بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Perang Khandaq atau perang Al Ahzab adalah perang yang terjadi antara kaum muslimin dengan kaum Yahudi.  Perang  terjadi pada bulan Syawal Tahun 5 atau  Tahun 627 M.

Dinamakan perang Al Ahzab yang berarti persekutuan golongan-golongan,

Perang Khandaq 
WaktuTanggal 31 Maret - April 627 Masehi[1] (5 Syawal Hijriah
Lokasi Perbatasan sekitar Madina
Hasil Kegagalan pengepungan ; kemenangan Islam secara telak
Pihak yang terlibat
Muslim Konfederasi including
Arab Pagan Quraysh dari Mekkah
Suku Arab Yahudi Bani Qaynuqa, dan Bani Nadir *Suku Arab pagan lain seperti Bani Murra, Khaybar, Huyyay bin Auf Murri, Bani Ghatafan, Bani Asad, Bani Shuja
Komandan
Muhammad Abu Sufyan
Kekuatan
3,000[3] 10,000[3]
Korban
Sedikit korban jiwa Banyak jatuh korban

 

Pengepungan Madinah ini dipelopori oleh pasukan gabungan antara kaum kafir Quraisy makkah dan yahudi bani Nadir (al-ahzaab). Pengepungan Medinah dimulai pada 31 Maret, 627 dan berakhir setelah 27 hari.[1]

Peperangan ini dikenal dengan nama perang Al Ahzab yang berarti persekutuan golongan-golongan, perang ini terjadi pada tahun 5 Hijriyah.

Peperangan ini adalah yang teramat berat dirasakan oleh kaum muslimin, karena mereka menderita kelaparan sampai-sampai mengikatkan batu ke perut mereka. Musuh-musuh mereka mengepung rapat Kota Madinah.

Pada saat yang kritis ini orang Yahudi Bani Quraizhah, warga Kota Madinah, mengkhianati kaum Muslimin dari dalam. Pemimpin mereka Ka’ab bin As’ad dihasut oleh pemimpin dari Banu Nadzir Huyai bin Akhthab dan diajaknya agar membatalkan perjanjian dengan Nabi Muhammad SAW. Serta menggabungkan diri kepada Al Ahzab yang sedang mengepung Kota Madinah itu.
Berita penghianatan Bani Quraizhah ini menggemparkan kaum Muslimin. Rasulullah segera mengutus dua orang sahabatnya Sa’ad bin Mu’adz kepala suku Aus dan Sa’ad bin Ubadah kepala suku Khazraj kepada Banu Quraizhah untuk menasehati mereka agar mereka jangan meneruskan penghianatan itu. Setibanya kedua utusan itu ke tempat Kepala Banu Quraizhah Ka’ab bin As’ad, kedua utusan itu segera menyampaikan pesan-pesan dari Rasulullah. akan tetapi mereka ditolak dengan sikap kasar dan penuh keangkuhan dan kesombongan dan penghianatanpun terus dilakukannya.

Penghianatan Banu Quraizhah ini sangat menyusahkan kaum Muslimin dan menakutkan hati mereka, dikarenakan orang Yahudi ini berada didalam Kota Madinah. Dengan pertolongan Allah SWT pasukan sekutu (Al Ahzaab) itu bercerai berai pulang kembali ke Negeri masing-masing tanpa membawa hasil sama sekali. Tinggalah sekarang Bani Quraizhah sendirian. Nabi Muhammad SAW beserta kaum muslimin segera membuat perhitungan dengan para penghianat ini. Setelah dua puluh lima hari lamanya mereka diepung didalam benteng, mereka mau menyerah kepada Nabi Muhammad SAW dengan syarat bahwa yang akan menjadi hakim atas perbuatan mereka ialah Sa’ad bin Muadz kepala suku Aus. Lalu Nabi Muhammad SAW menerima syarat itu. Sesudah mempertimbangkan dengan sematang-matangnya, Sa’ad kemudian menjatuhkan hukuman mati: laki-laki mereka dibunuh, sedang yang wanita dan anak-anak mereka ditawan.

