بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Perang Tabuuk adalah perang kedua dalam rangkaian Ekspedisi Pembebasan Baitul Maqdis.  Perang Tabuuk terjadi 6 bulan setelah pengepungan Tho’if, yakni pada bulan Rojab tahun ke 9 H atau 630 M.  Ini  sekaligus perang terakhir yang dipimpin Rosulullah.  Karena kita tahu, dua tahun kemudian, atau tepatnya 11 H, Rosulullah wafat.

Sama seperti pada perang pertama, perang kedua ini pun kaum Muslimin masih menghadapi pasukan Nashoro Romawi Timur dan Nashoro Arob.  Para Ahli sejarah menyebutkan beberapa sebab terjadinya perang Tabuuk, ada yang menyebutkan karena Rasulullah ﷺ mengetahui Hiraclius [Kaisar Romawi Timur] mempersiapakan pasukan besar yang terdiri dari pasukan Romawi dan sekutunya dari beberapa kabilah arab yang beragama Nashoro, seperti Ghossaniyah.

Pada musim panas tahun 630 M, Rosulullah dan para sahabat mendengar kabar bahwa Romawi Timur dan sekutu Ghossaniyah-nya telah menyiapkan pasukan besar untuk menginvasi Hijaz dengan kekuatan sekitar 40.000-100.000 orang.

Di lain pihak, Kaisar Bizantium Heraclius menganggap bahwa kekuasaan kaum Muslimin di Jazirah Arab akan terus menjadi besar dan kuat.  Setelah perang pertama di Mu’tah yang hasilnya adalah imbang, menunjukkan fakta bahwa Islam telah menjadi kekuatan yang cukup serius di Jaziroh Arobia.  Dan Kaisar Heraklius harus bertindak secepatnya, sebelum negri seumur jagung itu telah menjadi benar benar kokoh dan kuat.  Ia harus melakukan sesuatu untuk menghentikan Muhammad dan para sahabatnya.

Tetapi kemudian kita semua tahu, bahwa peperangan kemudian tidak terjadi sama sekali.  Kaum muslimin yang dipimpin langsung oleh Rosulullah Muhammad, yang telah melakukan perjalanan yang amat jauh, sekitar 1000 km lebih dari Madinah, telah tiba lebih dulu di Tabuuk.  Tetapi ternyata Heraklius dan pasukan Nashoronya, tidak pernah tiba di lokasi perang.  Mereka merasa takut dan gentar akan kekuatan pasukan Muslim, sehingga ketika pasukan Muslim tiba di perbatasan Syam itu, pasukan Romawi justru lari meninggalkan medan tempur.  Meninggalkan sekutu Nashoronya di sana.  Heraklius yang sebelumnya telah melakukan investigasi khusus menyangkut Muhammad, akhirnya ia dan para pendeta kerajaan mengambil kesimpulan bahwa Muhammad benar adanya seorang Utusan Allah.  Sehingga, perang melawan seorang nabi adalah sebuah tindakan bunuh diri dan sia sia.  Jadi, tak ada cara lain bagi mereka, kecuali meninggalkan gelanggang.  Membiarkan medan tempur tetap sunyi.

Perang Tabuk
[غزوة تبوك]
 
