بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Pada masa Rasulullah, setiap kali wahyu turun, Rasulullah selalu memanggil para sahabat untuk menghapal ayat yang turun.  Lalu Rasulullah  memerintahkan mereka untuk menulis setiap ayat Al Quran yang turun, di atas ruqqaa’ [ bentuk jamak dari kata ruq’ah/papan. Kadang-kadang ditulis di atas bebatuan, berupa pelepah kurma, tulang unta, domba, kayu, ataupun kulit ].

Hingga wafatnya Rasulullah, Al Quran telah tertulis dengan rapi di atas ruqqaa’ dan disimpan oleh para sahabat.  Tulisan tulisan itu tentu saja sudah tersusun dengan  susunan yang seperti pada  Al Quran yang sekarang kita pedang ini.

Namun bedanya , ruqqaa’ itu masih tersebar ditangan banyak para sahabatRasulullah belum sempat mengumpulkannya menjadi satu mushhaf karena dari ayat terakhir yang turun, 9 hari kemudian Rasulllah wafat.  Rasulullah wafat pada 11 H atau 633 M pada usia 63 tahun.

 

Masa Abu Bakar As Shiddiq

Setelah wafatnya Rasulullah, setahun kemudian, atau tepatnya usai perang

Segera setelah suksesi Abu Bakar, beberapa masalah yang mengancam persatuan dan stabilitas komunitas dan negara Islam saat itu muncul.

Beberapa suku Arab yang berasal dari Hijaz dan Nejed membangkang kepada khalifah baru dan sistem yang ada. Beberapa di antaranya bahkan menolak membayar zakat walaupun tidak menolak agama Islam secara utuh. Beberapa yang lain kembali memeluk agama dan tradisi lamanya yakni penyembahan berhala.

Suku-suku tersebut mengklaim bahwa hanya memiliki komitmen dengan Nabi Muhammad dan dengan kematiannya komitmennya tidak berlaku lagi. Berdasarkan hal ini Abu Bakar menyatakan perang terhadap mereka yang dikenal dengan nama perang Riddah [ perang Yamamah ].  Peristiwa ini terjadi pada tahun 12 H, setahun setelah wafatnya Rasulullah.

Dalam perang Ridda peperangan terbesar adalah memerangi “Ibnu Habib al-Hanafi” yang lebih dikenal dengan nama Musailamah al Kazab (Musailamah si pembohong), yang mengklaim dirinya sebagai nabi baru menggantikan Nabi Muhammad.

Pasukan Musailamah kemudian dikalahkan pada pertempuran Akraba oleh Khalid bin Walid. Sedangkan Musailamah sendiri terbunuh di tangan Al Wahsyi, seorang mantan budak yang dibebaskan oleh Hindun istri Abu Sufyan karena telah berhasil membunuh Hamzah Singa Allah dalam Perang Uhud. Al Wahsyi kemudian bertaubat dan memeluk Islam serta mengakui kesalahannya atas pembunuhan terhadap Hamzah. Al Wahsyi pernah berkata, “Dahulu aku membunuh seorang yang sangat dicintai Rasulullah (Hamzah) dan kini aku telah membunuh orang yang sangat dibenci rasulullah (yaitu nabi palsu Musailamah al-Kazab).”

Usai perang Yamamah, banyak sekali sahabat penghapal Al Quran yang terbunuh.  Jumlahnya sekitar 70 orang.  Situasi ini memicu kekhawatiran pada diri Umar bin Khattab.  Umar khawatir jika para penghapal Al Quran ini semakin sedikit jumlahnya, maka Al Quran tidak bisa disebarluaskan dengan mudah.  Karena menghapal Quran dengan jumlah ayat 6200-an, tentu bukan perkara mudah dan cepat.

Umar kemudian  menghadap Abu Bakar ra. dan mengajukan usul kepadanya agar mengumpulkan dan membukukan Al Quran karena dikhawatirkan akan musnah, sebab peperangan Yamamah telah banyak membunuh para qari’.

Setelah berdiskusi panjang antara Abu Bakar dan Umar bin Khatab, akhirnya Abu Bakar menerima pandangan Umar. Dan setuju untuk membetuk tim penyusunan Al Quran dan memilih Zain bin Tsabit sebagai kepala tim.

 

Sebab Terpilihnya Zaid Sebagai Kepala Tim

Ia masih muda dan penuh semangat sedangkan pengumpulan Al-Quran adalah pekerjaan berat. Yang memerlukan tenaga dari kalangan muda dengan disiplin tinggi dan etos kerja yang baik. Dan tampaknya Zaid pantas menduduki jabatan ketua tim selain Ia dikenal cerdas, pintar dan jenius.

