ِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Perang Mu’tah [معركة مؤتة , غزوة مؤتة‎] adalah perang pembuka dalam ekspedisi panjang membebaskan Baitul Maqdis.  Inilah perang pertama, kontak senjata pertama dan adu tempur yang pertama antara kaum Muslim dalam melawan hegemoni kekuasaan aliansi Nashoro Romawi Timur dan Nashoro Arob [Ghossaniyah] di bumi Syam, bumi yang diberkahi Allah Ta’ala.

Perang ini telah menghentakkan dan mengherankan dunia pada saat itu.  Karena bagaimana mungkin, sebuah negara yang masih amat muda, masih berusia delapan tahun, dengan luas wilayah yang hanya bertumpu pada Madinah, dan dengan kekuatan pasukan dan senjata yang minim, tetapi berani dan mampu menantang raksasa Romawi Timur.

Perang Mu’tah ini ibarat perang pendahuluan, sebelum perang sesungguhnya yaitu perang Tabuk. dimana pada perang itu Rosulullah sendiri yang menjadi panglima perangnya.  Meskipun kemudian kita ketahui bersama sama, bahwa justru pada perang Mu’tah itulah Romawi Timur mengetahui bahwa pasukan Muslim adalah pasukan yang tangguh, kuat dan hebat dalam strategi berperang.  Lebih dari itu, semangat jihad yang disandang seluruh tentara Muslim, telah membuat gentar Romawi Timur.  Itu sebabnya, pada perang ‘sesungguhnya’ yakni perang Tabuuk, justru Romawi Timur melarikan diri bahkan sebelum perang itu benar benar terjadi!

Romawi Timur kala itu, bersama kekaisaran Persia, telah menjadi dua kekuatan raksasa yang disegani dan ditakuti oleh kerajaan kerajaan lain di dunia.  Wilayah kekuasaan yang luas, persenjataan dan kekayaan yang melimpah, telah menjadikan  Romawi Timur dan Persia sebagai kekuatan raksasa yang bahkan telah berusia beradab abad.  Bandingkan dengan negara Islam yang dipimpin Muhammad Rosulullah.  Khilafah Islamiyah yang bahkan belum sempat meluaskan wilayahnya, hanya bertumpu pada Madinah dan paling jauh baru mencapai Khoybar.  Sedang wilayah wilayah ‘gemuk’ dan strategis seperti Makkah dan Thoif, masih dikuasai oleh kafir Quroysy.  Jadi dengan wilayah yang masih kecil itu, bagaimana mungkin tentara Muslim sudah berani bertarung dan mampu mengimbangi kekuatan Romawi Timur.

Perang Mu’tah terjadi pada bulan Jumadil Ula Tahun 8 H atau Agustus Tahun 630 M.  itu berarti, ekspedisi pembebasan Masjidil Aqsho, sudah dilakukan 4 bulan sebelum terjadi pembebasan Masjidil Harom [Fat’hu Makkah/ فتح مكة].  Rosulullah tentu sudah paham bahwa setelah Perjanjian Hudaybiyyah (صلح الحديبية) maka pembebasan Masjidil Harom [Makkah] itu hanya menunggu waktu saja.  Sehingga tanpa perlu menunggu Makkah betul betul bebas, Rosulullah sudah memulai ekspedisi jihad pembebasan Masjidil Aqsho, empat bulan sebelum terjadi [Fat’hu Makkah/ فتح مكة].

Membebaskan Baitul Maqdis, yang didalamnya ada Masjidil Harom, tentu bukan pekerjaan mudah dan cepat.  Rosulullah tahu betul, bahwa tidak ada kekuataan digdaya di muka bumi, kecuali dia menginginkan Baitul Maqdis.  Dan itu sudah tercatat dalam sejarah umat manusia.  Sehingga untuk bisa membebaskan Masjdil Harom, dibutuhkan strategi perang yang brilian, pasukan yang tangguh dan berani.  Dan tentu saja memohon kekuatan dan pertolongan Allah Ta’ala.

Perang ini terjadi bertepatan dengan musim panas. Sedang Mu’tah adalah nama sebuah desa di daerah Al Balqo, sebelah timur Sungai Yordan dan Al Karak.  Mu’tah ini ada di perbatasan antara Syam dan Jaziroh Arob. Kini desa itu berganti nama menjadi Kirk. Berjarak sekitar 1100 km dari utara Madinah, setelah Khoybar, kota kaumnya Nabi Sholeh, Tabuk, baru setelah itu Syam.

