ِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Perang Mu’tah (Arab: معركة مؤتة , غزوة مؤتة‎) adalah perang pertama antara tentara Islam vs Romawi Timur.  Perang ini terjadi pada 629 M atau 5 Jumadil Awal 8 Hijriah, dekat kampung yang bernama Mu’tah, di sebelah timur Sungai Yordan dan Al Karak.

♦ 9 tahun setelah Isra’ Mi’raj ⇒ Rasulullah memulai ekspedisi Pebebasan Masjidil Aqsha dengan melakukan perang Mu’tah
♦ Perang pertama antara Kaum Muslim vs Romawi Timur [Byzantium]

Perang ini terjadi pada 629 M atau 5 Jumadil Awal 8 Hijriah, dekat kampung yang bernama Mu’tah, di sebelah timur Sungai Yordan dan Al Karak.

Inilah perang pertama antara Romawi Timur/ Bashra vs Khulafaur Rasyidin.  Peperangan ini tercatat di dalam sejarah sebagai sebuah peperangan besar, di mana tentara Islam yang berjumlah 3.000 orang melawan 200.000 tentara Romawi Nasrani. Sekalipun demikian dahsyatnya peperangan Mu’tah, sahabat yang mati syahid hanya 12 orang, dan mereka memiliki kedudukan tinggi di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala

Rasulullah menunjuk 3 orang komandan perang Mu’tah.  Yang pertama adalah Ja’far bin Abi Thalib, kemudian Zaid bin Haritsah (berasal dari kaum muhajirin) lalu seorang sahabat dari Anshar, Abdullah bin Rawahah, penyair Rasulullah ﷺ.

Kemudian berangkatlah pasukan Islam menuju sungai Yordan, tempat dahulu Nabi Isa dan Nabi Yahya pernah bertemu.  Kali ini pasukan Islam akan memulai debut ekspedisi membebaskan Masjidil Aqsha.  Tapi diawal, Rasulullah memilih menggempur Mu’tah lebih dulu.  Mengingat sungat Yordan adalah pembuka untuk masuk ke Palestina.   Maka berangkatlah mereka hingga mencapai Ma’an.

Di Ma’an, mata mata Islam melaporkan.  Saat itu pasukan Islam 3000 akan berhadapan dengan 200.000 tentara aliansi Nashara Romawi + Nashara Arab.  Mendengar kabar yang demikian, sejenak keraguan menyapu wajah wajah mereka.  Dinding dinding hati mereka berdentum dentum.

‘Yaa Rabb … demikian besar pasukan musuhMu.  Sedangkan kami hanya sedikit, bagaimana kami bisa memenangkan pertarungan ini?’

Sebagian sahabat رضي الله عنه kemudian mengusulkan supaya meminta bantuan tambahan pasukan kepada Rasulullah ﷺ atau dia memutuskan suatu perintah [berbalik pulang].

Menghadapi situasi yang bila tidak segera ditangani, maka efeknya akan sangat berbahaya ini, maka Panglima Perang yang ke-3, yakni Abdullah bin Rawanah رضي الله عنه langsung meninggikan suaranya, bersyair dengan dasyat. Dan dari atas batu besar, beliau mengangkat kedua tangannya dan berkata lantang :
“Demi Allah, sesungguhnya perkataan yang kalian tidak sukai ini adalah perkataan yang kamu keluar mencarinya, yaitu mati syahid.
Kita itu tidak berjuang karena karena jumlah pasukan atau kekuatan.
Kita berjuang untuk agama ini, yang Allah Azza wa Jalla telah memuliakan kita dengannya.
Bergeraklah.
Hanya ada salah satu dari dua kebaikan : kemenangan atau syahid di medan perang.”

Mendengar syair Abdullah, pasukan Muslim kembali bangkit semangat menuju Mu’tah.  Dengan semangat jihad berlapis lapis, mereka menghadapi 200.000 tentara Romawi Timur dan Nashara Arab.

Melihat semangat yang berkobar kobar dari pasukan Islam, membuat Romawi harus memutar otak untuk memenangkan perang ini.  Kemudian mereka mengincar hanya Panglima Perangnya. Karena di medan tempur, panglima ibarat jantung.  Bila panglima sudah mati terkapar, maka seluruh anak buah akan kehilangan daya.  Itulah sebabnya Ja’far dibidik, dikepung dan ditarget oleh tentara Romawi.

Terlalu banyaknya jumlah musuh, menyebabkan 3 komandan perang yang ditunjuk Rasulullah, satu persatu gugur.  Akhirnya ditengah perang, pilih secara aklamasi Khalid bin Walid رضي الله عنه. Dengan kecerdikan dan kecemerlangan siasat dan strategi – setelah taufik dari Allah Azza wa Jalla – kaum muslimin berhasil memukul Romawi yang mengalami kerugian yang amat banyak.

Bagaimana dengan korban dipihak muslim?  Hanya berkisar pada angka belasan ! Padahal, peperangan Mu’tah sangat sengit. Ini dapat dibuktikan bahwa Khalid bin Walid rahimahullah menghabiskan 9 pucuk pedang dalam perang tersebut. Hanya satu pedang yang tersisa, hasil buatan Yaman.

Wallahu a’lam bishowab

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ ♥ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ♥ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ ♥ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ♥ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ .