Perang Waddan atau al Abwa  adalah pertempuran pertama yang terjadi antara kaum muslimin yang dipimpin langsung oleh Rasulullah dengan kafir Quraisy. Namun pertempuran ini gagal karena pasukan muslim terlambat mencegar kafilah dagang kaum kafir Quraisy.

Namun para ahli sejarah menyebut perang Abwa ini hanyalah ‘penyergapan biasa’ dan bukan perang atau pertempuran sesungguhnya. Karena pertempuran al Abwa adalah awal mula penyergapan Kafilah dagang Quraisy, yang berlangsung antara tahun 623 Masehi hingga tahun 624 masehi.

Ini adalah  Ghazwah yang pertama kali Rasulullah memimpinnya.  Lalu yang kemudian dilanjutkan oleh Hamzah lalu oleh Abu Ubayah.

Waddan adalah nama sebuah gunung yang terletak antara Mekah dan Madinah, Perang inipun dinamai Ghazwah Abwa karena gunung Waddan letaknya berdekatan dengan desa Al Abwa yang kira kira menempuh perjalanan sepanjang 6 mil.

Riwayat Ibnu Hisyam, Ibnu Ishaq, dikuatkan oleh imam Bukhari dalam Tarikh Shaghir

Pada saat itu berangkatlah Nabi bersama 70 sahabat muhajirin, dan tidak satupun sahabat anshar yang diajak ikut oleh Nabi.  Sebelum Nabi berangkat, pimpinan kaum Muslimin di Madinah diserahkan oleh sahabat Sa’ad bin Ubadah ra.

Sa’ad bin Ubadah [ pemimpin suku Aus ] menjadi orang pertama yang mendapat kepercayaan menjadi pemimpin [ cadangn ] kaum muslim.  Ia dipercaya penuh oleh Rasulullah untuk menjadi khalifah menggantikan Rasulullah yang pergi memimpin pertempuran.
Nabi berangkat disertai 70 tentara muhajirin menuju Waddan dengan berbendera putih yang dibawa oleh Hamzah.  Nabi perlu untuk menghalangi gangguan pasukan berunta yang membawa perdagangan kaum musyrikin Quraisy.
Akan tetapi, setelah nabi sampai di Waddan, ternyata pasukan dagang Quraisy itu telah lewat, maka ghazwah tadi tidak sampai terjadi.

Namun rencana penyergapan kafilah dagang ini kemudian menyulut perang yang besar, yakni  Perang Badar. Sebagian besar pertempuran yang terjadi adalah pertempuran kecil, terkadang hanya penembakan anak panah dan tanpa korban, yang kemudian menjadi awal dari konflik yang lebih besar.

[table “” not found /]
[table “” not found /]
.

 


Latar belakang

Setelah Rasulullah dan para segenap sahabat hijrah ke Madinah pada tahun 622 M, kaum Quraisy segera menyita harta benda yang  mereka tinggalkan begitu saja di Mekah. Mulai dari ternak hingga tanah, rumah dan kebun mereka,

Dari Madinah, beberapa Muslim menyerang kafilah-kafilah Quraisy yang melakukan perjalanan dari Syria ke Mekah.

Pada tahun 624, Abu Sufyan bin Harb memimpin salah satu kafilah, dan ketika para muslim menyergap kafilah, dia kemudian meminta bantuan dari Quraisy. Hal ini kemudian mengakibatkan Perang Badar, yang berakhir dengan kemenangan Muslim. Namun, Abu Sufyan berhasil pulang ke Mekah. Kematian para pemimpin Quraisy yang dalam pertempuran Badar menjadikannya sebagai pemimpin Mekah.

 


Serangan terhadap Kafilah Bani Dhamrah

Karena ghazwah gagal, akhirnya pasukan berencana untuk kembali ke Madinah,  Pada saat Nabi bertemu dengan  Kabilah Suku Bani Dhamrah. Serangan kemudian dialihkan ke kabilah Bani Dhumrah, Kafilah ini kemudian disergap. Negosiasi dimulai dan kedua pemimpin [ Rasulullah dan Makhsyi bin Amr Adh-Dhamrah ] menyetujui perjanjian sebagai berikut :

  • untuk tidak saling menyerang,
  • Dan jika masing masing mendapat serangan dari luar, wajib membela dan menolong dengan sekuat kuatnya,
  • Bani Dhamrah dilarang membantu apa saja kepada orang orang yang hendak memusuhi kaum muslimin.

Menurut sarjana muslim al-Zurqani, isi dari perjanjian adalah sebagai berikut:

Surat ini adalah dari Muhammad rasullulah, mengenai Bani Dhamrah yang mana ia (Muhammad) jaga keselamatan dan keamanan dari nyawa dan harta mereka. Mereka dapat meminta bantuan dari pihak Muslim, kecuali bila mereka menentang agama Allah. Diharapkan bagi mereka untuk membantu nabi bila dimintai bantuan”

Menurut riwayat, sejak berangkat sampai kembalinya tentara Islam ini adalah dalam waktu 15 hari dan 15 malam lamanya.***