Perang Mu’tah disebut pula dengan Sarriyah Jaisyil Umara’, artinya perang pasukan para pemimpin.  Kita sebut ini adalah Sarriyah karena memang Rosulullah tidak ikut serta dalam peperangan ini.  Tetapi karena banyaknya jumlah pasukan kaum Muslimin yang kala itu mencapai 3000 personel, sebagian sejarawan muslim menyebut perang Mu’tah sebagai Ghozwa Mu’tah.  Inilah pasukan sarriyah terbanyak yang pernah dikirim Rosulllah.

♦ 9 tahun setelah Isra’ Mi’raj, beberapa bulan [bahkan] sebelum Makkah betul betul dibebaskan ⇒  ekspedisi Pebebasan Masjidil Aqsha telah dimulai dengan melakukan perang Mu’tah ini.
♦ Inilah Perang pertama antara Kaum Muslim vs Nashoro Romawi Timur [Byzantium]

Ekspedisi Perang Pembebasan Baitul Maqdis  
Perang Pertama Perang Mu'tah
Muslim Vs Nashoro Romawi Timur & Nashoro Arob
Tahun 629 M atau 5 Jumadil Awal 8 Hijriah
Perang KeduaPerang Tabuuk
Muslim Vs Nashoro Romawi Timur & Nashoro Arob
Tahun 630 M atau Rajab 9 H
Perang KetigaPerang Usamah bin ZaidTahun 632 M atau 11 H
Perang KeempatPerang YarmukTahun 634 M atau 13 H
Perang Mu'tah .
[معركة مؤتة]
 
Waktu 629 M atau 5 Jumadil Awal 8 Hijriah
LokasiDi desa Mu’tah, di daerah Balqo, sebelah timur Sungai Yordan dan Al Karak. Perbatasan antara Syam dan Jaziroh Arob. Kini desa itu berganti nama menjadi Kirk.
HasilImbang
Pihak Yang TerlibatMuslim Madinah Vs Nashoro Romawi Timur & Nashoro Arob
Panglima PerangMuslim :
Zaid bin Haritsah,
Ja'far bin Abu Thalib,
Abdullah bin Rawahah

Romawi Timur :
Heraclius,
Theodorus,
Syurohbil bin ‘Amr al-Ghassani,
Malik bin Zafilah
KekuatanMuslim: 3000 Vs Romawi Timur:200.000
KorbanMuslim:12
Romawi Timur:20.000
Perang Pada Masa Rasulullah 
NamaTahun
Perang Badar KecilTahun 1 Hijriyah atau 623 M. Bentrokkan Pertama atau Perang Badar Kecil dan masih berbentuk sariyyah terjadi beberapa kali yakni :
1. Tahun 623 M / 1 H, bulan Rajab : Sariyyah Abdullah bin Jahsy. Ini adalah sariyyah atau satuan satuan pasukan Islam yang pertama yang dibentuk Rasulullah. Pada waktu itu bulan Rajab [ yang merupakah bulan haram ] tahun pertama Hijriah.
2. Tahun 623 M / 1 H, bulan Syaban : Sariyyah Hamzah,, pada bulan ke 8 [ Sya'ban ] Tahun Pertama Hijriah
3. Tahun 623 M / 1 H, bulan Syawal : Sariyyah Ubaidah bin Harits merupakan satuan perang ketiga yang dikirim Rasulullah setelah pasukan Hamzah gagal tanpa ada hasil. Pasukan perang ini dikirim Rasulullah pada bulan ke 10 [ Syawal ] tahun pertama Hijriah.
4. Perang Al Abwa atau Waddan atau Waddan,
5. Buwath,
6. Safwan dan
7. Asyirah
Perang Badar
Islam Vs Quroysy
Tahun 2 H atau 624 M
Perang Bani Qoinuqo'
Islam Vs Yahudi Madinah
Tahun 2 H atau 624 M. Beberapa bulan setelah perang Badar
Perang Bani Nadhir
Islam Vs Yahudi Madinah
Tahun 2 H atau 624 M. Beberapa bulan setelah perang Bani Qoinuqo'
Perang Uhud
Islam Vs Quroysy
Tahun 3 H atau 625 M
Perang Bani Khuza'ah atau Perang Bani Mustholiq Atau Muraisi
Islam Vs Bani Mustholiq
Tahun 5 H atau 627 M, bulan Sya’ban [bulan ke 8]
Perang Khondaq atau Perang Al Ahzab.
Islam Vs Quroysy, Yahudi Bani Nadhir
Tahun 5 H atau 627 M, bulan Syawal [bulan ke 10]
Perang Bani Quroizhah
Islam Vs Yahudi Bani Quroizhah
Tahun 5 H atau 627 M, awal Dzulhijjah [bulan ke 12]
Perjanjian Hudaibiyah
Islam Vs Quroysy
Tahun 6 H atau 628 M, bulan Dzulkaidah
Perang Khoibar
Islam Vs Yahudi Khoibar
Tahun 7 H atau 629 M
Perang Mu'tah
Islam Vs Nashoro Romawi Timur
Tahun 8 H atau 630 M, bulan Jumadil Awal [bulan ke 5]
Fat'hu Makkah
Islam Vs Quroysy
Tahun 8 H atau 630 M , bulan Ramadhan [bulan ke 9]
Perang Hunayin
Islam Vs Badui Suku Hawazin, Tsaqif
Tahun 8 H atau 630 M, bulan Syawwal [bulan ke 10]
Perang Tho'if
Islam Vs Badui Suku Hawazin, Tsaqif
Tahun 8 H atau 630 M. Beberapa minggu setelah perang Hunain
Perang Tabuk
Islam Vs Nashoro Romawi Timur
Tahun 9 H atau 631 M
Perang Usamah bin Zaid
Islam Vs Nashoro Romawi Timur
Tahun 11 H atau 632 M

