بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Tahun ke 630 M atau 9 H.  Usai Perang Tabuk

Sebelum terjadi Perang Tabuk pada 630 M atau 9 H, datanglah sekumpulan orang orang dari daerah dekat Quba menemui Rasulullah.  Orang orang mukmin itu mengabarkan kepada Rasulullah ﷺ bahwa mereka telah membangun sebuah mesjid di sana dan berkeinginan agar Rasulullah ﷺ untuk mengunjunginya dan shalat didalamnya.  Saat itu Rasulullah menyanggupinya, namun karena Rasulullah ﷺ dan para sahabat tengah konsentrasi menghadapi perang Tabuk, maka Rasulullah ﷺ berjanji akan mengunjungi mereka usai perang nanti.

Namun ketika perang Tabuk selesai, dan Rasulullah ﷺ serta para sahabat sedang dalam perjalanan menuju Madinah, dan ketika akan tiba di wilayah dimana mesjid itu berdiri, turunlah wahyu Allah surat At Taubah [9] ayat 107 dan 110 :

 وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مَسْجِدًا ضِرَارًا وَكُفْرًا وَتَفْرِيقًا بَيْنَ الْمُؤْمِنِينَ وَإِرْصَادًا لِمَنْ حَارَبَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ مِنْ قَبْلُ وَلَيَحْلِفُنَّ إِنْ أَرَدْنَا إِلا الْحُسْنَى وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ 107

Dan (di antara orang-orang munafik itu) ada orang-orang yang mendirikan mesjid untuk menimbulkan kemudaratan (pada orang-orang mukmin), untuk kekafiran dan untuk memecah belah antara orang-orang mukmin serta menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu. Mereka sesungguhnya bersumpah : “Kami tidak menghendaki selain kebaikan.” Dan Allah menjadi saksi bahwa sesungguhnya mereka itu adalah pendusta (dalam sumpahnya).

 لا تَقُمْ فِيهِ أَبَدًا لَمَسْجِدٌ أُسِّسَ عَلَى التَّقْوَى مِنْ أَوَّلِ يَوْمٍ أَحَقُّ أَنْ تَقُومَ فِيهِ فِيهِ رِجَالٌ يُحِبُّونَ أَنْ يَتَطَهَّرُوا وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُطَّهِّرِينَ 108

Janganlah kamu bersembahyang dalam mesjid itu selama-lamanya. Sesungguhnya mesjid yang didirikan atas dasar takwa (mesjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu bersembahyang di dalamnya. Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan Allah menyukai orang-orang yang bersih.

أَفَمَنْ أَسَّسَ بُنْيَانَهُ عَلَى تَقْوَى مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٍ خَيْرٌ أَمْ مَنْ أَسَّسَ بُنْيَانَهُ عَلَى شَفَا جُرُفٍ هَارٍ فَانْهَارَ بِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ وَاللَّهُ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ 109

Maka apakah orang-orang yang mendirikan mesjidnya di atas dasar takwa kepada Allah dan keridaan (Nya) itu yang baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh, lalu bangunannya itu jatuh bersama-sama dengan dia ke dalam neraka Jahanam? Dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang yang lalim.

 لا يَزَالُ بُنْيَانُهُمُ الَّذِي بَنَوْا رِيبَةً فِي قُلُوبِهِمْ إِلا أَنْ تَقَطَّعَ قُلُوبُهُمْ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ 110

Bangunan-bangunan yang mereka dirikan itu senantiasa menjadi pangkal keraguan dalam hati mereka, kecuali bila hati mereka itu telah hancur. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

 

Siapakah Orang Orang Munafik Dalam Surat At Taubah ayat 107 ?

Surat At Taubah [9] ayat 107 jelas menyebutkan bahwa ada sekelompok orang orang munafik yang mendirikan mesjid.  Siapakah orang orang munafik itu?

Adalah Abu ‘Amir ar Rahib dari suku Khazraj. Dia menganut agama Kristen dan mengajarkan ilmu ilmu ahlul kitab serta mempunyai kedudukan yang penting dalam kalangan mereka.

