Perang Jamal terjadi pada masa pemerintahan Khalifah  Ali bin Abi Thalib sekitar  tahun 656 Masehi

Perang Jamal [ perang unta ] dikenal juga sebagai Pertempuran Basra karena perang ini terjadi di Basra, Irak. Perang ini melibatkan  pasukan yg berpihak pada Ali bin Abi Talib melawan pasukan yang berpihak kepada Aisya.

[table “” not found /]
[table “” not found /]

.

Latar belakang 

Di antara fitnah besar yang terjadi setelah terbunuhnya Utsman Radhiyallahu anhu adalah perang Jamal yang terjadi antara Ali Radhiyallahu anhu di satu pihak dengan Aisyah, Thalhah, dan Zubair Radhiyallahu anhum di pihak lain.

Ibnu Sa’ad berkata : Ali dibaiat sebagai Khalifah sehari setelah terbunuhnya Ustman di Madinah.  Semua sahabat membaiatnya sebagai khalifah.  Disebutkan bahwa Thalhah dan Zubair ikut membait Ali.

Untuk memahami saat fitnah besar berupa perang Jamal itu terjadi, kita harus melihat sejarah masa pemerintahan Ustman bin Affan.

 

a. Masa Pemerintahan Ustman bin Affan

Ustman memegang tampuk kekhalifahan selama 12 tahun.

Pada 6 tahun pertama sejak masa kekhalifahannya, kondisi sosial dan pemerintahan diliputi rasa aman dan tenang.

Tetapi pada masa 6 tahun berikutnya, berbagai macam kekacauan mulai bermunculan.  Hal itu menyebabkan pusat kekuasaan menjadi tidak jelas.  Banyak orang yang berkuasa, seakan akan mereka merupakan kekhalifahan tersendiri.  Masyarakatpun akirnya mulai mengeluh. ang lah Rasuu

Aisyah sendiri pernah meriwayatkan sebuah hadist yang berisi pesan Rasulullah yang pernah disampaikan kepada Ustman,,  Pesan yang oleh Rasululah itu diulang hingga 3 kali.

“Wahai Ustman, barangkali Allah akan memakaikan kepadamu sebuah pakaian.  Meskipun orang orang memintamu untuk melepaskannya, janganlah pakaian itu kau lepaskan” [ HR Ahmad, Ibnu Hibban dan Hakim ]

Aisyah memiliki posisi yang sangt sentral didalam hati kaum muslimin secara umum. Mereka mendatanginya untuk belajar dan meminta pertimbangan.  Aisyah menerima mereka dengan terbuka.  Ia memberi petunjuk kepada orang yang sedang bimbang, mengajar orang yang tidak mengetahui, melindungi ornag yang membutuhkan perlindungan, serta membantu orang yang membuthkan bantuan

Aisyah adalah sumber pedoman.  Lebih dari itu, seluruh penduduk Hijaz, Iraq, Syam dan Mesir, menganggap Aisyah sebagai ibu mereka dalam pengertian yang sebenarnya.

Dalam peristiwa perang Jamal akan terlihat jelas posisi Aisyah yang sebenarnya.  Orang orang yang menyampaikan pengaduannya kepada Aisyah, tidak pernah pulang dengan tangan hampa akrena Aisyah selalu berusaha membantu dan meringankan beban mereka.

 

b.  Posisi Para Sahabat Senior

Sahabat sahabat senior yang biasa dimintai pendapat dan pertimbangan, pada umumnya telah berusia lanjut pada masa pemerintahan Ustman.  Para khalifah terdahulu yakni Abu Bakar dan Umar masih bisa meminta pertimbangan para sahabat sebelum mengambil keputusan.  Dan para sahabat senior ini mengambil peran penting dimasa itu sesuai dengan kemampuan yang Allah berikan.

Pemerintah dan organisasi kekuasaan di masa Abu Bakar dan Umar berlangsung secara teratur dan berlandaskan prinsip keadilan.  Nyaris tidak ada kezaliman ketika itu.  Kondisi masyarakat dan negara rata rata diliputi stabilitas baik keamanan maupun kesejahteraan.

Tidak ada kekacauan maupun pemberontakan.  Para sahabat tidak memiliki alasan apapun untuk mengeluhkan situasi pemerintahan.

Pada masa pemerintahan khalifah Abu Bakar dan Umar, para pemuda seperti Abdullah bin Zubair, Muhammad bin Abu Bakar, Marwan bin Hakam, Muhammad bin Abu Hudzaifah dan Sa’id bin Ash, segan terhadap khalifah.

Dimata mereka posisi khlalifah jauh berada diatas kepentingan pribadi mereka.  Tetapi semua hal itu akan segera berubah dimasa khalifah Ustman.

 

 

 

Hal itu ketika Utsman terbunuh, orang-orang mendatangi Ali di Madinah, mereka berkata, “Berikanlah tanganmu agar kami membai’atmu!”