Meski ini adalah peperangan pertama melawan kaum Nashoro, tetapi sejarah mencatatnya sebagai sebuah peperangan besar, di mana tentara Islam yang hanya berjumlah 3.000 orang, harus melawan 200.000 tentara Nashoro Romawi Timur dan Nashoro Arob.  Meski kekuatan tidak berimbang sama sekali, tetapi perang Mu’tah ini berjalan dengan dasyat, sengit dan alot.

Romawi Timur adalah sebuah kekuasaan Empire yang besar dan kuat.  Dan pada saat Rosulullah hidup, saat itu Romawi Timur dipimpin oleh Kaisar Heraklius.

Heraklius [bahasa Latin: Flavius Heraclius Augustus, bahasa Yunani: Φλάβιος Ἡράκλειος ca. 575 – 11 Februari 641] adalah Kaisar Romawi Timur [sumber sumber Barat sering menyebut Romawi Timur sebagai Bizantium] yang berkuasa sejak 610 sampai 641 M.
Heraklius dinobatkan sebagai Kaisar Bizantium, setelah berhasil melengserkan Pochus. Pada masa kekuasaannya Bizantium beberapa kali terlibat dalam pertempuran dengan Kerajaan Persia Sassaniyah, dalam memperebutkan sejumlah wilayah kekuasaan di kawasan Asia Barat seperti Suriah dan Anatolia.
Pada tahun 626, Pasukan Bizantium berhasil mengalahkan tentara Persia Sassaniyah dalam Perang Niniveh, setelah memperoleh kemenangan dalam pertempuran atas Sassaniyah, wilayah kekuasaan Bizantium menjadi semakin luas. Untuk merayakan kemenangannya tersebut, Kaisar menziarahi Gereja Makam Suci yang terletak di Baitul Maqdis [Palestina].  Pada saat merayakan kemenangannya di sana, Heraklius mendapat kiriman surat dari Rosulullah Muhammad SAW yang memintanya untuk menganut agama Islam. Meski menolak masuk Islam, Heraklius tetap menghargai surat Rosulullah.
Meski pernah dekat dan sempat menjalin persahabatan dengan kaum muslim, pada masa kekuasaannya, Kekaisaran Bizantium beberapa kali terlibat konflik dengan kaum muslim, seperti dalam Perang Mu’tah, Perang Tabuk dan Perang Yarmuk, yang pada ahirnya menyebabkan sebagian wilayah kekuasaan Bizantium di rebut oleh kaum Muslim.

Setelah Perjanjian Hudaibiyyah disepakati, Rasullulah mengirimkan suratsurat dakwah sekaligus berdiplomasi kepada para penguasa negeri yg berbatasan dengan jaziroh arob, termasuk kepada Romawi Timur yang menguasai daerah Syam. Pada Tahun 7 hijriah atau 628 AD, Rasulullah menugaskan al Harits bin Umair Al Azdi untuk mengirimkan surat dakwah kepada Gubernur Syam, di Nova Trajana Bostra [Bushro, Suria] bernama Hanits bin Abi Syamr Al Ghassani yg baru diangkat oleh Kekaisaran Romawi.

Bushro asy Syam (Arab: بصرى الشام‎‎‎, juga dieja Bushra, Bostra, Busrana, Bozrah, Bozra adalah sebuah kota [sekarang] di Suriah bagian selatan, wilayah provinsi Daraa.  Dulu Bushro menjadi salah satu propinsi Romawi Timur.

Di bawah Kekaisaran Romawi, Bushro diganti menjadi Nova Trajana Bostra dan kediaman Legio III Cyrenaica. Pada masa itu kota ini menjadi ibukota provinsi Romawi di Arab. Kota ini menjadi jalur utama perdagangan yang berkembang karena letaknya tepat dipersimpangan beberapa rute perdagangan. Menghubungkan Via Traiana Nova, sebuah jalur penghubung antara Damaskus menuju Laut Merah. Kota ini menjadi pusat penting bagi produksi jagung pada masa pemerintahan Kaisar Phillip.