Sesungguhny Abu ‘Amir ingin mempertahankan status penduduk Madinah yang membenarkannya untuk mengamalkan agamanya secara bebas.  Dia berusaha dengan berbagai macam cara untuk mempengarui penduduk Madinah yang telah menyatakan ikrarnya terhadap Rasulullah.  Tetapi hal itu tampaknya sia sia. Sebagian besar penduduk Yastrib, telah mengikatkan hati mereka pada Rasulullah dan Islam.  Meski demikian, Abu ‘Amir terus melakukan penggembosan dari dalam.  Ia tidak henti hentinya mempengaruhi penduduk Madinah untuk meninggalkan Rasulullah dan masuk pada agamanya, agama Kristen.

Ketika tiba perang Badar, Abu ‘Amir disebut dalam beberapa sumber, ikut dalam Perang Badar [ Tahun 624 M atau 2 H ] namun ia berdiri dalam pasukan kafir Quraisy.  Bisa kita bayangkan bagaimana kejadiannya saat itu.  Ketika kaum muslimin melakukan persiapan untuk memerangi kafir Quraisy, Abu ‘Amir justru bersiap untuk memerangi kaum muslimin dan Rasulullah !

Tidak hanya pada perang Badar, Abu ‘Amir bahkan juga menyertai pasukan Musyrikin Quraisy menentang Islam ketika Peperangan Uhud [ Tahun 625 M atau 3 H ].

Ia membujuk kaum musyrikin untuk mencederai Rasulullah ﷺ dalam perang Uhud.  Bahkan ia berpidato kepada kaumnya yang terdiri dari orang orang Anshar supaya mereka berpihak kepadanya. Akan tetapi kaumnya ini menolak dengan tandas. Dan setelah peperangan itu selesai, dan kaum muslimin menderita kekalahan saat itu, kesempatan itu digunakan Abu ‘Amir untuk pindah ke Mekah.  Dan iapun hijrah dari Madinah menuju Mekah, untuk begabung dengan kafir Quraisy.

Di Mekah, Abu ‘Amir tidak berhenti melakukan perlawanan kepada Rasulullah.  Ia tetap aktif ikut dalam perang perang melawan Islam, seperti perang Khandaq pada tahun 627 M atau 5 H.

Pada suatu kesempatan, Abu ‘Amir bertemu dengan Heraclius, penguasa Romawi saat itu.  Ia membujuk Heraclius untuk memerangi Rasulullah ﷺ dan kaum Muslimin. Raja tersebut mengabulkan permintaannya, serta menjanjikan kepadanya untuk memberikan bantuan.

Abu Amir lalu berkirim surat kepada sekelompok kaumnya yang terdiri dari orang orang munafik mengabarkan kepada mereka bahwa ia akan datang membawa pasukan untuk memerangi dan mengalahkan Rasulullah ﷺ.  Untuk itu Abu Amir memerintahkan agar mereka membuat sebuah benteng sebagai tempat perlindungan bagi orang-orangnya yang nanti akan datang kepada mereka dengan membawa surat-suratnya. Dan tempat itu kelak akan digunakannya sebagai kubu pertahanan. Abu ‘Amir juga menjanjikan senjata dan dia akan membawa tentara. Karena gagasan ini didukung oleh Heraclius, untuk melawan Rasulullah ﷺ dan sahabat baginda serta menghalau mereka dari Madinah.  Semua itu terjadi pada sekitar tahun  630 M atau 9 H. [ Kathir, Ibn. “Masjid Ad-Dirar and Masjid At-Taqwa”. Tafsir Ibn Kathir. Diakses tanggal 29 June 2011 ].

Maka mulailah para pengikutnya itu membangun sebuah masjid yang lokasinya berdekatan dengan Masjid Quba. Mereka membuat bangunan itu sedemikian rupa kokohnya dan selesai mereka kerjakan sebelum berangkatnya Rasulullah ﷺ ke peperangan Tabuk pada 630 M atau 9 H.

Mereka kemudian datang kepada Rasulullah ﷺ dan meminta agar beliau shalat di masjid tersebut sebagai tanda bahwa beliau merestui pembangunan masjid itu.  Saat itu Rasulullah menyanggupi pemintaan orang orang tersebut.  Namun karena saat itu Rasululullah sedang dalam perjalanan menuju perang Tabuk, maka Rasulullah menjanjikan untuk mampir dan shalat disana setelah perang nanti.

Kaum Munafik Membina Dengan Niat yang Buruk

Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Masjid Dhirar dibina dengan niat yang buruk. Mereka adalah orang munafik dan tujuan mereka adalah :
مسجد الضرار بني على نية فاسدة ، قال تعالى …والمتخذون هم المنافقون ، وغرضهم من ذلك :

1- مضارة مسجد قباء : ولهذا يسمى مسجد الضرار .

