Rabu 14 Rabiul Awal Tahun 11 Hijriah atau 633 Masehi.  Sekitar selasa tengah malam atau Rabu dini hari.

Dimana Rasulullah akan dimakamkan, para sahabat juga saling  berbeda pendapat.

  1. Kalangan Muhajirin berpendapat akan dimakamkan di Mekah, tanah tumpah darahnya dan di tengah-tengah keluarganya.
  2. Yang lain berpendapat supaya dimakamkan di Baitull Maqdis [ Yerusalem ] karena para nabi sebelumnya di sana dimakamkan. Entah bagaimana ada orang yang  ini berpendapat demikian, padahal Baitul Maqdis pada waktu itu masih di tangan Rumawi dan sejak kejadian Mu’ta dan Tabuk, Rumawi dengan pihak Islam sedang dalam permusuhan, sehingga Rasulullah menyiapkan pasukan Usamah bin Zaid  untuk mengadakan pembalasan.
  3. Kaum Muslimin tak dapat menyetujui pendapat ini, juga mereka tidak setuju Nabi dimakamkan di Mekah. Mereka ini berpendapat supaya Nabi dimakamkan di Madinah, kota yang telah memberikan perlindungan dan pertolongan, dan kota yang mula mula bernaung di bawah bendera Islam.
  4. Ada juga yang berpendapat agar Rasul dimakamkan di Baqi di Ghargad, karena disanalah kaum muslimin dimakamkan.
  5. Ada yang berpendapat sebaiknya rasul dimakamkan di mesjid, tempat dia memberi khotbah dan bimbingan serta memimpin orang sembahyang, dan menurut pendapat mereka supaya dimakamkan ditempat mimbar atau di sampingnya. Tetapi pendapat demikian ini kemudian ditolak, mengingat adanya keterangan berasal dari Aisyah, bahwa ketika Nabi sedang dalam sakit keras, ia mengenakan kain selubung hitam, yang sedang ditutupkan di mukanya, kadang dibukakan sambil ia berkata: “Laknat Allah kepada suatu golongan yang mempergunakan pekuburan nabi nabi sebagai mesjid”.

Kemudian Abu Bakr tampil memberikan keputusan kepada orang ramai itu dengan mengatakan:

“Saya dengar Rasulullah s.a.w. berkata Setiap ada nabi yang meninggal, ia dimakamkan di tempat dia meninggal.”

Lalu diambil keputusan, bahwa pada letak tempat tidur ketika Nabi meninggal itu, di tempat itulah akan digali.

Namun bagaimana cara menggali kuburan, juga mengundang perdepbatan. Karena ada dua cara orang orang Arab ketika itu dalam menggali kuburan:

  • pertama cara orang Mekah yang menggali kuburan dengan dasarnya yang rata;
  • kedua cara orang Medinah yang menggali kuburan dengan dasarnya yang dilengkungkan.

Abu Ubaidah bin al Jarrah misalnya, ia menggali cara orang Mekah, sedang Abu Talha Zaid bin Sahl menggali kuburan cara orang Medinah. Keluarga Nabi juga memperbincangkan cara mana kuburan itu akan digali. ‘Abbas paman Nabi segera mengutus dua orang, masing-masing supaya memanggil Abu Ubaidah dan Abu Talha.

Yang diutus kepada Abu Ubaidah kembali tidak bersama dengan yang dipanggil, sedang yang diutus kepada Talha datang bersama sama. Maka makam Rasulullah digali menurut cara Medinah. Dan yang melakukan penggalian adalah Abu Thalha.

 

Kemudian bilamana hari sudah senja, dan setelah kaum Muslimin selesai menjenguk tubuh yang suci itu serta mengadakan perpisahan yang terakhir, keluarga Nabi sudah siap pula akan menguburkannya.