Pada periode Bizantium yang dimulai pada abad ke-5, Kristen menjadi agama yang dominan di Bushro. Kota ini memiliki Uskup Agung kursi dan katedral besar yang dibangun pada abad ke-6. Pada awal abad ke 7 Bushro ditaklukkan oleh. Kekaisaran Sasaniyah dari Persia, tetapi berhasil direbut kembali selama penaklukan

Dalam perjalanan, di daerah sekitar Mut’ah, al Harits bin Umair dicegat dan dibunuh oleh gubernur Al Balqo, Syurohbil bin ‘Amr al Ghossani, yang juga pemimpin dari suku Ghossaniyah [Pada waktu itu yang berkuasa di wilayah Baitul Maqdis dan sekitarnya adalah Ghossaniyah] [Kelengkapan Tarikh Edisi Lux Jilid 2 Oleh Moenawar Chalil, K.H. hal 483.  Fathul Baari (9/368)]

Ghossaniyah (bahasa Arab: الغساسنة) (al-Ghasāsinah, juga Banū Ghassān “Anak-anak Ghassān”) adalah kelompok suku Nashoro Arab Selatan yang terhellenisasi dan kemudian teromanisasi. Mereka bermigrasi pada awal abad ke 3 dari Yaman menuju Suriah, Yordania, Lebanon dan Tanah Suci. Di sana mereka bercampur dengan komunitas komunitas Kristen Awal penutur bahasa Yunani. Nama Ghassān merujuk kepada kerajaan suku Ghassaniyah, yang merupakan kerajaan Kristen Arab kuno di Syam.

Dan Pada tahun yg sama Utusan Rasulullah untuk Banu Sulayman dan Dhat al Talh [daerah di sekitar negeri Syam Irak]  juga dibunuh oleh penguasa sekitar.  Sebelumnya, tidak pernah seorang utusan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dibunuh dalam misinya.

Menurut Dr Dhiya Al Umuri dalam Shahih Sirah Nabawiyah, Perang Mu’tah — seperti yang diriwayatkan Al-Waqidi – dipicu oleh ulah Syurobil bin Amr al Ghossani, penguasa Bushro yang telah membunuh Al Harits bin Umair Al Azdi.

Al-Harits diutus Rosulullah untuk mengirimkan surat ajakan memeluk Islam.  Namun Syurobil, penguasa Bushra itu tak mengindahkan etika diplomasi yang berlaku pada zaman itu, yakni seorang utusan resmi dari sebuah negeri tak boleh dibunuh.

Bushro asy Syam [Arab: بصرى الشام‎‎‎, juga dieja Bushra, Bostra, Busrana, Bozrah, Bozra] adalah sebuah kota perdagangan di Syam yang masuk menjadi wilayah jajahan Romawi TImur dan menjadi ibukota propinsi.  Kota Bushro kini masuk dalam wilayah Suriah bagian selatan, wilayah provinsi Daraa.

Menurut Ibnu Ishaq Rohimahullah, Rasulullah menunjuk 3 orang komandan perang Mu’tah.  Yang pertama adalah Zaid bin Haritsah, kemudian Ja’far bin Abi Thalib,  lalu seorang sahabat dari Anshar, Abdullah bin Rawahah, penyair Rasulullah ﷺ.   Az Zurqani menambahkan, “Bila Ibnu Rowahah terbunuh juga, maka hendaklah kaum Muslimin menunggu terpilihnya seseorang dari mereka untuk memimpin”.

Rosulullah menunjuk Zaid [anak angkat Rosulullah] karena memang Zaid telah berkali kali memimpin sarriyah [disebutkan 5 kali], dan diantara sarriyah itu adalah sarriyah yang lokasinya arah utara Madinah.  Sedang Mu’tah itu sebelah utara Madinah.  Jadi, penunjukkan ini sudah amat tepat.  Meski terdapat sedikit gesekan diantara para sahabat karena tidak setuju dipilihnya Zaid bin Haritsah.

Dalam hal ini, Aisyah berkata : Rosulullah tidak pernah mengirimkan sebuah pasukan yang didalamnya ada Zaid, kecuali Zaid akan diangkat menjadi panglima.  Kaum Syiah amat gusar dan geram terhadap fakta sejarah ini.  Karena bagi mereka, seharusnya Ja’far yang menjadi panglima utama, dan bukan Zaid yang dulunya adalah seorang budak.  Itulah sebabnya dalam kitab kitab Syiah, ketika membahas perang Mu’tah, maka mereka mencantumkan nama Ja’far bin Abu Tholib sebagai panglima utama, setelah itu barulah Zaid dan Ibnu Rowahah.

