Telah diuraikan sebelumnya berbagai keluarbiasaan yang menyertai Dajjal dalam pembahasan tentang fitnah yang dilakukannya. Semua keluarbiasaan ini adalah sesuatu yang hakiki, bukan khayalan atau tipuan, sebagaimana yang dianggap oleh sebagian ulama.

Ibnu Katsir rahimahullah telah menukil dari Ibnu Hazm juga ath Thahawi, ke-duanya berkata bahwa yang menyertai Dajjal bukanlah hakiki.

Demikian pula yang dinukil dari Abu ‘Ali al-Juba-i[1] tokoh Mu’tazilah sebuah ungkapan, “Tidak selayaknya bahwa hal itu merupakan hakikat, agar keluarbiasaan dari tukang sihir tidak serupa dengan keluarbiasaan seorang Nabi.”[2]

Setelah mereka datanglah Syaikh Rasyid Ridha, beliau mengingkari bahwa Dajjal memiliki keluarbiasaan. Beliau mengatakan bahwa hal ini bertentangan dengan Sunnatullah pada makhluk-Nya. Beliau berkata ketika mengomentari berbagai hadits tentang Dajjal, “Sesuatu yang diungkapkan di dalamnya menandingi mukjizat paling besar yang Allah berikan kepada Ulul ‘Azmi dari para Rasul, atau bahkan melebihinya dan dianggap sebagai sebuah kerancuan karenanya, sebagaimana dikatakan oleh sebagian ulama kalam.

Sementara sebagian ulama hadits menganggap bahwa hal itu termasuk hal bid’ah dari kalangan mereka (ahlul kalam), maklum adanya bahwa Allah tidak memberikan mukjizat tersebut kecuali agar bisa dijadikan petunjuk bagi makhluk-Nya yang sesuai dengan ketetapan-Nya bahwa kasih sayang-Nya mendahului kemarahan-Nya. Maka bagaimana mungkin Allah memberikan keluarbiasaan yang paling besar untuk memberikan fitnah bagi kelompok paling besar (umat Islam) dari kalangan hamba-Nya?! Karena dari riwayat-riwayat tersebut dijelaskan bahwa dia mengelilingi bumi hanya dalam waktu empat puluh hari kecuali Makkah dan Madinah….”

Sampai pada ungkapannya, “Sesungguhnya semua keluarbiasaan yang dinisbatkan kepadanya adalah sesuatu yang bertentangan dengan Sunnatullah pada makhluk-Nya, dan telah tetap dalam nash-nash al-Qur-an bahwa Sunnatullah tidak akan dapat dirubah juga diganti, sementara riwayat-riwayat ini mudhtharib (goncang) lagi saling bertabrakan, sehingga tidak layak untuk dijadikan pengkhusus atas nash-nash qath’i apalagi menjadikannya sebagai penentang.”[3]

Beliau memperkuat adanya kontradiksi di antara berbagai hadits tentang Dajjal bahwa di dalam sebagian riwayat -sebagaimana telah dijelaskan- Dajjal memiliki gunung roti juga sungai-sungai air dan madu, dia memiliki Surga juga Neraka… dan yang lainnya. Hal ini jelas bertentangan dengan sebuah hadits dalam ash-Shahiihain, dari al-Mughirah bin Syu’bah, dia berkata, “Tidak seorang pun bertanya kepada Nabi J seperti pertanyaan yang telah aku ajukan, dan sesungguhnya beliau berkata kepadaku:

مَا يَضُرُّكَ مِنْهُ؟ قُلْتُ: لأَنَّهُمْ يَقُوْلُوْنَ: إِنَّ مَعَهُ جَبَلَ خُبْزٍ، وَنَهْرُ مَاءٍ. قَالَ: بَلْ هُوَ أَهْوَنُ عَلَى اللهِ مِنْ ذَلِكَ.

“Apakah yang dapat membahayakanmu darinya?” Aku menjawab, “Ka-rena sesungguhnya mereka berkata bahwa dia memiliki gunung roti, dan sungai air.” Beliau bersabda, “Bahkan dia lebih mudah bagi Allah dari hal itu semua. (yakni, daripada menjadikan ayat untuk menyesatkan kaum muslimin).”[4]

Dan di antara orang yang mengingkari keluarbiasaan yang dimiliki oleh Dajjal adalah Abu ‘Ubayyah. Beliau berkata di dalam komentarnya terhadap berbagai hadits yang membahasnya, “Apakah banyak manusia yang akan menghadapi fitnah yang sangat besar dan banyak ini?! Dia menghidupkan dan mematikan orang di hadapan banyak manusia dan (kata-katanya) bisa didengar oleh manusia, kemudian Allah mencampakkan para hamba-Nya ke dalam api Neraka karena terkena fitnahnya!!

Sesungguhnya Allah Mahalembut lagi Maha Pengasih terhadap hamba-hamba-Nya daripada memberikan cobaan yang besar ini kepada mereka yang tidak mungkin ada yang sanggup meng-hadapinya kecuali orang yang dikaruniai ketetapan keimanan yang sempurna dan kekuatan ‘aqidah yang sangat kokoh, dan sesungguhnya Dajjal lebih mudah bagi Allah daripada hanya sekedar memberikannya kekuasaan terhadap makhluk-Nya, dan diberi-Nya berbagai senjata yang membahayakan lagi menggoyahkan ‘aqidah dan agama di dalam hati manusia di alam semesta.” [5]

  1. Bantahan Terhadap Mereka Dapat Diringkas dengan Beberapa Per-nyataan Berikut
    Pertama: Sesungguhnya berbagai hadits yang menjelaskan tentang keluarbiasaan Dajjal (خَوَارِقُ الدَّجَّالِ) adalah tetap lagi shahih, tidak bisa ditolak juga ditakwil dan anggapan adanya keserupaan, tidak ada idhthirab (kegoncangan) di dalamnya, juga tidak adanya kontradiksi di antara hadits.

Sedangkan yang dijadikan dalil oleh Rasyid Ridha bahwa hadits al-Mu-ghirah yang diriwayatkan dalam ash-Shahiihain bertentangan dengan haditshadits tentang Dajjal, maka hal itu bisa dijawab dengan pernyataan bahwa makna sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “بَلْ هُوَ أَهْوَنُ عَلَـى اللهِ مِنْ ذَلِكَ (bahkan lebih mudah bagi Allah dari yang demikian itu)” adalah bahwa lebih mudah bagi Allah daripada menjadikan keluarbiasaannya untuk menyesatkan kaum mukminin juga mem-berikan keraguan di dalam hati mereka, bahkan hal itu juga untuk menambah keimanan orang yang beriman dan menambah keraguan bagi orang-orang yang di dalam hatinya telah tertanam penyakit, hal itu seperti perkataan seseorang yang telah dibunuh oleh Dajjal, “Aku lebih yakin tentang kedustaanmu hari ini.”

Jadi sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Bahkan lebih mudah bagi Allah dari yang demikian” tidak bermakna bahwa dia tidak memiliki hal-hal seperti itu sedikit pun, akan tetapi maknanya adalah hal itu lebih mudah bagi Allah daripada menjadikan sesuatu sebagai bukti akan kebenarannya, terutama Allah telah menjadikan sebuah tanda yang jelas akan kebohongan juga kekufurannya yang bisa dibaca oleh setiap muslim baik yang bisa membaca ataupun tidak, sebagai bukti tam-bahan bagi orang yang diajak bicara olehnya [6], sebagaimana telah dijelaskan di dalam pembahasan tentang sifat-sifatnya.

Kedua: Seandainya kita menerima hadits tersebut secara zhahir, maka perkataan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepadanya sebelum turunnya penjelasan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang segala macam keluarbiasaannya berdasarkan dalil perkataan al-Mughirah kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sebab mereka berkata, sesungguhnya dia memiliki…” dia tidak berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sesungguhnya engkau telah berkata tentangnya ini dan itu (tentang Dajjal).”

Kemudian datang wahyu setelah itu yang menjelaskan segala macam keluarbiasaan yang dimiliki oleh Dajjal, maka tidak ada pertentangan antara hadits al-Mughirah dengan haditshadits tentang Dajjal yang lainnya.”

Ketiga: Sesungguhnya segala macam keluarbiasaan yang dimiliki oleh Dajjal adalah hakiki, bukan khayalan juga bukan cerita bohong, dan segala macam keluarbiasaan ini merupakan sesuatu yang Allah tentukan sebagai fitnah dan cobaan bagi para hamba, sementara Dajjal sama sekali tidak mungkin bisa menyerupai keadaan para Nabi, karena tidak ada riwayat yang menjelaskan bahwa dia mengaku sebagai Nabi ketika ia memunculkan berbagai ke-luarbiasaan di tangannya kepada manusia. Bahkan keluarnya segala keluar-biasaan terjadi ketika dia mengaku sebagai tuhan.”[7]

Keempat: Sesungguhnya sikap Rasyid Ridha yang menganggap mustahil bahwa Dajjal bisa mengelilingi dunia hanya dalam waktu empat puluh hari kecuali Makkah dan Madinah sama sekali tidak berlandaskan dalil.

Bahkan dalil yang ada menjelaskan sesuatu yang bertentangan dengan apa yang ia katakan. Karena dijelaskan di dalam riwayat Muslim bahwasanya sebagian hari-hari Dajjal dirasakan seperti satu tahun, sebagiannya lagi terasa seperti satu bulan, yang lainnya seperti satu pekan… sebagaimana telah dijelaskan.

Kelima: Sesungguhnya segala macam keluarbiasaan yang diberikan ke-pada Dajjal sama sekali tidak bertentangan dengan Sunnatullah di alam ini. Karena jika kita memahami perkataan Rasyid Ridha secara zhahirnya niscaya kita akan membatalkan segala macam kemukjizatan para Nabi dengan alasan bertentangan dengan Sunnatullah di alam ini.

Maka segala macam yang di-katakan kepada para Nabi bahwa segala macam keluarbiasaannya tidak ber-tentangan dengan Sunnatullah bisa kita katakan pula kepada semua keluarbiasaan yang diberikan kepada Dajjal dengan alasan bahwa hal itu merupakan fitnah, cobaan, dan ujian

Keenam: Jika kita menerima sangkaan bahwa segala macam keluarbiasaan yang dimiliki oleh Dajjal bertentangan dengan Sunnatullah di alam ini, maka kita katakan bahwa zaman keluarnya Dajjal memang zaman yang luar biasa, dan saat akan terjadi berbagai peristiwa besar yang mengisyaratkan kehancuran alam semesta, hancurnya dunia dan dekatnya Kiamat.

Dan jika dia keluar ketika zaman fitnah yang Allah kehendaki, maka tidak benar jika dikatakan, “Sesungguhnya Allah Mahalembut kepada hamba-Nya (sehingga tidak pantas) untuk memberikan fitnah kepada mereka dengan segala keluarbiasaan yang dilimpahkan kepadanya (Dajjal), karena sesungguhnya Dia Mahalembut dan Mahatahu. Akan tetapi dengan hikmah-Nya Dia memberikan cobaan kepada hamba-Nya, karena sebelumnya Allah telah memberikan peringatan kepada mereka akan hal itu.”

Setelah menyebutkan jawaban ringkas ini, maka pantas kiranya jika kami menukil beberapa ungkapan para ulama yang menetapkan adanya keluarbiasaan Dajjal. Sesungguhnya ia terjadi secara hakiki, yang Allah jadikan sebagai fitnah juga cobaan bagi para hamba-Nya.

A -Qadhi ‘Iyadh rahimahullah berkata, “Haditshadits ini yang diriwayatkan oleh Muslim juga yang lainnya merupakan hujjah bagi madzhab yang haq dalam menetapkan keberadaannya (Dajjal).

Sesungguhnya dia adalah manusia secara hakiki, Allah memberikan ujian kepada para hamba-Nya melaluinya dengan segala hal yang telah Allah tentukan :

  • berupa kemampuan untuk menghidup-kan orang yang telah ia bunuh,
  • dan nampaknya segala macam gemerlap dunia juga kesuburan bersamanya,
  • Surga dan Nerakanya,
  • dua sungainya,
  • segala simpanan bumi yang mengikutinya,
  • perintahnya agar langit menurunkan hujan sehingga turunlah hujan,
  • dan perintahnya agar bumi menumbuhkan tumbuhan sehingga tumbuh, semuanya terjadi atas kekuasaan Allah Ta’ala dan kehendak-Nya.

Kemudian Allah melemahkannya setelah itu, lalu dia tidak sanggup untuk membunuh orang tersebut juga yang lainnya, dan Allah membatalkan urusannya, setelah itu Isa Alaihissallam dapat membunuhnya, dan Allah menetapkan keimanan orang-orang yang beriman.

Inilah madzhab Ahlus Sunnah dan semua ulama hadits, para ulama fiqih dan para pemikir, berbeda dengan orang yang mengingkari dan membathilkan keberadaannya seperti Khawarij, Jahmiyyah, sebagian kaum Mu’tazilah… dan selainnya yang mengakui keberadaannya akan tetapi segala macam keluarbiasaannya hanyalah khayalan belaka bukan hakiki, dan mereka menyangka, seandainya hal itu memang hakiki; maka hal itu mengakibatkan tidak bisa dipercayainya keberadaan mukjizat para Nabi.

Ini adalah kesalahan dari mereka semua, karena sesungguhnya dia (Dajjal) sama sekali tidak mengaku sebagai Nabi, maka apa yang menyertainya sebagai bukti kebenaran (atas apa-apa yang diserukannya), dia hanya mengaku sebagai tuhan, disamping itu di dalam pengakuannya sendiri ada sesuatu yang mendustakannya, yaitu keadaannya sendiri, (yaitu) adanya bukti-bukti yang terjadi padanya, seperti kekurangan yang ada pada dirinya, kelemahannya dalam menghilangkan aib pada kedua matanya, dan kelemahan dalam menghilangkan bukti kekufuran yang tertulis di antara kedua matanya.

Adanya bukti-bukti ini dan yang lainnya menjadikan seseorang tidak akan tertipu kecuali orang-orang rendah yang ingin menutupi segala kebutuhan juga kefakirannya karena ingin menutupi kelaparan, atau hanya sebatas ngaku-ngaku karena takut dari perbuatan jelek yang dilakukannya, karena dia adalah fitnah yang sangat besar, yang menjadikan hati tercengang dan membingungkan fikiran, selain itu dia berjalan di atas bumi dengan sangat cepat, dia tidak akan diam sehingga memberikan kesempatan kepada orang-orang lemah untuk mengamati keadaannya dan bukti-bukti yang ditunjukkannya dan kekurangannya, pada akhirnya banyak orang membenarkannya dalam keadaan seperti ini.

Dan karena itu pulalah para Nabi memberikan peringatan (kepada seluruh umatnya) dari fitnahnya dan bukti-bukti kebathilannya.

Adapun orang-orang yang diberikan taufik oleh Allah, maka sesungguhnya mereka tidak akan pernah terbuai, juga tidak akan pernah tertipu dengan segala hal yang dia bawa. Sebagaimana telah kami jelaskan tentang bukti-bukti kebohongannya, demikian pula pengetahuan tentangnya yang telah dijelaskan. Oleh karena itu orang yang telah dibunuh dan dihidupkannya kembali berkata, “Tidaklah ada sesuatu yang bertambah di dalam diriku kecuali keyakinan (bahwa engkau adalah Dajjal).” [8]

Dan al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Sesungguhnya Dajjal merupakan ujian yang Allah berikan kepada para hamba-Nya dengan segala keluarbiasaan yang bisa disaksikan pada zamannya, sebagaimana telah dijelaskan bahwa orang yang menjawab seruannya, maka Dajjal akan memerintahkan langit untuk menurunkan hujan sehingga turunlah hujan, dan bumi agar menumbuhkan tumbuhan sehingga tumbuhlah segala macam tumbuhan yang dimakan oleh mereka juga oleh hewan-hewan ternak mereka, maka hewan ternak mereka akan kembali gemuk.

Sementara orang yang tidak menjawab seruannya dan menolaknya niscaya akan tertimpa kekeringan, kelaparan, kefakiran, matinya binatang ternak dan sedikitnya harta, jiwa-jiwa dan buah-buahan berkurang. Dia akan diikuti oleh simpanan bumi bagaikan pemimpin lebah yang diikuti oleh pasukannya, dia akan membunuh pemuda dan meng-hidupkannya, semua ini bukanlah khayalan, akan tetapi hakiki, sebagai ujian yang Allah berikan kepada para hamba-Nya di akhir zaman. Maka akan ba-nyak orang yang tersesat, demikian pula akan banyak orang yang berjalan di atas hidayah karenanya, orang-orang yang ragu akan menjadi kafir, sementara orang-orang yang beriman akan bertambah keimanannya.” [9]

Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata, “Dan di dalam diri Dajjal beserta segala keluarbiasaan yang ia miliki ada sebuah bukti nyata bagi orang yang memikirkannya karena ia memiliki kemampuan yang luar biasa (ha-hal yang digunakan) yang mempengaruhi manusia juga nampak cacat-cacatnya seperti buta kedua matanya, lalu jika dia mengaku bahwa dia adalah tuhan mereka, maka sejelek-jeleknya keadaan orang yang melihatnya dari kalangan orang yang berakal, dia akan mengetahui bahwa dia (Dajjal) tidak akan pernah bisa me-nyempurnakan penciptaan yang lainnya, merubahnya, memperindahnya, demikian pula dia sama sekali tidak bisa menolak kekurangan di dalam diri-nya, maka sekurang-kurangnya dia berkata, “Wahai orang yang mengaku dirinya sebagai pencipta langit dan bumi! Sempurnakanlah rupamu, rapihkan-lah dan hilangkanlah segala aib darinya, lalu jika engkau mengira bahwa tuhan tidak dapat menciptakan sesuatu di dalam dirinya, maka hilangkanlah sesuatu yang tertulis di antara kedua matamu!” [10]

Dan Ibnul ‘Arabi rahimahullah[11] berkata, “Semua keluarbiasaan yang nampak di tangan Dajjal berupa kemampuan untuk menurunkan hujan, memberikan kesuburan bagi orang yang membenarkan (perkataan)nya, juga kekeringan bagi orang yang mendustakannya, simpanan bumi yang mengikutinya, Surga, Neraka, dan sungai-sungai yang ia miliki, semuanya adalah cobaan yang Allah berikan, juga ujian agar orang-orang yang ragu menjadi celaka, sementara orang-orang yang yakin akan selamat, semuanya adalah perkara yang ditakuti, karena itulah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ فِتْنَةَ أَعْظَمُ مِنْ فِتْنَةِ الدَّجَّالِ.

‘Tidak ada fitnah yang lebih besar daripada fitnah Dajjal.’”[12]

[Disalin dari kitab Asyraathus Saa’ah, Penulis Yusuf bin Abdillah bin Yusuf al-Wabil, Daar Ibnil Jauzi, Cetakan Kelima 1415H-1995M, Edisi Indonesia Hari Kiamat Sudah Dekat, Penerjemah Beni Sarbeni, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir]


Footnote
[1]. Dia adalah Muhammad bin ‘Abdil Wahhab bin Salam al-Mishri, wafat pada tahun 303 H.
Lihat biografinya dalam Syadzaraatudz Dzahab (II/241), al-A’laam (VI/256).
[2]. An-Nihaayah/al-Fitan wal Malaahim (I/120) tahqiq Dr. Thaha Zaini.
[3]. Tafsiir al-Manaar (IX/490).
[4]. Shahiih al-Bukhari, kitab al-Fitan, bab Dzikrud Dajjal (XIII/89, Syarh al-Fat-h), dan Shahiih Muslim, kitab al-Fitan wa Asyraathus Saa’ah, bab Dzikrud Dajjal (XVIII/74, Syarh an-Nawawi).
[5]. An-Nihaayah/al-Fitan wal Malaahim (I/118) tahqiq Muhammad Abu Ubayyah.
[6]. Lihat Syarah Shahiih Muslim karya an-Nawawi (XVIII/74), dan Fat-hul Baari (XIII/93).
[7]. Lihat Fat-hul Baari (XIII/105).
[8]. Syarh an-Nawawi li Shahiih Muslim (XVIII/58-59), dan Fat-hul Baari (XIII/105).
[9]. An-Nihaayah/al-Fitan wal Malaahim (I/121) tahqiq Dr. Thaha Zaini.
[10]. Fat-hul Baari (XIII/103).
[11]. Beliau adalah Abu Bakar Muhammad bin ‘Abdillah bin Muhammad al-Ma’afiri al-Isybili al-Maliki, penulis banyak kitab seperti Ahkaamul Qur-aan juga yang lainnya, wafat di dekat kota Fas di Maghrib, dan dimakamkan di sana pada tahun 543 t.
[12]. Fat-hul Baari (XIII/103).