Waktu630 M atau Rajab 9 H
LokasiTabuk, sekarang adalah ibukota provinsi Tabuk. Arab Saudi
Pihak yang TerlibatMuslim Vs Nashoro Romawi Timur & Nashoro Arob
HasilKaum Nashoro memilih untuk tidak hadir dalam peperangan
Panglima Perang Musim : Rasulullah
Nashoro : -
KekuatanMuslim : 30.000
Nashoro : 100.000
Korban
-
Ekspedisi Perang Pembebasan Baitul Maqdis  
Perang Pertama Perang Mu'tah
Muslim Vs Nashoro Romawi Timur & Nashoro Arob
Tahun 629 M atau 5 Jumadil Awal 8 Hijriah
Perang KeduaPerang Tabuuk
Muslim Vs Nashoro Romawi Timur & Nashoro Arob
Tahun 630 M atau Rajab 9 H
Perang KetigaPerang Usamah bin ZaidTahun 632 M atau 11 H
Perang KeempatPerang YarmukTahun 634 M atau 13 H
Perang Pada Masa Rasulullah 
NamaTahun
Perang Badar KecilTahun 1 Hijriyah atau 623 M. Bentrokkan Pertama atau Perang Badar Kecil dan masih berbentuk sariyyah terjadi beberapa kali yakni :
1. Tahun 623 M / 1 H, bulan Rajab : Sariyyah Abdullah bin Jahsy. Ini adalah sariyyah atau satuan satuan pasukan Islam yang pertama yang dibentuk Rasulullah. Pada waktu itu bulan Rajab [ yang merupakah bulan haram ] tahun pertama Hijriah.
2. Tahun 623 M / 1 H, bulan Syaban : Sariyyah Hamzah,, pada bulan ke 8 [ Sya'ban ] Tahun Pertama Hijriah
3. Tahun 623 M / 1 H, bulan Syawal : Sariyyah Ubaidah bin Harits merupakan satuan perang ketiga yang dikirim Rasulullah setelah pasukan Hamzah gagal tanpa ada hasil. Pasukan perang ini dikirim Rasulullah pada bulan ke 10 [ Syawal ] tahun pertama Hijriah.
4. Perang Al Abwa atau Waddan atau Waddan,
5. Buwath,
6. Safwan dan
7. Asyirah
Perang Badar
Islam Vs Quroysy
Tahun 2 H atau 624 M
Perang Bani Qoinuqo'
Islam Vs Yahudi Madinah
Tahun 2 H atau 624 M. Beberapa bulan setelah perang Badar
Perang Bani Nadhir
Islam Vs Yahudi Madinah
Tahun 2 H atau 624 M. Beberapa bulan setelah perang Bani Qoinuqo'
Perang Uhud
Islam Vs Quroysy
Tahun 3 H atau 625 M
Perang Bani Khuza'ah atau Perang Bani Mustholiq Atau Muraisi
Islam Vs Bani Mustholiq
Tahun 5 H atau 627 M, bulan Sya’ban [bulan ke 8]
Perang Khondaq atau Perang Al Ahzab.
Islam Vs Quroysy, Yahudi Bani Nadhir
Tahun 5 H atau 627 M, bulan Syawal [bulan ke 10]
Perang Bani Quroizhah
Islam Vs Yahudi Bani Quroizhah
Tahun 5 H atau 627 M, awal Dzulhijjah [bulan ke 12]
Perjanjian Hudaibiyah
Islam Vs Quroysy
Tahun 6 H atau 628 M, bulan Dzulkaidah
Perang Khoibar
Islam Vs Yahudi Khoibar
Tahun 7 H atau 629 M
Perang Mu'tah
Islam Vs Nashoro Romawi Timur
Tahun 8 H atau 630 M, bulan Jumadil Awal [bulan ke 5]
Fat'hu Makkah
Islam Vs Quroysy
Tahun 8 H atau 630 M , bulan Ramadhan [bulan ke 9]
Perang Hunayin
Islam Vs Badui Suku Hawazin, Tsaqif
Tahun 8 H atau 630 M, bulan Syawwal [bulan ke 10]
Perang Tho'if
Islam Vs Badui Suku Hawazin, Tsaqif
Tahun 8 H atau 630 M. Beberapa minggu setelah perang Hunain
Perang Tabuk
Islam Vs Nashoro Romawi Timur
Tahun 9 H atau 631 M
Perang Usamah bin Zaid
Islam Vs Nashoro Romawi Timur
Tahun 11 H atau 632 M

Ibnu Asâkir rahimahullah menyebutkan sebab yang lain yaitu ketika orang-orang Yahudi mendatangi Rasulullah ﷺ dan mengatakan kepada Rasulullah ﷺ , “Jika engkau benar seorang Nabi maka datanglah ke Syam! Karena Syam adalah negeri Mahsyar dan negeri para Nabi”.   Maksud dan tujuan melontarkan tantangan ini adalah menipu dan ingin melihat kaum Muslimin celaka ketika harus berhadapan dengan pasukan Romawi. Ketika kaum Muslimin sampai di daerah Tabuuk, Allah Azza wa Jalla menurunkan ayat dalam surat Al Israa’ [17] ayat 76 :