Ketika pasukan menyalami Abdullâh bin Rawâhah Radhiyallahu anhu, mereka melihat ia menangis. Sehingga ditanyakan kepadanya, “Apa yang membuatmu menangis, hai Ibnu Rawâhah ?”

Abdullâh bin Rawâhah Radhiyallahu anhu menjawab, “Demi Allâh, aku bukan mencintai dunia maupun menangisi kalian, akan tetapi, aku mendengar Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca ayat tentang neraka yang bunyinya : QS. Maryam/19:71

وَإِنْ مِنْكُمْ إِلَّا وَارِدُهَا ۚ كَانَ عَلَىٰ رَبِّكَ حَتْمًا مَقْضِيًّا

Setiap kalian pasti akan melewatinya. Itu adalah ketetapan Allâh yang pasti terlaksana, maka aku tidak tahu, bagaimana aku keluar setelah melewatinya?”

Maka kaum Muslimin menimpali, “Semoga Allah menyertai dan membela kalian, dan semoga kalian kembali kepada kami dalam keadaan baik baik”.

Kemudian berangkatlah pasukan Islam menuju sungai Yordan, tempat dahulu Nabi Isa dan Nabi Yahya pernah bertemu.  Kali ini pasukan Islam akan memulai debut ekspedisi membebaskan Masjidil Aqsha.  Tapi diawal, Rasulullah memilih menggempur Mu’tah lebih dulu.  Mengingat sungat Yordan adalah pembuka untuk masuk ke Palestina.   Maka berangkatlah mereka hingga mencapai suatu tempat yang bernama Ma’an.

Di Ma’an, mata mata Islam melaporkan.  Raja Hiraklius dengan 100 ribu pasukan Romawi telah tiba di Balqa’ dan diperkuat lagi dengan 100 ribu pasukan dari sejumlah kabilah Arab yang loyal kepada Romawi, seperti Lakham, Judzam, Qain, dan Bahra’.

 Saat itu pasukan Islam 3000 akan berhadapan dengan 200.000 tentara aliansi Nashoro Romawi Timur + Nashoro Arab.  Mendengar kabar yang demikian, sejenak keraguan menyapu wajah wajah mereka.  Dinding dinding hati mereka berdentum dentum.

‘Yaa Rabb … demikian besar pasukan musuhMu.  Sedangkan kami hanya sedikit, bagaimana kami bisa memenangkan pertarungan ini?’

Kaum Muslimin sempat menetap di Ma’an selama dua malam, sembari memikirkan keadaan mereka dan kembali mengatur strategi yang mesti diterapkan. Mereka mengusulkan agar berkirim surat kepada Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan memberitahukan jumlah pasukan musuh. Harapannya, supaya Rosulullah mengirim pasukan tambahan atau menetapkan suatu keputusan untuk mereka taati [berbalik pulang]

Menghadapi situasi yang bila tidak segera ditangani, maka efeknya akan sangat berbahaya ini, maka Panglima Perang yang ke-3, yakni Abdullah bin Rawanah رضي الله عنه langsung meninggikan suaranya, bersyair dengan dasyat. Dan dari atas batu besar, beliau mengangkat kedua tangannya dan berkata lantang :
“Demi Allah, wahai kaum, apa yang kalian takutkan adalah sesuatu yang kalian kejar selama ini, yaitu mati syahid.
Kita itu tidak berjuang karena karena jumlah pasukan atau kekuatan.
Kita berjuang untuk agama ini, yang Allah Azza wa Jalla telah memuliakan kita dengannya.
Bergeraklah.
Hanya ada salah satu dari dua kebaikan : kemenangan atau syahid di medan perang”.

Mendengar syair Abdullah, pasukan Muslim kembali bangkit semangat menuju Mu’tah.  Dengan semangat jihad berlapis lapis, mereka menghadapi 200.000 tentara Nashoro Romawi Timur dan Nashoro Arab.

Pasukan pun kembali bergerak maju hingga tiba di perbatasan Balqa’, tepatnya di salah satu desa yang bernama Masyârif. Di sana mereka mendapati pasukan Hiraklius.  Ketika musuh mendekat, pasukan kaum Muslimin bergeser ke desa lain yang bernama Mu’tah, hingga di desa itulah kedua pasukan saling berhadapan. Kaum Muslimin telah siaga dengan menunjuk Qutbah bin Qotadah Radhiyallahu anhu sebagai komandan sayap kanan dan di sayap kiri didaulatlah Ubadah bin Malik al Anshâri Radhiyallahu anhu .

Melihat semangat yang berkobar kobar dari pasukan Islam, membuat Romawi harus memutar otak untuk memenangkan perang ini.  Kemudian mereka mengincar hanya Panglima Perangnya. Karena di medan tempur, panglima ibarat jantung.  Bila panglima sudah mati terkapar, maka seluruh anak buah akan kehilangan daya.