Ia pun dikenal sebagai pemuda yang taat, baik agamanya, amanah, professional, wara, tidak memetingkan karir politik ataupun tidak karena dunia

Ia dikenal pula sebagai salah seorang pencatat wahyu di masa Nabi Saw, bahkan beliau sendiri mendiktekan wahyu itu yang ditulis sendiri oleh Zaid bin Tsabit. Selain ia seorang hafiz dan menyaksikan sendiri wahyu terakhir.

Itulah sebabnya Abu Bakar dan Umar menjatuhkan pilihan kepala tim pengumpul Quran dipundak Zaid bin Tsabit.

Ketika hal ini diberitahukan, Zaid menolak hal itu sebagaimana Abu Bakar menolak hal itu pada awalnya karena merasa ragu.  Maka keduanya pun (Abu Bakar dan ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma) bertukar pendapat dengan Zaid bin Tsabit dan kemudian ia pun dilapangkan Allah dadanya sebagaimana halnya Allah melapangkan dada Abu Bakar dan Umar (Wahid, 2012).

Zaid bin Tsabit berkata, “ Abu Bakar Ash Shidiq mengirim surat kepadaku tentang orang-orang yang terbunuh pada perang Yamamah. Ketika aku mendatanginya, kudapati Umar bin Khatthab berada disampingnya, maka Abu Bakar berkata,  ;Umar mendatangiku dan berkata,‟ Sesungguhnya banyak para Qurra [ penghafal Al Quran ]  yang telah gugur dalam peperangan Yamamah. Aku takut jika para qorri yang masih hidup kelak terbunuh juga dalam peperangan [ lain ], dan itu akan mengakibatkan hilangnya sebagian besar dari ayat Al Quran, menurut pendapatku, engkau harus menginstruksikan untuk segera mengumpulkan dan membukukan Al Quran.” (Wahid, 2012).

Aku bertanya kepada Umar,‟ Bagaimana aku melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan Rasulullah SAW?, Umar menjawab,‟ Demi Allah ini adalah kebaikan ! Dan Umar terus menuntutku hingga Allah melapangkan dadaku untuk segera melaksanakannya, akupun setuju dengan pendapat Umar.

Abu Bakar memerintahkan Zaid bin Tsabit agar mengumpulkan Al Quran dari berbagai tempat penulisan.  Baik yang ditulis pada kulit-kulit, dedaunan, maupun yang dihafal oleh kaum muslimin. Awal penulisan ini terjadi pada tahun 12 H.  Zaid bin Tsabit berkata,” Kemudian Abu Bakar berkata kepadaku,‟Engkau adalah seorang pemuda yang jenius, berakal dan penuh Amanah, dan Engkau telah terbiasa menulis wahyu untuk Rasulullah, maka carilah ayat Al Quran yang berserakan dan kumpulkanlah.
Zaid berkata,‟ Demi Allah, jika mereka memerintahkan aku untuk memikul gunung, tentu hal itu lebih ringan bagiku daripada melakukan instruksi Abu Bakar agar aku mengumpulkan Al Quran.”

Setelah mengambil keputusan untuk membukukan Al Quran, mulailah Zaid bekerja.

 

Metode Pengumpulan Al Quran di Masa Abu Bakar

Setelah tim pengumpulan Quran dibentuk dengan Zaid sebagai ketua tim dibantu 25 orang sahabat lainnya, maka bekerjalah tim ini dengan menggunakan metode yaitu :

Memindahkan satu tulisan atau catatan Quran yang semula bertebaran di kulit kulit binatang, tulang, dan pelepah kurma, kemudian dikumpulkan dalam satu mushaf, dengan ayat ayat dan surah surahnya yang tersusun serta terbatas dalam satu mushaf (Hayyi, 2012).

Semua sahabat baik yang pernah menulis secara pribadi harus diserahkan kepada Zaid bin Tsabit untuk diteliti lebih lanjut.

Berikut adalah metode yang digunakan Zaid dalam proses pengumpulan Al Quran :

  1. Seluruh ayat al Quran yang bertebaran dikumpulkan terlebih dulu

Pun penyerahan buku catatan Al Quran yang dimiliki sahabat ketika diserahkan diharuskan memiliki 2 saksi yang bersumpah bahwa memang catatan sahabat itu adalah Al Quran. Bukti pertama adalah naskah tertulis itua adalah Quran, bukti kedua adalah hafalan Quran dengan saksi sahabat lainnya bahwa ia telah mendengarnya dari Nabi Saw.