وَإِنْ كَادُوا لَيَسْتَفِزُّونَكَ مِنَ الْأَرْضِ لِيُخْرِجُوكَ مِنْهَا

Dan sesungguhnya mereka hampir menjadikanmu gelisah di negeri (Makkah) untuk mengusirmu darinya

Pendapat yang lebih kuat adalah pendapat yang disebutkan oleh Ibnu Katsir rahimahullah yaitu Rasulullah ﷺ berniat untuk memerangi Romawi karena mereka orang yang paling dekat dengan Rasulullah ﷺ secara geografis dan yang paling berhak untuk menerima dakwah Islam karena letak mereka berdekatan dengan Islam dan kaum Muslimin. Allâh Azza wa Jalla telah berfirman dalam surat At Taubah [9] ayat 123 :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قَاتِلُوا الَّذِينَ يَلُونَكُمْ مِنَ الْكُفَّارِ وَلْيَجِدُوا فِيكُمْ غِلْظَةً ۚ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ

Wahai orang orang beriman perangilah orang orang kafir yang di sekitar kalian dan hendaklah mereka mendapatkan sikap keras yang ada pada kalian dan ketahuilah, bahwsanya Allâh bersama orang orang yang bertakwa

Apa yang dilakukan Rasulullah ﷺ merupakan sebentuk penerapan hukum jihad secara umum untuk memerangi semua orang-orang kafir termasuk ahlu kitab yang menghalangi tersebarnya dakwah dan memperlihatkan permusuhan.

MENGAPA DINAMAKAN PERANG TABUK DAN AL-‘USRAH?

Imam Muslim[2] meriwayatkan perjalanan Rasulullah ﷺ dan para Shahabatnya yang sedang menuju Tabuk. Dalam hadits itu disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّكُمْ سَتَأْتُوْنَ غَدًا إِنْ شَاءَ اللهُ عَيْنَ تَبُوْكَ وَإِنَّكُمْ لَنْ تَأْتُوْهَا حَتَّى يُضَحَّى النَّهَارُ فَمَنْ جَاءَهَا مِنْكُمْ فَلاَ يَمُسَّ مِنْ مَائِهَا شَيْئًا حَتَّى آتِيَ

Insya Allâh besok kalian akan sampai di mata air Tabûk, dan sungguh kalian tidak akan sampai ketempat itu kecuali setelah waktu agak siang dan barangsiapa sampai duluan maka janganlah dia menyentuh airnya sedikitpun sampai aku datang (ke tempat itu)

Dalam hadits ini, Rasulullah ﷺ menamakannya dengan Tabuk, padahal tempat itu belum didatangi oleh siapapun sebelumnya.[3]

Peperangan ini juga dinamakan dengan perang al-‘usrah (kesulitan) berdasarkan riwayat Imam al-Bukhâri[4] yang sanadnya sampai ke Abu Musa al-Asya’ari Radhiyallahu anhu. Beliau Radhiyallahu anhu berkata:

أَرْسَلَنِي أَصْحَابِي إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَسْأَلُهُ الْحُمْلَانَ لَهُمْ إِذْ هُمْ مَعَهُ فِي جَيْشِ الْعُسْرَةِ وَهِيَ غَزْوَةُ تَبُوكَ

Saya diutus oleh para sahabatku kepada Rasulullah ﷺ untuk menanyakan tentang kendaraan (tunggangan) yang bisa membawa mereka ketika mereka ikut Beliau ﷺ dalam pasukan al-Usrah yaitu perang Tabuk

Berdasarkan ini, imam al-Bukhari[5] memberi judul peperangan ini dengan Bab Ghazwati Tabûk wa hiya Ghazwatu al-‘Usrah.

Dari riwayat Abu Musa al-‘Asya’ri Radhiyallahu anhu di atas tergambar jelas kesulitan yang dialami oleh para Shahabat dalam peperangan ini. Kesulitan itu meliputi kesulitan harta, perbekalan dan kendaraan.