Lalu beliau menjawab, “Tunggu, sampai orang-orang bermusyawarah.”

Kemudian sebagian dari mereka berkata, “Seandainya orang-orang kembali ke negeri negeri mereka karena terbunuhnya Utsman, sementara tidak ada seorang pun yang mengisi posisinya, niscaya tidak akan aman dari pertikaian dan kerusakan umat.”

Ibnu Sa’ad berkata : Ali di baiat sebagai khalifah sehari setelah terbunuhnya Ustman bin Affan di Madinah.  Semua sahabat membaiatnya

Lalu mereka terus mendesak Ali  agar menerima bai’at mereka, akhirnya mereka membai’atnya. Di antara orang yang membai’at beliau adalah Thalhah, dan Zubair Radhiyallahu anhuma.

Kemudian keduanya pergi ke Makkah untuk melakukan umrah. Di sana mereka ditemui oleh Aisyah Radhiyallahu anhuma. Setelah berbincang-bincang tentang peristiwa terbunuhnya Utsman, maka mereka pergi ke Bashrah dan meminta kepada ‘Ali agar menyerahkan orang-orang yang telah membunuh Utsman.

Abu Bakar Ibnul ‘Arabi dalam kitabnya al-‘Awaashim minal Qawaashim berpendapat, “Sesungguh-nya mereka berangkat ke Bashrah untuk mengadakan perdamaian di antara kaum muslimin.” Beliau berkata, “Inilah yang benar, dan bukan untuk tujuan selain itu, dan hal ini didukung oleh berbagai kabar shahih yang menjelaskannya.”

Namun Ali tidak menjawab permohonan mereka karena beliau menunggu keluarga ‘Utsman agar mereka meminta putusan hukum darinya. Jika terbukti bahwa seseorang adalah di antara pembunuh ‘Utsman, maka dia akan mengqishasnya. Setelah itu mereka berbeda pendapat tentangnya, dan orang-orang tertuduh sebagai pelaku pembunuhan -yaitu orang-orang yang memberontak kepada ‘Utsman- merasa takut jika mereka bersepakat untuk memerangi mereka, akhirnya mereka mengobarkan api peperangan di antara dua kelompok ter-sebut (kelompok ‘Ali dan ‘Aisyah).”

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengabarkan kepada ‘Ali bahwasanya akan terjadi perkara antara dia dengan ‘Aisyah. Dijelaskan dalam sebuah hadits dari Abu Rafi’, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada ‘Ali bin Abi Thalib:

إِنَّهُ سَيَكُونُ بَيْنَكَ وَبَيْنَ عَائِشَةَ أَمْرٌ، قَالَ: أَنَا يَا رَسُـولَ اللهِ؟ قَالَ: نَعَمْ، قَالَ: فَأَنَا أَشْقَاهُمْ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: لاَ، وَلَكِنْ إِذَا كَانَ ذَلِكَ؛ فَارْدُدْهَا إِلَى مَأْمَنِهَا.

“Sesungguhnya akan terjadi perkara di antara engkau dengan ‘Aisyah.” Dia berkata, “Aku, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Betul.” Dia berkata, “Kalau begitu aku mencelakakan mereka wahai Rasulullah.” Beliau menjawab, “Tidak, akan tetapi jika hal itu terjadi, maka kembalikanlah ia ke tempatnya yang aman.’”

Di antara dalil yang menunjukkan bahwa ‘Aisyah, Thalhah dan az-Zubair tidak pergi untuk melakukan peperangan akan tetapi untuk melakukan perdamaian di antara kaum muslimin adalah apa yang diriwayatkan oleh al-Hakim dari jalan Qais bin Abi Hazim, dia berkata:

لَمَّا بَلَغَتْ عَـائِشَةُ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا دِيَـارَ بَنِيْ عَامِرٍ، نَبَحَتْ عَلَيْهَا الْكِلاَبُ، فَقَالَتْ: أَيُّ مَـاءٍ هَذَا؟ قَالُوْا: الْحَوْأَبُ. قَالَتْ: مَا أَظُنُّنِيْ إِلاَّ رَاجِعَةً. قَالَ لَهَا الزُّبَيْـرُ: لاَ بَعْدُ، تَقَدَّمِيْ، فَيَرَاكِ النَّاسُ، فَيُصْلِحُ اللهُ ذَاتَ بَيْنِهِمْ. فَقَالَتْ: مَا أَظُنُّنِيْ إِلاَّ رَاجِعَةً، سَمِعْتُ رَسُـوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: كَيْفَ بِإِحْدَاكُنَّ إِذَا نَبَحَتْهَا كِلاَبُ الْحَوْأَبِ.

“Sesampainya Aisyah Radhiyallahu anhuma di perkampungan Bani Amir, anjing-anjing menggonggong, lalu dia berkata, “Air apakah ini?”