Zaid sangat berhati-hati dalamm tugasnya seperti yang diceritakan dalam satu riwayat :

Dan aku dapatkan akhir surah At-Taubah pada Abu Khuzaimah Al-Anshari yang tidak aku dapatkan pada orang lain”,
Riwayat ini tidak menghilangkan arti hati-hati dan tidak pula berarti bahwa akhir surah At-Taubah itu tidak mutawatir.

Tetapi yang dimaksud ialah bahwa ia tidak mendapat akhir surah Taubah tersebut dalam keadaan tertulis selain pada Abu Khuzaimah. Sedangkan Zaid sendiri hafal dan demikian pula banyak diantara para sahabat yang menghafalnya.

Perkataan itu lahir karena Zaid berpegang pada hafalan dan tulisan, jadi akhir surah Taubah itu telah dihafal oleh banyak sahabat. Dan mereka menyaksikan ayat tersebut dicatat. Tetapi catatannya hanya terdapat pada Abu Khuzaimah al-Ansari.

2. Lembaran lembaran itu diteliti lebih dulu untuk menjaga keaslian ayat al Quran sehingga tidak tercampur dengan [ tulisan  dari ] perkataan perkataan yang lain [ hadis Nabi ] tentu membutuhkan tingkat kecermatan yang tinggi (Wahid, 2010)

3. Meniadakan ayat ayat al Quran yang telah mansukh.

4. Seluruh ayat yang ada harus telah diakui kemutawatirannya.

5, Dialek Arab yang dipakai dalam pembukuan ini berjumlah 7 (qira‟at) sebagaimana yang ditulis pada kulit unta pada masa Rasulullah SAW.

 

Nasib Mushaf Abu Bakar

Setelah Zaid mengumpulkan naskah naskah dan hafalan sahabat yang telah diseleksi ketat, ia mengumpulan setiap surat yang sudah sempurna dalam kotak kulit yang disebut Rab’ah. Setelah semuanya selesai catatan itu diserahkan kepada Abu Bakar.
Setelah Abu Bakar wafat, catatan Al Quran ini berpindah ke tangan Umar bin Khattab. Setelah Umar bin Khattab wafat, catatan Quran ini disimpan putrinya Hafsah.

Ketika pembukuan Al-Quran di masa Utsman, buku ini dipinjam Utsman dari Hafsah untuk mencocokan isinya dan mengembalikannya kembali ke tangan Hafsah ketika selesai. Ketika Hafsah wafat, Marwan, yang ketika menjabat Gubernur di Madinah dari dinasti Muawiyah, mengambilnya dan memusnahkannya.

 

Keistimewaan Mushaf Abu Bakar

Mushaf ini disusun dengan sangat teliti dengan syarat yang ketat sehingga terhindar dari kekeliruan, kesalahan tulis, perubahan meskipun hanya satu huruf dan lainnya.

Para sahabat dengan suara aklamasi menyepakati mushaf itu dan kesepakatan dianggap suara umat karena merekalah (para sahabat) yang sangat mengetahui wahyu dibanding generasi sesudahnya.
Kesepakatan para sahabat ini atas mushaf yang telah disusun adalah mutawatir karena jumlah sahabat secara keseluruhan yang menyepakati kebenaran mushaf ini melebihi syarat mutawatir.

Mushaf ini hanya mengatur letak ayat ayat saja, namun surat surat masih disusun berdasarkan wahyu atau secara tartib nuzuli.  [urutan surat masih berbeda dengan Quran pada saat ini ]

 

Catatan Tambahan

Istilah Mushaf barulah munculah setelah di masa Abu Bakar, yaitu setelah selesai penulisan Al Quran. Meskipun saat itu terdapat Mushaf yang dimiliki oleh Ali Bin Abi Thalib, Mushaf Ubay bin Ka’ab, Mushaf Ibn Mas’ud. Namun Mushaf mereka hanya ditulis secara pribadi. Sedangkan Mushaf Abu Bakar diisusun oleh sebuah tim, ditulis dengan cermat, teliti dan hati-hati. Karena besarnya manfaat apa yang dikerjakan ABu Bakar ini, Ali Bin Abi Thalib memujinya:
” Semoga Allah melimpahkan RahmatNya kepada Abu Bakar. Dialah orang pertama yamg mengumpulkan Kitab Allah.”

 

Sumber bacaan:
Muhammad Syar’i Abu Zaid: Jam’ul Qur’an Min Marhalah Tarikhiyyah
As-Suyuthi : Al-Itqon

Bagaimana Al Quran Disusun ? [ Era Rasulullah -1 ]

Bagaimana Al Quran Disusun [ Era Abu Bakar – 2 ]

 

Wallahu a’lam bishowab

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ ♥ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ♥ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ ♥ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ♥ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

.