Imam Muslim[6] meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu yang menceritakan berbagai kesulitan dan kekurangan yang dialami kaum Muslimin dalam perjalanan mereka ini sampai harus bertahan hanya dengan satu kurma dengan meminum air setiap kali mereka menghisap kurma tersebut tanpa memakannya. Allah Azza wa Jalla juga menyebutkan kesulitan yang dialami kaum Muslimin ini dalam firman-Nya surat At Taubah [9] ayat 117 :

لَقَدْ تَابَ اللَّهُ عَلَى النَّبِيِّ وَالْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ الَّذِينَ اتَّبَعُوهُ فِي سَاعَةِ الْعُسْرَةِ مِنْ بَعْدِ مَا كَادَ يَزِيغُ قُلُوبُ فَرِيقٍ مِنْهُمْ ثُمَّ تَابَ عَلَيْهِمْ ۚ إِنَّهُ بِهِمْ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

Sesungguhnya Allâh telah menerima taubat nabi, orang-orang Muhajirin dan orang-orang Anshar yang mengikuti Nabi dalam masa kesulitan, setelah hati segolongan dari mereka hampir berpaling, kemudian Allâh menerima taubat mereka itu.

KEBUTUHAN TERHADAP BIAYA YANG BESAR

Pada perang ini, Rasulullah ﷺ menganjurkan para Shahabat untuk berinfak, karena jarak yang akan ditempuh agak jauh juga jumlah pasukan kaum musyrikin banyak. Rasulullah ﷺ menjanjikan ganjaran yang besar dari Allah Azza wa Jalla bagi mereka yang berinfak pada perang ini. Mendengar ini, para Shahabat g berinfak sesuai dengan kemampuannya. Utsman bin Affân Radhiyallahu anhu menjadi shahabat yang paling mengeluarkan infak kala itu, sebagaimana disebutkan dalam beberapa hadits dan atsar berikut:

Imam al-Bukhâri[10] meriwayatkan, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ جَهَّزَ جَيْشَ الْعُسْرَةِ فَلَهُ الْجَنَّةُ

Barangsiapa menyiapkan pasukan ‘Usrah maka baginya surga

Lalu Utsman Radhiyallahu anhu melakukannya.

Pada saat Utsman Radhiyallahu anhu dikepung di rumahnya beliau mengingatkan mereka dengan mengatakan, “Bukankan kalian telah mengetahu Rasulullah ﷺ berkata, “Barangsiapa mempersiapkan pasukan ‘Usrah maka baginya surga,” Kemudian aku melakukannya.” maka mereka membenarkan apa yang dikatakan Utsman Radhiyallahu anhu .[11]

Jumlah infak yang dikeluarkan Utsman mencapai seribu dinar.[12] Disamping itu, Utsmân Radhiyallahu anhu juga mengeluarkan infak dalam bentuk barang dan unta beserta perlengkapannya.[13] Ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat apa yang infakkan oleh Utsmân, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:[14]

مَا ضَرَّ ابْنُ عَفَّانَ مَا عَمِلَ بَعْدَ الْيَوْمِ

Tidak akan memudharatkan Ibnu Affan apa yang dia lakukan setelah hari ini

Para Shahabat berlomba berinfak sesuai dengan kemampuan, termasuk para Shahabat g yang miskin.[15] Mereka mengeluarkan harta yang tentu nominalnya tidak banyak dengan malu-malu karena terkadang diejekan oleh orang-orang munafik. Diantara mereka ada yang membawa satu sha’ kurma seperti Khaitsamah al-Anshâri Radhiyallahu anhu , ada juga yang membawa setengah sha’ kurma seperti Abu Uqail Radhiyallahu anhu .

Orang-orang munafik mencela infak mereka yang terlalu sedikit. Namun bukan saja para Shahabat yang miskin yang menjadi sasaran celaan mereka, para Shahabat yang kaya dan berinfak dengan harta yang banyak pun tidak luput dari celaan mereka. Mereka dituduh riya’ (pamer). Lalu Allâh Azza wa Jalla menurunkan ayat-Nya dalam surat At Taubah [9] ayat 79 :

الَّذِينَ يَلْمِزُونَ الْمُطَّوِّعِينَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ فِي الصَّدَقَاتِ وَالَّذِينَ لَا يَجِدُونَ إِلَّا جُهْدَهُمْ فَيَسْخَرُونَ مِنْهُمْ ۙ سَخِرَ اللَّهُ مِنْهُمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

(Orang-orang munafik itu) yaitu orang-orang yang mencela kaum Mukmin yang memberi sedekah dengan sukarela dan (mencela) orang-orang yang tidak memperoleh (untuk disedekahkan) selain sekedar kesanggupannya, maka orang-orang munafik itu menghina mereka. Allâh akan membalas penghinaan mereka itu, dan untuk mereka azab yang pedih.