Mereka berkata, “Al-Hau-ab.”

الْحَوْأَب sebuah tempat dekat Bashrah. Tempat itu di antara sumber air pada zaman Jahiliyyah, dan merupakan jalan yang ditempuh oleh orang yang datang dari Makkah menuju Bashrah. Dinamakan al-Hau-ab dinisbatkan kepada Abu Bakar bin Kilab al-Hau-ab, atau nisbat kepada al-Hau-ab binti Kalb bin Wabrah al-Qudha’iyyah.
Lihat Mu’jamul Buldaan (II/314), dan catatan pinggir Muhibbuddin al-Khatib atas kitab al-‘Awaa-shiim minal Qawaashim (hal. 148).

Beliau berkata, “Aku kira aku harus kembali.” Az-Zubair berkata kepadanya, “Tidak nanti saja, teruslah maju, lalu orang-orang akan melihatmu sehingga Allah mendamaikan di antara mereka.”

Beliau berkata, “Aku kira aku harus kembali, aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Apa yang terjadi pada salah seorang di antara kalian ketika anjing-anjing al-Hau-ab menggonggongnya?’”

Sementara dalam riwayat al-Bazzar dari Ibnu Abbas Radhiyallahu anhuma, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada isteri-isterinya:

أَيَّتُكُنَّ صَاحِبَةُ الْجَمَلِ اْلأَدْبَبِ، تَخْرُجُ حَتَّى تَنْبَحَهَا كِلاَبُ الْحَوْأَبِ، يُقْتَلُ عَنْ يَمِيْنِهَا وَعَنْ شِمَالِهَا قَتْلَى كَثِيْرَةٌ، وَتَنْجُو مِنْ بَعْدِ مَاكَادَتْ.

“Siapakah di antara kalian yang memiliki unta dengan banyak bulu di mukanya, dia pergi sehingga anjing anjing al-Hau-ab menggonggong, di sebelah kanannya dan sebelah kirinya banyak (orang) yang terbunuh, dan dia selamat padahal sebelumnya hampir saja (dia pun terbunuh).”

Ibnu Taimiyyah berkata, “Sesungguhnya Aisyah tidak pergi untuk melakukan perang, beliau pergi hanya untuk melakukan perdamaian di antara kaum muslimin, dan beliau mengira bahwa kepergiannya itu mengandung kemaslahatan bagi kaum muslimin, kemudian setelah itu beliau sadar bahwa tidak keluar lebih utama, maka jika beliau mengingat kepergiannya itu, beliau menangis sehingga kerudungnya basah, dan demikianlah kebanyakan Salaf, mereka merasa menyesal atas peperangan yang mereka lakukan. Maka Thal-hah, az-Zubair dan Ali pun merasa menyesal Radhiyallahu anhum.”

Pada peristiwa perang Jamal sama sekali tidak ada niat dari mereka untuk melakukan peperangan, akan tetapi terjadinya peperangan bukan atas pilihan mereka. Karena ketika Ali, Thalhah dan az-Zubair saling berkirim surat, mereka bermaksud untuk mengadakan kesepakatan damai.

Jika mungkin, mereka akan meminta kepada para penebar fitnah untuk menyerahkan orang-orang yang telah membunuh Utsman. Ali sama sekali tidak ridha terhadap orang yang telah membunuh Utsman, dia juga bukan orang yang membantu pembunuhan tersebut, sebagaimana ia bersumpah, “Demi Allah aku tidak membunuh ‘Utsman dan tidak mendukung pembunuhannya.”

Sedangkan dia adalah orang yang berkata benar lagi jujur dalam sumpahnya. Kemudian para pembunuh takut jika Ali bersepakat dengan mereka untuk menahan orang-orang yang telah membunuh Utsman, lalu mereka membawa pasukan untuk menyerang Thalhah dan az-Zubair, sehingga Thalhah dan az-Zubair menyangka bahwa Ali telah menyerangnya. Kemudian mereka membawa pasukan untuk melakukan pertahanan sehingga Ali menyangka bahwa mereka telah menyerangnya, sehingga beliau pun melakukan pertahanan.

Akhirnya terjadilah fitnah (peperangan) bukan atas keinginan mereka. Sedangkan Aisyah hanya menunggangi unta dan tidak ikut dalam peperangan, juga tidak memerintah untuk melakukan peperangan.

Demikianlah yang diungkapkan oleh lebih dari satu orang ulama dan ahli khabar.

[Disalin dari kitab Asyraathus Saa’ah, Penulis Yusuf bin Abdillah bin Yusuf al-Wabil, Daar Ibnil Jauzi, Cetakan Kelima 1415H-1995M, Edisi Indonesia Hari Kiamat Sudah Dekat, Penerjemah Beni Sarbeni, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir]

Perang selanjutnya adalah perang shiffin.