Hukuman demikian adalah wajar bagi pengkhianat-pengkhianat masyarakat yang sedang dalam keadaan perang, lebih-lebih pengkhianatan itu dilakukan ketika musuh sedang melancarkan serangannya. Masyarakat Islam di Kota Madinah adalah masyarakat yang baru tumbuh, masyarakat yang sedang ber-revolusi. Mereka membina suatu Negara diatas konsepsi baru (islam) dengan mengadakan pendobrakan unsur-unsur lama secara revolusioner. Maka wajarlah bila pada hukuman yang dijatuhkan kepada Bani Quraizhah yang menjadi pengkhianat itu, berlaku hukum perang, hukum revolusi karena sifat perbuatan mereka itu penggerogotan dari dalam. Akibat perbuatan mereka itu dapat mematikan semangat Islam. Dengan dilenyapkannya orang-orang Yahudi itu, berakhirlah riwayat mereka di Kota Madinah. Umat Islam merasa aman dan tenteram dalam Kota Madinah. Mereka mendapat kesempatan seluas-luasnya menyusun dan membangun masyarakatnya.

…………………………………………….

Peperangan ini dikenal dengan nama perang Al-Ahzab yang berarti persekutuan golongan-golongan, perang ini terjadi pada tahun 5 Hijriyah. Peperangan ini adalah yang teramat berat dirasakan oleh kaum muslimin, karena mereka menderita kelaparan sampai-sampai mengikatkan batu ke perut mereka. Musuh-musuh mereka mengepung rapat Kota Madinah. Pada saat yang kritis ini orang Yahudi Bani Quraizhah, warga Kota Madinah, mengkhianati kaum Muslimin dari dalam. Pemimpin mereka Ka’ab bin As’ad dihasut oleh pemimpin dari Banu Nadzir Huyai bin Akhthab dan diajaknya agar membatalkan perjanjian dengan Nabi Muhammad SAW. Serta menggabungkan diri kepada Al Ahzab yang sedang mengepung Kota Madinah itu.
Berita penghianatan Bani Quraizhah ini menggemparkan kaum Muslimin. Rasulullah segera mengutus dua orang sahabatnya Sa’ad bin Mu’adz kepala suku Aus dan Sa’ad bin Ubadah kepala suku Khazraj kepada Banu Quraizhah untuk menasehati mereka agar mereka jangan meneruskan penghianatan itu. Setibanya kedua utusan itu ke tempat Kepala Banu Quraizhah Ka’ab bin As’ad, kedua utusan itu segera menyampaikan pesan-pesan dari Rasulullah. akan tetapi mereka ditolak dengan sikap kasar dan penuh keangkuhan dan kesombongan dan penghianatanpun terus dilakukannya.

Penghianatan Banu Quraizhah ini sangat menyusahkan kaum Muslimin dan menakutkan hati mereka, dikarenakan orang Yahudi ini berada didalam Kota Madinah. Dengan pertolongan Allah SWT pasukan sekutu (Al Ahzaab) itu bercerai berai pulang kembali ke Negeri masing-masing tanpa membawa hasil sama sekali. Tinggalah sekarang Bani Quraizhah sendirian. Nabi Muhammad SAW beserta kaum muslimin segera membuat perhitungan dengan para penghianat ini. Setelah dua puluh lima hari lamanya mereka diepung didalam benteng, mereka mau menyerah kepada Nabi Muhammad SAW dengan syarat bahwa yang akan menjadi hakim atas perbuatan mereka ialah Sa’ad bin Muadz kepala suku Aus. Lalu Nabi Muhammad SAW menerima syarat itu. Sesudah mempertimbangkan dengan sematang-matangnya, Sa’ad kemudian menjatuhkan hukuman mati: laki-laki mereka dibunuh, sedang yang wanita dan anak-anak mereka ditawan.