2- الكفر بالله : لأنه يقرر فيه الكفر – والعياذ بالله – ؛ لأن الذين اتخذوه هم المنافقون.

3- التفريق بين المؤمنين

4- الإرصاد لمن حارب الله ورسوله يقال: إن رجلا ذهب إلى الشام ، وهو أبو عامر الفاسق ، وكان بينه وبين المنافقين الذين اتخذوا المسجد مراسلات ، فاتخذوا هذا المسجد بتوجيهات منه ، فيجتمعون فيه لتقرير ما يريدونه من المكر والخديعة للرسول صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وأصحابه ، قال الله تعالى : ( وَلَيَحْلِفُنَّ إِنْ أَرَدْنَا إِلَّا الْحُسْنَى ) ، فهذه سنة المنافقين: الأيمان الكاذب

1. Menyaingi dan membahayakan masjid Quba, oleh kerana itu dinamakan Masjid dhirar ( artinya: membahayakan, dan masjid ini dibina dilokasi yang berdekatan dengan masjid yang pertama kali dibangun oleh Rasulullah, yakni masjid Quba.

2. Kafir kepada Allah, kerana ditetapkan padanya kekafiran / pengingkaran kerana yang membinanya adalah orang munafik

3. Memecah belah kaum muslimin

4. Untuk mengintip (kaum muslimin) bagi mereka yang memerangi Allah dan Rasul-Nya. Ada seorang laki-laki fasik pergi ke Syam yang bernama Abu ‘Amir (ia selalu memerangi kaum muslimin dan kalah, kemudian ke syam untuk meminta bantuan kepada Raja Rom, pent). Kemudian ia bersurat kedapa kaum munafik (di Madinah) agar mereka membina Masjid, maka kaum munafik membina masjid (Dhirar) atas petunjuk darinya. Mereka berkumpul untuk mewujudkan keinginan mereka untuk membuat makar dan tipu daya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sahabat beliau (mereka beralasan membina masjid untuk orang yang sakit dan orang tua, pent). Majmu’ Fatawa wa Rasail 6/226-227.

Terbakarnya Masjid al Dhirar

Ketika Rasulullah ﷺ pulang dari Tabuk, tentera Muslim telah berhenti di Dhu Awan. Seperti yang Rasulullah ﷺ maklumkan, Rasulullah ﷺ ingin mengunjungi dan shalat di masjid itu.  Kemudian, turunlah wahyu yang menegaskan baginda tentang larangan untuk bersembahyang di dalam masjid tersebut.  Al Quran surat At Taubah [9] ayat 107 – 108 :

 وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مَسْجِدًا ضِرَارًا وَكُفْرًا وَتَفْرِيقًا بَيْنَ الْمُؤْمِنِينَ وَإِرْصَادًا لِمَنْ حَارَبَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ مِنْ قَبْلُ وَلَيَحْلِفُنَّ إِنْ أَرَدْنَا إِلا الْحُسْنَى وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ 107

Dan (di antara orang-orang munafik itu) ada orang-orang yang mendirikan mesjid untuk menimbulkan kemudaratan (pada orang-orang mukmin), untuk kekafiran dan untuk memecah belah antara orang-orang mukmin serta menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu. Mereka sesungguhnya bersumpah : “Kami tidak menghendaki selain kebaikan.” Dan Allah menjadi saksi bahwa sesungguhnya mereka itu adalah pendusta (dalam sumpahnya).

 لا تَقُمْ فِيهِ أَبَدًا لَمَسْجِدٌ أُسِّسَ عَلَى التَّقْوَى مِنْ أَوَّلِ يَوْمٍ أَحَقُّ أَنْ تَقُومَ فِيهِ فِيهِ رِجَالٌ يُحِبُّونَ أَنْ يَتَطَهَّرُوا وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُطَّهِّرِينَ 108

Janganlah kamu bersembahyang dalam mesjid itu selama-lamanya. Sesungguhnya mesjid yang didirikan atas dasar takwa (mesjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu bersembahyang di dalamnya. Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan Allah menyukai orang-orang yang bersih.