Zaid bin Hâritsah Radhiyallahu anhu melesat ke barisan musuh dengan membawa panji-panji Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan segera menjadi incaran Romawi Timur. Dia berperang penuh semangat menerjang barisan musuh hingga syahid tertusuk tombak musuh.

Panji-panji pun lantas diambil alih oleh Ja’far bin Abi Thâlib Radhiyallahu anhu . Perang kembali berkecamuk. Tetapi Ja’far Radhiyallahu anhu tidak mendapatkan celah untuk keluar dari kepungan musuh. Dia pun meloncat dari atas punggung kuda tunggangannya dan menebas keempat kaki kudanya lalu menyeruak ke tengah barisan musuh hingga akhirnya syahid pula. Dan Ja’far adalah orang Islam pertama yang membunuh kudanya di medan perang.

Salah seorang saksi mata dari Bani Murrah bin ‘Auf mengisahkan:

Masih terbayang olehku ketika Ja’far Radhiyallahu anhu meloncat dari atas kudanya lalu menebas kaki-kaki kudanya, kemudian ia maju menyerang sambil bersyair,

يَا حَبَــــَّذا الْجَنـَّــةُ وَاقْتِرَابـُــــهَا طَــــيِّبـــَةً وَبـَـارِدًا شَرَابـُــــــهَا

والرومُ رُوْمٌ قَدْ دَنَا عَذَابُها كَــــافِرَةٌ بَعِيْـــدَةٌ أَنْسَابُــهَا

علَيَّ إذْ لاَقَيْتُهَا ضِرَابُــــهَا

Duhai, alangkah dekatnya Jannah itu tempat yang nyaman dan dingin minumannya

Bangsa Romawi telah dekat siksanya dan mereka orang kafir yang jauh nasabnya

Bila mereka di hadapanku maka wajib kuhabisi

Ibnu Hisyâm rahimahullah meriwayatkan dari sejumlah Ulama yang dianggapnya tsiqah, bahwa Ja’far bin Abi Thâlib Radhiyallahu anhu memegang panji-panji dengan tangan kanannya, akan tetapi kemudian ditebas oleh musuh hingga putus. Dia pun lantas memegangnya dengan tangan kirinya yang kemudian juga ditebas oleh musuh hingga putus. Maka didekaplah panji-panji itu dengan pangkal lengannya hingga iapun gugur dalam usia 33 tahun. Karena pengorbanannya tadi, Allâh Azza wa Jalla mengganti kedua tangannya dengan sepasang sayap, sehingga ia bebas terbang sesukanya di dalam Jannah.

Setelah Ja’far Radhiyallahu anhu terbunuh, panji-panji diambil alih oleh Abdullâh bin Rawâhah Radhiyallahu anhu dan ia pun menerjang maju. Beberapa saat ia berusaha turun dari kudanya, akan tetapi dihinggapi keraguan, lalu ia bersyair untuk menguatkan tekadnya dan meniru kedua sahabatnya yang telah gugur.

Ibnu Rawâhah Radhiyallahu anhu akhirnya juga turun dari kudanya, dan ia dihampiri sepupunya yang membawa sepotong tulang dengan menyisakan sedikit daging, seraya berkata, “Makanlah agar kekuatanmu pulih!”

Ibnu Rawahah pun mengambil daging tadi dan memakannya. Namun baru sekali menggigitnya, ia mendengar suara hiruk-pikuk dari arah tertentu, dan katanya, “Engkau masih di dunia!”

Mendengar seruan, serta merta dilemparlah daging itu. Sambil menghunus pedangnya, ia maju lagi dan terus berperang hingga syahid. Radhiyallâhu ‘anhum

Setelah terbunuhnya ketiga panglima tadi, panji-panji diambil oleh Tsâbit bin Arqam al- ‘Ajlani seraya berseru, “Wahai kaum Muslimin, tunjuklah seseorang agar memimpin kalian!”

“Engkau saja !” sahut mereka.

“Tidak, aku tidak akan menerimanya!” jawab Tsabit.

Akhirnya mereka sepakat untuk menunjuk Khâlid ibnul Walîd sebagai panglima. Begitu Khâlid mengambil panji-panji itu, dia pun berusaha menolak serangan musuh dan menyelamatkan sisa-sisa pasukan kaum Muslimin, lalu menyingkir dari medan perang.

