Telah kami sebutkan sebelumnya sebagian hadits yang menjelaskan turunnya Isa Alaihissallam.   Akan tetapi kami tidak menyebutkan semua hadits tentangnya karena tidak ingin memperpanjang pembahasan.

Haditshadits tersebut telah diriwayatkan dalam kitab Shahiih, Sunan, Musnad dan yang lainnya dari kitab-kitab hadits.  Semuanya secara jelas menetapkan turunnya Isa Alaihissallam di akhir zaman, dan tidak ada hujjah bagi orang yang membantahnya dengan mengatakan, “Sesungguhnya hadits tersebut adalah ahad sehingga tidak bisa dijadikan hujjah,” atau “Sesungguhnya turunnya ‘Isa Alaihissallam tidak termasuk di antara aqidah kaum muslimin yang wajib mereka imani [1].

Sebab jika suatu hadits itu sudah shalih (baik shahih atau hasan,-penj.) maka wajib diimani, membenarkan segala sesuatu yang dikabarkan oleh ash-Shaadiqul Mashduuq Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak dibenarkan bagi kita untuk menolak sabdanya hanya karena hadits tersebut ahad. Penolakan mereka dengan hujatannya sangat lemah sebagaimana telah kami jelaskan dalam satu pasal secara khusus di awal pembahasan.

Di dalamnya kami menjelaskan bahwa hadits ahad jika shahih, maka isinya wajib dibenarkan, dan jika kita berkata, “Sesungguhnya hadits ahad bukan hujjah, maka berarti kita membantah semakin banyak hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan apa-apa yang dikatakan oleh beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadi sesuatu yang tidak berarti, apalagi dengan kenyataan sesungguhnya para ulama telah menetapkan bahwa haditshadits tentang turunnya ‘Isa Alaihissallam adalah mutawatir?!

Pada kesempatan ini kami akan menyebutkan sebagian dari perkataan mereka:

a. Ibnu Jarir ath-Thabari rahimahullah berkata -setelah mengungkapkan perbedaan pendapat tentang makna wafatnya ‘Isa-, “Dan pendapat yang paling benar menurut kami adalah pendapat yang mengatakan, “Maknanya bahwa Aku mengambil kamu dari bumi dan mengangkatnya kepada-Ku,” karena mutawatirnya beberapa khabar dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya beliau bersabda:

يَنْزِلُ عِيْسَى بْنُ مَرْيَمَ فَيَقْتُلُ الدَّجَّالَ.

“‘Isa bin Maryam akan turun, lalu membunuh Dajjal.” [2]

Kemudian setelahnya beliau menyebutkan beberapa hadits yang menjelaskan turunnya ‘Isa Alaihissallam.

b. Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Telah diriwayatkan secara mutawatir beberapa hadits dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau mengabarkan tentang turunnya ‘Isa Alaihissallam sebelum hari Kiamat sebagai imam dan hakim yang adil.” [3]

Kemudian beliau menyebutkan lebih dari 18 hadits tentang turunnya ‘Isa Alaihissallam.

c. Shiddiq Hasan Khan berkata, “Haditshadits tentang turunnya ‘Isa Alaihissallam adalah banyak. Imam asy-Syaukani menyebutkan sebagiannya sebanyak dua puluh sembilan hadits, di antaranya ada yang shahih, hasan, dha’if dan munjabir, sebagaimana diungkapkan dalam haditshadits tentang Dajjal… dan di antaranya ada yang diungkapkan dalam haditshadits tentang al-Mahdi al-Muntazhar, ditambah lagi dengan beberapa atsar dari para Sahabat yang semuanya memiliki hukum marfu’ (dinisbatkan pada Nabi) karena tidak ada ruang ijtihad di dalamnya.”

Kemudian beliau menyebutkannya dan berkata, “Semua yang kami ung-kapkan mencapai batasan mutawatir, sebagaimana hal ini tidak samar bagi orang yang dikaruniai pengetahuan yang luas.”[4]

d. Al-Ghumari[5] berkata, “Dan telah benar pendapat yang mengatakan bahwa ‘Isa Alaihissallam akan turun. Pendapat ini bukan hanya dari satu orang Sahabat, Tabi’in, Tabi’ut Tabi’in, juga para ulama dari berbagai madzhab sepanjang zaman sampai zaman sekarang ini.” [6]

Beliau juga berkata, “Mutawatirnya hadits dalam masalah ini adalah sesuatu yang tidak diragukan, di mana tidak dibenarkan mengingkarinya kecuali orang-orang bodoh, seperti golongan al-Qadiyaniyyah dan orang yang sejalan dengan mereka. Sebab haditshadits tersebut dinukil oleh sejumlah orang dari sejumlah orang (sebelumnya), sehingga telah tetap dalam berbagai kitab Sunnah yang sampai kepada kita secara mutawatir, dari generasi ke generasi.”[7]

Dan beliau telah menyebutkan para Sahabat yang meriwayatkannya, lalu menghitungnya ternyata lebih dari dua puluh lima Sahabat, yang meriwayat-kan dari mereka lebih dari tiga puluh orang Tabi’in, kemudian diriwayatkan dari mereka oleh para Tabi’ut Tabi’in dengan jumlah yang lebih banyak dari jumlah Tabi’in… dan demikianlah, sehingga diriwayatkan oleh para imam di dalam kitab hadits, di antaranya adalah berbagai kitab Musnad, seperti Musnad ath-Thayalisi, Ishaq bin Rahawaih, Ahmad bin Hanbal, Utsman bin Abi Syaibah, Abu Ya’la, al-Bazzar, dan ad-Dailami.

Dan kitab kitab Shahiih seperti, al Bukhari, Muslim, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, al-Hakim, Abu ‘Awanah, al-Isma’ili, adh-Dhiya’ al-Maqdisi juga yang lainnya. Dan diriwayatkan pula oleh para pemilik kitab-kitab Jawaami’, al-Mushannafat, as-Sunan, Tafsiir bil Ma-tsuur, Mu’jam, al-Ajzaa’, al-Gharaa-ib, al-Mu’jizaat, ath-Thabaqaat, dan al-Malaahim.

Di antara ulama yang mengumpulkan berbagai hadits tentang turunnya Isa Alaihissallam adalah Syaikh Anwar Syah al-Kasymiri [8] di dalam kitabnya at-Tashriih bimaa Tawaatara fii Nuzuulil Masiih, beliau menyebutkan lebih dari tujuh puluh hadits.

e. Penulis kitab ‘Aunul Ma’buud Syarh Sunan Abi Dawud berkata, “Telah diriwayatkan secara mutawatir berbagai khabar dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang turunnya ‘Isa bin Maryam Alaihissallam dari langit dengan jasadnya ke bumi sebelum datangnya Kiamat, inilah madzhab Ahlus Sunnah.[9]

f. Asy-Syaikh Ahmad Syakir rahimahullah berkata, “Ihwal turunnya Nabi ‘Isa Alaihissallam di akhir zaman merupakan perkara yang disepakati oleh kaum muslimin, berdasarkan haditshadits yang shahih dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentangnya, dan ini termasuk perkara yang harus diketahui dalam Islam. Orang yang mengingkarinya termasuk kafir.”

Dan beliau berkata dalam komentarnya atas kitab Musnad Imam Ahmad, “Kaum modernis dan sekuler di zaman kita sekarang ini telah mempermainkan berbagai hadits yang secara jelas menunjukkan turunnya ‘Isa bin Maryam Alaihissallam pada akhir zaman sebelum berakhirnya kehidupan dunia dengan penakwilan yang terkadang mengisyaratkan pengingkaran, dan dengan pengingkaran secara jelas pada kesempatan lain! Hal itu karena mereka -pada hakikatnya- tidak mengimani perkara ghaib, atau hampir saja tidak mengimaninya. Padahal keseluruhan haditshadits tersebut adalah mutawatir secara makna, dan kandungannya termasuk perkara yang harus diketahui dalam agama. Maka tidak bermanfaat bagi mereka pengingkaran tidak pula pentakwilan.” [10]

g. Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah berkata, “Ketahuilah, sesungguhnya haditshadits tentang Dajjal dan turunnya ‘Isa Alaihissallam adalah mutawatir, wajib diimani. Janganlah engkau tertipu dengan orang yang mengklaim bahwa turunnya ‘Isa Alaihissallam berdasarkan hadits ahad. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang bodoh terhadap ilmu ini (ilmu hadits), dan tidak ada seorang pun di antara mereka yang meneliti jalan periwayatannya, seandainya dia melakukannya, niscaya dia akan mendapati bahwa haditshadits tersebut mutawatir, sebagaimana disaksikan oleh para imam dalam ilmu ini, seperti al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah.

Di antara hal yang benar-benar disayangkan bahwa sebagian dari mereka memberanikan diri untuk berbicara dalam urusan yang bukan keahlian (bidang) mereka, apalagi ini merupakan masalah agama dan ‘aqidah.” [11]

Turunnya ‘Isa Alaihissallam dicantumkan oleh sebagian ulama termasuk ‘aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, dan sesungguhnya dia turun untuk membunuh Dajjal -semoga Allah melaknatnya-.

h. Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata:

أُصُوْلُ السُّنَّةِ عِنْدَنَا اَلتَّمَسُّكُ بِمَا كَانَ عَلَيْهِ أَصْحَابُ رَسُولِ اللهِ J، وَاقْتِدَاءُ بِهِمْ، وَتَرْكُ الْبِدَعِ، وَكُلُّ بِدْعَةٍ وَهِيَ ضَلاَلَةٌ.