Setengah dari orang orang yang membangun mesjid itu, berkilah bahwa masjid itu dibina untuk orang yang lemah, sakit dan yang memerlukannya. Namun wahyu tegas menyebutkan bahwa mesjid itu dibangun oleh kaum munafikun, dan Allah telah melarang Nabi untuk shalat didalamnya.  ‘Adalah jauh lebih patut bagi Rasulullah dan kaum muslim, untuk mengunjungi dan shalat di mesjid Quba, yang letaknya tidak jauh dari mesjid kaum munafik itu’

Itulah sebabnya kemudian Rasulullah dengan tanpa ragu, memerintahkan para sahabatnya untuk membakar mesjid itu,  Karena Rasulullah khawatir, bila ke depan, ada saja kaum muslim yang shalat didalamnya.  Padahal Allah telah jelas melarangnya.

Kemudian para tentera Islam tersebut memasuki masjid itu dan membakarnya setelah sebelumnya mereka memastikan tidak ada ada orang “lemah dan sakit” di dalamnya.  Setelah mesjid tersebut dibakar, mak oang orang munafik itu melarikan diri.

Ibnu Katsir berkata, memberitahu yang Rasulullah ﷺ mengutus Malik bin Dukhsyum, Ma’an bin Adi,’ Amir bin As-Sakan dan Wahsyi. Kemudian berkata,

“Pergilah kalian ke masjid yang didirikan oleh orang-orang zalim (Masjid Dhirar), kemudian hancurkan dan bakarlah”.
Maka mereka pun berangkat dengan segera. Malik bin Dukhsyum mengambil api dari pelepah kurma dari rumahnya. Mereka bertolak lalu membakar dan menghancurkan masjid tersebut. Mereka melaksanakan perintah Rasulullah S.A.W itu, sehingga bangunan tersebut dijadikan tempat pembuangan sampah.

أخرج ابن مردويه عن طريق ابن أسحق قال ذكر ابن شهاب الزهري عن ابن أكيمة الليثي عن ابن أخي أبي رهم الغفاري أنه سمع أبا رهم وكان ممن بايع تحت الشجرة يقول أتى من بنى مسجد الضرار رسول الله صلى الله عليه وسلم وهو متجهز إلى تبوك فقالوا يا رسول الله أنا بنينا مسجدا لذي العلة والحاجة والليلة الشاتية والليلة المطيرة وأنا نحب أن تأتينا فتصلي لنا فيه قال إني على جناح سفر ولو قدمنا إن شاء الله أتيناكم فصلينا لكم فيه فلما رجع نزل بذي أوان على ساعة من المدينة فأنزل الله في المسجد والذين اتخذزا مسجدا ضررا وكفرا

Ibnu Mardawaih rahimahullah meriwayatkan dari Ibnu Ishaq rahimahullah yang berkata, “Ibnu Syihab az-Zuhri menyebutkan dari Ibnu Akimah al-Laitsi dari anak saudara Abi Rahmi al-Ghifari Radhiallahu ‘anhu. Dia mendengar Abi Rahmi al-Ghifari Radhiallahu ‘anhu (dia termasuk yang ikut baiat kepada Rasulullah ﷺ pada hari Hudaibiyah) berkata,

“Telah datang orang-orang yang membangun masjid dhirar kepada Rasulullah ﷺ, pada saat beliau bersiap-siap akan berangkat ke Tabuk [ 9H ]. Mereka berkata, “Wahai Rasulullah ﷺ, kami telah membangun masjid buat orang-orang yang sakit maupun yang mempunyai keperluan pada malam yang sangat dingin dan hujan. Kami senang jika engkau mendatangi kami dan shalat di masjid tersebut.”

Kemudian Rasulullah ﷺ menjawab,” Aku sekarang mau berangkat bepergian, insya Allah Azza wa Jalla setelah kembali nanti aku akan mengunjungi kalian dan shalat di masjid kalian.”

Kemudian dalam perjalanan pulang dari Tabuk [ Tahun 630 M atau 9 H ], Rasulullah ﷺ beristirahat di Dzu Awan (jaraknya ke Madinah sekitar setengah hari perjalanan). Pada waktu itulah Allah Azza wa Jalla memberi kabar kepada Rasulullah ﷺ tentang masjid tersebut yang mereka niatkan untuk membahayakan kaum muslimin dan sebagai bentuk kekafiran.”

Wallahu a’lam bishowab

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ ♥ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ♥ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ ♥ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ♥ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