Hukuman demikian adalah wajar bagi pengkhianat-pengkhianat masyarakat yang sedang dalam keadaan perang, lebih-lebih pengkhianatan itu dilakukan ketika musuh sedang melancarkan serangannya. Masyarakat Islam di Kota Madinah adalah masyarakat yang baru tumbuh, masyarakat yang sedang ber-revolusi. Mereka membina suatu Negara diatas konsepsi baru (islam) dengan mengadakan pendobrakan unsur-unsur lama secara revolusioner. Maka wajarlah bila pada hukuman yang dijatuhkan kepada Bani Quraizhah yang menjadi pengkhianat itu, berlaku hukum perang, hukum revolusi karena sifat perbuatan mereka itu penggerogotan dari dalam. Akibat perbuatan mereka itu dapat mematikan semangat Islam. Dengan dilenyapkannya orang-orang Yahudi itu, berakhirlah riwayat mereka di Kota Madinah. Umat Islam merasa aman dan tenteram dalam Kota Madinah. Mereka mendapat kesempatan seluas-luasnya menyusun dan membangun masyarakatnya.

  1. Penggerogotan orang-orang munafik.

Disamping orang-orang Yahudi, ada pula satu golongan di Kota Madinah yang selalu berusaha melemahkan perjuangan umat Islam. Mereka itu ialah orang-orang munafik. Golongan orang munafik ini tidaklah begitu berpengaruh, sebab mereka tidak memegang peranan penting dalam masyarakat. Pada diri mereka masih tersimpan suatu rahasia yang tidak baik, yaitu kegemaran mereka menyembah berhala. Mereka ini dikepalai oleh Abdullah bin Ubaiy. Abdullah mempunyai kedudukan sebagai kepala suku yang selalu memimpikan akan menjadi raja di Kota Madinah. Untuk kepentingan ini, ia mengumpulkan orang-orang disekelilingnya untuk dijadikan pengikut-pengikutnya. Segala sesuatu telah disiapkan untuk setiap waktu sedia merebut kekuasaan. Rencana itu akan mereka laksanakan bilamana Nabi Muhammad SAW tidak ada lagi. Usaha mereka yang utama ialah orang-orang Islam masuk Islam. Mereka sama sekali tidak dapat kesempatan untuk bertindak terhadap kaum muslimin, karena Nabi Muhammad SAW terhadap masyarakat Islam yang baru itu tidak putus-putusnya. Sikap Nabi Muhammad SAW terhadap golongan munafik ini adalah teramat lunak sekali, tidak seperti halnya orang Yahudi. Beliau selalu berusaha memberikan pengajaran-pengajaran terhadap mereka dengan penuh harapan supaya mereka pada suatu ketika insyaf dan beriman dengan iman yang sebenar-benarnya. Harapan Nabi Muhammad SAW itu terbukti sesudah Abdullah bin Ubaiy mati, maka golongan ini tidak nampak lagi dalam masyarakat Islam. Golongan munafik ini mengadakan hubungan yang baik dengan orang-orang Yahudi. Mereka ini pernah menjanjikan bantuan kepada Bani Quraizhah sewaktu mereka sedang mengkhianati kaum Muslimin. Untunglah bantuan itu tidak jadi mereka berikan.

Diwaktu Nabi Muhammad SAW pergi memimpin barisan kaum Muslimin untuk menghadapi perang Uhud, golongan munafik ini keluar dari barisan secara demonstratif untuk tidak mengikuti peperangan. Dalam peristiwa “Qishshatul ifki” (cerita bohong) yang menyangkut diri pribadi Siti Aisyah, isteri Nabi, maka orang munafik ini pula yang menjadi biang keladinya. Banyaklah perbuatan-perbuatan mereka yang merugikan kaum Muslimin. Namun demikian Nabi Muhammad SAW tetap tidak mengadakan tindakan-tindakan terhadap orang munafik ini. Beliau dengan penuh kesabaran dan harapan terus membimbing sampai mereka beriman sebaik-baiknya. Didalam Al-Qur’an, pada suratsurat yang diturunkan di Mdinah banyak diceritakan keadaan orang-orang muafik ini. Surat yang ke-63 bernama Al Munafiqun menggambarkan sifat-sifat mereka itu.

Wallahu a’lam bishowab

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ ♥ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ♥ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ ♥ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ♥ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