“Dasar-dasar Sunnah menurut kami adalah berpegang teguh kepada berbagai hal yang ada pada Sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, mengikuti mereka, meninggalkan bid’ah-bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan.”

Selanjutnya beliau menuturkan sebagian dari ‘aqidah Ahlus Sunnah, kemudian berkata, “Dan mengimani bahwa al-Masihud Dajjal akan keluar, di antara kedua matanya tertulis (Kaafir), meyakini haditshadits yang menjelaskan tentangnya, mengimani bahwa hal itu akan terjadi, dan sesungguhnya ‘Isa Alaihissallam akan turun lalu membunuhnya di pintu Ludd [12].”

Abul Hasan al-Asy’ari rahimahullah[13] ketika menguraikan ‘aqidah Ahlul Hadits was Sunnah berkata, “Beriman kepada Allah, Malaikat-Malaikat-Nya, Kitab-Kitab-Nya, RasulRasul-Nya, segala hal yang datang dari Allah dan segala hal yang diriwayatkan oleh orang-orang terpercaya dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak membantah sedikit pun darinya… membenarkan keluarnya Dajjal, dan bahwasanya ‘Isa Alaihissallam akan membunuhnya.”

Kemudian di akhir perkataanya beliau berkata, “Dan kami berkata dengan setiap yang kami ungkapkan dari perkataan mereka, dan kepadanyalah kami bermadzhab.” [14]

Ath-Thahawi rahimahullah [15] berkata, “Dan kami beriman kepada tanda-tanda besar Kiamat berupa keluarnya Dajjal, turunnya ‘Isa bin Maryam Alaihissallam dari langit”. [16]

Al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullah berkata, “Turunnya ‘Isa dan pembunuhan yang ia lakukan terhadap Dajjal adalah suatu kebenaran dan shahih menurut Ahlus Sunnah berdasarkan beberapa hadits tentangnya, tidak ada yang membatalkannya secara akal juga secara syara’, maka wajib menetapkannya.” [17]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, “Dan al-Masih -semoga shalawat dicurahkan kepada beliau dan kepada Nabi yang lain-, beliau pasti turun ke dunia… (dan seterusnya) sebagaimana dijelaskan dalam berbagai hadits shahih. Karena itulah beliau berada di atas langit kedua, padahal dia lebih utama daripada Yusuf, Idris, dan Harun, karena dia hendak turun ke dunia sebelum datangnya Kiamat, berbeda dengan yang lainnya. Adapun Adam berada di langit dunia karena jiwa anak-anak keturunannya diperlihatkan kepadanya.” [18]

[Disalin dari kitab Asyraathus Saa’ah, Penulis Yusuf bin Abdillah bin Yusuf al-Wabil, Daar Ibnil Jauzi, Cetakan Kelima 1415H-1995M, Edisi Indonesia Hari Kiamat Sudah Dekat, Penerjemah Beni Sarbeni, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir]