Mereka menunggu sampai seluruh kaum muslimin selesai melakukan shalat jenazah, hingga tengah malam. [ Selasa tengah malam atau Rabu dini hari menurut hitungan Masehi.  Jika menurut hitungan Hijriyah, maka sudah termasuk hari Rabu ],

Tengah malam itu, mulailah Abu Thalha melakukan penggalian di bawah tempat tidur Rasulullah, di dalam kamar Aisyah.

Kemudian Shuqran menghamparkan sehelai kain berwarna merah yang biasa dipakai Nabi dihamparkannya di dalam liang lahat. Yang turun didalam liang lahat adalah keluarga Rasul yang tadi memandikan jenazah Rasul.  Yakni Abbas, Ali, Al Fadhail, Qutsam, Usamah dan Suqran.

Lalu jenazah beliau diturunkan dan dikebumikan ke tempatnya yang terakhir.  Kemudian di atas itu lalu dipasang bata merah kemudian kuburan itu ditimbun dengan tanah.

Dalam hal ini Aisyah berkata: “Kami mengetahui pemakaman Rasulullah s.a.w. ialah setelah mendengar suara-suara sekop pada tengah malam itu.”

Fatimah juga berkata seperti itu.

Upacara pemakaman itu terjadi pada malam Rabu 14 Rabiulawal, yakni dua hari setelah Rasul berpulang ke rahmatullah.

Sesudah itu Aisyah tinggal menetap di rumahnya dalam ruangan yang berdampingan dengan ruangan makam Nabi. Ia merasa bahagia di samping tetangga yang sangat mulia itu.

Setelah Abu Bakr wafat ia dimakamkan di samping Nabi, demikian juga Umar menyusul dimakamkan di sebelahnya lagi. Ada disebutkan, bahwa Aisyah berziarah ke ruangan makam itu tidak mengenakan kudung, sebab sebelum Umar dimakamkan, di sana hanya ayah dan suaminya. Tetapi setelah juga Umar dimakamkan, setiap ia masuk selalu berkudung dengan mengenakan pakaian lengkap.

Begitu selesai kaum Muslimin menyelenggarakan pemakaman Rasulullah, Abu Bakr memerintahkan pasukan Usama yang akan menyerbu Syam segera diteruskan sebagai pelaksanaan apa yang telah diperintahkan oleh Rasulullah. Ada juga kaum Muslimin yang merasa tidak setuju dengan itu, seperti yang pernah terjadi ketika Nabi sedang sakit. Umar termasuk orang yang tidak setuju. Ia berpendapat supaya kaum Muslimin tidak bercerai berai. Mereka harus tetap di Madinah, sebab dikuatirkan akan terjadi hal hal yang kurang menyenangkan. Tetapi dalam melaksanakan perintah Rasul,  Abu Bakar tidak pernah ragu ragu. Dia pun menolak pendapat orang yang mengusulkan supaya mengangkat seorang komandan yang lebih tua usianya dari Usama dan lebih berpengalaman dalam perang.

Dengan demikian pasukan di Jurf itu tetap disiapkan di bawah pimpinan Usama, dan Abu Bakr pergi melepaskannya. Ketika itu dimintanya kepada Usama supaya Umar dibebaskan dari tugas itu. Ia perlu tinggal di Madinah supaya dapat memberi nasehat kepada Abu Bakar.

Belum selang duapuluh hari setelah tentara berangkat, pihak Muslimin sudah dapat menyerang Balqa’. Usama telah dapat mengadakan pembalasan buat kaum Muslimin dan ayahnya yang telah terbunuh di Mu’tah dulu. Dalam peristiwa yang gemilang itu semboyan perang yang diucapkan ialah: “Untuk kemenangan, matilah!”

Dengan demikian baik Abu Bakr mau pun Usama telah dapat melaksanakan perintah Nabi. Ia kembali dengan pasukannya itu ke Medinah didahului panji yang oleh Rasulullah dulu diserahkan di tangannya dengan menunggang kuda yang juga dulu dipakai ayahnya di Mu’ta sampai tewasnya.