Menurut Ibnu Ishaq rahimahullah, ketika ketiga panglima tadi terbunuh, Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang kala itu berada di Madînah menceritakan kepada para sahabatnya :

أَخَذَ الرَّايَةَ زَيْدُ بنُ حَارِثَةَ فَقَاتَلَ بِهَا حَتَّى قُتِلَ شَهِيْدًا؛ ثُمَّ أَخَذَهَا جَعْفَرٌ فَقَاتَلَ بِهَا حَتَّى قُتِلَ شَهِيْدًا؛

(panji-panji dibawa oleh Zaid bin Hâritsah, lalu ia bertempur hingga mati syahid; kemudian panji-panji dibawa oleh Ja’far, dan ia bertempur hingga mati syahid);

Kemudian Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam terdiam hingga raut muka kaum Anshâr pun berubah. Mereka mengira, sesuatu yang tidak disukai telah terjadi pada diri Abdullâh bin Rawâhah Radhiyallahu anhu . Namun Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian berkata :

ثُمَّ أَخَذَهَا عَبْدُاللهِ بنُ رَوَاحَةَ فَقَاتَلَ بِهَا حَتَّى قُتِلَ شَهِيْدًا، ثم قال: لَقَدْ رُفِعُوا إِلَيَّ فِي الجَنَّةِ، فِيمَا يَرَى النَّائِمُ، عَلَى سُرُرٍ مِنْ ذَهَبٍ، فَرَأَيتُ فِي سَرِيرِ عَبْدِاللهِ بنِ رَوَاحَةَ اِزْوِرَارًا عَنْ سَرِيرَيْ صَاحِبَيْهِ، فَقُلْتُ: عَمَّ هَذَا؟ فَقِيلَ لِي: مَضَيَا وَتَرَدَّدَ عَبْدُاللهِ بَعْضَ التَّرَدُّدِ، ثُمَّ مَضَى

Kemudian panji-panji diambil oleh Abdullâh bin Rawâhah, dan ia bertempur hingga mati syahid. Lalu Nabi n bersabda, “Mereka semua ditampakkan kepadaku sedang berada di atas dipan-dipan emas seperti dalam mimpi. Dan kulihat dipan Ibnu Rawâhah agak jauh posisinya dari dipan kedua sahabatnya, maka kutanyakan mengapa bisa begitu? Dan dikatakan kepadaku bahwa kedua sahabatnya maju tanpa ragu, sedangkan Ibnu Rawâhah tampak ragu-ragu, baru kemudian ia maju.  [Hadits ini juga diriwayatkan al-Bukhâri dalam Shahih-nya (no 3757) dengan redaksi yang mirip tanpa menyebutkan mimpi Rasulullah.]

Dalam Shahîhul Bukhâri disebutkan, setelah Ibnu Rawâhah terbunuh, Rasûlullâh mengatakan panji-panji kemudian diambil oleh salah satu pedang Allah, maksudnya Khâlid ibnul Walîd Radhiyallahu anhu , lalu Allâh Azza wa Jalla memenangkan mereka.

Ibnu Ishâq rahimahullah menuturkan, setelah mengetahui Ja’far Radhiyallahu anhu dan sahabat-sahabatnya menemui syahid, maka Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjenguk Asma’ binti Umeis Radhiyallahu anha, istri Ja’far. Ketika itu Asma’ Radhiyallahu anhatelah menyiapkan adonan roti, memandikan anak-anak Ja’far dan mendandaninya. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas memanggil anak-anaknya tersebut dan menciuminya sambil bercucuran air mata.

Asma’ bertanya, “Biarlah ayah dan ibuku yang menjadi tebusanmu. Apa yang membuatmu menangis, wahai Rasûlullâh ? Adakah engkau mendengar sesuatu tentang Ja’far dan sahabat-sahabatnya?”

“Ya, mereka telah gugur hari ini,” jawab Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam .

Mendengar berita dari Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , maka Asma’ pun berteriak hingga kaum wanita datang mengerumuninya. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas keluar dan kembali ke rumahnya. Beliau pun berseru, “Jangan lupa untuk membuatkan makanan bagi keluarga Ja’far, sebab mereka sedang disibukkan dengan kematian Ja’far”.

Ibnu Ishâq rahimahullah meriwayatkan dari Muhammad bin Ja’far, dari Urwah bin Zubair, katanya, “Ketika pasukan kaum Muslimin telah mendekati perbatasan Madînah, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menghampiri mereka bersama kaum Muslimin. Anak-anak kecil pun berlarian menyambut mereka, sedangkan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam ikut masuk bersama pasukan dengan mengendarai untanya. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan agar anak-anak digendong kembali, dan supaya putera Ja’far dibawa kehadapannya. Maka didatangkanlah Abdullâh bin Ja’far yang kemudian digendong oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam “.

Orang-orang lantas menaburkan pasir ke arah pasukan sambil meneriaki mereka sebagai orang-orang yang lari dari jihad fi sabilillah! Akan tetapi Rasûlullâh menyanggah ucapan tersebut dengan mengatakan, “Mereka bukanlah orang-orang yang melarikan diri, namun mereka akan balik menyerang insya Allâh”.