Footnote
[1]. Lihat al-Fataawaa’ (hal. 59-82), karya Syaikh Mahmud Saltut, Darusy Syuruq, cet. ke VIII, th. 1395 H, Beirut. Beliau t di dalam kitab tersebut mengingkari orang yang mengatakan bahwa ‘Isa naik ke langit dengan jasadnya. Demikian pula mengingkari turunnya pada akhir zaman dan mem-bantah berbagai hadits yang menjelaskannya, beliau berkata, “Tidak ada hujjah di dalamnya karena semua haditsnya adalah ahad!!”
Permasalah diangkatnya ‘Isa ke langit, apakah dengan jasad atau ruhnya adalah masalah yang di-perdebatkan di antara para ulama. Akan tetapi yang benar bahwa dia diangkat ke langit dengan jasad beserta ruhnya, sebagaimana difahami oleh kebanyakan para ulama tafsir, seperti ath-Thabari, al-Qurthubi, Ibnu Taimiyyah, Ibnu Katsir dan para ulama lainnya.
Lihat Tafsiir ath-Thabari (III/291), Tafsiir al-Qurthubi (IV/100), Majmu’ al-Fataawaa’, karya Ibnu Taimiyyah (IV/322-323), dan Tafsiir Ibni Katsir (II/4045).
[2]. Tafsiir ath-Thabari (III/291).
[3]. Tafsiir Ibni Katsir (VII/223).
[4]. Al-Idzaa’ah (hal. 160).
[5]. Beliau adalah Abul Fadhl ‘Abdullah Muhammad ash-Shiddiq al-Ghimari dari kalangan ulama zaman ini.
[6]. ‘Aqiidatu Ahlil Islaam fii Nuzuuli ‘Isa q (hal. 12).
[7]. ‘Aqiidatu Ahlil Islaam fi Nuzuuli ‘Isa q (hal. 5).
[8]. Beliau adalah Syaikh Muhaddits Muhammad Anwar Syah al-Kasymiri al-Hindi, beliau memiliki berbagai karya tulis, di antaranya Faidhul Baari ‘ala Shahiihil Bukhari dalam empat jilid, al-‘Urfusy Syadzi Jaami’ at-Tirmidzi, dan yang lainnya, wafat pada tahun 1352 t di kota Dyunid.
Lihat biografinya dalam muqaddimah at-Tashriih, karya Syaikh ‘Abdul Fattah Abu Ghuddah.
[9]. ‘Aunul Ma’buud (XI/457), karya Abu Thayyib Muhammad Syamsul Haq al-‘Azhim Abdi.
[10]. Dari catatan pinggir kitab Tafsiir ath-Thabari (VI/460) takhrij Syaikh Ahmad Syakir, dan tahqiq Mahmud Syakir, cet. Darul Ma’arif, Mesir.
[11]. Haasyiyah Syarh ‘Aqiidah ath-Thahaawiyyah (hal. 565) dengan takhrij Syaikh Muhammad Nashi-ruddin al-Albani, seorang ahli hadits negeri Syam.
[12]. Thabaqaatul Hanaabilah (I/241-243), karya al-Qadhi bin Muhammad Abi Ya’la, cetakan Darul Ma’rifah lin Nasyr, Beirut.
[13]. Beliau adalah al-‘Allamah Abul Hasan ‘Ali bin Isma’il, dari keturunan Abu Musa al-Asy’ari seorang Sahabat yang mulia. Tumbuh di bawah asuhan ayah tirinya, Abu ‘Ali al-Juba-i, Syaikh Mu’tazilah pada zamannya, berguru kepadanya, dan memegang madzhabnya hampir 40 tahun, kemudian Allah memberikan petunjuk kepadanya berpindah ke madzhab Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Lalu beliau mengumumkan bahwa beliau menganut madzhab Ahmad bin Hanbal. Beliau memiliki hampir 50 karya tulis. Dr. Fauqiyyah Husain Mahmud menyebutkan di dalam Muqaddimah tahqiq kitab al-Ibaanah ‘an Ushuulid Diyaanah hampir 100 karya tulis. Di antara yang terkenal adalah Maqaalatul Islaamiyyiin, Kitaabul Luma’, al-Wajiiz dan yang lainnya, kitab terakhir yang ia tulis adalah kitab al-Ibaanah ‘an Ushuulid Diyaanah, beliau wafat pada tahun 324 H.
Lihat biografinya dalam Tabyiin Kadzbil Muftari, karya Ibnu ‘Asakir (hal. 34, dan yang setelahnya), al-Bidaayah wan Nihaayah (XI/186), Syadzaraatudz Dzahab (II/303-305), muqaddimah kitab al-Ibaanah (hal. 7-16), karya Abul Hasan an-Nadwi tahqiq ‘Abdul Qadir al-Arna-uth, cet. I, diterbitkan oleh Darul Bayan, Damaskus 1401 H, dan muqaddimah kitab al-Ibaanah tahqiq Fauqiyyah Husain Mahmud, cet. I, th. 1397 H, Darul Anshar, Kairo.
[14]. Maqaalatul Islaamiyyiin wa Ikhtilaaful Mushalliin (I/345-348) tahqiq Syaikh Muhammad Muhyiddin ‘Abdul Hamid, cet. II, th. 1389 H, Maktabah an-Nahdhah al-Mishriyyah, Kairo.
[15]. Beliau adalah al-Hafizh, al-Faqih, al-Muhaddits Abu Ja’far Ahmad bin Muhammad bin Salamah ath-Thahawi al-Azdi al-Mishri, Syaikhul Hanafiyyah pada zamannya di Mesir, nisbatnya kepada Thaha sebuah kampung di dataran tinggi Mesir. Beliau memiliki banyak karya tulis, di antaranya al-‘Aqiidah ath-Thahaawiyah, kitab Ma’aanil Atsaar, kitab Musykiilul Atsaar, wafat pada tahun 321 H di Mesir t. Lihat biografinya dalam al-Bidaayah wan Nihaayah (XI/174), Syadzaraatudz Dzahab (II/288), dan Muqaddimah kitab Syarh al-‘Aqiidah ath-Thahaawiyyah (hal. 9-11) tahqiq dan takhrij Syaikh al-Albani.
[16]. Syarh al-‘Aqiidah ath-Thahaawiyyah (hal. 564) tahqiq Syaikh al-Albani.
[17]. Syarh Shahiih Muslim (XVIII/75).
[18]. Majmu’ al-Fataawa (IV/329), karya Ibnu Taimiyyah.