gerbang Lod).” (Hr Ahmad, Turmudzi, Dan Nu’Aim Bin Hamad).

Ketika itu, Allah ﷻ mengalahkan Yahudi hingga tidak ada suatu makhluk pun yang Yahudi bersembunyi padanya kecuali Allah ﷻ jadikan ia berbicara.  Baik dia batu, pohon, tembok, maupun hewan, semua berbicara –kecuali pohon gharqad, sesungguhnya ia adalah pohon Yahudi– semua berbicara : Wahai hamba Allah,  wahai muslim, ini Yahudi, kemari dan bunuhlah dia…”

Hadits Abu Umamah ini di dalam sanadnya ada kelemahan. Tetapi riwayat yang menunjukkan bahwa peperangan ini terjadi di masa Imam Mahdi, dikuatkan dengan syawahid (penguat-penguat dari hadits lain).
Ibnu Hajar t berkata : “Hadits (Abu Umamah z) diriwayatkan Ibnu Majah dengan panjang dan asal hadits ini ada pada Abu Dawud. Ada yang serupa dengan hadits ini yaitu hadits Samurah z dalam riwayat Al-Imam Ahmad (dalam Al-Musnad) dengan sanad hasan. Diriwayatkan juga oleh Ibnu Mandah dalam Kitab Al-Iman dari hadits Hudzaifah z dengan sanad shahih. (Fathul Bari 6/610)

Apakah batu dan pohon ketika itu berbicara secara hakiki?

Hadits ini memberikan faedah bahwa bebatuan dan pepohonan akan berbicara serta menyeru kepada kaum muslimin, memberitahukan akan keberadaan Yahudi yang bersembunyi di baliknya.

Sabda Rasulullah ﷺ harus kita pahami apa adanya sesuai dengan zhahirnya, bahwa benda-benda ini berbicara secara hakiki, dengan pembicaraan yang bisa didengar dan dipahami.

Ibnu Hajar Al-Asqalani Asy-Syafi’i t berkata : “Di dalam hadits ini ada tanda-tanda telah dekatnya hari kiamat dengan berbicaranya benda-benda mati seperti pohon dan batu. Zhahirnya, benda ini berbicara secara hakiki.” (Fathul Bari, 6/610)

Saudaraku, semoga Allah merahmati Anda, ketahuilah, para pemuja akal menganggap mustahil berita Rasulullah ﷺ yang ada di hadapan kita ini. Mereka berkata : “Mungkinkah benda-benda mati berbicara?”
Subhanallah. Mereka tidak menyadari, sesungguhnya mereka sedang berhadapan dengan berita Allah ﷻ dan Rasul-Nya. Mereka juga lupa –atau melupakan– kekuasaan Allah ﷻ.

Berbicaranya benda mati yang tidak memiliki lisan bukanlah hal yang mustahil bagi Allah ﷻ, Dzat Yang Mahakuasa atas segala sesuatu. Di hari kiamat, kulit dan anggota tubuh berbicara menjadi saksi atas perbuatan manusia. Allah ﷻ berfirman dalam Al Quran surat Yassiin [36] ayat 65 :

الْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلَى أَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَا أَيْدِيهِمْ وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ 65

Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan.

Allah juga berfirman dalam Al Quran surat Al Fushshilat [41] ayat 21 -22 :

 وَقَالُوا لِجُلُودِهِمْ لِمَ شَهِدْتُمْ عَلَيْنَا قَالُوا أَنْطَقَنَا اللَّهُ الَّذِي أَنْطَقَ كُلَّ شَيْءٍ وَهُوَ خَلَقَكُمْ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ 21

Dan mereka berkata kepada kulit mereka: “Mengapa kamu menjadi saksi terhadap kami?” Kulit mereka menjawab: “Allah yang menjadikan segala sesuatu pandai berkata telah menjadikan kami pandai (pula) berkata, dan Dia-lah yang menciptakan kamu pada kali yang pertama dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan.

 وَمَا كُنْتُمْ تَسْتَتِرُونَ أَنْ يَشْهَدَ عَلَيْكُمْ سَمْعُكُمْ وَلا أَبْصَارُكُمْ وَلا جُلُودُكُمْ وَلَكِنْ ظَنَنْتُمْ أَنَّ اللَّهَ لا يَعْلَمُ كَثِيرًا مِمَّا تَعْمَلُونَ 22

Kamu sekali-kali tidak dapat bersembunyi dari persaksian pendengaran, penglihatan dan kulitmu terhadapmu bahkan kamu mengira bahwa Allah tidak mengetahui kebanyakan dari apa yang kamu kerjakan.

Bukan hanya di akhirat, bahkan berbicaranya benda benda mati telah terjadi di dunia ini. Diantaranya :
– Pokok kurma yang dahulu dinaiki Rasulullah ﷺ n ketika berkhutbah, menangis dengan tangisan yang didengar para sahabat tatkala Rasulullah ﷺ  meninggalkannya karena beliau telah memiliki mimbar untuk berkhutbah. Dari Anas bin Malik dan Ibnu Abbas :

أَنَّ النَّبِيَّ n كَانَ يَخْطُبُ إِلَى جِذْعٍ فَلَمَّا اتَّخَذَ الْمِنْبَرَ ذَهَبَ إِلَى الْمِنْبَرِ، فَحَنَّ الْجِذْعُ فَأَتَاهُ فَاحْتَضَنَهُ فَسَكَنَ، فَقَالَ: لَوْ لَمْ أَحْتَضِنْهُ لَحَنَّ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ

“Dahulu Nabi n berkhutbah pada pokok pohon kurma, ketika dibuatkan mimbar, beliau berjalan menuju mimbar. Maka menangislah pokok kurma hingga didatangi Rasulullah dan beliau peluk dan diamlah ia. Rasulullah n bersabda, ‘Kalau tidak aku peluk sungguh dia akan terus menangis hingga hari kiamat’.”2

Demikian pula batu, benda mati ini pernah mengucapkan salam kepada Rasulullah. Lebih dari itu, bahkan batu pun bisa berlari jika Allah l memberikan kemampuan kepadanya untuk berlari sebagaimana dalam kisah Nabi Musa q dalam Shahih Al-Bukhari. Rasulullah ﷺ bersabda :

كَانَتْ بَنُو إِسْرَائِيلَ يَغْتَسِلُونَ عُرَاةً، يَنْظُرُ بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ، وَكَانَ مُوسَى يَغْتَسِلُ وَحْدَهُ، فَقَالُوا: وَاللهِ مَا يَمْنَعُ مُوسَى أَنْ يَغْتَسِلَ مَعَنَا إِلَّا أَنَّهُ آدَرُ، فَذَهَبَ مَرَّةً يَغْتَسِلُ فَوَضَعَ ثَوْبَهُ عَلَى حَجَرٍ، فَفَرَّ الْحَجَرُ بِثَوْبِهِ، فَخَرَجَ مُوسَى فِي إِثْرِهِ، يَقُولُ: ثَوْبِي يَا حَجَرُ. حَتَّى نَظَرَتْ بَنُو إِسْرَائِيلُ إِلَى مُوسَى فَقَالُوا: وَاللهِ مَا بِمُوسَى مِنْ بَأْسٍ، وَأَخَذَ ثَوْبَهُ، فَطَفِقَ بِالْحَجَرِ ضَرْبًا

Dahulu Bani Israil biasa mandi telanjang saling melihat satu dengan yang lain. Sementara Musa selalu menyendiri ketika mandi, hingga bani Israil berkata, “Demi Allah, tidak ada yang menghalangi Musa mandi bersama kita kecuali karena dia cacat kemaluannya.” Hingga suatu saat Musa mandi dan beliau letakkan bajunya di atas batu, tiba-tiba batu itu lari, dan Musa berlari mengikutinya seraya berkata, “Bajuku, wahai batu.” Hingga bani Israil melihat Musa dan mereka berkata, “Demi Allah tidak ada cacat pada Musa!” Musa berhasil mengambil bajunya dan ia pukul batu itu.4

Yahudi memancangkan bendera permusuhan kepada para nabi dan kaum mukminin.  Yahudi adalah kaum yang sangat busuk. Allah ﷻ menyebutkan sifat-sifat jelek mereka dalam banyak ayat Al Quran, demikian pula Rasulullah
dalam sabda sabda Rasulullah ﷺ  agar kita berhati-hati dari makar makar Yahudi dan menjauhi sifat sifat buruk mereka.

Bendera perang telah Yahudi kibarkan dengan penuh keangkuhan, di hadapan mukminin. Makar dan permusuhan Yahudi terus diarahkan kepada kaum muslimin, bahkan Rasulullah ﷺ pun tidak luput dari rencana jahat Yahudi.

Disebutkan dalam referensi referensi sirah (sejarah), sebab terjadinya perang Yahudi bani Nadhir, sekitar enam bulan seusai perang Badr (Ramadhan 2 H), Rasulullah ﷺ mendatangi Yahudi guna membantu beliau membayar diyat atas kematian dua orang dari kabilah Kullab yang dibunuh oleh ‘Amr bin Umayyah Adh-Dhamri. Dalam pembicaraan itu, mereka sanggup membantu Rasulullah ﷺ dan berkata, “Kami akan bantu engkau wahai Abul Qasim5, tapi duduklah di sini hingga kami memenuhi kebutuhanmu.”

Saat Rasulullah ﷺ menunggu, ternyata mereka merencanakan pembunuhan terhadap Rasulullah ﷺ. ‘Amr bin Jahsy terpilih untuk menimpakan (batu) penggiling gandum di atas kepala Rasulullah ﷺ yang sedang duduk. Ar Rasul seketika itu juga mendapat wahyu, beliau pun segera bangkit dan memerintahkan sahabat untuk menyerang Yahudi yang telah mengkhianati kesepakatan.

Kisah ini diriwayatkan Ibnu Hisyam dalam As-Sirah (3/267-268) dengan sanad mursal, akan tetapi dikuatkan dengan riwayat Musa bin ‘Uqbah sebagaimana disebutkan Ibnu Hajar dalam Fathul Bari (15/202) dan Al-Imam Al-Baihaqi dalam Dala’il An Nubuwah (3/180-181). Wallahu a’lam.6

Yahudi adalah kaum yang penuh hasad. Mereka selalu menginginkan kehinaan dan kecelakaan, serta menjauhkan kaum muslimin dari Islam.

Allah berfirman dalam Al Quran surat Al Baqarah [2] ayat 109 :

 وَدَّ كَثِيرٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يَرُدُّونَكُمْ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِكُمْ كُفَّارًا حَسَدًا مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِهِمْ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْحَقُّ فَاعْفُوا وَاصْفَحُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ 109

Sebahagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran. Maka maafkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Allah berfirman dalam Al Quran surat Al Baqarah [2] ayat 120 :

وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَى وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلا نَصِيرٍ 120

Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.

 

Mereka memang telah memancangkan bendera perang. Tetapi bendera itu tidak akan tegak dan berkibar. Bendera Yahudi akan segera tumbang dan diinjak-injak tentara Allah taala, sebagaimana kabar gembira yang kita dapatkan dalam sabda Rasulullah diatas.

 

Wallahu a’lam bishowab

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ ♥ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ♥ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ ♥ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ♥ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