Sebagian Shahabat ada yang tidak memiliki kemampuan sama sekali untuk bersedekah dengan materi seperti Ulbah bin Zaid Radhiyallahu anhu , namun ini tidak menyurutkan semangat mereka untuk bersedekah dan tidak menurunkan semangat mereka untuk ikut berperang. Mereka mendatangi Rasulullah ﷺ memohon kepada Rasulullah ﷺ agar diikutkan dalam peperangan ini, akan tetapi Rasulullah ﷺ tidak bisa memenuhi permintaan mereka. Akhirnya, dengan berurai air mata sedih, mereka kembali ke rumah karena tidak bisa ikut dalam pertempuran itu.

Demikian juga sikap Rasulullah ﷺ ketika didatangai Abu Musa al-Asy’ari Radhiyallahu anhu sebagai utusan dari sebagian shahabatnya untuk meminta agar diikutkan dalam peperangan itu. Rasul n juga tidak bisa memenuhi permintaan mereka. Selang beberapa lama setelah itu, Rasulullah ﷺ mengutus Bilal Radhiyallahu anhu untuk memanggil Abu Musa Radhiyallahu anhu dan memberinya enam ekor unta yang dibeli dari Sa’ad, sebagai tunggangan mereka di peperangan ini. [16]Disebutkan dalam riwayat yang lain Rasulullah ﷺ memberi mereka lima ekor unta yang didapatkan dari ghanimah.[17]

PELAJARAN PENTING:

Semangat Rasulullah ﷺ dalam mendakwahkan Islam
Tetap melaksanakan kewajiban walaupun secara zhahir sangat berat dan berisko, seperti dalam peperangan ini dengan segala kesulitan yang harus dihadapi berupa jumlah musuh yang lebih banyak, tempat yang jauh dan perbekalan minim. Ini tidak menjadi alasan meninggalkan kewajiban berjihad
Merasa sedih ketika tidak mampu melakukan kewajiban sekalipun secara syar’i sudah boleh untuk meninggalkannya
Pengorbanan besar Rasulullah ﷺ dan para Shahabat g dalam mendakwahkan Islam
Orang-orang munafik senantiasa mencela apapun yang dilakukan oleh orang-orang yang berbuat baik
[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 12/Tahun XVIII/1436H/2015. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196.Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]
_______
Footnote
[1] Diangkat dari as-Sîratun Nabawiyah fi Dhau’il Mashâdirul Ashliyah, Mahdi Rizqullah, hlm. 613-615

[2] Shahîh Muslim, 4/1784, hadits no. 706

[3] Lihat ad-Dzahabul Masbuk fi Tahqîq Riwayat Ghazwati Tabûk, hlm. 38, sebuah risalah magister yang sudah dicertak.

[4] Al-Fathu, 16/238, hadits no. 4415

[5] Al-Fathu, 16/238.

[6] Shahih Muslim(1/55-56/hadits:27).

[7] Al-Fathu, 16/237).

[8] Al-Wâqidi, al-Maghâzi, 3/989- 990; Ibnu Sa’di, at-Thabaqât, 2/165

[9] At-Târîkh, 2/67

[10] Al-Fathu, 14/194- 195, Kitâbul Fadhâ’il, Bab Manaqib Utsmân, secara mu’allaq.

[11] Al-Bukhâri, Al-Fathu, 11/150-151, hadits no. 2778

[12] Ahmad, al-Musnad, 5/53; Shahîh Sunan Tirmidzi, 3/209, hadits no. 2920,3967

[13] At-Tirmidzi, as-Sunan, 9/289-290, hadits no. 3700

[14] Ahmad, al-Musnad, 5/53; Shahîh Sunan Tirmidzi, 3/209, hadits no. 2920 dan 3967

[15] Al-Bukhâri (al-Fathu, 17/211-213, hadits no. 4668)

[16] Al-Bukhâri (al-Fathu, 16/238-239, hadits no. 4415)

[17] Al-Bukhâri (al-Fathu,16/223, hadits no. 4385)

Wallahu a’lam bishowab

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ ♥ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ♥ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ ♥ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ♥ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