Menurut Ibnu Katsir, riwayat ini mursal (terputus sanadnya) dan mengandung keanehan. Beliau menganggap Ibnu Ishaq telah salah faham dalam menyitir redaksinya, sehingga mengira bahwa yang dicemooh tadi adalah sebagian besar pasukan. Padahal cemoohan tersebut hanya ditujukan kepada sebagian orang yang lari ketika berhadapan dengan musuh. Adapun pasukan lainnya tidak lari namun justru menang, sebagaimana yang dikabarkan oleh Rasûlullâh di atas mimbar, bahwa panji-panji lalu dipegang oleh salah satu pedang Allâh, dan Allâh memenangkan mereka.

Karenanya, kaum Muslimin tidak mungkin menjuluki mereka sebagai orang-orang yang lari setelah mendengar sabda Nabi tadi. Mereka justru menyambut pasukan tersebut dengan penuh hormat dan bangga. Mereka hanya mencemooh dan menaburkan pasir kepada orang-orang yang lari dan meninggalkan pasukan saat di medan perang.

Salah satu dari mereka yang lari adalah Abdullâh bin Umar, sebagaimana penuturannya berikut: “Aku pernah ikut dalam suatu ekspedisi militer yang dikirim Rasûlullâh. Tatkala orang-orang lari berhamburan, aku ikut lari bersama mereka. Kami lantas saling bertanya : ‘Apa yang harus kita lakukan?’ Kita telah lari dari medan perang dan mendapat murka Allâh?’

Lalu kami berkata : ’Andai saja kita masuk ke kota Madinah dan bermalam di sana tanpa terlihat seorang pun’.  Setelah kami masuk, kami berkata : ’Alangkah baiknya jika kita menyerahkan diri kepada Rasûlullâh. Kalau memang kita bisa bertaubat, maka kita akan tinggal di sana. Namun jika kita tidak bisa bertaubat, maka kita akan pergi kembali’.  Maka kami menghampiri Rasûlullâh menjelang shalat Subuh. Usai shalat kami menghadap beliau seraya berkata : ’Wahai, Rasûlullâh! Kami adalah orang-orang yang melarikan diri,’ Beliau lantas menatap kami dan bersabda : ‘Justru kalian adalah orang orang yang menyerang musuh,’ maka kami mendekati beliau dan mencium tangannya. Kata kami, ‘Wahai, Rosulullah! Mulanya kami hendak melakukan ini dan itu…,, namun beliau menyanggah, : ‘Akulah pasukan induk kaum Muslimin’.” [HR Abu Dawud (no 2649), Tirmidzi (no 1716), Ahmad (no 5384), dan lain lain dengan sanad dha’if.]

Imam Ibnu Katsir rahimahullah mengungkapkan ketakjubannya terhadap kekuasaan Allah Azza wa Jalla melalui hasil peperangan yang berakhir dengan kemenangan kaum muslimin dengan berkata : “Ini kejadian yang menakjubkan sekali. Dua pasukan bertarung, saling bermusuhan dalam agama. Pihak pertama pasukan yang berjuang dijalan Allah Azza wa Jalla, dengan kekuatan 3000 orang. Dan pihak lainnya, pasukan kafir yang berjumlah 200 ribu pasukan. 100 ribu orang dari Romawi dan 100 ribu orang dari Nashara Arab. Mereka saling bertarung dan menyerang. Meski demikian sengitnya, hanya 12 orang yang terbunuh dari pasukan kaum muslimin. Padahal, jumlah korban tewas dari kaum musyirikin sangat banyak”.

Allah Azza wa Jalla berfirman :

“Orang-orang yang menyakini bahwa mereka akan menemui Allah berkata, “Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah? Dan Allah beserta orang-orang yang sabar”. (Al-Baqarah 2:249)”

Para ulama sejarah tidak bersepakat pada satu kata mengenai jumlah syuhada Mu’tah. Namun, yang jelas jumlah mereka tidak banyak. Hanya berkisar pada angka belasan, menurut hitungan yang terbanyak. Padahal, peperangan Mu’tah sangat sengit. Ini dapat dibuktikan bahwa Khalid bin Walid rahimahullah menghabiskan 9 pucuk pedang dalam perang tersebut. Hanya satu pedang yang tersisa, hasil buatan Yaman.

Bagaimana dengan korban dipihak muslim?  Hanya berkisar pada angka belasan ! Padahal, peperangan Mu’tah sangat sengit. Ini dapat dibuktikan bahwa Khalid bin Walid rahimahullah menghabiskan 9 pucuk pedang dalam perang tersebut. Hanya satu pedang yang tersisa, hasil buatan Yaman.

Wallahu a’lam bishowab

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ ♥ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ♥ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ ♥ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ♥ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ .